Senin, 24 Januari 2022

Cakrawala di Negeri Subur Makmur

Sore itu matahari tenggelam dengan nuansa terindahnya, sorot keemasan memancar dari balik awan-awan kemuning yang bergumul. Jingga warna langit senja itu menambahkan pesona alam yang mengagumkan pandangan mata. Adakah senja seindah itu di negeri yang daratannya dilapisi bongkahan-bongkahan es, yang daratannya ditimbuni pasir gersang, yang daratannya ditumbuhi satu jenis rerumputan saja? Ketahuilah, lansekap cakrawala di langit sore yang disebut senja itu akan terasa indah dan menentramkan bilamana bisa dinikmati sembari melamuni diri di tepian pantai. Makna cakrawala senja yang dipandangi dari bibir pantai oleh seorang nelayan di kepulauan tentu tak sama dengan manusia dari daratan es, gurun pasir, atau padang rumput.

“Tuan pendekar, tinggallah bersama kami. Lindungi desa kami dari ancaman mara bahaya  Kepandaian tuan dalam bermain silat, kemapanan ilmu kanuragan yang tuan miliki, serta keahlian tuan dalam dunia pengobatan akan sangat dibutuhkan penduduk sini. Menetaplah di desa kami tuan” Pinta salah seorang tetua desa pada seorang pemuda pengembara berjuluk Pendekar Tapak Dewa itu.

“Ampun beribu ampun kisana. Maaf beribu maaf pula. Aku tak bisa mengabulkan keinginan kalian. Negeri kalian indah, sungguh negeri yang dilindungi para dewa. Tanahnya subur makmur, Hasil lautnya melimpah ruah.. Cuacanya hangat, tiada dingin yang teramat, tiada panas yang terlalu, di sini aku betah bertelanjang dada, sampai jubbah-ku kusam hanya terlalu lama menggantung di dinding kamar. Penduduknya baik-baik serta murah senyum. Tak lupa aku haturkan beribu-ribu terimakasih telah menerimaku di desa kisana sekalian dengan ramah. Aku cinta negeri kalian, lebih-lebih pada desa kalian. Tapi aku harus pamit undur diri”

“Kemana tuan pendekar hendak berkelana?”

“Menjutkan perjalanan yang tujuannya tak bisa aku ceritakan”

Sebelum penduduk desa menyelamatkan jiwanya. Raga Pendekar muda itu ditemukan terkapar di tepi pantai utara Sumatera, hanyut ke tepian setelah bajak laut sakti mengaramkan kapal yang ditumpanginya. Sebuah kapal dagang yang berlayar melintas selat Malaka yang hendak menuju Pelabuhan Tuban di Utara Jawa. Pukulan Tapak Dewa yang dihantamkan pada Bajak Laut Sakti yang terkenal ganas dan memiliki gelar Pendekar Kapak Emas Beracun itu berhasil membalikkan energi pukulan yang dilepas Pendekar Tapak Dewa. Terkena hantaman energi dari pukulannya sendiri, Pendekar Tapak Dewa terlempar keluar kapal, tercebur kelaut. Beruntung ombak laut membawanya ke tepian dalam keadaan bernyawa, meski sekarat.

“Sesuai dengan janjiku waktu kau kecil dulu. Setelah akil baligh nanti. Setelah minimal 17 tahun usiamu, akan aku ajarkan pukulan inti ciptaanku, Pukulan Tapak Dewa. Sekarang 18 tahun usiamu dan telah aku ajarkan pukulan sakti penebar maut itu padamu, muridku. Akan tetapi, Pukulan Tapak Dewa yang telah aku ajarkan itu belumlah sempurna. Kau harus mengembara ke empat negeri dengan iklim yang berbeda, pergi ke sana dan bertapa di sana. Negeri yang tanahnya subur makmur untuk menyempurnakan Pukulan Tapak Lemah. Negeri padang rumput untuk menyempurnakan Pukulan Tapak Bayu, Negeri padang pasir yang gersang untuk menyempurnakan Pukulan Tapak Geni, Serta negeri kepulauan untuk Pukulan Tapak Tirta” Pesan Empu Mahadewa pada Pendekar Tapak Dewa, murid simata wayangnya.

“Bila kau mampu menyelesaikan tapa bratamu di negeri yang tanahnya subur makmur itu. Ketahuilah, kekuatan Pukulan Tapak Lemah-mu saat itu bila dibanding dengan pukulan Tapak Dewa-mu yang sekarang ini, kekuatan Tapak Dewa-mu belum ada sepersepuluhnya. Oleh karena Pukulan Tapak Dewa ialah penggabungan keempat jenis pukulan tadi, kau harus menyempurbakan keempatnya untuk menyempurnakan pukulan intinya, Pukulan Tapak Dewa.

“Untuk menjaga dan membela diri di perjalanan. Aku bekali kau dengan pusaka Pedang Permata Langit. Semoga Dewata menyertai perjalanan-mu, muridku.”

“Beribu-ribu terimakasih kuhaturkan pada eyang guru. Akan hamba selesaikan tapabrata di empat negeri dengan iklim berbeda. Demi sempurnanya ilmu yang telah eyang guru ajarkan pada hamba”

“Bagus, jangan pernah kembali sebelum berhasil menyempurnakan”

“Restu guru jadi jalan keberhasilan manba”

“Restuku menyertaimu, muridku”

“Hamba mohon diri, guru..”

Teringat pada perintah gurunya itu, Pendekar Tapak Dewa tersadar dengan tujuan perjalanannya. Setelah enam bulan hidup bersama warga desa di pantai utara Sumatra itu. Hidup dan bekerja membantu penduduk desa dengan segenap ilmu dan kemampuan yang dimilikinya. Ia lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dengan menggendong Pedang Permata Langit di pundaknya, Pendekar Tapak Dewa berjalan ke arah timur, menuju Pulau Jawa. Menurut pesan gurunya, ia harus menemui seorang biksu suci yang sedang bertapa di sebuah kuil di sebuah lereng gunung berapi. (Ali Ridwan, 2021)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar