Jumat, 01 Juni 2018

Kemarau di Tanah Papua

Setelah sebulan kemarau, akhirnya Papua mulai rutin diguyur hujan lagi. Sebetulnya ini kemunduran. Sebab, dulu kemarau paling panjang di Papua itu lamanya cuma satu minggu. Itu artinya, dulu praktis tidak ada musim kemarau di Papua. Sepanjang tahun musimnya ialah musim hujan. 

Bila kamu melalui sebuah perjalanan udara di atas Tanah Papua melalu pesawat terbang, lalu tempat dudukmu tepat di samping jendela, kemudian kau arahkan matamu melihat ke bawah, pandangmu akan dimanjakan dengan lansekap yang luar biasa indahnya. Hutan, gunung, lembah, seperti hamparan padang savana, seperti permadani biru yang tergelar di luasnya padang pasir.

Berbeda bila kamu terbang di atas tanah pulai Jawa. Utamanya bila malam hari, pulau itu dipenuhi dengan cahaya kelap-kelip seperti bintang gemintang di langit gelap. Simbol dari kepadatan penduduk di pulau itu. Bila penerbangan itu dilakukan pada siang hari, tentulah hanya petak-petak bangunan yang dapat kau nikmati pemandangannya.

Barangkali bukan hanya Papua yang mengalami ketakteraturan musim. Hujan dan kemarau yang jadwalnya mulai morat-marit tak karuan itu. Tanah Jawa yang dulu rutin disambangi hujan dan kemarau selama enam bulan bergantian, nampaknya mulai berantakan keteraturannya. Kadang kemarau yang lebih lama, kadang hujan yang mengguyur sangat deras di tengah-tengah kemarau.  

Aku takut, kalau ternyata bukan fenomena global-lah yang membuat musim di Papua mulai keluar dari pakemnya. Populasi manusia yang akin banyak, pembangunan yang makin liar, serta penambangan dan pembalakan liar yang abai pada dampak lingkungan.

Senang rasanya bisa melihat Papua makin maju dan berkembang. Senang tapi bikin sedih, pabila perkembangan dan kemajuan di Tanah Papua itu justru berdampak pada kealamian  alamnya yang hijau dan perawan.  Khawatir sekali bilamana kesucian alam Papua itu akhirnya terenggut, nilai-nilai kegadisannya akan pudar, alam Papua akan berubah jadi nenek-nenek renta yang sakit-sakitan. Semua karena virus modernisasi. Kemajuan zaman yang merusak lingkungan. (Ali Ridwan, 29/05/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar