Andini Putri
Awal mula kedatangan keluarga Andini di Kampung Basecamp ketika Papa Andini
diterima bekerja sebagai operator gergaji mesin di perusahaan pembalakan kayu
itu. Tugas dan tanggung jawab Papa Andini itu sebagai ujung tombak perusahaan,
kerjanya mengeksekusi pohon-pohon besar yang sudah ditandai dan siap ditebang,
lalu dipotong sesuai ukuran, sebelum ditarik sebuah mesin penarik, mesin itu
berada di bagian belakang doser. Kayu gelondongan itu dililit dengan seling
besar, ditarik sampai di tempat lapang, dari tempat itu alat berat dengan capit
kepiting raksasa dimukanya mengapit gelondongan kayu itu, diangkatnya ke atas
trek logging, lalu diangkut menuju
pelabuhan, sampai di pelabuhan diangkat lagi dengan katrol, disusun rapi di
atas tanah lapang, didata lalu dikatrol lagi dan disusun rapi di atas kapal
tongkang, ditarik dengan dua kapal di mukanya, dan berlayar ke laut lepas,
diekspor ke negara tujuan.
Sebelum bekerja
di perusahaan pembalak kayu itu Papa Andini merupakan seorang operator yang
mengandalkan penghasilan dengan menerima pesanan pemotongan kayu papan dan
balok dari siapapun yang memesan. Namun, setelah melahirkan anak keduanya, Papa
Andini sudah tidak bisa lagi menerima pesanan lagi. Saat kelahiran Andini, Papa
Andini terpaksa menjual gergaji mesinnya untuk membiayai persalinan sang istri.
Gergaji mesin yang dibeli Papa Andini dari jerih payahnya menabung saat masih
bujang. Gergaji mesin yang dipakai Papa Andini untuk mendulang rupiah demi
rupiah supaya bisa membayar uang panai untuk menikahi Mamanya Andini.
Mulanya,
Papa Andini datang ke Manokwari sebagai perantau biasa pada tahun 1982,
bertepatan dengan kedatangan para transmigran dari Jawa, tapi Papa Andini
datang bukan sebagai transmigran, hanya seorang pemuda yang haus pada
petualangan, merantau untuk mengasah skill,
merasakan hidup di hutan sebagai penebang kayu, operator gergaji mesin yang
sebagian besar masa mudanya dihabiskan di camp-camp
terpal tengah hutan, jauh dari desa, jauh dari keramaian. Papa Andini memulai semua
itu dengan menjadi asisten pamannya. Dari situ ia mulai memilik keterampilan
dan modal sendiri, ia lalu membeli
gergaji mesin sendiri dan bekerja secara mandiri.
Dua tahun
sejak menapakkan kaki di Manokwari, pada 1984 Papa Andini menikah dengan Mama
Andini. Saat abangnya Andini lahir pada tahun 1985, tak ada kendala berarti
meski persalinan dibantu dukun bayi. Namun, pada saat melahiran Andini, Mama
Andini sampai dirawat di puskesmas. Mamannya selamat dan bayinya sehat, pada 31
Maret 1992 bayi Andini lahir ke dunia dengan perjuangan dan pengorbanan.
Mamanya mempertaruhakan jiwa raganya. Papanya, sampai harus menjual benda
kesayangan yang jadi sumber penghasilannya, gergaji mesin yang dibeli dengan
derasnya cucuran keringat selama dua tahun menabung saat masih membujang.
Mama Andini
lahir dari sepasang pedagang Bugis yang datang ke Irian Barat sekitar tahun
1970’an, tahun-tahun dimana Irian Barat masih dalam masa peralihan, tahun-tahun
dimana Manokwari sebagian besar masih dihuni oleh penduduk lokal tak
berpakaian, primitif, dan belum cukup baik dalam mengenal fungsi mata uang
sebagai alat tukar. Pada tahun-tahun itulah Mama Andini muda dengan beberapa
saudaranya diajak ayah dan ibunya hijrah dari Ujung Pandang ke Irian Barat,
datang ke Irian Barat saat belum ada satupun gelombang transmigran Jawa datang.
Mama Andini dipertemukan dengan Papa Andini pertama-tama saat Papa Andini muda
sering disuruh pamannya belanja kebutuhan di kios milik Kakek Andini, kebutuhan
untuk Papa Andini muda beserta pamannya yang hendak ngecamp lama di hutan. Lambat laun cinta terjalin diantara keduanya. Tak
menunggu lama, setelah menebus uang panai, diwakili pamannya, Papa Andini muda
lalu melamar kegadisan Mama Andini.
Tinggal di basecamp, sebetulnya sudah bukan satu
hal yang baru buat Mama Andini dan suami. Saat Mama Andini dan suami masih jadi
pengantin baru, Papan Andini mengajak istrinya berbulan madu ke tengah hutan.
Sambil bekerja, sambil berbulan madu. Ya, hanya Mama Andini dan Papa Andini
yang tahu bagaimana sensasinya hidup berdua di tengah hutan, tinggal di sebuah
gubuk ala kadarnya, gubuk yang mereka tinggali sebagai camp, gubuk yang dinding dan atapnya sekedar dilapisi terpal. Tinggal
dengan persediaan pangan satu hingga dua minggu, bermalam di tengah rimba,
tinggal ditemani suara burung-burung, serangga, babi, rusa, kasuari, kus-kus,
wakera, ular, kodok, kecipak ikan-ikan di kali, nyamuk-nyamuk malaria, dan kesunyian
rimba belantara.
Selama berbulan
madu di tengah keperawanan hutan Irian itu, Papa Andini dan istrinya tak perlu
khawatir kalau tiba-tiba kedatangan penduduk lokal dari tengah hutan, tak
berpakaian, bertombak, atau sekedar menenteng panah dan busurnya. Sebab, tiap
gelondongan kayu yang akan ditebang, lalu dibelah-belah jadi balok atau papan
kayu, ialah pohon kayu besar yang tumbuh di lokasi hak wilayah seorang kepala
suku, dan padanya Papa Andini sudah membayar sejumlah uang untuk harga sebatang
pohon kayu besar itu.
Semenjak abangnya
Andini mulai masuk sekolah, Mama Andini sudah jarang diajak suami ikut
berpetualang dari tengah hutan yang satu ke tengah hutan yang lain. Seringnya
Mama Andini ditinggal di rumah orang tuanya saat suami dinas ke hutan. Begitu pun
saat Andini lahir. Saat belum genap dua tahun usianya, Papa Andini memboyong
keluarganya untuk memulai hidup baru, bekerja sebagai karyawan perusahaan
pembalak kayu. Bulat tekad Papa Andini memulai lembaran hidup baru ini, selain
karena sudah tak ia miliki lagi gergaji mesin kesayangannya dan nampaknya dua
tahun terakhir Papa Andini sudah tak tahan bekerja sebagai kuli bangunan, ikut
bekerja memborong proyek bukanlah jenis keterampilan yang dibangun Papa Andini
sejak ia remaja dulu.
Tinggal di
Kampung Basecamp jelas tujuh puluh kali jauh lebih baik ketimbang hidup nomaden
dari tengah hutan ke tengah hutan yang lain seperti saat Mama Andini dan suami
berbulan madu dulu. Mama Andini langsung betah dengan Kampung Basecamp, Papanya
jangan ditanya lagi, langsung menyatu dengan keadaan. Sedang abangnya Andini
belum bisa ikut ke Bintuni, sebab ia sudah kelas IV SD dan belum ada sekolahan
di Kampung Basecamp. Tapi Andini, nampaknya ia musti menyiapkan banyak waktu
untuk mengakrabi lingkungan barunya yang masih asing ini.
Di rumah nenek,
Andini terbiasa dengan segalanya yang serba ada. Ingin jajan ini apa jajan itu,
nenek langsung menuruti, di kios sudah tersedia semua, nenek memberinya cuma-cuma.
Tapi di basecamp, semua mulai
terbatas. Di rumah nenek, ada abangnya yang momongin Andini adiknya, di basecamp Andini masih harus berharap
semoga dapat ia jumpai kawan baru yang bisa diajak main. Kawan main yang bisa
membantunya mengakrabi dunia baru itu sambil melupakan rumah nenek di Manokwari
sana.
Bayu Irianto
Saat sore tiba,
aku bersama ibu sering menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai di depan
asrama. Aku paling gemar memandangi warna langit sore yang memerah
yang kekuningan, dipadu dengan corak awan yang bergumpal-gumpal, bergumul, dan
berderak berarak. Aku senang melewatkan waktu berlama-lama di bawahnya, sambil
memandangi migrasi ribuan kalelawar dari utara ke selatan, kalelawar-kalelawar
hitam yang menyisir dibawah gundukan-gundukan mega keemasan, kawanan kalelawar
hitam yang kian meyakinkan diriku bahwa di tengah hutanlah kini aku
berada.
Setelah
matahari terbenam, usai shalat maghrib, ibu mengajariku mengaji, sedang ayah
duduk-duduk santai di depan asrama sambil mendengarkan berita di radio. Biar
hidup di tengah hutan, ayah tetap punya hasrat mendengar kabar-kabar terbaru
dari luar sana, perkembangan politik di Jakarta hingga seputar peristiwa dari
penjuru nusantara. Setelah ramai berita soal peritiwa Kudatuli, kini radio
sedang memberitakan peristiwa di Situbondo, kerusuhan antikristen dan
antitionghoa. Ayah serius mendengar berita ini karena Situbondo dekat dengan
Surabaya, tempat kami berasal. Tak lupa ayah akan segera berkirim surat ke
Jawa, memastikan bahwa keluarga di sana baik-baik saja.
Selepas
isya, Ayah mengajakku ikut duduk-duduk santai di depan asrama sambil
mendengarkan radio bersama. Tidak lama ikut mendengarkan berita di radio, ayah
mengajakku ke balai pertemuan kampung untuk menonton televisi bersama warga
kampung. Serial drama Tutur Tinular yang popular karena kisah dan ceritanya
pernah mengudara lewat sandiwara radio itu jadi tontonan film yang paling
dinanti-nanti oleh warga. Serial drama Tutur Tinular merupakan kisah fiksi
tentang dua pemuda kakak beradik putra Empu Hanggareksa, Arya Kamandanu dan
Arya Dwipangga, dengan latar belakang sejarang ruhtuhnya Singhasari dan
berdirinya Kerajaan Majapahit. Film ini memang layak mendapat sambutan
sedemikian santusiasnya oleh masyarakat karena nilai sejarah keperkasaan
satria-satria nusantara yang pernah Berjaya di masanya. Dampak dari populernya
serial drama Tutur Tinular itu, saat di sekolah TK dan ketika ibu guru bertanya
“Besar nanti, cita-citanya mau jadi apa?” Kujawab dengan penuh percaya diri
“Jadi pendekar sakti seperti Arya Kamandanu.”.
Ya, seperti
Arya Kamandanu, seorang pendekar silat yang berjiwa ksatria murni. Tidak
seperti kakaknya Arya Dwipangga yang walau punya kepandaian dalam dunia satra,
mahir sekali menulis puisi, lihai sekali saat bersajak, serta cakap ketika
bersyair. Tapi malah mempergunakan itu semua hanya untuk memperdayai perempuan,
lebih parahnya malah dipakai untuk merebut Nari Ratih dari sisi adik kandungnya
sendiri.
Biasanya,
aku sudah jatuh tertidur saat pemutaran film itu belum selesai. Setelah
menggendongku pulang, ayah kembali menyalakan radionya yang timbul tenggelam
sambil asyik bermain catur dengan kawan dari tetangga sebelah. Jika bermain
catur dengan Papa Andini yang orang bugis, ayah mendengarkan lagu-lagu dangdut.
Tapi jika bermain dengan tetangganya yang orang Tuban, ayah lebih suka
menangkap saluran ludruk campursari, atau wayang kulit. Lagu-lagu semacam itu
memang paling bisa jadi pengobat sakit rindu pada kampung saat nasib diri
sedang terkukung di tengah rimba belantara.
Saat pagi
tiba dan kawanan kalelawar telah kembali ke utara dengan perut kenyang, ayah
membangunkanku dan memikulku ke kali besar belakang asrama untuk mandi,
sementara ibu menyiapkan sarapan. Setelah ayah berangkat ke tempat kerja dan
aku sudah duduk dengan manis di bangku sekolah TK Nol Kecil, tinggallah ibu
sendiri di asrama, bersih-bersih rumah sambil menungguku pulang. Tak perlu
dijemput, aku dan sahabat kecilku Andini sudah terbiasa pulang-pergi sekolah
bersama dan lagipula sekolah TK Tunas Bangsa itu hanya berjarak kurang dari
seratus langkah dari barak tempat kami tinggal.
Selepas
tidur siang, waktu soreku biasa kuhabiskan dengan bermain berdua di halaman
depan asrama bersama Andini. Kadang main gateng, kadang main engklek, kadang
kejar-kejaran, kadang malah main sandiwara-sandiwaraan, aku jadi Arya Kamandanu
dan Andini jadi Nari Ratih, kami main rumah-rumahan dan masak-masakan. Andini
memasak di dapur dan aku berburu belalang dengan rotan sambil membasmi
penjahat. Jika kutemu sebongkah belukar dan itu kuimajinasikan sebagai
perwujudan dari kakang Arya Dwipangga, lekas kubabat habis belukar itu dengan
rotan, sebelum mulutnya melantunkan rayuan-rayuan maut, membunyikan syair-syair
indah penuh gombalan untuk merenggutt Nari Ratih dari sisiku. “Mampus kau
Kakang Dwipangga!!”
***
Di Kampung Basecamp, aku dan
Andini bukanlah satu-satunya anak kecil yang ikut tinggal bersama orang tuanya
di sini. Para karyawan di perusaan ini terdiri dari banyak suku. Ada Jawa,
Bugis, Sunda, Bugis, Buton, Timur, Ambon, sampai masyarakat asli Irian juga
ada. Begitu pula keragaman teman-teman
di sekolah TK Tunas Bangsa. Teman-teman di sekolah itu ada yang lugu ada pula
yang nakal, ada yang cengeng ada pula yang bandel, ada yang berbadan besar
gemuk ada pula yang bertubuh kurus kecil. Celakanya yang nakal, bandel, dan
berbadan besar itu telah bergumul menjadi satu geng dan berlagak sok seperti
preman. Sehingga yang lugu, cengeng, dan kurus kecil kerap jadi kobannya.
Saat itu aku
berada di tengah-tengan, tidak masuk ke dalam dua kelompok itu. Tapi Andini
yang perempuan ada di pihak yang lemah. Jika datang musim karet sering dipalak
karet di pergelangan tangannya. Jika musim kelereng Andini aman karena
perempuan tidak main kelereng. Suatu kali mereka melakukan tindakan premanisme usia
dini itu saat aku sedang mengawani Andini membuka tutup tuperware berisi bekal
makanannya. Itu hanya beberapa potong donat buatan mamanya. Dengan kasar si
gendut merampas donat-donat itu. Melihat Andini mengusap-usap matanya yang
mulai memerah sontak emosiku pun tersulut. Tak pikir panjang lansung
kulayangkan bogem mentah ke muka si gendut itu. Tak memberinya jeda untuk
membela diri kemudian kususul dengan tendangan yang tepat mengarah ke batang
kemaluannya, tapi ternyata malah dua butir telur dibawahnya yang jadi sasaran.
Bocah nakal itu ambruk dengan mulut menganga sambil memuntahkan donat yang
belum sempat ditelannya.
Setelah
kejadian itu, orang tuaku dan orang tua si gendut dipanggil ke kantor. Orang
tuaku dan orang tua si gendut maklum dengan kejadian ini. Mengingat kami masih
anak-anak dan hal seperti ini lumrah terjadi. Di sekolah aku hanya mendapat
hukuman menulis angka 1 – 10 sebanyak lima lembar kertas folio F4. Sampai rumah
giliran ibu dan ayah yang menceramahi aku dengan bentakan dan ancaman-ancaman.
Mewanti-wanti jangan sampai aku mengulangi kejadian itu lagi. Tapi aku tetap
berdalih, si gendut itu anak nakal yang perlu diberi pelajaran, tapi kedua
orang tua ku tetap saja memojokkanku.
Hari-hari
berikutnya anak-anak nakal dengan si gendut sebagai kepala geng itu tidak lagi
berani mengganggu kami berdua. Terjadi jarak antara si gendut denganku dan
Andini, dan itu berkah buat kami. Kejadian itu membuatku dikucilkan dari
pergaulan. Si gendut itu memang pandai mencari kawan dengan menghasut. Tapi aku
tak peduli, aku cukup bahagia berkawan biar hanya dengan Andini seorang. Berkah
kejadian itu hubungan persahabatanku dengan Andini makin terjalin erat. Saking
eratnya jalinan komunikasiku dan Andini bahkan tak pernah terputus dari pagi
bangun tidur sampai malam jelang tidur.
Asrama kami
yang bersebelahan telah kami manfaatkan dengan sebaik mungkin, kami punya alat
komunikasi khusus, telephone yang
terbuat dari botol yang dilobangin ujung-ujungnya, satu ujung yang bolong
ditutup dengan plastik, diikat dengan karet gelang, plastik itu dilobangi
tengahnya, dimasukkan benang, ujung-ujung benang itu diikatkan pada sebatang
korak kayu yang dipatah menjadi dua. Benang itu akan menghubungkan telephone dari botol dan plastik itu
dari kamar ku dan kamar Andini. Kamarku dan kamar Andini hanya dibatasi selapis
tembok papan, benang itu tak panjang, hanya satu meter saja. Benang itu menembus
tembok papan yang ada lobangnya. Jika ingin menelpon tak perlu ada nada dering,
cukup ditarik-tarik benangnya. Sebetulnya dengan pembatas berupa tembok papan
cukup teriak saja dengar. Tak perlu telephone
kaleng ini. Tapi dengan adanya telephone
itu bicara bisa jadi lebih lirih, komunikasi lebih bersensasi, jadi ada
privasi, dan keakraban jadi terjalin lebih erat.
Setelah
mempraktekkan ilmu baru yang diajarkan ibu guru di Sekolah TK Tunas Bangsa itu,
tiap malam aku tak lagi pernah tertidur di balai pertemuan saat menonton film
Tutur Tinular bersama ayah. Seringnya aku tertidur tanpa sadar saat tengah
mengobrol bersama Andini lewat telephone kaleng itu. Kami mengobrolkan apa
saja. Saat tadi di sekolah, soal besok bagaimana di sekolah, rencana main apa
dan dimana setelah pulang sekolah, bersama menyanyikan lagu anak-anak yang
diajarkan di sekolah, bersama melafalkan bacaan shalat dan surah-surah pendek.
Begitu terus tiap malam jelang tidur, begitu terus sampai telephone itu rusak,
putus benangnya, rantas karet pengikatnya, dan kami tidak ada upaya untuk memperbaikinya
karena sudah bosan dengan benda itu. (Ali Ridwan, 07/01/20)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar