Eye shadow adalah salah
satu jenis kosmetik yang biasa digunakan untuk mewarnai kelopak mata sehingga
terbentuk bayangan yang baik. Eye shadow yang baik memiliki sifat mudah
digunakan secara halus dan mempunyai daya adhesi yang bagus untuk kulit, tidak
mengalami perubahan warna, tidak menciptakan noda ketika terkena keringat.
Selain itu, eye shadow tidak berminyak ketika digunakan. Umumnya eye shadow tersedia dalam bentuk padat,
berupa serbuk; stik yang berbasis minyak; atau pensil. Namun, saat ini eye
shadow dapat dijumpai dalam bentuk cair pasta yang berbasis minyak maupun
berupa emulsi. Bentuk emulsi ini dapat berupa o/w atau w/o, tergantung pada
jenis emulsifier yang digunakan.
Untuk kecenderungan kebutuhan
pemakai, eye shadow tipe w/o lebih dibutuhkan. Hal ini disebabkan oleh
kebutuhan produk yang tahan air, baik itu terhadap keringat, air mata,
maupun air hujan. Dengan tipe w/o, fase luar yang bersentuhan dengan kulit
adalah fase minyak sehingga kebutuhan ini dapat terpenuhi. Akan tetapi, hingga
saat ini, eye shadow yang diproduksi cenderung bertipe o/w. Emulsi yang dibuat dengan emulsifier ini
lebih murah, lebih mudah dibuat, lebih enak dipakai karena tidak begitu
lengket, lebih cepat menyebar di kulit dan lebih dingin. Jenis emulsifier ini
cocok digunakan dalam eye shadow bentuk cair pasta (krim) karena
memiliki sifat yang lebih lambat mengeras. Dengan begitu, stabilitas sediaan
lebih tinggi (Darijanto et al. , 2007).
Untuk menghasilkan warna yang
bervariasi, eye shadow menggunakan pigmen. Pigmen yang digunakan dapat
berupa pigmen organik ataupun anorganik. Umumnya, pigmen anorganik berupa
titanium dioksida yang dilapisi mika banyak digunakan. Ini dibutuhkan untuk
memperoleh varian warna yang lebih luas. Proses yang dibutuhkan dalam pembuatan
pigmen ini adalah penghalusan titanium dioksida dan mika disertai pengadukan
sampai tercipta warna yang homogen (Anonim, 2011).
Bahan tambahan berupa pengawet juga
diberikan untuk memperpanjang umur simpan produk. Produk eye shadow emulsi
mengandung cairan sehingga memiliki risiko tercemari oleh mikroba. Oleh karena
itu, cairan emulsi dilindungi oleh pengawet sehingga mikroba tidak tumbuh.
Selain itu, terdapat juga penambahan aktioksidan dari fase minyak. Ini memiliki
kegunaan mencegah oksidasi dari asam stearat dan pigmen sehingga emulsi stabil
dengan warna yang tetap konstan.
Proses untuk memproduksi eye
shadow tipe emulsi dimulai dengan persiapan masing-masing bahan. Bahan
serbuk dicampur hingga homogen. Bahan fase minyak dibuat menjadi larutan pada
suhu 75-800C. Sementara, bahan-bahan fase air dibuat pada suhu 70-750C.
Bahan serbuk dicampur dengan bahan fase air. Setelah itu, dilakukan pencampuran
dengan fase minyak. Umumnya, unit operasi ini dilakukan menggunakan homomixer.
Produk emulsi ini diberi perlakuan pendinginan hingga mencapai suhu kamar dan
dipress dalam wadah eye shadow (Winanti, 2011).
Terdapat beberapa pengujian yang
dapat dilakukan dalam produk ini. Uji yang paling utama adalah uji stabilitas
emulsi. Uji ini diperlukan untuk mengetahui berapa lama produk ini akan stabil
selama penyimpanan. Untuk penggunaannya, dibutuhkan waktu simpan yang panjang
karena kecenderungan pemakaian yang lama habis. Oleh karena itu, diperlukan
stabilitas yang tinggi. Harapannya, produk eye shadow ini tidak
mengalami creaming ataupun koalesen selama penyimpanan.
Uji berikutnya yang biasa dilakukan
dalam pengujian produk eye shadow adalah uji dispersi pewarna. Uji ini
penting dilakukan karena perwarna yang digunakan cenderung lebih banyak dibandingkan
dengan jenis produk lainnya. Jika pewarna tidak terdispersi dengan baik, akan
muncul garis pada wajah konsumen. Pencetakan pun akan lebih sulit.
Uji kesesuaian bayangan juga perlu
dilakukan. Uji ini dilakukan untuk memastikan bahwa spesifik bayangan pada
setiap batch sama dengan batch sebelumnya. Pada uji ini, dilakukan perbandingan
produk dengan produk sebelumnya yang telah diterima sebagai standar bayangan
partikular yang diproduksi. Ini harus dilakukan pada tempat dengan cahaya yang
standar. Warna bayangan akan terkait dengan dispersi warna dan jumlah minyak.
Emulsi eye shadow juga perlu
diuji secara mikrobial untuk memastikan tidak ada kontaminasi sepanjang proses
produksi. Pengujian ini dilakukan pada sampel produk sebelum pencetakan
(Tandiarrang, 2011).
Uji untuk aplikasi eye shadow meliputi
uji lekatan dan uji hedonik. Uji lekatan (patch test) merupakan
uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan
uji pada kulit normal panel manusia untuk mengetahui apakah sediaan tersebut
dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Sementara, uji kesukaan (hedonic
test) adalah pengujian terhadap kesan subyektif yang sifatnya suka atau
tidak suka terhadap produk ini. Pelaksanaan uji ini memerlukan dua pihak yang
bekerja sama, yaitu panel dan pelaksana. Jumlah panel uji kesukaan yang semakin
banyak semakin baik, sebaiknya melebihi 20 orang. Jumlah yang lebih besar akan
menghasilkan kesimpulan penerimaan pasar yang lebih valid.
Pengembangan yang dapat dikerjakan
untuk produk eye shadow adalah pembuatan eye shadow tipe w/o. Ini
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sesuai yang telah dijelaskan
sebelumnya. Untuk membuat tipe emulsi ini, diperlukan emulsifier w/o. Salah
satu jenis yang dapat digunakan adalah polygliceryl oleat. Emulsifier
ini memiliki titik didih >3000F dengan warna kuning, cukup stabil
dan tidak berbahaya (Anonim, 2011). Ini merupakan jenis nonionik (netral).
Pengembangan lain yang dapat
dilakukan adalah variasi warna, misalnya pemberian efek glitter. Hal ini
dapat dilakukan dengan penggunaan mika mutiara saat pembuatan pigmen dengan
titanium dioksida. Jika ingin didapatkan efek warna perak atau keemasan, dapat
ditambahkan dengan serbuk metalik seperti aluminum dan perunggu.
Selain itu, pengembangan yang dapat
dilakukan adalah pembuatan produk kosmetik multifungsi. Karakter dan formulasi eye
shadow umumnya tidak berbeda jauh dengan blush on (perona pipi).
Oleh karena itu, dapat dibuat produk emulsi berupa krim yang aplikasinya dapat
digunakan sebagai eye shadow ataupun blush on. Produk ini akan
lebih efisien dan praktis untuk konsumen yang sering bepergian
Evaluasi dan Uji
Standar Nasional Indonesia meliputi :
Uji
Penampakan
Uji penampakan dapat dilakukan
dengan cara visual yang meliputi pengujian pada warna, bau, dan daya lekat
sediaan. Pengamatan harus dilakukan secara teliti dan bila ada hasil yang
kurang sesuai dengan ketentuan maka perlu dilakukan evaluasi ulang dan kemudian
melakukan solusi yang tepat.
Uji
pH
Penggunaan indikator dalam
pengujian dan penetapan kadar untuk menunjukkan kesempurnaan reaksi kimia dalam
analisa volumetrik atau untuk menunjukkan kadar ion hydrogen (pH) larutan suatu
sediaan.
Uji
Bobot Jenis
Kecuali dinyatakan lain dalam
masing-masing monografi, penetapan bobot jenis hanya berlaku untuk cairan, dan
kecuali dinyatakan lain, bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara
pada suhu 25°c terhadap bobot air volume sama. Jika zat pada suhu
25°c berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang tertera dalam
manografi dan bandingkan terhadap air pada suhu 25°c.
Uji
Viskoitas
Viskositas atau kekentalan adalah
sifat cairan yang bertalian rapat dengan hambatan untuk mengalir. Ini
didefinisikan sebagai tenaga yang diperlukan untuk menggerakan suatu permukaan
bidang melalui permukaan lain dalam kondisi yang ditentukan, jika ruang
diantaranya diisi oleh cairan tersebut ini dapat dianggap lebih sederhana
sebagai suatu sifat relative dimana air adalah bahan pembanding dan semua
kekentalan dinyatakan terhadap kekentalan air murni pada 20°c.
Uji
Daya Guna Pengawet Anti Mikroba
Pengawet antimikroba ialah zat yang
ditambahkan pada bentuk sediaan untuk melindungi dari kontaminasi mikroba.
Pengawet digunakan terutama pada wadah pemakaian berganda untuk menghambat
pertumbuhan mikroorganisme yang dapat masuk secara tidak sengaja, selam atau
setelah proses pembuatan. Zat antimikroba tidak boleh digunakan semata-mata
untuk menurunkan hitungan mikroba yang masih memiliki daya hidup sebagai
pengganti cara produksi yang baik.
Uji
Cemaran Mikroba
Uji yang pertama adalah melakukan
uji bebas staphylococcus aureus dengan
menggunakan uji koagulasi, dan uji bebas pseudomonas
auruginosa menggunakan uji oksidasi dan pigmen. Uji kedua yang dilakukan
adalah uji bebas salmonella dengan
menggunakan singkelit dan uji bebas escherichiacoli
dengan menggunakan singkelit.
(Akfar, PIM/2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar