Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat
dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang
tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut
ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnya bahan
alami) tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis
atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya saja, karena komponennya saling
bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya
terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah.
Penyiapan bahan yang akan diekstrak dan pelarut
Ekstraksi dapat dilakukan
secara kontinue atau bertahap, ekstraksi bertahap cukup dilakukan dengan corong
pisah. Campuran dua pelarut dimasukkan dengan corong pemisah, lapisan dengan berat jenis yang lebih ringan
berada pada lapisan atas.
Dengan jalan pengocokan proses ekstraksi
berlangsung, mengingat bahwa proses ekstraksi merupakan proses kesetimbangan maka pemisahan salah satu
lapisan pelarut dapat dilakukan setelah kedua jenis pelarut dalam keadaan diam.
Lapisan yang ada dibagian bawah dikeluarkan dari corong dengan jalan membuka
kran corong dan dijaga agar jangan sampai lapisan atas ikut mengalir keluar.
Untuk tujuan kuantitatif, sebaiknya ekstraksi dilakukan lebih dari satu kali.
Analisis lebih lanjut setelah proses ekstraksi dapat
dilakukan dengan berbagai metode seperti volumetri, spektrofotometri dan
sebagainya. Jika sebagai metode analisis digunakan metode spekttrofotometri,
tidak perlu dilakukan pelepasan karena konsentrasi gugus yang bersangkutan
dapat ditentukan langsung dalam lapisan organik. Metode spektrofotometri dapat
digunakan untuk pelarut air maupun organik.
Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer
difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini
merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian
dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi.
Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat
larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila
padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada
padatan yang larut karena efektivitasnya
Untuk memilih jenis pelarut yang sesuai harus diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
1.
Harga konstanta distribusi tinggi untuk gugus yang
bersangkutan dan konstanta distribusi rendah untuk gugus pengotor lainnya.
2.
Kelarutan pelarut organik rendah dalam air
3.
Viskositas kecil dan tidak membentuk emulsi dengan air
4.
Tidak mudah terbakar dan tidak bersifat racun
5.
Mudah melepas kembali gugus yang terlarut didalamnya untuk keperluan analisa lebih lanjut
Pelarut/cairan Penyari
Pelarut
merupakan senyawa yang bisa melarutkan zat sehingga bisa menjadi sebuah larutan
yang bisa diambil sarinya. Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi antara
lain yaitu pelarut polar untuk melarutkan garam alkaloid, glikosida, dan bahan
penyamak dan pelarut non polar yaitu pelarut yang tidak larut dalam air.
Untuk melarutkan minyak atsiri. Pemilihan pelarut atau cairan penyari
harus mempertimbangkan banyak faktor. Cairan penyari yang baik harus memenuhi
kriteria berikut ini: murah dan mudah diperoleh, stabil secara fisika dan
kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, selektif
yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki, dan tidak mempengaruhi zat
berkhasiat
Untuk ekstraksi ini Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai cairan
penyari adalah air, etanol, etanol – air atau eter. Pengekstraksian pada
perusahaan obat tradisional masih terbatas pada penggunaan cairan penyari air,
etanol atau etanol – air.
1. Air
Air dipertimbangkan sebagai penyari karena: murah dan mudah diperoleh,
stabil, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, tidak beracun, lamiah,
kerugian penggunaan air sebagai penyari, tidak selektif, sari dapat ditumbuhi
kapang dan kuman serta cepat rusak, dan untuk pengeringan diperlukan waktu lama
Air disamping melarutkan garam alkaloid, minyak menguap, glikosida,
tanin dan gula, juga melarutkan gom, pati, protein, lendir, enzim, lilin,
lemak, pectin, zat warna dan asam organic, dengan demikian penggunaan air
sebagai cairan penyari kurang menguntungkan. Disamping zat aktif ikut tersari
juga zat lain yang tidak diperlukan atau malah mengganggu proses pembuatan sari
seperti gom, pati, protein, lemak, enzim, lendir dan lain-lain.
Air merupakan tempat tumbuh bagi kuman, kapang dan khamir, karena itu
pada pembuatan sari dengan air harus ditambah zat pengawet. Air dapat
melarutkan enzim. Enzim yang terlarut dengannya air akan menyebabkan reaksi
enzimatis, yang mengakibatkan penurunan mutu. Disamping itu adanya air akan
mempercepat proses hidrolisa.Untuk memekatkan sari air dibutuhkan waktu dan
bahan bakar lebih banyak bila dibandingkan dengan etanol.
2. Etanol
Etanol dipertimbangkan sebagai penyari karena: lebih selektif, kapang
dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% keatas, tidak beracun, netral,
absorbsinya baik, etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan,
dan panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit. Sedangkan, kerugiannya
adalah bahwa etanol mahal harganya. Etanol dapat melarutkan alkaloida basa,
minyak menguap, glikosida, kurkumin, kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid,
dammar dan klorofil. Lemak, malam, tannin, dan saponin hanya sedikit larut hanya
terbatas.
Untuk meningkatkan penyarian biasanya digunakan campuran antara etanol
dan air. Perbandingan jumlah etanol dan air tergantung pada bahan yang akan
disari, dari pustaka akan dapat ditelusuri kandungannya baik zat aktif maupun
zat lainnya, dengan diketahuinya kandungan tersebut dapat dilakukan beberapa
percobaan untuk mencari perbandingan pelarut yang tepat.
Macam- Macam Ekstraksi
Beberapa metode ekstraksi dengan
menggunakan pelarut yaitu :
1.
Cara Dingin
a. Maserasi
Maserasi adalah proses
penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau
pengadukan pada temperatur kamar. Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi
adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana, sedangkan kerugiannya
yakni cara pengerjaannya lama, membutuhkan pelarut yang banyak dan penyarian
kurang sempurna.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif
yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah
mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan
lain-lain.Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol,
atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah
timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal
penyarian. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan
peralatan sederhana dan mudah diusahakan, sedangkan kerugian cara ini adalah
pengerjaanya lama, dan penyariannya kurang sempurna.
Maserasi dapat
dilakukan modifikasi misalnya Degesti. Digesti adalah cara maserasi dengan
menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40°-50° C. Cara maserasi ini hanya
dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan.
Dengan pemanasan akan diperoleh
keuntungan antara lain: kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan
berkurangnya lapisan-lapisan batas, daya melarutkan cairan penyari akan
meningkat, sehingga pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan
pengadukan, koefisien difusi perbandingan lurus dengan suhu absolute dan
berbandingan terbalik dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan berpengaruh
pada kecepatan difusi, dan umumnya kelarutan zat aktif akan meingkat bila suhu
dinaikkan.
Jika cairan penyari
mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu dilengkapi dengan pendingin
balik, sehingga cairan penyari yang menguapakan kembali ke dalam bejana.
Maserasi dengan mesin
pengaduk. Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus menerus, waktu proses
maserasi dapat dipersingkat menadi 6 sampai 24 jam.
Remaserasi yaitu cairan
penyari dibagi 2. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari
pertama, sesudah dienap tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan
cairan penyari yang kedua.
Maserasi melingkar
yaitu maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu
bergerak dan menyebar, dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara
berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya Sedangkan
pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna,
karena pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi. Masalah
ini dapat diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat.
b. Perkolasi
Perkolasi adalah
ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi penyarian sempurna
yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar. Proses perkolasi terdiri dari
tahap pengembangan bahan, tahap perendaman antara, tahap perkolasi sebenarnya
(penampungan ekstrak) secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat).
Untuk menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat
secara kualitatif pada perkolat akhir.
2.
Cara Panas
a. Refluks
Refluks adalah
ekstraksi pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan
jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
b. Digesti
Digesti adalah maserasi
dengan pengadukan kontinu pada temperatur lebih tinggi dari temperatur ruangan
(umumnya 25-30° C).
c. Sokletasi
Sokletasi adalah
ekstraksi mengunakan pelarut yang selalu baru, dengan menggunakan alat soxhlet
sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan
adanya pendingin balik.
d. Infundasi
Infundasi adalah
ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90° C selama 15 menit. Infundasi adalah proses penyarian yang
umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari
bahan – bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak
stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang
diperoleh dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam.
Cara ini sangat
sederhana dan sering digunakan oleh perusahaan obat tradisional. Dengan
beberapa modifikasi cara ini sering digunakan unuk membuat ekstrak. Infus
dibuat dengan cara : Membasahi bahan bakunya, biasanya dengan air 2 kali bobot
bahan, untuk bunga empat kali bobot bahan, dan untuk karagen 10 kali bobot
bahan. Bahan baku ditambah dengan air dan dipanaskan selama 15 menit pada suhu
900 – 980 C.
Umumnya untuk 100
bagian sari diperlukan 10 bagian bahan. Hal ini disebabkan karena kandungan
simplisia kelarutannya terbatas, misalnya kulit kina digunakan 6 bagian.
disesuaikan dengan cara penggunaanya dalam pengobatan, misalnya daun kumis
kucing, sekali minum infus 100 cc, karena itu di ambil 1/2 Bagian. Berlendir, misalnya karagen digunakan
1 1/2 bagian.
Daya kerjanya keras, misalnya digitalis digunakan 1/2 bagian.
Untuk memindahkan
penyarian kadang – kadag perlu ditambahkan bahan kimia misalnya Asam Sitrat
untuk infus kina, Kalium atau Natrium karbonat untuk infus kelembak. Penyarian
dilakukan pada saat cairan masih panas, kecuali bahan yang mengandung bahan
yang mudah menguap.
e. Dekok
Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada
temperatur 90°C selama 30 menit. Penguapan ekstrak larutan dilakukan dengan
penguap berpusing dengan pengurangan tekanan, yaitu rotary evaporator sehingga
diperoleh ekstrak yang kental (Harborne, 1987). (Akfar, PIM/2010)
tolong daftar pustakanya dong pak
BalasHapus