Jumat, 27 Desember 2019

Kau, Aku, dan Sepenggal Hujan di Petang Hari


Tahun ini musim hujan datang terlambat, ia seolah terpengaruh dengan kultur budaya Indonesia yang gemar mengakrabi sifat santai, saking santainya mereka begitu  kompromi dengan yang namanya ketepatan waktu. Falsafah dari barat soal waktu adalah uang atau filosopi dari Timur Tengah kalau waktu adalah pedang tak terhiraukan di sini. Bagi orang-orang di sini, waktu adalah me time yang musti dinikmati dengan santai yang sesantai-santainya. Manusia-manusia di sini kebanyakan ialah manusia yang lihai dengan jurus andalah yang dinamai The Power of Kepepet. Sedang pelajar-pelajarnya pun mahir dengan jurus dasarnya yang sering disebut SKS atau Sistem Kebut Semalam. Selonggar apa waktu luang itu, selama apa persiapan jelang Ujian Akhir itu, tetap akan diselesaikan dalam waktu semalam dan dengan deadline semepet-mepetnya. Tidaklah mengherankan kalau Bangsa Bahari ini sering disebut dengan bangsa tersantai di dunia. Terbukti dengan hujan yang datang terlambat pun masih tetap santai.
Hujan yang datang terlambat itu seperti senasib dan sepenanggungan dengan Anjas Dul Jaelani. Seperti hujan yang datang terlambat, jodoh untuk Dul pun demikian, datangnya agak sedikit telat. Entah karena hujan, entah karena ia orang Indonesia yang kelewat santai, namun beginilah adanya. Sudah lewat kepala tiga hidupnya tapi masih saja sendiri, santai tanpa dosa menyandang gelar lajangnya itu, abai dengan omongan tetangga yang memekakkan bebalnya gendang telinganya.
Tapi sebetulnya, keadaan itu bukan seutuhnya karena nasib. Merujuk pada prinsip dasar kalau jomblo itu karena tak laku dan single itu karena prinsip. Agaknya kesendirian Dul lebih karena prinsip. Banyak gadis mendekat ia dingin-dingin saja, ada kode lampu hijau ia santai-santai saja, banyak saudara dan kawan jadi mak jomblang dia cuek-cuek saja. Tidak, tidak, ia bukan homo. Ia normal dan kedua matanya masih suka blingsatan kalau melihat gadis cantik dengan paras yang semloheh nan aduhai. Anjas Dul Jaelani, ia masih trauma dengan luka yang pernah ditorehkan mantan tunangannya enam tahun silam. Sudah selama itu tapi lukanya belum kering-kering jua, luka itu masih tetap basah, sukar sembuh, seperti luka pada penderita sakit gula basah. Luka itu, nampaknya baru bisa hilang kalau ia mau mengamputasi hatinya, mematikan rasanya.
***
Dua belas tahun silam, di pertengahan tahun saat musim sedang kemarau. Anjas Dul Jaelani yang lulusan D3 TKJ (Tekhnik Komputer Jaringan) baru saja diterima kerja di sebuah perusahaan swasta. Itu tempat kerja pertamanya setelah menganggur berbulan-bulan, mengirim surat lamaran kesana-kemari, mendatangi benyak wawancara kerja, tapi tidak ada perusahaan yang bersedia menampungnya sebagai karyawan.
Tingginya tekanan kerja sebagai karyawan baru dengan usia termuda sempat membuatnya tidak betah dan hendak mengajukan pengunduran dini. Tapi niatnya itu urung dilakukannya dimana pada bulan ketiga perusahaan itu kedatangan anak-anak magang dari SMK Komunikasi dan Komputer Jaringan. Kebanyakan anak magang itu ialah seorang siswi, Dul lalu menjadi akrab dengan salah seorang dari para siswi itu. Gadis yang menjadi akrab dengan Dul itu cantik, membuat mata para lelaki melirik, tapi tidak kepada sembarang pria gadis itu bisa dibuat tertarik.
Langit sore itu mendung saat gadis bernama Maharani itu hendak berjalan menuju Halte depan perusahaan. Dul yang hari itu motornya masuk bengkel juga naik angkutan umum. Dul duduk di pojokan halte sambil mendengarkan lagu melalu headsetnya, Maharani tak memperhatikan sekitar, banyak manusia berjubel di situ membuat ia tak sadar ada kakak pembimbing magangnya di pojokan halte. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya, hujan disertai angin kencang. “Rani, sini duduk di tempat kakak..” Dul menawarkan bangkunya untuk Maharani. Gadis itu menggeleng, tapi Dul menarik tangannya, menekan pundaknya, malu-malu gadis itu menempati tempat duduk yang semula diduduki kakak pembimbing magangnya.
Hujan masih turun dengan lebatnya, hujan deras pertama di bulan Juni. Rembesan airnya menetes dari atap-atap halte. Dengan gagahnya Dul melepas jeket kulitnya, kemudian menggunakan jeket itu sebagai perisai rembasan air hujan, ia letakkan jeket itu di atas kepalanya, sedikit menyamping ke kiri, dimana Maharani sedang duduk, pojokan halte yang tadinya ditempati oleh Anjas Dul Jaelani. Dul diam tak berkata, pun demikian dengan Maharani, tapi gadis itu tersenyum dengan hatinya.
Selesai magang dari perusahaan tempat Dul bekerja, Maharani tetap menjalin komunikasi dengan kakak pembimbing yang jadi pahlawan penangkal tetesan air yang merembes dari atap halte yang bocor itu. Hingga suatu ketika keduanya terlibat kencan dan mereka pun pacaran. Itu pertama kalinya Dul punya pacar, sedang bagi Maharani ini adalah yang ketiga kalinya, tapi yang terspesial baginya. Spesial karena ia dan Dul terpaut usia lumayan jauh. Kala itu, Maharani masih 16 tahun dan Dul 21 tahun. Dua mantan Maharani sebelumnya hanya lelaki seumuran yang berpacaran hanya sekedar untuk mengejar status belaka. Status kalau ia sudah ada pacar dan berharap tidak ada banyak anak laki-laki yang berani mengganggunya.
Lulus SMK Maharani masuk Fakultas Psikologi di salah satu universitas swasta di kotanya. Empat tahun masa kuliah, semasa itu pula Dul dan Maharani menjalin hubungan dengan pasang surut. Lewat koneksi ayahnya, Maharani langsung bekerja setelah wisuda. Semudah itu mencari kerja karena ayah Maharani salah satu tokoh terpandang di kota itu. Satu tahun Maharani bekerja dan hubungannya dengan Dul mulai dilanda masalah yang cukup serius. Ayah Maharani hendak menjodohkan anaknya dengan seorang putra sahabatnya semasa kuliah dulu. Sedangkan Dul, sedikitpun belum punya nyali untuk menghadap ke orang tua Maharani.Maharani marah dan jengkel dengan sikap kekasinya itu, namun Anjas Dul Jaelani tentu punya alasan sendiri dengan sikapnya yang demikian. Dul sadar diri siapalah dirinya dibanding dengan Maharani, ia hanya berasal dari keluarga pas-pasan, setengah gajinya habis untuk membantu kebutuhan keluarga, setengahnya lagi terpakai untuk biaya pendidikan adik-adiknya. Nekat maju menghadap keluarga Maharani dengan niatan untuk meminang sama dengan bunuh diri, resiko ia akan dijauhi oleh keluarga Maharani dan ia akan kesulitan bertemu dengan kekasihnya itu. Ia tak sanggup kehilangan gadis yang dicintainya itu, gadis yang dipacarinya  hampir lima tahun lamanya itu.
Memang selama ini kedua orang tua Maharani telah mengetahui kedekatan anaknya dengan Dul. Tapi kedekatan yang mereka tau hanya sebatas kedekatan seorang teman, kakak dan adik, kedekatan mantan pembimbing magang yang dibimbingnya saat SMK dulu. Suatu kali saat ayah Maharani bertanya perihal alasan mengapa anaknya menolak perjodohan itu dan Maharani memberanikan diri untuk berterus terang perihal status hubungannya dengan Dul. Untuk menunjukkan keseriusan itu Maharani sampai berujar kalau minggu depan keluarga Dul akan datang melamar.
Ayah Maharani adalah seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, tak kuasa ia menolak kemauan putrinya bila itu dilandasi dengan keseriusan yang nekat. Setelah Maharani sadar dengan ke-sembronoan-nya, ia tak mau tahu, ia pun memaksa Dul dan keluarganya untuk datang melamar di waktu yang telah ia katakan pada ayahnya. Dul beserta keluarga dengan terpaksa datang melamar dan keluarga Maharani menyambut kedatangan itu dengan setengah hati. Tak kurang akal, supaya pertunangan itu tidak berjalan mulus ayah maharani mengajukan syarat.
“Meski lama tinggal di Jawa, tapi kami bukanlah asli orang Jawa. Di daerah kami punya adat, yaitu bila hendak melamar seorang anak gadis syaratnya harus sudah membayar yang panai yang telah disepakati. Sebetulnya, sebelum melamar pihak pelamar harusnya memanuk-manuk atau melakukan penjajakan dulu soal berapa uang panai yang harus disiapkan saat nanti melamar. Tapi karena sudah terlanjur, jadi keputusannya saya belum menerima tapi juga tidak menolak lamaran dari pihak keluarga saudara Anjas ya. Keputusan menerima atau menolak akan terjawab dengan sendirinya setelah melihat kesanggupan saudara Anjas dalam menyiapkan uang Panai dengan tenggak waktu yang akan ditentukan” Ayah Maharani lalu menyebutkan nominal uang yang harus disiapkan sebagai panai, uang itu harus diserahkan paling lambat enam bulan sejak hari itu. Dengan ketentuan, bila gagal berarti lamaran ditolak dan bila berhasil berarti diterima.
Sadar dengan keadaan dan kemampuan Dul, Maharani kecewa berat dengan keputusan ayahnya di malam lamaran itu. Sementara Dul, meski menyanggupi dan menganggap itu sebagai tantangan sekaligus ajang pembuktian diri, tapi di dalam hatinya sebetulnya ia khawatir. Jumlah nominal yang disebutkan ayah Maharani itu bila ia kumpulkan dengan jalan menabung semua uang bulanan dari gajinya, maka dibutuhkan waktu paling tidak lima tahun lamanya.
This is impossible! Tak mungkin, tapi harus diperjuangkan” ujar Dul pada Maharani dan ia benci dengan ucapan dul itu.
“Aku bisa bantu mengumpulkan uang itu..”
“Enggak perlu, kalau orang tuamu tau, jatuh harga diriku di mata mereka”
“Jadi kamu lebih memilih gagal dalam memperjuangkan hubungan kita”
“Tolong jangan anggap remeh kemampuanku..”
“Yaudah, terserah. Kita lihat saja nanti..”
Lima bulan berlalu dan Dul tidak mengalami kemajuan berarti dalam berjuang mengumpulkan uang itu. Segala macam upaya telah ia lakukan, bekerja di dua tempat, nyambi bisnis sampingan, sampai pinjaman sana sini, setengahnya saja belum terkumpul. Maharani tau resiko apa yang akan menimpanya bila Dul sampai gagal. Aroma kegagalan Dul semakin menyeruak dan Maharani tentu tak akan sudi menikah dengan lelaki pilihan ayahnya itu. Maharani menyusun siasat, selama lima bulan berlalu sambil bekerja diam-diam ia mengejar beasiswa kuliah luar negeri.
Habis  waktu yang diberikan ayah Maharani untuk Dul, dan malam itu ia tidak datang ke rumah Maharani untuk mengantarkan uang panai. Seharian itu Dul malah menghilang entah kemana, tidak masuk kerja, hp ia matikan, membuat semua kawan dan keluarga panik bukan main. Lebih-lebih Maharani.
“Jangan-jangan cowok kamu bunuh diri Ran?!” Celetukan salah seorang sahabat Maharani ini membuat kekasih Dul itu makin panik. Semalaman ia tak tidur dan paginya ia langsung mencari keberadaan Dul.
Maharani mencari ke tiap-tiap tempat yang sering ia kunjungi berdua bersama Dul. Jurus pencariannya terbukti jitu. Sampai di sebuah pantai, ia langsung mendapati keberadaan Dul di situ. Dul tengah menyeduh kopi sambil memangku mesra seorang gadis. Hati dan jantung Maharani seperti meledak seketika menyaksikan itu. Sebelum berlalu pergi ia limpahkan kekesalannya pada sahabat di sampingnya. “Bener, cowok aku sudah mati bunuh diri. Sekarang lagi di surga selingkuh sama bidadari”
Melihat kedatangan Maharani itu, Dul bersikap enteng-enteng saja. Ia sengaja meledakkan api kebencian di dalam dada pacarnya. Jangankan mengejar, menoleh saja tidak saat Maharani berlari sambil histeris kala meninggalkan pantai itu. “Maafkan aku sayang, pernikahan bukan hanya soal aku dan kamu. Tapi keluarga aku dan keluarga kamu.  Orang tuamu pasti akan memilihkan calon yang terbaik buat kamu!” Ujar Dul dalam hati saat melihat reaksi Maharani di pantai itu.
Menolak kekalahan Dul, juga menolak kemenangan ayahnya. Kebetulan sekali beasiswa luar negeri itu berhasil ia menangkan. Tak pikir panjang lagi langsung saja ia ambil beasiswa itu. Melampiaskan patah hati dan kecewa dengan mengejar cita-cita masa depan yang lebih cemerlang bukanlah hal yang buruk bukan?
***
Jatuh harga diri Dul di mata keluarga Maharani. Jatuh pula harga diri Dul di mata gadis yang hampir enam tahun pernah jadi kekasihnya itu. Di lubuk hati terdalam ia menyesali perbuatannya itu, walau dalam realita kehidupan ia justru mensyukuri kejadian itu. Mesaki mensyukuri tapi Dul sadar kalau ia telah dibuat  trauma parah dengan kejadian di masa lalunya itu.
Enam tahun sudah sejak kejadian itu, tapi serasa baru kemarin hal itu terjadi. Terlebih saat musim hujan bermula di bulan Juni, serpihan-serpihan kenangannya seperti sedang membubuhkan serbuk garam ke dalam robekan luka dalam hati. Tapi tahun ini Dul girang bukan main, hujan itu datang terlambat, kenangan itu tak datang menghantui seperti tahun-tahun sebelumnya. Juni dan Juli yang identik dengan hujan dan kenangan perlahan sirna sudah. September kelabu telah berganti jadi September yang ceria. Sampai Oktober dan November pun hujan yang mengandung kenangan belum turun jua, pertanda alam kalau ia harus segara melupakan masa lalunya.
Ada yang saling jatuh cinta kemudian berjodoh. Ada yang berjodoh kemudian saling membangun cinta. Jika sulit untuk jatuh cinta lalu menikah, mengapa tak coba untuk membangun cinta setelah menikah. Orang paling beruntung ialah orang yang dilahirkan untuk saling jatuh cinta dan pernikahanlah yang menyempurnakan cinta keduanya. Namun terkadang, ada kalanya pada beberapa orang yang dilahirkan dengan kurang beruntung. Dalam ke-tidak beruntungan itu ia ditakdirkan jatuh cinta pada seseorang namun seseorang itu tidak ditakdirkan untuk menjadi jodohnya. Bila demikian adanya, hendaklah ia mulai berbesar hati, ikhlas dan menyadari kalau di dunia ini ada orang yang menikah karena cinta, ada pula yang menikah karena keputusan. Keputusan yang diambil karena keadaan yang menjadi nasib. Takdir hidup yang memaksa demikian. Jadilah ia menikah karena nasib, bukan karena cinta.
Seorang pemenang ialah mereka yang berhasil menikahi cintanya, tapi menikah karena nasib juga bukan berarti jadi pecundang
Anjas Dul Jaelani meresapi kata-kata yang diucapkan salah seorang motivator dari praktisi percintaan di salah satu saluran radio itu dengan perenungan yang sangat mendalam. Perenungan itu sampai pada satu kesimpulan, kalau sebetulnya ia tidak butuh obat untuk menghilangkan perih luka di hatinya, luka yang tetap basah meski sudah melewatkan waktu enam tahun masa penyembuhan. Ia hanya perlu melatih kepekaan hatinya lagi, seperti melatih kepekaan insulin terhadap glukosa, kepekaan insulin dalam memecah glukosa menjadi sumber energi tubuh, memecah glukosa-glukosa itu menjadi energi supaya kadar gula dalam darah jadi berkurang. Dengan berkurangnya kadar gula dalam darah itu, maka luka-luka yang selalu basah dan sukar sembuh akan mengering dengan sendirinya. Anjas Dul Jaelani tak perlu mengamputasi hatinya, ia hanya perlu melatih kembali kepekaan hatinya. Sebab liver itu masih memproduksi insulin, rasa di hati itu masih ada dan bertumbuh meski kini kosong dan tak  bermilik. (Ali Ridwan, 24/12/2019) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar