Minggu, 07 Desember 2014

Catatan Hati di Bulan September

 
Selamat pagi. Padi menguning. Tomat memerah. Kutambat hati. Pada gadis bermata bening. Berwajah cerah. Burung jelantik. Hinggap di punuk unta. Padamu cantik. Aku ingin jatu cinta.. :D
Matahari mulai tumbang. Kawanan ternak pulang ke kandang. Bunga rinduku makin mengembang. Untuk adinda seorang. Secantik wajahmu laksana kembang. Kerlip matamu seterang bintang. Kaulah kasihku yang tersayang. Melati mewangi. Mentari dan embun pagi. Siapkan senyum menyambut hari. Keramahan diri cerminan kelembutan hati.
Tak perlu ke kutub utara atau selatan untuk melihat aurora. Dari sinar wajahmu aku sudah melihatnya. Tak perlu ke Puncak Mahameru untuk menatap sinar rembulan lebih dekat. Di senyummu aku sudah menyaksikannya. Maaf jika terkesan memberi harapan. Tapi aku lelaki. Kalau aku cinta sudah pasti akan aku nyatakan duluan.
Selamat malam. Sedang apa yang di sana? Sedang mati merindu yang di sini!! Siapa? Siapa yang dirindu? Bukan siapa-siapa. Hanya bayang semu yang sudah jadi masa lalu.
Delapan September.
Rindu rasanya. Belahan jiwa yang kini entah dimana. Separuh hati yang sekarang tak tahu rimbanya. Ingin kusemai setangkup rindu dengan sekuntum kembang mekar. Tumbuh lebat di taman bunga. Tapi. Ah, sudahlah. Haus cintaku. Dahaga kasih sayangku. Tak akan hilang dengan menghisap madu kembang dari taman bunga itu. Lebih baik aku tetap menunggu. Sampai sang fajar tiba. Embun pagi yang telah kusesapi kesegarannya.
Sembilan September
Sepi menikam hati. Sunyi menghujam diri. Cinta sudah mati. Kasih telah pergi. Mimpi menggaung tanpa henti. Cita-cita menggelora tiada tara. Tinggi obsesi ku. Menjulang angan muluk ku. Bukan tentang kisah kesatria pengembara temukah belahan jiwa. Bukan pula tentang pangeran tampan mencari permaisuri idaman. Melainkan tentang impian tertinggi dan cita-cita mulia. "Meletakkan kembali tulang rusuk yang hilang di sisi pemiliknya”
Sepuluh September
Utuh sinar rembulan malam. Separuh hati makin tenggelam. Rapuh di diri makin mendalam. Dingin sepi Kota Malang. Ingin pergi dan menghilang. Angin sunyi kuat menyerang. "Kangen kamu sayang..."
Sebelas September
Selamat malam untuk bintang yang paling terang! Kamu apa kabar?? Penderitaan bila diasah dengan baik bisa menjadi satu senjata paling mematikan. Sakit hati dan kecewa kalau dipupuk dengan baik juga bisa jadi lumbung cinta yang paling subur. “Selamat datang kembali di Kota Kembang, Bandung yang tiba-tiba cerah taman langitnya berubah jadi mendung!!” (Ali Ridwan, 12/09/14)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar