Andini Putri
Berada di pedalaman, lebih pedalaman lagi
dari desa-desa sekitar Bintuni, tapi kesejahteraan
hidup
di Kampung Basecamp boleh
dibilang bagus dibanding
desa-desa transmigrans itu.
Di basecamp ada penerangan listrik
dari generator perusahaan, sementara orang-orang desa itu masih hidup dengan lampu ublik pada malam hari,
desa-desa itu terlihat terang
saat ada yang menyalakan lampu patromak. Seringnya lampu berbahan bakar minyak tanah ini
dinyalakan bila ada hajatan-hajatan kecil semacam tahlilan, kenduri, dan
semacamnya. Untuk kebutuhan sayuran para transmigrans itu mendapatkan bantuan
benih, pupuk, dan seperangkat alat pertanian. Sayur-sayuran harus mereka tanam
sendiri, ikan harus mereka tangkap sendiri, ayam dan telur harus mereka ternak
sendiri. Fungsi daripada program transmigrasi perambah huta, mengembangkan
lahan-lahan potensial dengan mengerahkan masyarakat petani, nelayan, dan
peternak dari daerah padat penduduk ke daerah yang masih lowong.
Lain
di desa-desa transmigrans lain pula kami di Kampung Basecamp. Dalam
kesehariannya, untuk pekerja seperti ayah disediakan kantin besar pada jam
makan siang dan makan malam oleh perusahaan, untuk keluarga pekerja yang ikut
tinggal di basecamp oleh perusahaan
disediakan pasar murah, pasar kecil itu menjual kebutuhan pokok, rempah-rempah,
hingga bahan sayuran yang tahan lama seperti kentang dan wortel, beberapa
pekerja kapal juga ada yang menyelipkan berbagai jenis dan ukuran busana, juga
perabotan rumah tangga. Semua kebutuhan rumah tangga itu didatangkan langsung
dari Jawa, dibawa saat kapal-kapal penarik tongkang berlayar kembali memasuki
daerah teluk dengan menyusuri rawa-rawa sebelum sampai di pelabuhan kecil
tengah hutan ini. Sayur-sayuran segar baru diangkut saat kapal sandar di
Pelabuhan Sorong, di sini perusahaan mengepul sayuran segar dari petani-petani yang
sudah lama hidup di Sorong, petani-petani itu datang ke Sorong lewat program
transmigrasi di awal tahun 1980’an. Transmigrasi periode pertama di Tanah
Irian.
Biar
hidup terisolir di pedalaman Irian tapi suplai makanan dan kebutuhan hidup
karyawan basecamp terjamin dengan
murah dan melimpah. Bila bosan dengan sayuran dari Sorong, kadang seminggu
sekali ada saja pedagang sayur dari desa transmigrans yang lokasinya paling
dekat dengan basecamp menjajakan
sayurnya ke asrama-asrama di Kampung Basecamp. Pedagang sayur itu menjajakan
sayur setelah mengayuh sepeda dengan keranjang besar di belakang sepedanya,
menaiki dan menuruni jalanan bergunung gemunung yang dihampar koral seadanya,
bila hujan jadi becek dan bila panas jadi berdebu, 20 kilometer jarak yang musti
ditempuh. Wajar, bila harga sayur segar dari pedagang keliling itu harganya
lebih mahal. Biar mahal, tapi masih segar-segar.
Siang
itu Mama Andini belanja sayur dari pedagang keliling dari desa untuk dimasak
esok hari, dimasak saat hari masih gelap. Sebab, pagi itu
perkumpulan majelis ta’lim ibu-ibu di Kampung Basecamp sudah harus berkumpul di
depan masjid, menunggu mobil dump truck
untuk mengahadiri undangan PHBI (Panitia Hari Besar Islam) tingkat kecamatan
yang akan mengadakan istighosan dan dzikir bersama di masjid Al Munawarrah
Bintuni. Ini tergolong acara langka, hanya sekali setahun. Itu jadi kabar
gembira buat Andini dan Bayu yang jarang main ke Kota Kecamatan. Jadilah acara istighosah dan dzikir bersama
itu semacam liburan ke tempat jauh nan menyenangkan. Pagi itu rombongan dari basecamp berkisar tiga puluhan orang
diangkut dengan mobil truk besar bak terbuka. Susah payah ibu-ibu majelis
ta’lim menaiki kendaran besar beroda sepuluh itu. Pak sopir harus membawa
tangga-tangga untuk naik turun penumpang yang kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak.
Masjid Al
Munawarrah Bintuni letaknya sekitar seratus meter dari Pasar Pelabuhan,
sementara Pasar Pelabuhan itu tepat di depan Pelabuhan Bintuni. Pelabuhan yang
pada hari itu membuat nostalgia Mama Andini saat pertama turun dari kapal dan
Papa Andini harus berkejaran dengan putri kecilnya. Siang itu setelah
istighosah dan dzikir bersama selesai, rombongan dari basecamp banyak yang jajan makanan di dekat pelabuhan sebelum
berbelanja ke Pasar Pelabuhan. Anak-anak macam Andini dan Bayu tentu senang
karena selain suka diajak makan di warung bakso dan es teller, mereka juga
dibelanjakan baju dan celana baru seperti saat jelang hari raya idul fitri. Selain
baju Andini sama mamanya dibelanjakan boneka dan Bayu oleh ibuku dibelikan
sebuah bola kaki. Tenang-tenang anak-anak itu menunggui ibu-ibunya belanja di
pasar Sembako. Di pasar sembako Mama Andini menyambangi seorang mama-mama Irian
yang berjualan di pinggiran pasar. Mama-mama irian itu menggelar dagangannya
melantai di emperan pasar. Ada singkong dan keladi yang ditumpuk-tumpuk,
kembang papaya, daun singkong, dan jantung pisang.
“Singkong
satu tumpuk ini berapa Mama?” Tanya Mama Andini
“Satu tumpuk
begini lima ratus rupiah. Mari-mari. Barang baru ambil dari kebun. Segar-segar
ini”
“Saya beli
lima ratus saja Mama..” Mama Andini lalu membayar dengan selembar uang lima
ratus rupiah bergambar orang utan. Mama-mama Irian itu lalu memasukkan satu
tumpuk singkong ke dalam kantung pelastik.
“Kalau
keladi ini harga berapa mama?”
“Sama dengan
singkong. Satu tumpuk lima ratus rupiah?”
“Saya beli
satu mama..” Mama Andini lalu membeli lima lembar uang seratus rupiah warna
merah bergambar perahu.
Mama-mama
Irian itu lalu memberikan setumpuk keladi yang sudah dimasukkan ke dalam
pelastik. Setelah menerima lima lembaran uang seratus rupiah itu pedagang lokal
itu buru-buru membungkus empat tumpuk lagi ke dalam plastik untuk diberikan
kepada Mama Andini.
“Mama, saya
beli satu tumpuk saja. Kenapa kasih banyak sekali..”
“Ini uang
lima lembar tooo. Jadi dapat lima tumpuk..”
Mama Andini
lantas terdiam. Ia membatin. Ternyata pedagang lokal di itu belum mengenal
nominal uang dengan baik. Mengingat bahwa kedua orang tuanya juga adalah
seorang pedagang. Perantau bugis yang berdagang di Manokwari, dan ia besar di
lingkungan yang sebagian besarnya juga masyarakat irian asli. Ingin rasanya ia
memberi penjelasan tentang nilai mata uang rupiah itu. Namun, hari keburu sore
sedang ia sudah sudah diteriaki berkali-kali oleh ibunya Bayu. “Mama Andini, rombongan sudah menunggu.
Tinggal kita berdua saja yang belum kembali ini”
Tanpa pikir
panjang Mama Andini lalu meminta tukar uang kepada Mama-mama Irian itu. Ia
meminta kembali lima lembar uang seratus rupiah itu lalu ia ganti dengan lima
lemba uang lima ratusan. “Mama, satu uang warna hijau begini itu sama dengan
lima uang merah begini. Jadi harusnya tadi kalau saya beli pakai lima uang
merah harusnya dapat satu tumpuk saja”
“Ohhh..
Iyooo.. iyooo… iyooo.. Terimakasih ee”
Cerita Mama
Andini di pasar tempo hari cepat merambat dari satu mulut ke mulut yang lain.
Namun, karena tidak semua manusia memiliki kebaikan hati seperti Mama Andini,
khawatirnya ada manusia tak beradab, krisis moral, dan tidak punya etika yang justru
memanfaatkan keadaan itu untuk mengeruk keuntungan untuk kepentingannya
sendiri.
Hal yang
dikhawatirkan itu kemudian terjadi. Tidak kepada mama-mama Irian penjual keladi
di pinggiran pasar, tapi kepada bapa kepala suku yang nampaknya juga belum
mengenal nominal mata uang dengan baik. Seorang pedagang bugis, kawannya Papa
Andini membeli berhektar-hektar tanah dari bapa kepala suku itu tidak dengan
kesepakan bilangan nominal mata uang yang disebutkan, melainkan dengan langsung
membawa berkantung-kantung uang ratusan rupiah yang bila jumlahnya disamakan
dengan uang lima puluh ribuan masih cukup bila dimasukkan ke dalam dompet.
Tanah
masyarakat lokal Irian yang dijual murah meriah itu sedikit menarik minat Papa
Andini juga Ayahnya Bayu. Meski krisis
ekonomi yang melanda dunia dan Indonesia tak begitu berdampak di pedalaman
Irian. Tapi maraknya berita huru-hara di radio-radio dan
televise-televisi. Belum lagi gonjang-ganjing penghentian aktivitas pembalakan
kayu tempatnya bekerja. Itu artinya banyak karyawan perusahaan bisa saja
mendapat ancaman PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sewaktu-waktu. Dari itu tidak
sedikit karyawan perusahaan mulai berburu lahan, jaga-jaga kalau perusahaan pembalak
kayu itu benar berhenti beroperasi dan melakukan efisiensi dengan pengurangan
karyawan.
Cerita
kawannya Papa Andini mengakali seorang kepala suku yang belum tahu betul cara
menghitung uang itu sedikit banyak mengisnpurasinya juga. Tapi Papa Andini tak
sampai hati memberikan penawaran sekejam kawannya tadi. Jika Papa Andini gencar
berburu tanah di kawasan Kota Kecamatan dari masyarakat asli Irian, ayahnya
Bayu lebih memilih mencari lahan penduduk transmigran dari Jawa yang tidak
betah tinggal di pedalaman Irian.
Untuk
mengklaim kalau tanah itu sudah menjadi miliknya, selain mengurus surat-surat
yang diperlukan Papa Andini langsung menanami perkarangannya dengan berbagai
tanaman. Entah itu pisang, kakao, singkong, rambutan, sampai durian. Bila tidak
demikian tanah yang sudah dibeli itu rawan diklaim kembali oleh kepala suku
yang menjualnya tadi. Sementara ayahnya
Bayu yang membeli tanah dari lahan milik warga transmigrans tidak perlu
melakukan itu. Cukut sertifikat tanah dan surat bukti jual beli, ditanami atau
tidak tanah perkarangan ataupun lahan usaha itu sudah pasti akan tetap menjadi
milik si pembeli tanpa ada yang bisa mengklaimnya kembali.
Bayu Irianto
Juni 1998, aku dan Andini yang
baru tamat dari sekolah TK Tunas Bangsa dan sedang senang-senangnya sehabis
dibelanjakan seragam sekolah putih merah. Sebulan lagi kami akan bersekolah di
SD Perintis Kampung Basecamp. SD tempat kami bersekolah hanyalah sebuah ruang
kosong di sebuah barak yang tidak lagi dihuni oleh keluarga karyawan. Guru kami
hanya beberapa istri karyawan dengan latar belakang pendidikan rata-rata
lulusan SMA. Mereka digaji lewat uang SPP dan sedikit bantuan dari anggaran
perusahaan. Sederhana sekali sekolah itu, namanya saja SD Perintis. Maklum,
Kampung Basecamp bukan desa yang dibangun pemerintah, maka tidak jadi
prioritas. Beda dengan desa-desa transmigrasi itu, beda dengan kampung-kampung
di kota kecamatan sana, gelar SD Inpres sudah pasti tersemat di depan nama
sekolah dasar itu.
Bulan Juni
bulannya anak-anak libur sekolah. Dan, tahun 1998 ialah tahun terselenggaranya
ajang empat tahunan, turnamen sepak bola kasta tertinggi dunia, piala dunia
edisi ke 16 yang diselenggarakan di Perancis. Jadilah aula Kampung Basecamp
tempat nonton bersama karyawan perusahaan.
“Gooolllll……!!!”
Aula Basecamp itu bergetar hebat untuk pertama kalinya saat Cesar Sampaio,
gelandang Brazil membobol gawang Skotlandia di menit awal saat pertandingan
baru berjalan 4 menit.
Melihat
antusiasme warga yang sedemikian rupa, dan menilik pada bola kaki yang dibelikan
ibu di pasar pelabuhan kota tahun lalu. Aku mulai berganti cita-cita, dari
ingin menjadi seorang pendekar kesatria seperti Arya Kamandanu berubah ingin
jadi pesepakbola hebat seperti Ronaldo. Sejak malam itu, bola kaki yang setahun
terakhir hanya jadi pajangan di kamar mulai bergelindingan di lapangan kecil
depan asrama. Bola kaki itu kugiring kesana-kemari, jadi teman sepermainan,
menggantikan Andini yang kini mulai sibuk bermain dengan kawan sebayanya, yang
sama-sama anak perempuan. Semenjak masuk SD aku dan Andini mulai terpisah jarak
dan jarang main bersama lagi.
Semakin
akrab aku berteman dengan bola, semakin mudah aku mencari kawan sebaya yang
sama-sama gemar bermain bola. Tiap hari tiap sore aku dan kawan-kawan sebaya
selalu bermain bola bersama di lapangan. Tiada hari terlewat tanpa melewatkan siang dan sore dengan
bermain bola. Jika pemain cukup kita bermain
dengan lapangan penuh. Jika yang datang hanya segelintir, kami
menggunakan gawang kecil, cukup sandal sebagai gawang, pemain merangkap wasit
dan hakim garis, tidak ada pelatih dan adzan maghrib sebagai peluit tanda akhir
pertandingan.
Demam piala
dunia itu tidak hanya melanda anak-anak seusiaku. Orang-orang dewasa juga
demikian. Jalang perayaan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus di Kampung
Basecamp banyak mengadakan lomba dan pertandingan. Sepak Bola jadipertandingan
yang paling diminati dan paling banyak jumlah penontonnya. Turnamen sepak bola
tingkat dewasa, mempertandingkan kesebelasan tim dari masing-masing barak. Sedangkan
tingkat anak-anak hanya diikuti khusus anak-anak SD. Hanya anak-anak SD karena
di Kampung Basecamp belum ada SMP apalagi SMA. Anak-anak yang sudah SMP
kebanyakan bersekolah di desa-desa transmigrasi yang ada sekolah SMP-nya.
Sedangkan sekolah SMA baru ada di Kecamatan Kota. Itupun SMA YPK (Yayasan
Pendidikan Kristen), SMA Muhammadiayah, dan SMA Swadaya
Di turnamen
Sepak Bola tingkat SD, tim tidak dikelompokkan berdasarkan kelas, itu jelas
pembagian tim yang tidak adil. Jadi penentuan tim tingkat anak-anak dibagi
berdasarkan domisili siswa, yaitu berdasarkan asrama di barak tempat mereka
tinggal, sama seperti tim-tim bola pada tingkat dewasa. Sebab, jika tim
berdasarkan kelas jelas anak kelas 1 seperti aku hanya akan jadi tim medioker
belaka. Jadi lumbung gol dan tidak akan perneh diperhitungkan. Turnamen yang
kompetitif dan berkeadilan tidak akan terwujud. Lagipula, tidak semua kelas
punya siswa laki-laki yang genap 11 orang jumlahnya.
Anak SD dari
deretan barak tempat aku tinggal berjumlah 13 orang. Itu artinya kita hanya
memiliki 11 pemain inti dan 2 orang cadangan. Dua pemain cadangan itu harus
siap bermain di posisi apapun sebagai pemain pengganti. Tim kami masih lebih
baik, bahkan ada tim yang hanya terdiri dari 10 pemain dan panitia memberikan
kebijakan boleh mendatangkan pemain dari luar dengan syarat anak itu masih
bersekolah di tingkat SD. Itupun hanya boleh mendatangkan maskimal 2 pemain
saja. Kebijakan berlaku hanya untuk satu tim yang kekurangan pemain itu saja.
Peraturan disetujui semua peserta.
Kompetisi
hanya terdiri dari dua grup saja. Masing-masing grup berisikan 3 tim. Juara
grup dan runner up berhak maju ke perempat final. Tim-ku masuk ke grup A dan
pada pertandingan pertama kami memghadapi lawan tim yang berat. Sebab tim itu
80% dihuni pemain dari anak kelas 5 dan kelas 6. Aku yang masih duduk di bangku
kelas 1 hanya jadi pemanis di bangku cadangan. Babak pertama tim kami yang
dihuni hanya 2 pemain dari anak kelas 5 dan 1 pemain anak kelas 6 hancur
dibantai 4 gol tanpa balas. Menit ke 72 aku dimainkan karena sudah dua pemain
kami cidera engkel dan tidak ada lagi pemain pengganti selain aku seorang.
Bapak ketua RT dari barak kami yang menjadi pelatih dari tim menempatkan aku
sebagai striker di ujung tombak. Mungkin karena badanku yang kecil mungil dan
tidak mungkin berduel di lapangan jadi pemain belakang, apalagi jadi penjaga
gawang.
Saat aku
bermai pada menit 72 itu tim kami sudah kebobolan satu gol lagi. Skor sementara
5 : 0. Pada menit ke 85 pemain kami dari anak kelas lima mengumpan bola lambung
ke arahku. Bola itu kukontrol dengan dada, lalu jatuh di kaki kananku. Di
barisan pertahanan lawan tidak ada seorang pun pemain dari tim-ku, sementara
ada tiga pemain lawan yang menjaga daerah pertahanan. Dengan kedua kaki aku
mengiring bola itu ke arah kanan pertahanan lawan. Berlari kencang sekali
sambil menggiring bola. Kudengar sorak sorai penonton dari pinggir lapangan.
Aku berlari makin kencang, dua pemain belakang mengejarku, saat kedua pemain
itu makin dekat, berupaya menjegal kakiku, merebut bola dari penguasaanku,
segera aku mengepang bola ke belakang. Dua pemain tersungkur. Sorak sorai
penonton makin bergemuruh dan diantaranya kudengar sayup-sayup suara sorakan Andini
dan kawan-kawannya, semangatku buncah, energiku jadi tambah berlipat-lipat.
Bola yang
kukepang ke belakang tadi kugiring ke kiri pertahanan lawan. Satu pemain
belakang yang tersisa mengejarku tapi lagi berhasil kukecoh dengan mengepang
bola ke kanan dengan kaki kanan. Berhadap-hadapan dengan penjaga gawang di ruang
pinalti dan mendapat ruang tembak yang bagus , tidak kusia-siakan kesempatan
itu. Kutendang bola itu ke sudut kanan gawang dengan kaki kanan bagian dalam,
penjaga gawang itu tak dapat menjangkau bola baik dengan kaki atau tangannya
dan bola meluncur deras ke dalam gawang. Lalu seketika terdengar teriakan dari
pinggir lapangan
“Gooooollll”
Penonton berteriak, melompat-lompat kegirangan, berlari-lari gembira. Padahal
tim kami masih defisit 4 gol.
“Goolll…
Gooll… Goooooolll…” Komentator pinggir lapangan ikut meneriakan goll itu seolah
ikut merayakan.
Pada
menit-menit perpanjangan waktu. Aku kembali mendapat operan bagus dari pemain
tengah. Bola itu kembali kugiring memasuki area penalti lawan. Tapi dua pemain
belakang tak mau dipermalukan dua kali, satu pemain membayangi di kanan dan
satu pemain dari sisi kiri berhasil menggunting kedua kakiku, aku terjatuh dan
wasit memberikan hadiah penalti. Kapten tim sukses mengeksekusi pinalti itu.
Tak lama kemudian peluit akhir berbunyi. Pertandingan berakhir dengan skor akhir 5 : 2. Hasil yang
tidak buruk mengingat komposisi pemain kedua tim yang kurang berimbang itu.
Pada satu
pertandingan sisa, aku diturunkan sebagai pemain inti. Selain karena dua pemain
masih belum sembuh dari cidera, aku juga bermain tak mengecewakan saat
pertandingan pertama. Sialnya tim kami akhirnya kalah dengan skor tipis 1 : 0.
Aku sebagai striker tak dapat berbuat banyak. Tiga sampai lima pemain belakang
mengapitku dengan ketat. Pelatih lawan sudah melihat aksiku di pertandingan
tempo hari, dan strategi itu berhasil meredamku.
Setelah tim
kami gugur di fase penyisihan grup, di pertandingan final aku dan kawan-kawan
hanya jadi penonton. Aku menonton di pinggir lapangan bersama beberapa kawan.
Tim yang membantai kami 5 : 2 itu masuk ke final dan terang-terangan kami tidak
mendukung tim itu. Kulirik ke arah Andini dengan kawan-kawan perempuannya, nampaknya
ia juga tak mendukung tim yang berhasil kubobol dengan satu gol itu. Satu gol
perdana-ku di kompetisi resmi dengan perangkat pertandingan lengkap. Ada
panitia, wasit, dan hakim garis. Hari kami bersuka ria saat tim yang menjadi
lawan pertama kami akhirnya kalah meski lewat adu penalti. Kawan-kawanku dan
kawan-kawan Andini merayakan kemenangan itu. Kami anak-anak nusantara yang
hidup di pedalaman telah memeriahkan hari kemerdekaan dengan riang gembira.
(Ali Ridwan, 10/1/20)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar