Selasa, 01 November 2016

Ketika Fanatisme Sempit Agama Termakan Hasutan Politik

 
Sejak dahulu sekali, agama memang salah satu alat yang paling moncer untuk memobilisasi masa. Pertama, saat Raden Fatah menggawangi kaum muslim untuk menggulingkan ayahandanya dari singgasana Majapahit yang memang sudah di ujung tanduk karena praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di internal kerajaan. Kedua, ketika Pangeran Diponegoro mengobarkan semangat para laskar muslim untuk memerangi Belanda dalam Perang Jawa, perang yang membuat VOC nyaris bangkrut. Ketiga, saat Mbah Hasyim Ashari mengeluarkan fatwa bahwa bela negara untuk mempertahankan kemerdekaan adalah wajib hukumnya.

Terakhir adalah propoganda Orde Baru terhadap PKI dimana kaum nasionalis dan agamis bahu-membahu membantai tiga juta lebih simpatisan partai komunis yang kebanyakan tidak mengerti komunis itu apa? Fakta-fakta inilah yang kemudian coba digaungkan kembali dalam perpolitkan modern tanah air saat ini.

Masalahnya, sekarang ini kita hidup di zaman akhir, zaman yang serba terbolak balik alias wolak-walike ing jaman dimana “Sudah tidak ada lagi setan bodoh yang menentang Tuhan dan Al Qur’an, yang banyak sekarang adalah setan berpenampilan nabi dan bermulut Al Qur’an” (Emha Ainun Nadjib). Contohnya adalah iblis hitam dari Suriah alias ISIS, kelompok ini pakai simbol-simbol islam dan syareatnya tapi tujuannya jelas, adalah untuk menghancurkan islam itu sendiri.

Pada kasus Raden Fatah, Pangeran Diponegoro, dan Mbah Hasyim Ashyari boleh dikatakan adalah zaman dimana setan masih bodoh, sehingga perangainya mudah sekali ditebak. Tapi saat setan mulai pintar, saat setan memulai kejeniusannya lewat propoganda CIA yang sukses membenturkan islam di Indonesia dengan kaum komunis, dan negara liberal seperti Amerika akhirnya bisa terbahak karena sukses mendapat untung besar dari adu domba anak negeri ini, dimana salah satunya ialah jatuhnya gunung emas di Papua ke tangan Freeport.

Sukses Amerika ini karena USA mau belajar dari pengalaman Belanda dalam melemahkan perlawanan Indonesia selama tiga setengah abad dengan mengotak-ngotakkan islam di nusantara, seperti adanya islam kaum abangan, islam kaum putihan, dan juga islam kaum kejawen.

Mari belajar dari pengalaman sejarah. Kita jangan mau dipecah belah! Waspadai setan berwujud siluman. Mengaku teman seiman tapi senangnya memprovokasi kemarahan, senang mendatangkan melapetaka dengan kekacauan.

Jangan karena fanatisme sempit agama kita jadi mudah terhasut propoganda politik! Ingatlah pesan Bung Karno untuk kita sebagai warga Indonesia “Kalau jadi Hindu jangan jadi Orang India, Kalau jadi Islam jangan jadi Orang arab, Kalau jadi Kristen jangan jadi Orang Yahudi. Tetaplah Jadi Orang Nusantara Dengan Adat-Budaya Nusantara Yang Kaya Raya ini!!” Ingatlah, islam menjadi besar di Nusantara ini melalui pendekatan kultur budaya, bukan dengan kebencian dan kekerasan apalagi menggunakan cara-cara preman kampungan.

Mari jadilah bagian dari orang-orang yang menyejukkan, orang-orang yang mau berfikir dengan jernih, serta orang-orang yang mau bersikap dengan bijak. Ingatlah pula petuah Gus Dur “Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca Al Qur’an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Al Quran. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah". Maka jelas, siapa yang mengingkari adanya perbedaan dari kemajemukan sama artinya ia telah mengingkari Tuhannya. (Ali Ridwan, 01/11/16)

2 komentar:

  1. Bagus tulisannya .. emang pendidikan kita harus maju biar hasut menghasut tidak mudah, semoga semua bisa menjadi kenyataan..

    BalasHapus