Sabtu, 02 Juni 2018

Hidup dan Keseimbangan

Hari itu, pagi-pagi sekali aku sudah terbangun dari tidur. Padahal aku mulai melelapi pulau kapuk-ku setelah adzan shubuh dikumandangkan. Aku dibangunkan dengan berisik suara-suara knalpot motor, suaranya seperti meraung-raung garang,  lebih garang dari alarm ponselku, meski nada deringnya sudah aku pasangi musik rock dengan aliran paling keras dan kasar. Suara-suara bising itu seperti bersahut-sahut kompak, satu suara menghilang, satu suara datang , kadang dua suara datang bersamaan, kadang malah lebih dari dua suara. Andai itu suara kokok-kokok ayam, tentu akan berbeda kesannya, bila pun dengan dipaksa untuk mendengar keberisikannya.

Beginilah kehidupan di tengah-tengah kota besar. Kotanya tak pernah tidur, penduduknya terlampau padat dan sangat sibuk. Penduduk yang super sibuk itu, tiap hari, tiap pagi dan sore hari tiada bosan-bosannya membisingi tempat tinggalku, sebuah kost kamar mandi dalam, terletak di belakang sebuah toko pulsa dan tempat foto copy, bila diukur dengan meteran jaraknya tak lebih dari tiga meter saja dari jalan umum.

Sebetulnya, aku tidak persis tinggal di tengah kota. Aku tinggal di sebuah desa, tapi desa yang letak geografisnya berada di perbatasan antara dua kota besar di Jawa Timur. Secara teritori desa itu ada di Sidoarjo, tapi letaknya yang dekat dengan Terminal Bungurasih, orang sering menyebut wilayah situ sebagai bagian dari Kota Surabaya.

Tak jauh dari kost tempat tinggalku, buruh-buruh pabrik ikut menimbrungi kepadatan penduduk di wilayah itu, ikut memaceti jalan-jalan di tiap pagi dan sore hari. Banyak yang menyadari akan kegentingan suasana macet di sore dan pagi hari itu, banyak yang menyiasati dengan berangkat lebih pagi atau pulang lebih malam. Imbasnya, jam tidurku jadi terganggu. Aku jadi sering terbangun pagi-pagi sekali oleh kebisingan mereka yang menyiasati macet dengan pergi pagi-pagi sekali, berkendara kencang-kencang sampai suara knalpot mereka pecah memekakkan telinga.

Menilik pada fakta hidup dengan kebisingan yang menjenuhkan seperti itu, aku jadi rindu dengan kampung halamanku di Papua Barat sana. Aku sebut kampung halaman yang di Papua Barat, sebab kampung halaman di Ponorogo sudah hampir sama dengan Sidoarjo. Populasi motor sudah terlampau banyak. Knalpot berisiknya sudah terlalu pekat mencemari kesegaran udara pagi yang dingin.

Ya, aku lahir di Ponorogo, tapi besar di Papua. Dan aku lebih menyukai kealamian mayapada dari jagat timur Indonesia itu.

Tak sampai setahun tinggal dan bekerja di Sidoarjo, aku putuskan untuk pulang kampung. Mudik ke Papua Barat. Kurasai kejomplangan itu benar-benar nyata. Jangan pikir akan  menjumpai keberadaan Indomart atau Alfamar di sini. Layanan Gojek, Grab, Uber, dan semacamnya. Franchise dari kedai-kedai kuliner yang lagi hits. Bus dan kereta  antar kabupaten dan provinsi. Jalan tol, jalan layang, belum ada semua di sini. Jangankan di desa-desanya, di kota-kota besarnya saja belum ada. Penduduk yang masih secuil persentasenya dibanding dengan Jawa sana mungkin salah satu pemicunya. Tapi, dari semua kekurangan dan ketiadaan itulah justru jadi daya tariknya, terlebih buat mereka-mereka yang tengah mencari perbandingan hidup, untuk keseimbangan hidup. Dari kehidupan kota yang serba modern ke kehidupan desa yang masih tradisional.

Kejomplangan-kejomplangan itu tak berhenti sampai di situ. Listrik yang sering padam, jaringan yang kerap timbul tenggelam, keterbatasan akses, serta biaya hidup yang mahal membikin dada makin penuh sesak dengan kejengkelan-kejengkelan. Tapi aku tetap menikmatinya,sebab kebosananku pada kota besar jauh lebih menyesaki dada sampai meluber ke kepala. Biarkan kebosanan itu termuntahkan dengan sendirinya, saat semua kejengkelanku pada kejomplangan itu justru jadi berkah, berkah bisa lebih mensyukuri hidup dengan tidak membanding-bandingkan antara kehidupan kota dan desa. Sawang sinawang, kelihatannya indah belum tentu indah. Perlunya hidup dan keseimbangan ialah demi memperoleh rasa syukur itu sendiri. Hidup di kota supaya bisa mensyukuri kehidupan desa. Hidup di desa supaya dapat mensyukuri kehidupan kota. Selamat datang di desa, dan sampai jumpa kembali di kota. (Ali Ridwan, 02/06/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar