Minggu, 29 Oktober 2017

Mengais Sunyi di Ujung-ujung Sepi

 
Kutulis sajak-sajak penggubah sepi di sela-sela malam. Kuuntai kata demi kata lewat tembang sendu dari bilik-bilik sunyi. Aku sendiri di sini, sengaja menyendiri di sini, biarkan tersendiri di sini.

Surabaya, siang harinya yang panas menyengat. Berkendara di jalan  rasa seperti sedang berkuda di gurun aspal. Tiga puluh sembilan derajat celsius, suhu yang tertera di papan reklame tengah kota.

Surabaya, siang hari di jalan lebih mirip neraka, keras dan panas. Aku satu dari ribuan manusia yang tervakum di dalamnya. Tidak hanya dengan gerah cuacanya, tapi juga dengan gersangnya kesunyian hidup.

Kususuri jalan-jalan di kota ini. Entah siang entah malam, aku kendarai motorku sendirian. Berkendara entah kemana kusuka. Aku butuh secangkir cairan segar pelepas dahaga sunyi yang menyendak di kerongongan hati.

Surabaya, aku sungguh tiada berkawan di kota ini. Lima belas kawan S2 di kampus, semuanya ibu-ibu. Tujuh personil di IFRS tempat kerja, lelaki bujang cuma aku seorang. Aku rindu masa-masa D3, S1, dan Apoteker dulu.

Semesta seolah mengerti, kapan harus menabuh sepi, kapan musti menyiangi sunyi. Irama hidup berjalan seperti semestinya. Aku selalu ramah menyambut kawan lama yang ingin singgah kemari. Kawan-kawan lama yang sengaja kutodong, siapa saja kawanku bila singgah ke kota ini kupaksa harus mampir. Meski hanya sesaat, sunyi sepi terusir. Meski hanya sebentar, tapi itu cukup.

Sungguh, bukan karena aku takut dicekam sunyi apa dihujam sepi. Jujur, aku takut menjadi apatis, anti sosialis, dan aku tak suka watak egois.

Di kota Surabaya ini warkop-warkop pinggir jalan sudah seperti tempat wajib, musti harus disinggahi setelah kampus dan tempat kerja. Walau sekedar numpang wifi sambil minum kopi, makan mie sambil mendengarkan obrolan orang, atau sekedar nobar pertandingan bola di televisi.

Selalu pula kusempatkan jamaah di masjid-masjid. Entah di sela-sela kuliah atau  di sela-sela kerja. Dan aku selalu terpukau saat shalat maghrib di masjid dekat tempat kerja. Siapa lagi kalau bukan tingkah sepasang sahabat, bapak-bapak tua yang akrab sekali dengan karibnya. Beruntunglah, mereka yang berkawan dan bisa terus tertawa bebas dengan bercanda lepas.

Lain persahabatan, lain pula asmara dan percintaan. Suatu kali saat aku keluar kota, kudapati sepasang sejoli hendak bepergian, nampaknya mahasiswa muda yang menimba ilmu di kota tetangga, mereka duduk di sampingku, mesra sekali. Itu mengingatkan masa-masa remaja dulu. Sial, sudah setua inikah aku sekarang? Sungguh, aku tak mau menjadi tua di kota ini!

Tak hanya kotanya, orang-orang di kota ini pun ada-ada saja tingkah polahnya. Aku si bujang yang senang mengembara ini merasa seperti sedang dipaksa harus segera berkeluarga oleh keadaan.

Tak hanya di jalanan, di warkop-warkop, atau tempat-tempat ibadah. Kadang kubuang sunyi dan sepi itu ke pasar-pasar. Kubelanja sayur dan si ibu-ibu penjual meledek “Kok belanja sendirian pak. Istrinya kemana?”. Kesal, kujawab sekenanya “Lagi hamil tua di rumah buu..”

Dalam hati kuterbahak “Mampus kau aku bohongin..

Kubuang sepi dan sunyi itu ke mall-mall dan toko-toko buku. Iseng kubeli meja belajar kecil untuk di kost. Dengan kurangajarnya penjual itu bertanya “Anaknya cowok apa cewek pak?” Malas berdebat dan kujawab saja “Cowok..” Tak lupa aku minta yang gambar Dragon Ball atau Power Ranger. 

Lagi aku terbahak dalam hati “Rasain, emang enak aku bohongin..”

Yahhh.. Ada kalanya, dimana terlihat dewasa itu kadang menyebalkan.

Belum habis cerita sepi dan sunyiku. Di musim pancaroba tiba. Aku dilanda sakit. Membludaknya tugas kampus, jadwal kerja yang sampai larut malam, stress dan telat makan, aku terserang nyeri lambung akut. Aku sering insomnia, bisa jadi karena depresi atau anxienthy.

Semua penyakit ini. Apalagi kalau bukan stres yang jadi biang keladi.

Tak cukup sunyi dan sepi. Sesak dan gelisah kadang ikut menadah. Kabar dari kampung dan masalah keluarga yang mendera.

Sering aku berfikir, ingin kuakhiri saja ini semua. Dunia memang neraka buat orang-orang dengan idealisme tinggi, orang-orang yang fanatik pada cita-cita dan mimpi,dan  orang-orang yang berperilaku sesuai bisikan nurani.

Pada akhirnya, inilah kata yang ingin kuukir di dinding-dinding sepi dari bilik-bilik sunyi, di kota besar dengan keramaian yang hingar bingar tapi tetap saja aku merasa sepi. Aku benci segala macam bentuk sunyi dan sepi yang tipikalnya langsung menyergap ke dalam hati. (Ali Ridwan, 29/10/17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar