Kamis, 30 Januari 2014

Kosmetik (Krim Eye Shadow)

Eye shadow adalah salah satu jenis kosmetik yang biasa digunakan untuk mewarnai kelopak mata sehingga terbentuk bayangan yang baik. Eye shadow yang baik memiliki sifat mudah digunakan secara halus dan mempunyai daya adhesi yang bagus untuk kulit, tidak mengalami perubahan warna, tidak menciptakan noda ketika terkena keringat. Selain itu, eye shadow tidak berminyak ketika digunakan. Umumnya eye shadow tersedia dalam bentuk padat, berupa serbuk; stik yang berbasis minyak; atau pensil. Namun, saat ini eye shadow dapat dijumpai dalam bentuk cair pasta yang berbasis minyak maupun berupa emulsi. Bentuk emulsi ini dapat berupa o/w atau w/o, tergantung pada jenis emulsifier yang digunakan.
Untuk kecenderungan kebutuhan pemakai, eye shadow tipe w/o lebih dibutuhkan. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan produk yang tahan air, baik itu  terhadap keringat, air mata, maupun air hujan. Dengan tipe w/o, fase luar yang bersentuhan dengan kulit adalah fase minyak sehingga kebutuhan ini dapat terpenuhi. Akan tetapi, hingga saat ini, eye shadow yang diproduksi cenderung bertipe o/w.  Emulsi yang dibuat dengan emulsifier ini lebih murah, lebih mudah dibuat, lebih enak dipakai karena tidak begitu lengket, lebih cepat menyebar di kulit dan lebih dingin. Jenis emulsifier ini cocok digunakan dalam eye shadow bentuk cair pasta (krim) karena memiliki sifat yang lebih lambat mengeras. Dengan begitu, stabilitas sediaan lebih tinggi (Darijanto et al. , 2007).
Untuk menghasilkan warna yang bervariasi, eye shadow menggunakan pigmen. Pigmen yang digunakan dapat berupa pigmen organik ataupun anorganik. Umumnya, pigmen anorganik berupa titanium dioksida yang dilapisi mika banyak digunakan. Ini dibutuhkan untuk memperoleh varian warna yang lebih luas. Proses yang dibutuhkan dalam pembuatan pigmen ini adalah penghalusan titanium dioksida dan mika disertai pengadukan sampai tercipta warna yang homogen (Anonim, 2011).
Bahan tambahan berupa pengawet juga diberikan untuk memperpanjang umur simpan produk. Produk eye shadow emulsi mengandung cairan sehingga memiliki risiko tercemari oleh mikroba. Oleh karena itu, cairan emulsi dilindungi oleh pengawet sehingga mikroba tidak tumbuh. Selain itu, terdapat juga penambahan aktioksidan dari fase minyak. Ini memiliki kegunaan mencegah oksidasi dari asam stearat dan pigmen sehingga emulsi stabil dengan warna yang tetap konstan.
Proses untuk memproduksi eye shadow tipe emulsi dimulai dengan persiapan masing-masing bahan. Bahan serbuk dicampur hingga homogen. Bahan fase minyak dibuat menjadi larutan pada suhu 75-800C. Sementara, bahan-bahan fase air dibuat pada suhu 70-750C. Bahan serbuk dicampur dengan bahan fase air. Setelah itu, dilakukan pencampuran dengan fase minyak. Umumnya, unit operasi ini dilakukan menggunakan homomixer. Produk emulsi ini diberi perlakuan pendinginan hingga mencapai suhu kamar dan dipress dalam wadah eye shadow (Winanti, 2011).
Terdapat beberapa pengujian yang dapat dilakukan dalam produk ini. Uji yang paling utama adalah uji stabilitas emulsi. Uji ini diperlukan untuk mengetahui berapa lama produk ini akan stabil selama penyimpanan. Untuk penggunaannya, dibutuhkan waktu simpan yang panjang karena kecenderungan pemakaian yang lama habis. Oleh karena itu, diperlukan stabilitas yang tinggi. Harapannya, produk eye shadow ini tidak mengalami creaming ataupun koalesen selama penyimpanan.
Uji berikutnya yang biasa dilakukan dalam pengujian produk eye shadow adalah uji dispersi pewarna. Uji ini penting dilakukan karena perwarna yang digunakan cenderung lebih banyak dibandingkan dengan jenis produk lainnya. Jika pewarna tidak terdispersi dengan baik, akan muncul garis pada wajah konsumen. Pencetakan pun akan lebih sulit.
Uji kesesuaian bayangan juga perlu dilakukan. Uji ini dilakukan untuk memastikan bahwa spesifik bayangan pada setiap batch sama dengan batch sebelumnya. Pada uji ini, dilakukan perbandingan produk dengan produk sebelumnya yang telah diterima sebagai standar bayangan partikular yang diproduksi. Ini harus dilakukan pada tempat dengan cahaya yang standar. Warna bayangan akan terkait dengan dispersi warna dan jumlah minyak.
Emulsi eye shadow juga perlu diuji secara mikrobial untuk memastikan tidak ada kontaminasi sepanjang proses produksi. Pengujian ini dilakukan pada sampel produk sebelum pencetakan (Tandiarrang, 2011).
Uji untuk aplikasi eye shadow meliputi uji lekatan dan uji hedonik.  Uji lekatan (patch test) merupakan uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Sementara, uji kesukaan (hedonic test) adalah pengujian terhadap kesan subyektif yang sifatnya suka atau tidak suka terhadap produk ini. Pelaksanaan uji ini memerlukan dua pihak yang bekerja sama, yaitu panel dan pelaksana. Jumlah panel uji kesukaan yang semakin banyak semakin baik, sebaiknya melebihi 20 orang. Jumlah yang lebih besar akan menghasilkan kesimpulan penerimaan pasar yang lebih valid.
Pengembangan yang dapat dikerjakan untuk produk eye shadow adalah pembuatan eye shadow tipe w/o. Ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sesuai yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk membuat tipe emulsi ini, diperlukan emulsifier w/o. Salah satu jenis yang dapat digunakan adalah polygliceryl oleat. Emulsifier ini memiliki titik didih >3000F dengan warna kuning, cukup stabil dan tidak berbahaya (Anonim, 2011). Ini merupakan jenis nonionik (netral).
Pengembangan lain yang dapat dilakukan adalah variasi warna, misalnya pemberian efek glitter. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan mika mutiara saat pembuatan pigmen dengan titanium dioksida. Jika ingin didapatkan efek warna perak atau keemasan, dapat ditambahkan dengan serbuk metalik seperti aluminum dan perunggu.
Selain itu, pengembangan yang dapat dilakukan adalah pembuatan produk kosmetik multifungsi. Karakter dan formulasi eye shadow umumnya tidak berbeda jauh dengan blush on (perona pipi). Oleh karena itu, dapat dibuat produk emulsi berupa krim yang aplikasinya dapat digunakan sebagai eye shadow ataupun blush on. Produk ini akan lebih efisien dan praktis untuk konsumen yang sering bepergian
Evaluasi dan Uji Standar Nasional Indonesia meliputi :

Uji Penampakan
Uji penampakan dapat dilakukan dengan cara visual yang meliputi pengujian pada warna, bau, dan daya lekat sediaan. Pengamatan harus dilakukan secara teliti dan bila ada hasil yang kurang sesuai dengan ketentuan maka perlu dilakukan evaluasi ulang dan kemudian melakukan solusi yang tepat.

Uji pH
Penggunaan indikator dalam pengujian dan penetapan kadar untuk menunjukkan kesempurnaan reaksi kimia dalam analisa volumetrik atau untuk menunjukkan kadar ion hydrogen (pH) larutan suatu sediaan.

Uji Bobot Jenis
Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, penetapan bobot jenis hanya berlaku untuk cairan, dan kecuali dinyatakan lain, bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25°c terhadap bobot air volume sama. Jika zat pada suhu 25°c berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang tertera dalam manografi dan bandingkan terhadap air pada suhu 25°c.

Uji Viskoitas
Viskositas atau kekentalan adalah sifat cairan yang bertalian rapat dengan hambatan untuk mengalir. Ini didefinisikan sebagai tenaga yang diperlukan untuk menggerakan suatu permukaan bidang melalui permukaan lain dalam kondisi yang ditentukan, jika ruang diantaranya diisi oleh cairan tersebut ini dapat dianggap lebih sederhana sebagai suatu sifat relative dimana air adalah bahan pembanding dan semua kekentalan dinyatakan terhadap kekentalan air murni pada 20°c.

Uji Daya Guna Pengawet Anti Mikroba
Pengawet antimikroba ialah zat yang ditambahkan pada bentuk sediaan untuk melindungi dari kontaminasi mikroba. Pengawet digunakan terutama pada wadah pemakaian berganda untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang dapat masuk secara tidak sengaja, selam atau setelah proses pembuatan. Zat antimikroba tidak boleh digunakan semata-mata untuk menurunkan hitungan mikroba yang masih memiliki daya hidup sebagai pengganti cara produksi yang baik.

Uji Cemaran Mikroba
Uji yang pertama adalah melakukan uji bebas staphylococcus aureus dengan menggunakan uji koagulasi, dan uji bebas pseudomonas auruginosa menggunakan uji oksidasi dan pigmen. Uji kedua yang dilakukan adalah uji bebas salmonella dengan menggunakan singkelit dan uji bebas escherichiacoli dengan menggunakan singkelit. (Akfar, PIM/2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar