Sembelit
digambarkan sebagai sulit atau jarangnya terjadi pergerakan usus, terasa lelah
saat buang air besar karena kerasnya tinja (Lee, A. 2011). Konstipasi
adalah: periode
buang air besar (BAB) kurang dari 3 kali seminggu untuk wanita dan 5 kali
seminggu untuk laki-laki, atau periode lebih dari 3 hari tanpa pergerakan usus. BAB yang dipaksakan
lebih dari 25% dari keseluruhan waktu dan atau 2 kali atau kurang BAB setiap
minggu. Ketegangan
saat defekasi dan kurang dari 1 kali BAB per hari dengan usaha yang minimal.
(ISO Far
hal 372)
Patofisiologi penyakit
Konstipasi
bukan suatu penyakit tetapi merupakan gejala yang mengindikasikan adanya
penyakit atau masalah. Yang dapat menyebabkan
konstipasi antara lain kelainan saluran pencernaan (contoh divertikulitis),
gangguan metabolism (contoh : diabetes), gangguan endokrin (contoh :
Hipotiroidism).Konstipasi pada umumnya terjadi akibat dari rendahnya konsumsi
serat atau penggunaan obat-obat yang dapat menimbulkan konstipasi seperti
opiate. Konstipasi
kadang-kadang dapat juga diakibatkan oleh factor psikologis.
Penyakit
atau kondisi yang dapat menimbulkan konstipasi : Gangguan
saluran pencernaan: Obstruksi
gastroduodonal akibat ulser atau kanker. Irritable bowel
syndrome. Diverticulities. Hemorrhoids, anal fissures. Ulcerative proctitis. Tumor. Gangguan
metabolisme dan endokrin: Diabetes
mellitus. Hipotiroidism. Panhipopituitarism. Peokromositoma. Hiperkalsemia. Kehamilan. Konstipasi
Neurogenik: Head
trauma. Central
nervous system tumors. Stroke. Parkinson’s disease. Konstipasi
psikogenik: Gangguan
psikiatri. Inappropriate bowel habits. Obat-obat
yang menginduksi konstipasi: Analgesik (Penghambat sintesis
prostaglandin, Opiat). Antikolinergik (Antihistamin, Antiparkinson, Fenotiazin). Antidepresan trisiklik. Antasida yang
mengandung kalsium karbonat atau aluminium hidroksida. Barium sulfat. Blok kanal kalsium. Klonidin, Diuretik (nonpotassium sparing), Ganglion blokers, Preparat besi, Muscle
blockers (d-tubokurarin, suksinilkolin), Polistiren sodium
sulfonat.
Pemberian
opiat peroral memiliki efek penghambatan pada saluran cerna lebih besar
dibandingkan pemberian parenteral. (ISO)
Gejala spesifik penyakit
Pasien
mengeluh tentang rasa tidak nyaman dan kembung pada perut, pergerakan usus yang
hilang timbul, feses dengan ukuran kecil, perasaan penuh, atau kesulitan dan
sakit pada saat mengeluarkan feses. Implikasi dari
konstipasi dapat bervariasi mulai dari rasa tidak nyaman sampai gejala kanker
usus besar atau penyakit serius lainnya.
Data Laboratorium dan Tanda – Tanda Vital
Tes
fungsi tiroid , Protoscopy, Sigmoidoskopi, Kolonoskopi, Barium enema.
Terapi Farmakologi
Golongan
obat untuk terapi penyakit dan mekanisme kerjanya: Senyawa yang dapat melunakkan feses
dalam 1-3 hari (metil selulosa, emolien laktulosa, sorbitol, manitol). Senyawa yang dapat
menghasilkan feses lunak atau semifluid dalam 6-12 jam (Bisakodil, fenolftalin,
kaskara sagrada, senna, magnesium sulfat dosis rendah). Senyawa yang
mempermudah pengosongan usus dalam 1-6 jam (Magnesium sulfat, magnesium
hidroksida, magnesium sulfat, natrium fosfat, bisakodil, polietilen glikol).
Obat
pilihan utama
First
line dari konstipasi adalah : Kombinasi
umum yang digunakan adalah pelunak feses dan stimulant peristaltic. Pelunak Feses (Coloxyl 1 – 2 x 120 mg
tablet peroral, Nocte. Makrogol
(Movicol) 1-2 sachet pada 125-250 ml air. Secara oral. 1-2 jam per hari). Stimulan Peristaltik (Senna 1-2 x 7,5 mg
tablet Nocte. Bisacodyl
1-2 x 5 mg tablet Nocte)
Bulk forming agent. Sebagai terapi tambahan
pada modifikasi makanan sehingga dapat meningkatkan konsumsi serat.
Emolient laxative. Emolien merupakan
surfaktan yang bekerja dengan membantu pencampuran air dan lemak yang terdapat
dalam saluran cerna, meningkatkan sekresi air dan elektrolit di usus kecil dan
usus besar. Emolien menghasilkan feses yang lunak dalam 1-3 hari, sehingga
banyak digunakan untuk mencegah konstipasi.
Lubrikan. Minyak mineral
merupakan laksatif yang sering digunakan dan bekerja dengan melapisi feses
sehingga meningkatkan berat feses dan menurunkan waktu transit feses. Efek
senyawa ini terhadap fungsi usus terlihat setelah 2-3 hari. Efek samping :
minyak mineral diabsorpsi secara sistemik, sehingga dapat mengakibatkan reaksi
antibody dalam jaringan limfoid. Pada pasien yang terbaring, minyak mineral
dapat terhirup dan menyebabkan lipoid pneumonia.
Laktulosa. Laktulosa merupakan
disakarida yang menyebabkan efek osmotik pada usus besar, digunakan sebagai
senyawa alternatif untuk konstipasi akut dan bermanfaat pada pasien usia
lanjut. Penggunaan laktulosa dapat menghasilkan pembentukan gas dalam jumlah
berlebihan di lambung atau usus, kejang, diare dan ketidakseimbangan
elektrolit.
Derivat
difenilmetan (bisakodil dan fenolftalein). Bisakodil
merangsang pleksus saraf mukosa kolon. Senyawa ini hanya untuk pengobatan
konstipasi atau persiapan usus dalam prosedur diagnostik. Penggunaan laksatif
yang mengandung fenolftalein dapat menimbulkan urin berwarna merah jambu.
Derivat
antrakuinon. Senyawa
yang termasuk kelompok ini adalah cascara sagrada, sennosida, casanthrol. Efek
senyawa ini terbatas pada kolon dan dapat melibatkan stimulasi plexus Auerbach’s.
Saline Cathartics. Saline
Cathartics terdiri dari ion-ion yang sulit
diabsorpsi seperti magnesium, sulfat, fosfat dan sitrat, yang memiliki efek
osmotik dalam menahan cairan di saluran cerna. Senyawa ini dapat diberikan
secara oral atau melalui rektal, pergerakan usus terjadi dalam beberapa jam
setelah pemberian peroral dan dalam 1 jam atau kurang setelah pemberian secara
rektal. Senyawa ini sebaiknya digunakan untuk pengosongan usus yang dibutuhkan
sebelum prosedur diagnosis, keracunan dan penggunaan bersama antelmintik untuk
mengeluarkan parasit.
Minyak
jarak (castor oil). Minyak
jarak dimetabolisme di dalam saluran cerna menjadi asam risinoleat yang
merangsang proses sekresi, mengurangi absorpsi glukosa, dan meningkatkan
motilitas saluran cerna terutama usus halus. Minyak jarak umumnya menghasilkan
pergerakan usus dalam waktu 1-3 jam setelah pemberian.
Gliserin. Gliserin umumnya
diberikan dalam bentuk supositoria 3 gram dan efeknya dihasilkan melalui aksi
osmotik pada rectum, onsetnya kurang dari 30 menit. Gliserin dapat menimbulkan
iritasi rektum.
v Polyethylene
Glycol-Electrolyte Lavage Solution (PEG-ELS)
Larutan
ini digunakan untuk membersihkan kolon sebelum dilakukan prosedur diagnostik
atau operasi kolorektal. Empat liter larutan ini yang diberikan dalam waktu 3
jam mencapai pengosongan saluran cerna secara sempurna.
Terapi Non-farmakologis
Aktivitas Fisik. Kurangnya aktivitas fisik berhubungan dengan peningkatan dua
kali lipat risiko konstipasi. Tirah baring dan imobilisasi berkepanjangan juga
sering dihubungkan dengan konstipasi.
Latihan. Sebagian kemampuan defekasi merupakan suatu refl eks yang
dikondisikan. Sebagian besar pasien dengan pola defekasi teratur melaporkan
bahwa pengosongan saluran cernanya pada saat yang hampir sama setiap hari. Saat
optimal untuk defekasi adalah segera setelah bangun tidur dan setelah makan,
saat transit kolon tersingkat. Pasienpasien harus mengenali dan merespons
keinginan defekasi, jika gagal dapat mengakibatkan menumpuknya feses yang
berlanjut diabsorpsi cairan yang membuat nya makin sulit dikeluarkan.
Posisi Saat Defekasi. Suatu penelitian yang membandingkan
posisi-posisi defekasi menyimpulkan bahwa pasien harus dimotivasi untuk
mengadopsi posisi setengah berjongkok atau “semisquatting” untuk
defekasi. Kebanyakan orang tidak terbiasa dengan posisi berjongkok, tetapi
dapat dibantu dengan menggunakan pijakan kaki dan membungkuk badan ke depan
saat di toilet. Bantal juga dapat digunakan untuk membantu untuk menguatkan
otot-otot abdomen.
Konsumsi Air. Konsumsi air adalah kunci
penatalaksanaan, pasien harus dianjurkan minum setidaknya 8 gelas air per hari
(sekitar 2 liter per hari). Konsumsi kopi, teh, dan alkohol dikurangi
semaksimal mungkin atau konsumsi segelas air putih ekstra untuk setiap kopi,
teh, atau alkohol yang diminum.
Serat. Meningkatkan konsumsi serat umum direkomendasikan sebagai
terapi awal konstipasi. Rekomendasi makanan tinggi serat (buah dan sayur) atau
suplemen suplemen serat Psyllium (kulit ari ispaghula/ ispaghula
husk, metilselulosa, polycarbophil, atau kulit padi/bran)
perlu dilanjutkan selama 2-3 bulan sebelum ada perbaikan gejala yang bermakna.
Pendekatan ini hanya efektif pada sebagian pasien dan masih sedikit bukti
penelitian klinis yang mendukung cara ini.
KIE spesifik penyakit
Jangan jajan di sembarang tempat. Hindari makanan yang kandungan
lemak dan gulanya tinggi. Minum
air putih minimal 1,5 sampai 2 liter air (kira-kira 8 gelas) sehari dan cairan
lainnya setiap hari. Olahraga,
seperti jalan kaki (jogging) bisa dilakukan, minimal 10 – 15 menit untuk
olahraga ringan, dan minimal 2 jam untuk olahraga yang lebih berat. Biasakan
buang air besar secara teratur dan jangan suka menahan buang air besar. Konsumsi makanan yang
mengandung serat secukupnya, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. Tidur minimal 4 jam
sehari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar