Tahun ini musim hujan datang terlambat,
ia seolah terpengaruh dengan kultur budaya Indonesia yang gemar mengakrabi
sifat santai, saking santainya mereka begitu
kompromi dengan yang namanya ketepatan waktu. Falsafah dari barat soal waktu adalah uang atau filosopi dari
Timur Tengah kalau waktu adalah pedang
tak terhiraukan di sini. Bagi orang-orang di sini, waktu adalah me time yang musti dinikmati dengan
santai yang sesantai-santainya. Manusia-manusia di sini kebanyakan ialah
manusia yang lihai dengan jurus andalah yang dinamai The Power of Kepepet. Sedang pelajar-pelajarnya pun mahir dengan
jurus dasarnya yang sering disebut SKS atau Sistem Kebut Semalam. Selonggar apa
waktu luang itu, selama apa persiapan jelang Ujian Akhir itu, tetap akan
diselesaikan dalam waktu semalam dan dengan deadline
semepet-mepetnya. Tidaklah mengherankan kalau Bangsa Bahari ini sering disebut
dengan bangsa tersantai di dunia. Terbukti dengan hujan yang datang terlambat
pun masih tetap santai.
Hujan yang datang
terlambat itu seperti senasib dan sepenanggungan dengan Anjas Dul Jaelani.
Seperti hujan yang datang terlambat, jodoh untuk Dul pun demikian, datangnya
agak sedikit telat. Entah karena hujan, entah karena ia orang Indonesia yang
kelewat santai, namun beginilah adanya. Sudah lewat kepala tiga hidupnya tapi
masih saja sendiri, santai tanpa dosa menyandang gelar lajangnya itu, abai
dengan omongan tetangga yang memekakkan bebalnya gendang telinganya.
Tapi sebetulnya,
keadaan itu bukan seutuhnya karena nasib. Merujuk pada prinsip dasar kalau
jomblo itu karena tak laku dan single
itu karena prinsip. Agaknya kesendirian Dul lebih karena prinsip. Banyak gadis
mendekat ia dingin-dingin saja, ada kode lampu hijau ia santai-santai saja,
banyak saudara dan kawan jadi mak jomblang dia cuek-cuek saja. Tidak, tidak, ia
bukan homo. Ia normal dan kedua matanya masih suka blingsatan kalau melihat
gadis cantik dengan paras yang semloheh
nan aduhai. Anjas Dul Jaelani, ia masih trauma dengan luka yang pernah ditorehkan
mantan tunangannya enam tahun silam. Sudah selama itu tapi lukanya belum
kering-kering jua, luka itu masih tetap basah, sukar sembuh, seperti luka pada
penderita sakit gula basah. Luka itu, nampaknya baru bisa hilang kalau ia mau
mengamputasi hatinya, mematikan rasanya.
***
Dua belas tahun silam, di pertengahan
tahun saat musim sedang kemarau. Anjas Dul Jaelani yang lulusan D3 TKJ (Tekhnik
Komputer Jaringan) baru saja diterima kerja di sebuah perusahaan swasta. Itu
tempat kerja pertamanya setelah menganggur berbulan-bulan, mengirim surat
lamaran kesana-kemari, mendatangi benyak wawancara kerja, tapi tidak ada
perusahaan yang bersedia menampungnya sebagai karyawan.
Tingginya tekanan kerja
sebagai karyawan baru dengan usia termuda sempat membuatnya tidak betah dan
hendak mengajukan pengunduran dini. Tapi niatnya itu urung dilakukannya dimana
pada bulan ketiga perusahaan itu kedatangan anak-anak magang dari SMK
Komunikasi dan Komputer Jaringan. Kebanyakan anak magang itu ialah seorang
siswi, Dul lalu menjadi akrab dengan salah seorang dari para siswi itu. Gadis yang
menjadi akrab dengan Dul itu cantik, membuat mata para lelaki melirik, tapi
tidak kepada sembarang pria gadis itu bisa dibuat tertarik.
Langit sore itu mendung
saat gadis bernama Maharani itu hendak berjalan menuju Halte depan perusahaan.
Dul yang hari itu motornya masuk bengkel juga naik angkutan umum. Dul duduk di
pojokan halte sambil mendengarkan lagu melalu headsetnya, Maharani tak
memperhatikan sekitar, banyak manusia berjubel di situ membuat ia tak sadar ada
kakak pembimbing magangnya di pojokan halte. Tiba-tiba hujan turun dengan
sangat derasnya, hujan disertai angin kencang. “Rani, sini duduk di tempat
kakak..” Dul menawarkan bangkunya untuk Maharani. Gadis itu menggeleng, tapi
Dul menarik tangannya, menekan pundaknya, malu-malu gadis itu menempati tempat
duduk yang semula diduduki kakak pembimbing magangnya.
Hujan masih turun
dengan lebatnya, hujan deras pertama di bulan Juni. Rembesan airnya menetes
dari atap-atap halte. Dengan gagahnya Dul melepas jeket kulitnya, kemudian menggunakan
jeket itu sebagai perisai rembasan air hujan, ia letakkan jeket itu di atas
kepalanya, sedikit menyamping ke kiri, dimana Maharani sedang duduk, pojokan
halte yang tadinya ditempati oleh Anjas Dul Jaelani. Dul diam tak berkata, pun
demikian dengan Maharani, tapi gadis itu tersenyum dengan hatinya.
Selesai magang dari
perusahaan tempat Dul bekerja, Maharani tetap menjalin komunikasi dengan kakak
pembimbing yang jadi pahlawan penangkal tetesan air yang merembes dari atap
halte yang bocor itu. Hingga suatu ketika keduanya terlibat kencan dan mereka
pun pacaran. Itu pertama kalinya Dul punya pacar, sedang bagi Maharani ini
adalah yang ketiga kalinya, tapi yang terspesial baginya. Spesial karena ia dan
Dul terpaut usia lumayan jauh. Kala itu, Maharani masih 16 tahun dan Dul 21
tahun. Dua mantan Maharani sebelumnya hanya lelaki seumuran yang berpacaran
hanya sekedar untuk mengejar status belaka. Status kalau ia sudah ada pacar dan
berharap tidak ada banyak anak laki-laki yang berani mengganggunya.
Lulus SMK Maharani
masuk Fakultas Psikologi di salah satu universitas swasta di kotanya. Empat
tahun masa kuliah, semasa itu pula Dul dan Maharani menjalin hubungan dengan
pasang surut. Lewat koneksi ayahnya, Maharani langsung bekerja setelah wisuda. Semudah
itu mencari kerja karena ayah Maharani salah satu tokoh terpandang di kota itu.
Satu tahun Maharani bekerja dan hubungannya dengan Dul mulai dilanda masalah
yang cukup serius. Ayah Maharani hendak menjodohkan anaknya dengan seorang
putra sahabatnya semasa kuliah dulu. Sedangkan Dul, sedikitpun belum punya
nyali untuk menghadap ke orang tua Maharani.Maharani marah dan jengkel dengan
sikap kekasinya itu, namun Anjas Dul Jaelani tentu punya alasan sendiri dengan
sikapnya yang demikian. Dul sadar diri siapalah dirinya dibanding dengan
Maharani, ia hanya berasal dari keluarga pas-pasan, setengah gajinya habis
untuk membantu kebutuhan keluarga, setengahnya lagi terpakai untuk biaya
pendidikan adik-adiknya. Nekat maju menghadap keluarga Maharani dengan niatan
untuk meminang sama dengan bunuh diri, resiko ia akan dijauhi oleh keluarga
Maharani dan ia akan kesulitan bertemu dengan kekasihnya itu. Ia tak sanggup
kehilangan gadis yang dicintainya itu, gadis yang dipacarinya hampir lima tahun lamanya itu.
Memang selama ini kedua
orang tua Maharani telah mengetahui kedekatan anaknya dengan Dul. Tapi
kedekatan yang mereka tau hanya sebatas kedekatan seorang teman, kakak dan
adik, kedekatan mantan pembimbing magang yang dibimbingnya saat SMK dulu. Suatu
kali saat ayah Maharani bertanya perihal alasan mengapa anaknya menolak
perjodohan itu dan Maharani memberanikan diri untuk berterus terang perihal
status hubungannya dengan Dul. Untuk menunjukkan keseriusan itu Maharani sampai
berujar kalau minggu depan keluarga Dul akan datang melamar.
Ayah Maharani adalah seorang
ayah yang sangat mencintai anaknya, tak kuasa ia menolak kemauan putrinya bila
itu dilandasi dengan keseriusan yang nekat. Setelah Maharani sadar dengan
ke-sembronoan-nya, ia tak mau tahu, ia pun memaksa Dul dan keluarganya untuk
datang melamar di waktu yang telah ia katakan pada ayahnya. Dul beserta
keluarga dengan terpaksa datang melamar dan keluarga Maharani menyambut
kedatangan itu dengan setengah hati. Tak kurang akal, supaya pertunangan itu
tidak berjalan mulus ayah maharani mengajukan syarat.
“Meski lama tinggal di
Jawa, tapi kami bukanlah asli orang Jawa. Di daerah kami punya adat, yaitu bila
hendak melamar seorang anak gadis syaratnya harus sudah membayar yang panai
yang telah disepakati. Sebetulnya, sebelum melamar pihak pelamar harusnya memanuk-manuk
atau melakukan penjajakan dulu soal berapa uang panai yang harus disiapkan saat
nanti melamar. Tapi karena sudah terlanjur, jadi keputusannya saya belum
menerima tapi juga tidak menolak lamaran dari pihak keluarga saudara Anjas ya.
Keputusan menerima atau menolak akan terjawab dengan sendirinya setelah melihat
kesanggupan saudara Anjas dalam menyiapkan uang Panai dengan tenggak waktu yang
akan ditentukan” Ayah Maharani lalu menyebutkan nominal uang yang harus
disiapkan sebagai panai, uang itu harus diserahkan paling lambat enam bulan
sejak hari itu. Dengan ketentuan, bila gagal berarti lamaran ditolak dan bila
berhasil berarti diterima.
Sadar dengan keadaan
dan kemampuan Dul, Maharani kecewa berat dengan keputusan ayahnya di malam
lamaran itu. Sementara Dul, meski menyanggupi dan menganggap itu sebagai
tantangan sekaligus ajang pembuktian diri, tapi di dalam hatinya sebetulnya ia
khawatir. Jumlah nominal yang disebutkan ayah Maharani itu bila ia kumpulkan
dengan jalan menabung semua uang bulanan dari gajinya, maka dibutuhkan waktu
paling tidak lima tahun lamanya.
“This is impossible! Tak mungkin, tapi harus diperjuangkan” ujar Dul
pada Maharani dan ia benci dengan ucapan dul itu.
“Aku bisa bantu
mengumpulkan uang itu..”
“Enggak perlu, kalau
orang tuamu tau, jatuh harga diriku di mata mereka”
“Jadi kamu lebih
memilih gagal dalam memperjuangkan hubungan kita”
“Tolong jangan anggap
remeh kemampuanku..”
“Yaudah, terserah. Kita
lihat saja nanti..”
Lima bulan berlalu dan
Dul tidak mengalami kemajuan berarti dalam berjuang mengumpulkan uang itu. Segala
macam upaya telah ia lakukan, bekerja di dua tempat, nyambi bisnis sampingan,
sampai pinjaman sana sini, setengahnya saja belum terkumpul. Maharani tau
resiko apa yang akan menimpanya bila Dul sampai gagal. Aroma kegagalan Dul
semakin menyeruak dan Maharani tentu tak akan sudi menikah dengan lelaki
pilihan ayahnya itu. Maharani menyusun siasat, selama lima bulan berlalu sambil
bekerja diam-diam ia mengejar beasiswa kuliah luar negeri.
Habis waktu yang diberikan ayah Maharani untuk Dul,
dan malam itu ia tidak datang ke rumah Maharani untuk mengantarkan uang panai.
Seharian itu Dul malah menghilang entah kemana, tidak masuk kerja, hp ia
matikan, membuat semua kawan dan keluarga panik bukan main. Lebih-lebih
Maharani.
“Jangan-jangan cowok kamu
bunuh diri Ran?!” Celetukan salah seorang sahabat Maharani ini membuat kekasih
Dul itu makin panik. Semalaman ia tak tidur dan paginya ia langsung mencari
keberadaan Dul.
Maharani mencari ke
tiap-tiap tempat yang sering ia kunjungi berdua bersama Dul. Jurus pencariannya
terbukti jitu. Sampai di sebuah pantai, ia langsung mendapati keberadaan Dul di
situ. Dul tengah menyeduh kopi sambil memangku mesra seorang gadis. Hati dan
jantung Maharani seperti meledak seketika menyaksikan itu. Sebelum berlalu
pergi ia limpahkan kekesalannya pada sahabat di sampingnya. “Bener, cowok aku
sudah mati bunuh diri. Sekarang lagi di surga selingkuh sama bidadari”
Melihat kedatangan
Maharani itu, Dul bersikap enteng-enteng saja. Ia sengaja meledakkan api kebencian
di dalam dada pacarnya. Jangankan mengejar, menoleh saja tidak saat Maharani
berlari sambil histeris kala meninggalkan pantai itu. “Maafkan aku sayang, pernikahan bukan hanya soal aku dan kamu. Tapi
keluarga aku dan keluarga kamu. Orang
tuamu pasti akan memilihkan calon yang terbaik buat kamu!” Ujar Dul dalam
hati saat melihat reaksi Maharani di pantai itu.
Menolak kekalahan Dul,
juga menolak kemenangan ayahnya. Kebetulan sekali beasiswa luar negeri itu
berhasil ia menangkan. Tak pikir panjang lagi langsung saja ia ambil beasiswa
itu. Melampiaskan patah hati dan kecewa dengan mengejar cita-cita masa depan
yang lebih cemerlang bukanlah hal yang buruk bukan?
***
Jatuh harga diri Dul di mata keluarga Maharani.
Jatuh pula harga diri Dul di mata gadis yang hampir enam tahun pernah jadi
kekasihnya itu. Di lubuk hati terdalam ia menyesali perbuatannya itu, walau
dalam realita kehidupan ia justru mensyukuri kejadian itu. Mesaki mensyukuri
tapi Dul sadar kalau ia telah dibuat trauma
parah dengan kejadian di masa lalunya itu.
Enam tahun sudah sejak
kejadian itu, tapi serasa baru kemarin hal itu terjadi. Terlebih saat musim hujan
bermula di bulan Juni, serpihan-serpihan kenangannya seperti sedang membubuhkan
serbuk garam ke dalam robekan luka dalam hati. Tapi tahun ini Dul girang bukan
main, hujan itu datang terlambat, kenangan itu tak datang menghantui seperti
tahun-tahun sebelumnya. Juni dan Juli yang identik dengan hujan dan kenangan
perlahan sirna sudah. September kelabu telah berganti jadi September yang
ceria. Sampai Oktober dan November pun hujan yang mengandung kenangan belum
turun jua, pertanda alam kalau ia harus segara melupakan masa lalunya.
Ada yang saling jatuh cinta
kemudian berjodoh. Ada yang berjodoh kemudian saling membangun cinta. Jika
sulit untuk jatuh cinta lalu menikah, mengapa tak coba untuk membangun cinta
setelah menikah. Orang paling beruntung ialah orang yang dilahirkan untuk
saling jatuh cinta dan pernikahanlah yang menyempurnakan cinta keduanya. Namun terkadang,
ada kalanya pada beberapa orang yang dilahirkan dengan kurang beruntung. Dalam
ke-tidak beruntungan itu ia ditakdirkan jatuh cinta pada seseorang namun
seseorang itu tidak ditakdirkan untuk menjadi jodohnya. Bila demikian adanya, hendaklah
ia mulai berbesar hati, ikhlas dan menyadari kalau di dunia ini ada orang yang
menikah karena cinta, ada pula yang menikah karena keputusan. Keputusan yang
diambil karena keadaan yang menjadi nasib. Takdir hidup yang memaksa demikian.
Jadilah ia menikah karena nasib, bukan karena cinta.
“Seorang pemenang ialah mereka yang berhasil menikahi cintanya, tapi
menikah karena nasib juga bukan berarti jadi pecundang”
Anjas Dul Jaelani
meresapi kata-kata yang diucapkan salah seorang motivator dari praktisi
percintaan di salah satu saluran radio itu dengan perenungan yang sangat
mendalam. Perenungan itu sampai pada satu kesimpulan, kalau sebetulnya ia tidak
butuh obat untuk menghilangkan perih luka di hatinya, luka yang tetap basah
meski sudah melewatkan waktu enam tahun masa penyembuhan. Ia hanya perlu
melatih kepekaan hatinya lagi, seperti melatih kepekaan insulin terhadap
glukosa, kepekaan insulin dalam memecah glukosa menjadi sumber energi tubuh,
memecah glukosa-glukosa itu menjadi energi supaya kadar gula dalam darah jadi
berkurang. Dengan berkurangnya kadar gula dalam darah itu, maka luka-luka yang
selalu basah dan sukar sembuh akan mengering dengan sendirinya. Anjas Dul
Jaelani tak perlu mengamputasi hatinya, ia hanya perlu melatih kembali kepekaan
hatinya. Sebab liver itu masih memproduksi insulin, rasa di hati itu masih ada
dan bertumbuh meski kini kosong dan tak
bermilik. (Ali Ridwan, 24/12/2019)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar