Dimakan istri mati, tak dimakan anak
mati. Kurang lebih, seperti itulah gambaran buah simalakama bila digambarkan
dengan situasi hidup yang sedang dialami seorang lelaki muda bernama Rakai ini.
Masih lekat dalam benaknya, pun dalam ingatannya. Rentetan kisah di hari-hari
bahagia itu, ketika ia menembak kekasihnya di sebuah taman bunga, ketika ia
menjalani masa-masa pacaranya, ketika ia akhirnya bisa melamar pacarnya itu di
tepi sebuah pantai pada malam pergantian tahun, indah sekali. Lebih indah dan
bergairah lagi hidupnya saat-saat ia
menikmati kerja kerasnya, tiada hari tanpa ia pacu semangatnya, sungguh giat sekali ia dengan pekerjaannya,
disiplin sekali dengan tabungannya, modal untuk menikah yang menjadi cita-cita
mulia dari cerita cintanya.
Menikah dengan orang yang dicintai dan
yang mencintai. Direstui dengan keluarga
besar dari kedua belah mampelai, Lihatlah, tiada cacat jalan hidup si mantan bujang
satu ini. Ia punya pekerjaan yang layak sebagai pegawai pemerintah dengan gaji
yang lebih dari cukup, istrinya pun demikian. Sejoli ini, ah kerap bikin iri
pemuda yang masih dilekati dengan status jomblo, status terlaknat yang enggan
pergi jauh-jauh mengutuki dirinya. Sejoli ini pun sukses membikin kesal para
pemuda yang meski sudah berpacaran, tapi statusnya sebagai pengangguran belum
jua hilang dari sematan. Rakai oh Rakai,
mujur nian nasib hidup kau tiada bandingan.
Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih. Rakai, si
pemuda yang tengah menghadapi perputaran dari roda kehidupan ini, sepertinya
harus mempersiapkan dirinya, kini roda kehidupan akan berbalik menggilasnya
sampai ke dasar tahah yang paling rendah. Jalan hidupnya yang semula ringan di atas
angin, seketika langsung terjungkal ke bawah. Kejadian bermula ketika istri yang disayangi
dengan ketulusan kasih penuh cinta itu mengalami sebuah tragedi saat masih
mengandung, sebuah kecelakaan tunggal yang menimpa istri dan penumpang lainnya,
mobil travel yang ditumpanginya tergelincir saat melaju kencang di jalan tol.
Semua tewas, satu selamat, tapi sekarat. Seorang itu ialah istri Rakai yang
tengah hamil tua.
Kalau boleh dikatakan parah, kondisi
istri Rakai tentu demikian keadaannya. Ada pendarahan hebat di dalam kepalanya,
ada penurunan fungsi dari kinerja otak di dalamnya, semakin lama semakin
menurun, meski jatungnya masih berdetak,
meski detaknya lemah, organ lain berfungsi baik meski ada beberapa luka, janin
itupun selamat, sementara waktu nutrisinya terpenuhi cukup, pertumbuhannya
terjaga baik. Hidup tak hidup, mati tak mati. Demikianlah keadaan istri Rakai
yang mengguncang jiwanya dengan hebatnya. Cobaan ini, belum sampai berakhir di
sini.
Dengan penuh kehati-hatian, dokter
menjelaskan sebuah keadaan genting, dimana hanya ia dan keluarganya yang berhak
untuk menentukannya. “Ada dua pilihan. Pertama kita lakukan operasi di bagian
otak dari istri saudara, ia bisa selamat, tapi proses dari operasi itu bisa
mengorbankan janin yang ada di kandungannya. Kedua, kita lakukan operasi
penyelamatan janin melalui persalinan cesar, namun proses ini akan mengancam
keselamatan ibunya.” Dimakan istri mati,
tak dimakan anak mati. Buah simalakama harus ia telan mentah-mentah mendengar
pernyataan dokter itu.
Rakai, lelaki dengan karier terang
cemerlang, tentu tak ingin larut berlama-lama dalam kebimbangan. Ia menyadari
apa yang tengah menimpanya adalah bagian dari kehidupan, tiada gunanya
berlama-lama larut dalam kesedihan, kekecewaan, dan kebimbangan. Kini ia harus
berupaya naik kembali ke atas. Roda kehidupan akan terus berputar. Seperti
jamaah haji memutari ka’bah, laron mengitari lentera, seperti juga rembulan
mengitari bumi, bumi mengitari matahari, matahari mengitari galaksi, atau dari
yang terkecil partikel mengitari atomnya, dan atom mengitari intinya. Pun
demikian bila kelak ditemukan suatu yang lebih kecil lagi dari itu. Ya,
kejadian dari kehidupan ini tidak lain adalah rangkaian dari perputaran dan
perputaran. Termasuk perputaran nasib, juga perputaran takdir. Semua ada
sirkulasinya, ada gilirannya.
Rakai, segera ia membicarakan dua
pilihan pelik ini pada keluarganya, pada ayah ibunya, juga pada mertuanya.
Tapi, cuma jawaban mengambang yang ia dapatkan. Keluarganya juga sama bingunnya
dengan dirinya. Dua-duanya resikonya sama, pentingnya pun juga sama. Tak kurang
akal, atas saran seorang ustadz Rakai disarankan soan pada guru si ustadz,
seorang kyai, sehari-hari mengurus santri. Darinya, Rakai mendapati sebuah
petuah: Taqdimul Aham Fal Aham Tsummal
Anfah’ Fal Anfa’. Mendahulukan yang paling penting, kemudian yang paling
banyak manfaatnya. Maksud dan arti, ketika dihadapkan pada dua pilihan sulit.
Jika dua-duanya sama-sama pentingnya, maka carilah mana diantara keduanya yang
paling besar manfaatnya.
Dari seorang kyai itu pula Rakai
disarankan untuk beristikharah. Dalam hening dzikir malam harus dilintasi
dengan belasan ribu kalimah: Subhanallahi
Wal Hamdulillahi Walailaha Illallah Huwallahu Akbar, Walakhaula Walakhuwata
Illa Billah. Faffirru Illallah. Yaa Sayyidii Yaa Rosulallah. Bersama
heningnya tafakkur pada sepertiga malam itu ia berupaya menangkap suara dari isi
hatinya. Tirakat dan riyadho ia lakoni demi sebuah sasmita ghaib, bisikan lirih
dari Yang Maha Daya.
Tibalah pada suatu malam, tanpa disadari
itulah malam ke empat puluh semenjak pertama Rakai menjalani ritual
istikharahnya. Rakai tertidur di atas sajadahnya, tanpa sadar ia terlelap saat
sedang khidmat bertafakur. Sebuah mimpi indah menghampiri tidurnya. Mimpi yang
tampak nyata sekali, saking nyatanya sampai ia tak bisa bedakan, apakah ia
sedang terpejam, ataukah sedang membuka matanya. Dirasainya, ia seperti berada
si sebuah tempat yang hening, senyap, sunyi, dan tenang. Dominasi cahaya putih
meliputi pandang matanya. Samar-samar seorang perempuan dengan senyum bak delima
merekah datang menghampiri, datang dengan menggendong bayi mungil di tangannya,
makin merekah senyum perempuan itu saat ia serahkan bayinya pada Rakai. Perempuan
itu lalu pergi, ia lambaikan tangannya, senyumnya makin merekah indah.
Terbangunlah Rakai dari tidurnya, tak percaya ia dengan mimpinya, disangkanya
bunga tidur saja mimpi itu. Rakai, kemudian berubah pikiran, lalu berbulat
tekad dengan pilihannya, ketika mimpi yang nyaris sama itu datang dan datang
lagi secara berturut-turut selama hampir tujuh hari tanpa jeda. (Ali Ridwan,
09/04/18).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar