Sejak dahulu sekali, agama memang
salah satu alat yang paling moncer untuk memobilisasi masa. Pertama, saat Raden
Fatah menggawangi kaum muslim untuk menggulingkan ayahandanya dari singgasana
Majapahit yang memang sudah di ujung tanduk karena praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme di internal kerajaan. Kedua, ketika Pangeran Diponegoro mengobarkan
semangat para laskar muslim untuk memerangi Belanda dalam Perang Jawa, perang
yang membuat VOC nyaris bangkrut. Ketiga, saat Mbah Hasyim Ashari mengeluarkan
fatwa bahwa bela negara untuk mempertahankan kemerdekaan adalah wajib hukumnya.
Terakhir adalah propoganda Orde
Baru terhadap PKI dimana kaum nasionalis dan agamis bahu-membahu membantai tiga
juta lebih simpatisan partai komunis yang kebanyakan tidak mengerti komunis itu
apa? Fakta-fakta inilah yang kemudian coba digaungkan kembali dalam perpolitkan
modern tanah air saat ini.
Masalahnya, sekarang ini kita hidup
di zaman akhir, zaman yang serba terbolak balik alias wolak-walike ing jaman dimana “Sudah tidak ada lagi setan bodoh yang menentang Tuhan dan Al Qur’an, yang
banyak sekarang adalah setan berpenampilan nabi dan bermulut Al Qur’an” (Emha Ainun Nadjib). Contohnya adalah iblis hitam dari Suriah alias
ISIS, kelompok ini pakai simbol-simbol islam dan syareatnya tapi tujuannya
jelas, adalah untuk menghancurkan islam itu sendiri.
Pada kasus Raden Fatah, Pangeran
Diponegoro, dan Mbah Hasyim Ashyari boleh dikatakan adalah zaman dimana setan
masih bodoh, sehingga perangainya mudah sekali ditebak. Tapi saat setan mulai
pintar, saat setan memulai kejeniusannya lewat propoganda CIA yang sukses
membenturkan islam di Indonesia dengan kaum komunis, dan negara liberal seperti
Amerika akhirnya bisa terbahak karena sukses mendapat untung besar dari adu
domba anak negeri ini, dimana salah satunya ialah jatuhnya gunung emas di Papua
ke tangan Freeport.
Sukses Amerika ini karena USA mau
belajar dari pengalaman Belanda dalam melemahkan perlawanan Indonesia selama tiga
setengah abad dengan mengotak-ngotakkan islam di nusantara, seperti adanya islam
kaum abangan, islam kaum putihan, dan juga islam kaum kejawen.
Mari belajar dari pengalaman
sejarah. Kita jangan mau dipecah belah! Waspadai setan berwujud siluman.
Mengaku teman seiman tapi senangnya memprovokasi kemarahan, senang mendatangkan
melapetaka dengan kekacauan.
Jangan karena fanatisme sempit
agama kita jadi mudah terhasut propoganda politik! Ingatlah
pesan Bung Karno untuk kita sebagai warga Indonesia “Kalau jadi Hindu jangan jadi Orang India, Kalau jadi Islam jangan jadi
Orang arab, Kalau jadi Kristen jangan jadi Orang Yahudi. Tetaplah Jadi Orang
Nusantara Dengan Adat-Budaya Nusantara Yang Kaya Raya ini!!” Ingatlah,
islam menjadi besar di Nusantara ini melalui pendekatan kultur budaya, bukan
dengan kebencian dan kekerasan apalagi menggunakan cara-cara preman kampungan.
Mari jadilah bagian dari
orang-orang yang menyejukkan, orang-orang yang mau berfikir dengan jernih,
serta orang-orang yang mau bersikap dengan bijak. Ingatlah pula petuah Gus Dur “Jika kamu membenci orang karena dia
tidak bisa membaca Al Qur’an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah,
tapi Al Quran. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti
yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang
yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral.
Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu
mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah".
Maka jelas, siapa yang mengingkari adanya perbedaan
dari kemajemukan sama artinya ia telah mengingkari Tuhannya. (Ali Ridwan, 01/11/16)
Bagus tulisannya .. emang pendidikan kita harus maju biar hasut menghasut tidak mudah, semoga semua bisa menjadi kenyataan..
BalasHapusAminn.. Semoga..
Hapus