Selasa, 14 Mei 2019

Balada Tukang Obat

Kerja di rumah sakit, obat. Pulang ke rumah jaga apotik, obat. Terbaru, terpilih jadi ketua PC IAI, ketuanya para tukang obat. Rasa-rasanya karier sebagai apoteker sudah mencapai puncaknya. Dingin dan sejuk? Ya, benar. Namanya puncak pasti adem. Tapi tidak pernah ada seorang pendaki pun  yang akan menetap lama di puncak. Setelah sampai ke puncak yang ada tinggallah jalan turun. Kembali ke bawah. Dan, seorang pendaki sejati, setelah sampai ke bawah, ia akan terus merencanakan sebuah pendakian baru lagi, ke sebuah gunung yang lebih tinggi dan lebih menantang lagi.

Sebagai manusia berjiwa burung elang yang mencintai petualangan, yang menjadikan langit luas sebagai ladang perburuannya, sungguh tak mungkin tahan dengan cukup mendedikasikan seluruh sisa hidupnya dengan bekerja di rumah sakit. Elang rajawali bukan seekor bebek yang gemar mengekor pada bebek-bebek lainnya. Ia burung petarung yang gemar berpetualang di angkasa ruang, sendirian menerjang badai, berseliweran dari satu mega ke mega yang lain, dengan paruh yang kuat serta cakar yang kokoh, mengintai target-targetnya dengan sorot mata nan tajam. Bertekad keras untuk menyelesaikan misi-misinya, untuk visi hidupnya. Sukses secara intelektual, spiritual, dan finansial.

Jalan hidup grafiknya tetntulah harus terus naik, terus menanjak, terus membumbung. Boleh turun, bila untuk menyiapkan perbekalan, bersiap untuk mendaki lebih tinggi lagi. Bisa menukik, bila ada mangsa yang harus diterjang. Ya, jadilah sang penerjang. Dialah pemenang. Pecundang cukup pasrah jadi sasaran tembak. Penonton hanya bisa bergidik menyaksikan pertunjukan nyata itu dari hukum kehidupan yang diperankan oleh si pemenang dan si pecundang. Sebaik-baik pemenang, sesial-sial pecundang, namun lebih menjijikan bila sekedar bisa jadi penonton saja. Jika tak dilahirkan sebagai elang rajawali, jadi bebek pengekorpun  sebetulnya tidak menjadi soal. Tapi jika bisa memilih, jadi elang penerjang tentu akan lebih menyenagkan bukan?


Pada pendakian-pendakian berikutnya. Ada kemungkinan si tukang obat ini akan selesai dengan dunia farmasi. Apotek yang dimilikinya akan jadi satu-satunya kenangan dari satu pendakian hidup yang telah dirampungkannya. Sebagai kenangan pendakian pertama juga sebagai lahan pengabdian supaya ilmu dan pengalamannya tetap lestari dan bermenfaat. Ya, pendakian ke puncak gunung yang lebih tinggi itu telah sudah semestinya segera dilekasi. Selamat datang di jalan turun, sampai jumpa lagi dingin, sejuk, dan ademnya puncak. Di waktu berikutnya akan kunikmati lagi puncak itu meski tidak di gunung yang sama. Puncak tetaplah puncak. Jadi tujuan utama para pendaki. Meski tidak semua bisa mencapainya. Pendaki sejati harus percaya bahwa di dalam dirinya terdapat kekuatan tersembunyi, kekuatan terpendam yang lebih kuat dari yang ia bayangkan. Kekuatan tak terlihat yang akan muncul bila ia mau keluar dari zona nyamannya. Bismillah.. Man Jadda Wa Jadda!! (Ali Ridwan, 09/04/19)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar