Hiperlipidemia merupakan suatu keadaan
tingginya konsentrasi lipid yang ditandai dengan peningkatan salah satu atau
lebih kolesterol total. LDL (Low Density
Lipoprotein), atau trigliserida, dan atau penurunan HDL (High Density Lipoprotein) (Well, Dipiro,
Schwinghammer, dan Dipiro, 2009). Hiperlipidemia dapat terjadi secara primer
maupun sekunder, primer disebabkan oleh faktor genetik, sedangkan sekunder
disebabkan karena penyakit lain (diabetes mellitus, hipotiroid, obesitas, dan
lain-lain) dan obat-obatan (diuretic, β-bloker, kontrasepsi oral, dan
lain-lain) (Priyanto, 2009). Faktor-faktor lain yang menyebabkan hiperlipidemia
diantaranya disebabkan oleh faktor usia, kurang olahraga, stres, gangguan
metabolisme, gangguan genetik, dan pola konsumsi makanan sehari-hari yang dapat
meningkatkan konsentrasi lipid. Keadaan ini dapat ditimbulkan karena
meningkatnya peroksidasi lipid yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam
tubuh, seperti didalam organ hati.
Hiperlipidemia dapat meningkatkan terjadinya
aterosklerosis, yang merupakan interaksi
kompleks antara lipid, sel endotelium, sel inflamatori dan sel otot polos
pembuluh darah, serta berhubungan dengan kelebihan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) (Ling
dkk., 2001). Kondisi hiperlipidemia yang kaya akan trigliserida dan asam lemak
dapat merangsang leukosit untuk memproduksi ROS sehingga dapat meningkatkan
oksidasi LDL.
Pengobatan utama untuk hiperlipidemia
adalah diet dan modifikasi gaya hidup. NCEP (The National Cholesterol Education Program) merekomendasikan diet
yang mencakup <200 mg kolesterol, <7% lemak jenuh, 25-35% lemak total,
50-60% karbohidrat, dan 15% protein dari total kalori satiap hari (Henley dkk.,
2002). Selain perubahan gaya hidup terapi hiperlipidemia juga dapat diikuti
dengan terapi farmakologi atau terapi menggunakan obat. Penggunaan obat yang
rasional sangat penting dalam terapi pengobatan pada pasien untuk mencegah
terjadinya kegagalan terapi. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dipaparkan
mengenai penyakit hiperlipidemia beserta tatalaksana terapinya.
Tinjauan
Hiperlipidemia
Hiperlipidemia
adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar semua fraksi lipid dalam plasma
terutama trigliserida (TG) dan kolesterol. Terutama hiperkolesterolemia
menyebabkan peningkatan kadar LDL (Low density lipoprotein) dan LDL teroksidasi
yang penting dalam proses pembentukan plak arterosklerosis.
Pengukuran
profil lemak darah digunakan untuk mengetahui adanya gangguan hiperlipidemia
dalam diri seseorang. Profil lemak darah itu sendiri diperoleh melalui
pengukuran level lipoprotein darah. Lipoprotein terdiri dari trigliserida,
kolesterol, dan phospholipida. Kriteria seseorang dapat dikatakan mengalami
hiperlipidemia dengan lebih dari satu kriteria yaitu: Peningkatan kolesterol
total (TC: Total Cholesterole). Peningkatan low density lipoprotein (LDL). Peningkatan
trigliserida (TG). Penurunan High density lipoprotein (HDL).
Lemak
(disebut juga lipid) adalah zat yang
kaya energi, yang berfungsi sebagai sumber energi utama untuk proses metabolisme
tubuh. Lemak diperoleh dari makanan atau dibentuk di dalam tubuh, terutama di
hati dan bisa disimpan di dalam sel-sel lemak untuk digunakan di kemudian hari.
Sel-sel lemak juga melindungi tubuh dari dingin dan membantu melindungi tubuh
terhadap cedera. Lemak merupakan komponen penting dari selaput sel, selubung
saraf yang membungkus sel-sel saraf serta empedu. Dua lemak utama dalam darah
adalah kolesterol dan trigliserida. Lemak mengikat dirinya
pada protein tertentu sehingga bisa larut dalam darah; gabungan antara lemak
dan protein ini disebut lipoprotein.
Lipoprotein terdiri dari beberapa bagian,
lipoprotein yang utama adalah:
Kilomikron, lipoprotein yang paling besar,
dibentuk di usus dan membawa trigliserida yang berasal dari makanan. Beberapa
ester kolestril juga terdapat pada kilomikron. Kilomikron melewati duktus
toraksikus ke aliran darah. Trigliserida dikeluarkan dari kilomikron pada
jaringan ekstrahepatis melalui suatu jalur yang berhubungan dengan VLDL yang
mencakup hidrolisi oleh sistem lipase lipoprotein (LPL), suatu penurunan
progresif pada diameter partikel terjadi ketika trigliserida di dalam inti
tersebut dikosongkan. Lipid permukaan , yakni apo-A-1, apo-A-II, dan apo-C,
ditransfer ke dalam hepatosit.
VLDL (Very Low Density Lipoprotein). Hati mensekresikan VLDL yang berfungsi sebagai sarana untuk
mengekspor trigliserida ke jaringan perifer. VLDL mengandung Apo-B-100 dan
Apo-C. trigliserida VLDL dihidrolisis oleh lipase lipoprotein menghasilkan asam
lemak bebas untuk disimpan didalam jaringan seperti di otot jantung dan otot
rangka. Hasil dari deplesi trigliserida menghasilkan sisa yang disebut
lipoprotein berdensitas menengah (IDL). Partikel LDL mengalami endositosis
secara langsung oleh hati, sisa HDL dikonversi menjadi LDL dengan menghilangkan
trigliserida yang diperantaraioleh lipase hati. Proses tersebut menjelaskan
fenomena klinis pergeseran beta (beta
shift). Peningkatan VLDL dalam plasma dapat disebabkan karena peningkatan
sekresi precursor VLDL dan juga penurunan katabolisme LDL.
LDL (Low Density Lipoproteins). Katabolisme LDL terutama terjadi didalam hepatosit dan
dalam sebagian besar sel bernukleus melibatkan endositosis yang diperantarai
oleh reseptor berafinitas tinggi. Ester kolesteril dari inti LDL kemudian
dihidrolisis, yang menghasilkan kolesterol bebas untuk sintesis membrane sel.
Sel-sel juga mendapatkan kolesterol dari sintesis de-novo melalui suatu jalur
yang melibatkan pembentukan asam mevalonat yang dikatalisis oleh HMG koA
reduktase. Hati memainkan peran utama dalam pengolahan kolesterol tubuh. Tidak
seperti sel lainnya, hepatosit mampu mengeliminasi kolesterol dari tubuh
melalui sekresi kolesterol dalam empedu dan mengkonversikan kolesterol menjadi
asam empedu yang juga disekresikan dalam empedu.
HDL (High Density lipoprotein). Apolipoprotein disekresi oleh hati dan usus. Sebagian besar
lipid dari permukaan satu lapis kilomikron dan VLDL selama liposis. HDL juga
mendapatkan kolesterol dari jaringan perifer dari suatu jalur yang melindungi
homeostasis kolesterol sel. HDL juga dapat membawa ester kolestril langsung ke
hati melalui suatu reseptor pengait/ docking (reseptor scavenger, SR-BI) yang
tidak melakukan endositosis terhadap lipoprotein.
Klasifikasi
Hiperlipidemia
Berdasarkan jenisnya,
hiperlipidemia dibagi menjadi 2, yaitu :
Hiperlipidemia
Primer.
Kelainan genetik
menjadi faktor penyebabnya. Biasanya kelainan ini ditemukan pada waktu
pemeriksaan laboratorium secara kebetulan. Umumnya tidak ada keluhan, kecuali
pada keadaan yang agak berat tamapak adanya xantoma (penumpukan lemak dibawah
jaringan kulit).
Hiperlipidemia
Sekunder.
Pada
jenis ini, peningkatan kadar lipid darah disebabkan oleh suatu penyakit
tertentu, misalnya: diabetes melitus, gangguan tiroid, penyakit hepar &
penyakit ginjal. Hiperlipidemia sekunder bersifat reversible ( berulang ). Ada
juga obat-obatan yang menyebabkan gangguan metabolisme lemak, seperti:
Beta-blocker, diuretik, kontrasepsi oral (Estrogen, Gestagen).
Hiperlipidemia
herediter (hiperlipoproteinemia) adalah kadar kolesterol dan trigliserida yang
sangat tinggi, yang sifatnya diturunkan. Hiperlipidemia herediter mempengaruhi
sistem tubuh dalam fungsi metabolism dan membuang lemak.
Jenis-jenis hiperlipoproteinemia memiliki 5 jenis yang masing-masing
memiliki gambaran lemak darah serta resiko yang berbeda. (Dipiro edisi 6, 2005)
Tipe 1
(Hiperkilomikronemia Familial). Hiperkilomikronemia pada waktu puasa
walaupun jumlah lemak dalam diet normal, menyebabkan peningkatan triasil
gliserol serum yag sangat tinggi. Defisiensi lipase lipoprotein atau
defiensiensi polilipoprotein Cll mormal (jarang). Tipe 1 tidak ada hubungannya
dengan penyakit jantung koroner. Pengobatan: diet rendah lemak. Tidak ada obat
yang efektif untuk hiperlipidemia Tipe 1.
Tipe 2A (Hiperkolesterolemia Familial). Peningkatan LDL dengan kadar VLDL
normal karena penghambatan dalam degradasi LDL sehingga terdapat peningkatan
klesterol serum, tetapi triasilgliserol normal. Disebabkan karena berkurangnya
reseptor LDL normal. Penyakit jantung iskemik terjadi sangat dipercepat.
Pengobatan: diet rendah kolesterol dan rendah lemak jenuh.
Heterozigotkolestiramin atau kolestipol dan/atau lovastatin/mevastatin.
Homozigotseperti diatas ditambah niasin.
Tipe 2B (Hiperlipidemia Kombinasi
Familial). Sama
dengan 2A kecuali VLDL juga meningkat, menyebabkan triasilgliserolserum dan
kolesterol meningkat. Disebabkan produksi VLDL oleh hati berlebihan relatif
sering ditemukan. Pengobatan: Pembatasan kolesterol dan lemak jenuh dalam diet
serta alkohol. Terapi obat sama dengan 2A kecuali heterozigot juga menerima
niasin.
Tipe 3 (Disbetalipoproteinemia
Familial). Konsentrasi
IDL serum meningkat menyebabkan peningkatan kadar triasilgliserol dan
kolesterol. Penyebabnya adalah overproduksi atau IDL kurang kurang digunakan,
karena mutasi apolipoprotein.
Tipe 4 (Hipertrigliseridemia
Familial). Kadar
VLDL meningkat, sedangkan kadar LDL normal atau berkurang, mengakibatkan
kolesterol normal atau meningkat dan peningkatan kadar gliserol yang berbeda.
Penyebab adalah over produksi atau berkurangnya pengeluaran VLDL
triasilgliserol dalam serum. Ini merupakan penyakit relatif umum, mempunyai
sedikit manivesti klinis selain penyakit dari jantung iskemik yang dipercepat.
Pada gangguan ini, pasien biasanya gemuk, diabetik. Juga terlihat pada individu
yang menerima terapi estrogen, hamil pada trimester ketiga atau pecandu
narkoba. Pengobatan: Menurunkan berat badan (jika perlu) sangat penting,
pembatasan diet dalam karbohidrat yang terkontrol, lemak yang diubah, konsumsi
alkohol rendah.
Tipe 5 (Hipertrigliseridemia
Campuran Familial). Kadar
VLDL dan kilomikron serum meningkat. LDL normal atau berkurang. Ini menyebabkan
kadar kolesterol meningkat dan triasilgliserol sangat meningkat. Penyebabnya
adalah peningkatan produksi atau penurunan bersihan VLDL dan kilomikron.Biasanya
suatu kelainan genetic. Paling sering terjadi pada orang dewasa yang gemuk
dan/atau diabetik. Pengobatan: Penurunan berat (jika terjadi) sangat penting,
diet harus mengandung protein, rendah lemak dan karbohidrat yang terkontrol
serta tidak boleh mengkonsumsi alkohol. Jika perlu, terapi obat
termasukniasin, klofibratdan/atau gemfibrozil atau lovastatin.
Patofisiologi Hiperlipidemia:
Kolesterol,
trigliserid, dan fosfolipid dibawa dalam darah sebagai kompleks lipid dan
protein, dikenal sebagai lipoprotein. Peningkatan kolesterol total dan LDL
(Low-Density Lipoprotein) dan penurunan kolesterol HDL (High-Density
Lipoprotein) berhubungan dengan perkembangan penyakit jantung koroner (PJK).
Hipotesis
respon terhadap luka menyatakan bahwa faktor resiko seperti LDL teroksidasi,
luka mekanis terhadap endotelium, peningkatan homostein, serangan imunologi,
atau induksi infeksi yang menginduksi perubahan dalam endotelial dan fungsi
utama membawa kepada disfungsi endotelial dan serangkaian selular yang lama
kelamaan memuncak menjadi aterosklerosis. Gejala klinis yang dapat muncul
adalah angina, infark miokard, aritmia, stroke, penyakit arteri perifer,
aneurisme pada aorta abdomen dan kematian mendadak.
Lesi
aterosklerosis diduga berkembang dari transport dan retensi LDL plasma melalui
lapisan sel endotelial ke dalam matriks selular daerah subendotelial. Pada
dinding arteri, LDL dimodifikasi secara kimia dalam proses oksidasi dan glikasi
nonenzimatik. Perlahan-lahan LDL teroksidasi menarik monosit ke dalam didinding
arteri. Monosit-monosit ini akan berubah menjadi makrofak yang mempercepat
oksidasi LDL.
LDL
teroksidasi mempengaruhi respon inflamai yang dimediasi oleh beberapa zat kimia
penarik dan sitokin (misalnya faktor stimulasi-koloni-monosit(MCSF), molekul
adhesi intraseluler, faktor pertumbuhan penurunan-platelet(PDGF), faktor
pertumbuhan transformasi (TGF), inetrleukin-1, interleukin-6).
Luka
yang berulang dan perbaikan dan perbaikan plak aterosklerosis akhirnya mengarah
kepada perlindungan fibrous cap yang
mendasari oleh inti lipid, kolagen, kalsium, dan sel inflamatori seperti
limfosit T. Pemiliharan fibrous plak
sangat untuk mencegah hancurnya plak dan diikuti oleh trombosis koronari.
Terjadinya
oksidasi dan respon inflamasi dikendalikan secara genetik dan primer atau
penyakit genetik lipoprotein diklasifikasikan ke dalam enam kategori untuk
penjelasan fenotip hiperlipidemia. Tipe dan peningkatan lipoprotein yang
berhubungan adalah: I (kilpmikron), IIa (LDL), Iib (LDL+VLDL atau Very Low
Density Lipoprotein), III (IDL atau Intermediate Density Lipoprotein), IV
(VLDL) dan V (VLDL+ kilomikron). Bentuk hiperlipidemia sekunder juga dapat
terjadi dan beberapa obat dapat meningkatan lipid ( seperti progedtin, diuretik
tiazid, glukokortiroid, β bloker, isotretionin, inhibitor protease, siklosporin,
mirtazapin, sirolimus).
Kerusakan
primer pada hiperkolesterol familial adalah ketidakmampuan peningkatan LDL
terhadap reseptor LDL (LDL-R) atau jarang terjadi, kerusakan pencernaan
kompleks LDL-R ke dalam sel setengah peningkatan normal. Hal ini mengarah pada
kurangnya degradasi LDL oleh sel dan tidak teraturnya biosintesis kolesterol,
dengan jumlah kolesterol total dan LDL tidak seimbang dengan kurangnya reseptor
LDL.
Etiologi Hiperlipidemia
Hiperlipidemia
biasanya disebabkan oleh:
Faktor primer, yaitu faktor keturunan (genetik)
Faktor sekunder, yaitu: Riwayat keluarga dengan
hiperlipidemia, obesitas, diet kaya lemak, kurang melakukan olahraga, penggunaan
alkohol, merokok, diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, kelenjar tiroid
yang kurang aktif.
Sebagian
besar kasus peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol total bersifat
sementara dan tidak berat, dan terutama merupakan akibat dari makan lemak. Pada
setiap orang pembuangan lemak dari darah memiliki kecepatan yang berbeda.
Seseorang bisa makan sejumlah besar lemak hewani dan tidak pernah memiliki
kadar kolesterol total yang ketat dan tidak pernah memiliki kadar kolesterol
lebih dari 200 mg/dL, sedangkan yang lainnya menjalani diet rendah lemak yang
ketat dan tidak pernah memiliki kadar kolesterol total dibawah 260 mg/dL.
Perbedaan ini bersifat genetic dan secara luas berhubungan dengan perbedaan
kecepatan masuk dan keluarnya dari aliran darah.
Gejala
hiperlipidemia
Biasanya
kadar lemak yang tinggi tidak menimbulkan gejala. Kadang-kadang, jika kadarnya
sangat tinggi, endapan lemak akan membentuk suatu pertumbuhan yang disebut
xantoma di dalam tendo (urat daging) dan di dalam kulit. Kadar trigliserida yang
sangat tinggi (sampai 800 mg/dl atau lebih ) bisa menyebabkan pembesaran hati
dan limpa dan gejala-gajala dari pankreatitis (misalnya nyeri perut yang hebat)
Diagnosis
Hiperlipidemia
Jika
pemeriksaan fisik dan sejarah tidak cukup untuk mendiagnosis penyakit familial,
maka elektroforesislipoprotein gel-agarosa berguna untuk memeriksa kelas mana
yang mempengaruhi lipoprotein. Jika kadar trigliserid dibawah 400mg/dl, dan
baik hiperlipidemia tipe III atau kilomikron tidak terdeteksi dengan
elektroforesis, maka salah satu dapat menghitunh konsentrasi LDL atau VLDL:
VLDL= trigliserid/5: LDL= kolesterol total – (VLDL + HDL). Uji awal menggunakan
kolesterol total untuk menemukan msalah, tapi pengaturan yang berhubungan harus
didasarkan pada LDL.
Karena
kolesterol total tersusun atas turunan kolesterol dari LDL, VLDL dan HDL,
pemeriksaan HDL berguna ketika kolesterol plasma meningkat, HDL dapat meningkat
dengan asupan alkohol cukup(kurang dari dua kali minum sehari), olahraga,
berhenti merokok, pengurangan bobot badan , kontrasepsi oral, fenitoin dan
terbutalin. HDL dapat menurun karena merokok, obesitas, gaya hidup yang pasif,
dan obat-obat seperti β bloker.
Diagnosis
difisiensi lipoprotein lipase berdasarkan kurang atau hilangnya aktivitas enzim
pada plasma normal manusia atau apolipoprotein C-II, yang merupakan kofaktor
enzim.
Tujuan
terapi
Tujuan dilakukan terapi adalah mengusahakan agar kadar lipid darah
mencapai kadar yang aman, menurunkan kolesterol total dan LDL, serta mengurangi resiko pertama/berulang dari
infark miokard, angina gagal jantung, stroke reiskemia atau kejadian lain pada
penyakit arterial perifer seperti karotid stenosis atau aneurisme arteri
abdominal.
Untuk
setiap penurunan 1% LDL, maka terjadi penurunan resiko penyakit jantung koroner
sebanyak 1%.
Untuk
setiap 1% HDL, maka terjadi penurunan resiko penyakit jantung koroner sebesar
2%.
Terapi Non Farmakologi
Diet
rendah kolesterol dan rendah lemak jenuh akan mengurangi kadar LDL. Olah
raga bisa membantu mengurangi kadar kolesterol LDL danmenambah kadar kolesterol
HDL. Biasanya pengobatan terbaik untuk orang-orang yang memiliki kadar
kolesterol atau trigliserida tinggi adalah:
Menurunkan berat badan jika mereka mengalami kelebihan berat badan. Berhenti
merokok Mengurangi asupan lemak jenuh dan menggantikan dengan lemak tak jenuh
di dalam makanan. Menambah porsi olahraga ringan secara teratur
Terapi Farmakologi
Statin. Statin merupakan pilihan pertama
karena merupakan agen penurun LDL paling ampuh. Saat ini produk yang tersedia
termasuk lovastatin, pravastatin, simvastatin, fluvastatin, dan atorvastatin.
Rosuvastatin adalah statin paling ampuh saat ini di pasar. Waktu paruh plasma
semua statin yang dilaporkan pendek, kecuali untuk atorvastatin dan
rosuvastatin. Dalam studi perbandingan Efikasi-Dosis Atorvastatin, Simvastatin,
Pravastatin, Lovastatin, dan Fluvastatin pada Penderita Hiperkolesterolemia,
atorvastatin ditemukan menjadi obat yang paling manjur untuk menurunkan
kolesterol total dan LDL-C. Terapi obat pada hiperlipidemia sebaiknya dihindari
pada wanita yang mungkin akan hamil atau sedang menyusui.
Niasin. Niasin merupakan vitamin yang larut
dalam air, menghambat lipolisis dengan kuat dalam jaringan lemak penghasil
utama asam lemak bebas yang beredar. Niasin menyebabkan penurunan sintesis
triasilgliserol yang diperlukan untuk produksi VLDL (lipoprotein densitas sangat
rendah). Lipoprotein densitas rendah (LDL, lipoprotein kaya kolesterol) berasal
dari VLDL dalam plasma, karena itu reduksi VLDL juga mengakibatkan penurunan
konsentrasi LDL plasma. Dengan demikian, baik triasilgliserol (dalam VLDL) dan
kolesterol (dalam VLDL dan LDL) dalam plasma menjadi lebih rendah. Selanjutnnya
pengobatan dengan niasin akan meningkatkan kadar kolesterol HDL (HDL merupakan
karier kolesterol yang “baik”). Niasin merendahkan kadar plasma kolesterol dan
triasilgliserol. Karena itu, obat ini berguna pada pengobatan
hiperlipoproteinemia tipe IIB dan IV dengan VLDL dan LDL naik. Niasin juga
digunakan untuk pengobatan hiperkolesterolemia lain yang berat, sering dengan
kombinasi antihiperlipidemia lain. Selain itu, obat ini merupakan obat antihiperlipidemia
paling poten untuk meningkatkan kadar HDL plasma.
Gemfibrozil. Gemfibrozil adalah turunan generasi
pertama asam fibrat turunan dari klofibrat. Gemfibrozil menyerupai obat induk
secara farmakologi dalam menurunkan VLDL dan meningkatkan aktivitas lipoprotein
lipase.Gemfibrozil meningkatkan glikolisis trigliseridalipoprotein melalui
lipoprotein lipase. Lipolisis intraseluler pada jaringan lemak berkurang. Kadar
VLDL dalam plasma menurun, mungkin sebagian disebabkan penurunan sekresi oleh
hati. Obat ini berguna untuk hipertrigliseridemia dimana VLDL lebih menonjol
dan pada disbetalipoproteinemia. Biasa nyadosis gemfibrozl 600 mgperoral sekali
sehari atau 2x sehari.
Resin
pengikat asam empedu (BAR): Tindakan utama BAR adalah mengikat asam empedu di dalam
lumenusus, bersamaan dengan gangguan sirkulasi enterohepatic asam empedu dan
nyata meningkatkan ekskresi asam steroid dalam tinja. Tindakan ini mengurangi
jumlah asam empedu dan merangsang sintesis asam empedu dari kolesterol.
Menipisnya jumlah kolesterol dalam biosintesis kolesterol meningkat dan
meningkatkan jumlah reseptor LDL pada membran hepatosit. Peningkatan
jumlah reseptor menstimulasi katabolisme dari plasma dan menurunkan kadar LDL.
BAR juga mengurangi CETP, yang berkorelasi dengan konsentrasi kolesterol total
dan LDL-C, mungkin dengan mengganggu kadar kolesterol hati mikrosoma, namun
efek ini tidak begitu besar seperti dengan statins. BAR umumnya tidak efektif
pada pasien dengan hiperkolesterolemia familial homozigot karena genetik individu
tidak memiliki kemampuan untuk meningkatkan sintesis reseptor LDL.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 12
2012/2013. Jakarta : PT. Bhuana Ilmu Popular (Kelompok Gramedia).
British
Columbia. 2013. Healthy Eating Guidelines
for People with Peptic Ulcer. The Global Resource for Nutrition Practice.
Canada : British Columbia.
Chobaniam AV et
al. 2003. Seventh Report of the Joint National Committee onPrevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure.JAMA.289 :
2560-2572.
Dipiro, et al. 2005. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach
sixth edition. McGraw-Hill.
JNC VIII (The Eight Report of The Join
National Commite), 2003, Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, National High Blood
Pressure Education Program, NIH Publication No . 03-52 33.
Katzung, Bertam G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 8.
Jakarta : Salemba Medica Glance.
Ling, W.H., Cheng, Q.X., Ma, J. dan
Wang, T. 2001. Red and black rice decrease atherosclerotic plaque formation and
increase antioxidant status in rabbits. Journal
of Nutrition. 131: 1421-1426.
MIMS. http://www.mims.com/Indonesia/drug/search/?q=tonar
(diakses tanggal 29 Maret 2015).
Priyanto. 2009. Farmakoterapi & Terminologi Medis. Depok: Leskonfi. 208-211.
Sukandar E.Y., Andrajati R.,
Sigit J.I., Adnyana I.K., Setiadi A.A.P., dan Kusnandar. 2009. ISO
Farmakoterapi. Jakarta : PT.ISFI.
Wells, B.G., Dipiro, J.T.,
Schwinghammer, T.L., dan Dipiro, C.V. (2009). Pharmacotherapy Handbook (7 th ed). New York: The McGraw-Hill
Medical., 98, 101, 103-107.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar