Hipertensi didefinisikan
dengan meningkatnya tekanan darah arteri yang persisten. Penderita dengan
tekanan darah diastolik (TDD) kurang dari 90 mmHg dan tekanan darah sistolik (TDS) lebih besar sama
dengan 140 mmHg mengalami hipertensi sistolik terisolasi ( Anonim,2008).
Secara terminologi
hipertensi berasal dari bahasa latin hypertension yaitu hyper dan
tension berarti meningkatnya tekanan. (Smeltzer, S. C. 2001). Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya
adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan
nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkan. Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (Silent
Killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai dengan
gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya (Lanny Sustrani, 2004).
Sistolik
adalah angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi,
sedangkan diastolik adalah angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung
berelaksasi.
Klasifikasi
Pembagian hipertensi
dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu berdasarkan penyebab dan berdasarkan
tingkatannya.
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Hipertensi primer atau
hipertensi essensial, yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan
merupakan 90%
dari kasus-kasus hipertensi. Kelainan hemodinamik utama pada hipertensi
esensial adalah peningkatan resistensi perifer. Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi dengan sebab yang jelas, dan
biasanya hanya dapat ditemukan pada 10% kasus hipertensi
Berdasarkan tingkatannya, hipertensi dapat dibagi menjadi seperti dalam klasifikasi Tekanan
Darah Untuk Dewasa ≥18 tahun, berikut:
Klasifikasi Tekanan Darah
|
Tekanan Sistolik (mmHg)
|
Tekanan Diastolik (mmHg)
|
Normal
|
<120
|
dan 80
|
Prahipertensi
|
120-139
|
atau 80-89
|
Hipertensi tingkat 1
|
140-159
|
atau 90-99
|
Hipertensi tingkat 2
|
≥160
|
atau ≥100
|
(JNC7, 2003)
Krisis
hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah yang
sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah terjadinya kelainan
organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah >180/120 mmHg; dikategotikan
sebagai hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi. Pada hipertensi
emergensi tekanan darah meningkat ekstrim disertai dengan kerusakanorgan
target akut yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan
segera (dalam hitungan menit – jam) untuk mencegah kerusakan organ target lebih
lanjut.
Contoh
gangguan organ target akut: encephalopathy, pendarahan intrakranial, gagal
ventrikel kiri akut disertai edema paru, dissectingaortic aneurysm,
angina pectoris tidak stabil, dan eklampsia atau hipertensi beratselama
kehamilan.
Hipertensi
urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai
kerusakan organtarget yang progresif. Tekanan darah diturunkan dengan obat
antihipertensi oral kenilai tekanan darah pada tingkat 1 dalam waktu beberapa
jam s/d beberap hari (Bina Farmasi Komunitas, 2006).
Tubuh
memiliki sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut
yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi dan mempertahankan stabilitas tekanan
darah dalam jangka panjang. Sistem
pengendalian tekanan darah sangat kompleks. Pengendalian dimulai dari sistem reaksi
cepat seperti reflex kardiovaskuler melalui sistem saraf, refleks
kemoreseptor, respon iskemia, susunansaraf pusat yang berasal dari atrium, dan
arteri pulmonalis otot polos. Sedangkan
sistem pengendalian reaksi
lambat melalui perpindahan cairan antara sirkulasi kapilerdan rongga
intertisial yang dikontrol oleh hormon angiotensin dan vasopresin.Kemudian
dilanjutkan sistem poten dan berlangsung dalam jangka panjang yang
dipertahankan oleh sistem
pengaturan jumlah cairan tubuh yang melibatkan berbagai
organ
(Nuarima, 2012).
Patofisiologi
Hipertensi Primer Terjadi Melalui Mekanisme :
Curah jantung dan
tahanan perifer. Peningkatan curah jantung terjadi melalui dua cara yaitu peningkatan
volume cairan dan rangsangan saraf yang mempengaruhi kontraktilitas jantung.
Curah jantung meningkat secara mendadak akibat adanya rangsang saraf
adrenergik. Barorefleks menyebabkan penurunan resistensi vaskuler sehingga
tekanan darah kembali normal. Namun pada orang tertentu, kontrol tekanan darah
melalui barorefleks tidak adekuat sehingga terjadi vasokonstriksi perifer.
Peningkatan pelepasan renin ataualdosteron maupun
penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh
ginjal. Peningkatan volume plasma menyebabkan peningkatan volume diastolik
akhir sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Keseimbangan curah jantung
dan tahanan perifer sangat berpengaruh terhadapnormalitas tekanan darah.
Tekanan darah ditentukan oleh konsentrasi sel otot halus yang terdapat pada
arteriol kecil. Peningkatan konsentrasi sel otot halus berpengaruhpada
peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler. Peningkatan konsentrasi otot
halusmengakibatkan penebalan pembuluh darah arteriol yang dimediasi oleh
angiotensin dan menjadi awal meningkatnya tahanan perifer yang irreversible.
Peningkatan resistensi perifer disebabkan oleh
resistensi garam (hipertensitinggi renin) dan sensitif garam (hipertensi rendah
renin). Penderita hipertensi tinggi renin memiliki kadar renin tinggi akibat
jumlah natrium dalam tubuh yang menyebabkan pelepasan angiotensin II. Kelebihan
angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi dan memacu hipertrofi dan proliferasi
otot polos vaskular. Kadar renin dan angiotensin II yang tinggi pada hipertensi
berkorelasi dengan kerusakan vaskular. Sedangkan pada pasien rendah renin, akan
mengalami retensi natrium dan air yang mensupresi sekresi renin. Jantung harus
memompa secara kuat dan menghasilkan tekanan lebih besar untuk mendorong darah
melintasi pembuluh darah yang menyempit pada peningkatan Total Periperial
Resistence. Keadaan ini disebut peningkatan afterload
jantung yang berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Peningkatanafterload yang berlangsung lama,
menyebabkan ventrikel kiri mengalami hipertrofi. Terjadinya hipertrofi
mengakibatkan kebutuhan oksigen ventrikel semakin meningkat sehingga ventrikel
harus mampu memompa darah lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tesebut. Pada
hipertrofi, serat-serat otot jantung mulai menegang melebihi panjang normalnya
yang akhirnya menyebabkan penurunan kontraktilitas (Nuarima, 2012).
Sistem
renin-angiotensin. Ginjal mengontrol
tekanan darah melalui pengaturan volume cairanekstraseluler dan sekresi renin.
Sistem renin-angiotensin merupakan sistem endokrinpenting dalam pengontrolan
tekanan darah. Renin disekresi oleh juxtaglomerulus aparantus ginjal sebagai
respon glomerulus underperfusion, penurunan asupan garam, ataupun respon dari
sistem saraf simpatetik. Mekanisme terjadinya hipertensi melalui terbentuknya
angiotensin II dariangiotensin I oleh Angiotensin
I-Converting Enzyme (ACE). ACE memegang peranan fisiologis penting
dalam pengaturan tekanan
darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi
hati, kemudian oleh hormon renin yang diproduksi ginjal akan diubah menjadi
angiotensin I (dekapeptida tidak aktif). Angiotensin Idiubah menjadi
angiotensin II (oktapeptida sangat aktif) oleh ACE yang terdapat diparu-paru.
Angiotensin II berpotensi besar meningkatkan tekanan darah karenabersifat
sebagai vasokonstriktor melalui dua jalur, yaitu:
Meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa
haus. ADH diproduksidi hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal
untuk mengaturosmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat
sedikit urinyang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis) sehingga urin
menjadi pekat dantinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkan, volume cairan
ekstraseluler akanditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian
instraseluler. Akibatnyavolume darah meningkat sehingga meningkatkan tekanan
darah.
Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.
Aldosteron merupakan hormon steroid yang berperan penting pada ginjal untuk mengatur
volume cairanekstraseluler. Aldosteron mengurangi ekskresi NaCl dengan cara
reabsorpsi daritubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali
dengan carameningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada akhirnya
meningkatkanvolume dan tekanan darah (Nuarima, 2012).
Sistem Syaraf Simpatis. Mekanisme yang mengontrol
konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletakdi pusat vasomotor pada medula
otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras sarafsimpatis, yang berlanjut ke
bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulaspinalis ke ganglia
simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotordihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis keganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin yangmerangsang
serabut saraf paska ganglion ke pembuluh darah, di mana dengandilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. 31Sirkulasi sistem saraf
simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan dilatasiarteriol. Sistem saraf otonom
memiliki peran penting dalam mempertahankan tekanandarah. Hipertensi terjadi
karena interaksi antara sistem saraf otonom dan sistem renin-angiotensin
bersama dengan faktor lain termasuk natrium, volume sirkulasi, danbeberapa
hormon. 30 Hipertensi rendah renin atau hipertensi sensitif garam, retensinatrium
dapat disebabkan oleh peningkatan aktivitas adrenergik simpatis atau
akibatdefek pada transpor kalsium yang berpapasan dengan natrium. Kelebihan
natrium menyebabkan vasokonstriksi yang mengubah pergerakan kalsium otot
polos (Nuarima, 2012).
Perubahan
struktur dan fungsi pembuluh darah. Perubahan
struktural dan fungsional sistem pembuluh darah periferbertanggung jawab
terhadap perubahan tekanan darah terutama pada usia lanjut.Perubahan struktur
pembuluh darah meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitasjaringan ikat, dan
penurunan relaksasi otot polos pembuluh darah, yangmengakibatkan penurunan
kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Sel endotel pembuluh darah
juga memiliki peran penting dalam pengontrolanpembuluh darah jantung dengan
cara memproduksi sejumlah vasoaktif lokal yaitumolekul oksida nitrit dan
peptida endotelium. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus hipertensi
primer (Nuarima, 2012).
Gejala Hipertensi
Gejala yang dialami antara
lain: Sering pusing kepala,
ampang marah, sulit tidur dan sering gelisah,
sesak nafa,
leher belakang sering kak,
sulit berkomunikasi,
mudah lelah (Hariwijaya, 2007).
Gejala Akibat Komplikasi Hipertensi Yang
Pernah Dijumpai Sebagai Berikut: Gangguan Penglihatan,
gangguan Saraf, gangguan jantung, gangguan Fungsi Ginjal, gangguan Serebral
(otak) yang mengakibatkan kejang dan perdarahan pembuluh darah otak yang
mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma. (DepKes RI, 2006).
Data-data
laboratorium dan tanda-tanda vital (terkait penyakit): Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi BUN (Blood Urea
Nitrogen) dan serum kreatinin, gula darah puasa, serum potassium, urinalysis,
profil lemak (setelah puasa 9–12 jam) termasuk HDL,
LDL, dan trigliserida, serta elektrokardiogram (Chobaniam, 2003).
Terapi
Nonfarmakologi
Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap
orang sangat penting untuk mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian
yang penting dalam penanganan hipertensi. Semua pasien dengan prehipertensi dan
hipertensi harus melakukan perubahan gaya hidup. Modifikasi gaya hidup yang
penting yang terlihat menurunkan tekanan darah adalah mengurangi berat badan
untuk individu yang obes atau gemuk; mengadopsi pola makan DASH (Dietary
Approach to Stop Hypertension) yang kaya akan kalium dan kalsium; diet
rendah natrium; aktifitas fisik; dan mengurangi konsumsi alkohol. Pada sejumlah
pasien dengan pengontrolan tekanan darah cukup baik dengan terapi satu obat
antihipertensi; mengurangi garam dan berat badan dapat membebaskan pasien dari
menggunakan obat.
Aktifitas fisik dapat menurunkan tekanan
darah. Olah raga aerobik secara teratur paling tidak 30 menit/hari beberapa
hari per minggu ideal untuk kebanyakan pasien. Studi menunjukkan kalau olah
raga aerobik, seperti jogging, berenang, jalan kaki, dan menggunakan sepeda,
dapat menurunkan tekanan darah. Keuntungan ini dapat terjadi walaupun tanpa
disertai penurunan berat badan (Departemen Kesehatan, 2006).
Terapi Farmakologi
Obat-obat dalam terapi farmakologi hipertensi dibagi
menjadi 2 kelompok, yaitu : first line
drug dan second line drug . Untuk
golongan first line drug adalah
diuretik, beta receptor blocker, Angiotensin
converting enzyme (ACE), Angiotensin
receptor blocker (ARB), dan Calcium
Channel blocker (CCB) . Golongan second
line drug adalah alpha 1 receptor blocker, central alpha 2 agonis, reserpin dan vasodilator.
Diuretik
Diuretik
menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis. Pengurangan volume plasma
dan stroke volume (SV) berhubungan dengan diuresis dalam penurunan curah
jantung (cardiac output, CO) dan tekanan tekanan darah pada akhirnya.
Penurunan curah jantung yang utama menyebabkan peningkatan resistensi perifer.
Pada terapi diuretik pada hipertensi kronik, volume cairan ekstraseluler dan
volum plasmae hampir kembali pada kondisi ebelum diterapi.
Jika diuretik
dikombinasikan dengan antihipertensi lain akan muncul efek hipotensi yang
disebabkan oleh mekanisme aksi. Banyak antihipertensi selain diuretik
menginduksi retensi garam dan air yang dilawan aksinya oleh penggunaan bersama
diuretik. Mekanisme kerja diuretika dengan meningkatkan ekskresi Na, Cl, dan
air sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Akibatnya
menurunkan CO dan tekanan darah. Diuretika terbagi menjadi beberapa sub
golongan yaitu : diuretika thiazid, diuretika hemat kalium, dan loop diuretika.
Thiazide adalah
golongan yang dipilih untuk menangani hipertensi, golongan lainnya efektif juga
untuk menurunkan tekanan darah. Penderita dengan fungsi ginjal yang kurang baik
Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) diatas 30 ml/menit, thiazide merupakan agen
diuretik yang paling efektif untuk menurunkan tekanan darah. Mekanisme kerja dengan menghambat transport Na
dan Cl di tubulus ginjal, sehingga ekskresi Na dan Cl meningkat. dapat
menghambat ekskresi asam urat dari ginjal sehingga dapat terjadi urisemia,
dapat menyebabkan penurunan sekresi insulin sehingga dapat menyebabkan
hiperglikemi pada pemakaian jangka panjang, tetapi efektif juga untuk pasien
dengan kadar renin rendah. Diuretika
tidak digunakan pada pasien gangguan fungsi ginjal dengan menurunnya fungsi
ginjal karena natrium dan cairan akan terakumulasi maka diuretik jerat Henle
perlu digunakan untuk mengatasi efek dari peningkatan volume dan natriumtersebut. Hal ini akan mempengaruhi tekanan darah
arteri. Contoh : hidroklorthiazide, indapamid, klortalidon.
Diuretik Hemat Kalium merupakan antihipertensi yang lemah jika digunakan
tunggal. Efek hipotensim akan terjadi apabila diuretik dikombinasikan dengan
diuretik hemat kalium thiazide atau jerat Henle. Diuretik hemat kalium dapat
mengatasi kekurangan kalium dan natrium yang disebabkan oleh diuretik lainnya.
Obat yang termasuk golongan ini adalah antagonis aldosteron (spironolakton dan
eplerenon), triamteren, dan amilorid. Antagonis aldosteron Antagonis
aldosteron bekerja secara kompetitif menghambat aldosteron. Peranan utama
aldosteron berfungsi memperbesar Na dan Cl di tubulus distal serta memperbesar
eksresi K. Peranan tiamteren dan amilorid menyebabkan retensi K dan memperbesar
ekskresi Na dan Cl.
Diuretika kuat (loop diuretika), obat golongan ini memiliki onset kerja yang cepat,
efek diuretiknya kuat sehingg jarang digunakan pada terapi hipertensi. Obat
yang termasuk golongan ini antara lain furosemide, torasemid, bumetamid, dan
asam etakrinat. Mekanisme kerja menghambat cotransport Na, K, Cl dan resorpsi
air dan elektrolit diansa Henle asenden. Ini merupakan pilihan utama pada
gangguan fungsi ginjal (kreatinin dalam serum .2,5 mg/dl) atau gagal jantung.
Dapat terjadi hipokalemia, hiperkalsiuria, dan hipokalsemia.
Efek samping: Thiazide
adalah hipokalemia, hipomagnesia, hiperkalsemia hiperurisemia, hiperglikemia,
hiperlipidemia, dan disfungsi seksual. Diuretik jerat Henle memiliki efek
samping yang lebih kecil pada lipid serum dan glukosa tetapi hipokalemia dapat
terjadi. Hipokalemia dan hipomagnesia dapat menyebabkan kelelahan otot atau
kejang. Aritmia jantung dapat terjadi terutama pada penderita yang mendapatkan
terapi digitalis, penderita dengan hipertropi ventricular kiri, dan penyakit
jantung iskemia. Terapi dosis rendah (misalnya HCT 25 mg atau Klortalidon 12,5
mg setiap harinya) jarang menyebabkan kekurangan elektrolit yang signifikan.
Diuretik hemat kalium dapat menyebabkan
hiperkalemia terutama pada penderita penyakit ginjal kronik atau diabetes dan
penderita yang diberikan inhibitor ACE, ARB, AINS, atau suplemen kalium secara
bersamaan. Epelrenon dapat meningkatkan faktor resiko hiperkalemia dan
kontraindikasi dengan penderita gangguan fungsi ginjal atau diabetes tipe 2
disertai proteinuria. Spironolakton dapat menyebabkan ginekomastia pada 10%
penderita, efek ini jarang terjadi pada penggunaan eplerenon.
Sediaan Beredar. Hidroklortiazid :
sehari 1 x 1 tab. Furosemid : hipertensi ringan sampai sedang dosis awal:
sehari 2 x; pemeliharaan: sehari 1 x; anak: 2 mg/kgBB maksimal sehari 40mg. Manitol
: dewasa 250 ml-1 L dlm 24 jam. . Spironolakton:
dewasa : 50-100mg sehari dalam dosis bagi; selanjutnya dapat
ditingkatkan sampai 400 mg. Anak: 3mg/kgBB/hari dalam dosis bagi
Inhibitor Angiotensin-Converting Anzyme (ACEI)
ACE membantu produksi angiotensin II yang berperan
penting dalam regulasi tekanan darah arteri. Sehingga dengan inhibitor ACE ini
dapat mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II (vasokonstriktor
potensial dan stimulus sekresi aldosteron). Inhibitor ACE ini juga mencegah
degradasi bradikinin dan menstimulasi sintesis senyawa vasodilator lainnya
termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin.Dosis awal inhibitor ACE sebaiknya
dosis rendah kemudian ditambahkan perlahan. Efek samping golongan obat ini
adalah neutropenia dan agranulosit, proteinuria, glomerulonefritis, dan gagal
ginjal akut; efek ini terjadi pada penderita kurang dari 1%.
Kaptopril: Capoten, *Capozide. Derivat-prolin ini adalah penghambat ACE pertama yang digunakan.
Maka berbeda dengan vasodilator lainnya, zat ini tidak menimbulkan udema atau
reflex-tachycardia. Kaptopril digunakan pada hipertensi ringan sampai berat dan
pada dekompensasi jantung.Efek sampingnya yang sering terjadi adalah hilangnya
rasa (kadang-kadang juga pencium), batuk kering dan exanthema.Efeknya dapat
ditiadakan oleh indometasin dan NSAID lainnya.
Dosis: hipertensi:oral 1-2 dd 25 mg,
bila perlu setelah 2-3 minggu 1-2 dd 50 mg; dekompensasi: 3 dd 6,25-12,5 mg,
berangsur-angsur dinaikkan sampai 3 dd 25-50 mg. setelah infark jantung: semula
6,25 mg, berangsur-angsur dinaikkan sampa 2-3 dd 50 mg. Sediaan kombinasi: *Capozide
(kaptopril 50 + HCT 25 mg)
Benazepril:Cibacen, *Cibadrex. Derivate benzadiazepin ini adalah prodrug yang di dalam
tubuh dihirolisa menjadi metabolit aktif benzaprilat.Digunakan pada hipertensi
dan gagal jantung. Dosis: hipertensi oral 1x sehari 10
mg, maksimal 1-2x 20 mg; dekompensasi: 1 dd 2,5 mg , maksimal 1-2 dd 10 mg.
Sediaan kombinasi: *Cibadrex (benazepril 50 + HCT 12,5 mg)
Penghambat
Reseptor Angiotensin II (ARB)
Angiotensin II digenerasikan oleh jalur renin
angiotensin (termasuk ACE) dan jalur alternatif yang digunakan untuk enzim lain
seperti chymases. Inhibitor ACE hanya menutup jalur renin-angiotensin,
ARB menahan langsung reseptor angiotensin tipe I (AT1), reseptor yang
memperantarai angiotensin II (vasokonstriksi, pelepasan aldosteron, aktivasi
simpatetik, pelepsan hormon antidiuretik, dan konstriksi arteriol eferen
glomerulus).
Tidak seperti inhibitor ACE, ARB tidak mencegah
pemecahan bradikinin. Hal ini tidak memberikan efek samping batuk, banyak
konsekuensi negatifkarena beberapa efek inhibitor ACE dapat menyebabkan
meningkatnya level bradikinin. Bradikinincukup pentinguntuk regresi hipertropi
miosit dan fibrosis, serta meningkatnya level aktivator jaringan palsminogen.
Semua obat pada tipe ini memiliki kesamann efikasi dan
memiliki hubungan antara dosis respon yang linier. Tambahan dosis rendah diuretik
thiazide dapat meningkatkan efikasi secara signifikan.
ARB memiliki efek samping yang lebih rendah daripada
antihipertensi lainnya. Batuk sangat jarang terjadi. Seperti inhibitor ACE
mereka dapat mengakibatkan insufisiensi ginjal, hiperkalemia, dan hipotensi
ortotastik. Angioedema jarang terjadi daripada inhibitor ACE tetapi reaktivitas
silang telah dilaporkan. ARB tidak boleh digunakan pada ibu hamil (ISO
farmakoterapi, 2008: 124).
Sediaan Beredar. Losartan: dosis awal
: sehari 1 x 50mg, dapat ditingkatkan sampai sehari 100 mg. Pada pasien dengan
gangguan hati dan yang beresiko terjadi hipotensi sebaiknya menggunakan dosis
awal 25 mg. Penyesuaian dosis awal tidak diperlukan pada pasien lansia dan
pasien dialisis, karena losartan dan metabolitnya tidak dibuang melalui proses
dialisis. Losartan dapat dikombinasi dengan antihipertensi lain (ISO vol.46,
2012: 330). Valsartan: hipertensi: sehari 1 x 80 mg, dapat ditingkatkan sampai dengan 160
mg (ISO vol.46, 2012: 331).
Penghambat
Saluran Kalsium (CCB)
CCB menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan
menghambat saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan sehingga mengurangi
masuknya kalsium ekstra selluler ke dalam sel. Relaksasai otot polos vaskular
menyebabkan vasodilatasi dan berhubungan dengan reduksi tekanan darah.
Antagonis kanal kalsium dihidropiridini dapat menyebakan aktivasi refleks
simpatetik dan semua golongan ini (kecuali amilodipin) memberikan efek
inotropik negative.
Verapamil menurunkan
denyut jantung, memperlambat konduksi nodus AV, dan menghasilkan efek inotropik
negative yang dapat memicu gagal jantung pada penderita lemah jantung yang
parah.
Diltiazem menurunkan
konduksi AV dan denyut jantung dalam level yang lebih rendah daripada
verapamil.
Beta Blocker
Beta blocker memblok beta‐adrenoseptor.
Reseptor ini diklasifikasikan menjadi reseptor beta‐1 dan beta‐2.
Reseptor beta‐1 terutama terdapat pada jantung sedangkan reseptor beta‐2
banyak ditemukan di paru‐paru, pembuluh darah perifer, dan otot lurik. Reseptor beta‐2
juga dapat ditemukan di jantung, sedangkan reseptor beta‐1
juga dapat dijumpai pada ginjal. Reseptor beta juga dapat ditemukan di otak.
Stimulasi reseptor beta pada otak dan perifer akan
memacu penglepasan neurotransmitter yang meningkatkan aktivitas system saraf
simpatis. Stimulasi reseptor beta‐1 pada nodus sino‐atrial
dan miokardiak meningkatkan heart rate dan kekuatan kontraksi. Stimulasi
reseptor beta pada ginjal akan menyebabkan pengepasan rennin, meningkatkan
aktivitas system rennin angiotensin aldosteron.
Efek akhirnya adalah peningkatan cardiac output,
peningkatan tahanan perifer dan peningkatan sodium yang diperantarai aldosteron
dan retensi air.
Terapi menggunakan beta‐blocker akan mengantagonis semua efek tersebut sehingga terjadi penurunan
tekanan darah.
Beta‐blocker yang selektif (dikenal juga sebagai cardioselective beta‐blockers), misalnya bisoprolol, bekerja pada reseptor beta‐1, tetapi tidak spesifik untuk reseptor beta‐1 saja oleh karena itu penggunaannya pada pasien
dengan riwayat asma dan bronkhospasma harus hati-hati. Beta‐blocker yang non‐selektif
(misalnya propanolol) memblok reseptor beta‐1 dan beta‐
2.
Beta‐blocker yang mempunyai aktivitas agonis parsial (dikenal sebagai aktivitas
simpatomimetik intrinsic), misalnya acebutolol, bekerja sebagai stimulan‐beta pada saat aktivitas adrenergik minimal
(misalnya saat tidur) tetapi akan memblok aktivitas beta pada saat aktivitas
adrenergik meningkat (misalnya saat berolah raga). Hal
ini menguntungkan karena mengurangi bradikardi pada siang hari. Beberapa beta‐blocker, misalnya labetolol, dan
carvedilol, juga memblok efek adrenoseptoralfa perifer. Obat lain, misalnya
celiprolol, mempunyai efek agonis beta‐2 atau vasodilator.
Beta‐blocker diekskresikan lewat hati atau ginjal tergantung sifat kelarutan obat
dalam air atau lipid. Obat‐obat yang diekskresikan melalui hati biasanya harus diberikan
beberapa kali dalam sehari sedangkan yang diekskresikan melalui ginjal biasanya
mempunyai waktu paruh yang lebih lama sehingga dapat diberikan sekali dalam
sehari. Beta‐blocker tidak boleh dihentikan mendadak
melainkan harus secara bertahap, terutama pada pasien dengan angina, karena
dapat terjadi fenomena rebound.
Efek samping. Blokade reseptor
beta‐2 pada bronkhi
dapat mengakibatkan bronkhospasme, bahkan jika digunakan beta‐bloker kardioselektif. Efek samping lain adalah bradikardia,
gangguan kontraktil miokard, dan tanga‐kaki terasa dingin karena vasokonstriksi akibat blokade reseptor
beta‐2 pada otot polos
pembuluh darah perifer.
Kesadaran terhadap gejala hipoglikemia pada beberapa
pasien DM tipe 1 dapat berkurang. Hal ini karena beta‐blocker memblok sistem saraf simpatis
yang bertanggung jawab untuk “memberi peringatan“ jika terjadi hipoglikemia.
Berkurangnya aliran darah simpatetik juga menyebabkan rasa malas pada pasien.
Mimpi buruk kadang
dialami, terutama pada penggunaan beta‐blocker yang larut lipid
seperti propanolol. Impotensi juga dapat terjadi. Beta‐blockers
non‐selektif
juga menyebabkan peningkatan kadar trigilserida serum dan penurunan HDL.
Mekanisme
hipotensi beta bloker tidak diketahui tetapi dapat melibatkan menurunnya curah
jantung melalui kronotropik negatif dan efek inotropik jantung dan inhibisi
pelepasan renin dan ginjal.
Atenolol,
betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol merupakan kardioselektif pada
dosis rendah dan mengikat baik reseptor β1 daripada reseptor β2. Hasilnya agen
tersebut kurang merangsang bronkhospasmus dan vasokontruksi serta lebih aman
dari non selektif β bloker pada penderita asma, penyakit obstruksi pulmonari
kronis (COPD), diabetes dan penyakit arterial perifer. Kardioselektivitas
merupakan fenomena dosis ketergantungan dan efek akan hilang jika dosis tinggi.
Acebutolol,
carteolol, penbutolol, dan pindolol memiliki aktivitas intrinsik
simpatomimetik (ISA) atau sebagian aktivitas agonis reseptor β.
Alpha-blocker
Penyekat alfa blocker selektif memblok adrenoreseptor
α1, yang akan terjadi dilatasi pada arteria (menurunkan tahanan perifer) dan
pada vena (menurunkan alir balik vena).
Prasozin, Terasozin dan Doxazosin
merupakan penghambat reseptor α1 yang menginhibisi katekolamin pada sel otot
polos vascular perifer yang memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak
mengubah aktivitas reseptor α2 sehingga tidak menimbulkan efek takikardia.
Diindikasikan untuk hipertensi yang resisten.
Efek samping. Alpha blocker dapat menyebabkan hipotensi postural, yang sering terjadi pada
pemberian dosis pertama kali. Alpha blocker bermanfaat untuk pasien laki‐laki lanjut usia karena memperbaiki gejala pembesaran prostat.
Terapi Pada
Anak-Anak
Kelas
terapi obat yang dapat digunakan pada anak-anak dengan hipertensi meliputi
penghambat ACE, alfa bloker, beta bloker, antagonis kalsium, dan diuretika.
Informasi mengenai penggunaan antagonis reseptor angiotensin II pada anak-anak
masih terbatas. Diuretika dan beta bloker mempunyai riwayat efikasi dan
keamanan yang cukup pada anak-anak. Obat antihipertensi generasi terbaru,
meliputi penghambat ACE dan antagonis kalsium telah diketahui aman dan efektif
pada studi jangka pendek pada anak-anak. Pada hipertensi yang sulit diatasi
dapat diberikan tambahan obat seperti minoksidil atau klonidin.
Obat
antihipertensi tunggal seringkali tidak cukup dan obat antihipertensi yang lain
biasanya ditambahkan secara bertahap sampai hipertensi dapat dikendalikan.
Kecuali apabila diperlukan penurunan tekanan darah dengan segera, diperlukan
interval waktu pemberian sekurang-kurangnya 4 minggu untuk menentukan respons.
Terapi
antihipertensi pada anak-anak sebaiknya dimulai dengan terapi tunggal dalam
dosis terendah dari dosis yang dianjurkan; lalu ditingkatkan sampai tekanan
darah yang diinginkan sudah tercapai. Apabila dosis tertinggi dari dosis
anjuran sudah digunakan, atau segera setelah pasien mengalami efek samping
obat, antihipertensi yang lain dapat ditambahkan apabila tekanan darah belum
dapat dikendalikan. Apabila diperlukan lebih dari satu jenis obat
antihipertensi, sebaiknya yang diberikan adalah produk yang terpisah (tidak
dalam satu sediaan) karena pengalaman dokter spesialis anak dalam menggunakan
produk kombinasi tetap masih terbatas.
Terapi Pada
Lansia
Pasien yang mencapai usia 80 tahun
pada saat pengobatan dengan antihipertensi sebaiknya tetap melanjutkan
pengobatan. Tiazid dosis rendah merupakan obat pilihan pertama, bila perlu
dengan tambahan antihipertensi lainnya.
Terapi
Pada Diabetes
Untuk pasien diabetes, tujuan terapi
adalah untuk menjaga tekanan darah sistolik <130 mmHg dan tekanan darah
diastolik <80 mmHg. Meskipun demikian, pada beberapa pasien, mungkin tidak
dapat dicapai tahap ini meskipun sudah mendapat pengobatan yang tepat.
Kebanyakan pasien memerlukan obat antihipertensi kombinasi. Hipertensi umumnya
terjadi pada pasien diabetes tipe 2 dan pengobatan dengan antihipertensi
mencegah komplikasi makro dan mikrovaskuler.
Pada diabetes tipe 1, hipertensi
biasanya menandakan adanya nefropati akibat diabetes. Penghambat ACE (atau
antagonis reseptor angiotensin II) mempunyai peranan khusus pada tatalaksana
nefropati akibat diabetes; pada pasien diabetes tipe 2, penghambat ACE (atau
antagonis reseptor angiotensin II) dapat menunda perkembangan kondisi
mikroalbuminuria menjadi nefropati.
Penghambat ACE dapat dipertimbangkan
penggunaannya untuk anak-anak dengan diabetes dan mikroalbuminemia atau
penyakit ginjal proteinuria.
Terapi Pada Gagal Ginjal
Ambang batas untuk pengobatan dengan
antihipertensi pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau proteinuria yang
menetap adalah tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90
mmHg. Tekanan darah optimal adalah tekanan darah sistolik <130 mmHg dan
tekanan darah diastolik <80 mmHg, atau lebih rendah jika proteinuria lebih
dari 1 g dalam 24 jam. Tiazid kemungkinan tidak efektif dan diperlukan dosis
tinggi diuretika kuat. Peringatan khusus untuk penggunaan penghambat ACE pada
gangguan fungsi ginjal, namun
penghambat ACE dapat efektif. Antagonis kalsium dihidropiridin dapat juga
ditambahkan.
Terapi
Pada Kehamilan
Tekanan darah tinggi pada kehamilan
dapat disebabkan hipertensi esensial sebelum hamil atau pre-eklamsia. Metildopa
aman pada kehamilan. Beta bloker efektif dan aman pada trimester ketiga.
Pemberian intravena labetalol dapat digunakan untuk mengendalikan krisis
hipertensi; sebagai alternatif, hidralazin dapat digunakan secara intravena.
Penggunaan magnesium sulfat pada pre-eklamsia dan eklamsia.
Terapi Pada
Keadaan Gawat Darurat
Pada
anak-anak, hipertensi emergensi disertai dengan tanda-tanda seperti
ensefalopati hipertensi, termasuk kejang. Penting untuk memantau penurunan
tekanan darah selama 72-96 jam. Cairan infus mungkin diperlukan terutama selama
12 jam pertama untuk menambah volume plasma apabila tekanan darah turun terlalu
cepat. Pengobatan secara oral sebaiknya dimulai segera setelah tekanan darah
sudah terkendali.
Penurunan
tekanan darah yang terkendali dapat dicapai melalui pemberian infus intravena
labetalol atau natrium nitroprusid. Esmolol bermanfaat untuk penggunaan jangka pendek dan mempunyai
masa kerja singkat. Pada kasus berat yang jarang terjadi, dapat digunakan
nifedipin dengan bentuk sediaan kapsul (PIO Nas : 2011).
KIE
(Komunikasi, Informasi dan Edukasi) :
Komunikasikan kepada
pasien mengenai kontrol tekanan darah secara rutin. Apoteker sebaiknya
menanyakan terlebih dahulu apakah pasien sudah membuat kesepakatan dengan
dokter atau belum. Bila pasien belum membuat jadwal kontrol maka diskusikan
jadwal kontrol dengan mempertimbangkan biaya, waktu habis obat, monitoring
efektivitas maupun efek samping yang timbul.
Informasikan penggunaan
obat kepada pasien meliputi jumlah, dosis, dan waktu penggunaan obat. Informasikan
pada pasien untuk mengurangi asupan garam
sampai< 2 gram/hari atau (70-90 mEq ). Pemberian informasi kepada pasien untuk olah raga
teratur dan menurunkan berat badan, serta banyak mengkonsumsi buah dan sayur.
Makanan yang harus dihindari atau
dibatasi oleh penderita hipertensi adalah: Makanan yang
berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih). Makanan
yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit crackers, keripik, dan makanan kering yang asin). Makanan
dan minuman dalam kaleng (softdrink,
sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng). Makanan
yang diawetkan (dendeng, asinan sayur atau buah, abon, ikan asin). Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber
protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing),
kuning telur, kulit ayam. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol
seperti tape, durian (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2013)
Daftar
Pustaka
Ganiswara, S.
G., (2003), “Farmakologi dan Terapi”, Edisi IV, Universitas Indonesia
Press, Jakarta
Guyton C, Arthur. 1987. “Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit
Edisi III ”. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta
Goodman,
Gilman’s. 2006. “The Pharmacological
Basis of Therapeutics - 11th Ed “. Kaball chm
Mycek J.Mary.
2001. “Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi
II “. Wydia Medika. Jakarta
Rahardja, Kirana, Drs. & Tan Hoan
Tjay, Drs., 1991. “Obat-obat Penting”, Edisi IV, Departemen Kesehatan
RI, Jakarta
Sherwood, Lauralee. 2001. “ Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi
II ”. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar