Diare adalah
Peningkatan volume tinja > 200 gr/24 jam (normal 100-200 g/24 jam) Buang air besar yang lebih sering
(lebih dari 3 kali sehari) dengan konsistensi lebih lunak (encer/berair) BAB
normal : 3 kali/hari – 3 kali/mingguTinja yang dikeluarkanlebih banyak daripada
biasanya (tidak selalu)Karakteristik
tinja : berair, berlemak, berdarah. Diare adalah salah satu penyebab utama
kematian, terutama pada balita.
Patofisiologi
Diare terjadi bila terdapat gangguan
transpor terhadap air dan elektrolit pada saluran cerna. Mekanisme gangguan
tersebut ada 5 kemungkinan:
Osmolalitas
intraluminer yang meninggi, disebut diare osmotik.
Sekresi
cairan dan elektrolit meninggi, disebut diare sekretorik. Absorbsi elektrolit
berkurang. Motilitas
usus yang meninggi/hiperperistalsis, atau waktu transit yang pendek. Sekresi eksudat disebut diare
eksudatif.
Diare yang
terjadi pada penyakit tertentu atau yang disebabkan suatu factor etiologi
tertentu, biasanya timbul oleh gabungan dari beberapa mekanisme tersebut di
atas. Sebagai contoh diare yang terjadi pada penyakit Crohn timbul sebagai
sebagai diare osmotik karena malabsorbsi, juga diare eksudatif karena proses
inflamasi dan peninggian motilitas usus karena volume isi usus yang banyak
akibat mekanisme osmotik dan eksudatif tersebut.
Diare
Osmotik
Diare osmotik dapat terjadi dalam
beberapa hal sebagai berikut, yang dapat dipandang pula sebagai penyebab diare
osmolitik: Keadaan intoleransi makanan, baik sementara maupun menetap. Waktu
pengosongan lambung yang cepat. Sindrom malabsorpsi atau kelainan absorpsi
intestinal. Defisiensi enzim pencernaan.
Diare osmotik
timbul pada pada pasien yang saluran ususnya yang terpapar dan tidak mampu
menangani beban hiperosmolar, yang biasanya terdiri dari karbohidrat. Diare ini
disebabkan oleh pengangkutan air melewati dinding usus ke dalam lumen yang
mempertahankan keseimbangan osmotik diantara dinding dan lumen usus. Tempat
utama berkumpulnya cairan terjadi didalam duodenum dan jejenum. Sebenarnya
ileum dan kolon mereabsorbsi sejumlah cairan, tetapi jumlah keseluruhan yang
diekskresikan secara pasif oleh usus halus lain melebihi kapasitas reabsorbsi
kombinasinya.
Diare
sekresi
Diare sekresi timbul bila colon
aktif mensekresikan cairan. Pasien pada diare ini tidak menderita nyeri atau
demam, tetapi mengeluarkan tinja seperti air dalam jumlah banyak, lebih dari 1
liter/hari. Organisme yang menimbulkan diare sekresi melepaskan toksin atau
senyawa lain yang menyebabkan usus halus aktif mensekresiksn cairan dalam jumlah
besar.
Diare
eksudatif
Diare ini terjadi pada kolitis
ulserosa dan pada penyakit Crohn. Selain itu diare pada amebiasis, shigelosis,
kampilobakter, yersinia dan infeksi yang mengenai mukosa menimbulkan peradangan
dan eksudasi cairan serta mucus.
Motilitas
Abnormal
Perubahan motilitas usus bisa menyebabkan gangguan
digesti dan absorpsi.
Gangguan
permeabilitas usus
Terjadi kelainan morfologi usus pada
membran epitel spesifik sehingga permeablitas mukosa usus besar dan usus halus
terganggu, jika permeabilitas terganggu maka absorbsi air pada usus halus dan
usus besar kurang sehingga terjadi diare.
Gejala
Diare: Badan letih atau lemah, muntah, panas, tidak nafsu
makan, serta darah dan lendir dalam feces
Pendekatan
Diagnosa
Mengingat penyebabnya
yang begitu beragam, kita
harus berhati -hati dalam memiih
macam pemeriksaan.
Anamnesis
Anamnesis yang
lengkap sangat penting dalam assessment penderita
dengan diare kronis. Dari anamnesis dapat diduga gejala
timbul dari kelainan organik atau fungsional, membedakan malabsorpsi kolon atau
bentuk diare inflamasi, dan menduga penyebab spesifik.
Gejala mengarah dugaan
organic jika didapatkan diare dengan durasi kurang dari 3 bulan,
predominan nocturnal atau
kontinyu, disertai penurunan berat
badan yang signifikan. Malabsorpsi sering
disertai dengan steatore,
dan tinja pucat dan dalam volume
yang besar. Bentuk inflamasi atau
sekretorik kolon ditandai
dengan pengeluaran tinja yang
cair disertai dengan
darah atau lendir. Faktor risiko
spesifik yang meningkatkan dugaan
diare organik antara lain:
Riwayat keluarga: terutama
keganasan, penyakit celiac,
inflamatoriy bowel disease.
Riwayat
operasi sebelumnya: reseksi ekstensif ileum dan kolon kanan
menyebabkan diare karena
penurunan jumlah permukaan absorpsi, peningkatan malabsorpsi karbohidrat
dan lemak, penurunan transit time, malabsorpsi asam empedu. Pertumbuhan
bakteri berlebih juga dapat
terjadi pada situasi ini, terutama pada operasi bypass seperti
pada operasi lambung, dan
bypass jejunoileal pada
obesitas. Reseksi pendek pada
ileum terminal menimbulkan bileacid diarrhea yang terjadi setelah makan dan biasanya berespon
terhadap puasa dan colestyramine. Diare kronis
juga dapat terjadi setelah
cholesystektomy melalui mekanisme peningkatan transit usus, malabsorpsi asam empedu
dan peningkatan siklus
enterohepatik asam empedu.
Penyakit
pankreas sebelumnya.
Penyakit sistemik: tirotoksikosis
dan penyakit parathyroid, diabetes mellitus,
penyakit kelenjar adrenal, dan
sklerosis sistemik dapat menjadi predisposisi diare melalui berbagai mekanisme
termasuk efek endokrin, disfungsi
autonomik, pertumbuhan bakteri berlebih diusus halus dan pemakaian
obat-obatan.
Alkohol:
diare banyak terjadi pada pemakai alkohol. Mekanismenya meliputi transit ususyang
cepat, penurunan aktifitas
disakaridase usus, dan penurunan fungsi
pankreas.
Obat-obatan:
lebih dari 4% kasus diare kronis terjadi karena
obat-obatan, terutama produk yang mengandung magnesium,
antihipertensi, non steroid anti
inflammatory drugs (NSAIDs), theophyline, antibiotik, antiaritmia
dan anti neoplastik agen.
Perjalanan luar
daerah dalam waktu dekat atau sumber infeksi potensial terhadapgastrointestinal
yang patogen.
Pemakaian antibiotik
dan infeksi clostridium dificille
Defisiensi
laktase: Perlu juga di
cari anamnesis khusus
tentang kemungkinan diare kronis
yang terjadi pada pada penderita dengan infeksi HIV/ AIDS.
Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan fisik
lebih berguna untuk menentukan
keparahan diare dari pada menemukan
penyebabnya. Status volume dapat dicari dengan dengan mencari perubahan
ortostatik tekanan darah dan nadi. Demam dan tanda lain toksisitas perlu dicari
dan dicatat. Pemeriksaan fisik abdomen
dengan melihat dan meraba distensi usus, nyeri terlokalisir atau merata, pembesaran
hati atau massa, dan mendengarkan bising usus.
Perubahan kulit
dapat dilihat pada mastositosis (urtikaria pigmentosa), amyloidosis berupa
papulaberminyak dan purpura pinch.Tanda limfadenopati menandakan AIDS atau
limfoma.Tanda-tanda arthritis mungkin dijumpai pada inflammatory bowel
disease.Pemeriksaan rectum dapat memperjelas adanya inkontinensia feses.
Pemeriksaan
awal (initial investigation)
Tes
darah. Abnormalitas pada penapisan awal seperti laju
endap darah yang tinggi, anemia, albumin darah yang rendah memperkuat dugaan
adanya penyakit organik. Penapisan dasar
untuk dugaan malabsorpsi meliputi hitung
darah lengkap, urea dan elektrolit, tes fungsi hati, vitamin B12, folat,
calsium, feritin, laju endap darah, c- reaktif protein, tes fungsi tiroid.
Tes
serologi untuk penyakit Celiac. Penyakit Celiac
merupakan penyebab enteropati usus kecil terbanyak dinegara barat, yang
ditandai dengan diare karena steatore dan malabsorpsi. Penapisan serologi
menggunakan Ig A antiendomysium antibody (EMA)
atau anti retikulin antibody.
Pemeriksaan
tinja. Sulit untuk menilai diare hanya berdasarkan
anamnesis saja.Inspeksi feses merupakan pemeriksaan yang sangat membantu. Pemeriksaan
feses dibedakan menjadi tes spesifik dan tes non spesifik. Pemeriksaan spesifik diantaranya
tes untuk enzim pankreas seperti
elastase feses. Pemeriksaan non spesifik diantaranya osmolalitas tinja dan
perhitungan osmotik gap mempunyai nilai dalam membedakan diare osmotik,
sekretorik dan diare factitious. Osmolalitas feses yang rendah <290 mosmol/kg menandakan
kontaminasi urine, air atau intake cairan hipotonik berlebihan. Osmolalitas
cairan feses sama dengan serum jika pasien menggunakan laksansia, daire
osmotik atau diare sekretorik. Fekalosmotik gap dapat dihitung
berdasarkan rumus 2902x (konsentrasi natrium +kalium). Konsentrasi natrium
dan kalium feses diukur pada cairan feses setelah
homogenisasi dan sentrifugasi.
Osmotik gap
dapat dipergunakan untuk memperkirakan peranan elektrolit dan non elektrolit
dalam terjadinya retensi air didalam lumen intestinal. Pada diare sekretorik
elektrolit yang tidak diabsorpsi
mempertahankan air dalam lumen, sedangkan pada diare osmotik komponen
non elektrolit yang menyebabkan retensi
air. Osmotik gap pada diare osmotik
>125
mosmol/kg, sedangkan pada diare sekretorik <50 mosmol/kg. Pada diare
kronik dengan dugaan
penyebab agen infeksius dilakukan kultur feses dan pemeriksaan
mikroskopis.Infeksi oleh protozoa seperti amoeba dan giardia lamblia dapat
menimbulkan diare yang kronis. Pemeriksaan
tinja segar dalam 3 kali ulangan untuk menemukan telur, kista, parasit masih
merupakan alat diagnostik utama dengan sensitifitas 60-90%. Pemeriksaan darah
samar digunakan secara luas untuk skreening
keganasan. Petanda inflamasi gastrointestinal pada feses seperti
laktoferin, calpotrectin sedang dalam penelitian, belum diperkenalkan dalam klinis
praktis (Wiryani dan Wibawa, 2007).
Terapi
Farmakologi
Pengobatan
kausal
Pegobatan yang tepat terhadap kasus
diare diberikan setelah mengetahui penyebabnya yang pasti, antibiotika baru
boleh diberikan kalau dalam pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan bakteri
patogen, pemeriksaan untuk menemukan bakteri ini kadang sulit atau hasil
pemeriksaan datang terlambat, maka antibiotik dapat diberikan dengan
memperhatikan unsur-unsur penderita, perjalanan penyakit dan sifat tinja.
Antibiotik pada Diare Akut
Obat
|
Dosis (per hari)
|
Jangka waktu
|
||
Kolera eltor
|
Tetrasiklin
|
4x500 mg
|
3 hari
|
|
Kotrimoksazol
|
2x3 tab (awal)
|
|||
2x2 tab
|
6 hari
|
|||
Kloramfenikol
|
4x500 mg
|
7 hari
|
||
E.coli
|
Tidak memerlukan
|
|||
terapi
|
||||
Salmonelosis
|
Ampisillin
|
4x1 g
|
10-14 hari
|
|
Kotrimoksazol
|
4x500 mg
|
10-14 hari
|
||
Siprofloksasin
|
2x500 mg
|
3-5 hari
|
||
Shigelosis
|
Ampisillin
|
4x1 g
|
5 hari
|
|
Kloramfenikol
|
4x500 mg
|
5 hari
|
||
Amebiasis
|
Metronidazol
|
4x500 mg
|
3 hari
|
|
Tinidazol
|
1x2 g
|
3 hari
|
||
Secnidazol
|
1x2 g
|
3 hari
|
||
Tetrasiklin
|
4x500 mg
|
10 hari
|
||
Giardiasis
|
Kuinakrin
|
3x100 mg
|
7 hari
|
|
Klorokuin
|
3x100 mg
|
5 hari
|
||
Metronidazol
|
3x250 mg
|
7 hari
|
||
Kandidosis
|
Mikostatin
|
3x500.000unit
|
10 hari
|
|
Virus
|
Simtomatik
|
dan
|
||
suportif
|
||||
(Mansjoer et
al., 2000).
Antibiotik pada Diare Kronik
Etiologi
|
Obat
|
Dosis (per hari)
|
Jangka waktu
|
Shigella sp
|
Ampisillin
|
2x1 g
|
5-7 hari
|
Kotrimoksazol
|
2x2 tab
|
5-7 hari
|
|
Siprofloksasin
|
2x500 mg
|
5-7 hari
|
|
Tetrasiklin
|
4x500 mg
|
5-7 hari
|
|
H. Jejuni
|
Eritromisin
|
4x250-500 mg
|
5-7 hari
|
Siprofloksasin
|
2x500 mg
|
5 hari
|
|
Salmonelosis
|
Kloramfenikol
|
4x500 mg
|
14 hari
|
Peflasin
|
1x400 mg
|
7hari
|
|
Siprofloksasin
|
2x500 mg
|
7 hari
|
|
C.difficile
|
Vancomisin
|
4x125 mg
|
7-10 hari
|
Metronidazol
|
3-4x1, 5-2 g
|
7-10 hari
|
|
ETEC
|
Trimetoprim
|
3x200 mg
|
3 hari
|
(Enterotoxigenic
|
Siprofloksasin
|
1x500mg
|
3 hari
|
E.coli)
|
Kotrimoksazol
|
2x2 tab
|
3 hari
|
Tuberkulosis
|
Rifampisin Pirazinamid Etambutol Streptomisin
|
10 mg/kg BB 20-40 g/kgBB 15-25 mg/kgBB 15 mg/kgBB
|
Min. 9 bulan
|
Jamur
|
|||
Kandidosis
|
Nistatin
|
3x500.000 U
|
2-3 minggu
|
Protozoa
|
|||
Giardiasis E.histolytica
|
Kuinakrin Metronidazol Metronidazol
|
3x100 mg 1x2 g 3x400 mg 3x800 mg
|
7 hari 3-5 hari 7 hari 7 hari
|
Cacing Ascaris Cacing tambang Tricuris trichiura
|
Pirantel pamoat Pirantel pamoat Mebendazol
|
10-22 mg/kgBB (dosis tunggal max 1g) 10-22 mg/kgBB (dosis tunggal max 1g)
2x100 mg
|
3 hari 3 hari 3 hari
|
(Mansjoer et al., 2000)
Pengobatan
simtomatik
Obat antidiare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas
pertimbangan yang rasional.
Golongan antimotility
Diphenoxylat
Loperamide. Indikasi:
Diare akut spesifik dan non spesifik, diare kronik. Dosis: Dewasa: 2
tablet, diikuti dengan 1 tablet setiap tablet. Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap loperamid. Pada kasus dimana harus dihindari. Bayi.
Peringgatan:
Gangguan fungsi hati. Anak kecil. Hindari pemberian obat ini pada diare akut
yang disebabkan E coli, salmonella, shigella, atau ada darah dalam fases.
Efek
Samping: Mulut kering, mual, muntah, nyeri abdomen, konstipasi. Interaksi
Obat: Trankuilizer, alkohol, MAOI
Loperamid
dengan Protase inhibitor. Loperamid
dapat menurunkan bioavailibilitas saquinavir hingga 50%, dan saquinafir dapat
meningkatkan bioavailibilitas loperamid hingga 40%. Pemberian tipranavir
tunggal dan kombinasi dengan ritronavir akan menurunkan bioavaililitas dan
konsentrasi plasma dari loperamid serta metabolinya.
Loperamid
dengan kuinidin. Kuinidin
akan meningkatkatkan penetrasi loperamid menuju otak sehingga menghasilkan
depresi pernafasan. Perlu hati-hati untuk efek samping CNS dari loperamid bila
diberikan bersamaan dengan kuinidin. Bila didapatkan efek samping merugikan, maka
perlu pertimbangan untuk mengurangi dosis loperamid.
Mekanisme
Kerja: Loperamid meningkatkan waktu transit usus halus dan juga waktu transit
dari mulut ke sekum, meningkatkan tonus
sfingter anal, selain itu loperamid juga memilii aktivitas antisekretori
untuk melawan toksin kolera dan beberapa bentuk toksin E. Coli.
Terapi Non
Farmakologi
Bila pasien
keadaan umumnya baik dan tidak dehidrasi, asupan cairan yang adekuat dapat
dicapai dengan minuman ringan, sari buah dan sup. tetapi bila pasien kehilangan
cairan banyakdengan dehidrasi, maka beri cairan intavena atau rehidrasi oral
dengan cairan isotonik yang mengandung elektrolit dan gula. Cairan diberikan
50-200 ml/kg BB/24 jam tergantung kebutuhan dan statu hidrasi.
Pada keadaan
dehidrasi ringan, rehidrasi dapat dilakukan oleh ibu dengan menggunakan prinsip
penanganan diare di rumah, yaitu: Beri cairan
tambahan sebanyak anak mau, dengan memberi penjelasan kepada ibu ASI lebih
sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian. Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri oralit
atau air matang sebagai tambahan. Jika anak
tidak memperoleh ASI eksklusif berikan 1 atau lebih cairan oralit, larutan gula
garam, kuah sayur, air tajin dan air matang
Anak
harus diberi oralit di rumah jika: Anak telah
diobati dengan rencana terapi C dalam kunjungannya. Anak tidak dapat kembali ke klinik jika diare
bertambah parah.. Ajari ibu
mencampur dan memberi oralit dengan memberi 6 bungkus oralit (200 ml) untuk
digunakan di rumah. Tunjukkan kepada ibu berapa banyak cairan termasuk oralit
yang harus diberikan sebagai tambahan bagi kebutuhan cairannya sehari-hari Sampai umur 1 tahun =50-100 ml setiap kali berak. Umur 1-5 tahun = 100-200 ml setiap kali berak
Katakan pada
ibu: Agar
meminumkan sedikit demi sedikit tetapi sering dari cangkir. Jika anak muntah, tunggu 10 menit kemudian lanjutkan
lagi. Lanjutkan
pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.
KIE: Hindari makanan berserat dan produk susu. Banyak-banyak mengkonsumsi cairan (oralit). Hindari makanan yang pedas. Hindari makanan yang sulit dicerna. Mengkonsumsi zink
Daftar Pustaka
Ahlquist
DA, Camilleri M. Diarrhea and constipation. In: Kasper DL, Fauci A.S, Braunwald
E, Hauser SL, Jameson
JL, editors. Harrisons
principles internal medicine. 16th ed. New York: McGraw-Hill; 2005.p.224-34.
Drossman DA, Dorn SD. Evaluation and
management of chronic diarrhea: An algorithmic approach. Available from: http://WWW.medscape.com. www.medscape.com.
Joseph T.
Dipiro, et al. 2008. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh
Edition. New York: The McGraw-Hill
Companies
Anonim, 2007, Farmakologi dan Terapi,
Edisi V, Departemen Farmakologi dan Terapetik Fakultas Kedokteran UI, Jakarta
Anonim, 2008, Informasi Spesialite
Obat Indonesia, 309, ISFI, Jakarta
Anonim, 2008, Mims Indonesia,
Edisi 8, 196, PT Info Master, Jakarta
Anonim, 2010, Diarrhea,
from http://en.wikipedia.org/wiki/Diarrhea,
diakses tanggal 14 November 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar