Ginjal adalah organ ekskresi dalam
vertebrata berbentuk mirip kacang, sebagai
bagian dari system urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran(terutama
urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin.
Progresivitas penurunan fungsi ginjal berbeda-beda, yaitu dapat berkembang
cepat atau lambat.Penyakit ginjal kronik adalah suatu keadaan yang ditandai
dengan adanya kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan berupa kelainan
structural atau fungsional dengan penurunan laju filtrasi glomerulus dengan
etiologi yang bermacam-macam, disertai kelainan komposisi darah atau urin dan
kelainan dalam tes pencitraan. Secara laboratorik dinyatakan penyakit ginjal
kronik apabila hasil pemeriksaan klirens kreatinin <15 mg/dl (Astiawati,
2008).
Penderita gagal ginjal kronik terus
meningkat dan diperkirakan pertumbuhannya sekitar 10% setiap tahun.Dari data di
beberapa pusat nefrologi di Indonesia diperkirakan insidens dan prevalensi
penyakit ginjal kronik masing-masing berkisar 100-150/ 1 juta penduduk dan
200-225/ 1 juta penduduk (Astiawati, 2008).
Keadaan yang menimbulkan terjadinya
kerusakan ginjal biasanya menghasilkan gejala-gejala serius yang tidak
berhubungan dengan ginjal.Sebagai contoh, demam tinggi, syok, kegagalan jantung
dan kegagalan hati, bisa terjadi sebelum kegagalan ginjal dan bisa lebih serius
dibandingkan gejala gagal ginjal. Setelah penyebabnya ditemukan, tujuan
pengobatan adalah untuk mengembalikan fungsi ginjal biasanya. Masukan Jumlah
cairan sangat dibatasi tergantung dari seberapa banyak urine yang dapat
dihasilkan oleh ginjal.Makanan juga harus dipilih jangan sampai meracuni ginjal
, protein harus dikurangi sampai batas tertentu ,rendah garam dan potasium ,
untuk karbohidrat dapat lebih leluasa diberikan. Dialisis mungkin diperlukan
sebagai tatalaksana gagal ginjal.
Definisi
Menurut The Kidney Disease Outcomes Quality
Initiative (K/DOQI) of the National Kidney Foundation (NKF) pada tahun
2009, mendefenisikan gagal ginjal kronis sebagai suatu kerusakan ginjal dimana
nilai dari GFR nya kurang dari 60 mL/min/1.73 m2 selama tiga bulan atau lebih.
Dimana yang mendasari etiologi yaitu kerusakan massa ginjal dengan sklerosa
yang irreversibel dan hilangnya nephrons ke arah suatu kemunduran nilai dari
GFR.
Manifestasi Klinik
Ada beberapa manifestasi klinik
gagal gagl ginjal kronik: Gangguan keseimbangan elektrolit (hipernatremia,
huiperkalemia). Asidosis
metabolik (ditemukan jika LFG<25%). Gangguan
metabolism karbohidrat dan lemak. Anemia
normokrom mormositer. Hipertensi. Gangguan neurologi. Osteodistrofi ginjal. Gangguan pertumbuhan. Gangguan pendarahan (
Schrier RW, 2003).
Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium
LED:
meninggi, yang diperberat oleh adanya anemia, dan hipoalbuminemia. Anemia
normositer normokrom, dan jumlah retikulosi yang rendah.
Ureum
dan kreatinin: meninggi, biasanya perbandingan antara ureum dan kreatinin
kurang lebih 20:1. Ingat perbandingan bisa meninggi oleh karena perdarahan
saluran cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi
saluran kemih. Perbandingan ini berkurang: ureum lebih kecil dari kreatinin,
pada diet rendah protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
Hiponatremi:
umumnya karena kelebihan cairan. Hiperkalemia: biasanya terjadi pada gagal
ginjal lanjut bersama dengan menurunnya dieresis.
Hipokalsemia
dan hiperfosfatemia: terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin D3 pada GGK.
Phosphat
alkaline meninggi akibat gangguan metabolism tulang, terutama isoenzim
fosfatase lindi tulang
Hipoalbuminemia
dan hipokolesterolemia: umumnya disebabkan gangguan metabolism dan diet rendah
protein.
Peninggian
gula darah, akibat gangguan metabolism karbohidrat pada gagal ginjal (resitensi
terhadap pengaruh insulin pada jaringan perifer).
Hipertrigliserida,
akibat gangguan metabolism lemak, disebabkan peninggian hormone insulin dan
menurunnya lipoprotein lipase.
Asidosis
metabolic dengan kompensasi respirasi menunjukkan pH yang menurun, BE menurun,
HCO3 menurun, PCO2 menurun, semuanya disebabkan retensi asam-asam organic pada
gagal ginjal.
Pemeriksaan lain
Foto
polos abdomen: untuk menilai bentuk dan besar ginjal (adanya batu atau adanya
suatu obstruksi). Dehidrasi akan memperburuk keadaan ginjal, oleh sebab itu
penderita diharapkan tidak puasa.
IVP
(Intra Vena pielografi): untuk
menilai system pelviokalises dan ureter. Pemeriksaan ini mempunyai resiko
penurunan faal ginjal pada keadaan tertentu, misalnya usia lanjut, diabetes
mellitus, dan nefropati asam urat.
USG:
untuk menilai besar dan bentuk ginajl, tebal parenkim ginjal, kepadatan
parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih,
dan prostat.
Renogram,
untuk menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi dari gangguan (vascular,
parenkim, ekskresi) serta sisa fungsi ginjal.
EKG,
untuk melihat kemungkina hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis,
aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia).
Penatalaksanaan
Stage 1 dan 2. Pada CKD stage 1 fungsi
ginjal sebenarnya normal tapi terdapat beberapa tanda adanya kelainan pada
ginjal. CKD stage 2 ditandai dengan menurunnya sebagian fungsi ginjal, GFR 60-89mls/min/1.73m2
Pengkajian
Awal pada CKD stage 1+2: Tujuannya adalah untuk
mengidentifikasi resiko peningkatan kelainan ginjal pada klien, dan untuk
mengurangi resiko terkait. Yang perlu dikaji adalah: Hematuria dan Proteinuria. Jika
pengkajian pertama menemukan adanya peningkatan kreatinin maka penting bagi
kita untuk memastikan kestabilan nilainya. Ulangi test 14 hari berikutnya.
Managemen
CKD stage 1+2. Dalam 12 bulan
pencapaian yang harus didapat adalah :
Kreatinin:
perubahan signifikan pada eGFR telah ditentukan sebagai short-term eGFR fall>15% atau
[creatinine] meningkat >20%; atau yang terbaru berdasar NICE
guideline adnya kehilangan GFR 1y dari 5ml/min, atau kehilangan dalam 5y dari
10ml/min.
Urinary
protein for ACR or PCR : pertahankan nilai ACR 30 atau PCR 50 bagi klien dengan
tekana darah yang tinggi(dan suffix 'p'
pada CKD stage)
Tekanan
darah: maksimal 140/90 (130-139/90),
atau maksimal 130/80 (120-129/80) bagi pasien dengan proteinuria: urinary
ACR>30 atau PCR>50.
Resiko
Kardiovaskular : berikan eduksi dalam hal kebiasaan merokok, olahraga teratur
dan gaya hidup.
Stage 3
Dalam CKD stage
3 ini nilai eGFR 30-60%: eGFR 45-59 (3A)
atau 30-44 (3B).
Pengkajian
awal CKD stage 3, Pengakajian
klinis: khususnya untuk sepsis, gagl jantung, hipovolemi, memeriksa adanya
pembesaran kandung kemih. Review ulang medikasi:
periksa apakah diperlukan perubahan dosis obat ketika GFR terjadi penurunan,
untuk mencegah nephrotoxic drug. Tes
Urin: adanya hematuria atau proteinuria menunjukkan adanya kelainan ginjalyang
progresif. Pencitraan: perlu dilakuakan bila klien
diindikasikan adanya obstruksi pada sistem ginjal
Manajemen
CKD stage 3. Dalam
6 sampai 12 bulan targetnya adalah: Creatinine
and K: pertimbangkan turunnya nilai eGFR yang tib-tiba
>25% sebagai ARF. NICE menyarankan untuk meminta advis dari specialist
ketika GFR turun lebih 1y dari 5ml/min, atau 5y dari 10ml/min. Hb – bila di
bawah 110 g/l, terapi spesifik perlu dilakukan. Hb turun secara progresif
mengindikasikan turunnya GFR. Urinary
protein for ACR or PCR : pertahankan nilai
ACR 30 atau PCR 50 bagi klien dengan tekana darah yang tinggi(dan suffix 'p' pada CKD stage). Tekanan darah: maksimal 140/90 (130-139/90), atau maksimal
130/80 (120-129/80) bagi pasien dengan proteinuria: urinary ACR>30 atau
PCR>50. Resiko Kardiovaskular: berikan eduksi dalam hal kebiasaan merokok,
olahraga teratur dan gaya hidup. Immunization - influenza dan pneumococcal. Medication
review – review
teratur terhadap jenis-jenis obat yang diberikan untuk mencegahnephrotoxic drugs.
Stage 4+5
Tanda CKD stage4
adalah adanya penurunan fungsi ginjal yang parah, 15-30% (eGFR
15-29ml/min/1.73m2).Tanda CKD stage 5 adalah adanya penurunan fungsi ginjal
yang sangat parah (endstage atau ESRF/ESRD), <15% (eGFR kurang dari 15
ml/min).
Pengkajian
awal CKD stage 4. Pengakajian
klinis : khususnya untuk sepsis, gagl jantung, hipovolemi, memeriksa adanya
pembesaran kandung kemih. Review ulang medikasi:
periksa apakah diperlukan perubahan dosis obat ketika GFR terjadi penurunan,
untuk mencegah nephrotoxic drug. Tes
Urin: adanya hematuria atau proteinuria menunjukkan adanya kelainan ginjalyang
progresif. Tes darah : Ca, PO4, Hb. Pencitraan:
perlu dilakuakan bila klien diindikasikan adanya obstruksi pada sistem ginjal.
Manajemen
CKD stage 4 dan 5. Dalam
3 bulan: Kretainin dan K: waspadai hiperkalemia. Hb:
Hb rendah, waspadai penyebab lain selain ginjal. Ca
dan PO4: obat oral phospat seringkali dibutuhkan. Urinary protein for ACR
or PCR: pertahankan nilai ACR 30 atau PCR 50 bagi klien dengan tekanan darah
yang tinggi(dan suffix 'p' pada CKD
stage). Tekanan darah: maksimal 140/90 (130-139/90), atau maksimal
130/80 (120-129/80) bagi pasien dengan proteinuria: urinary ACR>30 atau PCR>50. Resiko Kardiovaskular: berikan
eduksi dalam hal kebiasaan merokok, olahraga teratur dan gaya hidup. Immunization - influenza dan pneumococcal, dan imunisasi Hepatitis B
jika transplantasi ginjal akan dilakukan. Medication
review – review teratur terhadap jenis-jenis obat yang diberikan untuk mencegah
nephrotoxic drugs. Jika klien osteoporosis: jangan menggunakan
bisphosphonates karena bisa mengarah ke
renal osteodystrophy.
Penatalaksanaan
Hemodialisa
Hemodialisa
merupakan suatu membran atau selaput semi permiabel.Membran ini dapat dilalui
oleh air dan zat tertentu atau zat sampah. Proses ini disebut dialisis yaitu
proses berpindahnya air atau zat, bahan melalui membran semi permiabel. Terapi
hemodialisa merupakan teknologi tinggi sebagai terapi pengganti untuk
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah
manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan
zat-zat lain melalui membran semi permiabel sebagai pemisah darah dan cairan
dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultra
filtrasi (Brunner & Suddarth, 2001).
Jika
kondisi ginjal sudah tidak berfungsi diatas 75 % (gagal ginjal terminal atau
tahap akhir), proses cuci darah atau hemodialisa merupakan hal yang sangat
membantu penderita. Proses tersebut merupakan tindakan yang dapat dilakukan
sebagai upaya memperpanjang usia penderita. Hemodialisa tidak dapat
menyembuhkan penyakit gagal ginjal yang diderita pasien tetapi hemodialisa
dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan pasien yang gagal ginjal.
Diet
merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisa mengingat
adanya efek uremia. Apabila ginjal yang rusak tidak mampu mengekskresikan
produk akhir metabolisme, substansi yang bersifat asam ini akan menumpuk dalam
serum pasien dan bekerja sebagai racun dan toksin. Gejala yang terjadi akibat
penumpukan tersebut secara kolektif dikenal sebagai gejala uremia dan akan
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Diet rendah protein akan mengurangi
penumpukan limbah nitrogen dan dengan demikian meminimalkan gejala (Brunner
& Suddarth, 2001).
Penumpukan
cairan juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gagal jantung kongestif serta
edema paru.Dengan demikian pembatasan cairan juga merupakan bagian dari resep
diet untuk pasien.Dengan penggunaan hemodialisis yang efektif, asupan makanan
pasien dapat diperbaiki meskipunbiasanya memerlukan beberapa penyesuaian dan
pembatasan pada asupan protein, natrium, kalium dan cairan (Brunner &
Suddarth, 2001).
Banyak
obat yang diekskresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal. Pasien yang
memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung, antibiotik, antiaritmia dan
antihipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar
obat-obat ini dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan
akumulasi toksik (Brunner & Suddarth, 2001).
Indikasi dan Komplikasi Terapi Hemodialisa
Pada umumya indikasi dari terapi hemodialisa pada
gagal ginjal kronis adalah laju filtrasi glomerulus ( LFG ) sudah kurang dari 5
mL/menit, sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai bila dijumpai salah
satu dari hal tersebut: Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata. K serum > 6 mEq/L. Ureum
darah > 200 mg/Dl. pH darah < 7,1. Anuria berkepanjangan ( > 5 hari ). Fluid
overloaded (Shardjono dkk,
2001).
Menurut
Al-hilali (2009), walaupun hemodialisa sangat penting untuk menggantikan fungsi
ginjal yang rusak tetapi hemodialisa juga dapat menyebabkan komplikasi umum
berupa hipertensi (20-30% dari dialisis), kram otot (5-20% dari dialisis), mual
dan muntah (5-15% dari dialisis), sakit kepala (5% dari dialisis), nyeri dada
(2-5% dialisis), sakit tulang belakang(2-5% dialysis), 5% dari dialisis), rasa
gatal (5% dari dialisis) dan demam pada anak-anak (<1% dari dialisis).
Sedangkan komplikasi serius yang paling sering terjadi adalah sindrom
disequilibrium, arrhythmia, tamponade jantung, perdarahan intrakaranial,
hemolisis dan emboli paru.
Terapi Non Farmakologi
Modifikasi
diet sebagai metode untuk mengendalikan abnormalitas metabolik dan kemungkinan
untuk memperlambat perkembangan kegagalan ginjal. Diantaranya :
Pengaturan diet kalium. Hiperkalemia umumnya
menjadi masalah dalam gagal ginjal, sehingga perlu dibatasi asupan kalium dalam
diet. Jumlah yang diperbolehkan dalam diet adalah 40- 80 mEq/ hari (Price et al., 2006: 967).
Pengaturan diet natrium. Ekskresi Na urin per 24
jam dapat diukur selama periode berat badan stabil dan diet asupan natrium
disesuaikan menurut timbulnya edema pergelangan kaki pada pagi hari. Pada
umumnya diet 6 gram NaCl baik sebagai permulaan (Price, 2006 : 967)
Fosfor dan Kalsium. Mempertahankan
kadar fosfor serum normal dapat mencegah osteodistrofi ginjal dan progesifitas
ke arah GGK. Kadar fosfor harus dipertahankan 3,5-4 mg/dl. Sumber makanan yang
kaya akan fosfor (daging, telur) harus dibatasi. Diatasi dengan pemberian
Calsium Carbonat (CaCO3) sebagai pengikat fosfor secara oral. Pasien GGK
memerlukan 1000-1500 mg kalsium per hari untuk mempertahankan keseimbangan
kalsium. Jika pemberian CaCO3 atau kalsium glukonat tidak menormalkan kadar
kalsium serum atau terapi dengan 1,25 dihidroksi vitamin D3 dapat dimulai
dengan 0,25µg yang dapat ditingkatkan dengan interval 2-4 minggu untuk
menormalkan kalsium serum (Price, 2006 : 969).
Pengaturan diet protein. Pembatasan asupan
protein dapat memperlambat perkembangan gagal ginjal dengan atau tanpa
diabetes. Jumlah protein yang diperbolehkan adalah 0,6-0,75 g/ kg/ hari (DiPiro
et al., 2005: 860 ), bila pasien
menerima dialisis jumlah protein yang diperbolehkan hingga 1g/ kg/ hari (Price,
2006: 967).
Terapi Farmakologi
Kontrol
tekanan darah. Penghambat EKA atau
antagonis reseptor Angiotensin II → evaluasi kreatinin dan kalium
serum, bila terdapat peningkatan kreatinin > 35% atau timbul hiperkalemia
harus dihentikan. Penghambat kalsium. Diuretik.
Pada pasien DM, kontrol gula darah → hindari
pemakaian metformin dan obat-obat sulfonilurea dengan masa kerja panjang.
Target HbA1C untuk DM tipe 1 0,2 diatas nilai normal tertinggi, untuk DM tipe 2
adalah 6%.
Koreksi anemia dengan target Hb
10-12 g/dl. Kontrol
hiperfosfatemia: polimer kationik (Renagel), Kalsitrol. Koreksi asidosis
metabolik dengan target HCO3 20-22 mEq/l. Koreksi hyperkalemia. Kontrol dislipidemia
dengan target LDL,100 mg/dl dianjurkan golongan statin. Terapi ginjal
pengganti. Obat Gangguan Gagal Ginjal Kronik.
Obat Kardiovaskuler
Renal
ACE Inhibitor. ACE inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan
angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II bekerja di ginjal dengan
menahan ekskresi cairan (Na+ dan H2O) yang dapat
menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan tahanan perifer. Meningkatnya
tahanan perifer akan berefek pada peningkatan tekanan darah. Dengan adanya ACE
inhibitor maka tidak akan terbentuk angiotensin II, mengurangi retensi cairan,
terjadi vasodilatasi, dan mengurangi kerja jantung.
ACE inhibitor merupakan antihipertensi yang efektif
dan efek sampingnya dapat ditoleransi dapat dengan baik. Efek samping
penggunaan ACE inhibitor antara lain sakit kepala, takikardi (peningkatan denyut
jantung), berkurangnya persepsi pengecapan, dizziness (ketidakseimbangan saat berdiridari posisi duduk atau
tidur), nyeri dada, batuk kering, hiperkalemia, angiodema, neutropenia, dan
pankreatitis. ACE inhibitor dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun
dikombinasikan dengan obat lain (biasanya dikombinasikan dengan diuretik).
Selain sebagai antihipertensi, ACE inhibitor juga dapat digunakan sebagai
vasodilator, terapi congestive heart failure (CHF), left ventricular dysfunction, myocardial
infarction, dan diabetes melitus.
Jenis ACE inhibitor yang dapat digunakan sebagai
antihipertensi antara lain Benazepril, Captopril, Enalapril, Fosinopril,
Lisinopril, Moexipril, Perindropil, Quinapril, Ramipril, Trandolapril. Salah
satu golongan ACE inhibitor yang paling banyak digunakan adalah Captopril.
Captopril sebagai dosis tunggal mempunyai durasi selama 6-12 jam dengan onset 1
jam. Captopril diabsorpsi sebanyak 60-75% dan berkurang menjadi 33-40% dengan
adanya makanan serta 25-30% Captopril akan terikat protein. Waktu paruh
Captopril dipengaruhi oleh fungi ginjal dan jantung di mana waktu paruh
Captopril pada volunteers sehat
dewasa 1,9 jam; pasien CHF 2,06 jam; dan pasien anuria 20-40 jam. Captopril
diekskresikan melalui urin (95%) dalam waktu 24 jam.
Penghambat adrenoreseptor beta
(β-blocker). β-blocker bekerja dengan menghambat reseptor
β1 sehingga menumbulkan penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas
miokard, menghambat sekresi renin, mempengaruhi aktivitas saraf simpatis,
perubahan pada sensitivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron adrenergik
perifer dan peningkatan biosintesis prostasiklin (vasodilator). Efek penurunan
tekanan darah dapat terlihat dalam 24 jam sampai 1 minggu setelah terapi
dimulai. Dari berbagai β-blocker, atenolol merupakan obat yang sering dipilih
(bersifat kardioselektif). Selain itu terdapat juga labetolol, karvedilol dll
yang umumnya nonselektif. Β-blocker dikontraindikasikan pada penderita asma
bronkial, bradikardia, blokade AV derajat 2 dan 3, sick sinus syndrome
dan gagal jantung belum stabil. Efek samping β-blocker antara lain bronkopasme,
gangguan sirkulasi perifer, depresi, mimpi buruk, halusinasi dan gangguan
fungsi seksual.
Penghambat reseptor angiotensin (angiotensin receptor blocker/ARB). ARB bekerja dengan
menghambat efek angiotensin II pada reseptor AT1 (yang terutama terdapat di
otot polos pembuluh darah dan otot jantung, selain itu terdapat juga di ginjal,
otak, dan kelenjar adrenal). Efek yang dihambat meliputi: vasokonstriksi,
sekresi aldosteron, rangsangan saraf simpatis, sekresi vasopresin, rangsangan
haus, stimulasi jantung, serta efek jangka panjang berupa hipertrofik otot
polos pembuluh darah dan miokard. Efek yang ditimbulkan ARB mirip dengan efek
yang ditimbulkan ACE-inhibitor, namun ARB tidak memiliki efek samping batuk
kering dan angioedema. Losartan merupakan prototip dari golongan ARB, selain
itu ada juga valsartan, irbesartan, dll. Efek samping yang ditimbulkan antara
lain hipotensi dan hiperkalemia. Obat ini dikontraindikasikan pada ibu hamil
dan menyusui serta pada pasien dengan stenosis arteri renalis bilateral atau
unilateral pada ginjal tunggal.
Antagonis kalsium (calcium channel blocker). Antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada
sel otot polos pembuluh darah dan miokard, menimbulkan efek relaksasi arteriol
dan penurunan resistensi perifer. Berbagai antagonis kalsium antara lain
nifedipin, verapamil, diltiazem, amlodipin, nikardipin, isradipin, dan felodipin.
Golongan dihidropiridin (seperti nifedipin, nikardipin, dll) bersifat
vaskuloselektif, menurunkan resistensi perifer tanpa penurunan fungsi jantung
yang berarti (efek pada nodus SA dan AV minimal). Nifedipin oral sangat
bermanfaat untuk mengatasi hipertensi darurat (dosis 10mg akan menurunkan
tekanan darah dalam waktu 10 menit), namun tidak dianjurkan untuk hiperensi
dengan penyakit jantung koroner. Efek samping antagonis kalsium antara lain
iskemia miokard, hipotensi, edema perifer, bradiaritmia, dll.
Obat anemia
Anemia
didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin plasma kurang dari normal akibat
penurunan jumlah sel darah merah . Anemia dapat disebabkan oleh kehilangan
darah kronik, kelainan sumsum tulang, peningkatan hemolisis, infeksi keganasan,
defisiensi endokrin, dan sejumlah keadaan penyakit lain. Kondisi ini dapat
diperbaiki dengan transfusi darah (Tjay dan Rahardja, 2007 : 794).
Eritropoetin,
adalah suatu glikoprotein biasanya dibuat oleh ginjal
yang mengatur proliferasi sel darah merah dan diferensiasi dalam sumsum tulang.
Eritropoetin manusia dihasilkan dengan teknologi DNA rekombinan, efektif dalam
pengobatan anemia yang disebabkan penyakit ginjal stadium akhir. Eritropoetin
digunakan untuk anemia yang berkaitan dengan gagal ginjal kronik. Penambahan
besi diperlukan untuk mendapat respon yang sesuai (Tjay dan Rahardja, 2007
: 802).
Asam Folat. Asam
folat menstimulasi produksi sel darah merah, sel darah putih, dam platelet pada
anemia megaloblastik.
KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)
Makanan yang disarankan: Konsumsi makanan yang
berserat. Perbanyak
buah dan sayur. Konsumsi makanan dengan cara olah
direbus. Untuk
mengatasi hipertensi, kurangi konsumsi garam setiap hari.
Makanan yang perlu dihindari: Kurangi makanan yang
manis atau mengandung tinggi gula untuk mengatasi diabetes. Kurangi makan makanan
yang digoreng untuk menurunkan kadar kolesterol. Hindari minuman bersoda. Menurunkan konsumsi
makanan berlemak
Hal-hal yang perlu diperhatikan: Hindari obat-obat yang
dapat memperberat kerja ginjal seperti obat analgesik seperti aspirin, PCT, dan
gol NSAID,
obat yang menyebabkan nephropati (memperberat kerja ginjal) seperti allopurinol. Lakukan pemeriksaan
laboratorium dan tekanan darah secara berkala. Olahraga ringan seperti
berjalan kaki dipagi hari secara teratur. Hindari stress yang
dapat meningkatkan tekanan darah. Tidur
yang cukup.
DAFTAR
PUSTAKA
American Journal of Kidney Disease.
2006. Hemodialysis Guidelines. Diakses
dari http://www.kidney.org/professionals/kdoqi/pdf/12-50-0210_JAG_DCP_Guidelines
HD_Oct06_SectionA_ofC.pdf Pada tanggal 12
Mei 2016.
Astiawanti, Prima. 2008. Perbedaan Pola Gangguan Hemostasis Antara
Penyakit Ginjal Kronik Prehemodialisis Dengan Diabetes Mellitus dan Non
Diabetes Mellitus. Diakses dari http://www.pernefri.org/1-kamus-ginjal.php
pada tanggal 12 Mei 2016.
Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan
Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
J. M Lopez Novoa et al. 2010. Common Pathophysioogical Mechanism Of Chronic Kidney Disease :
Therapeutic Perspectives. Pharmacology & therapeutic 128.
National Kidney Foundation. 2010. About CKD Guide. Diakses dari http://www.kidney.org/atoz/atozcopy.cfm?pdflink=AboutCKDGuidePatFam.pdf
pada tanggal 12 Mei 2016.
National Kidney Foundation. 1997. NKF-DOQI clinical practice guidelines for
dyalisis adequaly. Am J Kidney.
Price, Sylvia A., Lorraire, Wilson.
2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC.
Schrier RW. 2003. Renal and Electrolyte Disorders 6th
edition. Lippincolt Williams and Willkins.
Suhardjono, dkk. 2001.
Gagal Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid
II. Edisi Ketiga. FK UI, Jakarta.
Sja’bani M. 2008. Penggunaan manitol: dampaknya pada ginjal.
Dalam Dharmeizar, Marbun MBH, editor. Makalah lengkap the 8thJakarta
nephrology & hypertension course and symposium onhypertension. Jakarta:
PERNEFRI; p.21-22.
Tjay, T. H dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting.
Jakarta : Elex Media Komputindo Gramedia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar