Minggu, 14 Agustus 2016

Gelak Tawa, di Bawah Ranum Senja

 


Ada sebongkah harapan terbit bersama pagi. Mentari impian tak pernah redup menyinari hari. Meski aku takut kabut kerinduan menenggelamkan semuanya. Tapi aku tak akan pernah berhenti berlari.

Aku akan terus berdiri, terus mendaki, tak akan berhenti. Sebelum aku bisa bertengger di puncaknya. Terus naik tinggi, sebelum Tuhan memanggil untuk kembali. Ya, kembali. Sebab, begitu sampai ke puncak tertinggi, pilihan yang tersisa hanya ada satu jalan, yaitu jalan turun.

Laksana mentari yang terbit kala pagi dan mulai terbenam menjelang senja hari. Hidup adalah perjalanan. Mentari mewakili harapan, hujan mewakili kerinduan, dan mendung mewakili kesedihan.

Sementara pelangi, ia mewakili kebahagiaan. Pelangi yang hanya akan muncul setelah ada mendung dan hujan.  Maka, puncak kebahagiaan adalah ketika seseorang itu  bisa melewati rindu di dalam kesedihan.

Sementara mentari harapan, dengan sinarnya ia akan memudarkan keindahan warna pelangi, kembali mengundang mendung lalu menjadi hujan, kemudian datanglah kembali, indah warna pelangi. Beginilah siklus kehidupan yang kadang monoton tapi tak membosankan.

Kamu tau? Hal yang aku suka dari hidup adalah suasana di kala pagi jelang terbit mentari dan suasana di saat senja hari ketika mentari malu-malu mulai bersembunyi.

 Kenapa? kerena semua unsur kehidupan terwakili disitu. Mentari, mendung, hujan, juga pelangi. Bergumul menjadi kanvas raksasa, membingkai lukisan bercitarasa surga.

Aku suka sekali menyapa pagi dengan secangkir kopi. Apalagi menyapa senja hari, aku sangat suka sekali. Lukisan awan dengan pemandangan fatamorgana yang mewakili segala imaginasi di dalam jiwa. Ah, indah sekali.

Kalau toh suatu ketika aku pernah menyapa senja hari tanpa secangkir kopi, aku pastikan itu tak akan terulanng lagi. Iya, itu rasanya seperti menanti hari tanpa sedikitpun kabar dari kamu yang selalu di hati. Yaaah, rasanya seperti ada yang kurang, seperti ada yang timpang, seperti ada yang hilang.

Haii.. Kamu yang selalu di hati. Jadilah caffein dalam secangkir kopi paling manis di dalam hatiku. Walau mungkin kamu mungkin tak akan pernah lagi mau pulang, berserah diri pada hati yang pernah kau sakiti, pada cinta yang pernah kau khianati. Kau yang memilih pergi.

Aku harap hadirmu bisa seperti pelangi. Kembali datang menghampiri setelah hujang dan mendung ini pergi. Nanti, setelah aku bersemangat lagi menyongsong mentari pagi, menuju senja hari.

Nanti,  kalau akhirnya sudah datang, tolong jangan pergi lagi. Aku ingin sekali melihat ada lagi gelak tawa dari bawah sana. Dari bawah pohon-pohon rindu nan rindang yang mulai ranum. Di bawah langit senja, dimana lukisan Tuhan telah mewakili semua unsur dari segala aspek kehidupan. (Ali Ridwan, 14/08/16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar