Kutulis sajak-sajak penggubah sepi di
sela-sela malam. Kuuntai kata demi kata lewat tembang sendu dari bilik-bilik
sunyi. Aku sendiri di sini, sengaja menyendiri di sini, biarkan tersendiri di
sini.
Surabaya, siang harinya yang panas menyengat.
Berkendara di jalan rasa seperti sedang
berkuda di gurun aspal. Tiga puluh sembilan derajat celsius, suhu yang tertera
di papan reklame tengah kota.
Surabaya, siang hari di jalan lebih
mirip neraka, keras dan panas. Aku satu dari ribuan manusia yang tervakum di
dalamnya. Tidak hanya dengan gerah cuacanya, tapi juga dengan gersangnya
kesunyian hidup.
Kususuri jalan-jalan di kota ini. Entah
siang entah malam, aku kendarai motorku sendirian. Berkendara entah kemana
kusuka. Aku butuh secangkir cairan segar pelepas dahaga sunyi yang menyendak di
kerongongan hati.
Surabaya, aku sungguh tiada berkawan di
kota ini. Lima belas kawan S2 di kampus, semuanya ibu-ibu. Tujuh personil di
IFRS tempat kerja, lelaki bujang cuma aku seorang. Aku rindu masa-masa D3, S1,
dan Apoteker dulu.
Semesta seolah mengerti, kapan harus
menabuh sepi, kapan musti menyiangi sunyi. Irama hidup berjalan seperti
semestinya. Aku selalu ramah menyambut kawan lama yang ingin singgah kemari. Kawan-kawan
lama yang sengaja kutodong, siapa saja kawanku bila singgah ke kota ini kupaksa
harus mampir. Meski hanya sesaat, sunyi sepi terusir. Meski hanya sebentar,
tapi itu cukup.
Sungguh, bukan karena aku takut dicekam
sunyi apa dihujam sepi. Jujur, aku takut menjadi apatis, anti sosialis, dan aku
tak suka watak egois.
Di kota Surabaya ini warkop-warkop
pinggir jalan sudah seperti tempat wajib, musti harus disinggahi setelah kampus
dan tempat kerja. Walau sekedar numpang wifi sambil minum kopi, makan mie
sambil mendengarkan obrolan orang, atau sekedar nobar pertandingan bola di
televisi.
Selalu pula kusempatkan jamaah di masjid-masjid.
Entah di sela-sela kuliah atau di
sela-sela kerja. Dan aku selalu terpukau saat shalat maghrib di masjid dekat tempat
kerja. Siapa lagi kalau bukan tingkah sepasang sahabat, bapak-bapak tua yang
akrab sekali dengan karibnya. Beruntunglah, mereka yang berkawan dan bisa terus
tertawa bebas dengan bercanda lepas.
Lain persahabatan, lain pula asmara dan
percintaan. Suatu kali saat aku keluar kota, kudapati sepasang sejoli hendak
bepergian, nampaknya mahasiswa muda yang menimba ilmu di kota tetangga, mereka
duduk di sampingku, mesra sekali. Itu mengingatkan masa-masa remaja dulu. Sial,
sudah setua inikah aku sekarang? Sungguh, aku tak mau menjadi tua di kota ini!
Tak hanya kotanya, orang-orang di kota
ini pun ada-ada saja tingkah polahnya. Aku si bujang yang senang mengembara ini
merasa seperti sedang dipaksa harus segera berkeluarga oleh keadaan.
Tak hanya di jalanan, di warkop-warkop,
atau tempat-tempat ibadah. Kadang kubuang sunyi dan sepi itu ke pasar-pasar.
Kubelanja sayur dan si ibu-ibu penjual meledek “Kok belanja sendirian pak.
Istrinya kemana?”. Kesal, kujawab sekenanya “Lagi hamil tua di rumah buu..”
Dalam hati kuterbahak “Mampus kau aku bohongin..”
Kubuang sepi dan sunyi itu ke mall-mall
dan toko-toko buku. Iseng kubeli meja belajar kecil untuk di kost. Dengan
kurangajarnya penjual itu bertanya “Anaknya cowok apa cewek pak?” Malas
berdebat dan kujawab saja “Cowok..” Tak lupa aku minta yang gambar Dragon Ball
atau Power Ranger.
Lagi aku terbahak dalam hati “Rasain, emang enak aku bohongin..”
Yahhh.. Ada kalanya, dimana terlihat
dewasa itu kadang menyebalkan.
Belum habis cerita sepi dan sunyiku. Di
musim pancaroba tiba. Aku dilanda sakit. Membludaknya tugas kampus, jadwal
kerja yang sampai larut malam, stress dan telat makan, aku terserang nyeri
lambung akut. Aku sering insomnia, bisa jadi karena depresi atau anxienthy.
Semua penyakit ini. Apalagi kalau bukan
stres yang jadi biang keladi.
Tak cukup sunyi dan sepi. Sesak dan
gelisah kadang ikut menadah. Kabar dari kampung dan masalah keluarga yang
mendera.
Sering aku berfikir, ingin kuakhiri saja
ini semua. Dunia memang neraka buat orang-orang dengan idealisme tinggi,
orang-orang yang fanatik pada cita-cita dan mimpi,dan orang-orang yang berperilaku sesuai bisikan
nurani.
Pada akhirnya, inilah kata yang ingin kuukir
di dinding-dinding sepi dari bilik-bilik sunyi, di kota besar dengan keramaian
yang hingar bingar tapi tetap saja aku merasa sepi. Aku benci segala macam
bentuk sunyi dan sepi yang tipikalnya langsung menyergap ke dalam hati. (Ali
Ridwan, 29/10/17)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar