Hari itu, pagi-pagi sekali aku sudah
terbangun dari tidur. Padahal aku mulai melelapi pulau kapuk-ku setelah adzan
shubuh dikumandangkan. Aku dibangunkan dengan berisik suara-suara knalpot motor,
suaranya seperti meraung-raung garang,
lebih garang dari alarm ponselku, meski nada deringnya sudah aku pasangi
musik rock dengan aliran paling keras dan kasar. Suara-suara bising itu seperti
bersahut-sahut kompak, satu suara menghilang, satu suara datang , kadang dua
suara datang bersamaan, kadang malah lebih dari dua suara. Andai itu suara
kokok-kokok ayam, tentu akan berbeda kesannya, bila pun dengan dipaksa untuk
mendengar keberisikannya.
Beginilah kehidupan di tengah-tengah
kota besar. Kotanya tak pernah tidur, penduduknya terlampau padat dan sangat
sibuk. Penduduk yang super sibuk itu, tiap hari, tiap pagi dan sore hari tiada
bosan-bosannya membisingi tempat tinggalku, sebuah kost kamar mandi dalam,
terletak di belakang sebuah toko pulsa dan tempat foto copy, bila diukur dengan
meteran jaraknya tak lebih dari tiga meter saja dari jalan umum.
Sebetulnya, aku tidak persis tinggal di
tengah kota. Aku tinggal di sebuah desa, tapi desa yang letak geografisnya
berada di perbatasan antara dua kota besar di Jawa Timur. Secara teritori desa
itu ada di Sidoarjo, tapi letaknya yang dekat dengan Terminal Bungurasih, orang
sering menyebut wilayah situ sebagai bagian dari Kota Surabaya.
Tak jauh dari kost tempat tinggalku,
buruh-buruh pabrik ikut menimbrungi kepadatan penduduk di wilayah itu, ikut
memaceti jalan-jalan di tiap pagi dan sore hari. Banyak yang menyadari akan
kegentingan suasana macet di sore dan pagi hari itu, banyak yang menyiasati
dengan berangkat lebih pagi atau pulang lebih malam. Imbasnya, jam tidurku jadi
terganggu. Aku jadi sering terbangun pagi-pagi sekali oleh kebisingan mereka
yang menyiasati macet dengan pergi pagi-pagi sekali, berkendara kencang-kencang
sampai suara knalpot mereka pecah memekakkan telinga.
Menilik pada fakta hidup dengan kebisingan
yang menjenuhkan seperti itu, aku jadi rindu dengan kampung halamanku di Papua Barat
sana. Aku sebut kampung halaman yang di Papua Barat, sebab kampung halaman di
Ponorogo sudah hampir sama dengan Sidoarjo. Populasi motor sudah terlampau
banyak. Knalpot berisiknya sudah terlalu pekat mencemari kesegaran udara pagi
yang dingin.
Ya, aku lahir di Ponorogo, tapi besar di
Papua. Dan aku lebih menyukai kealamian mayapada dari jagat timur Indonesia
itu.
Tak sampai setahun tinggal dan bekerja
di Sidoarjo, aku putuskan untuk pulang kampung. Mudik ke Papua Barat. Kurasai
kejomplangan itu benar-benar nyata. Jangan pikir akan menjumpai keberadaan Indomart atau Alfamar di
sini. Layanan Gojek, Grab, Uber, dan semacamnya. Franchise dari kedai-kedai kuliner
yang lagi hits. Bus dan kereta antar
kabupaten dan provinsi. Jalan tol, jalan layang, belum ada semua di sini.
Jangankan di desa-desanya, di kota-kota besarnya saja belum ada. Penduduk yang
masih secuil persentasenya dibanding dengan Jawa sana mungkin salah satu pemicunya.
Tapi, dari semua kekurangan dan ketiadaan itulah justru jadi daya tariknya,
terlebih buat mereka-mereka yang tengah mencari perbandingan hidup, untuk
keseimbangan hidup. Dari kehidupan kota yang serba modern ke kehidupan desa
yang masih tradisional.
Kejomplangan-kejomplangan itu tak
berhenti sampai di situ. Listrik yang sering padam, jaringan yang kerap timbul
tenggelam, keterbatasan akses, serta biaya hidup yang mahal membikin dada makin
penuh sesak dengan kejengkelan-kejengkelan. Tapi aku tetap menikmatinya,sebab
kebosananku pada kota besar jauh lebih menyesaki dada sampai meluber ke kepala.
Biarkan kebosanan itu termuntahkan dengan sendirinya, saat semua kejengkelanku
pada kejomplangan itu justru jadi berkah, berkah bisa lebih mensyukuri hidup
dengan tidak membanding-bandingkan antara kehidupan kota dan desa. Sawang sinawang, kelihatannya indah
belum tentu indah. Perlunya hidup dan keseimbangan ialah demi memperoleh rasa
syukur itu sendiri. Hidup di kota supaya bisa mensyukuri kehidupan desa. Hidup
di desa supaya dapat mensyukuri kehidupan kota. Selamat datang di desa, dan
sampai jumpa kembali di kota. (Ali Ridwan, 02/06/18)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar