Rabu, 17 Maret 2021

Berhenti Memasung Diri di Zona Nyaman

Hampir tiga tahun sudah, diri ini dininabobokan dengan keadaan. Nyaman sekali berada di zona seperti ini. Tidak ada beban, tidak ada tuntutan, hidup mengalir saja. Biar lambat sudah pasti selamat, biar lamban asal berada di garis haluan. Tidak ada lompatan-lompatan berarti, pencapaian besar hanya sesekali. Mungkin ini istilah hidup untuk dinikmati, bukan hidup untuk dikejar ambisi.

Seperti seekor elang yang keenakan hidup bersama ayam-ayam dan bebek-bebek peliharaan. Elang yang mulai doyan makan jagung, sudi mandi di air comberan, lupa cara menggunakan cakar kakinya untuk mencengkeram mangsa, sebab tikus-tikus sudah disediakan dan tinggal melahab saja, sampai ketajaman paruhnya jadi tumpul, otot-otot sayapnya pun menjadi lemas, terlalu ringkih untuk mengangkat beban tubuhnya yang mulai tambun. Elang yang malang, Elang yang lupa pada jati diri. 

Namun demikian, rasa sukur harus terus dipelihara. Keadaan yang memaksa jadi begini. Sabar pada setiap ujian adalah kunci, tabah dengan segala coba adalah senjata, ikhlas dengan segala kondisi adalah prinsip. Elang itu tidak lupa cara terbang, ia sadar betul ada rantai yang mengikat kedua kakinya. Memaksakan diri hanya akan  membuatnya jadi celaka. Pelan-pelan tapi pasti, dengan paruhnya yang kuat, dengan tekadnya yang bulat, akan ia retakkan rantai pasung itu.

Penerimaan dan takdir adalah dua hal yang berbeda. Penerimaan membuat Elang bisa hidup bersama kawanan ayam dan bebek. Tapi takdir, sebanyak apa ia telah berkawan akrab dengan kaum ayam dan bebek, Elang itu tetaplah Elang, panggilan hidupnya terbang membumbung di angkasa tinggi, sendiri berkawan sunyi.

Takdir menjadi Elang tidak bisa diterima bila terus berpura-pura menjadi ayam dan bebek. Cakar Elang bukan untuk menceker-ceker tanah, bukan untuk berenang di empang pinggir jalan. Paruh Elang tidak untuk mematuk beras dan jagung, tidak untuk menyosor anak kodok dan cacing tanah. Sayap-sayapnya itu untuk dibentangkan di angkasa, bukan sekedar dikepak-kepak untuk menarik kaum betinanya.

Tidak lama lagi, sebentar lagi. Jati diri itu harus kembali. Rantai pasung itu hanya ilusi. Rupa-rupanya Elang itu ada masalah psikologi, tengah menderita depresi. Rehabilitasi diri sebentar lagi selesai, sehatlah jasmani dan rohani. Jangan sampai terulang peristiwa yang sama lagi, kesepian dan kesendirian yang menerpa di atas sana. Resiko sebagai rajawali pengelana. Tidak perlu kaget dengan takdir diri, Elang itu hanya perlu terbiasa dengan naluri dan jati diri. (Ali Ridwan, 17/03/21)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar