Aku
tidak menjanjikan hidup yang selalu mapan. Aku mau hidupku akan penuh dengan
petualangan. Sebab, tantangan adalah makanan pokok, bagi orang-orang yang selalu
lapar pada nikmatnya kehidupan. (Ali Ridwan, Padang Sabana, Merbabu, 05/05/16)
###
Dini hari setelah bangun sebelum pagi,
mentari mulai timbul, sunrise yang indah, basecamp Pendakian via Selo yang
mulai bergemuruh. Setelah ngopi, dan sarapan nasi rames, kami kembali berkemas.
Sekitar jam 06.00 pada hari kamis 05/05/16 perlahan kami mulai meninggalkan
basecamp, kami mulai mendaki. Bismilllah, semoga bisa sampai ke puncak dan
kembali dengan selamat.
Jujur saja, karena padatnya jadwal
kuliah, kami kurang begitu fokus dalam menyiapkan fisik. Jadi dalam pendakian
Merbabu kali ini, kami mengusung moto, pelan-pelan asal sampai dengan selamat. Apalagi
jalur pendakiannya juga berat, dimana untuk sampai ke puncak kami harus melalui
beberapa pos, di sini ada Pos 1, Pos 2, Pos 3, kemudian Sabana 1, Sabana 2, dan
Puncak.
Seperti target awal, pagi berangkat
harapannya siang sudah sampai Pos 3, kemudian sore sudah bisa pasang tenda di
Sabana 2. Kenapa dipilih ngecemp di Sabana 2, padahal ngecemp di Sabana 1 apa
di Puncak juga sebenarnya bisa. Sebab, di Sabana 2 itu tempatnya luas, mau
ratusan tenda juga muat, dan sudah dekat dengan puncak, jadi muncak tidak perlu
bawa carrier. Kalau di Sabana 1 tempatnya terbatas, mau muncak tanpa carrier
juga kejauhan.
Pagi itu, kami mendaki dan terus
mendaki. Karena kita harus memanagemant energi, jadi yaa dibuat bagaimana
caranya supaya tubuh kita kuat bertahan selama paling tidak sampai tiga hari ke
depan selama hidup di dalam hutan sambil terus berjalan, terus mendaki, sambil
menahan hawa dingin.
Tidak hanya fisik, logistik juga harus dimanagemant
secara serius. Terutama sekali air, saya ulangi dan catat baik-baik. Di
sepanjang jalur pendakian Merbabu via Selo itu tidak ada sumber air. Air buat
masak, air buat mencuci, air buat minum, sampai air buat cuci muka, kita bawa
dari bawah, dari basecamp. Jadi harus super hemat pokoknya.
Lima menit mendaki, lima menit break.
Sepuluh menit mendaki, lima belas menit break. Balak-balik kami disali pendaki
lain yang punya persiapan fisik lebih prima. Yah.. perjalan kami jadi sangat
lambat. Sehingga pada jam 12.00 baru sampai di pos 2. Karena cuaca grimis dan
berkabut kami memutuskan untuk istirahat sambil makan roti sebagai pengganti
makan siang. Sial. Grimis makin deras, terpaksa di Pos 2 kami memasang tenda,
kita break si sini sambil tidur siang, setidaknya sampai nanti cuaca kembali
cerah.
Nyenyak tertidur selama satu setengah
jam, kami terbangun pada 13.30 dan cuaca sudah kembali cerah. Sehingga pada jam
14.00 setelah selesai mengemasi tenda dan logistik, kami pun melanjutkan
perjalanan untuk kembali mendaki.
Mendaki dan terus mendaki, makin tinggi
makin ekstrim medan yang kami lalui, derajat kemiringannya makin tajam, hampir
tidak ada lagi jalan landai seperti di jalur Pos 1 ke pos 2 atau dari basecamp
ke Pos 1. Pelan-pelan tapi pasti, meski sangat telat pada jam 17.00 akhirnya
kami sampai di Pos 3.
Belum makan nasi sejak tadi siang, kami
kelaparan bukan main. Melihat jalur naik ke pendakian menuju Sabana 1 yang sangat
curam dan ekstriem, kami yang kelaparan memutuskan untuk memasak mie lebih dulu
sebelum melanjutkan perjalanan. Setengah jam berlalu, pada 17.30 kami mulai
mendaki lagi, menuju Sabana 1.
Sebab hari mulai gelap, kami mulai
menggunakan senter. Sial betul jalur pendakian Merbabu ini, makin tinggi malah
makin ekstriem. Kelelahan dan kelaparan, sepertinya kami harus merubah rencana.
Kami tidak jadi ngecemp di Sabana 2, entah nanti sampai di Sabana 1 jam berapa,
kami memutuskan untuk ngecemp di Sabana 1 saja. Kemudian pagi lanjut mendaki ke
Sabana 2, pasang tenda di sana, siang baru lanjut Muncak.
Tepat perkiraan, pada jam 21.30 kami
baru sampai di Sabana 1, dengar kalau jalur pendakian ke Sabana 2 lebih ekstrem dari Pos 3 ke Sabana
1, ditambah kelelahan dan kelaparan, belum lagi hawa dingin yang mulai tidak
bisa dikompromi, kami berbulat tekad dan langsung pasang tenda, yah mau tidak
mau kami harus ngecamp di Sabana 1 saja dulu, ke Sabana 2 dilanjutkan besok
pagi-pagi saja.
Pasang tenda selesai, saatnya merebus
air, menyeduh kopi hangat campur jahe, kemudian menanak nasi dan memasak ikan
kaleng campur sozzis goreng, lahab benar kami makan malam itu. Malam itu, mungkin karena faktor kekenyangan,
kedinginan, dan kelelahan sehingga pada jam 23.00 kami pun sudah lelap
tertidur. Oh, nikmatnya bisa menikmati malam bersama udara dingin khas
pegunungan dan bintang gemintang di alam terbuka Taman Nasional Gunung Merbabu.
Sebelum saya akhiri di cerita pendakian
pada hari kedua ini, saya selipkan sedikit cerita horror yah. Jadi pada saat
kami mendaki di jalur pendakian dari Pos 1 ke Sabana 1, kami berjumpa dengan
sekelompok pendaki yang sedang mencari salah satu kawannya yang hilang, katanya
temannya itu seperti kesurupan, karena kesurupan itu dia tidak punya rasa
capek, sehingga temannya yang kesurupan itu terus mendaki tanpa break, jadi
seperti tidak punya rasa capek, dia mendaki dan mendaki sampai meninggalkan
rombongannya sendiri.
Saya sendiri, waktu kencing di tengah
hutan dan gelap, lupa permisi waktu kencing seperti ada yang mengawasi, di
telinga kiri saya seperti ada yang membisiki. Tapi saya sih cuek, tinggal tahan
nafas, ayat kursi tiga kali, kemudian minta maaf kalau ada salah. Udah. Yah,
ini pesan saja, kita hidup itu kan berdampingan dengan alam lain. Mau tidak mau
kita juga harus mengimani kalau pada dimensi lain di dunia ini juga ada
kehidupan makhluk lain, dimana sesama makhluk Tuhan kita harus saling
menghormati.
Okeh, menilik pada kegagalan kami
mencapai terget, dimana sebelum maghrib harusnya sudah pasang tenda di Sabana
2, tapi ini sudah seperempat malam baru sampai di Sabana 1 dan ngecamp di sini.
Tapi tidak apalah, logistik masih cukup, energi juga masih cukup, besok kami
lanjut mendaki lagi sampai ke puncak. Intinya, mendaki itu tidak cukup cuma
bekal fisik dan logistik, tapi juga perlu taktik. Mendaki itu bukan wisata,
tapi olahraga. Tepatnya olahraga ekstrim. Kenapa ekstriem? Karena medan dan
cuaca yang dilewati juga ekstrim. Kelelahan, demam, nyeri, keseleo, keram,
mencret, sampai hipotermia adalah tantangan utamanya. (Ali Ridwan, 15/06/16)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar