Kulihat
seekor anak kucing sedang menari..
Memainkan
tikus hasil buruan, hadiah sang ibu..
Ia
melompat-lompat, coba melahap..
Tapi,
gigi-gigi kecilnya belum mampu melumat..
Awan
putih turun menutupi sinaran mentari..
Sambil
melihat tingkah anak kucing lucu itu..
Aku
mengorak-ngorek bara merah, sisa api unggun semalam..
Malam
tadi kayu terbakar api..
Shubuh
menjadi bara, dan pagi tinggallah debu yang sersisa.
Tidak
akan habis satu rem kertas..
Kalau
kuuntai semua kalimat rinduku di atas lembaran-lembarannya..
Melihat
anak kucing yang gembira ria..
Mendapat
hadiah dari sang ibu..
Membuat
ingatanku membumbung kepada masa di masa lampau..
Dimana
petualanganku yang belum sajauh ini..
Aku
diwaktu kecil mungkin seperti kayu..
Dewasa
makin membara seperti bara..
Nanti
tua yang tersisa tinggallah debu..
Percis
seperti sisa-sisa bara yang aku korak-korek ini..
Berharap
ada panas yang tersisa, jadi pengusir dingin..
Memang,
api bisa mengubah kayu menjadi bara..
Bara
bisa menyimpan api, dan debu tinggallah debu..
Hanya
bisa dipakai untuk merabuk tanaman..
Supaya
tanaman-tanaman itu lekas tumbuh besar..
Lalu
ditebang, kemudian dikeringkan, jadilah kayu bakar.
Terulanglah
lagi kisah yang sama.
Kayu
dibakar menjadi bara, bara yang nanti tinggallah debu.
Aku
yang masih kedinginan, lalu dihibur oleh si anak kucing..
Berharap
hidupku tak seperti debu, kayu, api, dan bara..
Rindu
yang palsu. Rindu yang seperti api..
Membara
hanya saat ada kayu. Redup ketika kayu menjadi debu..
Aku
ingin hidupku seperti mentari pagi di hari ini..
Meski
semalaman kejam menyiksa dengan kabut, serta udara dingin..
Tapi
ia pasti muncul saat pagi, bersama embun dan cerah warna langit..
(Ali
Ridwan, Camp Mawar, 30/05/16)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar