Senin, 24 Januari 2022

Teluk Bintuni (Cerpen: Manusia Perambah Hutan Part 1)

Andini Putri

Saat berusia kurang dua tahun, kejadian apa yang bisa diingat ketika dewasa kelak? Seusia itu, perkembangan otaknya begitu kuncup, tapi pada bebarapa bocah, ada saja sel memori yang awet rekamannya.

Satu peristiwa yang masih diingat Andini saat seusia itu ialah ketika ia dan kedua orang tuanya pindah rumah dari kediaman nenek di Manokwari ke basecamp karyawan milik sebuah perusahaan pembalak kayu di Teluk Bintuni. Paling lekat dalam ingatan itu ialah ketika ia menangis di sepenjang perjalanan laut Manokwari - Sorong - Bintuni. Dalam tangisan panjang itu ia cuma menyebut satu kalimat saja “Puuulaang, ke rumah neeenek. Puuulaang, ke rumah neeenek, puuulang, ke rumah neeenek”. Indikasi kalau ia tak mau diajak pindah, ia tak mau jauh dari nenek, tak mau pisah dengan nenek.

Tangis Andini cuma bisa didiamkan dengan tiga hal. Pertama saat petugas kapal memeriksa tiket, ia takut dengan awak kapal berseragam putih-putih yang disangkanya dokter, itu mengingatkan pada runcingnya jarum suntik. Kedua saat ombak sedang tinggi-tingginya, ombak yang membikin tubuh mungilnya jadi keletihan, muntahan-muntahan yang membuat isi perutnya jadi kosong. Ketiga, ketika kapal dari Pelabuhan Manokwari sandar di Pelabuhan Sorong, dengan muslihat Papanya, ia mengira Sorong itu Manokwari, selepas turun dari kapal lekas saja ia berlarian, menuju pintu pelabuhan dan pulang menuju ke rumah nenek. Sialnya, ternyata Andini tak dibawa pulang ke rumah nenek, tapi malah bermalam di penginapan dekat Pelabuhan Rakyat, sebuah pelabuhan kecil yang akan membawa keluarga itu berlayar ke daerah pedalaman di Teluk  Bintuni. Sadar telah dibohongi, tangisannya pun pecah kembali. Papa dan Mamanya lalu berpusing-pusing ria untuk menenangkannya lagi.

Andini sedikit tanang dan menghentikan tangis ketika Papa dan Mamanya sukses mengelabuhinya lagi. Dibilangnya ia akan kembali naik kapal untuk perjalanan pulang ke rumah nenek. Namun keanehan muncul di dalam pikirannya. Mengapa jalur lautnya jadi berkelok-kelok, banyak rimbunan pohon-pohon bakau di kanan -kirinya, kapal yang ditumpangi ukurannya pun  lebih kecil, dan durasi perjalanan lebih lama. Kapal Feri perintis itu tidak berlayar di laut, tapi menyusuri muara panjang dan berbelok-belok. Lepas satu tanjung, masuk tanjung lagi. Begitu terus dari pagi, siang, sore, malam, dan pagi lagi.

Setelah sehari-semalam berlayar, Kapal Feri perintis itu tiba di Pelabuhan Babo. Gatal kaki Andini ingin turun ke darat, ingin berlarian, pulang ke rumah nenek. Andini masih belum sadar kalau sebetulnya ia sudah berlayar semakin jauh dari tempat tinggal neneknya. Dan Papanya, ia lebih suka memeningkan kepala dengan aneka cara untuk mendiamkan tangisan Andini di atas kapal, daripada berlelah-lelah berkejaran dengan Andini bila diajak turun ke pelabuhan. Pengalaman di Pelabuhan Sorong tak mau terulang lagi di sini. Lagipula, kapal feri tak akan sandar lama di Pelabuhan Babo, sekedar menurunkan penumpang dan beberapa barang. Bintuni sudah dekat dan logistik kapal hanya ditambah seperlunya saja. Andini, sudah jatuh tertidur saat kapal melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan terakhir, Pelabuhan Bintuni.

Ketika turun ke Pelabuhan Bintuni, apa yang ditakutkan Papanya benar-benar terjadi. Begitu mengunjak daratan, dua kaki Andini sudah seperti mobil mainan yang diputar rodanya, lalu dilepaskan ke darat, ia segera lari sekencang-kencangnya, berlari-larian kesana-kemari. Mamanya menahan panik setengah mati di pojok pelabuhan sambil menunggui barang-barang bawaannya. Andini dibopong ke gendongan ayahnya setelah ada tiga orang bantu mengepungnya, itu seperti peristiwa menangkap seekor ayam kampung lepas dari kandang.

 

Bayu Irianto

Sesaat sebelum mentari terbit, kabut putih hadir memekatkan pagi bersama embun-embun. Sayup-sayup erikan jangkrik, kotekan kodok, gumaman burung hantu, hingga kepakan sayap-sayap kalelawar besar masih samar terdengar. Sahut-sahutan kokok ayam jantan jadi alarm alami, membantu Sang Muadzin membangunkan orang-orang muslim buat shalat shubuh. Masjid kampung yang sederhana, di tengah rimba belantara, tapi tetap riuh ketika shubuh. Masjid kampung yang dibangun di atas tujuh gelondong kayu besar berdiameter lebih kurang satu meter, dibangun di atas gelondongan kayu supaya mudah diseret buldoser ketika basecamp-basecamp perusahaan itu pindah lokasi. Saat pagi tiba, lonceng gereja ditoki, nyaring bunyinya melengking ke penjuru kampung, sampai terdengar oleh binatang liar di hutan-hitan sekitar. Hari ini hari minggu, harinya orang-orang nasrani bersembahyang di gereja. Di Kampung Basecamp orang-orang nasraninya bersembanyang di sebuah gereja yang juga dibangun sederhana, gereja itu didirikan di atas lima gelondong kayu besar, dan letaknya bersebelahan dengan masjid kampung.          

Meski dilahirkan di Surabaya, aku bersyukur dan merasa senang melewatkan masa kecilku hidup di pedalaman hutan Irian. Di sini, segalanya masih serba alami, keindahan alamnya, keekstriman cuacanya, keragaman suku budayanga, hingga hewan dan tumbuhan endemik yang menyertainya.

Aku beruntung bisa berguru pada alam, bahagia tumbuh bersama alam, bersyukur dibesarkan oleh alam, bangga hidup berdampingan dengan alam. Kisahku terdampar di kampung tengah rimba ini  dimulai ketika ayah masih bujang dulu. Tercatat dalam buku nikahnya, ayah menikahi ibu pada September 1991. Pernikahan dilakukan setelah ayah kembali dari Manokwari, Irian Jaya. Ayah bertugas sebagai penyuluh pertanian di sana.

Semasa bujang, Ayah bertugas sebagai pegawai honorer dengan durasi kontrak pertahun. Setelah menikah, Ayah sempat diminta untuk memperpanjang masa kontraknya. Ayah menyanggupi, tapi Ayah minta ditempatkan di seputaran Jawa Timur. Permintaan itu tak bisa dikabulkan, malah dalam kontrak tertulis Merauke sebagai penempatan. Ayah menolak tawaran itu. Walau pada akhirnya ayah tetap kembali ke Irian Jaya, tidak sebagai tenaga kontrak penyuluh pertanian, tapi sebagai karyawan administrasi logistik di sebuah perusahaan pembalak kayu yang beroperasi di sekitar hutan Manokwari.  Ayah baru menandatangani surat kontrak kerja itu tiga bulan pasca kelahiranku pada 19 Juni 1992.

Di balik keputusan ayah kala itu, baik sebagai pegawai pemerintah maupun karyawan swasta, sebetulnya keduanya sama-sama menawarkan pekerjaan dengan kembali ke Bumi Cendrawasih. Alasan lebih memilih bekerja pada perusahaan tambang itu sebab gaji bulanan yang lebih besar ketimbang jadi pegawai honor di pemerintah. Status pegawai kontrak dengan iming-iming entah kapan akan diangkat jadi pegawai negeri.

Genap dua tahun bekerja di perusahaan pembalak kayu itu, Ayah lalu diangkat jadi pegawai tetap. Setelah surat pengangkatan turun, ayah menerima tugas pertamanya yang sesuai dengan keahlian dan pengalaman kerjanya selama ini, sebagai karyawan administrasi di bagian logistik. Ayah menerima tugas di sebuah tempat yang baru, tempat terpencil di Teluk Bintuni.

Perusahaan memiliki basecamp sebagai pos opersional dengan peralatan lengkap di daerah itu. Ada banyak mobil-mobil dump trek, alat-alat berat, perbengkelan, juga pelabuhan kecil yang disandari kapal-kapal penarik tongkang yang memuat kayu gelondongan besar hasil pembalakan. Saat hendak mulai bertugas di tempat baru itu, Ayah membawa serta aku dan ibu yang selama ini tinggal di Surabaya. Aku yang masih berusia dua tahun akan memulai sebuah hidup baru di basecamp tempat ayah bekerja, di tengah hutan di pedalaman Irian Jaya, tempat malaria bersarang dengan mengerikan.

***

Teluk Bintuni, sudah menjadi kecamatan ketika kami datang pada 1994. Daerah ini menjadi kecamatan setelah beberapa lahan lapang di sekitarnya dibangun rumah-rumah dari papan putih, tiap rumah diberi jatah tanah seluas 50x50 meter, beberapa desa bahkan ada yang luasnya 100x100 meter. Tak jauh dari desa masing-masing rumah diberi lahan garapan rata-rata seluas satu hektar. Rumah-rumah itu dipersiapkan untuk orang-orang transmigrasi dari Jawa, Transmigrasi Perambah Hutan begitu pemerintah menamai programnya. Gelombang terakhir ialah tahun 1994, artinya ketika kami datang rumah-rumah di desa-desa itu hampir seluruhnya sudah berpenghuni.

Kata Ayah, kecamatan yang baru berdiri itu dulunya merupakan bekas perusahaan pembalak kayu melakukan operasi penambangan. Setelah aktivitas pembalakan itu beralih sedikit masuk ke dalam, lokasinya dipergunakan untuk program transmigrasi oleh pemerintah. Tanah lapang tepi teluk yang sebagian besar masih hutan itu lalu dibagi menjadi lima desa untuk para transmigrans, beberapa desa lagi untuk perkampungan penduduk pribumi asli, pribumi Irian dari ras melanesia dengan ciri khasnya yang berkulit hitam dan berambut keriting. Masuk ke pelosok lagi, ada desa-desa yang dibangun secara swadaya oleh para karyawan perkebunan sawit, kelak akan ada gelombang transmigrasi lagi dari Jawa yang juga akan ditempatkan di situ. Pelabuhan Bintuni yang dulu disandari tongkang-tongkang pengangkut kayu, mulai dialihfungsikan jadi pelabuhan sipil dengan aktivitas pasar umum di depannya. Daerah ini lalu menamai dirinya dengan sebutan resmi, Kecamatan Teluk Bintuni, Kabupaten Manokwari, Provinsi Irian Jaya dengan ibokota provinsi di Kota Jayapura.

Kata ayah lagi, sebelum perusahaan lokal itu mengeksploitasi kawasan teluk ini, ternyata jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka, bangsa penjajah entah Belanda, Inggris, atau Jepang sudah memulai eksploitasinya terlebih dulu. Itu terbukti dengan membentangnya besi-besi tua bekas rel kereta api. Kawasan Teluk Bintuni pada masa dulu sekali, sepertinya sudah ada kereta yang beroperasi di sekitar wilayahnya, jelas itu bukan kereta api komersil, besar kemungkinan kereta pengangkut gelondongan kayu-kayu besar dan mungkin juga batu bara. Jalan poros yang menghubungkan antar desa yang baru saja dibangun itu pun jalurnya mengikuti alur bangkai rel kereta yang sudah tak berfungsi itu. Dengan begini, boleh dibilang denah penataan Kecamatan Teluk Bintuni tak seutuhnya murni buah karya dari pemerintah Indonesia.

Di Teluk Bintuni kami tidak tinggal di desa-desa itu, kami sekeluarga  tinggal di basecamp. Rumah itu tidak lebih dari sebuah bangunan semi permanen, berdinding papan dengan atap seng, dibangun secara berjejer di atas empat kayu gelondongan besar dan lebih mirip seperti asrama, sengaja didesain demikian karena dirancang untuk hidup secara nomaden.

Satu jejer gelondongan empat kayu besi besar itu seringnya dibangun dengan enam hingga delapan asrama. Basecamp-basecamp itu datarik oleh alat-alat berat saat hendak berpindah tempat, biasanya tempat yang dipilih untuk tinggal dalam jangka waktu satu sampai dua tahun ialah di tepi-tepi sungai besar, sumber air jadi alasan utama mengapa jejeran basecamp yang membentuk perkampungan kecil itu diletakkan di tepiannya. Di Bintuni, perkampungan kami disebut sesuai dengan identitasnya, Kampung Basecamp.

Kabar baiknya ketika ayah dipindahkan ke Bintuni, setelah basecamp perusahaan yang sudah menjadi kampung itu ditarik lebih masuk ke dalam lagi,  kabarnya basecamp akan menetap lama di situ dan bisa jadi tidak akan berpindah lokasi lagi, setidaknya sampai sepuluh hingga duapuluh tahun ke depan. Sebab menurut perhitungan, kalau volume pembalakan tidak ada peningkatan dalam jumlah berarti, kayu-kayu di kawasan teluk itu cukup untuk ditambang hingga tigapuluhan tahun ke depan. Di basecamp, kami mendapat jatah camp di deretan paling pojok. Mama Dini dan Papa Dini, begitu kami mengenal tetangga sebelah kami. Pasangan asli Bugis ini punya anak balita perempuan seusiaku, Andini Putri. Mereka memanggil ayah dan ibuku dengan sebutan Papa Bayu dan Mama Bayu. Diambil dari nama depanku, Bayu Irianto. (Ali Ridwan)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar