Tahun 1993, pertama kali aku tiba di Bintuni
sebagai anak transmigrans perambah hutan. Kala itu, Bintuni masih berupa
kecamatan kecil dengan Manokwari sebagai ibukota kabupaten. Kondisi Bintuni
saat itu masih berupa rimba dengan jalan setapak yang licin, berumput, dan
becek. Tanah di tepi rawa ini permukaannya ada yang berupa tanah merah, tanah
hitam, juga tanah liat. Ketebalan tanah di permukaan itu kurang lebih hanya
satu meter saja, selebihnya berupa pasir dan batu koral. Bila sebuah sumur
digali, tepiannya hendaklah diberi penyangga berupa susunan batu bata atau cor-coran
semen, bila tidak tentu akan sia-sia belaka. Sedalam apa sudah menggali, sumur
itu akan mendangkal lagi, karena tanah pasir mudah longsor bila dirembasi air.
Bila menengok pada peta, letak geografis
kecamatan kecil ini tepat berada di leher pulau besar yang menyerupai burung
cendrawasih. Burung indah jelmaan surga, sengaja dilepas Tuhan untuk menambah
pesona surga kecil yang jatuh ke bumi ini. Kecamatan Teluk Bintuni, ia
dilimpahi dengan kekayaan alam yang luar biasa rupa bentuknya. Gas alam, batu
bara, kayu besi, gaharu, kepiting, rusa, dan banyak lagi. Dan dengan adanya peninggalan
rel kereta api jaman Belanda sampai senapan, peluru, dan kendaraan perang milik
tentara Jepang, mengindikasikan bahwa Bintuni, meski berada jauh di pedalaman
tapi kekayaan alamnya sudah mengeksiskan diri bahkan sebelum republik ini
merdeka. Ya, merdeka. Merdeka dalam tanda kutip tentu. Sebab kemerdekaan itu
belum seutuhnya milik seluruh Bangsa Indonesia dari Sumatra sampai Irian Jaya.
Orang-orang transmigrasi yang
diterjunkan ke pedalaman hutan Irian itu, pada lima tahun pertama, sebagian
kecil tewas karena malaria, sebagian kecilnya lagi balik ke Jawa karena tak
betah, tapi tetap ada yang bertahan walau dengan kondisi yang sedemikian
rupanya. Pada masa itu, daratan Bintuni yang tepat berada di tepi muara teluk
hanya ditumbuhi pepohonan hutan, semak belukar, serangga, kalelawar, ular, hingga
dedemit lokal yang masih bertahan, berupaya mempertahankan wilayahnya dari
jamahan manusia pendatang yang entah darimana asal mulanya. Daratan Bintuni,
belum ditumbuhi buah-buahan bahkan hanya sepohon batang pisang pun. Keladi pun
belum tumbuh di sini. Ya, hanya berpetak-petak tanah dengan sebuah rumah papan,
dilengkapi sumur, peralatan dapur, dan kebutuhan pokok berupa sembako jatah
dari pemerintah.
Pada lima tahun berikutnya, perekonomian
masyarakat di desa transmigran itu mulai jalan. Jika pada lima tahun sebelumnya
banyak dijumpai ikan-ikan liar di parit depan rumah, kawanan rusa yang kesasar
masuk kampung dan salah satunya mati jadi buruan penduduk, pada lima tahun
berikutnya ring nya sedikit melebar, ikan-ikan liar dan sekawanan rusa itu
tidak lagi dijumpai di dalam kampung, tapi di ladang-ladang warga yang berada
di tepian kampung. Lima tahun berikutnya, dan lima tahun berikutnya. Ringnya
makin melebar, manusia makin menguasai lokasi. Rusa-rusa itu makin terdesak ke
hutan, ikan-ikan liar itu nyaris sirna karena racun pestisida. Membaiknya sistem
perekonomian suatu daerah kadang berbanding lurus dengan nasib satwa yang
semula jadi penduduk lokal di suatu daerah tersebut.
Setelah Soeharto jatuh, disusul dengan
carut-marutnya birokrasi di tanah air. Kecamatan Bintuni semakin merana
nasibnya. Ilega loging makin marak, hutan-hutan dirampas habis pohon kayu
besinya. Situasi ini mulai membaik saat Megawati yang naik jadi presiden
setelah Gusdur dilengserkan parelemen memasuki tahun terakhir masa baktinya.
Pemekaran Kecamatan Bintuni dengan Kabupaten Manokwari menjadi Kabupaten Teluk
Bintuni memberi angin segar pada daerah teluk ini untuk mengelola daerahnya
sendiri. Selama dua periode eksekutif dan legislatif yang dikuasai oleh satu
koalisi partai tidak begitu mengalami banyak kesulitan dalam membangun Kota
Agas itu menjadi sebuah Kota Kecil di pedalaman Papua Barat ini. Ya Papua
Barat. Semenjak pemekaran nama Irian Jaya berganti menjadi Papua. Dan terbagi
menjadi Papua dan Papua Barat. Kabupaten Teluk Bintuni di bawah Provinsi Papua
Barat.
Beroperasinya salah satu perusahaan
tambang gas terbesar di Indonesia jadi sumber kekayaan terbesar daerah. Begitu
kayanya, begitu pesatnya, begitu cepatnya, kota kecil di pedalaman Papua Barat
ini mendandani dirinya dengan pembangunan dan pembangunan. Jalan yang bila
hujan berlumpur dan bila panas berdebu satu persatu mulai dicor dan diaspal. Hutan-hutan
tepi jalan sekarang telah dibangun banyak gapura baru, pertanda kalau perkampungan-perkampungan
baru telah berdiri. Jembatan-jembatan, gorong-gorong, drainase, semua menjamur,
menjadikan kontraktor bangunan untung besar-besaran. Tapi, setelah dua periode
dan kepala pemerintahan berganti, krisis tiba-tiba terjadi. Bukan karena
tambang gas di daerah ini tiba-tiba angkat kaki. Tapi naiknya koalisi partai
oposisi jadi pemenang pilkada di periode ke tiga, sedang parlemen masih
dikuasai partai incumbent. Di daerah yang usianya baru seumur jagung,
perselisihan di kalangan atas akan sangat berdampak pada masyarakat bawah.
Begitulah sistem politik bekerja. Akan selalu ada yang dikorbankan ketika
transisi kekuasaan berganti dan yang paling dirugikan ialah rakyat. Maka itu,
sebagai masyarakat bawah, meski tak berkecimpung di dunia politik tapi haram
hukumnya buta politik.
Ingat-ingatlah ini sebagai bahan
renungan, jika pertama kali aku tiba di Bintuni saat berusia 3 tahun dan aku
sekarang menginjak usia 28 tahun, itu artinya Kota Agas ini sudah masuk pada
usianya yang ke seperempat abad. Tentu sekarang ini sudah banyak sekali
perubahan terjadi bila dibanding dengan seperempat abat lalu. Teluk Bintuni,
kota kecil di pedalaman Papua Barat meski mengalami pasang surut dalam percepatan
pembangunan, tapi kota kecil ini terus berbenah dan harus tetap bergerak maju.
Sekali lagi perlu ditekankan, seperempat abad telah berlalu. Tunas-tunas muda
bermunculan. Tetua-tetua renta bertumbangan. Generasi pembabat hutan telah
senja, generasi penanam benih harus tetap berbuat untuk melanjutkan
pembangunan, serta generasi yang sedang tumbuh dan kelak akan memanen tak boleh
lupa sejarah.
Ah, tak terasa waktu cepat berlalu,
begitu banyak sudah cerita terlewat. Seperempat abat berlalu, apa kabar
kawan-kawan satu sekolah dulu. Dulu masih ingusan tapi sekarang sudah bekerja di
kantor-kantor pemerintah dan swasta, tenaga-tenaga medis yang di kota dan di pedalaman,
teman-teman putus sekolah tapi tetap sukses sebagai tukang, jadi kontraktor pemborong
proyek-proyek pemerintah, sampai kawan-kawan tamatan SMA dan memilih menjadi
petani, nelayan, peternak, hingga pedagang.
Yaa, ya, ya. Kota kecil ini terus membangun
dirinya, tapi semoga tidak melupakan jati dirinya. Dimana ikan-ikan liar yang
dulu banyak berkeliaran di parit-parit depan rumah? Masuk ke hutan pun sekarang
makin sulit dijumpai! Dimana sekawanan rusa yang sering kesasar masuk desa?
Masuk ke hutan pun hanya satu dua dijumpai, itu jika sedang beruntung! Belum
lagi burung parkit, rangkok, nuri, yang dulu mudah saja diketapel di depan
rumah. Sekarang nyaris tak nampak lagi jejaknya, bahkan bila di hutan
sekalipun. Agas-agas sebagai penduduk lokal juga seolah menghilang dari sini,
Oh, Bintuniku sayang Bintuniku malang. Semoga tak lekang kesejatianmu digilas
kemajuan. Saat generasi ketiga, generasi yang tinggal hanya memanen dan tak
peduli dengan riwayatmu sebagai Kota Agas ini mulai muncul dan tumbuh. (Ali
Ridwan, 19/05/19)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar