Jumat, 13 April 2018

Bermeditasi dengan Kata-Kata Lewat Tulisan

Ada sensasi candu ketika seseorang mampu melepaskan hormon dopamine sumber kebahagiaan di otaknya, utamanya setelah sesorang mampu merampungkan tulisannya. Sensasi candu yang  ingin dan akan ia ulangi, dan ulangi lagi. Supaya dapat ia merasai kenikmatannya lagi. Tentu ini ialah satu jenis candu yang baik, candu yang mampu menimbulkan energi positif, candu yang bisa menetralisir hawa negatif.

Ada perasaan plong, lega, puas, dan bebas. Ketika seseorang itu berhasil mencuatkan apa yang membebani hati dan pikirannya ke dalam tulisannya. Untuk melepaskan emosinya dan membuang unek-uneknya melalui kata demi kata dalam tulisannya. Tulisan adalah alternatif terapi penyiang rasa gundah, gelisah, yang meresah.

Tidak hanya menulis, membaca pun demikian, ia pun memiliki fungsi terapi yang hampir sama bagusnya dengan menulis itu sendiri. Ya, membaca dan menulis adalah pasangan ideal yang akan saling melengkapi untuk mencapai klimaks, untuk membuang hasrat, pelampias candu positif kepada tulisan dan kata-kata.

Buat yang menyukai tulisan sebagai media terapi. Ia akan mendaftarkan dirinya sebagai pecandu setianya.  Ada yang menjadikannya sekedar kesenangan pribadi, sekedar hobi, sekedar untuk dinikmati sendiri. Ada yang terjun secara total dan profesional, menjadikan dunia tulis menulis sebagai profesi, entah profesi sampingan atau profesi utama.  Tapi ada pula yang mencomot kedua-duanya, menjadikan kata-kata dan tulisan sebagai hobi sekaligus profesi. Beruntunglah orang yang menjadikan hobi sebagai profesi, daya produktifitas dan keorisinilan idealismenya biasanya akan stabil.

Soal tinggi rendahnya produktifitas, keorisinilan idealisme, dan banyak sedikitnya karya yang dihasilkan. Seorang penulis itu, boleh diibaratkan seperti induk ayam yang menetaskan telur-telurnya. Diantara telur-telur yang menetas itu ada beberapa yang tumbuh jadi ayam dewasa, ada yang bahkan baru sekian menit keluar cangkang sudah mati. Begitu pula dengan telur-telur buku yang ditetaskan seorang penulis. Ada yang baru terbit langsung menghilang dari pasaran, tak laku atau kurang diminati. Tapi ada pula yang panjang usia bukunya bahkan ratusan kali lebih lama dari umur penulisnya. Penulisnya sudah lama sekali mati tapi karyanya tetap diminati.

Menulis adalah kegiatan yang setali tiga uang. Sekali dilakukan dapat keuntungan berulang-ulang. Efek kesehatanya dapat, efek intelektualnya dapat, efek finansialnya pun juga dapat. Tak tanggung-tanggung, efek-efek itu bahkan bisa bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Ini yang dibilang orang. “Menulis adalah bekerja untuk keabadian..” Jasad orang boleh mati dan membusuk, hancur lebur menyisakan tulang belulang. Tapi ide tulisan dalam karya bukunya, bisa tetap panjang umurnya, panjang umurnya sampai dengan usia yang tak terpekirakan. Ilmu dan pengalamannya akan dikenang oleh generasi penerusnya lewat tulisan-tulisannya, itu kalau ia menulis. Jika ia tidak menulis, maka ingat-ingatlah kata-kata ini. “Orang boleh pandai setinggi langit, namun selama ia tidak menulis, ia akan ditelan jaman dan  menghilang dari sejarah”. (Ali Ridwan, 13/04/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar