Penyakit Paru Obstruksi Kronik adalah
suatu kondisi yang irreversible dimana terjadi penyempitan saluran udara,
peningkatan obstruksi, atau hilangnya rekoli elastic paru.Kondisi tersebut
menyebabkab udara terperangkap dan pertukaran gas terganggu sehingga
menyebabkan sindrom dispnue, batuk, produksi dahak meningkat, dan wheezing (timbulnya suara pernafasan
karena penyempitan saluran pernafasan). Pada tahap tertentu PPOK dapat
mengakibatkan toleransi aktivitas terganggu, kelelahan, hilangnya nafsu makan,
turunnya berat badan, dan terganggunya siklus tidur. (Smeltzer, &bare 2000).
Di Indonesia tidak ditemukan data
prevalensi PPOK secara pasti. Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depkes RI
dilakukan pada tahun 1995, menunjukkan bahwa PPOK menduduki peringkat ke-5
sebagai penyebab kematian di Indonesia. Pada tahun 2004, menunjukkan PPOK
menempati urutan pertama penyumbang angka kesakitan sebanyak 35%, diikuti asma
bronchial sebanyak 33%, kanker paru 30%, dan penyakit lainnya sebanyak 2% (
Depkes RI, 2008).
Berbagai gejala pada PPOK dianggap
sebagai penyakit yang merupakan akibat hubungan interaksi antara individu dan
lingkungan yang disebabkan oleh berbagai faktor resiko. Faktor resiko utama
dari PPOK adalah Perokok aktif. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun
1990-2004 pada 28 negara menunjukkan bahwa penyakit PPOK mendapat prevalensi
lebih tinggi pada pasien perokok aktif dibandingkan pasien yang tidak merokok (National institute of health heart blood and
lung institute, 2004). Faktor genetik dimana tubuh kekurangan antitripsyn
dan kelainan polimorfisme menjadikan seseorang beresiko terkena penyakit PPOK (Global Strategy for the diagnosis,
manajement and prevention of chronic
obstructive pulmonary disease, 2006). Terpaparnya asap, debu, polusi udara
dan bahan kimia dalam waktu lama dan terus menerus dapat menyebabkan terjadinya
PPOK (kara, 2005).
Paru
Anatomi Paru
Sistem respirasi terdiri
dari sepasang paru di dalam rongga toraks. Fungsi utamanya adalah pertukaran
gas, tetapi peran lain meliputi fungsi bicara, filtrasi mikrotrombus yang
berasal dari vena sistemik, dan aktivitas metabolic seperti konversi
angiotensin I menjadi angiotensi II, dan pembuangan atau deaktivasi serotonin,
bradikinin, norepinefrin, asetilkolin, dan obat-obatan seperti propanolol dan
klorpromazin (Ward, 2008). Paru-paru memiliki area
permukaan alveolar kurang lebih seluas 40 m2 untuk pertukaran udara.
Tiap paru memiliki: apeks yang mecapai ujung sterna kosta ke-1 ; permukaan
kostovertebral yang melapisi dinding dada; basisi yang terletak di atas
diagfragma dan permukaan mediastinal yang menempel dan membentuk struktur
mediastinal di sebelahnya. Paru kanan terbagi atas lobus atas, tengan dan bawah
oleh fisura oblikus dan horizontal. Paru kiri hanya memiliki fisura oblikus
sehingga tidak ada lobus tengah.Segmen lingular merupakan sisi kiri yang
ekuivalen dengan lobus tengah kanan. Namun secara anatomis lingual merupakan
bagian dari lobus atas kiri(Omar dan David, 2014).
Fisiologi Paru
Bronki dan jaringan
parenkim paru-paru mendapat pasokan darah dari arteri
bronkialis---cabang-cabang dari aorta torakalis desendens. vena bronkialis, yang
juga berhubungan dari vena pulmonalis, mengalirkan darah ke vena azigos dan vena hemiazigoz.
Alveoli mendapat darah deoksigenasi dari cabang-cabang terminal arteri pulmonalis dan
darah yang teroksigenasi mengalir kembali melalui cabang-cabang vena pulmonalis. Dua vena pulmonalis
mengalirkan darah kembali dari tiap paru ke atrium kiri jantung (Omar dan David, 2014) .
Penyakit
Paru Obstruksi Kronik (PPOK)
Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK)
merupakan sekumpulan penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh
peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaraan patofisiologi
utamanya.Bronkitis kronis, emfisema paru, dan asma bronkial membentuk satu
kesatuan yang disebut Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) (Sylvia
Anderson Price, 2005). Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) didefinisikan
sebagai penyakit atau gangguan paru yang memberikan kelainan ventilasi berupa
ostruksi saluran pernapasan yang bersifat progresif dan tidak sepenuhnya reversible. Obstruksi ini berkaitan
dengan respon inflamasi abnormal paru terhadap partikel asing atau gas yang
berbahaya. Penyakit Paru Obstruktif kronik (PPOK)
adalah Penyakit paru yang ditandai dengan adanya hambatan aliran udara di
saluran nafas yang bersifat progresif
dan
berhubungan
dengan
respon
inflamasi
paru
terhadap
partikel
atau gas beracun
atau
berbahaya (Kepmenkes 1022,
2008), bersifat
irreversible atau reversible parsial meliputi emfisema dan brokhitis kronis (GOLD, 2011).
Bronkhitis
kronis merupakan gangguan aliran udara yang bersifat reversible parsial ditandai dengan
adanya batuk kronis selama tiga bulan
dimana diagnosis akan penyakit lain dengan gejala sama di telah
eksklusikan.
Emfisema
adalah penyakit pernafasan dimana terjadi pembesaran
abnormal yang bersifat permanen pada rongga udara distal ke bronkiolus disertai
dengan kerusakan dinding bronkus dengan atau tanpa adanya fibrosis (GOLD,
2011).
Berdasarkan gejala klinis dan
pemeriksaan spirometri dapat ditentukan klasifikasi (derajat) PPOK menurut GOLD, 2009, di bagi menjadi empat tahap, dalam tabel berikut:
Tabel
klasifikasi PPOK
Klasifikasi Penyakit
|
Gejala Klinis
|
Spirometri
|
PPOK Ringan
|
-Dengan atau tanpa batuk
-Dengan atau tanpa produksi sputum
-Sesak napas derajat sesak 1 sampai
derajat sesak 2
|
-VEP1 ≥ 80% prediksi (nilai normal spirometri)
-VEP1/KVP
< 70%
|
PPOK Sedang
|
-Dengan atau tanpa batuk
-Dengan atau tanpa produksi sputum
-Sesak napas derajat 3
|
-VEP1/KVP < 70%
-50% ≤ VEP1 < 80% prediksi
|
PPOK Berat
|
-Sesak napas derajat sesak 4 dan 5
-Eksaserbasi lebih sering terjadi
|
-VEP1/KVP < 70%
-30% ≤ VEP1 < 50% prediksi
|
PPOK Sangat Berat
|
-Sesak napas derajat sesak 4 dan 5
dengan gagal napas kronik
-Eksaserbasi lebih sering terjadi
-Disertai komplikasi kor pulmonale
atau gagal jantung kanan
|
-VEP1/KVP <70%
-VEP1 < 30% prediksi, atau
-VEP1 < 50% dengan gagal napas
kronik
|
Epidemiologi
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
merupakan salah satu permasalahan terbesar kesehatan dalam beberapa tahun
terakhir. Di seluruh dunia PPOK merupakan penyebab kematian terbesar peringkat
keenam dari sepuluh penyebab kematian yang diperkirakan akan meningkat menjadi
peringkat ketiga pada tahun 2020 (Ghanei et al., 2012) . Menurut WHO pada tahun
2005 lebih dari 3 juta orang meninggal akibat PPOK dan hampir 90% dari kasus tersebut
di alami negara berkembang dengan pendapatan kecil hingga menengah (WHO, 2014).
Di wilayah Indonesia hasil survei
penyakit tidak menular oleh Direktorat Jenderal PPM & PL di 5 rumah sakit
propinsi di Indonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan
Sumatera Selatan) pada tahun 2004, menunjukkan PPOK menempati urutan pertama
penyebab morbiditas (35%), diikuti asma bronkial bronkial (33%), kanker paru
(30%) dan lainnya (2%) (Depkes RI, 2004). Studi serupa dilakukan oleh RISKESDAS
pada tahun 2013 data penyakit PPOK yang diambil dari responden umur
30 tahun, dimana data prevalensi penyakit ditentukan
berdasarkan hasil wawancara, gabungan kasus penyakit yang pernah di diagnosis
oleh dokter atau tenaga kesahatan atau kasus yang mempunyai riwayat dan gejala
penyakit. Prevalensi dari ppok adalah 3,7 % dimana penderita didominasi oleh
laki - laki. Perilaku merokok penduduk 15 tahun keatas yang cenderung meningkat
dari 34,2 persen tahun 2007 menjadi 36,3 persen tahun 2013 diperkirakan akan
mempengaruhi kenaikan prevalensi PPOK ditahun mendatang (Riskesdas, 2013).
Patofisiologi
Patofisiologi
PPOK melibatkan beberapa sel inflamasi, mediator inflamasi dan stress oksidatif
seperti halnya perubahan pada system kardiovaskular sebagai hasil pajanan asap
rokok dan berkembang menjadi penyempitan aliran udara yang bersifat progresif.
Sel inflamasi dan mediator menginduksi metaplasia sel goblet , hipersekresi
mukus, hipertrofi otot polos jalan napas dan hilangnya fungsi mukosiliar.
Hipersekresi mukus dan kehilangan fungsi siliar adalah keadaan yang mempermudah
terjadinya infeksi oleh virus maupun bakteri yang dapat mengubah kondisi jalan
napas. Infiltrasi sel yang melepaskan enzim proteolitik dan mengakibatkan
kerusakan menetap. Pada saat yang sama, reactive oxygen species (ROS)
dihasilkan dalam kompartemen paru sebagai hasil dari inhalasi asap rokok atau
peningkatan produksi oleh aktivasi sel inflamasi dan aktivasi siklus xantin
oksidase. Oksidan-oksidan ini akan menghambat α1-antitripsin yang merupakan
salah satu penghambat enzim elastase yang berperan dalam kerusakan parenkim dan
kehilangan elastisitas rekoil (Supriyadi, 2013).
Patogenesis PPOK yang merupakan
abnormalitas ventilasi terkait dengan dua kondisi patologi yang berbeda:
bronchitis kronis dan emfisema. Kedua kondisi ini pada berbagai derajat
menyebabkan PPOK pada masing-masing pasien.
Bronkhitis
kronis
Bronkhitis
kronis lebih
sering terjadi 5-10 kali pada perokok sigaret berat dibandingkan pada bukan
perokok, bahkan ketika koreksi faktor-faktor lainnya seperti usia, jenis
kelamin, tempat tinggal dan pekerjaan. Merokok sigaret bertindak sebagai iritan
lokal, menyebabkan hipertrofi kalenjar mucus bronchial, peningkatan jumlah sel
mucus, hipersekresi mucus, dan peningkatan jumlah neutrofil. Iritan yang
dihirup lainnya seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang terdapat pada
polusi udara berat menyebabkan eksaserbasi bronchitis kronis. Hipersekresi
mucus meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri. Pada perokok sigaret,
faktor predisposisi ini selanjutnya diperburuk oleh interferensi aksi siliar
yang disebabkan oleh merokok. Haemophylus influenza, pneumokokus dan
Streptococcus viridians adalah patogen-patogen yang umum terdapat.
Organisme-organisme ini menyebabkan peradangan derajat rendah kronis pada
dinding bronkiolus dan eksaserbasi akut dengan dengan supurasi yang
bermanifestasi secara klinis sebagai demam dan ekpektorasi sputum purulen.
Peradangan menyebabkan kerusakan progresif otot bronkiolus, dengan penggantian
oleh kolagen. Pada perokok berat perubahan awal pada bronchitis kronis terjadi
pada usia dini, tetapi pada PPOK biasanya tidak menjadi jelas secara klinis
hingga dasawarsa keempat atau kelima kehidupan (Chandrasoma & Taylor,
2006).
Emfisema
Kerusakan parenkim paru pada emfisema
diyakini karena kerja enzim proteolitik ( protease, terutama elastase ). Salah
satu sumber penting protease ini adalah leukosit yang terkait dengan peradangan
paru. Secara normal zat-zat antiproteolitik seperti antitrypsin di dalam plasma
menghentikan aktivitas enzim-enzim proteolitik ini pada saat mereka dilepaskan
dan dengan demikian melindungi jaringan dari kerusakan. Namun kerusakan paru
dan emfisema terjadi pada pasien yang menghasilkan enzim proteolitik yang
berlebih (neutrofil kronis) atau memiliki aktivitas antiproteolitik yang
terlalu sedikit di dalam plasma (defisiensi α1-antiprotease)
Hipersekresi mukus
pada bronkitis
kronis dan emfisema menimbulkan peradangan dan pelepasan enzim leukosit lokal.
Merokok sigaret adalah factor etiologi penting pada emfisema. Iritasi kronis
akibat merokok menimbulkan peningkatan jumlah netrofil dan merokok sigaret
secara langsung mendorong pelepasan elastase dari netrofil. Infeksi bakteri
kronis yang terkait dengan bronchitis kronis pada perokok juga mendorong
kenaikan tingkat enzim proteolitik yang berasal dari leukosit. Paru pada
perokok berat menunjukkan peradangan dan kerusakan bronkiolus respiratorik,
dengan emfisema sentriobular yang mulai terjadi pada usia relative muda (Chandrasoma
& Taylor, 2006).
Global
Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD)
secara umum menjelaskan patofisiologi pada PPOK yaitu:
Hambatan aliran udara dan
terperangkapnya udara sebagai efek dari terjadinya inflamasi, fibrosis dan
adanya eksudat pada saluran pernafasan berdampak nyata kepada penurunan FEV1
, kerusakan saluran udara perifer ini mengakibatkan terperangkapnya udara
pada saat ekspirasi dan mengakibatkan terjadinya hiperinflasi.
Pertukaran udara yang abnormal
mengakibatkat terjadinya hipoksia dan hipercapnia, secara umum mekanisme
pertukaran gas O2 dan CO2 akan semakin memburuk seiring
dengan tingkap keparahan penyakit. Obstruksi dan hiperinflasi akan menyebabkan
retensi karbondioksida di dalam paru-paru.
Produksi mukus yang berlebih sebagai
akibat dari batuk kronis produktif meskipun demikian tidak semua pasien PPOK
mengalami gejala ini. Mukus timbul akibat meningkatnya jumlah sel goblet dan
membesarnya kalenjar sub mucosal sebagai respon atas iritasi saluran pernafasan
kronis akibat merokok atau hirupan iritan.
Hipertensi paru biasanya akan terjadi
pada pasien PPOK berat karena terjadinya vasokonstriksi pada arteri paru yang
kemudian menyebabkan perubahan struktur yaitu hyperplasia dan hipertropi otot
polos.
Eksaserbasi pada saluran nafas mungkin
terjadi pada pasien PPOK, hal tersebut dipicu oleh infeksi (virus atau bakteri)
, polusi lingkungan, dan faktor lain. Adanya infeksi akan memperburuk
inflamasi.
Kelainan sistemik yang terjadi akibat
buruknya aliran udara menurunkan kualitas hidup pasien seperti mudah lelah saat
beraktivitas, mengurangi kerja jantung , depresi, dan lain-lain (GOLD, 2013).
Manifestasi
Klinis
Pasien PPOK bersifat asimptomatis pada
tahap-tahap awal penyakit ini karena adanya cadangan paru: namun, rasio FEV1:FVC
menurun, sebagaimana juga kapasitas vital dan volume ventilasi maksimal.
Kapasitas paru total dan volume residu seringkali meningkat akibat
terperangkapnya udara dalam ruang udara terdistensi (Chandrasoma & Taylor,
2006).
Pada fase simtomatik lanjut, pasien PPOK
memiliki spektrum gejala (2 gejala ekstrim yang disebut tipe A dan tipe B).
Gambaran klinis dari masing-masing tipe adalah:
Tipe
A atau “pink puffers”
Pasien tipe A mengalami batuk kronis
kering maupun menghasilkan sputum mukoid, dispnea progresif, dan mengi. Mereke
mengalami hiperventilasi, dan seringkali duduk membungkuk ke depan (untuk
mengaktifkan otot-otot pernafasan aksesorius) dengan mulut membuka dan lubang
hidung membesar sebagai upaya mengatasi kesulitan ventilasi. Paru mereka mengalami
overinflasi dengan peningkatan diameter anteroposterior dada (“barrel chest”) dan pendataran
diagfragma pada foto sinar-x dada. Para pasien ini berhasil mempertahankan
oksigenasi darah melalui hiperventilasi.
Tipe
B atau “blue bloaters”
Pasien tipe B mengalami bronkhitis
kronis dan tidak dapat melakukan hiperventilasi. Terjadi penurunan oksigenasi
darah (cyanosis) dan peningkatan kadar karbondioksida arteri. Mereka juga
mengalami hipertensi paru yang disebabkan oleh perubahan-perubahan di dalam
mikrovaskulatur parenkim paru. Hal ini menyebabkan hipertrofi dan gagal
ventrikel kanan (“cor pulmonale”),
dan edema perifer yang disebabkan oleh gagal dengan gambaran klinis dominan.
Oleh sebab itu pasien tipe B sering dinamakan “blue bloaters” (si bengkak biru) (Chandrasoma & Taylor, 2006).
Tabel. Tipe-tipe klinis penyakit paru
obstruktif kronis ( Chandrasoma& Taylor, 2006 )
Tipe A
|
Tipe B
|
|
Perubahan patologi dominan
|
Emfisema ( parasinar )
|
Bronkitis kronis
|
Batuk
|
+ ( kering )
|
+++ ( mukoid pada sputum purulen )
|
Infeksi paru
|
Jarang
|
++
|
Penyempitan bronkus
|
-
|
++
|
Laju ventilasi
|
↑ (“puffer”)
|
↓
|
Kapasitas vital
|
↓
|
↓
|
FEV1
|
↓ sedikit
|
↓ Nyata
|
Volume residu
|
↑ banyak
|
↑ Sedikit
|
Barrel
chest
|
++
|
-
|
PAO2
|
Normal atau ↓sedikit (merah muda)
|
↓ Nyata ( sianosis: “biru” )
|
PACO2
|
Normal atau ↑ sedikit
|
↑ Nyata
|
Hipertensi paru
|
-
|
+
|
Gagal ventrikel kanan
|
-
|
+
|
Institute
for Clinical Systems Improvement menyebutkan gejala
umum dari PPOK yaitu: Batuk kronis yang berlangsung selama lebih dari tiga
bulan, dengan atau tanpa produksi sputum. Dispne (kesulitan bernafas) dengan
atau tanpa adanya gejala mengi. Ekspirasi memanjang disertai mengi dan batuk. Produksi
sputum berlebih. Hiperinflasi pada dada dengan bertambahnya diameter
anterior-posterior (A-P) . Penggunaan otot-otot pernafasan tambahan. Terdapat
cara bernapas pursed-lips breathing
(seperti orang meniup) (ICSI, 2013)
Faktor Resiko
Merokok
Merokok
dapat menyebabkan batuk kronis yang mengakibatkan hipersekresi mukus.
Hipersekresi mucus dapat mempermudah proliferasi dan perkembangbiakan bakteri
sehingga menyebabkan inflamasi kronis dan mengakibatkan penurunan fungsi paru
(Berkhofet al, 2013).Merokok
merupakan penyebab PPOK terbanyak (95% kasus) di negara berkembang. Dilaporkan ada hubungan antara
penurunan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dengan jumlah, jenis dan
lamanya merokok (Oemiati,
2013).
Polusi Indoor
Memasak dengan bahan biomass dengan
ventilasi dapur yang jelek misalnya terpajan asap bahan bakar kayu dan asap
bahan bakar minyak diperkirakan memberi kontribusi sampai 35%. Manusia banyak
menghabiskan waktunya pada lingkungan rumah (indoor) seperti rumah,
tempat kerja, perpustakaan, ruang kelas, mall, dan kendaraan. Polutan indoor
yang penting antara lain SO2, NO2 dan CO yang dihasilkan dari memasak dan
kegiatan pemanasan, zat-zat organik yang mudah menguap dari cat, karpet, dan
mebelair, bahan percetakan dan alergi dari gas dan hewan peliharaan serta
perokok pasif. WHO melaporkan bahwa polusi indoor bertanggung jawab
terhadap kematian dari 1,6 juta orang setiap tahunnya (Oemiati,2013).
Polusi Outdoor
Polusi udara mempunyai pengaruh buruk
pada VEP1, inhalan yang paling kuat menyebabkan PPOK adalah Cadmium, Zinc dan
debu. Bahan asap pem-bakaran/pabrik/tambang. Peningkatan relatif kendaraan
sepeda motor di jalan raya pada dekade terakhir saat ini telah mengkhawatirkan
sebagai masalah polusi udara pada banyak kota metropolitan seluruh dunia. Pada
negara dengan income rendah dimana sebagian besar rumah tangga di
masyarakat menggunakan cara masak tradisional dengan minyak tanah dan kayu
bakar, polusi indoor dari bahan sampah biomassa telah memberi kontribusi
untuk PPOK dan penyakit kardio respiratori, khususnya pada perempuan yang tidak
merokok. PPOK adalah hasil interaksi antara faktor genetik individu dengan
pajanan lingkungan dari bahan beracun, seperti asap rokok, polusi indoor dan outdoor(Oemiati, 2013).
Polusi Tempat Kerja
Polusi dari tempat kerja misalnya
debu-debu organik (debu sayuran dan bakteri atau racun-racun dari jamur),
industri tekstil (debu dari kapas) dan lingkungan industri (pertambangan,
industri besi dan baja, industri kayu, pembangunan gedung), bahan kimia pabrik
cat, tinta, sebagainya diperkirakan mencapai 19% (Oemiati,2013)
Genetik
PPOK
merupakan hasil interaksi antara faktor lingkungan dengan faktor genetic yaitu
defisiensi gen Alpha
1-antitrypsin. Namun, defisiensi AAT
hanyaditemukanpada 1-2% kasus PPOK (Supriyadi, 2013)
Riwayat Infeksi Saluran Nafas Berulang
Infeksi saliran napas akut adalah
infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan, hidung, sinus, faring,
atau laring. Infeksi saluran napas akut adalah suatu penyakit terbanyak
diderita anak-anak. Penyakit saluran pernafasan pada bayi dan anak-anak dapat
pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa, dimana ada hubungan dengan
terjadinya PPOK (Oemiati, 2013).
Tabel Bakteri Penyebab Eksaserbasi PPOK
(Hueston, 2003)
Eksaserbasi ringan hingga sedang
|
Streptococcus
pneumonia
Haemophilus
influenzae
Moraxela
catarrhalis
Chlamydia
pneumoniae
Mycoplasma
pneumonia
Viral
|
Eksaserbasi berat
|
Pseudomonas
spp.
Bakteri gram-negatif lain
|
Gender, Usia, Kurang Aktivitas Fisik
Jenis
kelamin meningkatkan resiko terjadinya PPOK berkaitan dengan kecenderungan
merokok yang lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. Usiajuga mempengaruhi
karena semakin meningkatnya usia maka fungsi paru pun cenderung menurun, hal
yang sama terjadi pada kondisi kurangnya
aktivitas fisik (Oemiati, 2013).
Diagnosis
PPOK
Diagnosis PPOK dimulai dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan foto toraks dapat menentukan PPOK Klinis. Apabila
dilanjutkan dengan pemeriksaan spirometri akan dapat menentukan diagnosis PPOK
sesuai derajat penyakit.
Anamnesis
Ada
faktor risiko. Faktor risiko yang penting adalah usia
(biasanya usia pertengahan), dan adanya riwayat pajanan, baik berupa asap
rokok, polusi udara, maupun polusi tempat kerja. Kebiasaan merokok merupakan
satu - satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor
penyebab lainnya. Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan apakah
pasien merupakan seorang perokok aktif, perokok pasif, atau bekas perokok.
Penentuan derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian
jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam
tahun. Interpretasi hasilnya adalah derajat ringan (0-200), sedang (200-600),
dan berat ( >600) (PDPI, 2003).
Gejala
klinis. Gejala PPOK terutama berkaitan dengan respirasi.
Keluhan respirasi ini harus diperiksa dengan teliti karena seringkali dianggap
sebagai gejala yang biasa terjadi pada proses penuaan. Batuk kronik adalah
batuk hilang timbul selama 3 bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yang
diberikan. Kadang-kadang pasien menyatakan hanya berdahak terus menerus tanpa
disertai batuk. Selain itu, Sesak napas merupakan gejala yang sering dikeluhkan
pasien terutama pada saat melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah
mengalami adaptasi dengan sesak napas yang bersifat progressif lambat sehingga
sesak ini tidak dikeluhkan. Untuk menilai kuantitas sesak napas terhadap
kualitas hidup digunakan ukuran sesak napas sesuai skala sesak menurut British
Medical Research Council (MRC) (Tabel 2.1) (GOLD, 2009).
Pemeriksaan Fisik. Temuan pemeriksaan fisik mulai dari
inspeksi dapat berupa bentuk dada seperti tong (barrel chest), terdapat
cara bernapas purse lips breathing (seperti orang meniup), terlihat
penggunaan dan hipertrofi otot-otot bantu napas, pelebaran sela iga, dan bila
telah terjadi gagal jantung kanan terlihat distensi vena jugularis dan edema
tungkai. Pada perkusi biasanya ditemukan adanya hipersonor. Pemeriksaan
auskultasi dapat ditemukan fremitus melemah, suara napas vesikuler melemah atau
normal, ekspirasi memanjang, ronki, dan mengi (PDPI, 2003).
Pemeriksaan Penunjang .
Spirometri
(VEP1, VEP1 prediksi, KVP, VEP1/KVP). Obstruksi ditentukan
oleh nilai VEP1 prediksi (%) dan atau VEP1/KVP (%). VEP1 merupakan parameter
yang paling umum dipakai untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan
penyakit. Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan, APE
meter walaupun kurang tepat, dapat dipakai sebagai alternatif dengan memantau
variabilitas harian pagi dan sore, tidak lebih dari 20%.
Radiologi
(foto toraks). Hasil pemeriksaan radiologis dapat
ditemukan kelainan paru berupa hiperinflasi atau hiperlusen, diafragma
mendatar, corakan bronkovaskuler meningkat, jantung pendulum, dan ruang
retrosternal melebar. Meskipun kadang-kadang hasil pemeriksaan radiologis masih
normal pada PPOK ringan tetapi pemeriksaan radiologis ini berfungsi juga untuk
menyingkirkan diagnosis penyakit paru lainnya atau menyingkirkan diagnosis
banding dari keluhan pasien (GOLD, 2009).
Lain-lain:
Analisa
gas darah. Mikrobiologi sputum (PDPI, 2003)
Tata
Laksana Terapi
Penatalaksanaan PPOK bertujuan untuk
menghilangkan atau mengurangi obstruksi yang terjadi seminimal mungkin agar
secepatnya oksigenasi dapat kembali normal. Keadaan ini diusahakan dan
dipertahankan untuk menghindari perburukan penyakit. Secara garis besar
penatalaksanaan PPOK dibagi menjadi 3
kelompok, sebagaiberikut :
Penatalaksanaan
umum
Penatalaksanaan umum meliputi pendidikan
pada pasien dan keluarga, menghentikan merokok dan zat-zat inhalasi yang
bersifat iritasi, menciptakan lingkungan yang sehat, mencukupi kebutuhan
cairan, mengkonsumsi diet yang cukup dan memberikan imunoterapi bagi pasien
yang punya riwayat alergi.
Pemberian obat-obatan
Bronkodilator.
Bronkodilator merupakan obat utama untuk mengurangi/mengatasi obstruksi saluran
nafas yang terdapat pada
penyakit paru obstruktif. Obat-obat golongan bonkodilator adalah obat-obat utama
untuk manajemen PPOK. Bronkodilator
golongan inhalasi lebih disukai terutama jenis long acting karena lebih efektif dan nyaman, pilihan obat
diantarnya adalah golongan β2 Agonis, Antikolinergik,
Teofilin atau
kombinasi (GOLD,
2006; Sharma,2010).
Antikolinergik.
Golongan
antikolinergik seperti Ipatropium Bromide mempunyai efek bronkodilator yang
lebih baik bila dibandingkan dengan golongan simpatomimetik. Penambahan
antikolenergik pada pasien yang telah mendapatkan golongan simpatomimetik akan
mendapatkan efek bronkodilator yang lebih besar (Sharma, 2010).
Metilxantin.
Golongan xantin yaitu teofilin bekerja dengan menghambat enzim fosfodiesterase
yang menginaktifkan siklik AMP. Pemberian kombinasi xantin dan simpatomimetik
memberikan efek sinergis sehinga efek optimal dapat dicapai dengan dosis
masing-masing lebih rendah dan efek samping juga berkurang. Golongan ini tidak
hanya bekerja sebagai bronkodilator tetapi mempunyai efek yang kuat untuk
meningkatkan kontraktilitas diafragma dan daya tahan terhadap kelelahan otot
pada pasien PPOK (Sharma, 2010).
Glukokortikosteroid.
Glukokortikosteroid bermanfaat dalam
pengelolaan eksaserbasi PPOK, dengan memperpendek waktu pemulihan,
meningkatkan fungsi paru dan mengurangi hipoksemia. Disamping itu
glukokortikosteroid juga dapat mengurangi risiko kekambuhan yang lebih awal,
kegagalan pengobatan dan memperpendek masa rawat inap di RS (GOLD, 2006).
Obat-obat lainnya
Vaksin.
Pemberian vaksin influenza dapat mengurangi risiko penyakit yang parah dan
menurunkan angka kematian sekitar 50 %. Vaksin mengandung virus yang telah
dilemahkan lebih efektif diberikan kepada pasien PPOK lanjut, yang diberikan
setiap satu tahun sekali. Vaksin Pneumokokkal
Polisakarida dianjurkan untuk pasien PPOK usia 65 tahun keatas (GOLD, 2006)
Alpha-1 Antitripsin.
Alpha 1 Antitripsin direkomendasikan untuk pasien PPOK dengan usia muda yang
mengalami defisiensi enzim Alpha 1 Antitripsin sangat berat. Namum terapi ini
sangat mahal dan belum tersedia disetiap negara (GOLD, 2006).
Antibiotik.
Pada pasien PPOK infeksi kronis pada saluran nafas biasanya berasal dari
Streptococcus Pneumonia, Haemophilus Influensa dan Moraxella Catarrhlis.
Diperlukan pemeriksaan kultur untuk mendapatkan antibiotik yang sesuai. Tujuan
pemberian antibiotika adalah untuk
mengurangi lama dan beratnya eksaserbasi akut, yang ditandai oleh peningkatan
produksi sputum, dipsnue, demam dan leukositosis (GOLD, 2006; Sharma, 2010).
Mukolitik.
Mukolitik
diberikan untuk mengurangi produksi dan kekentalan sputum. Sputum kental pada
pasien PPOK terdiri dari derivat glikoprotein dan derivate lekosit DNA (GOLD,
2006).
Agenantioksidan.
Agen
antioksidan khususnya N-Acetilsistein telah
dilaporkan mengurangi frekuensi eksaserbasi pada pasien PPOK (GOLD, 2006).
Imunoregulator.
Pada sebuah studi penggunaan imunoregulator
pada pasien PPOK dapat menurunkan angka keparahan dan frekuensi eksaserbasi
(GOLD, 2006).
Antitusif.
Meskipun batuk merupakan salah satu gejala PPOK yang merepotkan, tetapi batuk
mempunyai peran yang signifikan sebagai
mekanisme protektif. Dengan demikian penggunaan antitusif secara rutin tidak
direkomendasikan pada PPOK stabil (GOLD,2006).
Vasodilator.
Berbagai upaya pada hipertensi pulmonal telah dilakukan diantaraanya mengurangi
beban ventrikel kanan, meningkatkan curah jantung, dan meningkatkan perfusi
oksigen jaringan. Hipoksemia pada PPOK terutama disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara ventilasi dan perfusi bukan karena peningkatan shunt
intrapulmonari (seperti pada oedem paru nonkardiogenik) dimana pemberian oksida
nitrat dapat memperburuk keseimbangan
ventilasi dan perfusi. Sehingga oksida nitrat merupakan kontraindikasi pada
PPOK stabil (GOLD, 2006).
Narkotik
(Morfin). Morfin secara oral ataupun parenteral efektif untuk
mengurangi dipsnue pada pasien PPOK pada tahap
lanjut, narkotik juga
diberikan sebagai antidepresan pada pasien dengan sindrom paska merokok.
Terapi
Oksigen
PPOK umumnya dikaitkan dengan hipoksemia
progresif, pemberian terapi oksigen bertujuan untuk mempertahankan hemodinamika
paru. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh The
British Medical Research Council (MRC) dan the National Heart, Lung, and Blood
Institute's Nocturnal Oxygen Therapy Trial (NOTT) menunjukkan bahwa terapi oksigen
jangka panjang dapat meningkatkan kelangsungan hidup 2 kali lipat pada
hipoksemia pasien PPOK. Hipoksemia ditandai dengan PaO2
kurang dari 55 mmHg atau SaO2
kurang
dari 90%. Gejala gangguan tidur, gelisah, sakit kepala mungkin merupakan
petunjuk perlunya oksigen tambahan. Terapi oksigen dengan konsentrasi rendah
1-3 liter/menit secara terus menerus dapat memberikan perbaikan psikis, koordinasi otot, toleransi beban
kerja dan pola tidur. Terapi oksigen bertujuan memperbaiki kandungan oksigen
arteri dan memperbanyak aliran oksigen
ke jantung, otak serta organ vital lainnya, memperbaiki vasokonstriksi pulmonal
dan menurunkan tekanan vaskular pulmonal. (Shama,2010).
Daftar
Pustaka
Depkes RI. (2008). Pedoman pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Direktorat Jenderal pengendalian dan
Penyehatan Lingkungan Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular.Jakarta
Global Strategy For The Diagnosis,
Management, And Prevention Of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. (2006).
Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). http://www.acofp.org/education/LV_10/handouts/Fri_3_19_10/11am_Willsie_Sandra_COPD.pdf,
Diperoleh tanggal 4 Maret 2
016
Kara, M. (2005). Preparing nurses for
the global pandemic of chronic obstructive pulmonary disease. Journal of Nursing Scholarship. http://www.redorbit.com/news/health/156840/preparing_nurses_for_the_globalpandemic_of_chronic_obstructive_pulmonary/.
Diperoleh tanggal 28 Pebruari
2016.
Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia (2003), Penyakit
Paru Obstruksi Kronik Pedoman dan Pelaksanaan Terapi Di Indonesia. http://klikpdpi.com/konsensus/konsensus-ppok/ppok.pdf.
diakses tanggal
5 maret 2016
Sharma, et al. (2010). Pulmonary
rehabilitation. Health Sciences Centre.
University of Manitoba, Canada.. http://emedicine.medscape.com/article/319885-
overview. Diperoleh tanggal 29
Pebruari 2016
Smeltzer, S., & Bare. (2008). Brunner & Suddarth’s textbook of medical
surgical nursing. Philadelphia: Lippincott.
WHO. (2004). International Statistical Classification of Diseases and Related Health
Problem (ICD-10). Geneva

Tidak ada komentar:
Posting Komentar