Ada sensasi candu ketika seseorang mampu
melepaskan hormon dopamine sumber kebahagiaan di otaknya, utamanya setelah
sesorang mampu merampungkan tulisannya. Sensasi candu yang ingin dan akan ia ulangi, dan ulangi lagi.
Supaya dapat ia merasai kenikmatannya lagi. Tentu ini ialah satu jenis candu
yang baik, candu yang mampu menimbulkan energi positif, candu yang bisa menetralisir
hawa negatif.
Ada perasaan plong, lega, puas, dan
bebas. Ketika seseorang itu berhasil mencuatkan apa yang membebani hati dan
pikirannya ke dalam tulisannya. Untuk melepaskan emosinya dan membuang
unek-uneknya melalui kata demi kata dalam tulisannya. Tulisan adalah alternatif
terapi penyiang rasa gundah, gelisah, yang meresah.
Tidak hanya menulis, membaca pun demikian,
ia pun memiliki fungsi terapi yang hampir sama bagusnya dengan menulis itu
sendiri. Ya, membaca dan menulis adalah pasangan ideal yang akan saling
melengkapi untuk mencapai klimaks, untuk membuang hasrat, pelampias candu
positif kepada tulisan dan kata-kata.
Buat yang menyukai tulisan sebagai media
terapi. Ia akan mendaftarkan dirinya sebagai pecandu setianya. Ada yang menjadikannya sekedar kesenangan
pribadi, sekedar hobi, sekedar untuk dinikmati sendiri. Ada yang terjun secara
total dan profesional, menjadikan dunia tulis menulis sebagai profesi, entah
profesi sampingan atau profesi utama. Tapi
ada pula yang mencomot kedua-duanya, menjadikan kata-kata dan tulisan sebagai
hobi sekaligus profesi. Beruntunglah orang yang menjadikan hobi sebagai
profesi, daya produktifitas dan keorisinilan idealismenya biasanya akan stabil.
Soal tinggi rendahnya produktifitas,
keorisinilan idealisme, dan banyak sedikitnya karya yang dihasilkan. Seorang
penulis itu, boleh diibaratkan seperti induk ayam yang menetaskan
telur-telurnya. Diantara telur-telur yang menetas itu ada beberapa yang tumbuh
jadi ayam dewasa, ada yang bahkan baru sekian menit keluar cangkang sudah mati.
Begitu pula dengan telur-telur buku yang ditetaskan seorang penulis. Ada yang
baru terbit langsung menghilang dari pasaran, tak laku atau kurang diminati.
Tapi ada pula yang panjang usia bukunya bahkan ratusan kali lebih lama dari
umur penulisnya. Penulisnya sudah lama sekali mati tapi karyanya tetap
diminati.
Menulis adalah kegiatan yang setali tiga
uang. Sekali dilakukan dapat keuntungan berulang-ulang. Efek kesehatanya dapat,
efek intelektualnya dapat, efek finansialnya pun juga dapat. Tak
tanggung-tanggung, efek-efek itu bahkan bisa bertahan hingga bertahun-tahun lamanya.
Ini yang dibilang orang. “Menulis adalah
bekerja untuk keabadian..” Jasad orang boleh mati dan membusuk, hancur
lebur menyisakan tulang belulang. Tapi ide tulisan dalam karya bukunya, bisa
tetap panjang umurnya, panjang umurnya sampai dengan usia yang tak
terpekirakan. Ilmu dan pengalamannya akan dikenang oleh generasi penerusnya
lewat tulisan-tulisannya, itu kalau ia menulis. Jika ia tidak menulis, maka
ingat-ingatlah kata-kata ini. “Orang
boleh pandai setinggi langit, namun selama ia tidak menulis, ia akan ditelan
jaman dan menghilang dari sejarah”.
(Ali Ridwan, 13/04/18)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar