Ada
sebongkah harapan terbit bersama pagi. Mentari impian tak pernah redup
menyinari hari. Meski aku takut kabut kerinduan menenggelamkan semuanya. Tapi
aku tak akan pernah berhenti berlari.
Aku
akan terus berdiri, terus mendaki, tak akan berhenti. Sebelum aku bisa
bertengger di puncaknya. Terus naik tinggi, sebelum Tuhan memanggil untuk
kembali. Ya, kembali. Sebab, begitu sampai ke puncak tertinggi, pilihan yang
tersisa hanya ada satu jalan, yaitu jalan turun.
Laksana
mentari yang terbit kala pagi dan mulai terbenam menjelang senja hari. Hidup
adalah perjalanan. Mentari mewakili harapan, hujan mewakili kerinduan, dan
mendung mewakili kesedihan.
Sementara
pelangi, ia mewakili kebahagiaan. Pelangi yang hanya akan muncul setelah ada
mendung dan hujan. Maka, puncak
kebahagiaan adalah ketika seseorang itu bisa melewati rindu di dalam kesedihan.
Sementara
mentari harapan, dengan sinarnya ia akan memudarkan keindahan warna pelangi,
kembali mengundang mendung lalu menjadi hujan, kemudian datanglah kembali,
indah warna pelangi. Beginilah siklus kehidupan yang kadang monoton tapi tak
membosankan.
Kamu
tau? Hal yang aku suka dari hidup adalah suasana di kala pagi jelang terbit
mentari dan suasana di saat senja hari ketika mentari malu-malu mulai
bersembunyi.
Kenapa? kerena semua unsur kehidupan terwakili
disitu. Mentari, mendung, hujan, juga pelangi. Bergumul menjadi kanvas raksasa,
membingkai lukisan bercitarasa surga.
Aku
suka sekali menyapa pagi dengan secangkir kopi. Apalagi menyapa senja hari, aku
sangat suka sekali. Lukisan awan dengan pemandangan fatamorgana yang mewakili
segala imaginasi di dalam jiwa. Ah, indah sekali.
Kalau
toh suatu ketika aku pernah menyapa senja hari tanpa secangkir kopi, aku
pastikan itu tak akan terulanng lagi. Iya, itu rasanya seperti menanti hari
tanpa sedikitpun kabar dari kamu yang selalu di hati. Yaaah, rasanya seperti
ada yang kurang, seperti ada yang timpang, seperti ada yang hilang.
Haii..
Kamu yang selalu di hati. Jadilah caffein dalam secangkir kopi paling manis di
dalam hatiku. Walau mungkin kamu mungkin tak akan pernah lagi mau pulang,
berserah diri pada hati yang pernah kau sakiti, pada cinta yang pernah kau
khianati. Kau yang memilih pergi.
Aku
harap hadirmu bisa seperti pelangi. Kembali datang menghampiri setelah hujang
dan mendung ini pergi. Nanti, setelah aku bersemangat lagi menyongsong mentari
pagi, menuju senja hari.
Nanti,
kalau akhirnya sudah datang, tolong
jangan pergi lagi. Aku ingin sekali melihat ada lagi gelak tawa dari bawah
sana. Dari bawah pohon-pohon rindu nan rindang yang mulai ranum. Di bawah
langit senja, dimana lukisan Tuhan telah mewakili semua unsur dari segala aspek
kehidupan. (Ali Ridwan, 14/08/16)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar