Bayu Irianto
Tidak ada lagi
yang bisa kukenang banyak saat aku bersama Andini untuk terakhir kalinya di
Kampung Basecamp. Saat itu, keluarga Andini pergi meninggalkan Kampung Basecamp
tiga hari lebih cepat dari keluargaku. Sebuah mobil bak terbuka sedang sibuk dengan
daftar cateran dari keluarga-keluarga yang diputus hubungan kerja-nya dan akan
segera angkat kaki dari kampung nomaden itu. Keluargaku sepertinya ada di
daftar paling akhir, sedihnya itu membuatku harus menyaksikan satu persatu
tetangga pergi. Tersedih saat mobil bak terbuka itu mengangkuti barang-barang
milik keluarga Andini.
Di
atas ambin bambu, di bawah pohon depan asrama, aku duduk-duduk galau di sebelah
Andini. “Jangan lupa, sering-sering kirimin Andini surat ya. Nanti pasti Andini
balas” Pungkasnya. Aku mengangguk malas.
Tak
lama kemudian papa dan mamanya Andini datang mendekat. Papanya Andini lalu
berujar “Bayu tidak usah sedih. Kita masih di wilayah Bintuni kok. Kalau kangen
sama kita-kita bilang bapakmu suruh sering-sering main ke kota. Nanti tante
bikini lontar, masih suka lontar buatan Mamanya Andini kan?”
Aku
mengangguk senang. Ayah dan ibuku yang berdiri di belakang mereka menyikapi itu
dengan senyum ringan saja. Kami lalu saling berjabat tangan dan tak ada lagi
yang kuingat selain pelukan terakhir dari mama dan papanya Andini, terlebih
pelukan Andini. Tak ada air mata jatuh, kesedihan tertahan di dada, sebaknya
tiada terkira. Lambaian Andini di balik jendela menyeruakkan sebak itu, sasaknya
makin menggila saja, linang air mataku pun jatuh. Tak berani aku menengok ke
belakang. Ayah ibuku tak boleh melihat anaknya menangis hanya karena perpisahan
kecil macam itu.
Saat
tiba waktunya keluargaku meninggalkan Kampung Basecamp itu, tiada rasa sedih
yang mendera hati. Aku sadar sudah tidak ada Andini di situ, apa yang perlu
diratapi. Sebak di dada sudah terlalu kerontang hingga kering air mata tak
sanggup lagi menetes. Aku ingin segera menempati rumah baru kami dan mulai hidup baru lagi sambil melupakan masa-masa
sulit ini.
Perpisahan
itu, tidak mungkin terjadi kalau tidak ada badai krisis di luar sana, krisis moneter
yang berimbas sampai ke pedalaman Irian.
Baru
sehari kami tinggal di Kampung Waraitama, datang seorang nelayan yang hendak
pulang kampung karena baru saja berhasil menjual lahannya, nelayan itu
menawarkan sebuah kapal pencari ikan yang selama ini ia gunakan sebabagai alat
mata pencaharian. Kapal itu dijual dengan sangat murah dan ayah tak keberatan
untuk membelinya. Nelayan adalah profesi pertama ayah setelah pemutusan
hubungan kerja di perusahaan pembalak kayu itu. Padahal secuilpun ia tak pernah
punya pengalaman sebagai seorang pelaut. Sebetulnya, ayah membeli kapal itu
bukan untuk jadi nelayan. Krisis keuangan yang membuat nilai mata uang rupiah
terus jatuh sejatuh-jatuhnya itu membuat ayahku harus bijak betul dalam mengelola
pesangon dari perusahaan. Tak ingin nilainya makin jatuh karena terlalu lama
menyimpan rupiah, ayah berinisiatif membelanjakan semua pesangon itu untuk
membeli apa saja yang bisa dibeli. Motor, televisi, emas, disel, sembako, alat
pertanian, sampai kambing dan sapi.
Merosotnya
nilai tukar rupiah itu membuat orang kini lebih menyukai sistem barter.
Sepulang dari melaut dengan hasil tangkapan yang tak seberapa itu ayah kadang
menukarnya dengan singkong yang sudah diolah menjadi gaplek untuk membuat nasi
tiwul, kadang juga ditukar dengan jagung yang akan diolah menjadi nasi jagung.
Sedian beras di rumah kami menipis dan campuran nasi tiwul atau nasi jagung
bisa menghemat ketersediaan beras. Pahit getir itu, tidak aku ceritakan pada
Andini yang hidup di kota sana. Entah ia mengalaminya atau tidak, tidak pernah
ia ceritakan pengalaman serupa itu dalam tulisan-tulisan pada surat-surat yang
dikirimnya. Semoga semua isi surat dari Andini itu benar adanya, menggambarkan
keadaannya yang baik-baik adanya.
***
Satu badai belum
berlalu satu badai lagi datang mendatangi. Badai krismon yang disusul dengan
mewabahnya parasite malaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu semakin
memperburuk keadaan masyarakat transmigran yang menjadi pendatang di pedalaman
Irian. Hampir tiap hari speaker
masjid mengumumkan adanya warga yang meninggal dunia. Kadang malah dua sampai
tiga kali sehari berita duka itu disiarkan. Ironisnya, penyebab kematian warga
itu disebabkan oleh satu gejala yang sama. Mulanya mengalami demam, badan
terasa lemas, dan terasa linu-linu di tulang dan pergelangan tangan.
Pemerintah
melalui para mantri di puskesmas-puskemas yang menjadi kepanjangan tangan dinas
kesehatan Kabupaten Manokwari, lalu melakukan upaya pencegahan dengan edukasi
menutup bak mandi, menguras genangan air, membagikan kelambu, bubuk anti bibit nyamum
abate, hingga pengasapan. Semprotan obat antinyamuk cair juga banyak dibagikan
cuma-cuma. Untuk pengobatan, selain obat minum dan obat suntik dari para mantri
di Puskesman, masyarakat juga diedukasi dengan banyak meminum jamu pahitan.
Mulanya aku muntah-muntah saat ayah memaksaku meminum sesendok rebusan daun
sambiloto, namun terbiasa setelah aku menderita demam hampir seminggu dan
tablet paracetamol tak kunjung membuat demam itu turun, aku jadi terbiasa
dengan jamu pahitan itu. Tidak sesendok tapi dua gelas sehari.
Maski
sudah rutin meminum rebusan daun sambiloto, nampaknya parasite malaria yang
mengendap dalam pembulu darah tak mudah pergi begitu saja. Kepalaku sering
pusing, demam, dan muntah. Kali ini muntah bukan karena rebusan daun sambiloto.
Berbulan-bulan aku sekolah hanya setengah hari saja. Guru-guruku sampai paham,
ingat betul. Tiap lepas istrahat pertama, badanku pasti menggigil, demam itu seperti
terror, rutin datang tanpa mau absen barang seharipun. Muak dengan pahitan
sambiloto, bosan dengan obat dari pak mantri, obat suntik apalagi. Aku berfikir
kalau tidak lama lagi bisa saja namaku yang disebut dalam berita duka, dibacakan
lewat speaker masjid itu.
Parasit
malaria yang hidup dalam darahku itu membikin badanku jadi kurus kering tinggal
tulang. Kulitnya pucat dan warnanya jadi kekuningan. Aku tahu ayah ibuku pasti
menyimpan kehawatiran. Itu sebabnya segelas air hangat rebusan sambiloto selalu
ada buatku tiap pagi dan sore hari. Satu-satunya penyemangatku kala itu ialah
tiap kali malintas depan kantor desa dan kudapati surat dari Andini yang kini
tinggal di kota kecamatan, Bintuni. Surat itu aku baca dengan antusias, kutulis
balasan surat itu dengan antusias lagi.
Aku
menyukai cerita Andini dalam surat itu. Ia bercerita banyak tentang kawan-kawan
barunya di sekolah. Guru-gurunya juga baik-baik. Ia bilang sangat menyukai
pelajaran sejarah dan bahasa Indonesia, utamanya bila dua peajaran itu sedang
mengkaji sebuah cerita. Entah cerita pendek apalagi serita-cerita sejarah.
Semenjak lancar baca tulis Andini memang suka mebaca cerita. Surat-surat yang
berdatangan lembarnya makin banyak, lama-lama suratnya lebih mirip cerpen
padahal balasan suratku tulisannya tak lebih empat bait puisi, dan pastinya
tulisan itu berantakan adanya dan tidak ada unsur sastranya sama sekali.
Surat-surat
dari Andini yang mirip cerpen itu, bagiku bukanlah tulisan biasa. Tiap kali aku
membaca kata perkatanya, aku tidak seperti sedang membaca cerpen, apalagi
sebuah balasan surat. Membaca cerpen itu rasanya seperti menelaah baitan puisi
yang indah. Puisi yang di tiap kalimatnya punya daya ajaib, mengalirkan
sengatan listrik yang merambat lembut, membuat parasit-parasit malaria di pembuluh
darah jadi mati kering. Makin panjang lebar balasan surat dari Andini itu,
makin bangkit pula semangat hidupku untuk melawan malaria yang hidup dalam
darahku. Pahitnya rebusan sambiloto jadi semanis susu, runcingnya jarum suntik
serasa gigitan semut, pil malaria itu laksana permen yang meminumnya tidak
langsung kutelan, tapi kiisap-isap dulu.
Suatu
kali Andini beserta keluarganya datang berkunjung ke rumah. Bertemu dengannya
membuat sekujur tubuhku jadi bergemuruh, Guntur menggelegar di dada dan di
kepala. Gemuruh di dada itu membuat darah mengalir lebih cepat dari biasanya,
sengatan listriknya pun makin berkilat-kilat, membuat efek si jamu pahitan,
pil, dan obat suntik makin digdaya peranannya. Parasit-parasit malaria itu jadi
matisuri dibuatnya. Parasit sialan itu tidak lagi menggerogoti thrombosit di
pembuluh darahku. Aku jadi sehat lagi
setelah itu, dan aku bahagia bisa sekolah dan pulang saat lonceng pulang
berbunyi. Tidak pulang tiap jam 10 pagi karena demam malaria.
Abdul Majid Bauw
Di Desa
Waraitama, SP 4, Bintuni. Keluarga Bayu tinggal di sudut jalur. Sebelah kanan
rumahnya berbatasan dengan persawahan. Depannya, tinggal seorang nelayan sunda.
Pak Dadang yang sering mengajak Ayah Bayu melaut mencari ikan. Belakangnya
hutan dan samping kirinya rumah kosong yang ditinggal pemiliknya pindah ke
lokasi baru di desa tetangga. Rumah kosong itu dibeli seorang keluarga dari
kampung pedalaman di Tanah Merah, Bintuni. Keluarga itu memiliki seorang putra
yang juga seumuran Bayu. Abdul Majib Bauw nama anak itu, sehingga keluarga bayu
menyebut orang tua Majid dengan panggilan Papa Majid dan Mama Majid.
Keluarga
Majid ialah seorang keturunan Irian murni, ras Melanesia, hitam kulit keriting
rambut, datang dari Fak – Fak dan seorang muslim yang taat. Mula-mula, Ayah
Majid dating ke Bintuni untuk berdagang, menjual udang dan kepiting dari Tanah
Merah ke pasar Bintuni. Nasib baik datang ketika Ayah Majid menginap di Masjid Al Munawarrah seperti
biasa, Ayah Majid memang selalu menginap di masjid selepas menjajakan
dagangannya di Pasar Pelabuhan. Malam itu seorang ustadz yang biasa menjadi
imam di masjid itu, yang biasa menjadi kawan mengobrol di ba’da isya, setelah
tau kalau Ayah Majid punya ijazah Pesantren setingkat SMA, menyarankan agar
Ayah Majid melamar menjadi guru SD di sekolah dasar yang ada di sebuah desa
transmigrasi. SD N Waraitama memang sedang membutuhkan seorang guru agama
Islam. Tidak butuh lama mengabdi, Ayah Majid mendapatkan kesempatan ikut tes
pegawai negeri dan setahun kemudian pengangkatan. Ayah Majid lalu membeli
sebuah rumah milik warga transmigrasi dan memboyong keluarganya ke desa itu.
Ayah Majid juga membawa perahu nelayan yang biasa ia pakai untuk mencari udang
ke Bintuni dan ia ikatkan talinya di sebuah muara belakang desa, berjejer
dengan perahu milik Pak dadang, Ayah Bayu, dan nelayan lainnya.
Meski
ayahnya nelayan, Majid tak suka laut dan tidak pernah ikut melaut. Berenang
saja bila tidak kepepet ia malas disentuh air garam. Majid lebih suka music dan
olahraga. Ia pandai memainkan ukulele dengan tangan dan jemarinya, ia juga
terampil memainkan bola dengan kedua kakinya. Jika senar ukulele sudah dipetik,
akan mengubah suasana hati yang mendengarnya. Bila bola sudah berada dalam
sentuhannya, akan sulit pemain lawan untuk merebutnya. Bayu kurang suka musik,
tapi selalu beruoaya mengimbangi Majid saat ia bernyanyi sambil memainkan
ukulelenya dengan memukul-mukul jiregen sebagai kendang. Majid dan Bayu menjadi sangat akrab lebih
karena sering bermain bola bersama. Jika di sekolah keduanya bermain sebagai
satu tim, Bayu di kanan depan, dan Majid di kiri depan dengan kaki kidalnya.
Pasti akan banyak gol yang bersarang di jala gawang lawan. Jumlah gol akan
berimbang manakala keduanya saling berhadapan satu sama lain. Majid sempat
kehilangan tandem sekaligus pesaing saat Bayu terkena malaria, satu tahun
lamanya Bayu vakum karena seolah tak punya daya lagi untuk sekedar untuk
menendang bola.
Saat
Bayu menderita penyakit malaria dan lebih sering di rumah. Majid lebih akrab
dengan kedua kawan barunya, Deden dan Purnomo. Kedua bocah seumuran yang juga
teman sekelas di sekolah itu tinggal di jalur yang berbeda, tapi Majid tak
pernah keberatan bila harus berjalan sekitar 500 meter sekedar untuk menemua
kedua kawan mainnya itu. Kabar baiknya, meski skillnya tak selincah Bayu tapi
kedua bocah itu juga suka main bola. Deden yang tinggi besar lebih suka sebagai
pemain belakang dan Purnomo yang gendut gempal mau terima nasib bila harus
dijadikan keeper. Sesekali, giliran Dadang dan Purnomo yang datang main ke
rumah Majid. Sesekali pula Majid mengajak Dadang dan Purnomo datang ke rumah
Bayu. Meski hanya duduk di beranda rumah sambil berselimut sarung, Bayu sudah
sangat terhibur sekali melihat ketiga bocah itu menendang-nendang bola di
halaman depan rumahnya.
Masuk
kelas 5 SD, kesehatan Bayu berangsur pulih. Tapi masih belum mampu bila diajak
bermain bola. Majid, Bayu, dan Purnomo cukup toleran bila datang ke rumah Bayu,
seringnya mereka mengajak bayu bermain catur, main kelereng, main karet, atau
main ular tangga. Permainan yang tidak banyak menguras tenaga. Bila terpaksa di
sekolah teman-teman mengajak bermain bentengan, engklek, atau patil lele.
Mereka akan menempatkan Bayu pada posisi yang tidak banyak menguras tenaga.
Jika Bayu merasa kalau fisiknya sudah tak mampu lagi, ia menyisih ke pinggir
dan memilih jadi penonton saja. Lihatlah anak itu, Bayu yang dulu lincah gesit
dalam mengolah si kulit bundar, sekarang jadi seperti orang kurang gizi,
badannya jadi kurus kecil, lemas dan tak bertenaga. Anak perempuan bahkan lebih
berdaya dari Bayu yang sekarang. Majid yang tak tega melihat kawannya sering
melamun seorang diri di pinggir lapagan, tak jarang ia menemaninya di situ
sambil memainkan ukulele.
Beruntungnya,
meski parasite malaria berhasil menggerogoti fisik Bayu, tapi parasite itu
tidak melemahkan kualitas intelektualnya secara signifikan. Jika biasanya di
kelas Bayu selalu ada di peringkat lima besar, kali ini ia berada di lima besar
dari bawah, masih tetap disyukuri karena ia tetap bisa bersekolah, mengikuti
pelajaran dengan baik, dan tidak sampai tinggal kelas. Badai Malaria itu
sebetulnya tidak hanya menimpa Bayu, banyak anak juga yang terpapar. Tapi
anak-anak transmigrans itu sudah diberi pencegahan jauh-jauh hari. Di Kampung
Basecamp juga sebetulnya ada program pencegahan antimalaria, tapi kondisi
psikis yang melemah juga jadi faktor resiko utama. Faktor Resiko itu sukses
ditekan saat Bayu mendapati kunjungan pertama dari Andini sejak dua tahun
berpisah dan selama itu hanya berkabar melalui surat. (Ali Ridwan, 29/07/20)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar