Pertama kali saya datang dan tinggal di
kota ini adalah tahun 1993, melalui program transmigrasi. Waktu itu, kota ini
hanya sebuah kecamatan kecil di bawah kabupaten Manokwari.
Ya, di sinilah saya
menghabiskan masa kecil saya sampai saya beranjak dewasa (1993 - 2009).
Tahun 1993, belum ada aspal di kota ini.
Jalan paling bagus jalan yang sudah dihampar sama batu koral. Waktu pertama
kali datang ke Bintuni, boleh dibilang kota ini masih masuk kategori rimba belantara,
apalgi desa saya, soalnya masih sering kejadian ada rusa (kijang), babi hutan,
dan hewan-hwan liar lainnya suka kesasar masuk ke perkampungan.
Saking kecilnya, dulu pada tahun
sembilan puluhan. Dalam satu kota kita bisa saling kenal hampir dengan semua
penduduknya.
Jangan kaget kalau ternyata pelabuhannya
tidak berada di tepi laut, tapi ada di
tepi rawa. Dan namanya pelabuhan kecil pinggir rawa, paling banter kapal yang
bisa masuk ya sekelas kapal very.
Dulu, sebelum pemekaran dan jadi
kabupaten sendiri. Bintuni hanyalah daerah terpencil yang tertinggal. Seingat
saya, ketika saya lulus SMP baru ada listrik, dan jalan- jalan mulai diaspal
saat saya baru lulus SMA.
Sekarang, Bintuni semakin ramai dan
maju. Penduduknya semakin ramai, pembangunannya yaa lumayan maju lah.
Jalan-jalan sudah banyak yang dicor, kantor-kantor pemerintahan, perumahan
mulai menggeliat. Pendatang yang ingin mengadu nasib juga semakin banyak. Apalagi
kawan-kawan seangkatan saya rata-rata sudah menikah dan melanjutkan keturunan. Jiwa
yang menghuni Bintuni semakin ramai saja. Bisa saja sekarang dalam satu desa
sudah ada yang tidak saling kenal, padahal masih dalam satu jalur.
Kalau orang-orang lebih senang
menyebutnya Kota Kepiting, tapi saya lebih suka menyebutnya Kota Tepi Rawa. Alasannya
tidak mungkin akan banyak kepiting kalau tidak banyak rawa di sekitar
wilayahnya. Khawatir saya sekarang, makin maju kotanya, makin ramai
penduduknya, makin terancam eksistensi rawa-rawa dan ekosistem di sekitarnya. (Saya
rindu, suasana Bintuni yang masih rimba belantara seperti saya kecil dulu). :D
Oleh suku asli yaitu orang-orang Papua
asli (sering disebut dengan 7 suku), tak jarang menyebut kami sebagai orang pendatang.
Tapi bagi saya yang sudah lama tinggal dan besar di kota ini, saya sudah menganggap
bahwa Teluk Bintuni ini adalah kampung halaman saya, tempat dimana tanah dan
airnya sudah membesarkan saya. Darah daging saya, tulang belulang saya,
semuanya berasal dari saripati tanah dan air di Teluk Bintuni ini. Apalgi saya
jugalah salah satu saksi perkembangan Kota Tepi Rawa ini, dari hutan belantara sampai
jadi ramai gemurai seperti sekarang ini.
Setelah tujuh tahun merantau, dan
setelah saya merasa cukup dengan ilmu pengetahuan serta pengalaman yang saya
miliki. Akan ada saatnya saya akan kembali untuk ikut berperan dalam memajukan
kota ini. Jasad saya dibentuk dari tanah air Bintuni. Sudah selayaknya ketika
saya mati nanti, raga saya harus kembali disemayamkan di bawah tanah kota tepi
rawa ini.
Akses menuju kota ini, Kalau dari
Sorong, langsung saja menuju Pelabuhan Rakyat. Ke kiri berarti ke Waisai, itu
arah menuju Raja Ampat. Ke kanan berarti ke Babo, itu arah menuju Teluk Bintuni,
perjalanan 1x24 jam. Kalau dari Manokwari langsung saja ke Pasar Wosi, banyak
mobil Hilux apa Strada yang parkir di situ dan menawarkan travel perjalanan
darat ke Teluk Bintuni. Perjalanan 8 – 12 jam, tergantung cuaca dan kondisi jalan.
Dari Sorong ataupun dari Manokwari, kalau mau cepat naik aik pesawat Sussi Air
juga bisa. (Ali Ridwan, 05/10/17) *Foto: Arndy B











Tidak ada komentar:
Posting Komentar