Kamis, 03 November 2016

Konstipasi

 
Sembelit digambarkan sebagai sulit atau jarangnya terjadi pergerakan usus, terasa lelah saat buang air besar karena kerasnya tinja (Lee, A. 2011).  Konstipasi adalah: periode buang air besar (BAB) kurang dari 3 kali seminggu untuk wanita dan 5 kali seminggu untuk laki-laki, atau periode lebih dari 3 hari tanpa pergerakan usus. BAB yang dipaksakan lebih dari 25% dari keseluruhan waktu dan atau 2 kali atau kurang BAB setiap minggu. Ketegangan saat defekasi dan kurang dari 1 kali BAB per hari dengan usaha yang minimal. (ISO Far hal 372)

Patofisiologi penyakit
Konstipasi bukan suatu penyakit tetapi merupakan gejala yang mengindikasikan adanya penyakit atau masalah. Yang dapat menyebabkan konstipasi antara lain kelainan saluran pencernaan (contoh divertikulitis), gangguan metabolism (contoh : diabetes), gangguan endokrin (contoh : Hipotiroidism).Konstipasi pada umumnya terjadi akibat dari rendahnya konsumsi serat atau penggunaan obat-obat yang dapat menimbulkan konstipasi seperti opiate. Konstipasi kadang-kadang dapat juga diakibatkan oleh factor psikologis.

Penyakit atau kondisi yang dapat menimbulkan konstipasi : Gangguan saluran pencernaan: Obstruksi gastroduodonal akibat ulser atau kanker. Irritable bowel syndrome. Diverticulities. Hemorrhoids, anal fissures. Ulcerative proctitis. Tumor. Gangguan metabolisme dan endokrin: Diabetes mellitus. Hipotiroidism. Panhipopituitarism. Peokromositoma. Hiperkalsemia. Kehamilan. Konstipasi Neurogenik: Head trauma. Central nervous system tumors. Stroke. Parkinson’s disease. Konstipasi psikogenik: Gangguan psikiatri. Inappropriate bowel habits. Obat-obat yang menginduksi konstipasi: Analgesik (Penghambat sintesis prostaglandin, Opiat). Antikolinergik (Antihistamin, Antiparkinson, Fenotiazin). Antidepresan trisiklik. Antasida yang mengandung kalsium karbonat atau aluminium hidroksida. Barium sulfat. Blok kanal kalsium. Klonidin, Diuretik (nonpotassium sparing), Ganglion blokers, Preparat besi, Muscle blockers (d-tubokurarin, suksinilkolin), Polistiren sodium sulfonat.

Pemberian opiat peroral memiliki efek penghambatan pada saluran cerna lebih besar dibandingkan pemberian parenteral. (ISO)

Gejala spesifik penyakit
Pasien mengeluh tentang rasa tidak nyaman dan kembung pada perut, pergerakan usus yang hilang timbul, feses dengan ukuran kecil, perasaan penuh, atau kesulitan dan sakit pada saat mengeluarkan feses. Implikasi dari konstipasi dapat bervariasi mulai dari rasa tidak nyaman sampai gejala kanker usus besar atau penyakit serius lainnya.

Data Laboratorium dan Tanda – Tanda Vital
Tes fungsi tiroid , Protoscopy, Sigmoidoskopi, Kolonoskopi, Barium enema.

Terapi Farmakologi
Golongan obat untuk terapi penyakit dan mekanisme kerjanya: Senyawa yang dapat melunakkan feses dalam 1-3 hari (metil selulosa, emolien laktulosa, sorbitol, manitol). Senyawa yang dapat menghasilkan feses lunak atau semifluid dalam 6-12 jam (Bisakodil, fenolftalin, kaskara sagrada, senna, magnesium sulfat dosis rendah). Senyawa yang mempermudah pengosongan usus dalam 1-6 jam (Magnesium sulfat, magnesium hidroksida, magnesium sulfat, natrium fosfat, bisakodil, polietilen glikol).

Obat pilihan utama
First line dari konstipasi adalah : Kombinasi umum yang digunakan adalah pelunak feses dan stimulant peristaltic. Pelunak Feses (Coloxyl 1 – 2 x 120 mg tablet peroral, Nocte. Makrogol (Movicol) 1-2 sachet pada 125-250 ml air. Secara oral. 1-2 jam per hari). Stimulan Peristaltik (Senna 1-2 x 7,5 mg tablet Nocte. Bisacodyl 1-2 x 5 mg tablet Nocte)

Bulk forming agent. Sebagai terapi tambahan pada modifikasi makanan sehingga dapat meningkatkan konsumsi serat.

Emolient laxative. Emolien merupakan surfaktan yang bekerja dengan membantu pencampuran air dan lemak yang terdapat dalam saluran cerna, meningkatkan sekresi air dan elektrolit di usus kecil dan usus besar. Emolien menghasilkan feses yang lunak dalam 1-3 hari, sehingga banyak digunakan untuk mencegah konstipasi.

Lubrikan. Minyak mineral merupakan laksatif yang sering digunakan dan bekerja dengan melapisi feses sehingga meningkatkan berat feses dan menurunkan waktu transit feses. Efek senyawa ini terhadap fungsi usus terlihat setelah 2-3 hari. Efek samping : minyak mineral diabsorpsi secara sistemik, sehingga dapat mengakibatkan reaksi antibody dalam jaringan limfoid. Pada pasien yang terbaring, minyak mineral dapat terhirup dan menyebabkan lipoid pneumonia.

Laktulosa. Laktulosa merupakan disakarida yang menyebabkan efek osmotik pada usus besar, digunakan sebagai senyawa alternatif untuk konstipasi akut dan bermanfaat pada pasien usia lanjut. Penggunaan laktulosa dapat menghasilkan pembentukan gas dalam jumlah berlebihan di lambung atau usus, kejang, diare dan ketidakseimbangan elektrolit.

Derivat difenilmetan (bisakodil dan fenolftalein). Bisakodil merangsang pleksus saraf mukosa kolon. Senyawa ini hanya untuk pengobatan konstipasi atau persiapan usus dalam prosedur diagnostik. Penggunaan laksatif yang mengandung fenolftalein dapat menimbulkan urin berwarna merah jambu.

Derivat antrakuinon. Senyawa yang termasuk kelompok ini adalah cascara sagrada, sennosida, casanthrol. Efek senyawa ini terbatas pada kolon dan dapat melibatkan stimulasi plexus Auerbach’s.

Saline Cathartics. Saline Cathartics terdiri dari ion-ion yang sulit diabsorpsi seperti magnesium, sulfat, fosfat dan sitrat, yang memiliki efek osmotik dalam menahan cairan di saluran cerna. Senyawa ini dapat diberikan secara oral atau melalui rektal, pergerakan usus terjadi dalam beberapa jam setelah pemberian peroral dan dalam 1 jam atau kurang setelah pemberian secara rektal. Senyawa ini sebaiknya digunakan untuk pengosongan usus yang dibutuhkan sebelum prosedur diagnosis, keracunan dan penggunaan bersama antelmintik untuk mengeluarkan parasit.

Minyak jarak (castor oil). Minyak jarak dimetabolisme di dalam saluran cerna menjadi asam risinoleat yang merangsang proses sekresi, mengurangi absorpsi glukosa, dan meningkatkan motilitas saluran cerna terutama usus halus. Minyak jarak umumnya menghasilkan pergerakan usus dalam waktu 1-3 jam setelah pemberian.

Gliserin. Gliserin umumnya diberikan dalam bentuk supositoria 3 gram dan efeknya dihasilkan melalui aksi osmotik pada rectum, onsetnya kurang dari 30 menit. Gliserin dapat menimbulkan iritasi rektum.
v  Polyethylene Glycol-Electrolyte Lavage Solution (PEG-ELS)
Larutan ini digunakan untuk membersihkan kolon sebelum dilakukan prosedur diagnostik atau operasi kolorektal. Empat liter larutan ini yang diberikan dalam waktu 3 jam mencapai pengosongan saluran cerna secara sempurna.

Terapi Non-farmakologis
Aktivitas Fisik. Kurangnya aktivitas fisik berhubungan dengan peningkatan dua kali lipat risiko konstipasi. Tirah baring dan imobilisasi berkepanjangan juga sering dihubungkan dengan konstipasi.

Latihan. Sebagian kemampuan defekasi merupakan suatu refl eks yang dikondisikan. Sebagian besar pasien dengan pola defekasi teratur melaporkan bahwa pengosongan saluran cernanya pada saat yang hampir sama setiap hari. Saat optimal untuk defekasi adalah segera setelah bangun tidur dan setelah makan, saat transit kolon tersingkat. Pasienpasien harus mengenali dan merespons keinginan defekasi, jika gagal dapat mengakibatkan menumpuknya feses yang berlanjut diabsorpsi cairan yang membuat nya makin sulit dikeluarkan.

Posisi Saat Defekasi. Suatu penelitian yang membandingkan posisi-posisi defekasi menyimpulkan bahwa pasien harus dimotivasi untuk mengadopsi posisi setengah berjongkok atau “semisquatting” untuk defekasi. Kebanyakan orang tidak terbiasa dengan posisi berjongkok, tetapi dapat dibantu dengan menggunakan pijakan kaki dan membungkuk badan ke depan saat di toilet. Bantal juga dapat digunakan untuk membantu untuk menguatkan otot-otot abdomen.

Konsumsi Air. Konsumsi air adalah kunci penatalaksanaan, pasien harus dianjurkan minum setidaknya 8 gelas air per hari (sekitar 2 liter per hari). Konsumsi kopi, teh, dan alkohol dikurangi semaksimal mungkin atau konsumsi segelas air putih ekstra untuk setiap kopi, teh, atau alkohol yang diminum.

Serat. Meningkatkan konsumsi serat umum direkomendasikan sebagai terapi awal konstipasi. Rekomendasi makanan tinggi serat (buah dan sayur) atau suplemen suplemen serat Psyllium (kulit ari ispaghula/ ispaghula husk, metilselulosa, polycarbophil, atau kulit padi/bran) perlu dilanjutkan selama 2-3 bulan sebelum ada perbaikan gejala yang bermakna. Pendekatan ini hanya efektif pada sebagian pasien dan masih sedikit bukti penelitian klinis yang mendukung cara ini.

KIE spesifik penyakit
Jangan jajan di sembarang tempat. Hindari makanan yang kandungan lemak dan gulanya tinggi. Minum air putih minimal 1,5 sampai 2 liter air (kira-kira 8 gelas) sehari dan cairan lainnya setiap hari. Olahraga, seperti jalan kaki (jogging) bisa dilakukan, minimal 10 – 15 menit untuk olahraga ringan, dan minimal 2 jam untuk olahraga yang lebih berat. Biasakan buang air besar secara teratur dan jangan suka menahan buang air besar. Konsumsi makanan yang mengandung serat secukupnya, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. Tidur minimal 4 jam sehari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar