1. Pelayanan
Obat
Salah satu peran profesi farmasis
yang sekarang semakin berkembang di Indonesia adalah farmasis sebagai konsultan
obat, tidak hanya untuk sejawat kesehatan lain tetapi langsung kepada pasien.
Salah satu hal yang paling menonjol dari interaksi seorang farmasis dengan
pasien adalah konseling terutama mengenai obat yang digunakan pasien. Konseling
itu sendiri adalah suatu penyeampaian tatap muka mengenai obat kepada pasien
baik lisan maupun tulisan.
Tujuan utama dilakukannya konseling
adalah untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi yang dijalaninya.
Selain itu,fungsi lain diantaranya sebagai konsultasi obat, dan juga untuk
melakukan tindakan pencegahan terhadap adanya kemungkinan terjadinya kejadian –
kejadian terkait reaksi obat yang tidak dikehendaki ( DRP ).
Dalam proses konseling, empat
langkah yang tidak boleh ditinggalkan dan diabaikan (harus dilakukan) oleh
seorang konselor adalah;
a. Menjalin hubungan dengan konseli
b. Penilaian terhadap masalah yang
terjadi pada konseli (assesmen)
c. Pengembangan instrument/penggunaan
tehnik-tehnik konseling
d. Mengakhiri konseling (terminasi)
2. Pelayanan
Swamedikasi
Definisi swamedikasi atau pengobatan
sendiri adalah upaya seseorang dalam mengobati gejala penyakit tanpa konsultasi
dengan dokter terlebih dahulu. Lebih dari 60% dari masyarakat melakukan
swamedikasi dan 80% di antaranya mengandalkan obat modern. Meningkatnya tingkat
pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya arti sehat, serta
mahalnya biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh pasien adalah menjadi
penyebab meningkatnya praktek swamedikasi. Akibatnya, penggunaan obat bebas
maupun obat bebas terbatas oleh masyarakat juga semakin meningkat.
Pada situasi demikian peran profesi
apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (sebagai tim farmasi) sangatlah penting,
yakni tidak sekedar menjual obat (obat sebagai komoditas), namun harus
mampu berperan “klinis” dengan memberikan asuhan kefarmasian (pharmaceutical
care). Kompetensi tim farmasi dalam mengedukasi pasien semakin dituntut
oleh masyarakat yang membutuhkan informasi obat.
Ketrampilan utama untuk menanggapi
gejala penyakit yang disampaikan oleh pasien adalah:
a. Kemampuan untuk membedakan antara
gejala penyakit ringan dan serius.
b. Keterampilan mendengarkan secara
aktif.
c. Kemampuan untuk bertanya.
d. Kemampuan pemilihan terapi
berdasarkan efektivitasnya.
e. Kemampuan bekerjasama dengan pasien
3. Pelayanan
Resep
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam
melakukan pelayanan resep dalam apotek adalah :
a. Mengontrol
terhadap keabsahan resep.
b. Melihat
stok perbekalan farmasi yang diminta.
c. Menghitung pembiayaan resep dan konfirmasi biaya pada
pelanggan.
d. Pemberian
nomor pelayanan.
e. Pengerjaan
resep.
f. Penyerahan
sediaan obat kepada pelanggan dan disertai dengan penyampaian aturan pakai
serta informasi penting berkenaan dengan penggunaan obat.
Setelah melakukan hal-hal tersebut
harapannya adalah :
a. Dapat
melihat copy resep yang absah dan kurang keabsahan yaitu nomor copy
resep,tanggal pembuatan resep,tanggal pembuatan copy resep,nama pasien,alamat
pasien,umur pasien.
b. Melihat
stok obat apakah yang akan dibeli ada atau kosong,apabila obatnya kosong maka
disampaikan ke pasien bahwa obatnya kosong dan diusahakan agar pasien dapat
membeli obat yang lain
c. Menghitung
harga obat,harga resep.
d. Apabila
pasien sudah menyetujui untuk mermbeli obat,maka langsung memberikan nomor
kepada pasien dan menempelkan nomor pada copy resep.
e. Mengerjakan
copy resep dengan cepat,Memberikan obat sesuai dengan permintaan pasien.
f. Menyerahkan
obat kepada pasien dan menyampaikan KIE obat kepada pasien. (Akfar PIM/2010)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar