Senin, 09 April 2018

Redikal Bebas, Antioksidan, dan Mutasi Sel Kanker

Pernahkah  sekejap saja kita berfikir? Kenapa manusia di zaman Nabi Adam bisa hidup sampai ribuan tahun tapi sekarang, manusia baru hidup setengah abad saja sudah pada penyakitan. Di umur yang baru segitu sudah ada terdiagnosis hipertensi, kolesterol, diabetes, bahkan stroke sampai tumor dan kanker. Pola hidup mungkin berpengaruh, pola makan apalagi. Kadar stress sampai faktor lingkungan juga ikut mendominasi adanya perubahan ini.

Terlepas dari semua dugaan itu, jawaban yang paling bisa menjelaskan mengapa itu bisa terjadi, ialah karena DNA nenek moyang manusia dulu sudah berbeda dengan DNA manusia modern seperti sekarang ini. Bentuk dan satrukturnya sudah tak sekokoh dulu. Bisa jadi karena kealamian sel tempat DNA bernaung sedikit banyak telah dikontaminasi oleh paparan  radikal bebas yang terjadi secara bertahun-tahun dan turun-temurun.

Sel pada tubuh manusia umumnya akan berganti dalam tiga bulan sekali. Setiap sel baru telah tumbuh, maka sel yang telah mati akan menjadi sampah. Sel kulit pada wajah misalnya, pada masa kanak-kanak dan remaja mungkin tak terlalu tampak, tapi pada manusia dewasa, penumpukan sampah sel pada kulit wajah yang berada di kulit itu akan terus menumpuk dari tahun ke tahun terus menumpuk sampai tumpukan sel kulit mati di wajah itu akan membuat tampilan wajah terlihat semakin menua. 

Ada sebuah teori, siapa yang sel kulitnya memiliki usia lebih panjang dari usia sel pada umumnya. Maka makin terlihat awet muda seseorang itu. Sebab, makin pendek usia sel pada tubuh manusia, makin menumpuk pulasampah dari  “mayat” sel-sel lama yang sudah duluan “tewas”.

Dari itu,  maka timbulah sebuah solusi bagaimana supaya manusia tetap terlihat awet muda?  Yaitu dengan memperpanjang usia sel. Supaya usia sel bisa panjang, sel harus diasupi makanan dengan kadar antioksidan tinggi. Ya, antioksidan yang akan menjaga kesehatan sel agar terus bertahan dan bisa memiliki usia lebih panjang dari rata-rata usia sel pada umumnya.

Soal patah tumbuh hilang bergantinya sel-sel pada tubuh manusia itu, analoginya kurang lebih sama seperti proses kelahiran pada manusia itu sendiri. Prosesnya, sel betina dan sel jantan bertemu, kemudian lahirlah sel-sel baru. Bedanya, sesudah  melahirkan sel-sel baru, sel-sel lama akan langsung  mati.

Namun dalam proses ini, sering kali racun bernama radikal bebas datang sebagai orang ketiga, boleh disamakan dengan istilah Pelakor (perebut lelaki orang). Sehingga sel tidak menggandeng pasangan resminya untuk membuahi kandungan sel barunya, akibatnya sel akan melahirlah sel baru yang kurang sempurna, sel baru yang rentan dengan kelainanan karena pertumbuhannya cendrung abnormal.

Dari proses “perkawinan tidak sah” antara sel asli dan sel palsu sebagai orang ketiga yang bernama radikal bebas inilah sering timbul mutasi pertumbuhan sel yang tidak normal. Mutasi sel “anak haram” ini yang kemudian tumbuh kembang menjadi kanker, kanker yang akan terus tumbuh besar, dan kemudian jadi tumor. Semua kejadian tergantung dimana proses “perkawinan haram” itu dilakukan. Kalau di kulit bisa jadi kanker kulit, kalau di usus bisa jadi kanker usus, kalau di otak bisa kanker otak, dan semacamnya.

Darimana munculnya orang ketiga bernama radikal bebas itu? Kebanyakan dari makanan yang dimakan, tidak jarang juga dari cemaran lingkungan yang ditinggali. Sinar, gelombang, dan radiasi, juga bisa jadi pemicu laimnya.

Bagaimana supaya terhindar dari perkawinan haram antara sel asli dan sel palsu bergelar Pelakor alias radikal bebas. Ya, hindari apa-apa yang bisa menimbulkan kemunculan radikal bebas pada tubuh kita.

Dari makanan, mungkin sebaiknya hindari makanan yang digoreng dengan minyak jelantrah, daging yang dibakar sampai berarang, makan-makanan berpengawet apalagi kalau pengawetnya pakai formalin, buah dan sayur yang terpapar pestisida dan diawetkan pakai bahan-bahan kimia berbahaya, termasuk ayam, ikan, atau telur yang proses pertumbuhannya menggunakan obat-obatan atau suntikan hormon-hormon tertentu.

Berat ya? Apalagi kalau hidupnya di kota. Susah pastinya membedakan mana bahan makanan yang masih alami dan segar, dan mana makanan yang sudah tercemar bahan kimia berbahaya. Oh ya, hindari juga rokok dan alkohol. Narkoba apalagi, wajib dan harus dihindari!! 

Dari cemaran lingkungan, waspadai polusi udara, asap kenalpot, perokok pasif. Hindari pula radiasi berlebih dari ponsel, televisi, termasuk gelombang elektromagnetik berbahaya, papasran sinar UV, dan jangan sekali-kali melintasi daerah yang terpapar radioaktif dari limbah nuklir.

Jadi, ketemu sudah jawabannya. Zaman nabi Adam sel belum banyak terpapar radikal bebas. Sumber cemaran radikal bebas nyaris tiada.  Semua bahan makanan  masih serba alami. DNA dalam sel pun desainnya masih kuat, sehingga hidup sel bisa tahan sangat lama. Sebagai manusia modern, inilah tantangan kita. Manusia harus sadar soal pentingnya menjaga pola makan biar tubuh tetap sehat, tak kalah penting harus selalu bisa menjaga keseimbangan alam dengan tidak mencemari lingkungan. Yah, mau tak mau tren Back to Nature harus terus digaungkan supaya paparan radikal bebas tidak semakin digdaya dalam melemahkan ketahanan sel-sel dalam tubuh kita. “Salam Apoteker Muda!!” (Ali Ridwan, 09/04/18).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar