Senin, 24 Januari 2022

Cinta Monyet dan Sebuah Perpisahan (Cerpen: Manusia Perambah Hutan Part 4)

 Bayu Irianto

Langit Kampung Basecamp masih saja labil, hujan turun di sepanjang tahun, sedang kemarau hanya singgah barang sebentar, paling betah hanya seminggu. Pagi itu saat libur semester setelah kenaikan kelas aku dan Andini sedang bersepeda bersama. Sepeda yang dibelikan orang tua kami masing-masing, dibeli pakai uang bonus dari perusahaan. Bonus akhir tahun yang nampaknya akan jadi yang terakhir buat besar karyawan perusahaan pembalak kayu itu. Krisis Moneter yang menimpa Indonesia dan dunia mulai merambat bahkan sampai ke pedalaman Irian. Kasa-kusuk kegelisahan para karyawan ini mencuat di tiap kerumunan orang mengobrol. Selain isu-isu kurang sedap itu, berita mundurnya Presiden Soeharto, naiknya Wakil Presiden BJ Habibie sebagai presiden, penyelenggaraan pemilu, hingga memanasnya situasi di Timor Timur.

Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, bila dilihat dari kacamata Nusantara, Tanah Irian tak ubahnya seperti lokasi belakang rumah yang bersemak, sementara Tanah Jawa adalah teras depan yang gencar sekali dipoles dengan indahnya. Teras yang dibangun dengan mewahnya, padahal modal itu datangnya dari galian emas yang ditemukan di semak-semak belakang rumahnya. Ketimpangan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa itu mungkin tak dirasa bagi manusia yang selama hidup menetap di Jawa dan tidak pernah keluar Jawa, begitupun yang di pedalaman Irian dan tidak pernah menginjak Jawa. Ketimpangan itu salah satu pemicu mengapa banyak daerah yang ingin memerdekakan diri. Gejolak yang dilatarbelakangi oleh ketidakadilan dan memicu kesenjangaan. 

Gejolak itu makin menjadi setelah peristiwa lepasnya Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, peristiwa itu seperti lidah api yang berkobar dan menyulut potensi kejadian serupa di beberapa daerah di Indonesia. Daerah-daerah itu juga minta merdeka, termasuk Irian Jaya.

Merebaknya isu Irian Barat merdeka membuat banyak pendatang di tanah Irian memilih untuk pulang kampung, kembali ke tanah asalnya masing-masing. Pendatang-pendatang itu, entah sebagai transimgrans, entah sebagai karyawan perusahaan seperti ayahku, atau pedagang biasa seperti kakeknya Andini. Bila dari Jawa ia kembali ke Jawa, dari Sulawesi ia kembali ke Sulawesi, dari Sumatra ia kembali ke Sumatra, Kalimantan kembali ke Kalimantan. Meski ada yang memilih kembali, tapi lebih banyak yang memilih bertahan.

Ayahku dan Papa Andini telah diberitahu ada dalam daftar karyawan yang akan di-PHK. Entah bagaimana ceritanya seorang kepala administrasi bagian logistik juga bisa kena PHK. Namun demikian ayah tidak akan kembali ke Surabaya. Lebih-lebih Papa Andini yang sudah tidak pernah mudik pulang kampung sejak pertama kali merantau ke Irian pada remaja dulu. Apapun gejolak politik yang berdampak pada situasi di Tanah Irian nanti Ayahku dan Papa Andini sudah berbulat tekad akan tetap bertahan di Teluk Bintuni.

Ayah sudah membeli beberapa tanah perkarangan beserta lahan sawahnya milik warga transmigran yang memilih pulang kembali ke Jawa, membeli tanah-tanah itu dengan harga yang murah tentunya. Ayah memilih untuk melanjutkan hidup di salah satu desa transmigran itu, ayah memulai sebuah usaha baru dengan sisa uang pesangon sebagi modal awal.

Jika ayahku membeli tanah di desa, Papa Andini justru membeli tanah di kota, membeli dari seorang kepala suku dengan uang pecahan merah bergambar kapal pinisi, dibungkus di beberapa pelastik supaya terlihat banyak. Papa Andini memilih tinggal di kota karena ia merasa lebih cocok hidup berdagang di tempat yang ramai daripada bertani atau menjadi nelayan di desa yang masih sepi. Selepas keluar dari perusahaan pembalak kayu itu Papa Andini nampaknya akan pensiun total sebagai penambang kayu. 

Pilihan Papa Andini untuk membeli tanah di kota dan akan tinggal di sana itulah yang jadi biang kesedihanku di pagi saat sedang bersepeda bersama Andini untuk terakhir kalinya.

Sebulan sebelum masuk kelas 2 SD, ayah sudah mengurus surat pindahku. Ayah juga sudah mengangkut sebagian perabotan rumah ke tempat baru, rumah itu berada di Desa Waraitama, SP IV. Lingkungan di tempat baruku itu, aku merasa akan sulit beradaptasi dengannya. Namun, sumber kegelisahanku nampaknya bukan pada lingkungan di tempat baru yang akan kutinggali itu. Tapi lebih ketaksiapan hati akan kehilangan sahabat kecil yang selama ini jadi kawan hidup, Andini Putri dan keluarga.

Saat duduk di kelas 2 SD. Aku sudah bisa menulis dan membaca, begitu pula Andini. Di waktu sebulan tersisa, meski di rumah tiap hari bertemu, bercerita dari barat ke timur selatan ke utara, tapi sedekat apapun hubungan perkawanan itu, tetap saja ada skat di hati yang dirahasiakan. Hal rahasia itu sulit diutarakan dengan lisan, menjadi mudah bila dinyatakan lewat tulisan. Semenjak pandai baca tulis, aku dan Andini kerap berbalas surat. Surat pertamaku buat Andini aku letakkan di atas tas dalam lacinya saat bel istirahat kedua. Dari belakang bangkunya kulihat Andini mengambil surat itu dan menyimpannya di saku depan seragamnya. Aku senang dan berharap surat itu dibacanya.

 

Untuk Andini Putri

 

Andini, kamu itu cantik. Bayu suka pipi Andini yang putih bersih dan ada lesungnya, suka alis Andini yang tumbuh lebat, suka rambut Andini yang hitam panjang, suka juga sama senyum Andini yang manis.

Empat kali empat enam belas. Sempat tidak sempat tolong dibalas.

 

Dari Bayu Irianto

 

Sore saat main sepeda bersama, saat kusinggung soal surat yang kutulis itu Andini dengan rasa tak berdosanya malah mengaku lupa dan belum membaca secarik kertas yang kuselipkan ke dalam laci meja kelasnya siang tadi.

“Sudah, tidak usah nangis. Nanti habis aku baca suratnya langsung aku tulis balasannya” Hibur Andini sambil menggoda.

Nampaknya malam sebelum tidur Andini benar baru membaca surat itu dan seketika langsung membalasnya malam itu juga. Surat itu ia selipkan melalui renggangan papan yang jadi dinding pemisah antara asrama keluargaku dan asrama keluarga Andini. Jika dulu lewat telephone tanpa operator yang benangnya dilintaskan lewat lubang papan, sekarang surat tanpa perangko.

Langsung saja kubaca balasan surat itu.

 

Untuk Bayu Irianto

 

Bayu tetanggaku yang paling ganteng, kawan dekatku yang paling baik, terimaksih kiriman suratnya.

Jangan lupa besok pulang sekolah, sehabis makan dan tidur siang kita main rumah-rumahan sama masak-masakan ya. Bayu yang bikin rumah Andini yang masak. Terus sorenya kita sepedaan sambil cari buah anggur-angguran di pinggir  jalan masuk kampung.

Habis itu baru Bayu boleh main bola di lapangan. Dini sorenya mau main ke rumah Melli juga soalnya.

Sudah dulu ya.. Empat kali empatnya sudah Andini balas.

 

Dari Andini Putri.

 

Kala itu, saat bersepeda pagi bersama di Kampung Basecamp untuk terakhir kalinya itu, kami sepakat surat akan jadi satu-satunya cara supaya aku dan Andini tetap bisa terhubung satu sama lain.

 

Andini Putri

Kak Ismail, anak usia tak kurang dari 17 tahun itu sedang mengemasi pakaiannya. Kakak lelaki Andini itu sekarang sudah duduk di kelas 2 SMA. Senang sekali di libur tengah semester itu ia diajak kakek dan neneknya berkunjung ke rumah ibu bapaknya di Kota Bintuni. Beda dengan perjalanan Andini ke Bintuni yang melalui jalur laut dengan rute melingkar dari Manokwari – Sorong – Bintuni. Kak Ismail bersama kakek-neneknya akan menempuh jalan darat dari Manokwari – Bintuni. Itu bukan perjalanan yang sebentar dan bukan sembarang kendaraan bisa dtumpangi supaya bisa sampai di tujuan.

Setelah menyiapkan bekal untuk sehari semalam waktu perjalanan. Satu mobil hardtop yang mereka sewa tiba. Sebelum memulai perjalanan hardtop menuju pasar wosi, mobil dua garden itu bergabung dengan rombongan. Hardtop-hardtop lain yang juga akan melakukan perjalanan darat dari Manokwari ke Bintuni. Mobil-mobil itu berjalan berkelompok karena medan jalan yang akan dilewati masih sangat liar dan terlalu ekstrem. Jika satu mobil tertanam, mogok, dan sebagainya mobil lainnya bisa membantu.

Pagi rombongan mulai berjalan, diperkirakan esok paginya sudah dampai di Bintuni. Jalan berhampar koral jadi lintasan paling sominan. Sesekali menyebrang sungai besar yang kedalamannya kisaran satu meter. Masuk hutan banyak kali dengan jembatan ala kadarnya. Seringnya hanya berupa sebuah kayu besar melintang yang sudah dibelah jadi dua. Setengahnya untuk lintasan roda kanan, setengahnya lagi untuk lintasan roda kiri. Saat melewati jembatan seperti ini penumpang diharuskan turun dari mobol. Jaga-jaga jiga hardtop tergelincir ke kali tidak akan sampai memakan banyak korban.

Jelang tengah malam rombongan memutuskan untuk Istirahat pasang tenda di sebuah gubuk kayu, nampaknya bekas camp operator yang pernah menambang kayu di sekitar situ. Mamanasi air, menyeduh teh, kopi, dan mie instan. Setelah makan, istirahat sebentar melepas kantuk, rombongan kembali melanjutkan perjalanan saat hari menjelang shubuh.

Perjalanan darat yang melelahkan dan meletihkan terbayarkan saat Kak Ismail dan kakek-neneknya tiba di Bintuni. Begitu jumpa dengan Andini, nenek Andini langsung menyambar cepat, memeluk erat, cucuk perempuan kesayangan itu. Mama Andini pun demikian, langsung merangkul dan menciumi Kak Ismail, putra tercintanya. Air matanya tak terbendung sudah, rindunya buncah, tangisnya pun pecah. Setelah bersalaman dan saling peluk, Ayah Andini dan Kakek Andini turut memandangi kejadian haru itu dengan air mata yang mencair. Lama sekali mereka berdua diacuhkan, sebelum nenek Andini menyapa Papa Andini dan Mama Andini bersalaman dan memeluk ayahnya itu.

Kabar gembira itu ia tuliskan pada surat yang dikirim pada Bayu. Turut bahagia membaca surat Andini, setidaknya ia baik-baik saja di kota sana. Bayu utarakan itu lewat balasan suratnya. Tak lupa Bayu ceritakan keadaan di desa yang sepi karena jarak dari satu rumah ke rumah yang lain mencapai 50 meter, tidak seperti di basecamp yang hanya berbatas skat tembok papan. Dua bulan kemudian, setelah Kak Ismail beserta kakek-neneknya kembali ke Manokwari. Andini kembali berkirim surat, ia menceritakan sekolah barunya, kawan-kawan barunya. Demikian pula dengan balasan surat Bayu (Ali Ridwan, 28/06/20)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar