Rabu, 15 Juni 2016

Sunrise di Camp Mawar, Ungaran

 

Di dingin embun dan hangat mentari pagi..

Kulihat seekor anak kucing sedang menari..
Memainkan tikus hasil buruan, hadiah sang ibu..

Ia melompat-lompat, coba melahap..
Tapi, gigi-gigi kecilnya belum mampu melumat..

Awan putih turun menutupi sinaran mentari..
Sambil melihat tingkah anak kucing lucu itu..
Aku mengorak-ngorek bara merah, sisa api unggun semalam..

Malam tadi kayu terbakar api..
Shubuh menjadi bara, dan pagi tinggallah debu yang sersisa.
Tidak akan habis satu rem kertas..
Kalau kuuntai semua kalimat rinduku di atas lembaran-lembarannya..

Melihat anak kucing yang gembira ria..
Mendapat hadiah dari sang ibu..
Membuat ingatanku membumbung kepada masa di masa lampau..
Dimana petualanganku yang belum sajauh ini..

Aku diwaktu kecil mungkin seperti kayu..
Dewasa makin membara seperti bara..
Nanti tua yang tersisa tinggallah debu..
Percis seperti sisa-sisa bara yang aku korak-korek ini..
Berharap ada panas yang tersisa, jadi pengusir dingin..

Memang, api bisa mengubah kayu menjadi bara..
Bara bisa menyimpan api, dan debu tinggallah debu..
Hanya bisa dipakai untuk merabuk tanaman..
Supaya tanaman-tanaman itu lekas tumbuh besar..
Lalu ditebang, kemudian dikeringkan, jadilah kayu bakar.

Terulanglah lagi kisah yang sama.
Kayu dibakar menjadi bara, bara yang nanti tinggallah debu.
Aku yang masih kedinginan, lalu dihibur oleh si anak kucing..
Berharap hidupku tak seperti debu, kayu, api, dan bara..

Rindu yang palsu. Rindu yang seperti api..
Membara hanya saat ada kayu. Redup ketika kayu menjadi debu..
Aku ingin hidupku seperti mentari pagi di hari ini..
Meski semalaman kejam menyiksa dengan kabut, serta udara dingin..
Tapi ia pasti muncul saat pagi, bersama embun dan cerah warna langit..
(Ali Ridwan, Camp Mawar, 30/05/16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar