Andini Putri
Saat berusia kurang dua tahun,
kejadian apa yang bisa diingat ketika dewasa kelak? Seusia itu, perkembangan
otaknya begitu kuncup, tapi pada bebarapa bocah, ada saja sel memori yang awet
rekamannya.
Satu
peristiwa yang masih diingat Andini saat seusia itu ialah ketika ia dan kedua
orang tuanya pindah rumah dari kediaman nenek di Manokwari ke basecamp karyawan milik sebuah
perusahaan pembalak kayu di Teluk Bintuni. Paling lekat dalam ingatan itu ialah
ketika ia menangis di sepenjang perjalanan laut Manokwari - Sorong - Bintuni.
Dalam tangisan panjang itu ia cuma menyebut satu kalimat saja “Puuulaang, ke rumah neeenek. Puuulaang, ke
rumah neeenek, puuulang, ke rumah neeenek”. Indikasi kalau ia tak mau
diajak pindah, ia tak mau jauh dari nenek, tak mau pisah dengan nenek.
Tangis
Andini cuma bisa didiamkan dengan tiga hal. Pertama saat petugas kapal memeriksa
tiket, ia takut dengan awak kapal berseragam putih-putih yang disangkanya
dokter, itu mengingatkan pada runcingnya jarum suntik. Kedua saat ombak sedang
tinggi-tingginya, ombak yang membikin tubuh mungilnya jadi keletihan, muntahan-muntahan
yang membuat isi perutnya jadi kosong. Ketiga, ketika kapal dari Pelabuhan
Manokwari sandar di Pelabuhan Sorong, dengan muslihat Papanya, ia mengira
Sorong itu Manokwari, selepas turun dari kapal lekas saja ia berlarian, menuju
pintu pelabuhan dan pulang menuju ke rumah nenek. Sialnya, ternyata Andini tak
dibawa pulang ke rumah nenek, tapi malah bermalam di penginapan dekat Pelabuhan
Rakyat, sebuah pelabuhan kecil yang akan membawa keluarga itu berlayar ke
daerah pedalaman di Teluk Bintuni. Sadar
telah dibohongi, tangisannya pun pecah kembali. Papa dan Mamanya lalu
berpusing-pusing ria untuk menenangkannya lagi.
Andini
sedikit tanang dan menghentikan tangis ketika Papa dan Mamanya sukses
mengelabuhinya lagi. Dibilangnya ia akan kembali naik kapal untuk perjalanan
pulang ke rumah nenek. Namun keanehan muncul di dalam pikirannya. Mengapa jalur
lautnya jadi berkelok-kelok, banyak rimbunan pohon-pohon bakau di kanan -kirinya,
kapal yang ditumpangi ukurannya pun
lebih kecil, dan durasi perjalanan lebih lama. Kapal Feri perintis itu
tidak berlayar di laut, tapi menyusuri muara panjang dan berbelok-belok. Lepas
satu tanjung, masuk tanjung lagi. Begitu terus dari pagi, siang, sore, malam,
dan pagi lagi.
Setelah
sehari-semalam berlayar, Kapal Feri perintis itu tiba di Pelabuhan Babo. Gatal kaki
Andini ingin turun ke darat, ingin berlarian, pulang ke rumah nenek. Andini
masih belum sadar kalau sebetulnya ia sudah berlayar semakin jauh dari tempat
tinggal neneknya. Dan Papanya, ia lebih suka memeningkan kepala dengan aneka
cara untuk mendiamkan tangisan Andini di atas kapal, daripada berlelah-lelah
berkejaran dengan Andini bila diajak turun ke pelabuhan. Pengalaman di
Pelabuhan Sorong tak mau terulang lagi di sini. Lagipula, kapal feri tak akan
sandar lama di Pelabuhan Babo, sekedar menurunkan penumpang dan beberapa
barang. Bintuni sudah dekat dan logistik kapal hanya ditambah seperlunya saja.
Andini, sudah jatuh tertidur saat kapal melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan
terakhir, Pelabuhan Bintuni.
Ketika turun
ke Pelabuhan Bintuni, apa yang ditakutkan Papanya benar-benar terjadi. Begitu
mengunjak daratan, dua kaki Andini sudah seperti mobil mainan yang diputar rodanya,
lalu dilepaskan ke darat, ia segera lari sekencang-kencangnya, berlari-larian
kesana-kemari. Mamanya menahan panik setengah mati di pojok pelabuhan sambil
menunggui barang-barang bawaannya. Andini dibopong ke gendongan ayahnya setelah
ada tiga orang bantu mengepungnya, itu seperti peristiwa menangkap seekor ayam kampung
lepas dari kandang.
Bayu Irianto
Sesaat sebelum mentari terbit,
kabut putih hadir memekatkan pagi bersama embun-embun. Sayup-sayup erikan
jangkrik, kotekan kodok, gumaman burung hantu, hingga kepakan sayap-sayap
kalelawar besar masih samar terdengar. Sahut-sahutan kokok ayam jantan jadi
alarm alami, membantu Sang Muadzin membangunkan orang-orang muslim buat shalat
shubuh. Masjid kampung yang sederhana, di tengah rimba belantara, tapi tetap
riuh ketika shubuh. Masjid kampung yang dibangun di atas tujuh gelondong kayu
besar berdiameter lebih kurang satu meter, dibangun di atas gelondongan kayu
supaya mudah diseret buldoser ketika basecamp-basecamp
perusahaan itu pindah lokasi. Saat pagi tiba, lonceng gereja ditoki, nyaring
bunyinya melengking ke penjuru kampung, sampai terdengar oleh binatang liar di hutan-hitan
sekitar. Hari ini hari minggu, harinya orang-orang nasrani bersembahyang di
gereja. Di Kampung Basecamp orang-orang nasraninya bersembanyang di sebuah
gereja yang juga dibangun sederhana, gereja itu didirikan di atas lima
gelondong kayu besar, dan letaknya bersebelahan dengan masjid kampung.
Meski
dilahirkan di Surabaya, aku bersyukur dan merasa senang melewatkan masa kecilku
hidup di pedalaman hutan Irian. Di sini, segalanya masih serba alami, keindahan
alamnya, keekstriman cuacanya, keragaman suku budayanga, hingga hewan dan
tumbuhan endemik yang menyertainya.
Aku
beruntung bisa berguru pada alam, bahagia tumbuh bersama alam, bersyukur
dibesarkan oleh alam, bangga hidup berdampingan dengan alam. Kisahku terdampar
di kampung tengah rimba ini dimulai ketika
ayah masih bujang dulu. Tercatat dalam
buku nikahnya, ayah menikahi ibu pada September 1991.
Pernikahan dilakukan setelah ayah kembali dari
Manokwari, Irian Jaya. Ayah bertugas
sebagai penyuluh pertanian di sana.
Semasa
bujang, Ayah bertugas sebagai pegawai honorer
dengan durasi kontrak pertahun. Setelah menikah, Ayah
sempat diminta
untuk memperpanjang masa kontraknya. Ayah menyanggupi, tapi Ayah minta ditempatkan di seputaran Jawa Timur. Permintaan
itu tak bisa dikabulkan,
malah dalam kontrak tertulis
Merauke sebagai penempatan.
Ayah menolak tawaran itu.
Walau pada akhirnya ayah
tetap kembali ke Irian Jaya, tidak sebagai tenaga kontrak penyuluh pertanian, tapi sebagai karyawan
administrasi logistik di sebuah
perusahaan pembalak kayu yang beroperasi di sekitar hutan Manokwari. Ayah baru menandatangani surat kontrak kerja
itu tiga bulan pasca kelahiranku pada 19 Juni 1992.
Di
balik keputusan ayah kala itu, baik sebagai pegawai pemerintah maupun karyawan
swasta, sebetulnya keduanya sama-sama menawarkan
pekerjaan dengan kembali ke Bumi Cendrawasih.
Alasan lebih memilih bekerja pada perusahaan tambang itu sebab gaji bulanan
yang lebih besar ketimbang jadi pegawai honor di pemerintah. Status pegawai kontrak dengan iming-iming entah
kapan akan diangkat jadi pegawai negeri.
Genap
dua tahun bekerja di perusahaan pembalak kayu itu,
Ayah lalu diangkat jadi
pegawai tetap. Setelah surat pengangkatan turun,
ayah menerima tugas pertamanya yang sesuai
dengan keahlian dan pengalaman kerjanya selama ini, sebagai
karyawan administrasi di bagian logistik.
Ayah menerima tugas di
sebuah tempat yang
baru, tempat terpencil di
Teluk Bintuni.
Perusahaan memiliki basecamp sebagai pos opersional dengan peralatan lengkap di
daerah itu. Ada banyak mobil-mobil dump trek, alat-alat berat, perbengkelan,
juga pelabuhan kecil yang disandari kapal-kapal penarik tongkang yang memuat
kayu gelondongan besar
hasil pembalakan. Saat hendak mulai bertugas di tempat baru itu, Ayah membawa serta aku
dan ibu yang selama ini tinggal di Surabaya.
Aku yang masih berusia dua tahun akan memulai sebuah hidup baru di basecamp tempat ayah bekerja, di tengah
hutan di pedalaman Irian Jaya, tempat malaria bersarang dengan mengerikan.
***
Teluk Bintuni, sudah menjadi kecamatan ketika kami datang pada 1994.
Daerah ini menjadi kecamatan setelah beberapa lahan lapang di sekitarnya
dibangun rumah-rumah dari papan putih, tiap rumah diberi jatah tanah seluas
50x50 meter, beberapa desa bahkan ada
yang luasnya 100x100 meter. Tak jauh dari desa masing-masing rumah
diberi lahan garapan rata-rata seluas
satu hektar. Rumah-rumah itu dipersiapkan untuk orang-orang transmigrasi dari
Jawa, Transmigrasi Perambah Hutan begitu pemerintah menamai programnya. Gelombang terakhir ialah tahun 1994, artinya ketika
kami datang rumah-rumah di desa-desa itu hampir seluruhnya sudah berpenghuni.
Kata Ayah, kecamatan yang
baru berdiri itu dulunya merupakan bekas perusahaan pembalak kayu melakukan operasi penambangan. Setelah
aktivitas pembalakan itu beralih sedikit masuk ke dalam, lokasinya dipergunakan
untuk program transmigrasi oleh pemerintah. Tanah lapang tepi teluk yang
sebagian besar masih hutan itu lalu dibagi menjadi lima desa untuk para
transmigrans, beberapa desa lagi
untuk perkampungan penduduk pribumi
asli, pribumi Irian dari ras melanesia dengan ciri khasnya
yang berkulit hitam dan berambut keriting. Masuk ke pelosok lagi, ada desa-desa yang dibangun
secara swadaya oleh para karyawan perkebunan sawit, kelak akan ada gelombang
transmigrasi lagi dari Jawa yang juga akan ditempatkan di situ.
Pelabuhan Bintuni yang
dulu disandari tongkang-tongkang
pengangkut kayu, mulai
dialihfungsikan jadi pelabuhan sipil dengan aktivitas pasar umum di depannya.
Daerah ini lalu
menamai dirinya dengan sebutan resmi, Kecamatan Teluk
Bintuni, Kabupaten Manokwari, Provinsi Irian Jaya dengan ibokota provinsi di Kota Jayapura.
Kata
ayah lagi, sebelum perusahaan lokal itu mengeksploitasi kawasan teluk ini,
ternyata jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka, bangsa penjajah entah
Belanda, Inggris, atau Jepang sudah memulai eksploitasinya terlebih dulu. Itu
terbukti dengan membentangnya besi-besi tua bekas rel kereta api. Kawasan Teluk
Bintuni pada masa dulu sekali, sepertinya sudah ada kereta yang beroperasi di
sekitar wilayahnya, jelas itu bukan kereta api komersil, besar kemungkinan
kereta pengangkut gelondongan kayu-kayu besar dan mungkin juga batu bara. Jalan
poros yang menghubungkan antar desa yang baru saja dibangun itu pun jalurnya
mengikuti alur bangkai rel kereta yang sudah tak berfungsi itu. Dengan begini,
boleh dibilang denah penataan Kecamatan Teluk Bintuni tak seutuhnya murni buah
karya dari pemerintah Indonesia.
Di Teluk Bintuni kami tidak
tinggal di desa-desa itu, kami sekeluarga
tinggal
di basecamp. Rumah itu tidak lebih dari
sebuah bangunan semi permanen, berdinding
papan dengan atap seng, dibangun secara berjejer
di atas empat kayu gelondongan besar
dan lebih mirip seperti asrama, sengaja didesain
demikian karena dirancang
untuk hidup secara nomaden.
Satu jejer gelondongan
empat kayu besi besar itu seringnya
dibangun dengan enam
hingga delapan asrama. Basecamp-basecamp itu datarik oleh alat-alat berat saat hendak
berpindah tempat, biasanya tempat yang dipilih untuk tinggal dalam jangka waktu
satu sampai dua tahun ialah di tepi-tepi sungai besar, sumber air jadi alasan utama mengapa jejeran basecamp yang membentuk perkampungan
kecil itu diletakkan di tepiannya.
Di Bintuni, perkampungan kami disebut sesuai dengan identitasnya, Kampung Basecamp.
Kabar baiknya ketika ayah dipindahkan ke Bintuni,
setelah basecamp
perusahaan yang sudah menjadi kampung itu ditarik
lebih masuk ke dalam lagi, kabarnya
basecamp
akan menetap lama
di situ dan bisa jadi tidak akan berpindah lokasi lagi, setidaknya
sampai sepuluh hingga
duapuluh tahun ke depan. Sebab menurut
perhitungan, kalau volume pembalakan tidak ada peningkatan dalam jumlah berarti,
kayu-kayu di kawasan teluk itu cukup untuk ditambang hingga tigapuluhan tahun
ke depan. Di basecamp, kami mendapat
jatah camp di deretan paling pojok.
Mama Dini dan Papa Dini, begitu kami mengenal tetangga sebelah kami. Pasangan
asli Bugis ini punya anak balita perempuan seusiaku, Andini Putri. Mereka
memanggil ayah dan ibuku dengan sebutan Papa Bayu dan Mama Bayu. Diambil dari
nama depanku, Bayu Irianto. (Ali Ridwan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar