Sore itu matahari tenggelam dengan
nuansa terindahnya, sorot keemasan memancar dari balik awan-awan kemuning yang
bergumul. Jingga warna langit senja itu menambahkan pesona alam yang
mengagumkan pandangan mata. Adakah senja seindah itu di negeri yang daratannya
dilapisi bongkahan-bongkahan es, yang daratannya ditimbuni pasir gersang, yang
daratannya ditumbuhi satu jenis rerumputan saja? Ketahuilah, lansekap cakrawala
di langit sore yang disebut senja itu akan terasa indah dan menentramkan
bilamana bisa dinikmati sembari melamuni diri di tepian pantai. Makna cakrawala
senja yang dipandangi dari bibir pantai oleh seorang nelayan di kepulauan tentu
tak sama dengan manusia dari daratan es, gurun pasir, atau padang rumput.
“Tuan pendekar,
tinggallah bersama kami. Lindungi desa kami dari ancaman mara bahaya Kepandaian tuan dalam bermain silat, kemapanan
ilmu kanuragan yang tuan miliki, serta keahlian tuan dalam dunia pengobatan
akan sangat dibutuhkan penduduk sini. Menetaplah di desa kami tuan” Pinta salah
seorang tetua desa pada seorang pemuda pengembara berjuluk Pendekar Tapak Dewa
itu.
“Ampun beribu ampun
kisana. Maaf beribu maaf pula. Aku tak bisa mengabulkan keinginan kalian.
Negeri kalian indah, sungguh negeri yang dilindungi para dewa. Tanahnya subur
makmur, Hasil lautnya melimpah ruah.. Cuacanya hangat, tiada dingin yang
teramat, tiada panas yang terlalu, di sini aku betah bertelanjang dada, sampai
jubbah-ku kusam hanya terlalu lama menggantung di dinding kamar. Penduduknya
baik-baik serta murah senyum. Tak lupa aku haturkan beribu-ribu terimakasih
telah menerimaku di desa kisana sekalian dengan ramah. Aku cinta negeri kalian,
lebih-lebih pada desa kalian. Tapi aku harus pamit undur diri”
“Kemana tuan pendekar
hendak berkelana?”
“Menjutkan perjalanan
yang tujuannya tak bisa aku ceritakan”
Sebelum penduduk desa
menyelamatkan jiwanya. Raga Pendekar muda itu ditemukan terkapar di tepi pantai
utara Sumatera, hanyut ke tepian setelah bajak laut sakti mengaramkan kapal
yang ditumpanginya. Sebuah kapal dagang yang berlayar melintas selat Malaka yang
hendak menuju Pelabuhan Tuban di Utara Jawa. Pukulan Tapak Dewa yang
dihantamkan pada Bajak Laut Sakti yang terkenal ganas dan memiliki gelar
Pendekar Kapak Emas Beracun itu berhasil membalikkan energi pukulan yang dilepas
Pendekar Tapak Dewa. Terkena hantaman energi dari pukulannya sendiri, Pendekar
Tapak Dewa terlempar keluar kapal, tercebur kelaut. Beruntung ombak laut
membawanya ke tepian dalam keadaan bernyawa, meski sekarat.
“Sesuai dengan janjiku
waktu kau kecil dulu. Setelah akil baligh nanti. Setelah minimal 17 tahun
usiamu, akan aku ajarkan pukulan inti ciptaanku, Pukulan Tapak Dewa. Sekarang
18 tahun usiamu dan telah aku ajarkan pukulan sakti penebar maut itu padamu,
muridku. Akan tetapi, Pukulan Tapak Dewa yang telah aku ajarkan itu belumlah
sempurna. Kau harus mengembara ke empat negeri dengan iklim yang berbeda, pergi
ke sana dan bertapa di sana. Negeri yang tanahnya subur makmur untuk
menyempurnakan Pukulan Tapak Lemah. Negeri padang rumput untuk menyempurnakan
Pukulan Tapak Bayu, Negeri padang pasir yang gersang untuk menyempurnakan
Pukulan Tapak Geni, Serta negeri kepulauan untuk Pukulan Tapak Tirta” Pesan
Empu Mahadewa pada Pendekar Tapak Dewa, murid simata wayangnya.
“Bila kau mampu
menyelesaikan tapa bratamu di negeri yang tanahnya subur makmur itu.
Ketahuilah, kekuatan Pukulan Tapak Lemah-mu saat itu bila dibanding dengan
pukulan Tapak Dewa-mu yang sekarang ini, kekuatan Tapak Dewa-mu belum ada
sepersepuluhnya. Oleh karena Pukulan Tapak Dewa ialah penggabungan keempat
jenis pukulan tadi, kau harus menyempurbakan keempatnya untuk menyempurnakan
pukulan intinya, Pukulan Tapak Dewa.
“Untuk menjaga dan membela
diri di perjalanan. Aku bekali kau dengan pusaka Pedang Permata Langit. Semoga
Dewata menyertai perjalanan-mu, muridku.”
“Beribu-ribu terimakasih
kuhaturkan pada eyang guru. Akan hamba selesaikan tapabrata di empat negeri
dengan iklim berbeda. Demi sempurnanya ilmu yang telah eyang guru ajarkan pada
hamba”
“Bagus, jangan pernah
kembali sebelum berhasil menyempurnakan”
“Restu guru jadi jalan
keberhasilan manba”
“Restuku menyertaimu,
muridku”
“Hamba mohon diri, guru..”
Teringat pada perintah
gurunya itu, Pendekar Tapak Dewa tersadar dengan tujuan perjalanannya. Setelah
enam bulan hidup bersama warga desa di pantai utara Sumatra itu. Hidup dan
bekerja membantu penduduk desa dengan segenap ilmu dan kemampuan yang
dimilikinya. Ia lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dengan
menggendong Pedang Permata Langit di pundaknya, Pendekar Tapak Dewa berjalan ke
arah timur, menuju Pulau Jawa. Menurut pesan gurunya, ia harus menemui seorang
biksu suci yang sedang bertapa di sebuah kuil di sebuah lereng gunung berapi.
(Ali Ridwan, 2021)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar