Selasa, 15 November 2016

HIV AIDS

 
HIV (Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia, yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia. AIDS (Acguired Immuno–Deviensi Syndromer) adalah kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.


Patofisiologi

HIV tergolong ke dalam kelompok virus yang dikenal sebagai retrovirus yang menunjukkan bahwa virus tersebut membawa materi genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam asam deoksiribonukleat (DNA). Virion HIV (partikel virus yang lengkap dan dibungkus oleh selubung pelindung) mengandung RNA dalam inti berbentuk peluru terpancung dimana p24 merupakan komponen structural yang utama. Tombol yang menonjol lewat dinding virus terdiri atas protein gp120 yang terkait pada protein gp41. Bagian yang secara selektif berikatan dengan sel-sel CD4-positif (CD4+) adalah gp10 dari HIV.

Sel-sel CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper (yang dinamakan sel-sel CD4+ kalau dikaitkan dengan infeksi HIV); limfosit T4 helper ini merupakan sel yang paling banyak di antara ketiga sel di atas. Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase, HIV akan melakukan pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA (DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. 

Menurut Smeltzer siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sam­pai sel yang terinfeksi diaktifkan. Aktivasi sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen, mitogen, sitokin (TNF alfa atau interleukin l) atau produk gen virus seperti sitomegalovirus (CMV; cytomegalovirus), virus Epstein-Barr, herpes simpleks dan hepatitis. Seba­gai akibatnya, pada saat sel T4 yang terinfeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel T4 akan dihancurkan. HIV yang baru dibentuk ini kemudian dilepas ke dalam plasma darah dan menginfeksi sel-sel CD4+ lainnya.

Infeksi HIV pada monosit dan makrofag tampaknya berlangsung secara persisten dan tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna, tetapi sel-sel itu menjadi reservoir bagi HIV sehingga virus tersebut dapat tersembunyi dari sistem imun dan terangkut ke seluruh tubuh lewat sistem itu untuk menginfeksi berbagai jaringan tubuh. Sebagian besar jaringan itu dapat mengandung molekul CD4+ atau memiliki kemampuan untuk memproduksinya.

Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa sesudah infeksi inisial, kurang-lebih 25% dari sel-sel kelenjar limfe akan terin­feksi oleh HIV pula. Replikasi virus akan berlangsung ­terus sepanjang perjalanan infeksi HIV; tempat primernya adalah jaringan limfoid. Ketika sistem imun terstimulasi. replikasi virus akan terjadi dan virus tersebut menyebar ke dalam plasma darah yang mengakibatkan infeksi ber­ikutnya pada sel-sel CD4+ yang lain. Penelitian yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa sistem imun pada infeksi HIV lebih aktif daripada yang diperkirakan sebe­lumnya sebagaimana dibuktikan oleh produksi sebanyak dua milyar limfosit CD4+ per hari. Keseluruhan populasi sel-sel CD4+ perifer akan mengalami "pergantian (turn over)" setiap 15 hari sekali.

Kecepatan produksi HIV diperkirakan berkaitan de­ngan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi terse­but. Jika orang tersebut tidak sedang berperang melawan infeksi yang lain; reproduksi HIV berjalan dengan lam­bat. Namun, reproduksi HIV tampaknya akan dipercepat kalau penderitanya sedang menghadapi infeksi lain atau kalau sistem imunnya terstimulasi. Keadaan ini dapat menjelaskan periode laten yang diperlihatkan oleh seba­gian penderita sesudah terinfeksi HIV. Sebagai contoh, seorang pasien mungkin bebas dari gejala selama berpu­luh tahun; kendati demikian, sebagian besar orang yang terinfeksi HIV (sampai 65%) tetap menderita penyakit HIV atau AIDS yang simtomatik dalam waktu 10 tahun sesudah orang tersebut terinfeksi. Dalam respons imun, limfosit T4 memainkan bebe­rapa peranan yang penting, yaitu: mengenali antigen yang asing, mengaktifkan Limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksik, memproduk­si limfokin dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi limfosit T4 terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan sakit yang serius. Infeksi dan malignansi yang timbul sebagai akibat dari gangguan sistem imun dinamakan infeksi oportunistik.


Gejala

Tanda-tanda klinis penderita AIDS: Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis. Dimensia/HIV ensefalopati

Gejala minor: Batuk menetap lebih dari 1 bulan Dermatitis generalisata yang gatal. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita. HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja.

Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu: Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik. Bayi yang ibunya positif HIV

Para ahli menjelaskan bahwa Tanda dan Gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik, orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebelan tubuhnya menurun/lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV.

Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS diantaranya adalah seperti dibawah ini :

Saluran pernafasan. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Tidak jarang diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.

Saluran Pencernaan. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diarhea yang kronik.

Berat badan tubuh. Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.

System Persyarafan. Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.

System Integument (Jaringan kulit). Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau carar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.

Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah 'pelvic inflammatory disease (PID)' dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).


Data Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan assay antibodi dapat mendeteksi antibodi terhadap HIV. Tetapi karena antibodi anti HIV maternal ditransfer secara pasif selama kehamilan dan dapat dideteksi hingga usia anak 18 bulan, maka adanya hasil antibodi yang positif pada anak kurang dari 18 bulan tidak serta merta menjadikan seorang anak pasti terinfeksi HIV. Karenanya diperlukan uji laboratorik yang mampu mendeteksi virus atau komponennya seperti: assay untuk mendeteksi DNA HIV dari plasma assay untuk mendeteksi RNA HIV dari plasma assay untuk mendeteksi antigen p24 Immune Complex Dissociated (ICD)

Teknologi uji virologi masih dianggap mahal dan kompleks untuk negara berkembang. Real time PCR(RT-PCR) mampu mendeteksi RNA dan DNA HIV, dan saat ini sudah dipasarkan dengan harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Assay ICD p24 yang sudah dikembangkan hingga generasi keempat masih dapat dipergunakan secara terbatas. Evaluasi dan pemantauan kualitas uji laboratorium harus terus dilakukan untuk kepastian program. Selain sampel darah lengkap (whole blood) yang sulit diambil pada bayi kecil, saat ini juga telah dikembangkan di negara tertentu penggunaan dried blood spots (DBS) pada kertas saring tertentu untuk uji DNA maupun RNA HIV. Tetapi uji ini belum dipergunakan secara luas, masih terbatas pada penelitian.

Meskipun uji deteksi antibodi tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis definitif HIV pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan, antibodi HIV dapat digunakan untuk mengeksklusi infeksi HIV, paling dini pada usia 9 sampai 12 bulan pada bayi yang tidak mendapat ASI atau yang sudah dihentikan pemberian ASI sekurang-kurangnya 6 minggu sebelum dilakukannya uji antibodi. Dasarnya adalah antibodi maternal akan sudah menghilang dari tubuh anak pada usia 12 bulan. Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan uji antibodi termasuk uji cepat (rapid test) dapat digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV sama seperti orang dewasa. Pemeriksaan laboratorium lain bersifat melengkapi informasi dan membantu dalam penentuan stadium serta pemilihan obat ARV. Pada pemeriksaan darah tepi dapat dijumpai anemia, leukositopenia, limfopenia, dan trombositopenia. Hal ini dapat disebabkan oleh efek langsung HIV pada sel asal, adanya pembentukan autoantibodi terhadap sel asal, atau akibat infeksi oportunistik.

Jumlah limfosit CD4 menurun dan CD8 meningkat sehingga rasio CD4/CD8 menurun. Fungsi sel T menurun, dapat dilihat dari menurunnya respons proliferatif sel T terhadap antigen atau mitogen. Secara in vivo, menurunnya fungsi sel T ini dapat pula dilihat dari adanya anergi kulit terhadap antigen yang menimbulkan hipersensitivitas tipe lambat. Kadar imunoglobulin meningkat secara poliklonal. Tetapi meskipun terdapat hipergamaglobulinemia, respons antibodi spesifik terhadap antigen baru, seperti respons terhadap vaksinasi difteri, tetanus, atau hepatitis B menurun


Terapi Farmakologi

Inhibitor Transkriptase Balik Nukleosida

Zidovudin
Dosis: Dewasa : oral, 300 mg, dua kali sehari atau 200 mg, 3 kali sehari i.v, 1-2 mg/kg/dose (infuse selama 1 jam),diberikan tiap 4 jam (6 kali sehari) - Anak-anak (3 bulan-12 th): oral, 160 mg/m2 tiap 8 jam i.v, infuse continue,20 mg/m2/jam. Efek samping: anoreksia, lemah, rasa lelah, lesu, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan insomnia. Perhatian dan IO : Zidovudin dapat menyebabkan penekanan sumsum tulang, seperti pd obat gansiklovir, interferon alfa,dapson, flusitosin, vinkristin atau vinblastin. Obat ini harus hati-hati digunakan pada pasien dengan granulositopenia.

Didanosin
Indikasi : Pengobatan pada orang dewasa dan anak-anak yang terinfeksi HIV, dalam kombinasi dengan obat-obat antiretrovirus lain. Dosis : Anak-anak > 8 bulan : 120 mg/m2 dua kali sehari. Dewasa : berdasarkan berat badan pasien <>60 kg : oral, 250 mg, 1 kali sehari. Efek samping : diare, neuropati perifer dan pancreatitis. IO dan perhatian : penggunaan harus hati-hati pada pasien dengan riwayat pancreatitis dan neuropati perifer. Penggunaan bersama obat-obat yang menyebabakan pancreatitis ( misal: etambutol, pentamidin) atau neuropati (misal: etambutol, vinkristin,isoniazid) harus dihindari.

Stavudin
Indikasi : merupakan obat yang diijinkan oleh FDA untuk pengobatan pasien yang terinfeksi HIV, dalam kombinasi dengan obat-obat antiretrovirus lain. Dosis: Bayi baru lahir: 0,5 mg/kg tiap 12 jam. Anak-anak: >14 hari dan <30 kg: 1mg/kg tiap 12 jam ≥30 kg: sama dengan dosis untuk dewasa. Dewasa: ≤60 kg: 30 mg tiap 12 jam ≥60 kg: 40 mg tiap 12 jam. Efek samping: neuropati perifer terkait dosis. Neuropati ini menyebabkan mati rasa, kesemutan, dan nyeri pada kaki yang biasanya akan hilang setelah dosis dihentikan. Perhatian dan IO: obat-obat yang menyebabkan neuropati (misalnya etambutol,isoniazid,fenitoin) harus digunakan secara hati-hati pada pasien yang menerima terapi Stavudin. Regimen yg mengandung stavudin,didanosin, dan/atau hidroksiurea dapat meningkatkan resiko neuropati perifer. Zidovudin dan stavudin
tidak boleh digunakan secara bersamaan.

Lamivudin
Indikasi: Lamivudin diizinkan oleh FDA untuk pengobatan infeksi HIV pada anak-anak dan dewasa dalam kombinasi dengan antiretrovirus lain.  Dosis:  Anak-anak 3 bln-16 tahun: 4 mg/kg, 1 kali sehari. Max dose: 150 mg, 2 kali sehari. Anak-anak 2-17 tahun: 3 mg/kg, 1 kali sehari. Max dose: 100mg/hari . Dewasa: 150 mg, 2 kali sehari atau 300 mg,1 kali sehari. Efak samping: sakit kepala, mual, dan pancreatitis dilaporkan pada geriatri. Perhatian dan IO: Lamivudin dan Zalsitabin saling bersifat antagonis dan tidak boleh digunakan secara bersamaan.

Abakavir
Dosis:  Anak-anak: 8mg/kg, 2 kali sehari. Max dose: 300 mg, 2 kali sehari, dalam kombinasi dengan antiretrovirus lain. Dewasa: 300mg,2 kali sehari atau 600 mg,1 kali sehari dalam kombinasi dengan antiretrovirus lain. Efek samping: sindrom gastrointestinal, keluhan neurologis, dan suatu sindrom hipersensitivitas yang khas, mual, muntah, dan nyeri abdomen. Perhatian dan IO: Etanol dapat meningkatkan kadar Abakavir dalam plasma sebesar 41%, selain itu pasien sebelum memulai terapi dengan obat ini harus diberikan informasi terkait reaksi hipersensitivitas

Inhibitor Transkriptase Balik Non Nukleosida

Nevirapin
Indikasi: sebagai antiretrovirus yang diizinkan oleh FDA dalam kombinasi dengan antiretroviral lain. Pemberian Nevirapin intrapartum oral tunggal yang diikuti dengan dosis tunggal pada bayi baru lahir jauh lebih baik dalam mencegah penularan vertical HIV disbanding terapi Zidovudin. Dosis: - Anak 2bulan - <8 th: 4mg/kg/dose,1 kali sehari selama 14 hari. Dosis dapat ditingkatkan 7 mg/kg/dose setiap 12 jam. Dosis max: 200mg, setiap 12 jam. - Anak ≥8 th: 4 mg/kg/dose intitial, 1 kali sehari selama 14 hari. dapat ditingkatkan 4mg/kg/dose setiap 12 jam. Dosis max: 200mg/kg/dose,setiap 12 jam. - Dewasa: 200mg, 1 kali sehari selama 14 hari; dosis pemeliharaan: 200mg,2 kali sehari dalam kombinasi dengan antiretrovius lain.

Efak samping: ruam, demam, rasa lelah, sakit kepala, mengantuk, mual, dan menigkatnya enzi-enzim hati. Perhatian dan IO: nevirapin menginduksi CYP3A4 sehingga pemberian bersamaan senyawa yang dimetabolisme oleh system ini dapat menurunkan kadar obat dalam plasma. Kombinasi Rifampin dan Ketokonazol pada pasien yang menerima nevirapin dikontraindikasikan.

Evavirenz
Indikasi: sebagai antiretroviral yang diizinkan oleh FDA dalam kombinasi dengan antiretroviral lain, merupakan antiretroviral pertama yang diizinkan untuk pemberian 1 kali sehari. Dosis: Anak ≥3 th: disesuaikan dengan berat badan 10 – 15 kg: 200 mg, 1 kali sehari; 15 – 20 kg: 250 mg, 1 kali sehari; 20 – 25 kg: 300 mg, 1 kali sehari; 25 – 32,5kg: 350 mg, 1 kali sehari; 32,5-40kg: 400mg, 1 kali sehari; >40 kg: 600 mg,1 kali sehari. Dewasa: 600 mg, 1 kali sehari.

Efek samping: sakit kepala, pening, mimpi yang tidak biasa, gangguan konsentrasi, dan ruam. Perhatian dan IO: Efavirenz dapat menurunkan kadar fenobarbital, fenitoin, karbamazepin, dan metadon dengan menginduksi CYP 450.

Delavirdin
Indikasi: sebagai antiretroviral untuk dewasa yang diizinkan oleh FDA, kombinasi 3 obat dengan regiment ini terbukti dapat meningkatkan efikasi obat. Dosis: Umur ≥16 th dan dewasa: oral, 400 mg, 3 kali sehari Efek samping: ruam yang terjadi pada minggu pertama penggunaan obat dan akan menghilang meski terapi dilanjutkan, ruam dapat berupa macula, papula, eritema, dan pruritis.

Inhibitor Protease

 Sakunavir
Indikasi: sebagai antiretroviral pertama yang diizinkan oleh FDA untuk terapi infeksi HIV, sakunavir lazim dikombinasi dengan ritonavir karena interaksi farmakokinetiknya yang menguntungkan. Dosis: Dewasa: oral, 1200 mg, tiap 8 jam. Efek samping: gangguan GI termasuk mual, muntah, diare, dan gangguan abdomen. Perhatian dan IO: tidak boleh digunakan bersamaan turunan ergot, sisaprid, triazolam atau midzolam. Sakunavir merupakan inhibitor CYP3A4 lemah tapi dapat menyebabkab aritmia jantung atau sedasi yang lama.

Indinavir
Indikasi: sebagai antiretroviral yang diizinkan oleh FDA untuk anak-anak dan dewasa, dalam dikombinasi dengan zidovudin dan lamivudin dapat menuingkatkan ketahanan hidup pasien HIV. Dosis: Anak 4-15 th: 500mg/m2,setiap 8 jam. Dewasa: Oral: Ritonavir 100-200mg, 2 kali sehari + Indinavir,800mg, 2 kali sehari. Ritonavir 400 mg, 2 kali sehari + Indinavir, 400 mg, 2 kali sehari. Efek samping: kristaluria, endapan indinavir dan metabolitnya dapat menyebabkan kolik ginjal. Perhatian dan IO: pasien yang menerima indinavir harus minum paling sedikit 72 ons cairan setiap hari.

Ritonavir
Indikasi: merupakan antiretroviral yang diizinkan FDA untuk pasien anak dan dewasa. Pada pasien yang terinfeksi HIV-1 yang rentan dan pasien dengan penyakit tahap lanjut. Dosis: Anak >1 bulan: 350-400mg/m2, 2 kali sehari (dosis maksimum 600 mg). Dosis intitial: 250mg/m2,2 kali sehari selama 2 hari atau 500 mg/m2,1 kali sehari. Dewasa: 600mg, 2 kali sehari. Efek samping: gangguan GI seperti mual,muntah,nyeri abdomen,dan perubahan rasa. Parestesia perifer dan perioral juga umum terjadi. Perhatiaan dan IO: untuk meminimalkan intoleransi pada dewasa dan remaja maka dosis awal diberikan 300 mg tiap 12 jam dan secara bertahap dapat ditingkatkan sampai 600mg tiap 12 jam.

Nelfinavir
Indikasi: sebagai antiretroviral pada dewasa dan anak yang diizinkan oleh FDA terutama pada infeksi HIV-1, pada pasien yang belum pernah mendapat inhibitor protease HIV dan lamivudin. Dosis: Anak 2-13 th: 45-55 mg/kg, 2 kali sehari atau 25-35mg/kg,3 kali sehari, diberikan bersama dengan makanan. Dewasa: 750 mg, 3 kali sehari dan diberikan bersama dengan makanan. Efek samping: diare (paling sering terjadi), diabetes, intoleransi glukosa, peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol. Perhatian dan IO: karena obat ini dimetabolisme oleh CYP3A4 maka pemberian bersama obat yang dapat menginduksi CYP3A4 ,misal:rifampin dikontraindikasikan.

Amprenavir
Indikasi: sebagai antiretroviral dalam kombinasi dengan antiretroviral lain untuk anak dan dewasa yang diizinkan oleh FDA. Dosis: Anak 4-12 th atau 13-16 th (< 50 kg): 20mg/kg,2 kali sehari atau 15mmg/kg, 3 kali sehari. Dosis maksimum: 2400mg/kg. - Dewasa: 1200 mg/kg, 2 kali sehari. Efek samping: mual, muntah, feses encer, hiperglikemia, rasa lelah, parestesia, dan sakit kepala. Perhatian dan IO: dengan obat yang menginduksi CYP3A4 dan obat yang dimetabolisme oleh CYP3A4.

Lopinavir
Indikasi: sebagai antiretroviral untuk anak dan dewasa yang diizinkan oleh FDA.
Dosis: - Anak 6 bulan-12 tahun : berdasarkan berat badan 7-15 kg: 12 mg/kg, 2 kali sehari; 15-40 kg: 10 mg/kg, 2 kali sehari; > 40 kg: 800 mg/ritonavir 200 mg, 1 kali sehari. Dewasa: lopinavir 800 mg/ritonavir 200 mg, 1 kali sehari atau lopinavir 400 mg/ ritonavir 100 mg, 1 kali sehari. Efak samping: gangguan GI, diare, dan mual. Perhatian dan IO: tidak boleh diberikan bersama obat yang menginduksi CYP3A4, seperti Rifampin.


KIE dan Spesifikasi untuk Pemyakit

Tindakan pencegahan yang dapat menurunkan resiko penularan infeksi HIV antara lain: Memberikan pendidikan dan pengetahuan mengenai patofisiologi dan penyebaran infeksi HIV. Kontak seksual antara homoseksual sebaiknya memakai kondom. Kurangi jumlah pasangan seksual dan memakai kondom. Tidak memakai alat suntik secara bersama-sama. Memberikan alat suntik dengan pembersih atau mengganti alat suntik (sekali pakai). Menghindari aktivitas seksual yang beresiko (anal). Orang normal dengan pasangan yang beresiko sebaiknya menggunakan teknik seks yang aman. Wanita dengan HIV : memakai kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dan tidak memberikan ASI. Pakai kondom dari lateks.

Daftar Pustaka
Centers for Disease Control and Prevention. 1994 Revised classification system for human immunodeficiency virus infection in children less than 13 years of age; Official authorized addenda: human immunodeficiency virus infection codes and official guidelines for coding and reporting ICD-9-CM. MMWR 1994;43(No.RR-12):1-10

World Health Organization. Paediatric HIV and treatment of children living with HIV. Available at http://www.who.int/hiv/paediatric/en/index.html. Accessed 2006. World Health Organization. The World Health Report: Global Health–today’s challenges. Available at http://www.who.int/whr/2003/en/Chapter1.pdf.

Epocrates. Drug Information. Epocrates Online. Available athttp://www.epocrates.com/.

Kovacs A, Scott GB. Advances in the management and care of HIV-positive newborns and infants. In: Pizzo PA, Wilfert CM. Pediatric AIDS: The Challenge of HIV Infection in Infants, Children, and Adolescents. 3rd ed. Philadelphia, Pa: Lippincott Williams & Wilkins; 1998:567-92.

Laude TA. Manifestations of HIV disease in children. Clin Dermatol. Jul-Aug 2000;18(4):457-67.

Layton TL, Davis-McFarland E. Pediatric human immunodeficiency virus and acquired immunodeficiency syndrome: an overview. Semin Speech Lang. 2000;21(1):7-17.

Nesheim S, Palumbo P, Sullivan K, Lee F, Vink P, Abrams E, Bulterys M. Quantitative RNA testing for diagnosis of HIV-Infected infants. J Acquir Immune Defic Syndr

Wade AM, Ades AE. Age-related reference ranges: significance tests for models and confidence intervals for centiles. Stat Med. 1994 Nov 30;13(22):2359-67.

Shearer WT, Rosenblatt HM, Gelman RS, Oyomopito R, Plaeger S, Stiehm ER, et al. Lymphocyte subsets in healthy children from birth through 18 years of age: the Pediatric AIDS Clinical Trials Group P1009 study. J Allergy Clin Immunol. 2003 Nov;112(5):973-80.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar