Rabu, 28 Maret 2018

Mencari “Rumah” yang Hilang

Apa jadianya jika kita tiba-tiba ditidurkan pada hari ini, lalu dibangunkan lagi pada  lima atau sepuluh tahun kemudian? Mungkin ini hal yang tepat untuk menggambarkan kehidupan seorang perantau yang selama perantauannya jarang sekali atau bahkan tak pernah sekalipun mudik ke rumah untuk menengok kampungnya.

Ketika ia pulang, akan ia dapati banyak perubahan dan perbedaan yang didapati. Terutama sekali bila menyangkut hukum “patah tumbuh hilang berganti”, dimana yang patah akan tumbuh dan yang hilang akan berganti. Orang - orang yang dulu masih paruh baya kini beranjak menua, yang dulu sehat sentosa ternyata sudah meninggal dunia, yang dulu masih kecil mungil ternyata sudah besar dan dewasa, yang dulu masih bayi hijau sekarang sudah bocah yang mulai tumbuh remaja.

Tak hanya pada orang-orang yang kita amati, tapi juga pada orang-orang yang mengamati kita. Ada yang tetap ingat, sambil ragu-ragu kemudian tersenyum meyapa, ada yang sungguh-sungguh lupa tak ingat siapa kita. Kita yang dulu masih pucuk daun hijau mulai mentransformasikan diri makin membiru. Situasi asing benar-benar akan kita dapati jika seperti tertidur lalu tiba-tiba terbangun selama perantauannya itu. Dan waktu yang dipergunakan merantau selama itu, terasa hanya sebuah perjalanan mimpi saja, perjalanan mimpi yang sedikit banyak merubah kepribadian kita.

Coba sekali saja kita pikirkan, kalau saja saat kita ditidurkan itu tidak untuk dibangunkan lagi dalam lima atau sepuluh tahun kedepan. Tapi tidur untuk selama-lamanya. Ada berapa orang yang masih ingat tentang kita, tentang hidup kita? Jika memang yang bersedia mengingat itu masih ada, hitung ada berapa diantara yang masih mau mengingat itu? Sudikah ia berkirim do’a ke pusaramu? Satu, dua, tiga. Tak yakin bisa lebih dari itu, ini kalau keluarga tidak masuk hitungan.

Melongok pada fakta ini, seyogyanya manusia itu memikirkan tiga hal yang wajib diperbuatnya selama ia hidup. Kewajiban itu cuma satu. Ya, satu saja. Membangun investasi akherat dengan amal zariah. Sedang amal zariyah itu hanya bisa dilakukan dengan tiga jenis ibadah. Pertama ilmu yeng bermanfaat, kedua do’a anak dan keturunan yang soleh dan solehah, dan amal jariyah dari amalan dan sedekah yang disumbangkan selagi masih bernafas dan menapak tilas di atas bumi manusia ini. Maka tiadalah merugi orang-orang yang selama hidup mengoptimalkan waktunya hanya untuk mengurusi tiga macam hal ini saja. Sungguh, amat beruntunglah orang itu.

Manusia yang terbiasa hidup di perantauan pasti merasakan satu hal, hidup dimana saja itu sama saja. Sama-sama masih berpijak dimuka bumi yang sama, manusia-manusianya pula, meski dengan wajah dan bentuk rupa yang berbeda-beda tapi watak sifatnya pada dasarnya sama saja. Maka wajarlah, jika seorang perantau yang lama merantau kemudian pulang dan ia kemudian merasa asing dengan kampungnya. Rumah yang sejatinya rumah bukanlah yang ada di bumi ini. Apa yang orang-orang Jawa sebut dengan urip mung mampir ngombe itu betul. Tidak ada rumah di kefanaan dunia ini. Rumah ada setelah ruh melepas jasad, setelah hilangnya nyawa sebagai pertalian keduanya.

Mencari “rumah” yang hilang tak ubahnya seperti mencari ketenangan hidup yang hilang,  ketentraman hidup yang hilang, kebahagiaan hidup yang hilang, dengan mencari kegairahan hidup yang redup. Nyala itu hanya bisa dikobarkan lagi, bila nurani dipancari lagi sinar gilang-gemilangnya. Di situlah sumber suka cita berasal, sumber duka cita bermula. Maka ketahuilah, rumah itu tidak hilang. Hanya saja, akal fikir manusia kerap mengaburkan pandangan mata hatinya. Sampai-sampai ia dibuat buta, bahkan dibuat lupa, dimana rumah yang jadi istananya berada. (Ali Ridwan, 28/03/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar