Sabtu, 28 Mei 2016

Infeksi Saluran Nafas Bawah

 
Bronkitis
Bronkhitis adalah kondisi peradangan pada daerah trakheobronkhial. Peradangan tidak meluas sampai alveoli. Bronkhitis seringkali diklasifikasikan sebagai  akut  dan  kronik.  

Definisi Bronkitis Akut
Bronkhitis akut adalah peradangan pada bronkus disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan yang ditandai dengan batuk (berdahak maupun tidak berdahak) yang berlangsung hingga 3 minggu.

Gejala dan Tanda
Gejala utama bronkitis akut adalah batuk-batuk yang dapat berlangsung 2-3 minggu. Batuk bisa atau tanpa disertai dahak. Dahak dapat berwarna jernih, putih, kuning kehijauan, atau hijau. Selain batuk, bronkitis akut dapat disertai gejala berikut ini: Demam, sesak napas,, bunyi napas mengi atau –ngik, dan rasa tidak nyaman di dada atau sakit dada.

Patofisiologi
Penyebab utama adalah virus, terutama virus common cold, rhinovirus, coronavirus, virus patogen pada saluran pernafasan bawah : virus influenza, adenovirus, respiratory syncytial virus. Patogen penyebab lain adalah Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, Bordetella pertussis. Infeksi bronkus dan trakea menyebabkan membran mukosa udem dan merah serta peningkatan sekresi bronkus. Kerusakan epitel saluran pernafasan dapat dapat bervariasi dari ringan-berat dan dapat berpengaruh pada fungsi mukosiliari bronkus. Selain itu peningkatan sekresibronkial yang kental dan lengket akan menggangu aktivitas mukosiliari. Infeksi saluran pernafasan akut mungkin berkaitan dengan peningkatan hiperreaktivitas saluran pernafasan dan mungkin menjadi patogenesis penyakit paru kronis obstrukif.

Diagnosis
Pemeriksaan dada menunjukkan adanya ronki dan bunyi tidak normal bilateral (rale moist bilateral). Foto sinar x menunjukkan hasil normal. Kultur bakteri sputum umumnya digunakan secara terbatas karena ketidakmampuan untuk meniadakan flora normal nasofaring dengan teknik sampling.

Uji deteksi virus dapat digunakan bila diagnosa spesifik dibutuhkan. Kultur atau diagnosa serologi M. Pneumoniae dan kultur atau deteksi Ab langsung secara fluorescensi untuk B. Pertusis seharusnya dilakukan pada kasus berat dan lama bila perkiraan epidemiologi menunjukkan keterlibatan patogen tersebut.

Terapi Farmakologi
Terapi simptomatik dan suportif. Antipireutik tunggal cukup. Kemudian istirahat dan analgesik-antipireutik lemah dapat mengatasi keluhan lemah dan demam. Aspirin atau paracetamol (650mg untuk dewasa dan atau 10-15mg/kg BB/dosis pada anak dengan dosis harian maksimum dewasa 4gram dan anak 60mg/kg)

Atau gunakan ibuprofen 200-800mg pada dewasa, anak 10mg/kg. Dosis maksimum dewasa 3,2 gr dan 40mg/kg/dosis pada anak. Berikan setiap 4-6 jam.

Pasien dianjurkan untuk minum cairan untuk mencegah dehidrasi dan kemungkinan penurunan sekresi respiratif dan kekentalan mukus. pada anak pemberian aspirin harus dihindari karena adanya hubungan antara penggunaan aspirin dengan munculnya sindroma Reye. Paracetamol lebih dianjurkan.

Terapi embun atau penggunaan uap dapat mengencerkan sekret. Batuk ringan yang menetap yang mengganggu dapat diterapi dengan deksometrofan. Terapi batuk yang lebih berat mungkin membutuhkan kodein atau obat yang sejenis.

Penggunaan rutin antibiotik tidak dianjurkan, tetapi pada pasien dengan demam menetap dan gejala pernafasan lebih dari  4-6 hari, kemungkinan adanya infeksi bakteri harus dicurigai.

Bila mungkin terapi antibiotik ditujukan terhadap patogen yang diantisipasi (misalnya Streptococcus penumoniae dan Haemophilus influenzae) dan atau bakteri yang dominan tumbuh pada kultur kerongkongan.

M. Pneumoniae bila dicurigai atau positif aglutinin dingin (titer  ≥ 1:32) atau dipastikan oleh kultur/serologi. Terapi dengan eritromisin atau analognya (klaritromisin atau azitromisin). Fluorokuinolon juga menunjukkan aktivitas terhadap patogen tersebut (misalnya gatifloksasin atau levofloksasin dosis tinggi) dan dapat digunakan pada orang dewasa.

Selama epidemi yang melibatkan virus influenza A, Amantidin atau Rimantidin mungkin efektif untuk meminimkan gejala-gejala terkait bila diberikan di diawal penyakit.

Terapi Non Farmakologi
Mendorong pengeluaran sekret dengan batuk dan bernapas dalam. Memberikan intake cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi akibat demam. Cukup istirahat, hindari iritan bronkus, dan diet yang baik untuk mempercepat kesembuhan. Informasikan kepada pasien unutk menghabiskan antibiotic (jika diberikan). Peringatkan pasien untuk tidak mengkonsumsi supresan batuk, anti-histamin, dan dekongestan yang dijual bebas karena dapat menyebabkan kekeringan mukosa dan retensi sekret. Mukolitik dapat digunakan.


Definisi Bronkitis Kronis
Merupakan penyakit yang tidak spesifik pada orang dewasa. Biasanya pasien akan melaporkan batuk dengan sputum hampir sepanjang hari selama paling tidak 3 bulan berturutan setiap tahun selama 2 tahun berturutan.

Tanda dan Gejala
Batuk dengan dahak atau batuk produktif dalam jumlah yang banyak. Dahak makin banyak dan berwarna kekuningan (purulen) pada serangan akut (eksaserbasi). Kadang dapat dijumpai batuk darah. Sesak napas. Sesak bersifat progresif (makin berat) saat beraktifitas. Adakalanya terdengar suara mengi (ngik-ngik). Pada pemeriksaan dengan stetoskop (auskultasi) terdengar suara krok-krok terutama saat inspirasi (menarik napas) yang menggambarkan adanya dahak di saluran napas.

Patofisiologi
Bonkitis kronis terjadi akibat dari berbagai faktor pendukung termasuk merokok, terpapar debu, asap, polusi lingkungan, dan infeksi bakteri atau virus. Pada bronkitis kronis, dinding bronkus menebal dan jumlah mukus yang disekresi sel globet di permukaan epitel bronkus besar dan kecil meningkat nyata. Hipertropi kelenjar mukus dan dilatasi saluran kelenjar mukus juga ditemui. Akibatnya pasien dengan bronkitis kronis mempunyai lebih banyak mukus secara nyata di saluran nafas perifer dan selanjutnya akan mengganggu pertahanan paru normal dan menyebabkan penyumbatan mukus di saluran pernafasan yang lebih kecil. Selanjutnya kondisi patologis ini dapat menyebabkan parut pada bronkus kecil dan meningkatkan obstruksi saluran nafas dan perlemahan dinding bronkus.

Diagnosis
Pemeriksaan Fisik: Kadang-kadang terdengar ronchi pada waktu ekspirasi dalam. Bila sudah ada keluhan sesak, akan terdengar ronchi pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi. Perkusi: hipersonor, batas paru hati lebih ke bawah, pekak jantung berkurang, suara nafas lemah, kadang-kadang disertai kontraksi otot-otot pernafasan tambahan

Pemeriksaan Laboratoium: Analisa gas darah. Pa O2 : rendah (normal 25 – 100 mmHg). Pa CO2 : tinggi (normal 36 – 44 mmHg). Saturasi Hb menurun. Bakteriologi. EKG

Klasifikasi
Secara klinis, Bronkitis kronis terbagi menjadi 3 jenis, yakni: Bronkitis kronis ringan ( simple chronic bronchitis), ditandai dengan batuk berdahak dan keluhan lain yang ringan. Bronkitis kronis mukopurulen ( chronic mucupurulent bronchitis), ditandai dengan batuk berdahak kental, purulen (berwarna kekuningan). Bronkitis kronis dengan penyempitan saluran napas (chronic bronchitis with obstruction), ditandai dengan batuk berdahak yang disertai dengan sesak napas berat dan suara mengi.

Terapi Farmakologi
Pada eksaserbasi akut pemberian bronkodilator oral atau aerosol seperti albuterol aerosol. Untuk pasien yang secara konsisten tetap menunjukkan keterbatasan dalam masuknya udara pernafasan, perubahan terapi bronkodilator harus dipertimbangkan.

Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan resistensi patogen terhadap penisilin yaitu H. Influenzae 30-40%, M. Pneumoniae penghasil B laktamase 95% dan S. Pneumoniae 30%. Ampisilin sering dipertimbangkan sebagai pilihan untuk betalaktamase membatasi keamanan dan cost-effectiveness.

Bila mikoplasma terlibat dalam infeksi, sebagai pilihan adalah Azitromisin

Fluorokinolon antibiotik alternatif yang efektif untuk dewasa terutama bila patogen adalah garam (-) atau untuk pasien yang parah. Beberapa S. Pneumonii resisten terhadap fluorokinolon yang generasi awal, sehingga dibutuhkan generasi yang lebih baru seperti gatifloksin.

Pada pasien yang mempunyai riwayat kekembuhan oleh karena faktor pencetus kejadian tertentu seperti musim dingin, percobaan profilaksis antibitotik mungkin bermanfaat. Bila tidak ada perbaikan secara klinik, selama priode yang sesuai misalnya 2-3 bln/tahun untuk 2-3 tahu, terapi profilaksis dapat dihentikan.

Antibiotik yang umum digunakan dengan durasi 10-14 hari.

Tabel 1. Terapi Awal Pada Bronkitis
Kondisi Klinik
Patogen
Terapi Awal
Bronkhitis akut
Biasanya virus
Lini        I: Tanpa antibiotika
Lini       II:Amoksisilin,amoksi-klav, makrolida
Bronkhitis Kronik
H.influenzae,
Moraxella catarrhalis, S. Pneumoniae
Lini    I: Amoksisilin, quinolon
   Lini   II:   Quinolon,   amoksi-klav,  
  azitromisin, kotrimoksazol
Bronkhitis  Kronik  dg
Komplikasi
s.d.a, K. Pneumoniae,
P. aeruginosa, Gram
(-) batang lain
Lini  I: Quinolon
   Lini II: Ceftazidime, Cefepime
Bronkhitis  Kronik  dg
infeksi bakteri
s.d.a.
Lini     I:     Quinolon     oral     atau
parenteral,     Meropenem     atau Ceftazidime/Cefepime+Ciprofloks asin oral.


Definisi Bronkhiolotis
Merupakan infeksi virus akut pada saluran pernafasan bawah bayi yang menunjukkan pola musiman yang tetap, puncaknya selama musin dingin  dan menetap sampai awal musim semi. Penyakit ini umumnya mempengaruhi bayi berumur 2-10 bulan.

Tanda dan Gejala
Diawali dengan gelisah, demam rendah, batuk, ingusan. Gejala berkembang; muntah, diare, pernafasan berbunyi, peningkatan laju pernafasan, pernafasan lambat dan sulit dengan dada tertarik, hidung memerah.

Patofisiologi
Penyebab utama, 45-60% adalah virus respiratory syncytial, penyebab kedua virus parainfluenza.

Pemeriksaan Laboratorium
Sel darah putih perifer normal atau sedikit meningkat. Gas darah arteri : hipoksemia dan hipercarbia/hiperkapnia (jarang). Sering terjadi dehidrasi karena intake cairan kurang pada penderita yang batuk, demam, mual muntah. Diagnosa  terutama berdasarkan pada penemuan klinik dan riwayat. Isolasi patogen akan menegakkan diagnosa dugaan.

Terapi
Bronkiolotis adalah penyakit yang sembuh sendiri dan umumnya tidak memerlukan terapi, selain menghilangkan kecemasan dan antipiretik, kecuali bila bayi hipoksia atau dehidrasi. Pada kasus berat, terapi pilihan adalah terapi oksigen dan cairan IV. Terapi beta adrenergik aerosol nampaknya  bermanfaat sedikit untuk sebagian besar pasien tetapi mungkin berguna pada anak dengan predisposisi yang  mengarah ke bronkospasme. Karena bakteri bukan penyebab utama maka AB secara rutin sebaiknya tidak diberikan. Tetapi sering dokter memberikan di awal karena penemuan klinik dan radiologi sering menunjukkan kemungkinan pneumonia bakteri. Ribavirin dapat dipertimbangkan pada pasien yang menderita penyakit paru atau jantung dengan infeksi akut. Penggunaan obat ini membutuhkan peralatan khusus, generator aerosol partikel kecil dan pelaksana terlatih.

Daftar Pustaka
Anonim. http://www.medscape.com. diakses tanggal 10 Mei 2016.

Depkes, RI., 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan. Jakarta.

Ikawati, Zullies. 2011. Penyakit Sistem Pernafasan dan Tatalaksana Terapinya.Yogyakarta: Bursa Ilmu.

Joseph T. DiPiro, et al. 2008. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition . New York: The McGraw-Hill Companies

Sukandar,E.Y dkk. 2008. ISO Farmakoterapi . Jakarta: PT.ISFI

Wattimena, J.R., dkk. 1991. Farmakodinami dan Terapi Antibiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar