Senin, 24 Januari 2022

Badai Malaria (Cerpen: Manusia Perambah Hutan Part 5)

 Bayu Irianto

Tidak ada lagi yang bisa kukenang banyak saat aku bersama Andini untuk terakhir kalinya di Kampung Basecamp. Saat itu, keluarga Andini pergi meninggalkan Kampung Basecamp tiga hari lebih cepat dari keluargaku. Sebuah mobil bak terbuka sedang sibuk dengan daftar cateran dari keluarga-keluarga yang diputus hubungan kerja-nya dan akan segera angkat kaki dari kampung nomaden itu. Keluargaku sepertinya ada di daftar paling akhir, sedihnya itu membuatku harus menyaksikan satu persatu tetangga pergi. Tersedih saat mobil bak terbuka itu mengangkuti barang-barang milik keluarga Andini.

Di atas ambin bambu, di bawah pohon depan asrama, aku duduk-duduk galau di sebelah Andini. “Jangan lupa, sering-sering kirimin Andini surat ya. Nanti pasti Andini balas” Pungkasnya. Aku mengangguk malas.

Tak lama kemudian papa dan mamanya Andini datang mendekat. Papanya Andini lalu berujar “Bayu tidak usah sedih. Kita masih di wilayah Bintuni kok. Kalau kangen sama kita-kita bilang bapakmu suruh sering-sering main ke kota. Nanti tante bikini lontar, masih suka lontar buatan Mamanya Andini kan?”

Aku mengangguk senang. Ayah dan ibuku yang berdiri di belakang mereka menyikapi itu dengan senyum ringan saja. Kami lalu saling berjabat tangan dan tak ada lagi yang kuingat selain pelukan terakhir dari mama dan papanya Andini, terlebih pelukan Andini. Tak ada air mata jatuh, kesedihan tertahan di dada, sebaknya tiada terkira. Lambaian Andini di balik jendela menyeruakkan sebak itu, sasaknya makin menggila saja, linang air mataku pun jatuh. Tak berani aku menengok ke belakang. Ayah ibuku tak boleh melihat anaknya menangis hanya karena perpisahan kecil macam itu.

Saat tiba waktunya keluargaku meninggalkan Kampung Basecamp itu, tiada rasa sedih yang mendera hati. Aku sadar sudah tidak ada Andini di situ, apa yang perlu diratapi. Sebak di dada sudah terlalu kerontang hingga kering air mata tak sanggup lagi menetes. Aku ingin segera menempati rumah baru kami dan mulai  hidup baru lagi sambil melupakan masa-masa sulit ini.

Perpisahan itu, tidak mungkin terjadi kalau tidak ada badai krisis di luar sana, krisis moneter yang berimbas sampai ke pedalaman Irian.

Baru sehari kami tinggal di Kampung Waraitama, datang seorang nelayan yang hendak pulang kampung karena baru saja berhasil menjual lahannya, nelayan itu menawarkan sebuah kapal pencari ikan yang selama ini ia gunakan sebabagai alat mata pencaharian. Kapal itu dijual dengan sangat murah dan ayah tak keberatan untuk membelinya. Nelayan adalah profesi pertama ayah setelah pemutusan hubungan kerja di perusahaan pembalak kayu itu. Padahal secuilpun ia tak pernah punya pengalaman sebagai seorang pelaut. Sebetulnya, ayah membeli kapal itu bukan untuk jadi nelayan. Krisis keuangan yang membuat nilai mata uang rupiah terus jatuh sejatuh-jatuhnya itu membuat ayahku harus bijak betul dalam mengelola pesangon dari perusahaan. Tak ingin nilainya makin jatuh karena terlalu lama menyimpan rupiah, ayah berinisiatif membelanjakan semua pesangon itu untuk membeli apa saja yang bisa dibeli. Motor, televisi, emas, disel, sembako, alat pertanian, sampai kambing dan sapi.

Merosotnya nilai tukar rupiah itu membuat orang kini lebih menyukai sistem barter. Sepulang dari melaut dengan hasil tangkapan yang tak seberapa itu ayah kadang menukarnya dengan singkong yang sudah diolah menjadi gaplek untuk membuat nasi tiwul, kadang juga ditukar dengan jagung yang akan diolah menjadi nasi jagung. Sedian beras di rumah kami menipis dan campuran nasi tiwul atau nasi jagung bisa menghemat ketersediaan beras. Pahit getir itu, tidak aku ceritakan pada Andini yang hidup di kota sana. Entah ia mengalaminya atau tidak, tidak pernah ia ceritakan pengalaman serupa itu dalam tulisan-tulisan pada surat-surat yang dikirimnya. Semoga semua isi surat dari Andini itu benar adanya, menggambarkan keadaannya yang baik-baik adanya.

***

Satu badai belum berlalu satu badai lagi datang mendatangi. Badai krismon yang disusul dengan mewabahnya parasite malaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu semakin memperburuk keadaan masyarakat transmigran yang menjadi pendatang di pedalaman Irian. Hampir tiap hari speaker masjid mengumumkan adanya warga yang meninggal dunia. Kadang malah dua sampai tiga kali sehari berita duka itu disiarkan. Ironisnya, penyebab kematian warga itu disebabkan oleh satu gejala yang sama. Mulanya mengalami demam, badan terasa lemas, dan terasa linu-linu di tulang dan pergelangan tangan.  

Pemerintah melalui para mantri di puskesmas-puskemas yang menjadi kepanjangan tangan dinas kesehatan Kabupaten Manokwari, lalu melakukan upaya pencegahan dengan edukasi menutup bak mandi, menguras genangan air, membagikan kelambu, bubuk anti bibit nyamum abate, hingga pengasapan. Semprotan obat antinyamuk cair juga banyak dibagikan cuma-cuma. Untuk pengobatan, selain obat minum dan obat suntik dari para mantri di Puskesman, masyarakat juga diedukasi dengan banyak meminum jamu pahitan. Mulanya aku muntah-muntah saat ayah memaksaku meminum sesendok rebusan daun sambiloto, namun terbiasa setelah aku menderita demam hampir seminggu dan tablet paracetamol tak kunjung membuat demam itu turun, aku jadi terbiasa dengan jamu pahitan itu. Tidak sesendok tapi dua gelas sehari.

Maski sudah rutin meminum rebusan daun sambiloto, nampaknya parasite malaria yang mengendap dalam pembulu darah tak mudah pergi begitu saja. Kepalaku sering pusing, demam, dan muntah. Kali ini muntah bukan karena rebusan daun sambiloto. Berbulan-bulan aku sekolah hanya setengah hari saja. Guru-guruku sampai paham, ingat betul. Tiap lepas istrahat pertama, badanku pasti menggigil, demam itu seperti terror, rutin datang tanpa mau absen barang seharipun. Muak dengan pahitan sambiloto, bosan dengan obat dari pak mantri, obat suntik apalagi. Aku berfikir kalau tidak lama lagi bisa saja namaku yang disebut dalam berita duka, dibacakan lewat speaker masjid itu.

Parasit malaria yang hidup dalam darahku itu membikin badanku jadi kurus kering tinggal tulang. Kulitnya pucat dan warnanya jadi kekuningan. Aku tahu ayah ibuku pasti menyimpan kehawatiran. Itu sebabnya segelas air hangat rebusan sambiloto selalu ada buatku tiap pagi dan sore hari. Satu-satunya penyemangatku kala itu ialah tiap kali malintas depan kantor desa dan kudapati surat dari Andini yang kini tinggal di kota kecamatan, Bintuni. Surat itu aku baca dengan antusias, kutulis balasan surat itu dengan antusias lagi.

Aku menyukai cerita Andini dalam surat itu. Ia bercerita banyak tentang kawan-kawan barunya di sekolah. Guru-gurunya juga baik-baik. Ia bilang sangat menyukai pelajaran sejarah dan bahasa Indonesia, utamanya bila dua peajaran itu sedang mengkaji sebuah cerita. Entah cerita pendek apalagi serita-cerita sejarah. Semenjak lancar baca tulis Andini memang suka mebaca cerita. Surat-surat yang berdatangan lembarnya makin banyak, lama-lama suratnya lebih mirip cerpen padahal balasan suratku tulisannya tak lebih empat bait puisi, dan pastinya tulisan itu berantakan adanya dan tidak ada unsur sastranya sama sekali.

Surat-surat dari Andini yang mirip cerpen itu, bagiku bukanlah tulisan biasa. Tiap kali aku membaca kata perkatanya, aku tidak seperti sedang membaca cerpen, apalagi sebuah balasan surat. Membaca cerpen itu rasanya seperti menelaah baitan puisi yang indah. Puisi yang di tiap kalimatnya punya daya ajaib, mengalirkan sengatan listrik yang merambat lembut, membuat parasit-parasit malaria di pembuluh darah jadi mati kering. Makin panjang lebar balasan surat dari Andini itu, makin bangkit pula semangat hidupku untuk melawan malaria yang hidup dalam darahku. Pahitnya rebusan sambiloto jadi semanis susu, runcingnya jarum suntik serasa gigitan semut, pil malaria itu laksana permen yang meminumnya tidak langsung kutelan, tapi kiisap-isap dulu. 

Suatu kali Andini beserta keluarganya datang berkunjung ke rumah. Bertemu dengannya membuat sekujur tubuhku jadi bergemuruh, Guntur menggelegar di dada dan di kepala. Gemuruh di dada itu membuat darah mengalir lebih cepat dari biasanya, sengatan listriknya pun makin berkilat-kilat, membuat efek si jamu pahitan, pil, dan obat suntik makin digdaya peranannya. Parasit-parasit malaria itu jadi matisuri dibuatnya. Parasit sialan itu tidak lagi menggerogoti thrombosit di pembuluh darahku.  Aku jadi sehat lagi setelah itu, dan aku bahagia bisa sekolah dan pulang saat lonceng pulang berbunyi. Tidak pulang tiap jam 10 pagi karena demam malaria.

 

Abdul Majid Bauw

Di Desa Waraitama, SP 4, Bintuni. Keluarga Bayu tinggal di sudut jalur. Sebelah kanan rumahnya berbatasan dengan persawahan. Depannya, tinggal seorang nelayan sunda. Pak Dadang yang sering mengajak Ayah Bayu melaut mencari ikan. Belakangnya hutan dan samping kirinya rumah kosong yang ditinggal pemiliknya pindah ke lokasi baru di desa tetangga. Rumah kosong itu dibeli seorang keluarga dari kampung pedalaman di Tanah Merah, Bintuni. Keluarga itu memiliki seorang putra yang juga seumuran Bayu. Abdul Majib Bauw nama anak itu, sehingga keluarga bayu menyebut orang tua Majid dengan panggilan Papa Majid dan Mama Majid.

Keluarga Majid ialah seorang keturunan Irian murni, ras Melanesia, hitam kulit keriting rambut, datang dari Fak – Fak dan seorang muslim yang taat. Mula-mula, Ayah Majid dating ke Bintuni untuk berdagang, menjual udang dan kepiting dari Tanah Merah ke pasar Bintuni. Nasib baik datang ketika Ayah Majid  menginap di Masjid Al Munawarrah seperti biasa, Ayah Majid memang selalu menginap di masjid selepas menjajakan dagangannya di Pasar Pelabuhan. Malam itu seorang ustadz yang biasa menjadi imam di masjid itu, yang biasa menjadi kawan mengobrol di ba’da isya, setelah tau kalau Ayah Majid punya ijazah Pesantren setingkat SMA, menyarankan agar Ayah Majid melamar menjadi guru SD di sekolah dasar yang ada di sebuah desa transmigrasi. SD N Waraitama memang sedang membutuhkan seorang guru agama Islam. Tidak butuh lama mengabdi, Ayah Majid mendapatkan kesempatan ikut tes pegawai negeri dan setahun kemudian pengangkatan. Ayah Majid lalu membeli sebuah rumah milik warga transmigrasi dan memboyong keluarganya ke desa itu. Ayah Majid juga membawa perahu nelayan yang biasa ia pakai untuk mencari udang ke Bintuni dan ia ikatkan talinya di sebuah muara belakang desa, berjejer dengan perahu milik Pak dadang, Ayah Bayu, dan nelayan lainnya.

Meski ayahnya nelayan, Majid tak suka laut dan tidak pernah ikut melaut. Berenang saja bila tidak kepepet ia malas disentuh air garam. Majid lebih suka music dan olahraga. Ia pandai memainkan ukulele dengan tangan dan jemarinya, ia juga terampil memainkan bola dengan kedua kakinya. Jika senar ukulele sudah dipetik, akan mengubah suasana hati yang mendengarnya. Bila bola sudah berada dalam sentuhannya, akan sulit pemain lawan untuk merebutnya. Bayu kurang suka musik, tapi selalu beruoaya mengimbangi Majid saat ia bernyanyi sambil memainkan ukulelenya dengan memukul-mukul jiregen sebagai kendang.  Majid dan Bayu menjadi sangat akrab lebih karena sering bermain bola bersama. Jika di sekolah keduanya bermain sebagai satu tim, Bayu di kanan depan, dan Majid di kiri depan dengan kaki kidalnya. Pasti akan banyak gol yang bersarang di jala gawang lawan. Jumlah gol akan berimbang manakala keduanya saling berhadapan satu sama lain. Majid sempat kehilangan tandem sekaligus pesaing saat Bayu terkena malaria, satu tahun lamanya Bayu vakum karena seolah tak punya daya lagi untuk sekedar untuk menendang bola.

Saat Bayu menderita penyakit malaria dan lebih sering di rumah. Majid lebih akrab dengan kedua kawan barunya, Deden dan Purnomo. Kedua bocah seumuran yang juga teman sekelas di sekolah itu tinggal di jalur yang berbeda, tapi Majid tak pernah keberatan bila harus berjalan sekitar 500 meter sekedar untuk menemua kedua kawan mainnya itu. Kabar baiknya, meski skillnya tak selincah Bayu tapi kedua bocah itu juga suka main bola. Deden yang tinggi besar lebih suka sebagai pemain belakang dan Purnomo yang gendut gempal mau terima nasib bila harus dijadikan keeper. Sesekali, giliran Dadang dan Purnomo yang datang main ke rumah Majid. Sesekali pula Majid mengajak Dadang dan Purnomo datang ke rumah Bayu. Meski hanya duduk di beranda rumah sambil berselimut sarung, Bayu sudah sangat terhibur sekali melihat ketiga bocah itu menendang-nendang bola di halaman depan rumahnya.

Masuk kelas 5 SD, kesehatan Bayu berangsur pulih. Tapi masih belum mampu bila diajak bermain bola. Majid, Bayu, dan Purnomo cukup toleran bila datang ke rumah Bayu, seringnya mereka mengajak bayu bermain catur, main kelereng, main karet, atau main ular tangga. Permainan yang tidak banyak menguras tenaga. Bila terpaksa di sekolah teman-teman mengajak bermain bentengan, engklek, atau patil lele. Mereka akan menempatkan Bayu pada posisi yang tidak banyak menguras tenaga. Jika Bayu merasa kalau fisiknya sudah tak mampu lagi, ia menyisih ke pinggir dan memilih jadi penonton saja. Lihatlah anak itu, Bayu yang dulu lincah gesit dalam mengolah si kulit bundar, sekarang jadi seperti orang kurang gizi, badannya jadi kurus kecil, lemas dan tak bertenaga. Anak perempuan bahkan lebih berdaya dari Bayu yang sekarang. Majid yang tak tega melihat kawannya sering melamun seorang diri di pinggir lapagan, tak jarang ia menemaninya di situ sambil memainkan ukulele.

Beruntungnya, meski parasite malaria berhasil menggerogoti fisik Bayu, tapi parasite itu tidak melemahkan kualitas intelektualnya secara signifikan. Jika biasanya di kelas Bayu selalu ada di peringkat lima besar, kali ini ia berada di lima besar dari bawah, masih tetap disyukuri karena ia tetap bisa bersekolah, mengikuti pelajaran dengan baik, dan tidak sampai tinggal kelas. Badai Malaria itu sebetulnya tidak hanya menimpa Bayu, banyak anak juga yang terpapar. Tapi anak-anak transmigrans itu sudah diberi pencegahan jauh-jauh hari. Di Kampung Basecamp juga sebetulnya ada program pencegahan antimalaria, tapi kondisi psikis yang melemah juga jadi faktor resiko utama. Faktor Resiko itu sukses ditekan saat Bayu mendapati kunjungan pertama dari Andini sejak dua tahun berpisah dan selama itu hanya berkabar melalui surat. (Ali Ridwan, 29/07/20) 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar