Kamis, 05 Oktober 2017

Pesona “Kota Tepi Rawa”, Teluk Bintuni

 
Pertama kali saya datang dan tinggal di kota ini adalah tahun 1993, melalui program transmigrasi. Waktu itu, kota ini hanya sebuah kecamatan kecil di bawah kabupaten Manokwari. 

Ya, di sinilah saya menghabiskan masa kecil saya sampai saya beranjak dewasa (1993 - 2009).

Tahun 1993, belum ada aspal di kota ini. Jalan paling bagus jalan yang sudah dihampar sama batu koral. Waktu pertama kali datang ke Bintuni, boleh dibilang kota ini masih masuk kategori rimba belantara, apalgi desa saya, soalnya masih sering kejadian ada rusa (kijang), babi hutan, dan hewan-hwan liar lainnya suka kesasar masuk ke perkampungan.

Saking kecilnya, dulu pada tahun sembilan puluhan. Dalam satu kota kita bisa saling kenal hampir dengan semua penduduknya.

Jangan kaget kalau ternyata pelabuhannya tidak berada di tepi laut, tapi  ada di tepi rawa. Dan namanya pelabuhan kecil pinggir rawa, paling banter kapal yang bisa masuk ya sekelas kapal very.

Dulu, sebelum pemekaran dan jadi kabupaten sendiri. Bintuni hanyalah daerah terpencil yang tertinggal. Seingat saya, ketika saya lulus SMP baru ada listrik, dan jalan- jalan mulai diaspal saat saya baru lulus SMA.  

Sekarang, Bintuni semakin ramai dan maju. Penduduknya semakin ramai, pembangunannya yaa lumayan maju lah. Jalan-jalan sudah banyak yang dicor, kantor-kantor pemerintahan, perumahan mulai menggeliat. Pendatang yang ingin mengadu nasib juga semakin banyak. Apalagi kawan-kawan seangkatan saya rata-rata sudah menikah dan melanjutkan keturunan. Jiwa yang menghuni Bintuni semakin ramai saja. Bisa saja sekarang dalam satu desa sudah ada yang tidak saling kenal, padahal masih dalam satu jalur.

Kalau orang-orang lebih senang menyebutnya Kota Kepiting, tapi saya lebih suka menyebutnya Kota Tepi Rawa. Alasannya tidak mungkin akan banyak kepiting kalau tidak banyak rawa di sekitar wilayahnya. Khawatir saya sekarang, makin maju kotanya, makin ramai penduduknya, makin terancam eksistensi rawa-rawa dan ekosistem di sekitarnya. (Saya rindu, suasana Bintuni yang masih rimba belantara seperti saya kecil dulu). :D

Oleh suku asli yaitu orang-orang Papua asli (sering disebut dengan 7 suku), tak jarang menyebut kami sebagai orang pendatang. Tapi bagi saya yang sudah lama tinggal dan besar di kota ini, saya sudah menganggap bahwa Teluk Bintuni ini adalah kampung halaman saya, tempat dimana tanah dan airnya sudah membesarkan saya. Darah daging saya, tulang belulang saya, semuanya berasal dari saripati tanah dan air di Teluk Bintuni ini. Apalgi saya jugalah salah satu saksi perkembangan Kota Tepi Rawa ini, dari hutan belantara sampai jadi ramai gemurai seperti sekarang ini.

Setelah tujuh tahun merantau, dan setelah saya merasa cukup dengan ilmu pengetahuan serta pengalaman yang saya miliki. Akan ada saatnya saya akan kembali untuk ikut berperan dalam memajukan kota ini. Jasad saya dibentuk dari tanah air Bintuni. Sudah selayaknya ketika saya mati nanti, raga saya harus kembali disemayamkan di bawah tanah kota tepi rawa ini.

Akses menuju kota ini, Kalau dari Sorong, langsung saja menuju Pelabuhan Rakyat. Ke kiri berarti ke Waisai, itu arah menuju Raja Ampat. Ke kanan berarti ke Babo, itu arah menuju Teluk Bintuni, perjalanan 1x24 jam. Kalau dari Manokwari langsung saja ke Pasar Wosi, banyak mobil Hilux apa Strada yang parkir di situ dan menawarkan travel perjalanan darat ke Teluk Bintuni. Perjalanan 8 – 12 jam, tergantung cuaca dan kondisi jalan. Dari Sorong ataupun dari Manokwari, kalau mau cepat naik aik pesawat Sussi Air juga bisa. (Ali Ridwan, 05/10/17) *Foto: Arndy B

Tidak ada komentar:

Posting Komentar