Raden Hadji
Oemar Said Tjokroaminoto, ia lahir di Tegalsari, Ponorogo. Anak pejabat
pemerintah Ponorogo, cucu dari bupati Ponorogo RM Adipato Cokronegoro. Seperti
kita kerahui bahwa Tjokroaminoto yang bergelar Raja Jawa Tanpa Mahkota ini
adalah guru dari tiga tokoh besar bapak pendiri bangsa dari negara kita,
Indonesia. Pertama Soekarno (Nasionalis), kedua Musso (Komunis), dan yang
ketiga Kartosuwiryo (Agamis). Ketiganya, pada masa perjuangan sama-sama memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia. Walau pada akhirnya, setelah negara berdiri perang
ideologi jadi tak terelakkan lagi.
Pertama
Soekarno, presiden pertama Indonesia, mengkampanyaken ideologi nasionalismenya
lewat partai PNI (Partai Nasional Indonesia). Kedua Musso menyebarkan ideologi
komunisnya lewat PKI (Partai Komunis Indonesia). Kemudian Kartosuwiryo yang
menebarkan faham radikalnya lewat partai warisan gurunya di Sarekat Islam, PSII
(Partai Sarekat Islam Indonesia. Dimana saat gesekan ketiganya sempat terjadi
sampai sedemikian gentingnya hingga Soekarno berinisiatif menyatukan ketiga
ideologi itu menjadi NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis), tapi gagal.
Dr, Ir, H,
Soekarno atau Koesno Sosrodihardjo, lahir di Surabaya dan bertemu dengan
Kartosuwiryo saat tinggal satu kost di rumah gurunya HOS Tjokroaminoto di
Surabaya. Kenal dengan Musso juga saat sama-sama sedang menimba ilmu di HBS.
Kelak, Soekarno sendiri yang akhirnya “membunuh” kedua sahabatnya itu. Musso
tewas di Ponorogo oleh pasukan TNI dari Devisi Siliwangi lalu jasadanya dibakar
secara diam-diam, sementara Kartosuwiryo ditembak mati di Kepulauan Seribu
kemudian jasadnya dimandikan pakai air laut lalu dikubur tanpa nisan setelah
berita acara hukuman mati ditatandatangani oleh sahabat dekatnya masa sekolah
dulu, Soekarno.
Musso atau Paul Mossotte, yang waktu kecil
bernama Muso Manowar itu lahir di Kediri. Semenjak negara ini berdiri pada
1945, tercatat Partai Komunis yang digawanginya sudah dua kali memberontak pada
negara. Pemberontakan pertama di Madiun dan menewaskan dirinya sendiri.
Pemberontakan kedua lewat penerusnya di G30S/PKI (entah ini benar atau hanya
rekayasa Soeharto dan CIA yang berkepentingan untuk menggulingkan Soekarno)
tapi yang jelas sejak saat itu PKI berhasil dipatahkan oleh kaum Nasionalis
(TNI), dimana sampai saat ini PKI masih menjadi ideologi terlarang di negeri
ini.
Kartosuwiryo
atau Sukarmadji Maridjan Kartosuwiryo lahir di Cepu, Jawa Tengah. Setelah
berjuang bersama melawan agresi-agresi militer Belanda dan setelah Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya, Kartosuwiryo sempat dirwari untuk menjadi
menteri apa saja asal jangan menteri pertahanan dan mentreri dalam negeri, tapi
Kartosuwiryo menolak dengan alasan ia tidak mau jadi menteri kalau dasar
negaranya bukan negara islam. Hingga akhirnya memproklamirkan NII (Negara Islam
Indonesia) kemudian memberontak pada negara lewat DI/TII (Darul Islam/Tentara
Islam Indonesia). Tapi lagi-lagi pemberontakannya gagal dan Kartosuwiryo
ditangkap.
Perlu
digarisbawahi, meski Kartosuwiryo sudah dihukum mati, tapi faham islam radikal yang diperjuangkannya belumlah
mati. Beda dengan PKI yang sudah dua kali melakukan pemberontakan dan sudah
diblacklist oleh negara, NII baru sekali memberontak dan masih ada potensi
untuk melakukan pemberontakan keduanya. Apapun itu, Indonesia tetaplah
Indonesia. Kultur dan budaya tuan rumah tetap akan jadi landasan hidup bagi masyarakatnya. Masyarakat
Indonesia yang ramah tamah, sopan santun, gotong royong, dan musyawarah.
Dilihat dari kemenangan
Soekarno dalam pertarungan tiga anak macan ini, sebetulnya bukanlah pertarungan
Soekarno seorang sendiri. Soekarno menang karena berfikiran luas.
Seokarno
adalah seorang Sosialis dan Seorang Marxis (yang kemudian dipelesetkan jadi
Marhaenis), ideolagi yang sealiran dengan komunis. Jadi, Soekarno seorang
Sosialis tapi bukan komunis. Soekarno juga seorang agamis, kedekatanya dengan H
Agus Salim yang ahli sufi dan pengamal thoreqoh. Soekarno adalah seorang agamis
dan belajar islam langsung pada intinya, itu kenapa Soekarno berkata “Kalau
belajar islam jangan ambil abunya, tapi ambi apinya.” Atau boleh diartikan,
pahami hakekatnya supaya mengerti syareatnya, sebab orang paham hakekat sudah
pasti akan bersyareat, tapi orang paham syareat belum tentu bisa mengerti
hakekat. Sedangkan tingkatan iman dalam islam sendiri ada empat. Syareat,
Tarekat, Hakekat, kemudian Makrifat.
Soekarno
menjiwai ketiga faham ideologi itu, selain daripada itu berkat pengasingannya
di NTT, Sumatera, dan Sulawesi soekarno sangat menjiwai Keindonesiaan kita.
Hingga lahirlah pancasila dan Nasakom. Walau gagasan nasionalis yang paling
berhasil adalah Pancasila.
Sekarang yang
perlu diwaspadai adalah generasi penerus dari kelompok radikal yang ingin
melanjutkan perjuangan Kartosuwiryo, perjuangan membentuk negara islam dan
mendirikan negara khalifah. Jelas dan tandas saya menunjuk dua ormas radikal
yang terang-terangan ingin mengganti
ideologi negara, ialah FPI dan HTI yang dalam beberapa kesempatan berani menentang
Pancasila. Itu kenapa jelang aksi demo damai 4 November Presiden hanya
mengundang Muhammadiyah, PBNU, dan MUI. Karena hanya ketiga organisasi islam
terbesar di Indonesia itu yang selain agamis juga berjiwa nasionalis.
Aksi damai
membela Al Qur’an itu tidak salah dan tidak perlu dikhawatirkan, yang salah dan
perlu dikhawatirkan adalah bila aksi itu disusupi kepentingan-kepentingan lain
dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah belah bangsa. Siapa yang
berpotensi menyusupi kemarahan umat yang terprovokasi itu? Pertama jelas, Ormas
radikal yang ingin mendirikan negara islam, kedua orang-orang yang punya
kepentingan politik di Jakarta, dan yang ketiga jelas adalah cukong-cukong dan
mafia-mafia yang selama gubernur patahan berkuasa pemasukannya jadi berkurang
dan ruang geraknya jadi terbatas.
Aksi bela Al
Qur’an sah-sah saja. Bela agama apalagi, wajib hukumnya. Tapi terprovokasi?
Nanti dulu!! Kalau PBNU dan Muhammadiyah saja bersikap bijak, kenapa kita harus
kekana-kanakan. Percayakan pada pemerintah, biarkan proses hukum berjalan, dan
tetap jaga persatuan dan kesatuan. NKRI harga mati, Pancasila tak bisa ditawar
lagi, Bhineka Tunggal Ika harus kita mantapkan di dalam hati sanubari. Semangat
menjaga negeri dari ancaman perpecahan dan kekacauan yang merugikan. Ingat
negara ini sedang gencar-encarnya membangun dari pinggiran, ekonomi tumbuh saat
ekonomi global melemah, negara damai adem ayem saat Rusia dan Amerika berseteru
di Timur Tengah, dan saat China gencar memprovokasi dunia lewat klaimnya di Laut
China Selatan.
Islam di
Indonesia adalam islam yang Rohmatal Lil Lamin, Rahmat bagi yang islam dan yang
non islam, rahmat bagi yang pribumi dan non pribumi, rahmat bagi Indonesia dan
dunia. Bukankan begitu juga Allah, ia merahmati semua makhluknya baik yang
taqwa ataupun yang ingkar, baik yang iman ataupun yang kafir, baik yang taat
atapun yang kufur. Begitu pula seharusnya manusia yang beragama dan bertuhan,
ia harus bisa menjadi rahmat bagi sesamanya, lingkungannya, dan juga bangsa dan
negaranya. (Ali Ridwan, 04/11/2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar