Seperempat abad hidup di dunia,
sekalipun aku belum pernah masuk rumah sakit, apalagi sampai dirawat di bangsal
dengan sebotol cairan infus yang jarum runcing di ujung selangnya menancap pada
salah satu pembuluh darah pada punggung tanganku. Tapi, pada awal Desember 2017
itu, saat usiaku seperempat abad lewat setengah tahun, aku benar-benar
merasakan bagaimana jadi pasien rawat inap di sebuah rumah sakit. Sungguh, itu
pengalaman yang tak mengenakkan.
Seteleh melewati waktu hampir setengah
tahun di Surabaya dengan kesibukan yang sangat padat. Kuliah Magister, kerja di
RS, juga menulis novel. Setelah ada sedikit libur aku putuskan untuk mudik ke
Papua Barat. Ya, aku harus pulang. Pertama, karena aku merasai ada keanehan
pada salah satu organ di tubuhku, lambungku sering merasa nyeri, mungkin akibat
over stress dan jarang makan hingga kadar asam lambungnya naik. Kedua, ada
masalah keluarga yang mengharuskan aku pulang memang.
Benar, sampai di rumah aku langsung
tumbang, aku terkapar dan jatuh sakit. Nyeri di lambung, pusing, dan demam.
Oleh ayah aku diantar ke Puskesmas. Oleh mantri yang bertugas di UGD diberi
Paracetamol untuk demam dan nyeri, Antasida Doen untuk asam lambung, dan
antibiotik untuk luka iritasi akibat asam lambung tadi. Cuma itu saja obat
diberi, dengan pesan bila tiga hari tak membaik baru diberi rujukan berobat ke rumah
sakit. Dua hari minum obat, aku sudah sehat seperti sedia kala.
Setelah merasa sedikit baikan, aku mulai
bisa merasai nikmatnya makan dengan lahab, beraktivitas dengan normal, kepala
tidak berat lagi, udara panas di siang terik tidak berasa dingin. Saat aku
pulang itu, kebetulan di belakang rumah pohon jengkol besar sedang panen
banyak. Hari-hari sayur jengkol masakan ibu aku lahab dengan nikmat. Terlepas
dari baunya yang menyengat, aku suka sekali sayur jengkol. Entah disemur,
disantan, atau hanya sekedar buat lalap. Saat kuliah, aku berani makan sayuran
ini saat libur saja. Khawatir kalau di makan saat hari kuliah, bau mulut akan
menganggu lawan bicara saat saling bercakap. Sedang libur, ada jengkol, masakan
ibu pula. Rugi sekali kalau aku tidak nambah sampai dua piring tiap kali makan.
Tidak sampai tiga hari rutin makan
jengkol, akhirnya aku merasa mual tiap kali mencium bau jengkol. Aku jadi
merasa mual dan sering muntah, aku mengira asam lambungku kambuh, tapi apa
pemicunya? Di rumah aku makan teratur dan jauh dari stress. Anehnya lagi, aku
sering merasa nyeri di perut bagian kananku. Aku pikir itu masuk angin biasa. Sudah
aku kerokin, sudah aku bekam, sampai merah-merah kulit perutku. Tetap saja
nyeri itu kambuh-kambuhan. Ibu menyarankan aku ke dukun pijat, sebaiknya aku
dipijat. Sering masuk angin kambuhan, takutnya ada keseleo atau salah urat yang
entah bagaimana logikanya bisa bikin masuk angin kambuh-kambuhan.
Dukun pijat itu aku akui, ia punya
kemampuan memijat yang baik. Setelah dipijat, nyeri di perut bagian kiri itu
sudah tak kambuh lagi. Seharian aku beraktivitas tanpa lelah seperti orang
sehat, tapi anehnya tiap kali aku buang air kecil terasa nyeri di saluran urin,
warna urinnya kemerah-merahan, dan tiap kali kencing airnya keluar
sedikit-sedikit, tetes demi tetes. Rasanya pun perih sekali.
Malamnya nyeri itu ternyata kambuh lagi,
pijatan si dukung pijat itu nampaknya berguna hanya untuk menunda nyeri itu
datang. Dan kali ini, bukan hanya nyeri tapi juga mules yang tidak karuan
rasanya. Aku nongkrong ber jam-jam di toilet dan tiada satu air besar pun yang
keliar, cuma air kecil yang menetes sedikit-sedikit dan rasanya perih. Setelah
semalaman sulit tidur karena nyeri dan mules, shubuh-shubuh aku sudah tiga kali
muntah. Aku berkesimpulan, aku sudah keracunan jengkol. Mungkin ini yang orang
jawa sebut dengan istilah “Jengkolen..”
Esok malamnya, aku masih mengalami hal
yang sama, juga malam berikutnya. Menilik pada kondisiku yang makin lemah
karena kurang tidur, mual dan muntah membuat aku kurang nafsu makan, ibu
menyarankan aku periksa ke rumah sakit. Aku di antar ayah, dan dokter yang
masih kebingungan mendiagnosa sakit akibat nyeri di perut kiriku itu, apakah
usus buntu, gangguan di ginjal, atau yang lain, dokter memutuskan kalau aku
harus dirawat di rawat inap rumah sakit. Dokter nampaknya sudah tak tega
melihat gemetar di tubuhku dan pucat di mukaku, karena nyeri hebat di perut
kanan yang tak tertahankan itu. Kini, putus sudah rekorku yang selama
seperemoat abad lebih tak pernah sekalipun masuk rumah sakit karena sakit.
Setelah meresepkan peralatan untuk
infus, needle, sampai obat injeksi
penahan nyeri, juga antibiotik. Suster lalu memasangkan selang infus,
menusukkan jarumnya di pembuluh darah pada punggung tanganku. Lalu menginjeksi
obat antinyeri, tak lupa menyuntikkan sedikit antibiotic di kulit tangan untuk
mengecek adakah alergi pada antibiotik yang akan diinjeksi melelui infus ke
dalam tubuh. Aku ada alergi dengan antibiotik pertama, dokter mengganti dengan
antibiotik lain dengan jenis sama. Malam itu, aku bisa tidur dengan nyenyak,
rasa nyeri pelan-pelang mulai hilang.
Meski nyeri itu sudah tak dirasa lagi,
dokter masih belum bisa menyimpulkan, apakah usus buntu, atau ada gangguan di
ginjal. Hasil tes darah dan urin, semuanya bagus. Kemungkinan usus buntu, tapi
dokter memutuskan aku melakukan tes USG. Merasa sudah baikan, dan karena akupun
sudah jenuh dengan rumah sakit, aku diijinkan pulang pada hari sabtu, empat
hari setelah dirawat di RS. Tapi, senin aku diharuskan datang control untuk
melihat hasil tes USG dan untuk mengetahui hasil diagnosis dan vonis dokter.
Sakit apakah aku ini?
Dunia seakan runtuh saat dokter
menjelaskan detail soal sakitku. Ada lima batu di ginjal dan saluran urinku.
Rata-rata ukurannnya setengah centimeter (0.5 mm). Disarankan dokter supaya aku
segera melakukan operasi pengangkatan batu di saluran urin, jika tidak segera
dilakukan, ditakutkan sumbatan batu itu akan merusak ginjalku yang masih sehat.
Namun, karena dokter bius yang bertugas di rumah sakit daerah itu sedang cuti,
dokter tidak bisa melakukan tindakan, dan disarankan aku mengurus surat rujukan.
Kebetulan dokter mengetahui aku sedang bekerja dan kuliah di Surabaya.
Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya, ini
pilihan terbaik menurutku. Di sana jika ukuran batu belum cukup besar, tidak
perlu operasi bedah, cukup dengan alat penghancur batu dengan tekhnologi suara,
atau orang awam mengenalnya dengan operasi laser. Setelah vonis itu, setidaknya
aku punya waktu dua minggu untuk mempersiapkan semuanya sebelum kembali ke
Surabaya.
Sebagai seorang apoteker klinik, tentu
aku paham tentang obat. Oleh karena mendiagnosis itu wewenang dokter, dan
apoteker hanya bisa memberikan pilihan obat untuk terapi terbaik ketika hasil
diagnosis itu keluar, aku baru bisa menyusun strategi terapi untuk penyakitku
sendiri setelah ada vonis dari dokter.
Aku membuat program terapi, antara
terapi herbal dan kimia atau antara terapi farmakologi dan non farmakologi.
Sehari tiga kali aku minum jamu rebusan daun kejibeling, kumis kucing, dan
tempuyung. Pantang minum susu, kopi, teh, apalagi minuman bersoda. Aku targetkan
minum air putih minimal dua botol Aqua besar sehari. Aku pun memperbanyak
aktivitas fisik dengan banyak berjalan. Sampai di Surabaya sambil menjalankan
pemeriksaan ulang yang memakan waktu lama, aku melanjutkan rutinitas yang sama.
Banyak minum air putih, konsumsi jamu, dan banyak berjalan. Aku menambahkan
aktivitas tambahan, jogging siang dan sering minum jus lemon.
Hasil CT Scan di RSUD Dr. Seotomo cukup
mengagetkan, tidak ditemukan adanya batu baik di ginjal dan saluran ureter.
Untuk lebih meyakinkan, dokter memutuskan untuk dites ulang, kali ini CT Scan
dengan kontraksi, artinya sebelum dilakukan foto ronsen aku harus disuntik
cairan tertentu, dan sebelumnya harus berpuasa semalaman, minum obat pencuci
perut, serta tidak boleh makan makanan berserat. Supaya hasilnya lebih valid
dan lebih meyakinkan lagi. Berdebar dadaku menunggu hasil tes itu. Sujud
syukurku setelah mebaca hasil tes tidak ditemukan batu di ginjal dan saluran
ureter.
Kendati sudah dinyatakan sembuh, aku tak
mengendurkan semangat hidup sehatku. Aku tetap mengonsumsi banyak air putih.
Tidak harus dengan minimal sekian liter per hari, tapi indikasinya sampai warna
urin berwarna bening. Jika urin masih berwarna kuning, artinya minum air putihnya
masih kurang banyak.
Kabar gembira itu ternyata tidak
berlangsung lama, memang sudah tidak ada batu di ginjal dan saluran ureter,
tapi batu itu ternyata sembunyi di kandung kemih, dan malam ini sukses menyumbat
di saluran kencing sehingga aku kesulitan untuk buang air kecil. Seperti saat
batu itu menyumbat di saluran ureter, aku tak bisa tidur semalaman dan lebih
banyak menghabiskan waktu nongkrong di toilet.
Malam itu aku lalu menyiapkan tiga botol
air aqua besar, segelas jus lemon, kapsul minyak zaitun, serta air rebusan daun
kejibeling, daun tempuyung, dan daun kumis kucing. Setelah minum kapsul minyak
zaitun, aku minum air satu botol. Setelah habis jamu rebusan, aku minum sebotol
lagi, setelah habis satu gelas besar jus lemon, aku minum sebotol lagi. Semua
aku rampungkan dalam empat jam, tiap lima menit jeda sudah pasti aku
bolak-balik toilet, nongkrong di sana, karena tiap lima menit itu aku terasa
ingin terus buang air kecil. Air kecil itu keluar meski sedikit-sedikit.
Kelegaan mulai terasa, saat kurasai batu
yang menyumbat itu mulai berjalan, tertahan sebentar di tengah saluran kencing,
dan “kluthak..” tersembur keluar bersama derasnya aliran air seni yang keluar
dari urin. Nyeri di saluran urin perlahan sirna sudah. Aku dapat melakukan
buang air kecil dengan lega setelah batu sumbatan itu terlontar keluar. Batu
itu bentuknya menyerupai batu karang di tepi pantai, Pantas saja nyeri sekali
saat berjalan di saluran ginjal ke kandung kemih, dan saluran kemih ke saluran
kencing.
Setelah aku pelajari, ada kemungkinan
besar batu itu terbentuk tajam-tajam menyerupai kristal karena selama ini aku
memang kurang minum air putih dan kebanyakan duduk, kedua karena konsumsi
jengkol tempo hari. Jengkol mengandung senyawa tertentu yang bila dikonsumsi
secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan banyak-banyak minum air putih,
senyawa itu akan menggumpal, menjadi kristal, kemudian membantu. Cikal bakal
terbentuknya batu-batu di ginjal.
Dari kejadian ini, aku benar-bonar tobat
setobat-tobatnya, serta insyaf seinsyaf-insyafnya. Aku tidak mau makan jengkol
lagi, aku harus konsumsi air putih yang cukup tiap harinya, serta rajin
olahraga secara teratur, kurangi duduk dan perbanyak aktivitas berjalan. Dari
kejadian ini, akupun jadi semakin sadar betapa berharganya masa-masa sehat, masa-masa yang harus dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya, sebelum saat-saat sakit itu akan datang. Kalaupun sakit itu
harus datang, tetaplah tabah untuk melewatinya. Tetaplah optimis menjalani
semuanya. Jalani dengan fikiran positif, insya Allah sakit itu akan menemukan
obat untuk jalan kesembuhannya sendiri. Demikian kisah ini kutulis, semoga
bermanfaat, salam. (Ali Ridwan, 12/08/18).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar