Sabtu, 11 Juni 2016

Pendakian Merbabu via Selo (Hari ke 1: Basecamp)

 
Bukan yang paling kuat, bukan yang paling pintar, bukan pula yang paling kaya. Tapi yang paling bisa menyesuaikan diri, ia yang akan bertahan.

Impian itu bukan hanya soal kekuatan, kepintaran, atau kekayaan. Lebih daripada itu, impian adalah soal komitmen diri dalam menjaga konsistensi ambisi yang suci.

Impian adalah soal kemampuan diri dalam menjaga kobaran semangat api perjuangan dan bara pengorbanan untuk menggapai segala apa yang semula hanya sekedar wacana semata, hanya sebuah rencana saja, dan hanya sebatas angan-angan belaka, kemudian bisa direalisasikan secara nyata dan ada. (Ali Ridwan, Basecamp Merbabu, 05/05/16)
###

Ide mendaki pertama kali muncul saat melihat dua tanggal merah di awal bulan Mei pada hari kamis dan jum’at. Libur selama empat hari begitu, pulang kampung juga tidak mungkin, liburan adalah jalan terbaik untuk melepas penat di sela-sela padatnya jadwal kuliah. Karena basic liburannya ingin ngecemp sampe barhari-hari maka pilihannya cuma ada dua. Pantai atau gunung? Kalau pantai panas, Semarang sudah panas, masa’ iya mau ngecemp di tempat panas. Jawabnya pasti, tempat yang dingin nan sejuk, yaitu gunung. Yups, naik gunung adalah kegiatan yang akan kita lakukan di long weekend itu.
 
Pertanyaan pertama sudah terjawab. Sekarang pertanyaan ke dua. Gunung manakah di sekitar Jawa Tengah yang layak untuk didaki. Sebetulnya keputusan ini sudah diambil beberapa bulan sebelumnya, yaitu gunung dengan pemandangan terindah di Jawa Tengah. Gunung mana lagi kalau bukan Taman Nasional Gunung Merbabu, Boyolali, Jawa Tengah.

Selanjutnya, selain mempersiapkan fisik dan logistik adalah personil. Awalnya kami sepakat ada sekitar duapuluh lebih pendaki, lima dari Jogja, tiga dari Bandung, empat dari Solo, tujuh dari Kediri, dan enam dari Semarang. Tapi semua batal, kecuali kami bertiga dari Semarang. Well, mendaki ke Merbabu Cuma bertiga? Siapa takut! Hajar!!
 
Perlu dicatat baik-baik. Gunung Merbabu itu beda dengan gunung-gunung lain di Indonesia. Di sepanjang Gunung  Merbabu, dari basecamp sampai puncak itu tidak ada yang namanya sumber air. Jadi menegement air adalah prioritas utama bila mau mendaki sampai ke Puncak Klenteng Songo, Merbabu. Soalnya air yang dibawa bukan cuma untuk minum, tapi juga untuk masak, mencuci, dan jangan pikir bisa bawa air untuk mandi di atas sana. Di Padang Sabana nanti, bisa dapat bantuan air satu gelas buat minum aja bersyukurnya bukan main.
 
Baiklah, setelah pengenalan medan dan searching sana-sini. Kami memutuskan mendaki Merbabu lewat jalur Selo, sebab menurut para pendaki yang sudah bolak-balik ke Merbabu, view paling bagus itu via Selo. Asumsi awal kita, malam Kamis dari Semarang kita berangkat ke Selo, Shubuh kita mulai mendaki, malam sampai di Sabana 2, ngecamp semalam dan paginya nanjak ke Puncak. Tapi itu baru rencana, bagaimana nanti itu tergantung situasi di lapangan. Ingat, tujuan utama mendaki itu adalah pulang dengan selamat.

Berhubung kami cuma bertiga, dan menargetkan puncak sebagai tujuan. Logistik harus benar-benar lengkap, mulai dari carrier, matras, sleeping bag, kantong sampah (polybag), headlamp (senter), kupluk, sepatu, masker, kacamata hitam, syal, pakaian ganti, jecket, jas hujan, kompor gas/spiritus, alat makan (nesting/misting, sendok, garpu, piring/mangkok).
 
Untuk makanan pribadi, siapkan air (4 – 5 botol aqua besar), obat-obatan (Anatangin, paracetamol, diapet, hansaplast, koyo, salonpas, balsem, dll). Untuk makanan kelompok bawa (beras, sarden, telur, mie instan, kopi, bumbu masak, dll), golok tebas/pisau lipat, tali, hammock, webbing, tenda, flyshseet, sarung, sajadah, mukena.

Eits, jangan lupa juga tulisan –tulisan alay. Dan untuk kali ini, kita bertiga dapat titipan tulisan-tulisan alay dari temen-teman kelas hampir satu rem banyaknya. Entahlah, mudah-mudahan sampai puncak nanti tidak hujan.
 
Semua perlengkapan dan logistik siap. Di hari pertama pada Rabu, 04/05/16 setelah pulang kuliah pukul 13.00 kami mulai kemas-kemas, istirahat sejanak, selepas maghrib kami baru berangkat menuju Boyolali pakai motor roda dua, satu orang satu motor dengan carrier di pundak masing-masing. Yah, kalau mau mendaki via Selo lebih hemat kalau ke basecampnya naik motor. Soalnya kalau naik mobil itu rawan macet, di Selo itu jalurnya truk-truk muatan material bangunan sering lewat. Jadi jam 19.00 kita dari Semarang, sampai di Selo jam 22.00. Di Basecamp kita mendaftar dulu, parkir motor Rp 5.000,- dan formulir pendaftaran Rp 15.000,-

Sampai di basecamp dan setelah memarkir motor kemudian kita nyari tempat buat istirahat sambil makan malam. Malam itu, sambil ngopi-ngopi di warung sebuah rumah warga yang difungsikan sebagai basecamp, kita ngobrol sama bapak-bapak penjaga basecampnya. Teman-teman mau tau, sudah berapa pendaki yang mandaftar di malam itu, sudah ada 3000 pendaki lebih. Wow bukan. Semangat, semangat. Meski bertiga. Kita tidak sendirian. Ada ribuan pendaki yang akan kita temui di sepanjang jalur pendakian nanti. Okeh, malam sudah semakin larut. Saatnya tidur, besok harus bangun pagi-pagi. Mandi, sarapan, terus mendaki (Ali Ridwan, 11/06/16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar