Impian itu bukan hanya soal kekuatan,
kepintaran, atau kekayaan. Lebih daripada itu, impian adalah soal komitmen diri
dalam menjaga konsistensi ambisi yang suci.
Impian
adalah soal kemampuan diri dalam menjaga kobaran semangat api perjuangan dan
bara pengorbanan untuk menggapai segala apa yang semula hanya sekedar wacana
semata, hanya sebuah rencana saja, dan hanya sebatas angan-angan belaka,
kemudian bisa direalisasikan secara nyata dan ada. (Ali Ridwan, Basecamp
Merbabu, 05/05/16)
###
Ide mendaki pertama kali muncul saat
melihat dua tanggal merah di awal bulan Mei pada hari kamis dan jum’at. Libur
selama empat hari begitu, pulang kampung juga tidak mungkin, liburan adalah
jalan terbaik untuk melepas penat di sela-sela padatnya jadwal kuliah. Karena
basic liburannya ingin ngecemp sampe barhari-hari maka pilihannya cuma ada dua.
Pantai atau gunung? Kalau pantai panas, Semarang sudah panas, masa’ iya mau
ngecemp di tempat panas. Jawabnya pasti, tempat yang dingin nan sejuk, yaitu
gunung. Yups, naik gunung adalah kegiatan yang akan kita lakukan di long weekend itu.
Pertanyaan pertama sudah terjawab.
Sekarang pertanyaan ke dua. Gunung manakah di sekitar Jawa Tengah yang layak
untuk didaki. Sebetulnya keputusan ini sudah diambil beberapa bulan sebelumnya,
yaitu gunung dengan pemandangan terindah di Jawa Tengah. Gunung mana lagi kalau
bukan Taman Nasional Gunung Merbabu, Boyolali, Jawa Tengah.
Selanjutnya, selain mempersiapkan fisik
dan logistik adalah personil. Awalnya kami sepakat ada sekitar duapuluh lebih
pendaki, lima dari Jogja, tiga dari Bandung, empat dari Solo, tujuh dari Kediri,
dan enam dari Semarang. Tapi semua batal, kecuali kami bertiga dari Semarang.
Well, mendaki ke Merbabu Cuma bertiga? Siapa takut! Hajar!!
Perlu dicatat baik-baik. Gunung Merbabu
itu beda dengan gunung-gunung lain di Indonesia. Di sepanjang Gunung Merbabu, dari basecamp sampai puncak itu
tidak ada yang namanya sumber air. Jadi menegement air adalah prioritas utama
bila mau mendaki sampai ke Puncak Klenteng Songo, Merbabu. Soalnya air yang
dibawa bukan cuma untuk minum, tapi juga untuk masak, mencuci, dan jangan pikir
bisa bawa air untuk mandi di atas sana. Di Padang Sabana nanti, bisa dapat bantuan
air satu gelas buat minum aja bersyukurnya bukan main.
Baiklah, setelah pengenalan medan dan
searching sana-sini. Kami memutuskan mendaki Merbabu lewat jalur Selo, sebab
menurut para pendaki yang sudah bolak-balik ke Merbabu, view paling bagus itu
via Selo. Asumsi awal kita, malam Kamis dari Semarang kita berangkat ke Selo,
Shubuh kita mulai mendaki, malam sampai di Sabana 2, ngecamp semalam dan paginya
nanjak ke Puncak. Tapi itu baru rencana, bagaimana nanti itu tergantung situasi
di lapangan. Ingat, tujuan utama mendaki itu adalah pulang dengan selamat.
Berhubung kami cuma bertiga, dan
menargetkan puncak sebagai tujuan. Logistik harus benar-benar lengkap, mulai
dari carrier, matras, sleeping bag, kantong sampah (polybag), headlamp
(senter), kupluk, sepatu, masker, kacamata hitam, syal, pakaian ganti, jecket,
jas hujan, kompor gas/spiritus, alat makan (nesting/misting, sendok, garpu,
piring/mangkok).
Untuk makanan pribadi, siapkan air (4 –
5 botol aqua besar), obat-obatan (Anatangin, paracetamol, diapet, hansaplast,
koyo, salonpas, balsem, dll). Untuk makanan kelompok bawa (beras, sarden,
telur, mie instan, kopi, bumbu masak, dll), golok tebas/pisau lipat, tali,
hammock, webbing, tenda, flyshseet, sarung, sajadah, mukena.
Eits, jangan lupa juga tulisan –tulisan
alay. Dan untuk kali ini, kita bertiga dapat titipan tulisan-tulisan alay dari
temen-teman kelas hampir satu rem banyaknya. Entahlah, mudah-mudahan sampai
puncak nanti tidak hujan.
Semua perlengkapan dan logistik siap. Di
hari pertama pada Rabu, 04/05/16 setelah pulang kuliah pukul 13.00 kami mulai
kemas-kemas, istirahat sejanak, selepas maghrib kami baru berangkat menuju
Boyolali pakai motor roda dua, satu orang satu motor dengan carrier di pundak
masing-masing. Yah, kalau mau mendaki via Selo lebih hemat kalau ke basecampnya
naik motor. Soalnya kalau naik mobil itu rawan macet, di Selo itu jalurnya
truk-truk muatan material bangunan sering lewat. Jadi jam 19.00 kita dari
Semarang, sampai di Selo jam 22.00. Di Basecamp kita mendaftar dulu, parkir
motor Rp 5.000,- dan formulir pendaftaran Rp 15.000,-
Sampai di basecamp dan setelah memarkir
motor kemudian kita nyari tempat buat istirahat sambil makan malam. Malam itu,
sambil ngopi-ngopi di warung sebuah rumah warga yang difungsikan sebagai
basecamp, kita ngobrol sama bapak-bapak penjaga basecampnya. Teman-teman mau
tau, sudah berapa pendaki yang mandaftar di malam itu, sudah ada 3000 pendaki
lebih. Wow bukan. Semangat, semangat. Meski bertiga. Kita tidak sendirian. Ada
ribuan pendaki yang akan kita temui di sepanjang jalur pendakian nanti. Okeh,
malam sudah semakin larut. Saatnya tidur, besok harus bangun pagi-pagi. Mandi,
sarapan, terus mendaki (Ali Ridwan, 11/06/16)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar