Obat dengan
bahan kimia itu adalah racun, tapi dengan dosis akurat, dan pemakaian yang
tepat, racun itu bisa jadi obat yang ampuh nan mujarab. Lagi-lagi, kata-kata
ini harus ditekankan di awal artikel. Sebab, obat antibiotik yang akan kita bahas
kali ini juga adalah jenis obat yang juga terbuat dari bahan kimia. Lalu, apa
thooo antibiotik itu? Gunanya buat apa? Kinerjanya bagaimana? Yuuk, langsung
ajaa. Cekipruuuttt..!!
Sebelum
membahas soal obat antibiotik, sebaiknya tahu dulu apa sebabnya pasien perlu
mengonsumsi obat golongan antibiotik. Ya, sebaiknya tahu dulu bagaimana
prosesnya kuman baik berupa bakteri, jamur, atau virus itu bisa masuk dan
menembus sistem pertahanan tubuh pada manusia.
Pada
umumnya, kuman masuk ke tubuh manusia melalui lubang-lubang yang ada pada tubuh
manusia seperti mulut, telingan, hidung, mata, dubur, saluran kencing,
pori-poro kulit, sampai luka robek akibat sayatan, atau luka akibat iritasi
baik yang di permukaan luar atau di dalam tubuh.
Pada
dasarnya juga manusia memiliki sistem pertahanan tubuh alami yang bisa juga
disebut antibiotik alami. Antibiotik alami ini kemudian bertugas melawan
potensi infeksi yang dibawa oleh kuman bakteri yang masuk ke dalam tubuh
manusia itu tadi.
Saat
tubuh terserang infeksi oleh kuman bakteri, tahap pengobatan yang pertama ialah
konsumsi suplemen penambah daya tahan tubuh. Ini alasannya mengapa bila terkena
flu biasa, sebaiknya tidak minum obat antibiotik. Ada kalanya orang terserang
flu karena daya tahan tubuh sedang menurun, sistem pertahahan tubuh sedang
lemah, antibiotik alaminya tak berperan dengan optimal. Hal seperti ini sebetulnya
tidak perlu antibiotik, cukup suplement peningkat daya tahan tubuh, seperti
konsumsi vit C misal.
Nah,
jika gejala cukup menganggu, segera minum kombinasi obat untuk flu. Tapi
disarankan tetap tidak dengan meminum obat antibiotik, karena flu itu disebabkan
oleh virus, yaitu virus influenza, sedang antibiotik biasa digunakan untuk
infeksi akibat bakteri dan jamur.
Misalnya
lagi, ketika sakit perut karena infeksi kuman yang masuk lewat mulut. Sebaiknya
di awal tidak perlu langsung minum obat antibiotik. Di saluran cerna, khususnya
di dalam saluran usus sistem pertahanan tubuh alami yang disebut PRObiotik dan
fungsunya tuntuk meningkatkan sistem imun alami dalam perut. Ada kalanya
probiotik ini mengalami penurunan kinerja, maka yang diperlukan ialah makanan
atau minuman yang mengandung PREbiotik, fungsinya untuk pertumbuhan
mikroorganisme alami di saluran cerna dan fungsinya untuk membantu peran
probiotik menjaga keseimbangan populasi kuman di dalam usus.
Jadi,
apa perlunya pasien mengonsumsi antibiotik? Ialah untuk membantu sistem pertahanan
tubuh dalam perannya membunuh kuman bakteri yang sudah menginfeksi manusia.
Ingat,
gunakan obat antibiotik sebagai opsi terakhir dalam pengobatan, dan dalam
penggunaannya sebaiknya dengan saran dan sepengetahuan dokter. Obat yang
didapat pun sebaiknya harus dengan resep yang juga dari dokter. Satu lagi,
jangan lupa konsultasikan obatnya dengan apoteker di apotek yang melayani
penjualan obat antibiotik tersebut.
Sekilas,
peran antibiotik dalam tubuh terlihat biasa, seperti obat-obat lain pada
umunya. Tapi, obat antibiotik justru sangat membahayakan kalau sampai terjadi
resisten (kekebalan) bakteri terhadap obat antibiotik.
Sekarang pertanyaannya. Mengapa bakteri bisa
sampai kebal (resisten) terhadap obat antibiotic? Jadi begini:
Bakteri yang
menginfeksi, ketika mendapat paparan antibiotic untuk pertama kali, bakteri itu
tidak seratus persen langsung mati, mungkin hanya pingsan. Paparan kedua,
mungkin hanya koma, Paparan ketiga, mungkin hanya sekarat. Bahaya ketika
bakteri masih keadaan koma atau sekarat kemudian pengobatan dihentikan, ini
akan membuat bakteri kembali tumbuh lebih kuat lagi dari sebelumnya. Itu
mengapa tiap kali mau mengonsumsi obat antibiotik, pasien yang mendapat jatah
obat antibiotic (biasa untuk 3 – 7 hari) selalu diingatkan “Antibiotiknya diminum sampai habis yaa..”
Perlunya ialah untuk jaga-jaga jangan sampai bakterinya belum bener-benar mati,
tapi obatnya sudah dihentikan.
Bakteri yang
pernah hampir mati karena sebelumnya pernah mendapat paparan dari antibiotik,
tidak akan bisa kembali dibuat koma apa sekarat dengan obat antibiotik yang
sama dan dengan dosis yang sama pula. Sebab bakteri yang bangkit dari sekarat
itu akan punya daya tahan dan daya juang yang lebih kuat dari sebelumnya, jalan
untuk mematikannya pun harus dengan dosis yang lebih banyak dari dosis
antibiotik yang pernah dipakai sebelumnya. Efeknya, karena dosis yang lebih
banyak selain akan memperberat kinerja hati dalam memetabolisme dan kinerja
ginjal dalam mengeksresi obat tersebut, dari segi biaya juga akan meningkat. Misal
antibiotic A dengan dosis 500 mg seharga Rp 15.000,- per tablet kemudian karena
dosisnya ditingkatkan jadi 750 mg dengan harga Rp 30.000,- per tablet. Sekali
pakai mungkin tak terasa, tapi kalau dikali 10 untuk 5 hari pemakaian berarti
sudah Rp. 300.000,-. Hmmm.. Gimana? Makin berat kan, biaya dan resikonya!?
Lalu bagaimana
bila bakteri yang terlanjur resisten (kebal) dan sampai pada tahap pemberian
antibiotik dengan dosis tertinggi dan tidak mati-mati. Biasanya akan diberi
dengan jenis antibiotik yang sama tapi dengan generasi terbaru dan dengan dosis
bertahap pula. Biasanya, antibiotik dengan generasi terbaru harganya akan lebih
mahal dari generasi sebelumnya.
Bahaya itu kalau
bakteri sudah resisten dengan semua antibiotic, bahkan dengan jenis antibiotik
dengan generasi yang paling terbaru. Karena sudah mentok, diobati dengan jenis antibiotic
terbaru dan dengan dosis paling tinggi sudah tidak mempan alias kebal, kuman
dan bakteri yang menginfeksi organ akan terus menggerogoti daya tahan tubuh, ini
sebabnya orang bisa mati karena infeksi. Hmm..Yakin masih mau pakai obat
antibiotik secara sembarangan dan tidak mau peduli dengan resiko akan adanya
potensi resisten?!
Selain bahaya
resistensi, hal lain yang perlu diperhatikan ialah adanya potensi alergi akibat
penggunaan obat antibiotik. Bentuk alerginya bisa gatal-gatal, bengkak-bengkak,
kulit mememar dan kemerah-merahan, macam-macam. Itu perlunya, ketika ada pasien
rawat inap yang akan disuntik obat antibiotik harus dites dulu soal ada
tidaknya potensi alergi dari jenis obat antibiotik tersebut.
Hal yang tak
kalah penting selain bahaya resistensi dan potensi alergi, ialah efek samping
dari obat antibiotik itu sendiri. Misalnya Tetrasiklin yang bisa buat warna
gigi jadi kuning. Golongan Kuinolon (Contoh obat: Ciprofloksasin dan
Levofloksasin) yang bisa menghambat pertumbuhan pada anak. Golongan Aminoglikosida
(Contoh obat: Amikasin, Gentamisin, Neomisin, Streptomisin, dan sebangsanya)
yang menyebabkan nefrotoksis atau merusak fungsi ginjal. Khusus Streptomisin
ada lagi efek samping lainnya yaitu ototoksis atau gangguan pendengaran alias bikin
kuping jadi budeg. Dan masih banyak lagi efek samping ringan pada antibiotik-antibiotik
tertentu seperti mual, muntah, demam, sembelit, diare, kegemukan, pusing, dan
semacamnya.
Perlu jadi
perhatian juga. Saat menggunakan obat antibiotik dosis juga menjadi perhatian
khusus. Seperti dosis antibiotik sesuai riwayat penggunaan, seperti berat badan,
balita, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Cara penggunaannya juga. Ada yang
sebaiknya tidak diminum dengan susu atau jus jeruk, karena pengaruh kalsium
dalam susu atau vitamin C dalam jus jeruk bisa mengganggu kinerja obat antibiotic
saat di lambung.
Jadi, inilah
alasannya mengapa sebaiknya penggunaan antibiotik perlu perlakuan khusus, harus
dengan saran dokter dan dengan pengawasan apoteker. Semua demi kebaikan pasien
itu sendiri. Jangan sampai buy one get
one free. Minum obat satu penyakit sembuh, tapi malah terkena jenis
penyakit lainnya karena sembarangan minum obat. Padahal sudah dikatakan di
awal, obat adalah racun. Tapi dengan penggunaan yang tepat dan dosis dan
akurat, racun itu bisa jadi obat yang sangat mujarab. Salam apoteker muda untuk
Indonesia sehat menuju Indonesia hebat. (Ali Ridwan, 06/03/18)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar