Sabtu, 28 Mei 2016

Pneumonia

 


Definisi
Pneumonia adalah salah satu dari penyakit yang menyerang saluran respirasi bawah, terjadi penumpukan cairan pada alveolar, dan peradangan pada paru-paru. Penyakit infeksi ini dapat menyerang semua umur, tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak. Pneumonia dapat disertai dengan infeksi pada bronkhus dan dikenal dengan istilah bronkhopneumonia.

Gejala dan Tanda Pneumonia
Demam yang meningkat tajam, batuk produktif sputum berwarna atau berdarah, nyeri dada, takikardia takipnea

Gajala dan Tanda Pneumonia Bakteri Garam +/-
Infeksi L. Pneumonia dengan tanda malaise, letargi, lemh,anoreksia pada awalnya. Batuk kering tidak produktif → produktif dengan  sputum purulent. Demam > 40C yang berkaitan dengan bradikardi. Nyeri dada dan  progresif dispnea, bunyi nafas halus. Gejala ekstrapulmonal : diare, mual, mialgia, atralgia, halusinasi, grand mal seizures.

Diagnosis pneumonia
Radiografi khas. Laboratorium: leukositosis terutama sel poly morpho nuclear,O2 arteri rendah. Adanya infiltrat baru di paru, demam, status pernafasan memberat, sekret kental dan ada neutrofil.

Diagnosis pneumonia oleh bakteri gram positif/negatif
Radiografi: khas infiltrat segmental atau lobar yang padat. Laboratorium: leukositosis terutama sel poly morpho nuclear,O2 arteri rendah.

Terapi Farmakologi
Tetapkan: fungsi pernafasan, tanda – tanda sakit sistemik, dehidrasi, sepsis → kolaps. Terapi suportif: oksigen, cairan pengganti bronkodilator, fisioterapi dada, nutrisi, pengendalian demam. Pencegahan dengan vaksin terhadap S. Pneumonia dan H. Influenzae. Antibiotik empirik dan spektrum luas. Bila kultur diketahui, sempitkan spektrum.

Terapi Non Farmakologi
Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan antara lain :  penerapan fisioterapi dada dan perbaikan nutrisi. Perbaikan nutrisi bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki fungsi sistem imun agar tubuh mampu mengeradikasi infektor penyebab patologi tersebut.

Penjelasan  Penggunaan Obat

Antibiotika
Penicilin. Mekanisme kerja antibiotik golongan penisilin adalah dengan perlekatan pada protein pengikat penisilin yang spesifik (PBPs) yang berlaku sebagai reseptor pada bakteri, penghambatan sintesis dinding sel dengan menghambat transpeptidasi dari peptidoglikan, dan pengaktifan enzim autolitik di dalam dinding sel, yang menghasilkan kerusakan sehingga akibatnya bakteri mati. Antibiotik golongan penisilin yang biasa digunakan adalah amoksisilin.
Kekuatan
250 mg, 500 mg
Nama Obat
Amoksisilin / Koamoksiklav
Dosis Dewasa
3x250-500mg / 2x1000mg
Dosis Anak
25-50mg/kg/hari dalam 3 dosis terbagi
Efek Samping Obat
mual, muntah, diare, anemia hemolitik, thrombocytopenia
Interaksi
tetrasiklin dan Kloramfenikol mengurangi aktifitas amoksisilin
Informasi untuk pasien
Obat diminum sampai seluruh obat habis, meskipun kondisi klinik membaik sebelum obat habis
                                                                                                                    
Quinolon. Mekanisme kerja golongan quinolon secara umum adalah dengan menghambat DNA-gyrase. Aktifitas antimikroba secara umum meliputi, Enterobacteriaceae, P. Aeruginosa, srtaphylococci, enterococci, streptococci. Aktifitas terhadap bakteri anaerob pada generasi kedua tidak dimiliki. Demikian pula dengan generasi ketiga quinolon seperti levofloksasin,gatifloksasin, moksifloksasin. Aktifitas terhadap anaerob seperti B. Fragilis, anaerob lain dan Gram-positif baru muncul pada generasi keempat yaitu trovafloksacin.
 Nama Obat
Ciprofloksasin
Kekuatan
250 mg, 500 mg, 750 mg
Dosis Dewasa
ISPA bawah: 2 x500-750 mg selama 7-14 hari
Sinusitis akut: 2x500 mg selama 10 hari
Dosis Anak

Efek Samping Obat
Alergi: rash
Nefrotoksisitas: Acute Interstitial Nephritis, insiden < 1%
Interaksi
Meningkatkan kadar ciklosporin, teofilin, warfarin.
Mengurangi kadar ciprofloksasin bila diberikan bersama
dengan antasida, sukralfat,antineoplastik
Informasi untuk pasien
Diminum bersama makanan

Nama Obat
Levofloksasin
Kekuatan
500 mg
Dosis Dewasa
Eksaserbasi Bronkhitis kronik: 1x500mg selama 5 hari
Sinusitis akut: 1 x500mg selama 10 hari
CAP: 1x500mg selama 7-14 hari
Dosis Anak
-
Efek Samping Obat
3-10%: sakit kepala, pusing,mual, diare, reaksi alergi,
reaksi anafilaktik,angioneurotik oedema,
bronkhospasme, nyeri dada
Interaksi
Hindari pemberian bersamaan dg eritromisin,cisapride,
antipsikotik,antidepressant karena akan
memperpanjang kurva QT pada rekaman
EKG.Demikian pula hindari pemberian bersama betabloker,
amiodarone karena menyebabkan
bradikardi.Hindari pemberian bersama insulin, karena
akan merubah kadar glukosa.Meningkatkan perdarahan
bila diberikan bersama warfarin.Meningkatkan kadar
digoksin.
Informasi untuk pasien
Obat diminum 1-2 jam sebelum makan. Jangan
diminum bersamaan dengan antasida. Anda dapat
mengalami fotosensitifitas oleh karena itu gunakan
sunscreen, pakaian protektif untuk menghindarinya.
Laporkan bila ada diare, palpitasi, nyeri dada, gangguan
saluran cerna, mata atau kulit menjadi kuning, tremor.

Makrolida. Mekenisme kerja golongan makrolida menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya dengan jalan berikatan secara reversibel dengan ribosom subunit 50S.
Nama Obat
Eritromisin
Kekuatan
250 mg, 500 mg
Dosis Dewasa
2-4 x 250-500mg/kg
Dosis Anak
bayi dan anak: 30-50 mg/kg terbagi 3-4 dosis. Dosis dapat dilipat gandakan pada infeksi berat
Efek Samping Obat
10-15%: mual, muntah, rasa terbakar pada lambung:
bersifat reversibel, biasanya terjadi setelah 5-7 hari
terapi, insiden
Ototoksisitas: terjadi pada dosis tinggi disertai gagal hati
ataupun ginjal
Cholestatic Jaundice: Umum terjadi pada garam estolat
dari eritromisin.
Interaksi
Meningkatkan aritmia bila diberikan dg astemizole,
cisapride, gatifloksasin, moksifloksasin,sparfloksasin,
thioridazine.
Meningkatkan kadar plasma benzodiazepine, alfentanil,
carbamazepin, CCB, clozapin, cilostazol, digoksin,
bromokriptin, statin, teofilin,warfarin,neuromuskulerbloking
Flukonazol meningkatkan kadar plasma klaritromisin
Informasi untuk pasien
Diberikan 2 jam sebelum makan atau sesudah makan,
untuk sirup kering simpan di refrigerator setelah
dicampur, buang sisa sirup bila lebih dari 10 hari.

Nama Obat
Azitromisin
Kekuatan
250 mg, 500 mg
Dosis Dewasa
ISPA: 1x500mg hari pertama, diikuti 1x250mg pada hari kedua sampai kelima
Dosis Anak
Anak> 6 bln:
CAP: 10mg/kg pada hari I diikuti 5mg/kg/hari sekali
sehari sampai hari kelima
Otitis media: 1x30mg/kg;
10mg/kg sekali sehari selama 3 hari
Anak>2th :
Faringitis,Tonsilitis: 12mg/kg/hari selama 5 hari
Efek Samping Obat
1-10%: sakit kepala, rash, diare, mual,muntah

Interaksi
Meningkatkan aritmia bila diberikan dg astemizole,
cisapride, gatifloksasin, moksifloksasin,sparfloksasin,
thioridazine.
Meningkatkan kadar plasma benzodiazepine, alfentanil,
carbamazepin, CCB, clozapin, cilostazol, digoksin,
bromokriptin, statin, teofilin,warfarin,neuromuskulerbloking
Flukonazol meningkatkan kadar plasma klaritromisin

Informasi untuk pasien
Obat diminum bersama makanan untuk mengatasi efek
samping terhadap saluran cerna. Jangan minum
antasida bersama obat ini.

Nama Obat
Klaritromisin
Kekuatan
250 mg, 500 mg
Dosis Dewasa
2x250-500mg selama 10 -14 hari (ISPA atas)
2x250-500mg selama 7-14 hari (ISPA bawah)
Dosis Anak
Anak>6 bln: 15mg/kg/hari dlm 2 dosis terbagi selama 10
Hari
Efek Samping Obat
1-10%: sakit kepala, rash, diare,
mual,muntah,meningkatkan BUN, meningkatkan
prothrombin time diare,
Interaksi
Meningkatkan aritmia bila diberikan dg astemizole,
cisapride, gatifloksasin, moksifloksasin,sparfloksasin,
thioridazine.
Meningkatkan kadar plasma benzodiazepine, alfentanil,
carbamazepin, CCB, clozapin, cilostazol, digoksin,
bromokriptin, statin, teofilin,warfarin,neuromuskulerbloking
Flukonazol meningkatkan kadar plasma klaritromisin
Informasi untuk pasien
Diminum bersama makanan


Cefalosporin. Merupakan derivat β-laktam yang memiliki spektrum aktifitas bervariasi tergantung generasinya.  Mekanisme kerja golongan cefalosporin sama seperti β-laktam lain yaitu berikatan dengan penicilin protein binding (PBP) yang terletak di dalam maupun permukaan membran sel sehingga dinding sel bakteri tidak terbentuk yang berdampak pada kematian bakteri.

Bronkodilator. Bronkodilator mempunyai aksi merelaksasi otot-otot polos pada saluran pernafasan. Ada tiga jenis bronkodilator yaitu : Simpatomimetika, metilsantin, antikolinergik.

Beta 2 agonis (Simpatomimetika). Mekanisme obat simpatomimetika adalah melalui stimulus reseptor beta 2 pada bronkus menyebabkan aktivasi adenil siklase. Enzim ini mengubah ATP menjadi cAMP dengan pembebasan energi yang digunakan untuk proses-proses dalam sel. Meningkatnya kadar cAMP dalam sel menghasilkan efek bronkodilatasi Obat-obat simpatomimetika antara lain salbutamol, salmeterol, epinefrin, terbutalin, isoproterenol, dan metaproterenol (Dipiro, et al., 2008).

Short-Acting β2-Agonists (SABA). b2 agonis merupakan bronkodilator yang efektif. Short-Acting β2-Agonists merupakan bronkodilator selektif yang diindikasikan untuk penanganan episode bronkospasmus irregular. Obat ini hanya digunakan jika diperlukan untuk mengatasi gejala, contoh: albuterol (Dipiro, et al., 2008).

Long-Acting β2-Agonists (LABA). Long-acting inhaled ß2-agonists diindikasikan sebagai terapi untuk tahap 3 sebagai terapi tambahan pada dosis rendah sampai medium dari ICSs dan untuk tahap 4 dalam kombinasi dengan dosis medium hingga tinggi dari ICSs. (Dipiro, et al., 2008).

Salbutamol (albuterol)
Kekuatan
2 mg, 4 mg
Dosis dewasa
Sehari 3-4 kali 2-4 mg.
Dosis anak
Anak > 6 tahun sehari 3-4 kali 2 mg.
Anak 2-6 tahun sehari 3-4 kali 1 mg-2 mg.
Kontra indikasi
Tirotoksikosis, hipertiroid, hipersensitif terhadap salbutamol atau simpatomimetik lainnya, dan pengguna beta bloker
Efek samping obat
Gemetar, takhikardia, gangguan gastrointestinal
Interaksi
Digoxin (salbutamol menurunkan level serum digoxin); diuretic (salbutamol akan memperburuk penderita hipokalemia); mao inhibitor (peningkatan efek kardiovaskular); batasi penggunaan kafein (dapat menyebabkan cns)
Informasi untuk pasien
Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam sebelum/sesudah makan)

Salmeterol
Kekuatan
25 mcg, 50 mcg,125 mcg
dosis dewasa
2 kali sehari 2 semprotan.
dosis anak
2 kali sehari 1 semprotan.
efek samping obat
Serak atau disfonia (gangguan bunyi suara, misal sengau, parau), iritasi tenggorokan, sakit kepala, kandidiasis mulut dan tenggorokan, palpitasi (jantung berdebar kencang), gemetar, bronkhospasme paradoksikal, nyeri sendi.
Interaksi
penyekat β-bloker selektif dan non selektif. Penghambat CYP450

Terbutalin
Kekuatan
2,5 mg
Dosis dewasa
Dewasa : 2-3 kali sehari 1-2 tablet.
Dosis anak
Anak berusia 7-15 tahun : 2 kali sehari 1 tablet.
Anak berusia 3-7 tahun : 2 kali sehari ½ tablet.
Efek samping obat
Tremor halus terutama tangan, ketegangan saraf, sakit kepala, vasodilatasi perifer, takikardi (jarang pada pemberian aerosol), hipokalemia sesudah dosis tinggi, reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks, urtkaria, dan angio edema. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular
Interaksi
Dengan beta blocker (menghambat efek bronkodilatasi)

Obat Terapi Supporatif (Analgetik Anti-Inflamasi)
Parasetamol. Mekanisme Kerja bekerja langsung pada pusat pengaturan panas di hipotalamus dan menghambat sintesa prostaglandin di sistem saraf pusat. Efek samping: Efek samping dalam dosis terapi jarang; kecuali ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut pernah dilaporkan setelah penggunaan jangka panjang. Interaksi dengan obat: Alkohol, antikonvulsan, isoniazid: Meningkatkan resiko hepatotoksis. Antikoagulan oral: Dapat meningkatkan efek warfarin. Fenotiazin: Kemungkinan terjadi hipotermia parah. Interaksi dengan makanan:  Absorbsi menurun dengan adanya makanan.

Aspirin. Mekanisme keraja megnhambat sintesis prostaglandin oleh siklooksigenase, menghambat agregasi platelet, memiliki aktivitas antipiretik dan analgetik. Indikasi: Nyeri ringan sampai sedang, peradangan, dan demam. Efek samping: Iritasi lambung karena bersifat asam, Nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala, epilepsi, agitasi, perubahan mental, koma, paralisis, pusing, limbung, depresi, bingung,amnesia, sulit tidur. Interaksi dengan obat:  Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas allopurinol. Chlorpropamide: Meningkatkan reaksi hepatorenal, monitor hipoglikemi. Obat lain: Cotrimoxazole: Trombositopenia Cyclosporin: Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis). Interaksi dengan makanan:  Makanan menunda penyerapan aspirin tetapi tidak mempengaruhi jumlah keseluruhan diserap. Buah-buahan segar yang mengandung vitamin C: terjadi peningkatan ekskresi aspirin.

Ibupropen. Mekanisme kerja menghambat sintesis prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat siklooksigenase (COX) isoenzim, cox-1 dan cox-2. Indikasi: Nyeri & radang pada penyakit artritis (rheumatoid arthritis, juvenile arthritis, osteoarthritis) & gangguan non sendi (otot kerangka), nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea, paska bedah, nyeri & demam pada anak-anak. Efek samping: Gangguan gastro-intestinal termasuk ketidaknyamanan, mual, diare, dan kadang-kadang berdarah dan ulserasi. Interaksi dengan obat:  Antikoagulan & antitrombotik : Meningkatkan efek samping perdarahan saluran cerna.   Aspirin: Meningkatkan efek samping & menurunkan efek kardioprotektif dari aspirin. Litium: Meningkatkan konsentrasi litium dalam plasma & serum dan dapat menurunkan klirens  Interaksi dengan makanan:  Puncak kadar serum Ibuprofen dapat menurun jika dikonsumsi dengan makanan.

Mukolitik dan Ekspektoran
Mukolitik bekerja dengan dengan cara memecah glikoprotein menjadi molekul-molekul yang lebih kecil sehingga menjadi lebih encer. Mukus yang encer akan medak dikeluarkan pada saat batuk.  Asetilsistein (Carbosistein). Kekuatan: 200 mg. Indikasi:  bronkitis akut, batuk kronis atau akut, antidotum parasetamol. Dosis:  dosis awal 2,25 g per hari dalam dosis terbagi, kemudian 1,5 g per hari dalam dosis terbagi. Anak-anak (2-5 tahun): 62,5-125 mg 4x/hari, (5-12 tahun) : 250 mg 3x/hari. Efek samping: pendarahan gastro-intestinal (jarang terjadi), reaksi hipersensitivitas (ruam dan anafilakskis).

Ekspektoran bekerja dengan cara mengencerkan mukus dalam bronkus sehingga mudah dikeluarkan, salah satu contoh ekspektoran adalah guaifenesin. Guaifenesin bekerja dengan cara mengurangi viskositas dan adhesivitas sputum sehingga meningkatkan efektivitas mukociliar dalam mengeluarkan sputum dari saluran pernapasan.  Guaifenesin. Kekuatan: 200 mg, 400 mg. Indikasi:  membantu mengencerkan lendir. Dosis:  anak-anak (6 bulan-2 tahun) : 25-50 mg tiap 4 jam, maksimal dosis 300 mg/hari; anak-anak (2-5 tahun): 50-100 mg tiap 4 jam, maksimal dosis 600 mg/hari; anak-anak (6-11 tahun): 100-200 mg tiap 4 jam, dosis maksimal 2,4 g/hari; anak-anak ≥12 tahun dan dewasa: 200-400 mg tiap 4 jam, maksimal dosis 2,4 g/hari. Efek samping: sistem saraf pusat: pusing, kantuk, sakit kepala; dermatologi: ruam; metabolisme dan sistem endokrin: penurunan level uric acid; gastrointestinal : mual, muntah,nyeri perut.

Daftar Pustaka
Anonim. http://www.medscape.com. diakses tanggal 10 Mei 2016.

Depkes, RI., 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan. Jakarta.

Ikawati, Zullies. 2011. Penyakit Sistem Pernafasan dan Tatalaksana Terapinya.Yogyakarta: Bursa Ilmu.

Joseph T. DiPiro, et al. 2008. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition . New York: The McGraw-Hill Companies

Sukandar,E.Y dkk. 2008. ISO Farmakoterapi . Jakarta: PT.ISFI.

Wattimena, J.R., dkk. 1991. Farmakodinami dan Terapi Antibiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar