Ketika seekor bebek menanyai seekor elang
“Hai Lang, kenapa tak ikut berenang mencari ikan di kolamnya pak tani? Enak loh
jadi unggas peliharaan manusia. Tiap hari ada jatah makan buat kita. Hidup jadi
lebih terjamin..” Si Elang menjawab “Bek, begini loh Bek. Passion hidup kita itu beda. Jari-jari kakimu lebar jadi jago
renang, paruhmu juga lebar jadi pinter nyosor. Cocokmu memang hidup di darat
dan di kolam. Lah aku. Aku punya e paruh kukuh, cakar tajam, sama sepasang
sayap yang kuat, bisaku berburu di udara. Lagian, mana mungkin bisa aku jadi
binatang ternaknya manusia yang baik, Mereka tak doyan dagingku. Beda dengan
kamu, Bek. Warung makan bebek goreng bertebaran dimana-mana.” Si Bebek ngambek
parah, lantas ia balik kanan sembari menunggingkan pantatnya. Dan, crooot… Cairan
hitam berbau muncrat dari duburnya. Ia berlalu begitu saja, meninggalkan sobatnya
Si Elang tanpa pamit. Elang itu hanya geleng-geleng kepala sambil membatin “Ingat kata Bung Karno, Bek. Bebek jalan
berbondong-bondong. Elang terbang sendirian. Itu bedanya aku dan kamu!!”
Suatu kali, salah satu orang terkaya
dari China, Jack Ma namanya, ia bertutur “Ketika
seekor monyet diberi pilihan antara sekeranjang pisang dan sekaranjang uang. Si
monyet tentu akan memilih sekeranjang pisang. Sebab, si monyet tidak tahu kalau
sekeranjang uang bisa buat membeli sehektar kebun pisang..”
Yaa, itulah hidup. Semua tentang
pilihan. Intinya, ketika sudah memilih pantang putar balik. Harus dijalani
sampai tuntas. Dimana passionmu, di
situlah tempat hidup yang bisa membuat kamu merasa bahagia. Bebek tak mungkin
berburu di udara dan elang tak mungkin berenang di kali. Orang yang bewatak seperti
elang akan menderita sakit gila kalau dipaksa berenang seperti bebek, dan orang
bersifat seperti bebek akan mengalami stress akut apabila dipaksa berburu di
udara seperti elang. Kesimpulan, bebek itu mayoritas seperti para pegawai dan
elang itu minoritas seperti beberapa juragan. Monyet yang memilih sekeranjang
pisang itu mayoritas dan monyet yang memilih sekeranjang uang itu langka. Sayangnya,
kalau aku sudah terbiasa jadi minoritas.
Aku sudah berupaya menjalani hidup
sebagai seekor bebek. Mencoba memilih sekeranjang pisang daripada sekeranjang
uang. Faktanya, bathinku sunguh tersiksa. Makan hati tiap hari. Lelah psikis,
rawan stress, dan selalu bad mood. Aku seperti elang yang
terpasung di dalam sangkar emas. Indah bagi siapa saja yang memandanginya, tapi
siapa yang tau kalau elang terantai di dalamnya sedang menderita sakit gila. Bukan
hidup seperti ini yang aku mau. Situasi memang memaksa hidup demikian, tapi
selama harapan itu ada, tidak ada kata terlambat untuk kembali pada jati diri.
Selagi bujang, pantang bagiku berdiam diri di zona nyaman, selagi melajang aku
masih ingin bermain-main di zona merah. Akan kupatahkan pasung di sangkar emas
itu meski harus cuil paruh ini karena terus-terus kupakai untuk mematuki rantai
besi yang mengikat kaki.
Zona nyaman memang nyaman, tapi tidak
ada pembelajaran hidup di sana, tidak ada yang dapat tumbuh dengan signifikan
di sana. Padahal, kalau kita mau terus maju, mau terus melangkah ke depan, mau
uterus menanjak tinggi, kita harus keluar dari zona nyaman itu, berani mencoba
hal-hal baru, selalu haus dengan tantangan-tantangan baru, di sanalah letak
gairah hidup bermula. Jatuh, bangun, sukses. Jatuh lagi, bangun lagi, sukses
lagi. Jatuh dan jatuh lagi, bangun dan bangun lagi, sukses dan sukses lagi.
Hanya dengan begini kita bisa menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.
Manusia yang sukses memaknai arti hidup. Manusia yang mengerti arti kejatuhan,
kebangkitan, serta kesuksesan yang menyertainya. Asam garam kehidupan yang
membikin hidupnya semakin bijak dan dewasa. Jadilah ia manusia adiguna karena
jalan hidupnya yang tidak biasa-biasa saja. Sebab, dari udara elang dapat
melihat lebih banyak dibanding bebek yang berkecipak di kolam-kolam berlumpur. (Ali
Ridwan, 02/05/19)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar