Kamis, 06 September 2018

Keajaiban Bersikap Optimis (Tak Jadi Operasi Batu Ureter)

Seperempat abad hidup di dunia, sekalipun aku belum pernah masuk rumah sakit, apalagi sampai dirawat di bangsal dengan sebotol cairan infus yang jarum runcing di ujung selangnya menancap pada salah satu pembuluh darah pada punggung tanganku. Tapi, pada awal Desember 2017 itu, saat usiaku seperempat abad lewat setengah tahun, aku benar-benar merasakan bagaimana jadi pasien rawat inap di sebuah rumah sakit. Sungguh, itu pengalaman yang tak mengenakkan.

Seteleh melewati waktu hampir setengah tahun di Surabaya dengan kesibukan yang sangat padat. Kuliah Magister, kerja di RS, juga menulis novel. Setelah ada sedikit libur aku putuskan untuk mudik ke Papua Barat. Ya, aku harus pulang. Pertama, karena aku merasai ada keanehan pada salah satu organ di tubuhku, lambungku sering merasa nyeri, mungkin akibat over stress dan jarang makan hingga kadar asam lambungnya naik. Kedua, ada masalah keluarga yang mengharuskan aku pulang memang.

Benar, sampai di rumah aku langsung tumbang, aku terkapar dan jatuh sakit. Nyeri di lambung, pusing, dan demam. Oleh ayah aku diantar ke Puskesmas. Oleh mantri yang bertugas di UGD diberi Paracetamol untuk demam dan nyeri, Antasida Doen untuk asam lambung, dan antibiotik untuk luka iritasi akibat asam lambung tadi. Cuma itu saja obat diberi, dengan pesan bila tiga hari tak membaik baru diberi rujukan berobat ke rumah sakit. Dua hari minum obat, aku sudah sehat seperti sedia kala.

Setelah merasa sedikit baikan, aku mulai bisa merasai nikmatnya makan dengan lahab, beraktivitas dengan normal, kepala tidak berat lagi, udara panas di siang terik tidak berasa dingin. Saat aku pulang itu, kebetulan di belakang rumah pohon jengkol besar sedang panen banyak. Hari-hari sayur jengkol masakan ibu aku lahab dengan nikmat. Terlepas dari baunya yang menyengat, aku suka sekali sayur jengkol. Entah disemur, disantan, atau hanya sekedar buat lalap. Saat kuliah, aku berani makan sayuran ini saat libur saja. Khawatir kalau di makan saat hari kuliah, bau mulut akan menganggu lawan bicara saat saling bercakap. Sedang libur, ada jengkol, masakan ibu pula. Rugi sekali kalau aku tidak nambah sampai dua piring tiap kali makan.

Tidak sampai tiga hari rutin makan jengkol, akhirnya aku merasa mual tiap kali mencium bau jengkol. Aku jadi merasa mual dan sering muntah, aku mengira asam lambungku kambuh, tapi apa pemicunya? Di rumah aku makan teratur dan jauh dari stress. Anehnya lagi, aku sering merasa nyeri di perut bagian kananku. Aku pikir itu masuk angin biasa. Sudah aku kerokin, sudah aku bekam, sampai merah-merah kulit perutku. Tetap saja nyeri itu kambuh-kambuhan. Ibu menyarankan aku ke dukun pijat, sebaiknya aku dipijat. Sering masuk angin kambuhan, takutnya ada keseleo atau salah urat yang entah bagaimana logikanya bisa bikin masuk angin kambuh-kambuhan.

Dukun pijat itu aku akui, ia punya kemampuan memijat yang baik. Setelah dipijat, nyeri di perut bagian kiri itu sudah tak kambuh lagi. Seharian aku beraktivitas tanpa lelah seperti orang sehat, tapi anehnya tiap kali aku buang air kecil terasa nyeri di saluran urin, warna urinnya kemerah-merahan, dan tiap kali kencing airnya keluar sedikit-sedikit, tetes demi tetes. Rasanya pun perih sekali.

Malamnya nyeri itu ternyata kambuh lagi, pijatan si dukung pijat itu nampaknya berguna hanya untuk menunda nyeri itu datang. Dan kali ini, bukan hanya nyeri tapi juga mules yang tidak karuan rasanya. Aku nongkrong ber jam-jam di toilet dan tiada satu air besar pun yang keliar, cuma air kecil yang menetes sedikit-sedikit dan rasanya perih. Setelah semalaman sulit tidur karena nyeri dan mules, shubuh-shubuh aku sudah tiga kali muntah. Aku berkesimpulan, aku sudah keracunan jengkol. Mungkin ini yang orang jawa sebut dengan istilah “Jengkolen..”

Esok malamnya, aku masih mengalami hal yang sama, juga malam berikutnya. Menilik pada kondisiku yang makin lemah karena kurang tidur, mual dan muntah membuat aku kurang nafsu makan, ibu menyarankan aku periksa ke rumah sakit. Aku di antar ayah, dan dokter yang masih kebingungan mendiagnosa sakit akibat nyeri di perut kiriku itu, apakah usus buntu, gangguan di ginjal, atau yang lain, dokter memutuskan kalau aku harus dirawat di rawat inap rumah sakit. Dokter nampaknya sudah tak tega melihat gemetar di tubuhku dan pucat di mukaku, karena nyeri hebat di perut kanan yang tak tertahankan itu. Kini, putus sudah rekorku yang selama seperemoat abad lebih tak pernah sekalipun masuk rumah sakit karena sakit.

Setelah meresepkan peralatan untuk infus, needle, sampai obat injeksi penahan nyeri, juga antibiotik. Suster lalu memasangkan selang infus, menusukkan jarumnya di pembuluh darah pada punggung tanganku. Lalu menginjeksi obat antinyeri, tak lupa menyuntikkan sedikit antibiotic di kulit tangan untuk mengecek adakah alergi pada antibiotik yang akan diinjeksi melelui infus ke dalam tubuh. Aku ada alergi dengan antibiotik pertama, dokter mengganti dengan antibiotik lain dengan jenis sama. Malam itu, aku bisa tidur dengan nyenyak, rasa nyeri pelan-pelang mulai hilang.

Meski nyeri itu sudah tak dirasa lagi, dokter masih belum bisa menyimpulkan, apakah usus buntu, atau ada gangguan di ginjal. Hasil tes darah dan urin, semuanya bagus. Kemungkinan usus buntu, tapi dokter memutuskan aku melakukan tes USG. Merasa sudah baikan, dan karena akupun sudah jenuh dengan rumah sakit, aku diijinkan pulang pada hari sabtu, empat hari setelah dirawat di RS. Tapi, senin aku diharuskan datang control untuk melihat hasil tes USG dan untuk mengetahui hasil diagnosis dan vonis dokter. Sakit apakah aku ini?

Dunia seakan runtuh saat dokter menjelaskan detail soal sakitku. Ada lima batu di ginjal dan saluran urinku. Rata-rata ukurannnya setengah centimeter (0.5 mm). Disarankan dokter supaya aku segera melakukan operasi pengangkatan batu di saluran urin, jika tidak segera dilakukan, ditakutkan sumbatan batu itu akan merusak ginjalku yang masih sehat. Namun, karena dokter bius yang bertugas di rumah sakit daerah itu sedang cuti, dokter tidak bisa melakukan tindakan, dan disarankan aku mengurus surat rujukan. Kebetulan dokter mengetahui aku sedang bekerja dan kuliah di Surabaya.

Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya, ini pilihan terbaik menurutku. Di sana jika ukuran batu belum cukup besar, tidak perlu operasi bedah, cukup dengan alat penghancur batu dengan tekhnologi suara, atau orang awam mengenalnya dengan operasi laser. Setelah vonis itu, setidaknya aku punya waktu dua minggu untuk mempersiapkan semuanya sebelum kembali ke Surabaya.

Sebagai seorang apoteker klinik, tentu aku paham tentang obat. Oleh karena mendiagnosis itu wewenang dokter, dan apoteker hanya bisa memberikan pilihan obat untuk terapi terbaik ketika hasil diagnosis itu keluar, aku baru bisa menyusun strategi terapi untuk penyakitku sendiri setelah ada vonis dari dokter.

Aku membuat program terapi, antara terapi herbal dan kimia atau antara terapi farmakologi dan non farmakologi. Sehari tiga kali aku minum jamu rebusan daun kejibeling, kumis kucing, dan tempuyung. Pantang minum susu, kopi, teh, apalagi minuman bersoda. Aku targetkan minum air putih minimal dua botol Aqua besar sehari. Aku pun memperbanyak aktivitas fisik dengan banyak berjalan. Sampai di Surabaya sambil menjalankan pemeriksaan ulang yang memakan waktu lama, aku melanjutkan rutinitas yang sama. Banyak minum air putih, konsumsi jamu, dan banyak berjalan. Aku menambahkan aktivitas tambahan, jogging siang dan sering minum jus lemon.

Hasil CT Scan di RSUD Dr. Seotomo cukup mengagetkan, tidak ditemukan adanya batu baik di ginjal dan saluran ureter. Untuk lebih meyakinkan, dokter memutuskan untuk dites ulang, kali ini CT Scan dengan kontraksi, artinya sebelum dilakukan foto ronsen aku harus disuntik cairan tertentu, dan sebelumnya harus berpuasa semalaman, minum obat pencuci perut, serta tidak boleh makan makanan berserat. Supaya hasilnya lebih valid dan lebih meyakinkan lagi. Berdebar dadaku menunggu hasil tes itu. Sujud syukurku setelah mebaca hasil tes tidak ditemukan batu di ginjal dan saluran ureter.

Kendati sudah dinyatakan sembuh, aku tak mengendurkan semangat hidup sehatku. Aku tetap mengonsumsi banyak air putih. Tidak harus dengan minimal sekian liter per hari, tapi indikasinya sampai warna urin berwarna bening. Jika urin masih berwarna kuning, artinya minum air putihnya masih kurang banyak.

Kabar gembira itu ternyata tidak berlangsung lama, memang sudah tidak ada batu di ginjal dan saluran ureter, tapi batu itu ternyata sembunyi di kandung kemih, dan malam ini sukses menyumbat di saluran kencing sehingga aku kesulitan untuk buang air kecil. Seperti saat batu itu menyumbat di saluran ureter, aku tak bisa tidur semalaman dan lebih banyak menghabiskan waktu nongkrong di toilet.

Malam itu aku lalu menyiapkan tiga botol air aqua besar, segelas jus lemon, kapsul minyak zaitun, serta air rebusan daun kejibeling, daun tempuyung, dan daun kumis kucing. Setelah minum kapsul minyak zaitun, aku minum air satu botol. Setelah habis jamu rebusan, aku minum sebotol lagi, setelah habis satu gelas besar jus lemon, aku minum sebotol lagi. Semua aku rampungkan dalam empat jam, tiap lima menit jeda sudah pasti aku bolak-balik toilet, nongkrong di sana, karena tiap lima menit itu aku terasa ingin terus buang air kecil. Air kecil itu keluar meski sedikit-sedikit.

Kelegaan mulai terasa, saat kurasai batu yang menyumbat itu mulai berjalan, tertahan sebentar di tengah saluran kencing, dan “kluthak..” tersembur keluar bersama derasnya aliran air seni yang keluar dari urin. Nyeri di saluran urin perlahan sirna sudah. Aku dapat melakukan buang air kecil dengan lega setelah batu sumbatan itu terlontar keluar. Batu itu bentuknya menyerupai batu karang di tepi pantai, Pantas saja nyeri sekali saat berjalan di saluran ginjal ke kandung kemih, dan saluran kemih ke saluran kencing.

Setelah aku pelajari, ada kemungkinan besar batu itu terbentuk tajam-tajam menyerupai kristal karena selama ini aku memang kurang minum air putih dan kebanyakan duduk, kedua karena konsumsi jengkol tempo hari. Jengkol mengandung senyawa tertentu yang bila dikonsumsi secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan banyak-banyak minum air putih, senyawa itu akan menggumpal, menjadi kristal, kemudian membantu. Cikal bakal terbentuknya batu-batu di ginjal.

Dari kejadian ini, aku benar-bonar tobat setobat-tobatnya, serta insyaf seinsyaf-insyafnya. Aku tidak mau makan jengkol lagi, aku harus konsumsi air putih yang cukup tiap harinya, serta rajin olahraga secara teratur, kurangi duduk dan perbanyak aktivitas berjalan. Dari kejadian ini, akupun jadi semakin sadar betapa berharganya masa-masa sehat,  masa-masa yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sebelum saat-saat sakit itu akan datang. Kalaupun sakit itu harus datang, tetaplah tabah untuk melewatinya. Tetaplah optimis menjalani semuanya. Jalani dengan fikiran positif, insya Allah sakit itu akan menemukan obat untuk jalan kesembuhannya sendiri. Demikian kisah ini kutulis, semoga bermanfaat, salam. (Ali Ridwan, 12/08/18).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar