Setelah sebulan kemarau, akhirnya Papua
mulai rutin diguyur hujan lagi. Sebetulnya ini kemunduran. Sebab, dulu kemarau
paling panjang di Papua itu lamanya cuma satu minggu. Itu artinya, dulu praktis
tidak ada musim kemarau di Papua. Sepanjang tahun musimnya ialah musim
hujan.
Bila kamu melalui sebuah perjalanan
udara di atas Tanah Papua melalu pesawat terbang, lalu tempat dudukmu tepat di
samping jendela, kemudian kau arahkan matamu melihat ke bawah, pandangmu akan
dimanjakan dengan lansekap yang luar biasa indahnya. Hutan, gunung, lembah,
seperti hamparan padang savana, seperti permadani biru yang tergelar di luasnya
padang pasir.
Berbeda bila kamu terbang di atas tanah
pulai Jawa. Utamanya bila malam hari, pulau itu dipenuhi dengan cahaya
kelap-kelip seperti bintang gemintang di langit gelap. Simbol dari kepadatan
penduduk di pulau itu. Bila penerbangan itu dilakukan pada siang hari, tentulah
hanya petak-petak bangunan yang dapat kau nikmati pemandangannya.
Barangkali bukan hanya Papua yang
mengalami ketakteraturan musim. Hujan dan kemarau yang jadwalnya mulai
morat-marit tak karuan itu. Tanah Jawa yang dulu rutin disambangi hujan dan
kemarau selama enam bulan bergantian, nampaknya mulai berantakan
keteraturannya. Kadang kemarau yang lebih lama, kadang hujan yang mengguyur
sangat deras di tengah-tengah kemarau.
Aku takut, kalau ternyata bukan fenomena
global-lah yang membuat musim di Papua mulai keluar dari pakemnya. Populasi manusia
yang akin banyak, pembangunan yang makin liar, serta penambangan dan pembalakan
liar yang abai pada dampak lingkungan.
Senang rasanya bisa melihat Papua makin
maju dan berkembang. Senang tapi bikin sedih, pabila perkembangan dan kemajuan
di Tanah Papua itu justru berdampak pada kealamian alamnya yang hijau dan perawan. Khawatir sekali bilamana kesucian alam Papua
itu akhirnya terenggut, nilai-nilai kegadisannya akan pudar, alam Papua akan
berubah jadi nenek-nenek renta yang sakit-sakitan. Semua karena virus
modernisasi. Kemajuan zaman yang merusak lingkungan. (Ali Ridwan, 29/05/18)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar