Apa jadianya jika kita tiba-tiba
ditidurkan pada hari ini, lalu dibangunkan lagi pada lima atau sepuluh tahun kemudian? Mungkin ini
hal yang tepat untuk menggambarkan kehidupan seorang perantau yang selama
perantauannya jarang sekali atau bahkan tak pernah sekalipun mudik ke rumah
untuk menengok kampungnya.
Ketika ia pulang, akan ia dapati banyak perubahan
dan perbedaan yang didapati. Terutama sekali bila menyangkut hukum “patah
tumbuh hilang berganti”, dimana yang patah akan tumbuh dan yang hilang akan
berganti. Orang - orang yang dulu masih paruh baya kini beranjak menua, yang
dulu sehat sentosa ternyata sudah meninggal dunia, yang dulu masih kecil mungil
ternyata sudah besar dan dewasa, yang dulu masih bayi hijau sekarang sudah
bocah yang mulai tumbuh remaja.
Tak hanya pada orang-orang yang kita
amati, tapi juga pada orang-orang yang mengamati kita. Ada yang tetap ingat,
sambil ragu-ragu kemudian tersenyum meyapa, ada yang sungguh-sungguh lupa tak
ingat siapa kita. Kita yang dulu masih pucuk daun hijau mulai
mentransformasikan diri makin membiru. Situasi asing benar-benar akan kita
dapati jika seperti tertidur lalu tiba-tiba terbangun selama perantauannya itu.
Dan waktu yang dipergunakan merantau selama itu, terasa hanya sebuah perjalanan
mimpi saja, perjalanan mimpi yang sedikit banyak merubah kepribadian kita.
Coba sekali saja kita pikirkan, kalau
saja saat kita ditidurkan itu tidak untuk dibangunkan lagi dalam lima atau
sepuluh tahun kedepan. Tapi tidur untuk selama-lamanya. Ada berapa orang yang
masih ingat tentang kita, tentang hidup kita? Jika memang yang bersedia mengingat
itu masih ada, hitung ada berapa diantara yang masih mau mengingat itu? Sudikah
ia berkirim do’a ke pusaramu? Satu, dua, tiga. Tak yakin bisa lebih dari itu,
ini kalau keluarga tidak masuk hitungan.
Melongok pada fakta ini, seyogyanya manusia
itu memikirkan tiga hal yang wajib diperbuatnya selama ia hidup. Kewajiban itu
cuma satu. Ya, satu saja. Membangun investasi akherat dengan amal zariah.
Sedang amal zariyah itu hanya bisa dilakukan dengan tiga jenis ibadah. Pertama
ilmu yeng bermanfaat, kedua do’a anak dan keturunan yang soleh dan solehah, dan
amal jariyah dari amalan dan sedekah yang disumbangkan selagi masih bernafas
dan menapak tilas di atas bumi manusia ini. Maka tiadalah merugi orang-orang
yang selama hidup mengoptimalkan waktunya hanya untuk mengurusi tiga macam hal
ini saja. Sungguh, amat beruntunglah orang itu.
Manusia yang terbiasa hidup di
perantauan pasti merasakan satu hal, hidup dimana saja itu sama saja. Sama-sama
masih berpijak dimuka bumi yang sama, manusia-manusianya pula, meski dengan
wajah dan bentuk rupa yang berbeda-beda tapi watak sifatnya pada dasarnya sama
saja. Maka wajarlah, jika seorang perantau yang lama merantau kemudian pulang
dan ia kemudian merasa asing dengan kampungnya. Rumah yang sejatinya rumah
bukanlah yang ada di bumi ini. Apa yang orang-orang Jawa sebut dengan urip mung mampir ngombe itu betul. Tidak
ada rumah di kefanaan dunia ini. Rumah ada setelah ruh melepas jasad, setelah
hilangnya nyawa sebagai pertalian keduanya.
Mencari “rumah” yang hilang tak ubahnya
seperti mencari ketenangan hidup yang hilang,
ketentraman hidup yang hilang, kebahagiaan hidup yang hilang, dengan
mencari kegairahan hidup yang redup. Nyala itu hanya bisa dikobarkan lagi, bila
nurani dipancari lagi sinar gilang-gemilangnya. Di situlah sumber suka cita
berasal, sumber duka cita bermula. Maka ketahuilah, rumah itu tidak hilang.
Hanya saja, akal fikir manusia kerap mengaburkan pandangan mata hatinya.
Sampai-sampai ia dibuat buta, bahkan dibuat lupa, dimana rumah yang jadi istananya
berada. (Ali Ridwan, 28/03/18)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar