Rabu, 15 Juni 2016

Pendakian Merbabu via Selo (Hari ke 2: Sabana 1)

 
Aku tidak menjanjikan hidup yang selalu mapan. Aku mau hidupku akan penuh dengan petualangan. Sebab, tantangan adalah makanan pokok, bagi orang-orang yang selalu lapar pada nikmatnya kehidupan. (Ali Ridwan, Padang Sabana, Merbabu, 05/05/16)
###
Dini hari setelah bangun sebelum pagi, mentari mulai timbul, sunrise yang indah, basecamp Pendakian via Selo yang mulai bergemuruh. Setelah ngopi, dan sarapan nasi rames, kami kembali berkemas. Sekitar jam 06.00 pada hari kamis 05/05/16 perlahan kami mulai meninggalkan basecamp, kami mulai mendaki. Bismilllah, semoga bisa sampai ke puncak dan kembali dengan selamat.
 
Jujur saja, karena padatnya jadwal kuliah, kami kurang begitu fokus dalam menyiapkan fisik. Jadi dalam pendakian Merbabu kali ini, kami mengusung moto, pelan-pelan asal sampai dengan selamat. Apalagi jalur pendakiannya juga berat, dimana untuk sampai ke puncak kami harus melalui beberapa pos, di sini ada Pos 1, Pos 2, Pos 3, kemudian Sabana 1, Sabana 2, dan Puncak.
 
Seperti target awal, pagi berangkat harapannya siang sudah sampai Pos 3, kemudian sore sudah bisa pasang tenda di Sabana 2. Kenapa dipilih ngecemp di Sabana 2, padahal ngecemp di Sabana 1 apa di Puncak juga sebenarnya bisa. Sebab, di Sabana 2 itu tempatnya luas, mau ratusan tenda juga muat, dan sudah dekat dengan puncak, jadi muncak tidak perlu bawa carrier. Kalau di Sabana 1 tempatnya terbatas, mau muncak tanpa carrier juga kejauhan.

Pagi itu, kami mendaki dan terus mendaki. Karena kita harus memanagemant energi, jadi yaa dibuat bagaimana caranya supaya tubuh kita kuat bertahan selama paling tidak sampai tiga hari ke depan selama hidup di dalam hutan sambil terus berjalan, terus mendaki, sambil menahan hawa dingin.
Tidak hanya fisik, logistik juga harus dimanagemant secara serius. Terutama sekali air, saya ulangi dan catat baik-baik. Di sepanjang jalur pendakian Merbabu via Selo itu tidak ada sumber air. Air buat masak, air buat mencuci, air buat minum, sampai air buat cuci muka, kita bawa dari bawah, dari basecamp. Jadi harus super hemat pokoknya.
 
Lima menit mendaki, lima menit break. Sepuluh menit mendaki, lima belas menit break. Balak-balik kami disali pendaki lain yang punya persiapan fisik lebih prima. Yah.. perjalan kami jadi sangat lambat. Sehingga pada jam 12.00 baru sampai di pos 2. Karena cuaca grimis dan berkabut kami memutuskan untuk istirahat sambil makan roti sebagai pengganti makan siang. Sial. Grimis makin deras, terpaksa di Pos 2 kami memasang tenda, kita break si sini sambil tidur siang, setidaknya sampai nanti cuaca kembali cerah.

Nyenyak tertidur selama satu setengah jam, kami terbangun pada 13.30 dan cuaca sudah kembali cerah. Sehingga pada jam 14.00 setelah selesai mengemasi tenda dan logistik, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali mendaki.
 
Mendaki dan terus mendaki, makin tinggi makin ekstrim medan yang kami lalui, derajat kemiringannya makin tajam, hampir tidak ada lagi jalan landai seperti di jalur Pos 1 ke pos 2 atau dari basecamp ke Pos 1. Pelan-pelan tapi pasti, meski sangat telat pada jam 17.00 akhirnya kami sampai di Pos 3.

Belum makan nasi sejak tadi siang, kami kelaparan bukan main. Melihat jalur naik ke pendakian menuju Sabana 1 yang sangat curam dan ekstriem, kami yang kelaparan memutuskan untuk memasak mie lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Setengah jam berlalu, pada 17.30 kami mulai mendaki lagi, menuju Sabana 1.
 
Sebab hari mulai gelap, kami mulai menggunakan senter. Sial betul jalur pendakian Merbabu ini, makin tinggi malah makin ekstriem. Kelelahan dan kelaparan, sepertinya kami harus merubah rencana. Kami tidak jadi ngecemp di Sabana 2, entah nanti sampai di Sabana 1 jam berapa, kami memutuskan untuk ngecemp di Sabana 1 saja. Kemudian pagi lanjut mendaki ke Sabana 2, pasang tenda di sana, siang baru lanjut Muncak.
 
Tepat perkiraan, pada jam 21.30 kami baru sampai di Sabana 1, dengar kalau jalur pendakian  ke Sabana 2 lebih ekstrem dari Pos 3 ke Sabana 1, ditambah kelelahan dan kelaparan, belum lagi hawa dingin yang mulai tidak bisa dikompromi, kami berbulat tekad dan langsung pasang tenda, yah mau tidak mau kami harus ngecamp di Sabana 1 saja dulu, ke Sabana 2 dilanjutkan besok pagi-pagi saja.

Pasang tenda selesai, saatnya merebus air, menyeduh kopi hangat campur jahe, kemudian menanak nasi dan memasak ikan kaleng campur sozzis goreng, lahab benar kami makan malam itu.  Malam itu, mungkin karena faktor kekenyangan, kedinginan, dan kelelahan sehingga pada jam 23.00 kami pun sudah lelap tertidur. Oh, nikmatnya bisa menikmati malam bersama udara dingin khas pegunungan dan bintang gemintang di alam terbuka Taman Nasional Gunung Merbabu.
 
Sebelum saya akhiri di cerita pendakian pada hari kedua ini, saya selipkan sedikit cerita horror yah. Jadi pada saat kami mendaki di jalur pendakian dari Pos 1 ke Sabana 1, kami berjumpa dengan sekelompok pendaki yang sedang mencari salah satu kawannya yang hilang, katanya temannya itu seperti kesurupan, karena kesurupan itu dia tidak punya rasa capek, sehingga temannya yang kesurupan itu terus mendaki tanpa break, jadi seperti tidak punya rasa capek, dia mendaki dan mendaki sampai meninggalkan rombongannya sendiri.
 
Saya sendiri, waktu kencing di tengah hutan dan gelap, lupa permisi waktu kencing seperti ada yang mengawasi, di telinga kiri saya seperti ada yang membisiki. Tapi saya sih cuek, tinggal tahan nafas, ayat kursi tiga kali, kemudian minta maaf kalau ada salah. Udah. Yah, ini pesan saja, kita hidup itu kan berdampingan dengan alam lain. Mau tidak mau kita juga harus mengimani kalau pada dimensi lain di dunia ini juga ada kehidupan makhluk lain, dimana sesama makhluk Tuhan kita harus saling menghormati.
Okeh, menilik pada kegagalan kami mencapai terget, dimana sebelum maghrib harusnya sudah pasang tenda di Sabana 2, tapi ini sudah seperempat malam baru sampai di Sabana 1 dan ngecamp di sini. Tapi tidak apalah, logistik masih cukup, energi juga masih cukup, besok kami lanjut mendaki lagi sampai ke puncak. Intinya, mendaki itu tidak cukup cuma bekal fisik dan logistik, tapi juga perlu taktik. Mendaki itu bukan wisata, tapi olahraga. Tepatnya olahraga ekstrim. Kenapa ekstriem? Karena medan dan cuaca yang dilewati juga ekstrim. Kelelahan, demam, nyeri, keseleo, keram, mencret, sampai hipotermia adalah tantangan utamanya. (Ali Ridwan, 15/06/16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar