Senin, 24 Januari 2022

Kampung Basecamp Teluk Bintuni (Cerpen: Manusia Perambah Hutan Part 2)

 Andini Putri

Awal mula kedatangan keluarga Andini di Kampung Basecamp ketika Papa Andini diterima bekerja sebagai operator gergaji mesin di perusahaan pembalakan kayu itu. Tugas dan tanggung jawab Papa Andini itu sebagai ujung tombak perusahaan, kerjanya mengeksekusi pohon-pohon besar yang sudah ditandai dan siap ditebang, lalu dipotong sesuai ukuran, sebelum ditarik sebuah mesin penarik, mesin itu berada di bagian belakang doser. Kayu gelondongan itu dililit dengan seling besar, ditarik sampai di tempat lapang, dari tempat itu alat berat dengan capit kepiting raksasa dimukanya mengapit gelondongan kayu itu, diangkatnya ke atas trek logging, lalu diangkut menuju pelabuhan, sampai di pelabuhan diangkat lagi dengan katrol, disusun rapi di atas tanah lapang, didata lalu dikatrol lagi dan disusun rapi di atas kapal tongkang, ditarik dengan dua kapal di mukanya, dan berlayar ke laut lepas, diekspor ke negara tujuan.

Sebelum bekerja di perusahaan pembalak kayu itu Papa Andini merupakan seorang operator yang mengandalkan penghasilan dengan menerima pesanan pemotongan kayu papan dan balok dari siapapun yang memesan. Namun, setelah melahirkan anak keduanya, Papa Andini sudah tidak bisa lagi menerima pesanan lagi. Saat kelahiran Andini, Papa Andini terpaksa menjual gergaji mesinnya untuk membiayai persalinan sang istri. Gergaji mesin yang dibeli Papa Andini dari jerih payahnya menabung saat masih bujang. Gergaji mesin yang dipakai Papa Andini untuk mendulang rupiah demi rupiah supaya bisa membayar uang panai untuk menikahi Mamanya Andini.

Mulanya, Papa Andini datang ke Manokwari sebagai perantau biasa pada tahun 1982, bertepatan dengan kedatangan para transmigran dari Jawa, tapi Papa Andini datang bukan sebagai transmigran, hanya seorang pemuda yang haus pada petualangan, merantau untuk mengasah skill, merasakan hidup di hutan sebagai penebang kayu, operator gergaji mesin yang sebagian besar masa mudanya dihabiskan di camp-camp terpal tengah hutan, jauh dari desa, jauh dari keramaian. Papa Andini memulai semua itu dengan menjadi asisten pamannya. Dari situ ia mulai memilik keterampilan dan modal sendiri,  ia lalu membeli gergaji mesin sendiri dan bekerja secara mandiri.

Dua tahun sejak menapakkan kaki di Manokwari, pada 1984 Papa Andini menikah dengan Mama Andini. Saat abangnya Andini lahir pada tahun 1985, tak ada kendala berarti meski persalinan dibantu dukun bayi. Namun, pada saat melahiran Andini, Mama Andini sampai dirawat di puskesmas. Mamannya selamat dan bayinya sehat, pada 31 Maret 1992 bayi Andini lahir ke dunia dengan perjuangan dan pengorbanan. Mamanya mempertaruhakan jiwa raganya. Papanya, sampai harus menjual benda kesayangan yang jadi sumber penghasilannya, gergaji mesin yang dibeli dengan derasnya cucuran keringat selama dua tahun menabung saat masih membujang.

Mama Andini lahir dari sepasang pedagang Bugis yang datang ke Irian Barat sekitar tahun 1970’an, tahun-tahun dimana Irian Barat masih dalam masa peralihan, tahun-tahun dimana Manokwari sebagian besar masih dihuni oleh penduduk lokal tak berpakaian, primitif, dan belum cukup baik dalam mengenal fungsi mata uang sebagai alat tukar. Pada tahun-tahun itulah Mama Andini muda dengan beberapa saudaranya diajak ayah dan ibunya hijrah dari Ujung Pandang ke Irian Barat, datang ke Irian Barat saat belum ada satupun gelombang transmigran Jawa datang. Mama Andini dipertemukan dengan Papa Andini pertama-tama saat Papa Andini muda sering disuruh pamannya belanja kebutuhan di kios milik Kakek Andini, kebutuhan untuk Papa Andini muda beserta pamannya yang hendak ngecamp lama di hutan. Lambat laun cinta terjalin diantara keduanya. Tak menunggu lama, setelah menebus uang panai, diwakili pamannya, Papa Andini muda lalu melamar kegadisan Mama Andini.

Tinggal di basecamp, sebetulnya sudah bukan satu hal yang baru buat Mama Andini dan suami. Saat Mama Andini dan suami masih jadi pengantin baru, Papan Andini mengajak istrinya berbulan madu ke tengah hutan. Sambil bekerja, sambil berbulan madu. Ya, hanya Mama Andini dan Papa Andini yang tahu bagaimana sensasinya hidup berdua di tengah hutan, tinggal di sebuah gubuk ala kadarnya, gubuk yang mereka tinggali sebagai camp, gubuk yang dinding dan atapnya sekedar dilapisi terpal. Tinggal dengan persediaan pangan satu hingga dua minggu, bermalam di tengah rimba, tinggal ditemani suara burung-burung, serangga, babi, rusa, kasuari, kus-kus, wakera, ular, kodok, kecipak ikan-ikan di kali, nyamuk-nyamuk malaria, dan kesunyian rimba belantara.

Selama berbulan madu di tengah keperawanan hutan Irian itu, Papa Andini dan istrinya tak perlu khawatir kalau tiba-tiba kedatangan penduduk lokal dari tengah hutan, tak berpakaian, bertombak, atau sekedar menenteng panah dan busurnya. Sebab, tiap gelondongan kayu yang akan ditebang, lalu dibelah-belah jadi balok atau papan kayu, ialah pohon kayu besar yang tumbuh di lokasi hak wilayah seorang kepala suku, dan padanya Papa Andini sudah membayar sejumlah uang untuk harga sebatang pohon kayu besar itu.  

Semenjak abangnya Andini mulai masuk sekolah, Mama Andini sudah jarang diajak suami ikut berpetualang dari tengah hutan yang satu ke tengah hutan yang lain. Seringnya Mama Andini ditinggal di rumah orang tuanya saat suami dinas ke hutan. Begitu pun saat Andini lahir. Saat belum genap dua tahun usianya, Papa Andini memboyong keluarganya untuk memulai hidup baru, bekerja sebagai karyawan perusahaan pembalak kayu. Bulat tekad Papa Andini memulai lembaran hidup baru ini, selain karena sudah tak ia miliki lagi gergaji mesin kesayangannya dan nampaknya dua tahun terakhir Papa Andini sudah tak tahan bekerja sebagai kuli bangunan, ikut bekerja memborong proyek bukanlah jenis keterampilan yang dibangun Papa Andini sejak ia remaja dulu.

Tinggal di Kampung Basecamp jelas tujuh puluh kali jauh lebih baik ketimbang hidup nomaden dari tengah hutan ke tengah hutan yang lain seperti saat Mama Andini dan suami berbulan madu dulu. Mama Andini langsung betah dengan Kampung Basecamp, Papanya jangan ditanya lagi, langsung menyatu dengan keadaan. Sedang abangnya Andini belum bisa ikut ke Bintuni, sebab ia sudah kelas IV SD dan belum ada sekolahan di Kampung Basecamp. Tapi Andini, nampaknya ia musti menyiapkan banyak waktu untuk mengakrabi lingkungan barunya yang masih asing ini.

Di rumah nenek, Andini terbiasa dengan segalanya yang serba ada. Ingin jajan ini apa jajan itu, nenek langsung menuruti, di kios sudah tersedia semua, nenek memberinya cuma-cuma. Tapi di basecamp, semua mulai terbatas. Di rumah nenek, ada abangnya yang momongin Andini adiknya, di basecamp Andini masih harus berharap semoga dapat ia jumpai kawan baru yang bisa diajak main. Kawan main yang bisa membantunya mengakrabi dunia baru itu sambil melupakan rumah nenek di Manokwari sana.

 

Bayu Irianto

Saat sore tiba, aku bersama ibu sering menghabiskan waktu dengan duduk-duduk santai di depan asrama. Aku paling gemar memandangi warna langit sore yang memerah yang kekuningan, dipadu dengan corak awan yang bergumpal-gumpal, bergumul, dan berderak berarak. Aku senang melewatkan waktu berlama-lama di bawahnya, sambil memandangi migrasi ribuan kalelawar dari utara ke selatan, kalelawar-kalelawar hitam yang menyisir dibawah gundukan-gundukan mega keemasan, kawanan kalelawar hitam yang kian meyakinkan diriku bahwa di tengah hutanlah kini aku berada. 

Setelah matahari terbenam, usai shalat maghrib, ibu mengajariku mengaji, sedang ayah duduk-duduk santai di depan asrama sambil mendengarkan berita di radio. Biar hidup di tengah hutan, ayah tetap punya hasrat mendengar kabar-kabar terbaru dari luar sana, perkembangan politik di Jakarta hingga seputar peristiwa dari penjuru nusantara. Setelah ramai berita soal peritiwa Kudatuli, kini radio sedang memberitakan peristiwa di Situbondo, kerusuhan antikristen dan antitionghoa. Ayah serius mendengar berita ini karena Situbondo dekat dengan Surabaya, tempat kami berasal. Tak lupa ayah akan segera berkirim surat ke Jawa, memastikan bahwa keluarga di sana baik-baik saja.

Selepas isya, Ayah mengajakku ikut duduk-duduk santai di depan asrama sambil mendengarkan radio bersama. Tidak lama ikut mendengarkan berita di radio, ayah mengajakku ke balai pertemuan kampung untuk menonton televisi bersama warga kampung. Serial drama Tutur Tinular yang popular karena kisah dan ceritanya pernah mengudara lewat sandiwara radio itu jadi tontonan film yang paling dinanti-nanti oleh warga. Serial drama Tutur Tinular merupakan kisah fiksi tentang dua pemuda kakak beradik putra Empu Hanggareksa, Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga, dengan latar belakang sejarang ruhtuhnya Singhasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Film ini memang layak mendapat sambutan sedemikian santusiasnya oleh masyarakat karena nilai sejarah keperkasaan satria-satria nusantara yang pernah Berjaya di masanya. Dampak dari populernya serial drama Tutur Tinular itu, saat di sekolah TK dan ketika ibu guru bertanya “Besar nanti, cita-citanya mau jadi apa?” Kujawab dengan penuh percaya diri “Jadi pendekar sakti seperti Arya Kamandanu.”.

Ya, seperti Arya Kamandanu, seorang pendekar silat yang berjiwa ksatria murni. Tidak seperti kakaknya Arya Dwipangga yang walau punya kepandaian dalam dunia satra, mahir sekali menulis puisi, lihai sekali saat bersajak, serta cakap ketika bersyair. Tapi malah mempergunakan itu semua hanya untuk memperdayai perempuan, lebih parahnya malah dipakai untuk merebut Nari Ratih dari sisi adik kandungnya sendiri.

Biasanya, aku sudah jatuh tertidur saat pemutaran film itu belum selesai. Setelah menggendongku pulang, ayah kembali menyalakan radionya yang timbul tenggelam sambil asyik bermain catur dengan kawan dari tetangga sebelah. Jika bermain catur dengan Papa Andini yang orang bugis, ayah mendengarkan lagu-lagu dangdut. Tapi jika bermain dengan tetangganya yang orang Tuban, ayah lebih suka menangkap saluran ludruk campursari, atau wayang kulit. Lagu-lagu semacam itu memang paling bisa jadi pengobat sakit rindu pada kampung saat nasib diri sedang terkukung di tengah rimba belantara.

Saat pagi tiba dan kawanan kalelawar telah kembali ke utara dengan perut kenyang, ayah membangunkanku dan memikulku ke kali besar belakang asrama untuk mandi, sementara ibu menyiapkan sarapan. Setelah ayah berangkat ke tempat kerja dan aku sudah duduk dengan manis di bangku sekolah TK Nol Kecil, tinggallah ibu sendiri di asrama, bersih-bersih rumah sambil menungguku pulang. Tak perlu dijemput, aku dan sahabat kecilku Andini sudah terbiasa pulang-pergi sekolah bersama dan lagipula sekolah TK Tunas Bangsa itu hanya berjarak kurang dari seratus langkah dari barak tempat kami tinggal.

Selepas tidur siang, waktu soreku biasa kuhabiskan dengan bermain berdua di halaman depan asrama bersama Andini. Kadang main gateng, kadang main engklek, kadang kejar-kejaran, kadang malah main sandiwara-sandiwaraan, aku jadi Arya Kamandanu dan Andini jadi Nari Ratih, kami main rumah-rumahan dan masak-masakan. Andini memasak di dapur dan aku berburu belalang dengan rotan sambil membasmi penjahat. Jika kutemu sebongkah belukar dan itu kuimajinasikan sebagai perwujudan dari kakang Arya Dwipangga, lekas kubabat habis belukar itu dengan rotan, sebelum mulutnya melantunkan rayuan-rayuan maut, membunyikan syair-syair indah penuh gombalan untuk merenggutt Nari Ratih dari sisiku. “Mampus kau Kakang Dwipangga!!”

***

Di Kampung Basecamp, aku dan Andini bukanlah satu-satunya anak kecil yang ikut tinggal bersama orang tuanya di sini. Para karyawan di perusaan ini terdiri dari banyak suku. Ada Jawa, Bugis, Sunda, Bugis, Buton, Timur, Ambon, sampai masyarakat asli Irian juga ada.  Begitu pula keragaman teman-teman di sekolah TK Tunas Bangsa. Teman-teman di sekolah itu ada yang lugu ada pula yang nakal, ada yang cengeng ada pula yang bandel, ada yang berbadan besar gemuk ada pula yang bertubuh kurus kecil. Celakanya yang nakal, bandel, dan berbadan besar itu telah bergumul menjadi satu geng dan berlagak sok seperti preman. Sehingga yang lugu, cengeng, dan kurus kecil kerap jadi kobannya.

Saat itu aku berada di tengah-tengan, tidak masuk ke dalam dua kelompok itu. Tapi Andini yang perempuan ada di pihak yang lemah. Jika datang musim karet sering dipalak karet di pergelangan tangannya. Jika musim kelereng Andini aman karena perempuan tidak main kelereng. Suatu kali mereka melakukan tindakan premanisme usia dini itu saat aku sedang mengawani Andini membuka tutup tuperware berisi bekal makanannya. Itu hanya beberapa potong donat buatan mamanya. Dengan kasar si gendut merampas donat-donat itu. Melihat Andini mengusap-usap matanya yang mulai memerah sontak emosiku pun tersulut. Tak pikir panjang lansung kulayangkan bogem mentah ke muka si gendut itu. Tak memberinya jeda untuk membela diri kemudian kususul dengan tendangan yang tepat mengarah ke batang kemaluannya, tapi ternyata malah dua butir telur dibawahnya yang jadi sasaran. Bocah nakal itu ambruk dengan mulut menganga sambil memuntahkan donat yang belum sempat ditelannya.

Setelah kejadian itu, orang tuaku dan orang tua si gendut dipanggil ke kantor. Orang tuaku dan orang tua si gendut maklum dengan kejadian ini. Mengingat kami masih anak-anak dan hal seperti ini lumrah terjadi. Di sekolah aku hanya mendapat hukuman menulis angka 1 – 10 sebanyak lima lembar kertas folio F4. Sampai rumah giliran ibu dan ayah yang menceramahi aku dengan bentakan dan ancaman-ancaman. Mewanti-wanti jangan sampai aku mengulangi kejadian itu lagi. Tapi aku tetap berdalih, si gendut itu anak nakal yang perlu diberi pelajaran, tapi kedua orang tua ku tetap saja memojokkanku.

Hari-hari berikutnya anak-anak nakal dengan si gendut sebagai kepala geng itu tidak lagi berani mengganggu kami berdua. Terjadi jarak antara si gendut denganku dan Andini, dan itu berkah buat kami. Kejadian itu membuatku dikucilkan dari pergaulan. Si gendut itu memang pandai mencari kawan dengan menghasut. Tapi aku tak peduli, aku cukup bahagia berkawan biar hanya dengan Andini seorang. Berkah kejadian itu hubungan persahabatanku dengan Andini makin terjalin erat. Saking eratnya jalinan komunikasiku dan Andini bahkan tak pernah terputus dari pagi bangun tidur sampai malam jelang tidur.

Asrama kami yang bersebelahan telah kami manfaatkan dengan sebaik mungkin, kami punya alat komunikasi khusus, telephone yang terbuat dari botol yang dilobangin ujung-ujungnya, satu ujung yang bolong ditutup dengan plastik, diikat dengan karet gelang, plastik itu dilobangi tengahnya, dimasukkan benang, ujung-ujung benang itu diikatkan pada sebatang korak kayu yang dipatah menjadi dua. Benang itu akan menghubungkan telephone dari botol dan plastik itu dari kamar ku dan kamar Andini. Kamarku dan kamar Andini hanya dibatasi selapis tembok papan, benang itu tak panjang, hanya satu meter saja. Benang itu menembus tembok papan yang ada lobangnya. Jika ingin menelpon tak perlu ada nada dering, cukup ditarik-tarik benangnya. Sebetulnya dengan pembatas berupa tembok papan cukup teriak saja dengar. Tak perlu telephone kaleng ini. Tapi dengan adanya telephone itu bicara bisa jadi lebih lirih, komunikasi lebih bersensasi, jadi ada privasi, dan keakraban jadi terjalin lebih erat.

Setelah mempraktekkan ilmu baru yang diajarkan ibu guru di Sekolah TK Tunas Bangsa itu, tiap malam aku tak lagi pernah tertidur di balai pertemuan saat menonton film Tutur Tinular bersama ayah. Seringnya aku tertidur tanpa sadar saat tengah mengobrol bersama Andini lewat telephone kaleng itu. Kami mengobrolkan apa saja. Saat tadi di sekolah, soal besok bagaimana di sekolah, rencana main apa dan dimana setelah pulang sekolah, bersama menyanyikan lagu anak-anak yang diajarkan di sekolah, bersama melafalkan bacaan shalat dan surah-surah pendek. Begitu terus tiap malam jelang tidur, begitu terus sampai telephone itu rusak, putus benangnya, rantas karet pengikatnya, dan kami tidak ada upaya untuk memperbaikinya karena sudah bosan dengan benda itu. (Ali Ridwan, 07/01/20) 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar