Pendakian
intelektual, pendakian spiritual, sampai pendakian sosial dan finansial itu
seperti pendakian gunung tinggi. Begitu sampai ke puncak, semua sudut pandang
itu adalah sama.
Kecuali
bila ada puncak yang lebih tinggi lagi, kamu tidak bisa melihat sudut pandang
puncak yang lebih tinggi itu, tapi puncak yang lebih tinggi itu bisa melihat
apa yang kamu lihat dari puncak yang sedang kamu pijaki itu. (Ali Ridwan, Puncak
Kenteng Songo, Merbabu, 06/05/16)
###
Dini hari sebelum pagi-pagi lagi.
Riuhnya suara-suara para pendaki yang memasang tenda di sekeliling kami ikut
membangunkan kami. Jam 05.00, Jum’at
06/05/16, kami terbangun sebelum shubuh. Sebetulnya bukan hanya karena riuhnya
suara-suara para pendaki di sekeliling kami itu, terlebih aku sendiri, aku
terbangun karena sakit perut, sial rutinitas BAB di pagi hari gagal dipending,
semalam aku lupan minum diapet.Mumpung hari masih gelap, berbekal senter dan
tisu basah, aku harus cari tempat buat nyetor.
Setelah gelap di satu pertiga malam
mulai menyingsing, perlahan mentari mulai menampakkan batang hidungnya (entah
mentari itu punya hidung apa enggak sih). Tapi itu adalah sunrise yang indah,
benar-benar indah, jauh lebih indah dari sunrise yang sempat kami lihat di
basecamp kemarin.
Kami menghabiskan pagi dengan menyeduh
kopi, menanak nasi, dan menyiapkan lauk. Sarapan dulu ya, nanti jam 07.00 kita
baru berkemas dan pada jam 08.00 baru bersiap melanjutkan pendakian
menuju Sabana 2. Meski medannya masih se-ekstream Pos 3 ke Sabana 1. Tapi kami
harus tetap semangat! Yups, biar badan mulai terasa pegel-pegelnya tapi tetap
harus fighting!
Seperti biasa, mendaki, break, mendaki,
break, mendaki lagi, break lagi. Pelan-pelan tapi pasti, kalau orang lain
mungkin jam 09.00 apa jam 10.00 sudah di Sabana 2, ini kami jam 11.00 siang baru
bisa sampai di Sabana 2. Kalau ada pendaki terlelet di sepanjang jalur
pendakian kali ini, mungkin jawabnnya itu adalah kami. Hhihihi..
Okeh, sampai di Sabana 2, langsung pasang
tenda, makan siang, terus istirahat. Eits, jangan lupa pasang alarm jam 13.00.
Ba’da dzuhur kami tertudur, dan jam
14.00 baru terbangun. Rencana langsung muncak, tapi salah satu teman kami mulai
terserang demam. Well, kita undur jadi jam 15.00 baru muncak.
Perjalan mendaki dari Sabana 2 ke
Puncak, meski jalurnya makin terjal dan makin ekstream, tentu tak sesulit jalur
pendakian sebelumnya. Sebab, kita muncak tanpa carrier di pundak alias semua
logistik kita tinggal di tenda. Ringan betul rasanya. Meski begitu tapi tetap
saja sering break dan break lagi, Masalahnya bukan ada di beban barang bawaan,
tapi masalahnya ada di kadar oksigen khas pegunungan yang makin tinggi makin
menipis, kepala seperti kunang-kunang, serasa pusing, mau muntah, dan mudah
lemas. Daripada buru-buru terus pingsan di jalan, ya udah motonya tetap kita
pegang teguh. Pelan-pelan asal sampai dengan selamat, kembali juga selamat.
Boleh saya bilang, jalur pendakian dari
Sabana 2 ke Puncak itu jalur paling ekstrem yang kita lalui. Salahnya kita,
waktu mendaki cuma bawa air, kamera, properti buat foto, dan beberapa snack.
Tapi kami lupa bawa jas hujan. Di tengah-tengah pendakian hujan mulai turun.
Celaka kalau hujan lebat dan badai tapi kita masih di tengah-tengah jalur.
Jalanan licin, basah kuyup, kena demam, bisa kena hipotermia kami nanti.
Beruntng, hujan cuma gerimis. Jadi kami tetap nekat naik ke atas. Tapi tetap
penuh kehati-hatian, mengingat medan yang estriem, bahaya kalau konsentrasi hilang,
nyawa bisa melayang.
Akhirnya, setelah jam 16.30 sampai juga
kami puncak. Sayangnya kami tidak punya waktu banyak di atas sini. Mendung dan
awan hitam datang dari arah entah selatan, utara, barat, atau timur. Tapi kalau
di puncak hujan lebat dan datang badai, bisa mati kedinginan di atas sini nanti.
Setelah tiga puluh menit kami
puas-puasin foto-foto di atas, di jam 17.00 tepat, kami langsung turun. Sudah
lumrah, kalau naik itu lambat, tapi kalau turun pasti cepat. Yak, hanya butuh
waktu 30 menit, dan di jam 17.30 kami sudah sampai ke camp di Sabana 2.
Setelah menikmati sunsite yang
berselimut mendung di sore itu. Malam ini kita berkesempatan menikmati malam bersma
dingin malam dan bintang gemintang di dataran padang luas Sabana 2, Merbabu. Tapi
ternyata, malam ini malah jadi petaka. Salah satu dari rekam kami demamnya
makin parah. Beruntungnya kami masih tersedia obat-obatan. Tapi memang inilah
tantangannya, demamnya mendingan eh dianya malah mencret-mencret, mana di
gunung lagi, mana ada toilet di sini. Habis tisu basah kami hanya dipakai untuk
satu orang yang bolak-balik BAB.
Melihat kondidi fisik yang mulai
menurun. Pada hari Sabtu, 07/05/06 jam 08.30 setelah selesai berkemas dengan
satu teman yang kondisi kurang sehat, kami harus segera turun, kembali ke
basecamp.
Seperti sudah dibilang sebelumnya, naik
lambat tapi turun pasti cepat. Sekitar jam 13.30, setelah berjalan nyaris tanpa
break, akhirnya sampai juga kami basecamp. Oh nikmatnya, begitu sampai di
basecamp langsung pesan teh anget sambil makan nasi rames satu piring full.
Temen kami yang sempat demam san mencret-mencret pun langsung sembuh, begitu
habis makan, minum obat, dan istirahat sejenak. Sekitar jam 15.00 kami pun balik
ke Semarang. Karena ban motor sempat bocor di jalan jadi di jam 18.30 kami baru
sampai di Semarang. Akhirnya, sampai di kontrakan dengan
selamat. Alhamdulillah. Langsung deh mandi, makan lagi, terus tidur. Hmm,
nikmatnyaaa.. Tinggal besok, siap-siap saja, pasti keram semua kakinya. :D (Ali
Ridwan, 15/16/16)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar