Senin, 24 Januari 2022

Dua Molekul Benzen (Cerita Pendek)

 Menurut manusia sederhana yang terlahir untuk menikmati keindahan cinta, apa yang lebih indah selain dari kisah cinta saat masih SMA. Cinta monyet orang bilang, cinta manusia normal aku katakan. Dimana pada fase ini, manusia remaja secara naluriah telah belajar mencintai dengan perasaan yang sepolos-polosnya. Tiada cinta seindah cinta masa-masa SMA, itu benar adanya. Dan, beginilah kisah terindahku di masa-masa remaja itu.

Setahun lalu, gadis manis itu, yang kakinya jenjang itu, hidungnya sedikit melengkung seperti beo itu. Aku menyukai senyumnya, kulit putih bersih bercahayanya, rambut hitam lurus panjangnya, gaya busana ala gadis tomboi kesukaannya, pita-pita imut yang menjepit poninya, serta bando merah jambu yang sering ia kenakan di kepalanya. Sungguh tak menyesal aku dilahirkan sebagai lelaki yang bisa menikmati keindahan makhluk Tuhan dengan keelokan paras bak bidadari kayangan itu. Makhluk yang ketika tersenyum membuat jantung jadi lumer, bidadari yang ketika mata bulatnya mengarah tepat di mukaku, seolah bisa membuat aku jadi mati kaku barang sebentar.

Aku menjadi dekat dengan bidadari kayangan itu saat setahun terakhir, saat kelas kami membuat kelompok-kelompok belajar kecil. Ujian Nasional memang jadi momok saat kami sudah duduk di kelas 3 SMA. Kala itu, kami sama-sama menyukai Kimia. Struktur-struktur yang kata orang rumit itu, bagi kami sudah seperti potongan-potongan puzel, tumpukan-tumpukan lego, bahkan seperti mainan bongkar pasang.

Ketika mendengar kata air, kami membayangkan struktur molekulnya. Ketika merasai oksigen, asap kendaraan, bahkan ketika menatapi benda-benda seperti meja, kursi, sampai makhluk hidup seperti hewan dan manusia sekalipun, yang ada di pikiran kami ialah struktur terkecilnya, berupa pertikel atomnya. Raga manusia memang tak lebih dari kepingan-kepingan yang bila kadar airnya dihisab sampai habis akan menjadi butiran-butiran debu, seperti kayu yang habis dihisab oleh kobaran api. Dari kesamaan cara pandang ini, aku dan si bidadari kayangan itu tak ragu menyebut diri kita dengan kata, kami.

Aku, kamu, yang menjadi kita. Seperti dua molekul benzen yang saling berikatan menjadi senyawa aromatis. Ah ya, aromatis. Kata itu bila dihilangkan huruf ‘a’ di mukanya lalu ditambahkan huruf ‘n’ di muka huruf ‘a’ berikutnya maka akan menjadi kata: romantis. Begitulah harapanku. Berharap hubungan kita menjadi ikatan yang romantis tapi tidak bersifat sementara. Layaknya senyawa aromatis yang mudah menguap bila terpapar udara luar.

Udara luar yang aku maksud di sini, seperti saat momen menjelang perpisahan misalnya. Momok yang paling aku takutkan setelah kita berhasil lulus UN (Ujian Nasional) nanti. Tentu setelah itu, jika tidak ada kesamaan jalan dalam meraih cita-cita, perpisahan akan jadi satu keniscayaan.

Berpisah jauh dengan si gadis kayangan nan jelita itu, membayangkannya saja aku sudah tak berani apalagi sampai benar-benar terjadi. Dan kenyataan tak bisa aku pungkiri, cita-citaku dan cita-cita si bidadari kayangan itu terlampau jauh dari kata kesamaan pandangan, sebagaimana kami memandang hal-hal yang ada di dunia ini dari sudut pandang ilmu kimia.

Aku ingin lanjut ke bangku kuliah, entah apa nanti jurusan yang akan aku ambil, aku menyukai apapun yang berbau kimia. Sementara Si Bidadari Kayangan, ia akan mendaftar sekolah di IPDN. Alasannya sederhana, sudah PNS dan langsung dapat kerja. Sementara, kalau jadi mahasiswa masih harus keluar biaya dan lulus belum tentu langsung kerja.

Aku mengalah, untuk mengawaninya mendaftar IPDN kutunda rencanaku untuk kuliah. Biar tak disangka menganggur oleh kedua orangtuaku, aku beralasan hendak mendaftar Polisi. Kurang masuk akal memang, mengingat bentuk tubuhku yang gemuk dan bulat, tidak suka olah raga, kaca mata, dan gigi rahang yang tanggal satu kerena tak tahan lagi dengan nyerinya sakit gigi kalau lagi kambuh. Menyesal sekali, kenapa tidak aku tambal saja gigi itu.

Benar saja, tes kesehatan namaku langsung terdepak. Bodoh, mengapa musti buang-buang waktu untuk hal yang sudah pasti kutau hasil akhirnya. Sudah tau tak bisa berenang, nekat nyebrang sungai modal nekat. Karam lah jadinya. Namun tidak demikian halnya dengan kekasihku, Bidadari Kayangan. Tidak sia-sia kami belajar bersama, membabat habis buku-buku tebal berisi soal-soal psikotest, kursus TOEFL, sampai lari pagi sore. Ia lulus paripurna dan terbang ke Bandung. Sepi seketika sudah duniaku saat itu. Sudah karam di sungai, diterjang buaya lapar pula ini namanya.

Enam bulan sudah aku hilang kontak begitu saja dengan kekasih tercintaku itu, dalam rasa frustasi dan kesepian yang berkecamuk rindu. Aku yang kini bekerja di sebuah supermarket mulai merenungi nasib diri. Aku ingin ke Bandung, kuliah. Ya, kuliah. Sambil menjumpai Si Bidadari Kayangan yang aku cintai dengan amat dan teramat dalam itu tentunya. Dari Tanah Dayak, kukejar cinta sampai ke Negeri Parahiyangan.

“Sayonara Balikpapan…

“Bandung… Aku datang!!

Sial, tragis, maksud hati hendak menyelam sambil minum air malah mebuatku mati tenggelam. Niat memberi kejutan, malah aku yang diberi kejutan. Shock therapy bertegangan tinggi.

Sore itu di Jati Nangor Town Square, aku hendak membeli sebuah kado kecil yang akan aku berikan saat menjumpai kekasihku di hari liburnya lusa. Ternyata hari itu tanggal merah dan banyak Praja yang menghabiskan waktu liburnya di mol yang sedang aku kunjungi sore ini.

Saat menaiki tangga eskalator turun, aku berpapasan dengan sepasang praja yang saling bergandeng tangan mesra di tangga escalator naik, sebelahku. Aku melihatnya, ia melihatku. Aku seolah tak percaya itu dia, kuharap aku salah orang. Ia pun begitu, menatapku amat lama. Mungkin ia mengira aku orang lain yang mirip denganku, ia belum tau kalau aku menyusulnya ke sini.

Aku masih penasaran berat, kususul sepasang Praja itu. Kubuntuti diam-diam. Mereka menuju Ruang Bioskop. Aku masuk ke ruang tunggu pemutaran film seperti orang hilang, tiba-tiba si Bidadari Kayangan sudah berdiri di samping membentakku “Cari siapa? Kamu Eddie bukan?”

Tak sempat aku menjawab pertanyaan itu. Kekasih baru si Bidadari Kayangan yang sekarang kelakuannya mirip setan itu menarik tangannya “Ayok sayang, pintu teaternya sudah dibuka..”

  Meski sambil tetap memandangiku, lamat-lamat Si Bidadari Bertampang Setan itu lenyap dari mukaku. Aku pergi meninggalkan Bandung dengan hati hancur, remuk rendam, pecah berkeping-keping. Tamat sudah cerita dua gugus benzen yang saling mengikat dan membentuk senyawa oromatis, senyawa itu telah menguap bersama panasnya api cemburu yang berkobar liar.

***

Pulang malu, tak pulang bingung kemana arah hendak dituju. Biar begitu, aku tak kecewa meski dengan sepihak membatalkan semua jadwal ujianku di dua kampus keren seputaran Bandung, UNPAD (Universitas Padjajaran Bandung) dan ITB (Institut Teknik Bandung). Dari Terminal Cicaheum aku menaikik Bus menuju Semarang. Ada kakak kelas di sana yang baru lulus kuliah, S1 Farmasi. Apa pula itu Farmasi? Tapi kakak kelas itu bilang, paling relevan kalau lulus kuliah bisa kerja atau berwirausaha untuk Daerah Kalimantan dan jurusan kuliahnya ada banyak ilmu fisika kimianya, Farmasi adalah jawabannya. Beberapa hari ke depan aku akan menginap di tempat kos kakak kelas ku itu, sebelum aku dipastikan lulus masuk kampus yang disarankannya itu.

“Kau tinggal saja di kos aku, jagain kos aku. Minggu-minggu ini aku bakal jarang di kosan. Mau ke Jogja aku”

“Ngapain Bang?”

“Lanjutin kuliah apoteker lah..”

“Lahh, kuliah lagi bang..”

“Iya lah, aku kan baru lulus S1. Profesinya belum aku ambil. Gelar S.Farm, tanpa Apt. Itu belum lengkap. Kalau misal ini kuliah dokter, belum dapat gelar dokternya. Alias masih S.Ked alias Sarjana Kedokteran”

“Wah, kalau lulus tes masuk nanti bakal panjang perjuanganku Bang?”

“Sudah, kau jalani saja. Hidup akan terasa singkat kalau kita jalani dengan penuh semangat. Sebesar apapun tantangannya..”

“Kenapa lanjutnya mesti ke Jogja Bang?”

“Di STIFAR (Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi) Semarang ada kuliah profesi apotekernya, tapi situasiku ini sama dengan kamu sekarang. Habis putus aku. Nah, mantan aku ini lanjut apotekernya di sini. Beginilah susahnya kalau pacaran sama temen satu kalas. Untung putusnya pas sudah lulus. Bisa kabur cari tempat kuliah lain aku. Hahaa..”

“Cinta memang berperan besar dalam menentukan nasib, cita-cita masa depan seseorang ya bang..”

“Ah, tidak semua seperti itu anak muda..”

Satu minggu kemudian, setelah mengikuti tes oneday service, aku dinyatakan lulus dan diterima di STIFAR. Ospek adalah momen yang tak bisa aku lupakan begitu saja. Dari sini aku berkenalan dengan sepasang sejoli, satu orang Surabaya, satu lagi dari Sumatra, tapi sama-sama datang dari Jakarta. Nampak dekat dan akrab sekali sejoli itu, andai si cantik penghancur hati yang kucintai itu tak direnggut orang lain di sekolah pemerintah itu, pasti hubunganku akan jauh lebih romantis lagi dari sejoli itu. Tapi ya sudahlah, tak bisa kuganggu si cantik penghancur hati itu dengan kekasih barunya. Lupakan!!

“Eddie..” Kuulurkan tanganku saat pertama kali kenalan dengan sejoli itu.

“Haloo, nama gue Dimas, ini Vania. Sahabat aku!!”

“Sahabat, kayaknya lebih dari sekedar sahabat deh. Gak mungkin sahabat bisa sedekat dan seakrab gini”

“Sedekat apapun, seakrab apapun. Kalau salah seorang belum nembak buat ngajak pacaran dan salah seorang lagi belum menerima ungkapan perasaan itu. Ya ibaratnya belum ada akad kok sudah dibilang sepasang suami istri” Ujar Vania tanpa tending aling-aling. Entah apa maksudnya.

Usut punya usut, laki-laki bernama lengkap Dimas Bagaskara itu ternyata seumuran denganku, frustasi dua kali gagal masuk tentara, dan kuliah di sebuah kampus swasta yang ia sendiri tidak paham akan belajar apa ia di situ. Dimas hanya menuruti apa saja yang diperintahkan bibinya. Sebab kedua orang tuanya berkata demikian, setidaknya dengan mengikuti kemauan bibinya sama dengan menuruti kemauan kedua orang tuanya. Harapan, kegegalannya masuk tentara bisa mengobati kekecewaan orang tuanya kalau Dimas mengambil kampus yang dikehendaki oleh keluarga besarnya.

Selain dipertemukan dengan Dimas dan Vania, aku juga berkenalan dengan rombongan dari Solo. Kelompok itu terdiri dari enam orang, semuanya perempuan kecuali Dewa seorang. Aku menyebut lelaki itu sebagai kepala suku dari Solo dengan keenam selirnya.

Terakhir aku berkenalan dengan Valdo dan Maryanto, sepasang sahabat yang jauh-jauh datang dari Ujung Indonesia, Jayapura, Papua. Valdo seorang putra daerah asli Papua yang lihai pandai sekali bermain bola. Sedangkan Maryanto pendatang dari Jawa yang lahir dan besar di Papua. Kelihaiannya dalam mengolah si kulit bundar tak kalah cakap dengan Si Valdo. Lengkap sudah, Aku, Dimas, Dewa, Valdo, dan Maryanto bisa menjadi satu tim futsall yang akan merepotkan tim-tim dari kakak kelas kita di kampus nanti.

Gagasan pertama saat lima remaja laki-laki yang terjebak dalam dunia farmasi membentuk sebuah band ataupun tim futsal adalah mengontrak sebuah rumah untuk kita tinggali bersama. Mengontrak dengan sekali bayar selama setahun tentu akan lebih murah daripada kost dengan bayar uang sewa tiap bulan. Lagipula, tinggal dikontrakan kita jadi lebih punya kebebasan, bisa belajar hidup lebih mandiri, seperti tinggal di rumah sendiri. Bedanya, geng kecil ini yang jadi pengganti keluarga kita yang ada di kampong sana. Satu dapat kiriman paket, semua merasakan. Satu kehabisan uang bisa saling berhutang. (Ali Ridwan, 18/09/21)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar