Selasa, 21 Mei 2019

Sepenggal Nostalgia dari Kota Agas (Sebuah Kilas Balik)


Tahun 1993, pertama kali aku tiba di Bintuni sebagai anak transmigrans perambah hutan. Kala itu, Bintuni masih berupa kecamatan kecil dengan Manokwari sebagai ibukota kabupaten. Kondisi Bintuni saat itu masih berupa rimba dengan jalan setapak yang licin, berumput, dan becek. Tanah di tepi rawa ini permukaannya ada yang berupa tanah merah, tanah hitam, juga tanah liat. Ketebalan tanah di permukaan itu kurang lebih hanya satu meter saja, selebihnya berupa pasir dan batu koral. Bila sebuah sumur digali, tepiannya hendaklah diberi penyangga berupa susunan batu bata atau cor-coran semen, bila tidak tentu akan sia-sia belaka. Sedalam apa sudah menggali, sumur itu akan mendangkal lagi, karena tanah pasir mudah longsor bila dirembasi air.

Bila menengok pada peta, letak geografis kecamatan kecil ini tepat berada di leher pulau besar yang menyerupai burung cendrawasih. Burung indah jelmaan surga, sengaja dilepas Tuhan untuk menambah pesona surga kecil yang jatuh ke bumi ini. Kecamatan Teluk Bintuni, ia dilimpahi dengan kekayaan alam yang luar biasa rupa bentuknya. Gas alam, batu bara, kayu besi, gaharu, kepiting, rusa, dan banyak lagi. Dan dengan adanya peninggalan rel kereta api jaman Belanda sampai senapan, peluru, dan kendaraan perang milik tentara Jepang, mengindikasikan bahwa Bintuni, meski berada jauh di pedalaman tapi kekayaan alamnya sudah mengeksiskan diri bahkan sebelum republik ini merdeka. Ya, merdeka. Merdeka dalam tanda kutip tentu. Sebab kemerdekaan itu belum seutuhnya milik seluruh Bangsa Indonesia dari Sumatra sampai Irian Jaya.

Orang-orang transmigrasi yang diterjunkan ke pedalaman hutan Irian itu, pada lima tahun pertama, sebagian kecil tewas karena malaria, sebagian kecilnya lagi balik ke Jawa karena tak betah, tapi tetap ada yang bertahan walau dengan kondisi yang sedemikian rupanya. Pada masa itu, daratan Bintuni yang tepat berada di tepi muara teluk hanya ditumbuhi pepohonan hutan, semak belukar, serangga, kalelawar, ular, hingga dedemit lokal yang masih bertahan, berupaya mempertahankan wilayahnya dari jamahan manusia pendatang yang entah darimana asal mulanya. Daratan Bintuni, belum ditumbuhi buah-buahan bahkan hanya sepohon batang pisang pun. Keladi pun belum tumbuh di sini. Ya, hanya berpetak-petak tanah dengan sebuah rumah papan, dilengkapi sumur, peralatan dapur, dan kebutuhan pokok berupa sembako jatah dari pemerintah.

Pada lima tahun berikutnya, perekonomian masyarakat di desa transmigran itu mulai jalan. Jika pada lima tahun sebelumnya banyak dijumpai ikan-ikan liar di parit depan rumah, kawanan rusa yang kesasar masuk kampung dan salah satunya mati jadi buruan penduduk, pada lima tahun berikutnya ring nya sedikit melebar, ikan-ikan liar dan sekawanan rusa itu tidak lagi dijumpai di dalam kampung, tapi di ladang-ladang warga yang berada di tepian kampung. Lima tahun berikutnya, dan lima tahun berikutnya. Ringnya makin melebar, manusia makin menguasai lokasi. Rusa-rusa itu makin terdesak ke hutan, ikan-ikan liar itu nyaris sirna karena racun pestisida. Membaiknya sistem perekonomian suatu daerah kadang berbanding lurus dengan nasib satwa yang semula jadi penduduk lokal di suatu daerah tersebut.

Setelah Soeharto jatuh, disusul dengan carut-marutnya birokrasi di tanah air. Kecamatan Bintuni semakin merana nasibnya. Ilega loging makin marak, hutan-hutan dirampas habis pohon kayu besinya. Situasi ini mulai membaik saat Megawati yang naik jadi presiden setelah Gusdur dilengserkan parelemen memasuki tahun terakhir masa baktinya. Pemekaran Kecamatan Bintuni dengan Kabupaten Manokwari menjadi Kabupaten Teluk Bintuni memberi angin segar pada daerah teluk ini untuk mengelola daerahnya sendiri. Selama dua periode eksekutif dan legislatif yang dikuasai oleh satu koalisi partai tidak begitu mengalami banyak kesulitan dalam membangun Kota Agas itu menjadi sebuah Kota Kecil di pedalaman Papua Barat ini. Ya Papua Barat. Semenjak pemekaran nama Irian Jaya berganti menjadi Papua. Dan terbagi menjadi Papua dan Papua Barat. Kabupaten Teluk Bintuni di bawah Provinsi Papua Barat.

Beroperasinya salah satu perusahaan tambang gas terbesar di Indonesia jadi sumber kekayaan terbesar daerah. Begitu kayanya, begitu pesatnya, begitu cepatnya, kota kecil di pedalaman Papua Barat ini mendandani dirinya dengan pembangunan dan pembangunan. Jalan yang bila hujan berlumpur dan bila panas berdebu satu persatu mulai dicor dan diaspal. Hutan-hutan tepi jalan sekarang telah dibangun banyak gapura baru, pertanda kalau perkampungan-perkampungan baru telah berdiri. Jembatan-jembatan, gorong-gorong, drainase, semua menjamur, menjadikan kontraktor bangunan untung besar-besaran. Tapi, setelah dua periode dan kepala pemerintahan berganti, krisis tiba-tiba terjadi. Bukan karena tambang gas di daerah ini tiba-tiba angkat kaki. Tapi naiknya koalisi partai oposisi jadi pemenang pilkada di periode ke tiga, sedang parlemen masih dikuasai partai incumbent. Di daerah yang usianya baru seumur jagung, perselisihan di kalangan atas akan sangat berdampak pada masyarakat bawah. Begitulah sistem politik bekerja. Akan selalu ada yang dikorbankan ketika transisi kekuasaan berganti dan yang paling dirugikan ialah rakyat. Maka itu, sebagai masyarakat bawah, meski tak berkecimpung di dunia politik tapi haram hukumnya buta politik.

Ingat-ingatlah ini sebagai bahan renungan, jika pertama kali aku tiba di Bintuni saat berusia 3 tahun dan aku sekarang menginjak usia 28 tahun, itu artinya Kota Agas ini sudah masuk pada usianya yang ke seperempat abad. Tentu sekarang ini sudah banyak sekali perubahan terjadi bila dibanding dengan seperempat abat lalu. Teluk Bintuni, kota kecil di pedalaman Papua Barat meski mengalami pasang surut dalam percepatan pembangunan, tapi kota kecil ini terus berbenah dan harus tetap bergerak maju. Sekali lagi perlu ditekankan, seperempat abad telah berlalu. Tunas-tunas muda bermunculan. Tetua-tetua renta bertumbangan. Generasi pembabat hutan telah senja, generasi penanam benih harus tetap berbuat untuk melanjutkan pembangunan, serta generasi yang sedang tumbuh dan kelak akan memanen tak boleh lupa sejarah.

Ah, tak terasa waktu cepat berlalu, begitu banyak sudah cerita terlewat. Seperempat abat berlalu, apa kabar kawan-kawan satu sekolah dulu. Dulu masih ingusan tapi sekarang sudah bekerja di kantor-kantor pemerintah dan swasta, tenaga-tenaga medis yang di kota dan di pedalaman, teman-teman putus sekolah tapi tetap sukses sebagai tukang, jadi kontraktor pemborong proyek-proyek pemerintah, sampai kawan-kawan tamatan SMA dan memilih menjadi petani, nelayan, peternak, hingga pedagang.

Yaa, ya, ya. Kota kecil ini terus membangun dirinya, tapi semoga tidak melupakan jati dirinya. Dimana ikan-ikan liar yang dulu banyak berkeliaran di parit-parit depan rumah? Masuk ke hutan pun sekarang makin sulit dijumpai! Dimana sekawanan rusa yang sering kesasar masuk desa? Masuk ke hutan pun hanya satu dua dijumpai, itu jika sedang beruntung! Belum lagi burung parkit, rangkok, nuri, yang dulu mudah saja diketapel di depan rumah. Sekarang nyaris tak nampak lagi jejaknya, bahkan bila di hutan sekalipun. Agas-agas sebagai penduduk lokal juga seolah menghilang dari sini, Oh, Bintuniku sayang Bintuniku malang. Semoga tak lekang kesejatianmu digilas kemajuan. Saat generasi ketiga, generasi yang tinggal hanya memanen dan tak peduli dengan riwayatmu sebagai Kota Agas ini mulai muncul dan tumbuh. (Ali Ridwan, 19/05/19)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar