HIV (Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup
dalam tubuh manusia, yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia. AIDS (Acguired Immuno–Deviensi Syndromer) adalah
kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit
dari luar.
Patofisiologi
HIV tergolong ke dalam kelompok virus yang
dikenal sebagai retrovirus yang menunjukkan bahwa virus tersebut membawa materi
genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam asam deoksiribonukleat
(DNA). Virion HIV (partikel virus yang lengkap dan dibungkus oleh selubung
pelindung) mengandung RNA dalam inti berbentuk peluru terpancung dimana p24
merupakan komponen structural yang utama. Tombol yang menonjol lewat dinding
virus terdiri atas protein gp120 yang terkait pada protein gp41. Bagian yang
secara selektif berikatan dengan sel-sel CD4-positif (CD4+) adalah gp10 dari
HIV.
Sel-sel
CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper (yang
dinamakan sel-sel CD4+ kalau dikaitkan dengan infeksi HIV); limfosit T4 helper
ini merupakan sel yang paling banyak di antara ketiga sel di atas. Sesudah
terikat dengan membran sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas benang
RNA yang identik ke dalam sel T4 helper. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai
reverse transcriptase, HIV akan melakukan pemrograman ulang materi genetik dari
sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA (DNA utas-ganda). DNA
ini akan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian
terjadi infeksi yang permanen.
Menurut Smeltzer siklus
replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sampai sel yang terinfeksi
diaktifkan. Aktivasi sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen,
mitogen, sitokin (TNF alfa atau interleukin l) atau produk gen virus seperti
sitomegalovirus (CMV; cytomegalovirus), virus Epstein-Barr, herpes simpleks dan
hepatitis. Sebagai akibatnya, pada saat sel T4 yang terinfeksi diaktifkan,
replikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel T4 akan dihancurkan.
HIV yang baru dibentuk ini kemudian dilepas ke dalam plasma darah dan
menginfeksi sel-sel CD4+ lainnya.
Infeksi HIV pada monosit
dan makrofag tampaknya berlangsung secara persisten dan tidak mengakibatkan
kematian sel yang bermakna, tetapi sel-sel itu menjadi reservoir bagi HIV
sehingga virus tersebut dapat tersembunyi dari sistem imun dan terangkut ke
seluruh tubuh lewat sistem itu untuk menginfeksi berbagai jaringan tubuh.
Sebagian besar jaringan itu dapat mengandung molekul CD4+ atau memiliki
kemampuan untuk memproduksinya.
Sejumlah penelitian
memperlihatkan bahwa sesudah infeksi inisial, kurang-lebih 25% dari sel-sel
kelenjar limfe akan terinfeksi oleh HIV pula. Replikasi virus akan berlangsung
terus sepanjang perjalanan infeksi HIV; tempat primernya adalah jaringan
limfoid. Ketika sistem imun terstimulasi. replikasi virus akan terjadi dan
virus tersebut menyebar ke dalam plasma darah yang mengakibatkan infeksi berikutnya
pada sel-sel CD4+ yang lain. Penelitian yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa
sistem imun pada infeksi HIV lebih aktif daripada yang diperkirakan sebelumnya
sebagaimana dibuktikan oleh produksi sebanyak dua milyar limfosit CD4+ per
hari. Keseluruhan populasi sel-sel CD4+ perifer akan mengalami "pergantian
(turn over)" setiap 15 hari sekali.
Kecepatan produksi HIV
diperkirakan berkaitan dengan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi
tersebut. Jika orang tersebut tidak sedang berperang melawan infeksi yang
lain; reproduksi HIV berjalan dengan lambat. Namun, reproduksi HIV tampaknya
akan dipercepat kalau penderitanya sedang menghadapi infeksi lain atau kalau
sistem imunnya terstimulasi. Keadaan ini dapat menjelaskan periode laten yang
diperlihatkan oleh sebagian penderita sesudah terinfeksi HIV. Sebagai contoh,
seorang pasien mungkin bebas dari gejala selama berpuluh tahun; kendati
demikian, sebagian besar orang yang terinfeksi HIV (sampai 65%) tetap menderita
penyakit HIV atau AIDS yang simtomatik dalam waktu 10 tahun sesudah orang
tersebut terinfeksi. Dalam respons imun, limfosit T4 memainkan beberapa
peranan yang penting, yaitu: mengenali antigen yang asing, mengaktifkan
Limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksik,
memproduksi limfokin dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau
fungsi limfosit T4 terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan
penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan sakit yang
serius. Infeksi dan malignansi yang timbul sebagai akibat dari gangguan sistem
imun dinamakan infeksi oportunistik.
Gejala
Tanda-tanda klinis penderita AIDS: Berat
badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan. Diare kronis yang
berlangsung lebih dari 1 bulan. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan. Penurunan
kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis. Dimensia/HIV
ensefalopati
Gejala minor: Batuk
menetap lebih dari 1 bulan Dermatitis generalisata
yang gatal.
Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang. Infeksi
jamur berulang pada alat kelamin wanita. HIV dan
AIDS dapat menyerang siapa saja.
Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular
HIV penyebab AIDS, yaitu: Orang
yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan
kondom. Pengguna
narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama. Pasangan
seksual pengguna narkoba suntik. Bayi yang ibunya positif HIV
Para ahli menjelaskan bahwa Tanda dan Gejala Penyakit
AIDS seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak
memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya mengalami demam selama 3
sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV
tersebut. Setelah kondisi membaik, orang yang terkena virus HIV akan tetap
sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebelan tubuhnya menurun/lemah hingga
jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat
kepastian adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamanya jika seseorang
merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV.
Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS diantaranya
adalah seperti dibawah ini :
Saluran
pernafasan. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri
dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Tidak jarang
diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.
Saluran
Pencernaan. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti
hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada
rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diarhea yang kronik.
Berat
badan tubuh. Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu
kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada
sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi
termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem
pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik, kondisi letih dan lemah kurang
bertenaga.
System
Persyarafan. Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan
kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan
dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral)
akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek
tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.
System
Integument (Jaringan kulit). Penderita mengalami serangan virus cacar air
(herpes simplex) atau carar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit
kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami
infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak
(kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.
Saluran
kemih dan Reproduksi pada wanita. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur
pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran
kemih, menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih
banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS
wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai
istilah 'pelvic inflammatory disease (PID)' dan mengalami masa haid yang tidak
teratur (abnormal).
Data Laboratorium
Pemeriksaan
laboratorium
Pemeriksaan
assay antibodi dapat mendeteksi antibodi terhadap HIV. Tetapi karena antibodi
anti HIV maternal ditransfer secara pasif selama kehamilan dan dapat dideteksi
hingga usia anak 18 bulan, maka adanya hasil antibodi yang positif pada anak
kurang dari 18 bulan tidak serta merta menjadikan seorang anak pasti terinfeksi
HIV. Karenanya diperlukan uji laboratorik yang mampu mendeteksi virus atau
komponennya seperti: assay untuk mendeteksi DNA HIV dari plasma assay untuk
mendeteksi RNA HIV dari plasma assay untuk mendeteksi antigen p24 Immune
Complex Dissociated (ICD)
Teknologi
uji virologi masih dianggap mahal dan kompleks untuk negara berkembang. Real
time PCR(RT-PCR) mampu mendeteksi RNA dan DNA HIV, dan saat ini sudah
dipasarkan dengan harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Assay ICD p24
yang sudah dikembangkan hingga generasi keempat masih dapat dipergunakan secara
terbatas. Evaluasi dan pemantauan kualitas uji laboratorium harus terus
dilakukan untuk kepastian program. Selain sampel darah lengkap (whole blood)
yang sulit diambil pada bayi kecil, saat ini juga telah dikembangkan di negara
tertentu penggunaan dried blood spots (DBS) pada kertas saring tertentu untuk
uji DNA maupun RNA HIV. Tetapi uji ini belum dipergunakan secara luas, masih
terbatas pada penelitian.
Meskipun
uji deteksi antibodi tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis definitif
HIV pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan, antibodi HIV dapat digunakan
untuk mengeksklusi infeksi HIV, paling dini pada usia 9 sampai 12 bulan pada
bayi yang tidak mendapat ASI atau yang sudah dihentikan pemberian ASI
sekurang-kurangnya 6 minggu sebelum dilakukannya uji antibodi. Dasarnya adalah
antibodi maternal akan sudah menghilang dari tubuh anak pada usia 12 bulan.
Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan uji antibodi termasuk uji cepat
(rapid test) dapat digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV sama seperti orang
dewasa. Pemeriksaan laboratorium lain bersifat melengkapi informasi dan
membantu dalam penentuan stadium serta pemilihan obat ARV. Pada pemeriksaan
darah tepi dapat dijumpai anemia, leukositopenia, limfopenia, dan trombositopenia.
Hal ini dapat disebabkan oleh efek langsung HIV pada sel asal, adanya
pembentukan autoantibodi terhadap sel asal, atau akibat infeksi oportunistik.
Jumlah
limfosit CD4 menurun dan CD8 meningkat sehingga rasio CD4/CD8 menurun. Fungsi
sel T menurun, dapat dilihat dari menurunnya respons proliferatif sel T
terhadap antigen atau mitogen. Secara in vivo, menurunnya fungsi sel T ini
dapat pula dilihat dari adanya anergi kulit terhadap antigen yang menimbulkan
hipersensitivitas tipe lambat. Kadar imunoglobulin meningkat secara poliklonal.
Tetapi meskipun terdapat hipergamaglobulinemia, respons antibodi spesifik
terhadap antigen baru, seperti respons terhadap vaksinasi difteri, tetanus,
atau hepatitis B menurun
Terapi Farmakologi
Inhibitor Transkriptase Balik Nukleosida
Zidovudin
Dosis: Dewasa : oral, 300 mg, dua kali sehari atau 200 mg, 3
kali sehari i.v, 1-2 mg/kg/dose (infuse selama 1
jam),diberikan tiap 4 jam (6 kali sehari) - Anak-anak (3 bulan-12 th): oral, 160 mg/m2
tiap 8 jam i.v, infuse continue,20 mg/m2/jam. Efek samping:
anoreksia, lemah, rasa lelah, lesu, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan
insomnia. Perhatian dan IO : Zidovudin dapat menyebabkan penekanan sumsum tulang, seperti pd obat
gansiklovir, interferon alfa,dapson, flusitosin, vinkristin atau vinblastin.
Obat ini harus hati-hati digunakan pada pasien dengan granulositopenia.
Didanosin
Indikasi : Pengobatan pada orang dewasa dan anak-anak yang
terinfeksi HIV, dalam kombinasi dengan obat-obat antiretrovirus lain. Dosis : Anak-anak > 8 bulan : 120
mg/m2 dua kali sehari. Dewasa :
berdasarkan berat badan pasien <>60 kg : oral, 250 mg, 1 kali sehari. Efek samping : diare, neuropati perifer dan pancreatitis. IO dan perhatian : penggunaan harus hati-hati pada pasien dengan
riwayat pancreatitis dan neuropati perifer. Penggunaan bersama obat-obat yang
menyebabakan pancreatitis ( misal: etambutol, pentamidin) atau neuropati
(misal: etambutol, vinkristin,isoniazid) harus dihindari.
Stavudin
Indikasi : merupakan obat yang diijinkan oleh FDA untuk pengobatan
pasien yang terinfeksi HIV, dalam kombinasi dengan obat-obat antiretrovirus
lain. Dosis: Bayi baru lahir: 0,5 mg/kg tiap 12 jam. Anak-anak: >14 hari dan <30 kg: 1mg/kg tiap 12 jam ≥30
kg: sama dengan dosis untuk dewasa. Dewasa: ≤60 kg: 30 mg tiap 12 jam ≥60 kg: 40 mg tiap
12 jam. Efek samping: neuropati perifer terkait dosis. Neuropati ini
menyebabkan mati rasa, kesemutan, dan nyeri pada kaki yang biasanya akan hilang
setelah dosis dihentikan. Perhatian
dan IO: obat-obat yang
menyebabkan neuropati (misalnya etambutol,isoniazid,fenitoin) harus digunakan
secara hati-hati pada pasien yang menerima terapi Stavudin. Regimen yg
mengandung stavudin,didanosin, dan/atau hidroksiurea dapat meningkatkan resiko
neuropati perifer. Zidovudin dan stavudin
tidak boleh digunakan secara bersamaan.
Lamivudin
Indikasi: Lamivudin diizinkan oleh FDA untuk pengobatan
infeksi HIV pada anak-anak dan dewasa dalam kombinasi dengan antiretrovirus
lain. Dosis: Anak-anak 3 bln-16 tahun: 4 mg/kg, 1 kali
sehari. Max dose: 150 mg, 2 kali sehari. Anak-anak 2-17 tahun: 3 mg/kg, 1 kali
sehari. Max dose: 100mg/hari . Dewasa: 150 mg, 2 kali sehari atau 300 mg,1 kali
sehari. Efak samping: sakit
kepala, mual, dan pancreatitis dilaporkan pada geriatri. Perhatian dan IO: Lamivudin dan Zalsitabin saling
bersifat antagonis dan tidak boleh digunakan secara bersamaan.
Abakavir
Dosis: Anak-anak: 8mg/kg, 2 kali
sehari. Max dose: 300 mg, 2 kali sehari, dalam kombinasi dengan antiretrovirus
lain. Dewasa: 300mg,2 kali sehari atau 600 mg,1 kali sehari dalam kombinasi
dengan antiretrovirus lain. Efek samping: sindrom gastrointestinal, keluhan
neurologis, dan suatu sindrom hipersensitivitas yang khas, mual, muntah, dan
nyeri abdomen. Perhatian dan IO: Etanol dapat meningkatkan kadar
Abakavir dalam plasma sebesar 41%, selain itu pasien sebelum memulai terapi
dengan obat ini harus diberikan informasi terkait reaksi hipersensitivitas
Inhibitor Transkriptase Balik Non Nukleosida
Nevirapin
Indikasi: sebagai antiretrovirus yang diizinkan oleh FDA dalam kombinasi dengan
antiretroviral lain. Pemberian Nevirapin intrapartum oral tunggal yang diikuti
dengan dosis tunggal pada bayi baru lahir jauh lebih baik dalam mencegah
penularan vertical HIV disbanding terapi Zidovudin. Dosis: - Anak 2bulan - <8 th:
4mg/kg/dose,1 kali sehari selama 14 hari. Dosis dapat ditingkatkan 7 mg/kg/dose
setiap 12 jam. Dosis max: 200mg, setiap 12 jam. - Anak ≥8 th: 4 mg/kg/dose
intitial, 1 kali sehari selama 14 hari. dapat ditingkatkan 4mg/kg/dose setiap 12
jam. Dosis max: 200mg/kg/dose,setiap 12 jam. - Dewasa: 200mg, 1 kali sehari
selama 14 hari; dosis pemeliharaan: 200mg,2 kali sehari dalam kombinasi dengan
antiretrovius lain.
Efak samping: ruam, demam, rasa lelah, sakit kepala, mengantuk,
mual, dan menigkatnya enzi-enzim hati. Perhatian dan IO: nevirapin menginduksi
CYP3A4 sehingga pemberian bersamaan senyawa yang dimetabolisme oleh system ini
dapat menurunkan kadar obat dalam plasma. Kombinasi Rifampin dan Ketokonazol
pada pasien yang menerima nevirapin dikontraindikasikan.
Evavirenz
Indikasi: sebagai antiretroviral yang diizinkan oleh FDA dalam kombinasi dengan
antiretroviral lain, merupakan antiretroviral pertama yang diizinkan untuk
pemberian 1 kali sehari. Dosis: Anak ≥3 th: disesuaikan
dengan berat badan 10 – 15 kg: 200 mg, 1 kali sehari; 15 – 20 kg: 250 mg, 1
kali sehari; 20 – 25 kg: 300 mg, 1 kali sehari; 25 – 32,5kg: 350 mg, 1 kali
sehari; 32,5-40kg: 400mg, 1 kali sehari; >40 kg: 600 mg,1 kali sehari.
Dewasa: 600 mg, 1 kali sehari.
Efek samping: sakit kepala, pening, mimpi yang tidak biasa,
gangguan konsentrasi, dan ruam. Perhatian dan IO: Efavirenz dapat menurunkan kadar fenobarbital, fenitoin, karbamazepin,
dan metadon dengan menginduksi CYP 450.
Delavirdin
Indikasi: sebagai antiretroviral untuk dewasa yang diizinkan oleh FDA,
kombinasi 3 obat dengan regiment ini terbukti dapat meningkatkan efikasi obat. Dosis: Umur ≥16 th dan dewasa: oral, 400 mg, 3 kali sehari
Efek samping: ruam yang terjadi pada minggu pertama penggunaan obat dan
akan menghilang meski terapi dilanjutkan, ruam dapat berupa macula, papula,
eritema, dan pruritis.
Inhibitor Protease
Sakunavir
Indikasi: sebagai antiretroviral pertama yang diizinkan
oleh FDA untuk terapi infeksi HIV, sakunavir lazim dikombinasi dengan ritonavir
karena interaksi farmakokinetiknya yang menguntungkan. Dosis: Dewasa: oral, 1200 mg, tiap 8 jam. Efek samping: gangguan GI termasuk mual,
muntah, diare, dan gangguan abdomen. Perhatian
dan IO: tidak boleh digunakan
bersamaan turunan ergot, sisaprid, triazolam atau midzolam. Sakunavir merupakan
inhibitor CYP3A4 lemah tapi dapat menyebabkab aritmia jantung atau sedasi yang
lama.
Indinavir
Indikasi: sebagai antiretroviral yang diizinkan oleh FDA
untuk anak-anak dan dewasa, dalam dikombinasi dengan zidovudin dan lamivudin
dapat menuingkatkan ketahanan hidup pasien HIV. Dosis: Anak
4-15 th: 500mg/m2,setiap 8 jam. Dewasa: Oral: Ritonavir 100-200mg, 2 kali sehari +
Indinavir,800mg, 2 kali sehari.
Ritonavir 400 mg, 2 kali sehari + Indinavir, 400
mg, 2 kali sehari. Efek samping: kristaluria,
endapan indinavir dan metabolitnya dapat menyebabkan kolik ginjal. Perhatian dan IO: pasien yang menerima indinavir harus minum paling sedikit 72 ons
cairan setiap hari.
Ritonavir
Indikasi: merupakan antiretroviral yang diizinkan FDA untuk
pasien anak dan dewasa. Pada pasien yang terinfeksi HIV-1 yang rentan dan
pasien dengan penyakit tahap lanjut. Dosis:
Anak >1 bulan: 350-400mg/m2, 2 kali sehari
(dosis maksimum 600 mg). Dosis intitial: 250mg/m2,2 kali sehari selama 2 hari
atau 500 mg/m2,1 kali sehari. Dewasa:
600mg, 2 kali sehari. Efek samping: gangguan GI seperti mual,muntah,nyeri abdomen,dan
perubahan rasa. Parestesia perifer dan perioral juga umum terjadi. Perhatiaan dan IO: untuk meminimalkan intoleransi pada dewasa dan remaja maka dosis awal
diberikan 300 mg tiap 12 jam dan secara bertahap dapat ditingkatkan sampai
600mg tiap 12 jam.
Nelfinavir
Indikasi: sebagai antiretroviral pada dewasa dan anak yang diizinkan oleh FDA
terutama pada infeksi HIV-1, pada pasien yang belum pernah mendapat inhibitor
protease HIV dan lamivudin. Dosis: Anak
2-13 th: 45-55 mg/kg, 2 kali sehari atau 25-35mg/kg,3 kali sehari, diberikan
bersama dengan makanan. Dewasa: 750 mg, 3
kali sehari dan diberikan bersama dengan makanan. Efek samping: diare (paling sering terjadi), diabetes, intoleransi
glukosa, peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol. Perhatian dan IO: karena obat ini dimetabolisme oleh CYP3A4 maka pemberian bersama obat
yang dapat menginduksi CYP3A4 ,misal:rifampin dikontraindikasikan.
Amprenavir
Indikasi: sebagai antiretroviral dalam kombinasi dengan
antiretroviral lain untuk anak dan dewasa yang diizinkan oleh FDA. Dosis: Anak 4-12 th atau 13-16 th (< 50 kg): 20mg/kg,2
kali sehari atau 15mmg/kg, 3 kali sehari. Dosis maksimum: 2400mg/kg. - Dewasa:
1200 mg/kg, 2 kali sehari. Efek samping: mual, muntah, feses encer,
hiperglikemia, rasa lelah, parestesia, dan sakit kepala. Perhatian dan IO:
dengan obat yang menginduksi CYP3A4 dan obat yang dimetabolisme oleh CYP3A4.
Lopinavir
Indikasi: sebagai antiretroviral untuk anak dan dewasa yang diizinkan oleh FDA.
Dosis: - Anak 6 bulan-12 tahun : berdasarkan berat badan 7-15 kg: 12 mg/kg, 2 kali sehari; 15-40 kg: 10 mg/kg, 2 kali sehari; > 40 kg: 800 mg/ritonavir 200 mg, 1 kali sehari. Dewasa: lopinavir 800 mg/ritonavir 200 mg, 1 kali sehari atau lopinavir 400 mg/ ritonavir 100 mg, 1 kali sehari. Efak samping: gangguan GI, diare, dan mual. Perhatian dan IO: tidak boleh diberikan bersama obat yang menginduksi CYP3A4, seperti Rifampin.
Dosis: - Anak 6 bulan-12 tahun : berdasarkan berat badan 7-15 kg: 12 mg/kg, 2 kali sehari; 15-40 kg: 10 mg/kg, 2 kali sehari; > 40 kg: 800 mg/ritonavir 200 mg, 1 kali sehari. Dewasa: lopinavir 800 mg/ritonavir 200 mg, 1 kali sehari atau lopinavir 400 mg/ ritonavir 100 mg, 1 kali sehari. Efak samping: gangguan GI, diare, dan mual. Perhatian dan IO: tidak boleh diberikan bersama obat yang menginduksi CYP3A4, seperti Rifampin.
KIE dan Spesifikasi untuk Pemyakit
Tindakan pencegahan yang dapat menurunkan resiko penularan
infeksi HIV antara lain: Memberikan pendidikan dan pengetahuan mengenai patofisiologi dan
penyebaran infeksi HIV. Kontak seksual
antara homoseksual sebaiknya memakai kondom. Kurangi jumlah pasangan seksual dan memakai kondom. Tidak memakai alat suntik secara bersama-sama. Memberikan alat suntik dengan pembersih atau mengganti
alat suntik (sekali pakai). Menghindari
aktivitas seksual yang beresiko (anal). Orang
normal dengan pasangan yang beresiko sebaiknya menggunakan teknik seks yang
aman. Wanita dengan HIV : memakai
kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dan tidak memberikan ASI. Pakai kondom dari lateks.
Daftar Pustaka
Centers for Disease Control and Prevention. 1994 Revised classification
system for human immunodeficiency virus infection in children less than 13
years of age; Official authorized addenda: human immunodeficiency virus
infection codes and official guidelines for coding and reporting ICD-9-CM. MMWR
1994;43(No.RR-12):1-10
World Health Organization. Paediatric HIV and treatment of
children living with HIV. Available at http://www.who.int/hiv/paediatric/en/index.html.
Accessed 2006. World Health Organization. The World Health Report: Global
Health–today’s challenges. Available at http://www.who.int/whr/2003/en/Chapter1.pdf.
Epocrates. Drug Information. Epocrates Online. Available athttp://www.epocrates.com/.
Kovacs A, Scott GB. Advances in the management and care of
HIV-positive newborns and infants. In: Pizzo PA, Wilfert CM. Pediatric AIDS: The
Challenge of HIV Infection in Infants, Children, and Adolescents. 3rd ed.
Philadelphia, Pa: Lippincott Williams & Wilkins; 1998:567-92.
Laude TA. Manifestations of HIV disease in children. Clin
Dermatol. Jul-Aug 2000;18(4):457-67.
Layton TL, Davis-McFarland E. Pediatric human immunodeficiency
virus and acquired immunodeficiency syndrome: an overview. Semin Speech Lang.
2000;21(1):7-17.
Nesheim S, Palumbo P, Sullivan K, Lee F, Vink P, Abrams E,
Bulterys M. Quantitative RNA testing for diagnosis of HIV-Infected infants. J
Acquir Immune Defic Syndr
Wade AM, Ades AE. Age-related reference ranges: significance tests
for models and confidence intervals for centiles. Stat Med. 1994 Nov
30;13(22):2359-67.
Shearer WT, Rosenblatt HM, Gelman RS, Oyomopito R, Plaeger S,
Stiehm ER, et al. Lymphocyte subsets in healthy children from birth through 18
years of age: the Pediatric AIDS Clinical Trials Group P1009 study. J Allergy
Clin Immunol. 2003 Nov;112(5):973-80.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar