Senin, 06 Mei 2019

Hai Bung! Kenapa Tak Ikut Tes PNS??

Ketika seekor bebek menanyai seekor elang “Hai Lang, kenapa tak ikut berenang mencari ikan di kolamnya pak tani? Enak loh jadi unggas peliharaan manusia. Tiap hari ada jatah makan buat kita. Hidup jadi lebih terjamin..” Si Elang menjawab “Bek, begini loh Bek. Passion hidup kita itu beda. Jari-jari kakimu lebar jadi jago renang, paruhmu juga lebar jadi pinter nyosor. Cocokmu memang hidup di darat dan di kolam. Lah aku. Aku punya e paruh kukuh, cakar tajam, sama sepasang sayap yang kuat, bisaku berburu di udara. Lagian, mana mungkin bisa aku jadi binatang ternaknya manusia yang baik, Mereka tak doyan dagingku. Beda dengan kamu, Bek. Warung makan bebek goreng bertebaran dimana-mana.” Si Bebek ngambek parah, lantas ia balik kanan sembari menunggingkan pantatnya. Dan, crooot… Cairan hitam berbau muncrat dari duburnya. Ia berlalu begitu saja, meninggalkan sobatnya Si Elang tanpa pamit. Elang itu hanya geleng-geleng kepala sambil membatin “Ingat kata Bung Karno, Bek. Bebek jalan berbondong-bondong. Elang terbang sendirian. Itu bedanya aku dan kamu!!

Suatu kali, salah satu orang terkaya dari China, Jack Ma namanya, ia bertutur “Ketika seekor monyet diberi pilihan antara sekeranjang pisang dan sekaranjang uang. Si monyet tentu akan memilih sekeranjang pisang. Sebab, si monyet tidak tahu kalau sekeranjang uang bisa buat membeli sehektar kebun pisang.. 

Yaa, itulah hidup. Semua tentang pilihan. Intinya, ketika sudah memilih pantang putar balik. Harus dijalani sampai tuntas. Dimana passionmu, di situlah tempat hidup yang bisa membuat kamu merasa bahagia. Bebek tak mungkin berburu di udara dan elang tak mungkin berenang di kali. Orang yang bewatak seperti elang akan menderita sakit gila kalau dipaksa berenang seperti bebek, dan orang bersifat seperti bebek akan mengalami stress akut apabila dipaksa berburu di udara seperti elang. Kesimpulan, bebek itu mayoritas seperti para pegawai dan elang itu minoritas seperti beberapa juragan. Monyet yang memilih sekeranjang pisang itu mayoritas dan monyet yang memilih sekeranjang uang itu langka. Sayangnya, kalau aku sudah terbiasa jadi minoritas.

Aku sudah berupaya menjalani hidup sebagai seekor bebek. Mencoba memilih sekeranjang pisang daripada sekeranjang uang. Faktanya, bathinku sunguh tersiksa. Makan hati tiap hari. Lelah psikis, rawan  stress, dan selalu bad mood. Aku seperti elang yang terpasung di dalam sangkar emas. Indah bagi siapa saja yang memandanginya, tapi siapa yang tau kalau elang terantai di dalamnya sedang menderita sakit gila. Bukan hidup seperti ini yang aku mau. Situasi memang memaksa hidup demikian, tapi selama harapan itu ada, tidak ada kata terlambat untuk kembali pada jati diri. Selagi bujang, pantang bagiku berdiam diri di zona nyaman, selagi melajang aku masih ingin bermain-main di zona merah. Akan kupatahkan pasung di sangkar emas itu meski harus cuil paruh ini karena terus-terus kupakai untuk mematuki rantai besi yang mengikat kaki.

Zona nyaman memang nyaman, tapi tidak ada pembelajaran hidup di sana, tidak ada yang dapat tumbuh dengan signifikan di sana. Padahal, kalau kita mau terus maju, mau terus melangkah ke depan, mau uterus menanjak tinggi, kita harus keluar dari zona nyaman itu, berani mencoba hal-hal baru, selalu haus dengan tantangan-tantangan baru, di sanalah letak gairah hidup bermula. Jatuh, bangun, sukses. Jatuh lagi, bangun lagi, sukses lagi. Jatuh dan jatuh lagi, bangun dan bangun lagi, sukses dan sukses lagi. Hanya dengan begini kita bisa menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Manusia yang sukses memaknai arti hidup. Manusia yang mengerti arti kejatuhan, kebangkitan, serta kesuksesan yang menyertainya. Asam garam kehidupan yang membikin hidupnya semakin bijak dan dewasa. Jadilah ia manusia adiguna karena jalan hidupnya yang tidak biasa-biasa saja. Sebab, dari udara elang dapat melihat lebih banyak dibanding bebek yang berkecipak di kolam-kolam berlumpur. (Ali Ridwan, 02/05/19)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar