Pernahkah sekejap saja kita berfikir? Kenapa manusia di zaman Nabi Adam bisa hidup sampai ribuan tahun
tapi sekarang, manusia baru hidup setengah abad saja
sudah pada penyakitan. Di umur yang baru segitu sudah ada terdiagnosis hipertensi, kolesterol, diabetes,
bahkan stroke sampai tumor dan kanker. Pola hidup mungkin berpengaruh, pola makan apalagi.
Kadar stress sampai faktor lingkungan juga ikut mendominasi adanya perubahan
ini.
Terlepas
dari semua dugaan itu,
jawaban yang paling bisa menjelaskan
mengapa itu bisa terjadi, ialah
karena DNA nenek moyang manusia dulu sudah berbeda dengan DNA manusia modern seperti sekarang ini. Bentuk dan satrukturnya sudah
tak sekokoh dulu. Bisa jadi karena kealamian sel tempat DNA bernaung sedikit
banyak telah dikontaminasi oleh paparan radikal bebas yang terjadi secara bertahun-tahun dan turun-temurun.
Sel pada tubuh
manusia umumnya akan berganti dalam tiga bulan sekali. Setiap sel baru telah
tumbuh, maka sel yang telah mati akan menjadi sampah. Sel kulit pada wajah
misalnya, pada masa kanak-kanak dan remaja mungkin tak terlalu tampak, tapi
pada manusia dewasa, penumpukan sampah sel pada kulit wajah yang berada di
kulit itu akan terus menumpuk dari tahun ke tahun terus menumpuk sampai
tumpukan sel kulit mati di wajah itu akan membuat tampilan wajah terlihat
semakin menua.
Ada sebuah
teori, siapa yang sel kulitnya memiliki usia lebih panjang dari usia sel pada
umumnya. Maka makin terlihat awet muda seseorang itu. Sebab, makin pendek usia
sel pada tubuh manusia, makin menumpuk pulasampah dari “mayat” sel-sel lama yang sudah duluan
“tewas”.
Dari itu, maka timbulah sebuah solusi bagaimana supaya
manusia tetap terlihat awet muda? Yaitu
dengan memperpanjang usia sel. Supaya usia sel bisa panjang, sel harus diasupi
makanan dengan kadar antioksidan tinggi. Ya, antioksidan yang akan menjaga
kesehatan sel agar terus bertahan dan bisa memiliki usia lebih panjang dari
rata-rata usia sel pada umumnya.
Soal patah
tumbuh hilang bergantinya sel-sel pada tubuh manusia itu, analoginya kurang
lebih sama seperti proses kelahiran pada manusia itu sendiri. Prosesnya, sel
betina dan sel jantan bertemu, kemudian lahirlah sel-sel baru. Bedanya,
sesudah melahirkan sel-sel baru, sel-sel
lama akan langsung mati.
Namun dalam
proses ini, sering kali racun bernama radikal bebas datang sebagai orang
ketiga, boleh disamakan dengan istilah Pelakor (perebut lelaki orang). Sehingga
sel tidak menggandeng pasangan resminya untuk membuahi kandungan sel barunya,
akibatnya sel akan melahirlah sel baru yang kurang sempurna, sel baru yang rentan
dengan kelainanan karena pertumbuhannya cendrung abnormal.
Dari proses
“perkawinan tidak sah” antara sel asli dan sel palsu sebagai orang ketiga yang bernama
radikal bebas inilah sering timbul mutasi pertumbuhan sel yang tidak normal.
Mutasi sel “anak haram” ini yang kemudian tumbuh kembang menjadi kanker, kanker
yang akan terus tumbuh besar, dan kemudian jadi tumor. Semua kejadian tergantung
dimana proses “perkawinan haram” itu dilakukan. Kalau di kulit bisa jadi kanker
kulit, kalau di usus bisa jadi kanker usus, kalau di otak bisa kanker otak, dan
semacamnya.
Darimana
munculnya orang ketiga bernama radikal bebas itu? Kebanyakan dari makanan yang
dimakan, tidak jarang juga dari cemaran lingkungan yang ditinggali. Sinar,
gelombang, dan radiasi, juga bisa jadi pemicu laimnya.
Bagaimana supaya
terhindar dari perkawinan haram antara sel asli dan sel palsu bergelar Pelakor
alias radikal bebas. Ya, hindari apa-apa yang bisa menimbulkan kemunculan
radikal bebas pada tubuh kita.
Dari makanan,
mungkin sebaiknya hindari makanan yang digoreng dengan minyak jelantrah, daging
yang dibakar sampai berarang, makan-makanan berpengawet apalagi kalau
pengawetnya pakai formalin, buah dan sayur yang terpapar pestisida dan diawetkan
pakai bahan-bahan kimia berbahaya, termasuk ayam, ikan, atau telur yang proses
pertumbuhannya menggunakan obat-obatan atau suntikan hormon-hormon tertentu.
Berat ya?
Apalagi kalau hidupnya di kota. Susah pastinya membedakan mana bahan makanan
yang masih alami dan segar, dan mana makanan yang sudah tercemar bahan kimia
berbahaya. Oh ya, hindari juga rokok dan alkohol. Narkoba apalagi, wajib dan harus
dihindari!!
Dari cemaran
lingkungan, waspadai polusi udara, asap kenalpot, perokok pasif. Hindari pula radiasi
berlebih dari ponsel, televisi, termasuk gelombang elektromagnetik berbahaya, papasran
sinar UV, dan jangan sekali-kali melintasi daerah yang terpapar radioaktif dari
limbah nuklir.
Jadi, ketemu
sudah jawabannya. Zaman nabi Adam sel belum banyak terpapar radikal bebas.
Sumber cemaran radikal bebas nyaris tiada.
Semua bahan makanan masih serba
alami. DNA dalam sel pun desainnya masih kuat, sehingga hidup sel bisa tahan
sangat lama. Sebagai manusia modern, inilah tantangan kita. Manusia harus sadar
soal pentingnya menjaga pola makan biar tubuh tetap sehat, tak kalah penting
harus selalu bisa menjaga keseimbangan alam dengan tidak mencemari lingkungan.
Yah, mau tak mau tren Back to Nature harus
terus digaungkan supaya paparan radikal bebas tidak semakin digdaya dalam
melemahkan ketahanan sel-sel dalam tubuh kita. “Salam Apoteker Muda!!” (Ali
Ridwan, 09/04/18).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar