Pendahuluan
Analis senyawa
obat menggunakan reaksi kimia: Identifikasi (kualitatif) dan Penetapan kadar
(kuantitatif). Analisis kuantitatif: Penetapan kadar, uji batas, dan uji
kemurnian
Reaksi kimia
untuk kualitatif (identifikasi): Reaksi harus spesifik (khas), reaksi harus
selektif (pilih-pilih), reaksi harus sensitif (peka), reaksi harus memberi
perubahan yang daoat diamati secara visual.
Reaksi kimia
untuk kuantitatif (penetapan kadar): Reaksi harus spesifik, reaksi harus
selektif, reaksi harus sensitif, reaksi harus berlangsung spontan (energi
aktifasi harus terlewati), reaksi harus staikometri (harus punya perbandingan
mol yang tetap).
Reaksi yang
sering digunakan untuk analisi kuantitatif (penetpan kadar) yaitu: Reaksi
netralisasi (asam vs basa), reaksi prestipasi (garam halida vs AgNO3),
reaksi kompleksi (garam logam vs logam), reaksi redoks oksida (reduktor vs
oksidator)
Asam
Basa Organik
Asam lemah organik, larutannya dalam air dapat
melepaskan proton (dalam jumlah sedikit). Asam organik pada senyawa organik yang mengandung
gugus: Karboksil, Fenol , dan Etanol. Dua faktor yang mempengaruhi ionisasi dari asam
adalah: Kekuatan dari ikatan yang diputuskan,
kestabilan ion yang terbentuk
dalam hal ini, ikatan yang diputus adalah dari molekul yang sama (antara
O dan H) jadi bisa dianggap kekuatan ikatan yang diputuskan adalah sama,
sifat dari ion ion yang
terbentuk menjadi faktor yang menentukan.
Asam Karboksilat
Hidrogen yang mengakibatkan sifat asam adalah hidrogen
yang terikat dengan oksigen. (Saat terionisasi terbentuklah ion karboksilat, R-COO-).
Pada ion etanoat, salah satu dari elektron bebas dari oksigen yang
negatif berada pada keadaan hampir pararel dengan orbital-orbital p (ikatan rangkap
C=O) dan mengakibatkan overlap antara atom oksigen yang lain dan atom karbon.
(Terjadi delokalisasi sistem
pi dari keseluruhan -COO-).
Karena Hidrogen lebih elektronegatif dari karbon,
delokalisasi sistem terjadi sehingga elektron lebih lama berada pada daerah
atom oksigen. (Muatan
negatif tersebar diantara keseluruhan molekul -COO- ,namun
dengan kemungkinan terbesar menemukannya pada daerah antara kedua atom oksigen) . Muatan semakin menyebar dalam suatu molekul. (Semakin stabil sebuah ion) . Maka, dengan terjadinya delokalisasi muatan negatif
pada beberapa atom dalam molekul, muatan negatif tidak tertarik ke ion
hidrogen, sehingga kecenderungan membentuk ulang asam karboksilat pun berkurang
(ion H+ lepas dengan mudah)
Fenol
Fenol memiliki -OH terikat pada rantai benzennya. Saat
ikatan hidrogen-oksigen pada fenol terputus, kita mendapatkan ion fenoksida,
C6H5O- Delokalisai juga terjadi pada ion ini. Pada saat ini,
salah satu dari antara elektron bebas dari atom oksigen overlap dengan elektron
dari rantai benzene. à perluasan sistem delokalisasi à muatan negatif tidak hanya berada pada oksigen tetapi
tersebar ke seluruh molekul. Mengapa fenol lebih lemah daripada asam karboksilat? Sebab
pada ion etanoat,
delokalisasi terpusat pada daerah antara 2 atom oksigen.Sistem yang
terdelokalisasi membagi muatan negatif di antara kedua atom oksigen. Tidak ada
oksigen yang lebih kuat menarik hidrogen ion.
Pada ion fenoksida, atom oksigen tunggal masih
merupakan yang paling elektronegatif dan sistem yang terdelokalisasi terpusat
pada daerah oksigen tersebut. Sehingga atom oksigen memiliki muatan yang paling
negatif. Delokalisasi membuat ion fenoksida lebih stabil dari
seharusnya sehingga fenol menjadi asam. Namun delokalisasi belum membagi muatan
dengan efektif. Muatan
negatif disekitar oksigen akan tertarik pada ion hidrogen dam membuat lebih
mudah terbentuknya fenol kembali. à fenol merupakan asam yang sangat lemah.
Etanol
Etanol, CH3CH2OH, merupakan asam yang sangat lemah.
Jika ikatan oksigen dan
hidrogen terputus dan melepaskan ion, ion etoksida terbentuk. Tapi,
tdk ada delokalisasi à ion negatif tidak stabil à sangat menarik ion H+ à mudah terbentuk kembali etanol
Variasi dalam kekuatan asam
dari beberapa asam karboksilat
Alkil mempunyai kecenderungan mendorong elektron
menjauh à bertambahnya muatan negatif pada -COO-.
Penambahan muatan membuat
ion lebih tidak stabil karena membuatnya lebih mudah terikat dengan hidrogen. Asam
dapat diperkuat dengan menarik muatan dari -COO- . Misal,
penambahan atom elektronegatif seperti klorida pada rantai. Florida
(F) lebih elektronegatif daripada klorida dan halida lainnya
Basa Organik
Basa lemah organik, larutannya dalam air dapat
menangkap proton. Senyawa basa lemah pada gugus fungsi :
Amonia, amonium dan
Amin
Amonia, amonium
Amonia (NH3) berada dalam wujud gas,
dilarutkan dalam air akan membentuk ion amonium (NH4+)
dan hidroksida (OH-). NH3 + H2O à NH4+ + OH-.
Amonia bereaksi sebagai basa
karena adanya pasangan bebas yang aktif dari nitrogen.
Nitrogen lebih
elektronegatif dari hidrogen sehingga menarik ikatan elekton pada molekul
amonia kearahnya. à dengan adanya pasangan bebas terjadi muatan negatif
sekitar atom nitrogen. Kombinasi dari negatifitas ekstra tersebut dan daya
tarik pasangan bebas, menarik hidrogen dari air.
Amin
Amin primer alifatik lebih kuat daripada amonia.
Gugus alkil memiliki
kecenderungan untuk mendorong elektron menjauh. à akan ada sejumlah muatan negatif tambahan di sekitar
atom nitrogen. Muatan negatif tambahan tersebut membuat pasangan bebas lebih
menarik atom hidrogen.
Titrasi
Asam Basa Bebas Air
Asam/basa organik à lemah, Ka/Kb<10-7 (pKa/pKb > 7).
Dalam lingkungan air, Keq<108.
Reaksi tidak spontan.
Pelarut bukan air à pengaruhi protolisis efek menyetingkatkan (leveling
efect)
Titrasi asam-basa bebas air sangat cocok untuk asam
dan basa sangat lemah dan menggunakan pelarut di mana senyawa organik terlarut
dengan baik. Air berperilaku baik sebagai asam maupun basa à dapat berkompetisi dengan efektif dengan asam dan
basa sangat lemah dalam melepaskan dan atau menangkap proton Pengaruhnya
adalah titik belok (infleksi) pada kurva titrasi untuk asam dan basa sangat
lemah sulit diamati à penentuan titik akhir titrasi menjadi sangat sulit
Jenis pelarut
Pelarut aprotik yaitu pelarut yang tidak dapat memberikan atau menerima proton à no leveling effect. Pelarut tidak terionisasi, nonpolar, kemampuan hantaran listrik
rendah à sulit menentukan titik akhir.
Pelarut amfiprotik
yaitu pelarut yg
mengalami autoprotolisis à menghasilkan ion LH+ dan L- ,
memberikan proton dan mampu
menerima proton. Contoh: H2O à H+ + OH-,
peserta reaksi netralisasi à mempengaruhi tetapan ionisasi.
Pelarut protogenik yaitu
pelarut yang mampu
melepaskan proton à pelarut asam. Pelarut protofilik yaitu pelarut yang mampu menerima proton
à pelarut basa
Titrasi bebas air untuk basa sangat lemah
Pelarut: asam asetat. Asam asetat adalah akseptor proton yang sangat lemah
(karena sebenarnya adalah asam, bukan basa) à tidak akan berkompetisi efektif dengan basa lemah
dalam menangkap proton. Pentiter: asam perklorat dalam asam asetat.
Indikator : kristal violet,
oracet blue (basa sangat lemah). Basa dalam bentuk garam dari asam lemah (tartrat,
asetat, atau suksinat) à langsung dititrasi. Basa dalam bentuk garam dari asam kuat (klorida,
bromida) à pasangan ion (klorida, bromida) harus dipisahkan
sebelum titrasi
Titrasi bebas air untuk asam sangat lemah
Pelarut: alkohol atau pelarut aprotik. à Tidak berkompetisi efektif dengan asam sangat lemah
dalam melepaskan proton. Pentiter:
Litium metoksida dalam metanol atau tetrabutil amonium hidroksida dalam
dimetilformamida. Indikator: timol blue
Senyawa
Halogen Organik
Jenis-jenis
senyawa halogen organik yaitu Alkil
halida:
R – X,
R: alkil (CH3, C2H5, dll),
dan X: halogen ( F,
Cl, Br, I). Halida
tidak jenuh: Terdapat
ikatan rangkap pada alkil halide. Aril halida (halida aromatik):
Atom halogen terikat pada
cincin aromatik. Garam halida: Merupakan garam dari basa lemah organik dan asam
halida (HCl, HBr).
Titrasi Argentimetri
Titrasi argentimetri berdasarkan reaksi sebagai
berikut:
AgNO3 + Cl- AgCl(s) + NO3-. Sementara K2CrO4 sebagai indikator
menghasilkan warna merah pada saat titik akhir tercapai à Metode Mohr, titrasi langsung.
Metode lain à titrasi kembali, metode Volhard.
AgNO3 berlebih
ditambahkan pada larutan sampel à kelebihan AgNO3 dititrasi kembali dengan
NH4CNS atau KCNS dengan indikator feri amonium sulfat.
Sebelum titrasi kembali
dilakukan à endapan AgX harus dipisahkan dengan filtrasi atau
di-masking dengan dietilftalat à untuk mencegah ion CNS- menyebabkan AgX
terdisosiasi menjadi Ag+ dan X-.
Klorin terkombinasi organik
harus dilepaskan terlebih dahulu dengan hidrolisis menggunakan NaOH sebelum
titrasi. Aril halida harus dibakar dalam labu oksigen sebelum
titrasi untuk melepaskan halogen
Garam-garam
Logam
Beberapa garam logam memiliki aktivitas:
Besi (ferro fumarat)
membantu pembentukan hemoglobin. Mineral (dalam bentuk garam) diperlukan oleh tubuh
(dalam ukuran makro dan mikro). Makro: kalsium. Mikro: zink, tembaga, dll.
Titrasi Kompleksometri
Pembentukan senyawa kompleks dari ion logam dengan
penambahan ligan polidentat (EDTA) sebagai donor pasangan electron.
Etilen diamin tetra asetat.
EDTA à sesquestering agent, pembentuk senyawa kompleks larut
air.
Paling banyak digunakan
dalam titrasi kompleksometri. EDTA= ligan heksadentat, punya enam tempat berikatan
(pasangan elektron bebas) dengan ion logam. 4 di gugus karboksilat. 2 di gugus amin. EDTA membentuk kompleks 1 : 1 yang stabil dengan ion
logam (kecuali logam alkali)
Dipengaruhi oleh keberadaan ion H+.
Jika [H+] naik
atau pH turun à kesetimbangan bergeser ke kiri à kompleks tidak terbentuk.
Ada kondisi pH yang menyebabkan kompleks terurai kembali à digunakan dapar untuk mempertahankan pH.
pH 4 untuk titrasi: Al.
pH 6 untuk titrasi: Fe (II,
III), Hg, Zn. pH
10 untuk: Mg. pH
12-13 untuk: Ca. Dll.
Titik akhir titrasi dideteksi dengan indikator warna. Ditambahkan
di awal titrasi à membentuk kompleks berwarna dengan ion logam.
Satu tetes EDTA berlebih (pd
saat titik akhir) melepaskan ikatan kompleks indikator-logam à perubahan warna. Garam logam tidak larut air ditentukan dengan titrasi
kembali. Sampel dipanaskan dan dengan penambahan EDTA berlebih à membentuk kompleks EDTA-ion logam larut air.
Kelebihan EDTA dititrasi
kembali dengan ZnSO4 atau MgSO4.
Uji
-uji Batas
Pengujian kuantitatif atau semikuantitatif:
Identifikasi &
pengendalian kontaminan (dalam jumlah sangat kecil). Metode komparatif, menggunakan pembanding :
amati intensitas perubahan yang terjadi (presipitasi, warna, dll). Adanya kontaminan
menunjukkan proses pemurnian yang kurang baik.
Kontaminan bisa berasal dari:
Bahan herbal terkontaminasi
(untuk senyawa yang merupakan hasil isolasi dari bahan alam),
komponen dalam sintesis kimia.,
peralatan produksi
farmaseutik, dan hasil urai senyawa yang tidak stabil.
Pentingkah uji batas?: Kontaminan sebagai marker kualitas suatu produk.
Kontaminan à senyawa tidak murni à perhitungan dosis??. Toksisitas kontaminan à dalam jumlah tertentu à berapa??
Uji batas di Farmakope (Uji batas ammonium, Uji batas arsen, Uji batas kalsium, Uji batas klorida, Uji batas fluoride, Uji batas magnesium, Uji batas logam berat, Uji batas besi, Uji batas fosfat, Uji batas kalium, Uji batas sulfat, Uji batas selenium, Uji batas timbale, Uji batas raksa, Uji batas lain seperti hasil urai, monografi)
Uji batas klorida :
Klorida (Cl-) tidak toksik, inert à tidak berbahaya dari segi savety ataupun stabilitas
kimia. Klorida banyak terdapat dalam bahan baku maupun reagen dalam sintesis kimia. Keberadaannya menunjukkan proses pemurnian yang kurang baik.
Metode Uji batas klorida
Reaksi presipitasi = identifikasi klorida.
Ag+ + Cl–
→ AgCl↓.
Endapan putih yang terbentuk
diamati.
Sampel vs baku pembanding.
Uji
Batas Logam Berat
Uji Batas Logam Berat: Memastikan kandungan logam berat à di bawah batas yg diperbolehkan à lihat monografi. Copper, silver, mercury, lead, cadmium, bismuth,
ruthenium, gold, platinum, palladium, vanadium, arsenic, antimony, tin, and
molybdenum. Uji batas logam berat à sejak USP 1905. Mendeteksi ketidakmurnian logam, dg pengendapan
sulfida dlm suasana asam kuat atau basa kuat . USP XII, 1942 à mendeteksi residu logam berat yang bersifat toksik.
Prinsip reaksi
Pb2+ + H2S → PbS↓ + 2H+.
Gas H2S bersifat
toksik, dan sulit penggunaannya à diganti thioacetamide solution.
Tioasetamida dihidrolisis
dengan larutan NaOH 1M melepaskan H2S
Uji
Kualitas Minyak
Lemak merupakan suatu senyawa ester yang terbentuk
dari gliserol asam lemak (asam karboksilat). Secara umum lemak (fat) dan minyak
(oil) merupakan golongan lipida yaitu senyawa organik yang terdapat dalam alam
serta tak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar seperti
suatu hidrokarbon atau dietileter. Dalam proses pembentukannya, trigliserida merupakan
hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam-asam
lemak yang membentuk satu molekul trigliserida
Lemak Jenuh vs Lemak Tak Jenuh
Lemak jenuh: asam lemak yang mengandung ikatan tunggal pada rantai hidrokarbonnya.
Struktur asam lemak jenuh à rantai zig-zig -à gaya tarik vanderwalls tinggi à berwujud
padat.
Lemak tak jenuh: asam lemak yang mengandung satu atau
lebih ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya . Struktur
asam lemak tak jenuh à renggang, akibat ikatan rangkap à gaya
tarik vanderwalls à berwujud
cair
Kandungan asam lemak bebas dalam minyak yang bermutu
baik hanya terdapat dalam jumlah kecil, sebagian besar asam lemak terikat dalam
bentuk ester atau bentuk trigliserida. Asam lemak merupakan struktur kerangka dasar untuk
kebanyakan bahan lipid.
Bilangan Asam
Bilangan asam menunjukkan banyaknya asam lemak bebas
dalam minyak dan dinyatakan dengan mg basa per 1 gram minyak. Merupakan parameter penting dalam penentuan kualitas
minyak. Menunjukkan banyaknya asam lemak bebas yang ada dalam
minyak akibat terjadi reaksi hidrolisis pada minyak terutama pada saat
pengolahan. Bilangan Asam atau angka asam adalah jumlah miligram KOH
(Kalium Hidroksida) yang dibutuhkan untuk menetralkan asam-asam lemak
bebas dari satu gram minyak atau lemak. Bilangan Asam dipergunakan untuk
mengukur jumlah asam lemak bebas yang terdapat dalam lemak dan minyak.
Bilangan Penyabunan
Didefiniskan sebagai jumlah KOH (mg) yang diperlukan
untuk menetralkan asam lemak bebas dan asam lemak hasil hidrolisis dalam 1 gram
zat. Penentuannya dilakukan dengan cara merefluks dengan larutan KOH-alkohol
selama 30 menit, didinginkan, lalu dititrasi kembali kelebihan KOH dengan
larutan baku HCL.
Bilangan Ester
Didefiniskan sebagai jumlah KOH (mg) yang diperlukan
untuk menyabunkan satu (1) gram zat.
Bilangan ester = bilangan penyabunan – bilangan asam
Bilangan Iod
Didefinisikan sebagai jumlah Iodium (mg) yang diserap oleh
100 g sampel. Bilangan iod ini menunjukan banyaknya asam-asam lemak tak jenuh
baik dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk ester-nya.
Iodium mengadisi ikatan rangkap pada rantai asam lemak
tak jenuh
Validasi
Metode Analisis
Sensitivitas: Batas Deteksi & Bata
Kuantisasi.
Selektivitas.
Linieritas Kurva Baku.
Perolehan Kembali :
Presisi dan
Akurasi
Sensitivitas
Kemampuan untuk mendeteksi dan menentukan kadar analit.
Semakin kecil kadar analit
yg dpt dideteksi & dikuantisasi à sensitivitas tinggi. Ditunjukkan oleh perubahan respon yang tinggi oleh perubahan
kecil dari kadar analit. Signal to noise ratio (SNR).
Sinyal (respon) analit vs
derau.
LoD.
LoQ.
Pententuan LoD & LoQ.
Dari Pengukuran Rasio Sinyal.
Dari Pengukuran Sinyal
Blanko.
Dari Pengukuran Larutan Blanko.
Dari Kurva Baku/Kalibrasi.
Dari Galat Titik Potong
Sumbu Y
Dari kurva baku :
Sxx = S(xi – x)2
; Syy = S(yi – y)2
; Sxy = S(xi – x) (yi – y)
Sy/x = Ö Syy – b2 Sxx
n – 2
LoD = 3 Sy/x LoQ = 10 Sy/x
b
b
Selektivitas
Kemampuan metode analisis dalam mengenali dan
mengkuantisasi analit di antara kerumunan matriks. Hanya analit yang terdeteksi
Linieritas Kurva Baku
Pengujian linieritas kurva baku dilakukan untuk
membuktikan bahwa larutan sampel memberikan respon yang berada dalam rentang
konsentrasi di mana respon analit berbanding lurus dengan konsentrasi.
LoL (Limit of Linearity) à rentang dinamika kelinieran.
Titik terendah sampai titik
akhir pada kurva baku yang mulai menyimpang dari garis linier
Uji Linieritas Kurva Baku
Koefisien korelasi : r > 0,99.
Koefisien variasi fungsi
regresi : Vx0 < 2,0%. Vx0 < 5,0% (sampel biologis)
Perolehan Kembali
Untuk menentukan ketepatan (akurasi) dan ketelitian
(presisi) metode analisis dalam menetapkan kadar analit dalam sampel.
Akurasi= kedekatan hasil
analisis dengan nilai yang sebenarnya. Presisi= ketelitian hasil analisis, ajeg pada suatu
nilai tertentu pada pengujian berulang
Penetapan
Kadar Antibiotik
Antibiotik: sintetik, semisintetik, biosintetik.
Penemuan antibiotik baru à harus ditetapkan potensi.
Pengertian Kadar vs Potensi
Kadar: Jumlah per satuan berat/volume.
Potensi:
Ukuran kekuatan/ daya hambat
atau daya bunuh zat aktif terhadap mikroorganisme tertentu.
Respon mikroorganisme
terhadap antibiotik berbeda-beda. Kadar belum tentu menunjukkan aktivitas yang sama antibiotik
terhadap mikroorganisme.
Penetapan kadar antibiotic
Metode kimia: reaksi kimia, titrasi iodometri utk antibiotik beta
laktam.
Metode fisikokimia:
spektrofotometri ultraviolet,
KCKT,
dll
Metode
Pemisahan Analitik
Metode Pemisahan: Filtrasi & sedimentasi,
Sentrifugasi &
kristalisasi, Distilasi,
Ekstraksi,
Kromatografi,
Elektroforesis.
Filtrasi & Sedimentasi
Filtrasi à pemisahan berdasarkan perbedaan ukuran partikel
melalui suatu membran berpori. Partikel lebih besar daripada ukuran pori akan
tertahan.
Jika ukuran partikel analit
lebih kecil daripada komponen lainnya à filtrat ditampung, residu dibuang
Sedimentasi à pemisahan partikel tidak terlarut dengan bantuan gaya
gravitasi à Dalam beberapa saat/waktu, partikel mengendap di
dasar wadah à dekantasi, atau dilanjutkan filtrasi
Sentrifugasi & Kristalisasi
Sentrifugasi à pemisahan partikel tidak terlarut dengan bantuan gaya
sentrifugal (gaya gravitasi meningkat dengan putaran)
Kristalisasi à memisahkan zat padat dari larutan jenuhnya à terbentuk kristal murni, jika perlu direkristalisasi
Distilasi
Pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih.
Macam-macam distilasi:
Distilasi sederhana,
Distilasi bertingkat (
fraksional ), Distilasi
azeotrop,
Distilasi vakum
Ekstraksi
Pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan.
Jenis2 ekstraksi:
Ekstraksi padat cair dan
Ekstraksi cair-cair
Kromatografi
Pemisahan berdasarkan perbedaan kecepatan distribusi
komponen sampel di antara dua fasa (fasa diam & fasa gerak).
Jenis-jenis kromatografi berdasarkan fasa gerak:
Kromatografi cair dan Kromatografi gas. Jenis-jenis kromatografi berdasarkan fasa diam (prinsip
pemisahan) : Kromatografi
adsorpsi,
Kromatografi partisi,
Kromatografi penukar ion,
Kromatografi ekslusi,
Kromatografi pasangan ion
Elektroforesis
Elektroforesis adalah teknik pemisahan
komponen/molekul bermuatan berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya dalam
sebuah medan listrik (Westermeier, 2004). Pemisahan molekul-molekul bermuatan, makromolekul, dll.
Protein, enzim, asam amino,
asam nukleat (DNA, RNA), nukleotida, dll
Analisis reduksi
antioksidan
Antioksidan
bersifat melpas elektron sebagai penangkal radikal bebas dengan sistem
delokalisasi.
Sistem
delokalisasi yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi tidak tetap posisinya.
Pada satu atom tetap selalu berpindah – pindah dari satu atom ke atom lainnya. Titrasi
Oksidimetri meliputi: I2 (Iodium): Oksidator paling lemah, meliputi
titrasi iodimetri (langsung), titrasi iodatometri, (tidak langsung), dan
totrasi iodometri (kembali). Br (Bromida): Oksidator lemah, meliputi totrasi
bromimetri (langsung), titrasi bromatometri (tidak langsung). KMnO4: Oksidator
kuat. Ce(SO4)2 : Oksidator paling kuat
Titrasi langsung
adalah analit dititrasi oleh pereaksi langsung dari buret. Titrasi tidak
langsung adalah analit (sampel) direaksikan dengan pereaksi yang dibuat secara
insitu dari pereaksi ketiga dari buret. Titrasi kembali adalah pereaksi (sisa
analit) yang bereaksi dengan analit. Titrasi kembali digunakan untuk reaksi
yang brelangsung lambat. Reaksi diazotasi sensirifitasnya sangat tinggi
digunakan hanya untuk amin aromatik (Eks, STFB/2013)

Hai ka :)
BalasHapusKakak lulusan STFB?
Iya, adek.. :D
Hapus