Selasa, 06 Maret 2018

Obat Antibiotik, Kenapa Sebaiknya Pakai Resep Dokter?

 
Obat dengan bahan kimia itu adalah racun, tapi dengan dosis akurat, dan pemakaian yang tepat, racun itu bisa jadi obat yang ampuh nan mujarab. Lagi-lagi, kata-kata ini harus ditekankan di awal artikel. Sebab, obat antibiotik yang akan kita bahas kali ini juga adalah jenis obat yang juga terbuat dari bahan kimia. Lalu, apa thooo antibiotik itu? Gunanya buat apa? Kinerjanya bagaimana? Yuuk, langsung ajaa. Cekipruuuttt..!!

Sebelum membahas soal obat antibiotik, sebaiknya tahu dulu apa sebabnya pasien perlu mengonsumsi obat golongan antibiotik. Ya, sebaiknya tahu dulu bagaimana prosesnya kuman baik berupa bakteri, jamur, atau virus itu bisa masuk dan menembus sistem pertahanan tubuh pada manusia.

Pada umumnya, kuman masuk ke tubuh manusia melalui lubang-lubang yang ada pada tubuh manusia seperti mulut, telingan, hidung, mata, dubur, saluran kencing, pori-poro kulit, sampai luka robek akibat sayatan, atau luka akibat iritasi baik yang di permukaan luar atau di dalam tubuh.

Pada dasarnya juga manusia memiliki sistem pertahanan tubuh alami yang bisa juga disebut antibiotik alami. Antibiotik alami ini kemudian bertugas melawan potensi infeksi yang dibawa oleh kuman bakteri yang masuk ke dalam tubuh manusia itu tadi.

Saat tubuh terserang infeksi oleh kuman bakteri, tahap pengobatan yang pertama ialah konsumsi suplemen penambah daya tahan tubuh. Ini alasannya mengapa bila terkena flu biasa, sebaiknya tidak minum obat antibiotik. Ada kalanya orang terserang flu karena daya tahan tubuh sedang menurun, sistem pertahahan tubuh sedang lemah, antibiotik alaminya tak berperan dengan optimal. Hal seperti ini sebetulnya tidak perlu antibiotik, cukup suplement peningkat daya tahan tubuh, seperti konsumsi vit C misal.

Nah, jika gejala cukup menganggu, segera minum kombinasi obat untuk flu. Tapi disarankan tetap tidak dengan meminum obat antibiotik, karena flu itu disebabkan oleh virus, yaitu virus influenza, sedang antibiotik biasa digunakan untuk infeksi akibat bakteri dan jamur.

Misalnya lagi, ketika sakit perut karena infeksi kuman yang masuk lewat mulut. Sebaiknya di awal tidak perlu langsung minum obat antibiotik. Di saluran cerna, khususnya di dalam saluran usus sistem pertahanan tubuh alami yang disebut PRObiotik dan fungsunya tuntuk meningkatkan sistem imun alami dalam perut. Ada kalanya probiotik ini mengalami penurunan kinerja, maka yang diperlukan ialah makanan atau minuman yang mengandung PREbiotik, fungsinya untuk pertumbuhan mikroorganisme alami di saluran cerna dan fungsinya untuk membantu peran probiotik menjaga keseimbangan populasi kuman di dalam usus.

Jadi, apa perlunya pasien mengonsumsi antibiotik? Ialah untuk membantu sistem pertahanan tubuh dalam perannya membunuh kuman bakteri yang sudah menginfeksi manusia.

Ingat, gunakan obat antibiotik sebagai opsi terakhir dalam pengobatan, dan dalam penggunaannya sebaiknya dengan saran dan sepengetahuan dokter. Obat yang didapat pun sebaiknya harus dengan resep yang juga dari dokter. Satu lagi, jangan lupa konsultasikan obatnya dengan apoteker di apotek yang melayani penjualan obat antibiotik tersebut.

Sekilas, peran antibiotik dalam tubuh terlihat biasa, seperti obat-obat lain pada umunya. Tapi, obat antibiotik justru sangat membahayakan kalau sampai terjadi resisten (kekebalan) bakteri terhadap obat antibiotik.

Sekarang pertanyaannya. Mengapa bakteri bisa sampai kebal (resisten) terhadap obat antibiotic? Jadi begini:

Bakteri yang menginfeksi, ketika mendapat paparan antibiotic untuk pertama kali, bakteri itu tidak seratus persen langsung mati, mungkin hanya pingsan. Paparan kedua, mungkin hanya koma, Paparan ketiga, mungkin hanya sekarat. Bahaya ketika bakteri masih keadaan koma atau sekarat kemudian pengobatan dihentikan, ini akan membuat bakteri kembali tumbuh lebih kuat lagi dari sebelumnya. Itu mengapa tiap kali mau mengonsumsi obat antibiotik, pasien yang mendapat jatah obat antibiotic (biasa untuk 3 – 7 hari) selalu diingatkan “Antibiotiknya diminum sampai habis yaa..” Perlunya ialah untuk jaga-jaga jangan sampai bakterinya belum bener-benar mati, tapi obatnya sudah dihentikan.

Bakteri yang pernah hampir mati karena sebelumnya pernah mendapat paparan dari antibiotik, tidak akan bisa kembali dibuat koma apa sekarat dengan obat antibiotik yang sama dan dengan dosis yang sama pula. Sebab bakteri yang bangkit dari sekarat itu akan punya daya tahan dan daya juang yang lebih kuat dari sebelumnya, jalan untuk mematikannya pun harus dengan dosis yang lebih banyak dari dosis antibiotik yang pernah dipakai sebelumnya. Efeknya, karena dosis yang lebih banyak selain akan memperberat kinerja hati dalam memetabolisme dan kinerja ginjal dalam mengeksresi obat tersebut, dari segi biaya juga akan meningkat. Misal antibiotic A dengan dosis 500 mg seharga Rp 15.000,- per tablet kemudian karena dosisnya ditingkatkan jadi 750 mg dengan harga Rp 30.000,- per tablet. Sekali pakai mungkin tak terasa, tapi kalau dikali 10 untuk 5 hari pemakaian berarti sudah Rp. 300.000,-. Hmmm.. Gimana? Makin berat kan, biaya dan resikonya!?

Lalu bagaimana bila bakteri yang terlanjur resisten (kebal) dan sampai pada tahap pemberian antibiotik dengan dosis tertinggi dan tidak mati-mati. Biasanya akan diberi dengan jenis antibiotik yang sama tapi dengan generasi terbaru dan dengan dosis bertahap pula. Biasanya, antibiotik dengan generasi terbaru harganya akan lebih mahal dari generasi sebelumnya.

Bahaya itu kalau bakteri sudah resisten dengan semua antibiotic, bahkan dengan jenis antibiotik dengan generasi yang paling terbaru. Karena sudah mentok, diobati dengan jenis antibiotic terbaru dan dengan dosis paling tinggi sudah tidak mempan alias kebal, kuman dan bakteri yang menginfeksi organ akan terus menggerogoti daya tahan tubuh, ini sebabnya orang bisa mati karena infeksi. Hmm..Yakin masih mau pakai obat antibiotik secara sembarangan dan tidak mau peduli dengan resiko akan adanya potensi resisten?!

Selain bahaya resistensi, hal lain yang perlu diperhatikan ialah adanya potensi alergi akibat penggunaan obat antibiotik. Bentuk alerginya bisa gatal-gatal, bengkak-bengkak, kulit mememar dan kemerah-merahan, macam-macam. Itu perlunya, ketika ada pasien rawat inap yang akan disuntik obat antibiotik harus dites dulu soal ada tidaknya potensi alergi dari jenis obat antibiotik tersebut.

Hal yang tak kalah penting selain bahaya resistensi dan potensi alergi, ialah efek samping dari obat antibiotik itu sendiri. Misalnya Tetrasiklin yang bisa buat warna gigi jadi kuning. Golongan Kuinolon (Contoh obat: Ciprofloksasin dan Levofloksasin) yang bisa menghambat pertumbuhan pada anak. Golongan Aminoglikosida (Contoh obat: Amikasin, Gentamisin, Neomisin, Streptomisin, dan sebangsanya) yang menyebabkan nefrotoksis atau merusak fungsi ginjal. Khusus Streptomisin ada lagi efek samping lainnya yaitu ototoksis atau gangguan pendengaran alias bikin kuping jadi budeg. Dan masih banyak lagi efek samping ringan pada antibiotik-antibiotik tertentu seperti mual, muntah, demam, sembelit, diare, kegemukan, pusing, dan semacamnya.

Perlu jadi perhatian juga. Saat menggunakan obat antibiotik dosis juga menjadi perhatian khusus. Seperti dosis antibiotik sesuai riwayat penggunaan, seperti berat badan, balita, ibu hamil dan menyusui, serta lansia. Cara penggunaannya juga. Ada yang sebaiknya tidak diminum dengan susu atau jus jeruk, karena pengaruh kalsium dalam susu atau vitamin C dalam jus jeruk bisa mengganggu kinerja obat antibiotic saat di lambung.

Jadi, inilah alasannya mengapa sebaiknya penggunaan antibiotik perlu perlakuan khusus, harus dengan saran dokter dan dengan pengawasan apoteker. Semua demi kebaikan pasien itu sendiri. Jangan sampai buy one get one free. Minum obat satu penyakit sembuh, tapi malah terkena jenis penyakit lainnya karena sembarangan minum obat. Padahal sudah dikatakan di awal, obat adalah racun. Tapi dengan penggunaan yang tepat dan dosis dan akurat, racun itu bisa jadi obat yang sangat mujarab. Salam apoteker muda untuk Indonesia sehat menuju Indonesia hebat. (Ali Ridwan, 06/03/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar