Menurut manusia sederhana yang terlahir untuk menikmati keindahan cinta, apa yang lebih indah selain dari kisah cinta saat masih SMA. Cinta monyet orang bilang, cinta manusia normal aku katakan. Dimana pada fase ini, manusia remaja secara naluriah telah belajar mencintai dengan perasaan yang sepolos-polosnya. Tiada cinta seindah cinta masa-masa SMA, itu benar adanya. Dan, beginilah kisah terindahku di masa-masa remaja itu.
Setahun lalu, gadis manis itu, yang
kakinya jenjang itu, hidungnya sedikit melengkung seperti beo itu. Aku menyukai
senyumnya, kulit putih bersih bercahayanya, rambut
hitam lurus panjangnya, gaya busana ala gadis
tomboi kesukaannya, pita-pita imut yang menjepit poninya, serta bando merah jambu
yang sering ia kenakan di kepalanya. Sungguh tak menyesal aku dilahirkan
sebagai lelaki yang bisa menikmati keindahan makhluk Tuhan dengan keelokan
paras bak bidadari kayangan itu. Makhluk yang ketika tersenyum membuat jantung
jadi lumer, bidadari yang ketika mata bulatnya mengarah tepat di mukaku, seolah
bisa membuat aku jadi mati kaku barang sebentar.
Aku menjadi dekat
dengan bidadari kayangan itu saat setahun terakhir, saat kelas kami membuat
kelompok-kelompok belajar kecil. Ujian Nasional memang jadi momok saat kami
sudah duduk di kelas 3 SMA. Kala itu, kami sama-sama menyukai Kimia.
Struktur-struktur yang kata orang rumit itu, bagi kami sudah seperti potongan-potongan
puzel, tumpukan-tumpukan lego, bahkan seperti mainan bongkar pasang.
Ketika mendengar kata
air, kami membayangkan struktur molekulnya. Ketika merasai oksigen, asap kendaraan,
bahkan ketika menatapi benda-benda seperti meja, kursi, sampai makhluk hidup
seperti hewan dan manusia sekalipun, yang ada di pikiran kami ialah struktur
terkecilnya, berupa pertikel atomnya. Raga manusia memang tak lebih dari
kepingan-kepingan yang bila kadar airnya dihisab sampai habis akan menjadi
butiran-butiran debu, seperti kayu yang habis dihisab oleh kobaran api. Dari
kesamaan cara pandang ini, aku dan si bidadari kayangan itu tak ragu menyebut
diri kita dengan kata, kami.
Aku,
kamu, yang menjadi kita. Seperti dua molekul benzen yang saling berikatan
menjadi senyawa aromatis. Ah ya, aromatis. Kata itu bila dihilangkan huruf ‘a’
di mukanya lalu ditambahkan huruf ‘n’ di muka huruf ‘a’ berikutnya maka akan
menjadi kata: romantis. Begitulah harapanku. Berharap hubungan kita menjadi
ikatan yang romantis tapi tidak bersifat sementara. Layaknya senyawa aromatis
yang mudah menguap bila terpapar udara luar.
Udara
luar yang aku maksud di sini, seperti saat momen menjelang perpisahan misalnya.
Momok yang paling aku takutkan setelah kita berhasil lulus UN (Ujian Nasional) nanti.
Tentu
setelah itu, jika tidak ada kesamaan jalan dalam meraih cita-cita, perpisahan
akan jadi satu keniscayaan.
Berpisah jauh dengan si
gadis kayangan nan jelita itu, membayangkannya saja aku sudah tak berani
apalagi sampai benar-benar terjadi. Dan kenyataan tak bisa aku pungkiri,
cita-citaku dan cita-cita si bidadari kayangan itu terlampau jauh dari kata
kesamaan pandangan, sebagaimana kami memandang hal-hal yang ada di dunia ini
dari sudut pandang ilmu kimia.
Aku ingin lanjut ke
bangku kuliah, entah apa nanti jurusan yang akan aku ambil, aku menyukai apapun
yang berbau kimia. Sementara Si Bidadari Kayangan, ia akan mendaftar sekolah di
IPDN. Alasannya sederhana, sudah PNS dan langsung dapat
kerja. Sementara, kalau jadi mahasiswa masih harus keluar biaya dan lulus belum
tentu langsung kerja.
Aku
mengalah, untuk mengawaninya mendaftar IPDN kutunda rencanaku untuk kuliah.
Biar tak disangka menganggur oleh kedua orangtuaku, aku beralasan hendak
mendaftar Polisi. Kurang masuk akal memang, mengingat bentuk tubuhku yang gemuk
dan bulat, tidak suka olah raga, kaca mata, dan gigi rahang yang tanggal satu
kerena tak tahan lagi dengan nyerinya sakit gigi kalau lagi kambuh. Menyesal
sekali, kenapa tidak aku tambal saja gigi itu.
Benar
saja, tes kesehatan namaku langsung terdepak. Bodoh, mengapa musti buang-buang
waktu untuk hal yang sudah pasti kutau hasil akhirnya. Sudah tau tak bisa
berenang, nekat nyebrang sungai modal nekat. Karam lah jadinya. Namun tidak
demikian halnya dengan kekasihku, Bidadari Kayangan. Tidak sia-sia kami belajar
bersama, membabat habis buku-buku tebal berisi soal-soal psikotest, kursus
TOEFL, sampai lari pagi sore. Ia lulus paripurna dan terbang ke Bandung. Sepi
seketika sudah duniaku saat itu. Sudah karam di sungai, diterjang buaya lapar
pula ini namanya.
Enam
bulan sudah aku hilang kontak begitu saja dengan kekasih tercintaku itu, dalam
rasa frustasi dan kesepian yang berkecamuk rindu. Aku yang kini bekerja di
sebuah supermarket mulai merenungi nasib diri. Aku ingin ke Bandung, kuliah.
Ya, kuliah. Sambil menjumpai Si Bidadari Kayangan yang aku cintai dengan amat
dan teramat dalam itu tentunya. Dari Tanah Dayak, kukejar cinta sampai ke
Negeri Parahiyangan.
“Sayonara
Balikpapan…
“Bandung…
Aku datang!!
Sial,
tragis, maksud hati hendak menyelam sambil minum air malah mebuatku mati
tenggelam. Niat memberi kejutan, malah aku yang diberi kejutan. Shock
therapy bertegangan tinggi.
Sore itu di
Jati Nangor Town Square, aku hendak membeli sebuah kado kecil yang akan aku
berikan saat menjumpai kekasihku di hari liburnya lusa. Ternyata hari itu
tanggal merah dan banyak Praja yang menghabiskan waktu liburnya di mol yang
sedang aku kunjungi sore ini.
Saat menaiki
tangga eskalator turun, aku berpapasan dengan sepasang praja yang saling
bergandeng tangan mesra di tangga escalator naik, sebelahku. Aku melihatnya, ia
melihatku. Aku seolah tak percaya itu dia, kuharap aku salah orang. Ia pun
begitu, menatapku amat lama. Mungkin ia mengira aku orang lain yang mirip
denganku, ia belum tau kalau aku menyusulnya ke sini.
Aku masih
penasaran berat, kususul sepasang Praja itu. Kubuntuti diam-diam. Mereka menuju
Ruang Bioskop. Aku masuk ke ruang tunggu pemutaran film seperti orang hilang,
tiba-tiba si Bidadari Kayangan sudah berdiri di samping membentakku “Cari
siapa? Kamu Eddie bukan?”
Tak sempat
aku menjawab pertanyaan itu. Kekasih baru si Bidadari Kayangan yang sekarang kelakuannya
mirip setan itu menarik tangannya “Ayok sayang, pintu teaternya sudah dibuka..”
Meski sambil tetap memandangiku, lamat-lamat
Si Bidadari Bertampang Setan itu lenyap dari mukaku. Aku pergi meninggalkan
Bandung dengan hati hancur, remuk rendam, pecah berkeping-keping. Tamat sudah
cerita dua gugus benzen yang saling mengikat dan membentuk
senyawa oromatis, senyawa itu telah menguap bersama panasnya api
cemburu yang berkobar liar.
***
Pulang malu, tak pulang bingung kemana arah hendak
dituju. Biar begitu, aku tak kecewa meski dengan sepihak membatalkan semua jadwal
ujianku di dua kampus keren seputaran Bandung, UNPAD (Universitas Padjajaran
Bandung) dan ITB (Institut Teknik Bandung). Dari Terminal Cicaheum aku menaikik
Bus menuju Semarang. Ada kakak kelas di sana yang baru lulus kuliah, S1
Farmasi. Apa pula itu Farmasi? Tapi kakak kelas itu bilang, paling relevan
kalau lulus kuliah bisa kerja atau berwirausaha untuk Daerah Kalimantan dan
jurusan kuliahnya ada banyak ilmu fisika kimianya, Farmasi adalah jawabannya.
Beberapa hari ke depan aku akan menginap di tempat kos kakak kelas ku itu,
sebelum aku dipastikan lulus masuk kampus yang disarankannya itu.
“Kau tinggal
saja di kos aku, jagain kos aku. Minggu-minggu ini aku bakal jarang di kosan.
Mau ke Jogja aku”
“Ngapain
Bang?”
“Lanjutin
kuliah apoteker lah..”
“Lahh,
kuliah lagi bang..”
“Iya lah,
aku kan baru lulus S1. Profesinya belum aku ambil. Gelar S.Farm, tanpa Apt. Itu
belum lengkap. Kalau misal ini kuliah dokter, belum dapat gelar dokternya.
Alias masih S.Ked alias Sarjana Kedokteran”
“Wah, kalau
lulus tes masuk nanti bakal panjang perjuanganku Bang?”
“Sudah, kau
jalani saja. Hidup akan terasa singkat kalau kita jalani dengan penuh semangat.
Sebesar apapun tantangannya..”
“Kenapa
lanjutnya mesti ke Jogja Bang?”
“Di STIFAR
(Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi) Semarang ada kuliah profesi apotekernya, tapi
situasiku ini sama dengan kamu sekarang. Habis putus aku. Nah, mantan aku ini
lanjut apotekernya di sini. Beginilah susahnya kalau pacaran sama temen satu
kalas. Untung putusnya pas sudah lulus. Bisa kabur cari tempat kuliah lain aku.
Hahaa..”
“Cinta
memang berperan besar dalam menentukan nasib, cita-cita masa depan seseorang ya
bang..”
“Ah, tidak
semua seperti itu anak muda..”
Satu minggu
kemudian, setelah mengikuti tes oneday
service, aku dinyatakan lulus dan diterima di STIFAR. Ospek adalah momen
yang tak bisa aku lupakan begitu saja. Dari sini aku berkenalan dengan sepasang sejoli,
satu orang Surabaya, satu lagi dari Sumatra, tapi sama-sama datang dari Jakarta.
Nampak dekat dan akrab sekali sejoli itu, andai si cantik penghancur hati yang
kucintai itu tak direnggut orang lain di sekolah pemerintah itu, pasti
hubunganku akan jauh lebih romantis lagi dari sejoli itu. Tapi ya sudahlah, tak
bisa kuganggu si cantik penghancur hati itu dengan kekasih barunya. Lupakan!!
“Eddie..”
Kuulurkan tanganku saat pertama kali kenalan dengan sejoli itu.
“Haloo, nama
gue Dimas, ini Vania. Sahabat aku!!”
“Sahabat,
kayaknya lebih dari sekedar sahabat deh. Gak mungkin sahabat bisa sedekat dan
seakrab gini”
“Sedekat
apapun, seakrab apapun. Kalau salah seorang belum nembak buat ngajak pacaran
dan salah seorang lagi belum menerima ungkapan perasaan itu. Ya ibaratnya belum
ada akad kok sudah dibilang sepasang suami istri” Ujar Vania tanpa tending
aling-aling. Entah apa maksudnya.
Usut punya
usut, laki-laki bernama lengkap Dimas Bagaskara itu ternyata seumuran denganku, frustasi dua kali gagal
masuk tentara, dan kuliah di sebuah kampus
swasta yang ia sendiri tidak paham akan belajar apa ia di situ. Dimas hanya
menuruti apa saja yang diperintahkan bibinya. Sebab kedua orang tuanya berkata
demikian, setidaknya dengan mengikuti kemauan bibinya sama dengan menuruti
kemauan kedua orang tuanya. Harapan, kegegalannya masuk tentara bisa mengobati
kekecewaan orang tuanya kalau Dimas mengambil kampus yang dikehendaki oleh
keluarga besarnya.
Selain dipertemukan
dengan Dimas dan Vania, aku juga berkenalan dengan rombongan dari Solo.
Kelompok itu terdiri dari enam orang, semuanya perempuan kecuali Dewa seorang.
Aku menyebut lelaki itu sebagai kepala suku dari Solo dengan keenam selirnya.
Terakhir aku
berkenalan dengan Valdo dan Maryanto, sepasang
sahabat yang jauh-jauh datang dari Ujung Indonesia, Jayapura, Papua. Valdo seorang putra daerah asli Papua yang lihai pandai sekali bermain
bola. Sedangkan Maryanto pendatang dari Jawa yang lahir dan besar di Papua.
Kelihaiannya dalam mengolah si kulit bundar tak kalah cakap dengan Si Valdo.
Lengkap sudah, Aku, Dimas, Dewa, Valdo, dan Maryanto bisa menjadi satu tim
futsall yang akan merepotkan tim-tim dari kakak kelas kita di kampus nanti.
Gagasan
pertama saat lima remaja laki-laki yang terjebak dalam dunia farmasi membentuk
sebuah band ataupun tim futsal adalah mengontrak sebuah rumah untuk kita
tinggali bersama. Mengontrak dengan sekali bayar selama setahun tentu akan
lebih murah daripada kost dengan bayar uang sewa tiap bulan. Lagipula, tinggal
dikontrakan kita jadi lebih punya kebebasan, bisa belajar hidup lebih mandiri,
seperti tinggal di rumah sendiri. Bedanya, geng kecil ini yang jadi pengganti
keluarga kita yang ada di kampong sana. Satu dapat kiriman paket, semua
merasakan. Satu kehabisan uang bisa saling berhutang. (Ali Ridwan, 18/09/21)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar