Kamis, 03 November 2016

Tiga Anak Singa HOS Cokroaminoto

 
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, ia lahir di Tegalsari, Ponorogo. Anak pejabat pemerintah Ponorogo, cucu dari bupati Ponorogo RM Adipato Cokronegoro. Seperti kita kerahui bahwa Tjokroaminoto yang bergelar Raja Jawa Tanpa Mahkota ini adalah guru dari tiga tokoh besar bapak pendiri bangsa dari negara kita, Indonesia. Pertama Soekarno (Nasionalis), kedua Musso (Komunis), dan yang ketiga Kartosuwiryo (Agamis). Ketiganya, pada masa perjuangan sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Walau pada akhirnya, setelah negara berdiri perang ideologi jadi tak terelakkan lagi.

Pertama Soekarno, presiden pertama Indonesia, mengkampanyaken ideologi nasionalismenya lewat partai PNI (Partai Nasional Indonesia). Kedua Musso menyebarkan ideologi komunisnya lewat PKI (Partai Komunis Indonesia). Kemudian Kartosuwiryo yang menebarkan faham radikalnya lewat partai warisan gurunya di Sarekat Islam, PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia. Dimana saat gesekan ketiganya sempat terjadi sampai sedemikian gentingnya hingga Soekarno berinisiatif menyatukan ketiga ideologi itu menjadi NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis), tapi gagal.

Dr, Ir, H, Soekarno atau Koesno Sosrodihardjo, lahir di Surabaya dan bertemu dengan Kartosuwiryo saat tinggal satu kost di rumah gurunya HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Kenal dengan Musso juga saat sama-sama sedang menimba ilmu di HBS. Kelak, Soekarno sendiri yang akhirnya “membunuh” kedua sahabatnya itu. Musso tewas di Ponorogo oleh pasukan TNI dari Devisi Siliwangi lalu jasadanya dibakar secara diam-diam, sementara Kartosuwiryo ditembak mati di Kepulauan Seribu kemudian jasadnya dimandikan pakai air laut lalu dikubur tanpa nisan setelah berita acara hukuman mati ditatandatangani oleh sahabat dekatnya masa sekolah dulu, Soekarno.

 Musso atau Paul Mossotte, yang waktu kecil bernama Muso Manowar itu lahir di Kediri. Semenjak negara ini berdiri pada 1945, tercatat Partai Komunis yang digawanginya sudah dua kali memberontak pada negara. Pemberontakan pertama di Madiun dan menewaskan dirinya sendiri. Pemberontakan kedua lewat penerusnya di G30S/PKI (entah ini benar atau hanya rekayasa Soeharto dan CIA yang berkepentingan untuk menggulingkan Soekarno) tapi yang jelas sejak saat itu PKI berhasil dipatahkan oleh kaum Nasionalis (TNI), dimana sampai saat ini PKI masih menjadi ideologi terlarang di negeri ini. 

Kartosuwiryo atau Sukarmadji Maridjan Kartosuwiryo lahir di Cepu, Jawa Tengah. Setelah berjuang bersama melawan agresi-agresi militer Belanda dan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Kartosuwiryo sempat dirwari untuk menjadi menteri apa saja asal jangan menteri pertahanan dan mentreri dalam negeri, tapi Kartosuwiryo menolak dengan alasan ia tidak mau jadi menteri kalau dasar negaranya bukan negara islam. Hingga akhirnya memproklamirkan NII (Negara Islam Indonesia) kemudian memberontak pada negara lewat DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Tapi lagi-lagi pemberontakannya gagal dan Kartosuwiryo ditangkap.

Perlu digarisbawahi, meski Kartosuwiryo sudah dihukum mati, tapi faham  islam radikal yang diperjuangkannya belumlah mati. Beda dengan PKI yang sudah dua kali melakukan pemberontakan dan sudah diblacklist oleh negara, NII baru sekali memberontak dan masih ada potensi untuk melakukan pemberontakan keduanya. Apapun itu, Indonesia tetaplah Indonesia. Kultur dan budaya tuan rumah tetap akan jadi  landasan hidup bagi masyarakatnya. Masyarakat Indonesia yang ramah tamah, sopan santun, gotong royong, dan musyawarah.

Dilihat dari kemenangan Soekarno dalam pertarungan tiga anak macan ini, sebetulnya bukanlah pertarungan Soekarno seorang sendiri. Soekarno menang karena berfikiran luas.

Seokarno adalah seorang Sosialis dan Seorang Marxis (yang kemudian dipelesetkan jadi Marhaenis), ideolagi yang sealiran dengan komunis. Jadi, Soekarno seorang Sosialis tapi bukan komunis. Soekarno juga seorang agamis, kedekatanya dengan H Agus Salim yang ahli sufi dan pengamal thoreqoh. Soekarno adalah seorang agamis dan belajar islam langsung pada intinya, itu kenapa Soekarno berkata “Kalau belajar islam jangan ambil abunya, tapi ambi apinya.” Atau boleh diartikan, pahami hakekatnya supaya mengerti syareatnya, sebab orang paham hakekat sudah pasti akan bersyareat, tapi orang paham syareat belum tentu bisa mengerti hakekat. Sedangkan tingkatan iman dalam islam sendiri ada empat. Syareat, Tarekat, Hakekat, kemudian Makrifat.

Soekarno menjiwai ketiga faham ideologi itu, selain daripada itu berkat pengasingannya di NTT, Sumatera, dan Sulawesi soekarno sangat menjiwai Keindonesiaan kita. Hingga lahirlah pancasila dan Nasakom. Walau gagasan nasionalis yang paling berhasil adalah Pancasila.

Sekarang yang perlu diwaspadai adalah generasi penerus dari kelompok radikal yang ingin melanjutkan perjuangan Kartosuwiryo, perjuangan membentuk negara islam dan mendirikan negara khalifah. Jelas dan tandas saya menunjuk dua ormas radikal yang  terang-terangan ingin mengganti ideologi negara, ialah FPI dan HTI yang dalam beberapa kesempatan berani menentang Pancasila. Itu kenapa jelang aksi demo damai 4 November Presiden hanya mengundang Muhammadiyah, PBNU, dan MUI. Karena hanya ketiga organisasi islam terbesar di Indonesia itu yang selain agamis juga berjiwa nasionalis.

Aksi damai membela Al Qur’an itu tidak salah dan tidak perlu dikhawatirkan, yang salah dan perlu dikhawatirkan adalah bila aksi itu disusupi kepentingan-kepentingan lain dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah belah bangsa. Siapa yang berpotensi menyusupi kemarahan umat yang terprovokasi itu? Pertama jelas, Ormas radikal yang ingin mendirikan negara islam, kedua orang-orang yang punya kepentingan politik di Jakarta, dan yang ketiga jelas adalah cukong-cukong dan mafia-mafia yang selama gubernur patahan berkuasa pemasukannya jadi berkurang dan ruang geraknya jadi terbatas.

Aksi bela Al Qur’an sah-sah saja. Bela agama apalagi, wajib hukumnya. Tapi terprovokasi? Nanti dulu!! Kalau PBNU dan Muhammadiyah saja bersikap bijak, kenapa kita harus kekana-kanakan. Percayakan pada pemerintah, biarkan proses hukum berjalan, dan tetap jaga persatuan dan kesatuan. NKRI harga mati, Pancasila tak bisa ditawar lagi, Bhineka Tunggal Ika harus kita mantapkan di dalam hati sanubari. Semangat menjaga negeri dari ancaman perpecahan dan kekacauan yang merugikan. Ingat negara ini sedang gencar-encarnya membangun dari pinggiran, ekonomi tumbuh saat ekonomi global melemah, negara damai adem ayem saat Rusia dan Amerika berseteru di Timur Tengah, dan saat China gencar memprovokasi dunia lewat klaimnya di Laut China Selatan.

Islam di Indonesia adalam islam yang Rohmatal Lil Lamin, Rahmat bagi yang islam dan yang non islam, rahmat bagi yang pribumi dan non pribumi, rahmat bagi Indonesia dan dunia. Bukankan begitu juga Allah, ia merahmati semua makhluknya baik yang taqwa ataupun yang ingkar, baik yang iman ataupun yang kafir, baik yang taat atapun yang kufur. Begitu pula seharusnya manusia yang beragama dan bertuhan, ia harus bisa menjadi rahmat bagi sesamanya, lingkungannya, dan juga bangsa dan negaranya. (Ali Ridwan, 04/11/2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar