
Kerja di rumah sakit, obat. Pulang ke
rumah jaga apotik, obat. Terbaru, terpilih jadi ketua PC IAI, ketuanya para tukang
obat. Rasa-rasanya karier sebagai apoteker sudah mencapai puncaknya. Dingin dan
sejuk? Ya, benar. Namanya puncak pasti adem. Tapi tidak pernah ada seorang
pendaki pun yang akan menetap lama di
puncak. Setelah sampai ke puncak yang ada tinggallah jalan turun. Kembali ke
bawah. Dan, seorang pendaki sejati, setelah sampai ke bawah, ia akan terus
merencanakan sebuah pendakian baru lagi, ke sebuah gunung yang lebih tinggi dan
lebih menantang lagi.
Sebagai manusia berjiwa burung elang
yang mencintai petualangan, yang menjadikan langit luas sebagai ladang
perburuannya, sungguh tak mungkin tahan dengan cukup mendedikasikan seluruh
sisa hidupnya dengan bekerja di rumah sakit. Elang rajawali bukan seekor bebek
yang gemar mengekor pada bebek-bebek lainnya. Ia burung petarung yang gemar
berpetualang di angkasa ruang, sendirian menerjang badai, berseliweran dari
satu mega ke mega yang lain, dengan paruh yang kuat serta cakar yang kokoh,
mengintai target-targetnya dengan sorot mata nan tajam. Bertekad keras untuk
menyelesaikan misi-misinya, untuk visi hidupnya. Sukses secara intelektual,
spiritual, dan finansial.
Jalan hidup grafiknya tetntulah harus
terus naik, terus menanjak, terus membumbung. Boleh turun, bila untuk
menyiapkan perbekalan, bersiap untuk mendaki lebih tinggi lagi. Bisa menukik,
bila ada mangsa yang harus diterjang. Ya, jadilah sang penerjang. Dialah
pemenang. Pecundang cukup pasrah jadi sasaran tembak. Penonton hanya bisa
bergidik menyaksikan pertunjukan nyata itu dari hukum kehidupan yang diperankan
oleh si pemenang dan si pecundang. Sebaik-baik pemenang, sesial-sial pecundang,
namun lebih menjijikan bila sekedar bisa jadi penonton saja. Jika tak
dilahirkan sebagai elang rajawali, jadi bebek pengekorpun sebetulnya tidak menjadi soal. Tapi jika bisa
memilih, jadi elang penerjang tentu akan lebih menyenagkan bukan?
Pada pendakian-pendakian berikutnya. Ada
kemungkinan si tukang obat ini akan selesai dengan dunia farmasi. Apotek yang
dimilikinya akan jadi satu-satunya kenangan dari satu pendakian hidup yang
telah dirampungkannya. Sebagai kenangan pendakian pertama juga sebagai lahan
pengabdian supaya ilmu dan pengalamannya tetap lestari dan bermenfaat. Ya,
pendakian ke puncak gunung yang lebih tinggi itu telah sudah semestinya segera dilekasi.
Selamat datang di jalan turun, sampai jumpa lagi dingin, sejuk, dan ademnya
puncak. Di waktu berikutnya akan kunikmati lagi puncak itu meski tidak di
gunung yang sama. Puncak tetaplah puncak. Jadi tujuan utama para pendaki. Meski
tidak semua bisa mencapainya. Pendaki sejati harus percaya bahwa di dalam
dirinya terdapat kekuatan tersembunyi, kekuatan terpendam yang lebih kuat dari
yang ia bayangkan. Kekuatan tak terlihat yang akan muncul bila ia mau keluar
dari zona nyamannya. Bismillah.. Man
Jadda Wa Jadda!! (Ali Ridwan, 09/04/19)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar