Selasa, 24 Oktober 2017

Hati dan Ginjal, Dua Onderdil Vital Tanpa Suku Cadang

 
Pernahkah kamu jumpai orang yang dikit-dikit minum obat, dikit-dikit makan obat, dikit-dikit konsumsi obat. Pusing sedikit obat, pilek sedikit obat, panuan sedikit obat. Kebiasaan seperti ini baik apa tidak sih buat organ dalam tubuh kita. Adakah efek sampingnya nanti sama organ kita?

Obat, apa to definisi obat itu. Mau tau? Cari sendiri di mbah google! Hahaa.. Tapi pada intinya obat itu adalah racun. Namun, dengan pemakaian tepat dan dosis yang akurat maka racun itu bisa jadi ramuan bahan obat yang bisa menyembuhkan suatu penyakit sehingga akan meningkatkan kualitas hidup si pasien.

Okeh, fokus kita pada artikel ini adalah tentang bagaimana si racun yang sudah ditakar dosisnya dan sudah diketahui kinerjanya itu sehingga bisa memberikan efek bagi tubuh dan bisa memperbaiki kerusakan fungsi pada organ yang mengalami gangguan akibat menderita suatu penyakit tertentu itu.

Begini, dalam ilmu Farmakoterapi proses perjalanan obat dalam tubuh itu sering kita singkat dengan sebutan ADME (Adsorbsi, Distribusi, Metabolisme, Eksresi). Jadi ketika obat kita minum, masuk ke lambung misal, zat aktif dalam obat akan diabsorbsi (diserap) oleh lambung. Selanjutnya masuk ke pembuluh darah.

Setelah zat aktif obat ada di pembuluh darah, kemudian didistribusikan (dialirkan atau diedarkan) oleh darah ke seluruh jaringan pembuluh darah. Nah, disinilah zat aktif obat akan memberikan efek terapi pada daerah yang sakit. Misal, sakitnya sakit kepala (pusing), zat aktif akan bereaksi ketika zat aktif sampai ke pembuluh darah yang ada dikepala (otak), tepatnya di reseptor bagian nyeri.

Setelah memberikan efek di bagian kepala yang pusing, zat aktif akan didistribusikan lagi melalui aliran pembuluh darah dan menuju ke hati. Nah sampai di hati, zat aktif tadi kemudian dimetabolisme (dihilangkan efek zat aktifnya) di dalam hati, sehingga zat kimia obat dalam darah yang keluar dari hati ini sudah tidak punya efek terapi lagi. Tinggal zat kimianya saja yang tersisa, kita sebut ini sampah kimia dalam darah. Jadi yang tersisa di dalam darah cuma zat kimianya saja dan sudah tidak memberi efek apa-apa.

Kebayang bagaimana kalau hati tidak berfungsi dengan baik akibat mengalami gangguan tertentu, obat tidak bisa dimetabolisme. Orang pagi minum obat, siang minum obat, malam minum obat. Terjadi penumpukan zat kimia obat yang efek kimianya tidak dimatikan. Terjadi penumpukan racun dalam darah, akibatnya orang bisa mati karena keracunan obat, karena overdosis obat. Dan overdosisnya bukan karena dosis berlebihan, tapi organ hatinya tidak memetabolisme zat kimia obat untuk mematikan reaksi zat aktifnya.

Lalu, sampah zat kimia obat dalam darah setelah dimetabolisme di hati tadi, yang sudah tidak bisa memberikan efek terapi tadi, kemudian dieksresi (disaring) melalui organ ginjal. Jadi ini fungsi utamanya ginjal, menyaring zat-zat kimia berbahaya dalam darah sehingga darah jadi bersih kembali seperti semula. Itu kenapa ada istilah “cuci darah”, buat pasien-pasien yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal lagi (gagal ginjal).

Apa akibatnya kalau sampah-sampah zat kimia obat tadi kalau tidak disaring dan dibiarkan mencemari darah dalam pembuluh. Pasien bisa meninggal akibat keracunan sampah zat kimia obat yang menumpuk dalam pembuluh darah. Darahnya banyak sampah, organ-organnya tercemari dan menjadi kotor, tubuh jadi rentan dengan yang namanya infeksi dan keracunan.

Jadi jangan heran, kalau misal ada orang sakit rematik. Kamudian pasien ini meninggalnya bukan karena penyakit rematiknya. Tapi karena efek kebanyakan minum obat analgesik (pereda nyeri), karena tidak tahan dengan efek nyerinya. Iya, soalnya analgesik itu memberatkan kinerja hati dan ginjal. Fungsi obatnya hanya untuk meredakan nyeri, tapi rematiknya tetap tidak terobati, pasiennya akhirnya meninggal karena hati dan ginjalnya mengalami gangguan, tentu akibat terlalu sering memetabolisme dan mengeksresi obat-obat analgesik tadi.

Ingat, rematik itu tak mematikan. Tapi karena jarang orang kuat menahan nyerinya, dengan obat analgesik nyeri itu bisa ditahan. Dan orang jarang tahu, obat analgesik itu potensi membuat kerusakan organ hati dan ginjal sangat tinggi. Di sinilah tugas para dokter dan apoteker, menentukan dosis yang tepat supaya obat tidak malah membunuh, tapi bikin sembuh.

Maka dari itulah, perlunya konsultasi penyakit ke dokter itu penting dan konsultasi obat ke apoteker juga penting. Jangan diagnosis obat semau-maunya dan jangan konsumsi obat sesuka-sukanya.

Melihat fakta ini, sudah saatnya kita bilang “Say no to drug!!”, dalam artian kalau tidak terlalu parah jangan sedikit-sedikit obat, sedikit-sedikit obat, obat kok sedikit-sedikit. Hehee.. Eh, tapi kalau memang terpaksa harus rutin dan banyak minum obat, solusinya harus banyak-banyak mengkonsumsi air putih, supaya bisa sedikit meringankan beban ginjal dalam mengeksresi sisa-sisa metabolit obat dalam darah itu tadi. Begitulah kira-kira.

Tapi jangan dipikir ini hanya berlaku untuk obat yang mengandung bahan kimia saja. Apa saja yang mengandung bahan kimia ketika masuk ke dalam tubuh prosesnya sama saja melalui ADME tadi. Misalnya asap rokok, alkohol, narkoba, suntik vitamin C, makanan berbahan pengawet, juga buah-buahan dan sayuran yang dalam proses penanamannya banyak menggunakan bahan-bahan kimia seperti berpestisida maupun herbisida.

Zat-zat kimia pada ragam prosuk tadi juga akan menambahi beban kinerja organ hati dan ginjal dalam menetralisir elektrolit-elektrolit liar berbahan kimia yang terbawa oleh makanan-makanan tak sehat itu tadi.

Maka jangan heran kenapa orang Indonesia zaman penjajahan dulu hidupnya sehat-sehat, tiap hari makannya cuma singkong, nasi tiwul, nasi oyek, air putih, sayuran hijau dari alam, teh dan kopi. Biasanya setelah umur delapan puluh tahun ke atas baru terkena penyakit-penyakit serius.

Beda dengan orang modern sekarang, baru umur tiga puluhan sudah gangguan ginjal, sudah sirosis hati, stroke, asam urat, diabetes. Semua akibat pola makan dan gaya hidup. Yah, sebenarnya hidup sehat itu murah. Tapi jadi mahal karena perkembangan zaman. Kita semakin sulit mengonsumsi buah sayur yang ditanam tanpa pestisida, bahan makanan tanpa pengawet, atau bahkan jamu tradisional yang benar-benar alami tanpa adanya zat kimia tambahan.

Pada akhitnya kita harus mengakui di era modern ini untuk menerapka pola hidup sehat itu memang mahal, tapi kalau sakit pun biayanya akan jauh lebih mahal, dan akan jauh lebih mahal lagi kalau onderdil rusak parah dan perlu diganti. Dimana sekarang ada orang jual organ ginjal dan hati? Maka dari itu. Ayooo!! Sayangi ginjal Anda. Sayangi hati Anda!! Hidup sehat dengan back to nature, alias yang alami-alami ajaa deehhh.. :D (Ali Ridwan, S.Farm., Apt. 24/10/17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar