Senin, 09 April 2018

Buah Simalakama (Cerpen, Terinspirasi Kisah Nyata)

Dimakan istri mati, tak dimakan anak mati. Kurang lebih, seperti itulah gambaran buah simalakama bila digambarkan dengan situasi hidup yang sedang dialami seorang lelaki muda bernama Rakai ini.

Masih lekat dalam benaknya, pun dalam  ingatannya. Rentetan kisah di hari-hari bahagia itu, ketika ia menembak kekasihnya di sebuah taman bunga, ketika ia menjalani masa-masa pacaranya, ketika ia akhirnya bisa melamar pacarnya itu di tepi sebuah pantai pada malam pergantian tahun, indah sekali. Lebih indah dan bergairah lagi hidupnya saat-saat  ia menikmati kerja kerasnya, tiada hari tanpa ia pacu semangatnya,  sungguh giat sekali ia dengan pekerjaannya, disiplin sekali dengan tabungannya, modal untuk menikah yang menjadi cita-cita mulia dari cerita cintanya.

Menikah dengan orang yang dicintai dan yang mencintai.  Direstui dengan keluarga besar dari kedua belah mampelai, Lihatlah, tiada cacat jalan hidup si mantan bujang satu ini. Ia punya pekerjaan yang layak sebagai pegawai pemerintah dengan gaji yang lebih dari cukup, istrinya pun demikian. Sejoli ini, ah kerap bikin iri pemuda yang masih dilekati dengan status jomblo, status terlaknat yang enggan pergi jauh-jauh mengutuki dirinya. Sejoli ini pun sukses membikin kesal para pemuda yang meski sudah berpacaran, tapi statusnya sebagai pengangguran belum jua hilang dari sematan.  Rakai oh Rakai, mujur nian nasib hidup kau tiada bandingan.

Untung tak dapat  ditolak, malang tak dapat diraih. Rakai, si pemuda yang tengah menghadapi perputaran dari roda kehidupan ini, sepertinya harus mempersiapkan dirinya, kini roda kehidupan akan berbalik menggilasnya sampai ke dasar tahah yang paling rendah. Jalan hidupnya yang semula ringan di atas angin, seketika langsung terjungkal ke bawah.  Kejadian bermula ketika istri yang disayangi dengan ketulusan kasih penuh cinta itu mengalami sebuah tragedi saat masih mengandung, sebuah kecelakaan tunggal yang menimpa istri dan penumpang lainnya, mobil travel yang ditumpanginya tergelincir saat melaju kencang di jalan tol. Semua tewas, satu selamat, tapi sekarat. Seorang itu ialah istri Rakai yang tengah hamil tua.

Kalau boleh dikatakan parah, kondisi istri Rakai tentu demikian keadaannya. Ada pendarahan hebat di dalam kepalanya, ada penurunan fungsi dari kinerja otak di dalamnya, semakin lama semakin menurun, meski  jatungnya masih berdetak, meski detaknya lemah, organ lain berfungsi baik meski ada beberapa luka, janin itupun selamat, sementara waktu nutrisinya terpenuhi cukup, pertumbuhannya terjaga baik. Hidup tak hidup, mati tak mati. Demikianlah keadaan istri Rakai yang mengguncang jiwanya dengan hebatnya. Cobaan ini, belum sampai berakhir di sini.

Dengan penuh kehati-hatian, dokter menjelaskan sebuah keadaan genting, dimana hanya ia dan keluarganya yang berhak untuk menentukannya. “Ada dua pilihan. Pertama kita lakukan operasi di bagian otak dari istri saudara, ia bisa selamat, tapi proses dari operasi itu bisa mengorbankan janin yang ada di kandungannya. Kedua, kita lakukan operasi penyelamatan janin melalui persalinan cesar, namun proses ini akan mengancam keselamatan  ibunya.” Dimakan istri mati, tak dimakan anak mati. Buah simalakama harus ia telan mentah-mentah mendengar pernyataan dokter itu.

Rakai, lelaki dengan karier terang cemerlang, tentu tak ingin larut berlama-lama dalam kebimbangan. Ia menyadari apa yang tengah menimpanya adalah bagian dari kehidupan, tiada gunanya berlama-lama larut dalam kesedihan, kekecewaan, dan kebimbangan. Kini ia harus berupaya naik kembali ke atas. Roda kehidupan akan terus berputar. Seperti jamaah haji memutari ka’bah, laron mengitari lentera, seperti juga rembulan mengitari bumi, bumi mengitari matahari, matahari mengitari galaksi, atau dari yang terkecil partikel mengitari atomnya, dan atom mengitari intinya. Pun demikian bila kelak ditemukan suatu yang lebih kecil lagi dari itu. Ya, kejadian dari kehidupan ini tidak lain adalah rangkaian dari perputaran dan perputaran. Termasuk perputaran nasib, juga perputaran takdir. Semua ada sirkulasinya, ada gilirannya.

Rakai, segera ia membicarakan dua pilihan pelik ini pada keluarganya, pada ayah ibunya, juga pada mertuanya. Tapi, cuma jawaban mengambang yang ia dapatkan. Keluarganya juga sama bingunnya dengan dirinya. Dua-duanya resikonya sama, pentingnya pun juga sama. Tak kurang akal, atas saran seorang ustadz Rakai disarankan soan pada guru si ustadz, seorang kyai, sehari-hari mengurus santri. Darinya, Rakai mendapati sebuah petuah: Taqdimul Aham Fal Aham Tsummal Anfah’ Fal Anfa’. Mendahulukan yang paling penting, kemudian yang paling banyak manfaatnya. Maksud dan arti, ketika dihadapkan pada dua pilihan sulit. Jika dua-duanya sama-sama pentingnya, maka carilah mana diantara keduanya yang paling besar manfaatnya.

Dari seorang kyai itu pula Rakai disarankan untuk beristikharah. Dalam hening dzikir malam harus dilintasi dengan belasan ribu kalimah: Subhanallahi Wal Hamdulillahi Walailaha Illallah Huwallahu Akbar, Walakhaula Walakhuwata Illa Billah. Faffirru Illallah. Yaa Sayyidii Yaa Rosulallah. Bersama heningnya tafakkur pada sepertiga malam itu ia berupaya menangkap suara dari isi hatinya. Tirakat dan riyadho ia lakoni demi sebuah sasmita ghaib, bisikan lirih dari Yang Maha Daya.

Tibalah pada suatu malam, tanpa disadari itulah malam ke empat puluh semenjak pertama Rakai menjalani ritual istikharahnya. Rakai tertidur di atas sajadahnya, tanpa sadar ia terlelap saat sedang khidmat bertafakur. Sebuah mimpi indah menghampiri tidurnya. Mimpi yang tampak nyata sekali, saking nyatanya sampai ia tak bisa bedakan, apakah ia sedang terpejam, ataukah sedang membuka matanya. Dirasainya, ia seperti berada si sebuah tempat yang hening, senyap, sunyi, dan tenang. Dominasi cahaya putih meliputi pandang matanya. Samar-samar seorang perempuan dengan senyum bak delima merekah datang menghampiri, datang dengan menggendong bayi mungil di tangannya, makin merekah senyum perempuan itu saat ia serahkan bayinya pada Rakai. Perempuan itu lalu pergi, ia lambaikan tangannya, senyumnya makin merekah indah. Terbangunlah Rakai dari tidurnya, tak percaya ia dengan mimpinya, disangkanya bunga tidur saja mimpi itu. Rakai, kemudian berubah pikiran, lalu berbulat tekad dengan pilihannya, ketika mimpi yang nyaris sama itu datang dan datang lagi secara berturut-turut selama hampir tujuh hari tanpa jeda. (Ali Ridwan, 09/04/18).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar