Takdir hidup sudah digariskan, tanggal
kematian pun sudah dituliskan, bahkan sebelum manusia dilahirkan. Apa yang
perlu dicemaskan? Manusia hidup di dunia tak perlu mengkhawatirkan apa-apa.
Manusia lahir tak membawa apa-apa, tak perlu merisaukan apa-apa yang tidak
dibawa mati. Bahkan sesungguhnya, mati pun tak perlu dipusingkan, apalagi
sekedar hari esok yang sudah digariskan laku-liku jalan hidupnya. Sang Dalang
yang punya cerita, para wayang tinggal memainkan peran sesuai cerita. Jalan
hidup sudah digariskan oleh yang Maha Mengatur.
Manusia diciptakan dengan penuh
ketakberdayaan, ia harus menjalani hidupnya dengan kepasrahan. Bila demikian
lakunya, sentosa dan damailah hari-harinya. Sebaliknya, jika ia lewati hari-harinya
dengan keras kepala dan menentang, menjauhi prinsip ikhlas, lepas dari sikap
tabah. Tidak mau terima akan ketakberdayaannya, sengsara dan siksalah hari-harinya.
Sebab bahagia hidup terletak pada luas dan besarnya hati dalam menanam,
menumbuhkan, dan merawat prinsip ikhlas, mau menerima, pasrah, dan berserah.
Pasrah bukan berarti malas. Tapi pasrah
dalam artian senantiasa menautkan kehadiran-Nya dalam tiap tindak-tanduk
kehidupan. Sadar bahwa ada campur tangan-Nya di tiap kejadian hidup yang manusia
lalui, tanpa sedetikpun luput dari penyertaan-Nya.
Ikhlas juga bukan berarti membiarkan
begitu saja apa-apa yang telah menjadi hak setelah melakukan kewajiban. Ikhlas
ialah meyakini bahwa apa yang datang dan pergi, apa yang dititipkan pada diri kita
atau pada diri orang lain adalah kepunyaan-Nya semata. Ikhlas ialah
pengejawantahan rasa tak memiliki apa-apa. Sebab, sedikutpun segala kejadian di
muka bumi ini tak berhak kita mengklaimnya. Semua ialah milik kehendak-Nya.
Ikhlas ialah rasa percaya yang amat mendalam pada ketetapan dan ketentuan-Nya.
Manusia dalam ikhtiar hidup hakekanya
hanya dibekali dengan satu hal saja, ialah do,a. Sedang hakekat do’a ialah berusaha,
semakin kuat usahamu artinya semakin kencang pula do’amu. Ingin pintar rajin
belajarlah bentuk doanya. Ingin kaya, giat bekerjalah bentuk doanya. Ingin lekas
bertemu jodoh, maka memantaskan diri sepantas-panasnyalah bentuk do’anya. Doa
urung terkabul, berarti kurang keras doa itu, artinya kurang cerdas kita
mengusahakan itu. Cobaa dan cobalah lagi, cobalah dengan istiqomah. Bila tak
terkabul jua, percayakan pada Allah, bahwa Allah punya rencana yang lebih indah
dari sekedar mwujudnyatakan doa-doamu itu. Di sinilah saatnya kita kembali pada
prinsip tabah, ikhlas, dan berserah. (Ali Ridwan, 06/04/19)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar