Bayu Irianto
Langit Kampung Basecamp masih
saja labil, hujan turun di sepanjang tahun, sedang kemarau hanya singgah barang
sebentar, paling betah hanya seminggu. Pagi itu saat libur semester setelah
kenaikan kelas aku dan Andini sedang bersepeda bersama. Sepeda yang dibelikan orang
tua kami masing-masing, dibeli pakai uang bonus dari perusahaan. Bonus akhir
tahun yang nampaknya akan jadi yang terakhir buat besar karyawan perusahaan
pembalak kayu itu. Krisis Moneter yang menimpa Indonesia dan dunia mulai
merambat bahkan sampai ke pedalaman Irian. Kasa-kusuk kegelisahan para karyawan
ini mencuat di tiap kerumunan orang mengobrol. Selain isu-isu kurang sedap itu,
berita mundurnya Presiden Soeharto, naiknya Wakil Presiden BJ Habibie sebagai
presiden, penyelenggaraan pemilu, hingga memanasnya situasi di Timor Timur.
Selama 32
tahun Soeharto berkuasa, bila dilihat dari kacamata Nusantara, Tanah Irian tak
ubahnya seperti lokasi belakang rumah yang bersemak, sementara Tanah Jawa
adalah teras depan yang gencar sekali dipoles dengan indahnya. Teras yang
dibangun dengan mewahnya, padahal modal itu datangnya dari galian emas yang
ditemukan di semak-semak belakang rumahnya. Ketimpangan pembangunan antara Jawa
dan luar Jawa itu mungkin tak dirasa bagi manusia yang selama hidup menetap di
Jawa dan tidak pernah keluar Jawa, begitupun yang di pedalaman Irian dan tidak
pernah menginjak Jawa. Ketimpangan itu salah satu pemicu mengapa banyak daerah
yang ingin memerdekakan diri. Gejolak yang dilatarbelakangi oleh ketidakadilan
dan memicu kesenjangaan.
Gejolak itu
makin menjadi setelah peristiwa lepasnya Timor Timur dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia, peristiwa itu seperti lidah api yang berkobar dan menyulut
potensi kejadian serupa di beberapa daerah di Indonesia. Daerah-daerah itu juga
minta merdeka, termasuk Irian Jaya.
Merebaknya
isu Irian Barat merdeka membuat banyak pendatang di tanah Irian memilih untuk pulang
kampung, kembali ke tanah asalnya masing-masing. Pendatang-pendatang itu, entah
sebagai transimgrans, entah sebagai karyawan perusahaan seperti ayahku, atau pedagang
biasa seperti kakeknya Andini. Bila dari Jawa ia kembali ke Jawa, dari Sulawesi
ia kembali ke Sulawesi, dari Sumatra ia kembali ke Sumatra, Kalimantan kembali
ke Kalimantan. Meski ada yang memilih kembali, tapi lebih banyak yang memilih
bertahan.
Ayahku dan
Papa Andini telah diberitahu ada dalam daftar karyawan yang akan di-PHK. Entah
bagaimana ceritanya seorang kepala administrasi bagian logistik juga bisa kena
PHK. Namun demikian ayah tidak akan kembali ke Surabaya. Lebih-lebih Papa
Andini yang sudah tidak pernah mudik pulang kampung sejak pertama kali merantau
ke Irian pada remaja dulu. Apapun gejolak politik yang berdampak pada situasi
di Tanah Irian nanti Ayahku dan Papa Andini sudah berbulat tekad akan tetap
bertahan di Teluk Bintuni.
Ayah sudah
membeli beberapa tanah perkarangan beserta lahan sawahnya milik warga transmigran
yang memilih pulang kembali ke Jawa, membeli tanah-tanah itu dengan harga yang
murah tentunya. Ayah memilih untuk melanjutkan hidup di salah satu desa
transmigran itu, ayah memulai sebuah usaha baru dengan sisa uang pesangon
sebagi modal awal.
Jika ayahku
membeli tanah di desa, Papa Andini justru membeli tanah di kota, membeli dari
seorang kepala suku dengan uang pecahan merah bergambar kapal pinisi, dibungkus
di beberapa pelastik supaya terlihat banyak. Papa Andini memilih tinggal di
kota karena ia merasa lebih cocok hidup berdagang di tempat yang ramai daripada
bertani atau menjadi nelayan di desa yang masih sepi. Selepas keluar dari
perusahaan pembalak kayu itu Papa Andini nampaknya akan pensiun total sebagai
penambang kayu.
Pilihan Papa
Andini untuk membeli tanah di kota dan akan tinggal di sana itulah yang jadi
biang kesedihanku di pagi saat sedang bersepeda bersama Andini untuk terakhir
kalinya.
Sebulan
sebelum masuk kelas 2 SD, ayah sudah mengurus surat pindahku. Ayah juga sudah
mengangkut sebagian perabotan rumah ke tempat baru, rumah itu berada di Desa
Waraitama, SP IV. Lingkungan di tempat baruku itu, aku merasa akan sulit
beradaptasi dengannya. Namun, sumber kegelisahanku nampaknya bukan pada
lingkungan di tempat baru yang akan kutinggali itu. Tapi lebih ketaksiapan hati
akan kehilangan sahabat kecil yang selama ini jadi kawan hidup, Andini Putri
dan keluarga.
Saat duduk
di kelas 2 SD. Aku sudah bisa menulis dan membaca, begitu pula Andini. Di waktu
sebulan tersisa, meski di rumah tiap hari bertemu, bercerita dari barat ke
timur selatan ke utara, tapi sedekat apapun hubungan perkawanan itu, tetap saja
ada skat di hati yang dirahasiakan. Hal rahasia itu sulit diutarakan dengan
lisan, menjadi mudah bila dinyatakan lewat tulisan. Semenjak pandai baca tulis,
aku dan Andini kerap berbalas surat. Surat pertamaku buat Andini aku letakkan
di atas tas dalam lacinya saat bel istirahat kedua. Dari belakang bangkunya
kulihat Andini mengambil surat itu dan menyimpannya di saku depan seragamnya.
Aku senang dan berharap surat itu dibacanya.
Untuk Andini
Putri
Andini, kamu itu cantik. Bayu suka pipi Andini yang putih bersih dan ada
lesungnya, suka alis Andini yang tumbuh lebat, suka rambut Andini yang hitam
panjang, suka juga sama senyum Andini yang manis.
Empat kali empat enam belas. Sempat tidak sempat tolong dibalas.
Dari Bayu Irianto
Sore saat main sepeda bersama,
saat kusinggung soal surat yang kutulis itu Andini dengan rasa tak berdosanya
malah mengaku lupa dan belum membaca secarik kertas yang kuselipkan ke dalam
laci meja kelasnya siang tadi.
“Sudah, tidak
usah nangis. Nanti habis aku baca suratnya langsung aku tulis balasannya” Hibur
Andini sambil menggoda.
Nampaknya
malam sebelum tidur Andini benar baru membaca surat itu dan seketika langsung
membalasnya malam itu juga. Surat itu ia selipkan melalui renggangan papan yang
jadi dinding pemisah antara asrama keluargaku dan asrama keluarga Andini. Jika
dulu lewat telephone tanpa operator yang benangnya dilintaskan lewat lubang
papan, sekarang surat tanpa perangko.
Langsung
saja kubaca balasan surat itu.
Untuk Bayu
Irianto
Bayu tetanggaku yang paling ganteng, kawan dekatku yang paling baik, terimaksih
kiriman suratnya.
Jangan lupa besok pulang sekolah, sehabis makan dan tidur siang kita main
rumah-rumahan sama masak-masakan ya. Bayu yang bikin rumah Andini yang masak. Terus
sorenya kita sepedaan sambil cari buah anggur-angguran di pinggir jalan masuk kampung.
Habis itu baru Bayu boleh main bola di lapangan. Dini sorenya mau main ke
rumah Melli juga soalnya.
Sudah dulu ya.. Empat kali empatnya sudah Andini balas.
Dari Andini Putri.
Kala itu, saat bersepeda pagi
bersama di Kampung Basecamp untuk terakhir kalinya itu, kami sepakat surat akan
jadi satu-satunya cara supaya aku dan Andini tetap bisa terhubung satu sama
lain.
Andini Putri
Kak Ismail, anak usia tak
kurang dari 17 tahun itu sedang mengemasi pakaiannya. Kakak lelaki Andini itu
sekarang sudah duduk di kelas 2 SMA. Senang sekali di libur tengah semester itu
ia diajak kakek dan neneknya berkunjung ke rumah ibu bapaknya di Kota Bintuni. Beda
dengan perjalanan Andini ke Bintuni yang melalui jalur laut dengan rute
melingkar dari Manokwari – Sorong – Bintuni. Kak Ismail bersama kakek-neneknya
akan menempuh jalan darat dari Manokwari – Bintuni. Itu bukan perjalanan yang
sebentar dan bukan sembarang kendaraan bisa dtumpangi supaya bisa sampai di
tujuan.
Setelah
menyiapkan bekal untuk sehari semalam waktu perjalanan. Satu mobil hardtop yang
mereka sewa tiba. Sebelum memulai perjalanan hardtop menuju pasar wosi, mobil
dua garden itu bergabung dengan rombongan. Hardtop-hardtop lain yang juga akan
melakukan perjalanan darat dari Manokwari ke Bintuni. Mobil-mobil itu berjalan
berkelompok karena medan jalan yang akan dilewati masih sangat liar dan terlalu
ekstrem. Jika satu mobil tertanam, mogok, dan sebagainya mobil lainnya bisa
membantu.
Pagi
rombongan mulai berjalan, diperkirakan esok paginya sudah dampai di Bintuni.
Jalan berhampar koral jadi lintasan paling sominan. Sesekali menyebrang sungai
besar yang kedalamannya kisaran satu meter. Masuk hutan banyak kali dengan
jembatan ala kadarnya. Seringnya hanya berupa sebuah kayu besar melintang yang
sudah dibelah jadi dua. Setengahnya untuk lintasan roda kanan, setengahnya lagi
untuk lintasan roda kiri. Saat melewati jembatan seperti ini penumpang
diharuskan turun dari mobol. Jaga-jaga jiga hardtop tergelincir ke kali tidak
akan sampai memakan banyak korban.
Jelang
tengah malam rombongan memutuskan untuk Istirahat pasang tenda di sebuah gubuk
kayu, nampaknya bekas camp operator yang pernah menambang kayu di sekitar situ.
Mamanasi air, menyeduh teh, kopi, dan mie instan. Setelah makan, istirahat
sebentar melepas kantuk, rombongan kembali melanjutkan perjalanan saat hari
menjelang shubuh.
Perjalanan
darat yang melelahkan dan meletihkan terbayarkan saat Kak Ismail dan
kakek-neneknya tiba di Bintuni. Begitu jumpa dengan Andini, nenek Andini
langsung menyambar cepat, memeluk erat, cucuk perempuan kesayangan itu. Mama
Andini pun demikian, langsung merangkul dan menciumi Kak Ismail, putra
tercintanya. Air matanya tak terbendung sudah, rindunya buncah, tangisnya pun
pecah. Setelah bersalaman dan saling peluk, Ayah Andini dan Kakek Andini turut
memandangi kejadian haru itu dengan air mata yang mencair. Lama sekali mereka
berdua diacuhkan, sebelum nenek Andini menyapa Papa Andini dan Mama Andini
bersalaman dan memeluk ayahnya itu.
Kabar
gembira itu ia tuliskan pada surat yang dikirim pada Bayu. Turut bahagia
membaca surat Andini, setidaknya ia baik-baik saja di kota sana. Bayu utarakan
itu lewat balasan suratnya. Tak lupa Bayu ceritakan keadaan di desa yang sepi
karena jarak dari satu rumah ke rumah yang lain mencapai 50 meter, tidak
seperti di basecamp yang hanya berbatas skat tembok papan. Dua bulan kemudian,
setelah Kak Ismail beserta kakek-neneknya kembali ke Manokwari. Andini kembali
berkirim surat, ia menceritakan sekolah barunya, kawan-kawan barunya. Demikian
pula dengan balasan surat Bayu (Ali Ridwan, 28/06/20)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar