Mual
dan muntah bukan merupakan penyakit, namun suatu gejala. Mual sering kali
diartikan sebagai keinginan untuk muntah atau gejala yang dirasakan
ditenggorokan dan di daerah sekitar lambung, yang menandakan kepada seseorang
bahwa ia akan segera muntah. Muntah diartikan sebagai pengeluaran isi lambung
melalui mulut yang sering kali membutuhkan dorongan yang sangat kuat (Sukandar,
2008: 378).
Epidemiologi
Mual muntah muncul pada orang dewasa dan anak-anak.
Data statistik epidemiologi mual muntah tidak ada karena banyak kasus penyakit
dimana gejala ini muncul, dan banyak pasien tidak melaporkan keadaan ini pada
praktisi kesehatan yang menanganinya. Tiga kondisi umum yang berhubungan dengan
mual muntah adalah mabuk perjalanan, mual muntah karena hamil (NVP), dan
gastroenteritis karena virus.
Etiologi
Penyakit
psikogenik. Proses-proses sentral (misal : tumor otak). Proses sentral tak
langsung (misal : obat-obatan, kehamilan). Penyakit perifer (misal :
peritonitis) Iritasi lambung atau usus (Walsh, 1997: 310).
Mual
dan muntah dapat disebabkan oleh banyak rangsangan seperti bepergian (contah:
mabuk perjalanan), kehamilan, terapi obat, stres, infeksi lambung karna virus,
terlalu banyak makan, keracunan makanan, bulimia, dan faktor- faktor lainnya.
Kejadian mual muntah tergantung pada tiap individu dan membutuhkan terapi yang
minimal.
Patofisiologi
Muntah
dikendalikan oleh pusat muntah pada dasar ventrikel otak keempat. Pusat muntah
terletak di bagian dorsal lateral dari formasio retikularis medula oblongata,
yaitu pada tingkat nukleus motorik dorsal dari saraf vagus. Pusat ini terletak
dekat dengan pusat vasomotor, pernapasan dan salivasi. Pusat muntah menerima
impuls dari CTZ (Chemoreceptor Trigger
Zone), hipotalamus, korteks serebri dan areavestibular. Alat keseimbangan
dapat terserang akibat proses-proses sentral atau perifer. Peranan dari pusat
muntah adalah untuk mengkoordinir semua komponen kompleks yang telibat dalam
proses muntah. Stimulus psikologis, neurologik, refleks, endokrin, dan kimiawi
dapat menyebabkan muntah.
Terjadinya
muntah didahului oleh salivasi dan inspirasi dalam. Sfingter esofagus dan
relaksasi, laring dan palatum mole terangkat, dan glotis menutup. Selanjutnya
diafragma akan berkontrasi dan menurun, dan dinding perut juga berkontraksi
mengakibatkan suatu tekanan pada lambung, sehingga isinya dimuntahkan.
Peristiwa ini didahului oleh stasis lambung dan kontraksi duodenum dan antrum
lambung. Muntah serinhkali disertai dengan gejala-gejala dan tanda vasomotorik.
Mual dirasakan sebagai sensasi tidak enak di epigastrium, di belakang
tenggorokan dan di perut. Sensasi mual biasanya disertai dengan berkurangnya
motilitas lambung dan peningkatan kontraksi duodenum.
Mual
masih dapat terjadi bahkan setelah gastrektomi. Mual biasanya disusul muntah,
namun keduanya tidak selalu harus terjadi bersama-sama. Mual kronik dapat
terjadi tanpa adanya muntah, pada kasus-kasus muntah sentral, muntah terjadi
tanpa didahului oleh mual.
Penyebab
muntah dibagi menjadi 3 fase berbeda, yaitu: Nausea, merupakan sensasi
psikis yang dapat ditimbulkan akibat rangsangan pada organ-organ dalam,
labirin, atau emosi dan tidak selalu diikuti oleh retching atau muntah. Retching, merupakan fase di mana terjadi gerak
nafas pasmodik dengan glotis tertutup, bersamaan dengan adanya usaha inspirasi
dari otot dada dan diafragma sehingga menimbulkan tekanan intratoraks yang
negatif. Emesis, terjadi bila
fase retching mencapai puncaknya yang ditandai dengan kontraksi kuat otot
perut, diikuti dengan bertambah turunnya diafragma, disertai penekanan
mekanisme anti refluks. Pada fase ini, pilorus dan antrum berkontraksi, fundus
dan eksofagus relaksasi, dan mulut terbuka (Walsh, 1997: 479)
Obat-obat
yang dapat menyebabkan mual dan muntah, seperti obat kemoterapi kanker, opioid,
NSAID, antibiotik, dan estrogen dapat menyebabkan mual dan muntah. Pengobatan
yang lain, seperti penggunaan digitalis atau teofilin, dapat menyebabkan mual
muntah seperti pada orang keracunan. Dalam situasi ini tidak ada indikasi
peresepan antemetik.
Penatalaksana Terapi
Terapi
Non Farmakologi.
Minimalkan penyebab. Pasien dengan keluhan ringan,
mungkin berkaitan dengan konsumsi makanan dan minuman, dianjurkan menghindari
masuknya makanan. Muntah psikogenik mungkin diatasi dengan intervensi psikologik.
Makan atau minum 4 jam sebelum perjalanan dan selama perjalanan usahakan tidak
makan atau minum. Jika haus, minum minuman beralkohol rendah atau berkarbonasi
dan jika lapar, makan makanan ringan yang bercita rasa asin-pedas.
Terapi nonfarmakologi untuk mencegah mual atau
muntah selama kehamilan: Bangun secara perlahan - lahan dan jangan membuat
gerakan secara tiba-tiba. Sebelum sarapan, makan roti tawar atau kraker di
ruangan terbuka untuk mendapat udara segar. Di sela-sela makan cemilan, minum sedikit
air, jika terasa mual coba sedikit minum berkarbonasi atau jus buah. Hindari
makanan berminyak, berdaging, mayonaise atau salad, goreng-gerengan atau
makanan pedas, dan makanan asam (buah jeruk atau tomat).
Terapi
Farmakologi.
Obat antiemetik bebas dan dengan resep paling umum
direkomendasikan untuk mengobati mual muntah. Untuk pasien yang bisa mematuhi
pemberian dosis oral, obat yang sesuai dan efektif dapat dipilih tetapi karena
beberapa pasien tidak dapat menggunakan obat oral, obat oral tidak sesuai. Pada
pasien tersebut ddisarankan penggunaan obat secara rectal atau parenteral.
Untuk sebagian besar kondisi, dianjurkan antiemetik
tunggal; tetapi bla pasien tidak memberikan respon dan pada pasien yang
mendapat kemoterapi emetonik kuat, biasanya dibutuhkan regimen multi obat.
Terapi mual-muntah simpel biasanya membutuhkan
terapi minimal. Obat bebas atau resesp berguna pada terapi ini pada dosis lazim
efektif yang rendah.
Penanganan mual-muntah komplek membutuhkan terai
obat yang bekerja kuat, mungkin lebih dari 1 obat emetik (Tim penyusun, 2008:
381).
Prinsip-prinsip
umum penatalaksanaan terapi:
Seringkali mual dan muntah berkaitan dengan suatu
infeksi usus yang dapat sembuh sendiri atau kebanyakan makan atau minum
alkohol. Keadaan-keadaan ini tidak memerlukan pengobatan spesifik.
Mual
dan muntah yang menetap dihubungkan dengan stasis lambung. Stasis lambung
menyebabkan perlambatan absorpsi dari emetik-emetik atau obat-obat lain yang
diberikan secara per-oral, ini merupakan salah satu sebab mengapa anti-emetik
diberikan per-injeksi.
Bila
muntah menetap, maka obat-obatan yang diberikan melalui oral akan hilang
percuma jika pasien muntah.
Dehidrasi,
gangguan keseimbangan elektrolit dan asam-basa harus diobati secara tepat.
Cairan intravena harus diberikan pada kasus-kasus yang mengalami dehidrasi,
yaitu cairan garam isotonik dengan tambahan kalium.
Kasus-kasus
mual dan muntah akibat pemberian obat dapat diatasi dengan memberikan obat
tersebut bersama makanan atau dengan pemberian anti-emetik seperti
metoklopramid secara teratur.
Retching yaitu
muntah tanpa isi yang dikeluarkan, lebih mengganggu daripada itu sendiri.
Keadaan ini dapat diatasi dengan memberikan sedikit cairan, air garam, atau
susu, dalam interval yang teratur.
Antasid
efektif pada mual menetap yang diinduksi oleh obat, karena dapat meningkatkan
laju pengosongan lambung.
Semua
pasien yang mendapat anti-emetik harus diperingatkan akan kemungkinan
terjadinya sedasi. Pasien-pasien ini harus diingatkan untuk berhati-hati jika
mengemudi, menjalankan peralatan yang berbahaya dan lain-lain.
Pada
kasus-kasus mual dan muntah yang berat dan menetap, pengalaman klinis
menunjukkan bahwa pemberian kombinasi anti-emetik cukup efektif. Hal ini
agaknya disebabkan oleh fakta bahwa anti-emetik tersebut bekerja pada reseptor
yang berbeda.
Pasien-pasien
dengan penyebab muntah yang bersifat mekanik, seringkali tidak berespons
terhadap anti-emetik. Fenotiazin tidak berguna dalam mengobati mabuk
mperjalanan, sementara obat-obatan antikolinergik dan antihistamin tampaknya
dapat berefek (Walsh, 1997: 313-314).
Antasid
Antasid
OTC tunggal atau kombinasi, terutama yang mengandung magnesium hidroksida,
aluminium hidroksida, dan atau kalsium karbonat, mungkin memberikan perbaikan
yang cukup pada mual / muntah, terutama lewat penetralan asam lambung Dosis
umum adalah satu atau lebih dosis kecil antasid tunggal atau kombinasi.
Antihistamin, antikolinergik
Antagonis
H2 : simetidin, famotidin, nizatidin, ranitidine, mungkin dapat
digunakan pada dosis rendah untuk mual / muntah simple yang berkaitan dengan
heartburn. Antihistamin dan
antikolinergik mungkin cocok untuk terapi simtomatis simple. Reaksi yang tidak diinginkan termasuk
mengantuk, bingung, pandangan, kabur, mulut kering, retensi urin, pada orang
tua mungkin takikardia.
Fenotiazin
Untuk pasien mual ringan atau yang mendapat
kemoterapi ringan. Pemberian rectal lebih disarankan bila parenteral tidak
praktis dan oral tidak dapat diterima. Pada beberapa pasien, dosis rendah tidak
efektif, sedangkan dosis tinggi fenotiazin mungkin menyebabkan resiko. Yang
dapat terjadi: reaksi ekstrapiramidal, reaksi hipersensitivitas: disfungsi
hati, aplasia sumsum tulang dan sedasi berlebihan.
Kortikostreroid
Kortikosteroid sukses untuk menangani mual muntah
karena kemoterapi dan setelah operasi dengan sedikit problem. Reaksi yang tidak
diinginkan: perubahan mood dari cemas sampai euphoria, sakit kepala, rasa metal
di mulut, perut tidak nyaman dan hiperglikemia.
Metoklorporamid
Meningkatkan tonus sfingter esophagus, membantu
pengosongan lambung dan meningkatkan perpindahan usus halus, kemungkinan lewat
penglepasan asetilkolin. Karena efek samping (efek ekstrapiramidal) pemberian
IV difenhidramin 25-50mg harus diberikan pencegahan atau antisipasi efek
tersebut.
Reseptor penghambat serotonin
selektif / Selective Serotonin Reseptor Inhibitor (SSRI). Ondansetron,
granisetron, dolasetron, palonosetron. Mekanisme kerja SSRI menghambat reseptor
serotonin pre sinap di saraf sensoris vagus di saluran cerna.
Kemoterapi memicu terjadinya mual
dan muntah / Chemotherapy Induced Nausea – Vomiting (CINV). Pasien
yang menerima terapi regimen tingkat 2, dapat menggunakan deksametason 8 – 20
mg, Iv atau oral sebagai pencegah mual-muntah. Proklorperazin 10 mg, IV atau
oral juga dapat digunakan pada orang dewasa sebagai pilihan. Pasien anak atau dewasa yang menerima
terapi tingkat 3 – 5, harus menggunakan kombinasi deksametason dan SSRI.
Ondansetron
dapat diberikan secara IV 30 menit sebelum kemoterapi. Harus digunakan dosis
efektif terkecil, 8 – 32 mg. terapi oral disarankan 8 – 24 mg, 30 menit sebelum
kemoterapi. Pada dewasa dan anak di
atas 2 tahun, granisetron dapat diberikan secara infus IV 10 mcg/kgBB selama 5
menit, 30 menit sebelum diberikan kemoterapi, hanya pada pemberian kemoterapi.
Pada dewasa dapat diberikan granisetron 1 – 2 mg per oral.
Dolasetron dapat diberikan dalam dosis tunggal 1,8
mg/kg pada orang dewasa atau dalam dosis tetap 100 mg IV dalam 30 detik atau
infus (diencerkan) 15 menit. Untuk anak umur 2 – 16 tahun dolasentron dapat
diberikan dengan dosis sama.
Aprepitan, reseptor antagonis senyawa P/NK1,
dikombinasi dengan SSRI dan kortikosteroid, per oral (125 mg hari 1 dan 80 mg
hari ke 2 dan ke 3) menunjukkan efektivitas akut pada pengendalian mual muntal
akibat regimen dasar sisplatin dosis tinggi.
Pilihan lain unutk mencegah mual-muntah sebelum kemoterapi adalah
palonestron 025 mg IV selama 30 detik, 30 menit sebelum kemoterapi. Pasien –
pasien yang mengalami mual – muntah, selain mendapat terapi profilaksis juga
diberikan proklorperazin, lorazepam atau kortikosteroid direkmendasikan untuk
pasien anak. SSRI tidak lebih unggul dari terapi antiemetik konvensional untuk
terapi gejala sesudah kemoterapi. Deksametason, metoklopramid atau SSRI
direkomendasikan untuk emesis post kemoterapi yang muncul terlambat
Benzodiazepin
Benzodiazepin
terutama lorazepam, terapi alternatif yang terbaik untuk mengantisipasi mual
muntah karena kemoterapi. Dosisregimen,satu dosis satu malam sebelum kemoterapi
dan dosis ganda pada setiap terapi kemoterapi.
Mual-muntah sesudah operasi
Dengan
atau tanpa terapi emetik, metode non farmakologi (mengatur gerakan, perhatian
pada pemberian cairan dan pengedalian
nyeri) dapat efektif menurunkan emesis sesudah operasi. Antagonis
serotonin selektif efektif untuk mencegah mualmuntah sesudah operasi, tetapi
biayanya lebiih tinggi dibanding antiemetik lainnya.
Mual-muntah akibat radiasi
Pasien
yang menerima radiasi hemibodi atau radiasi dosis tinggi tunggal pada daerah
peru atas, harus menerima terapi profilaksis granisetron 2mg atau ondansetron 8
mg.
Emesis
karena gangguan keseimbangan.
Emesis karena gangguan
keseimbangan:
Emesis
karena gangguan keseimbanganefektif diatasi oleh antihistamin-antikolinergik
terutama skopolamin transdermal. Antihistamin atau antikolinergik nampaknya
tidak cukup bermanfaat untuk motion
sickness.
Antiemetik selama kehamilan
Obat
yang umum digunakan adalah fenotiazin (prokloperazin, prometazin),
antihistamin-antikolinergik (dimenhidrinat, dipenhidramin, meklizin,
skopolamin), metoklopramid dan piridoksin. Efikasi antiemetik dipertanyakan,
sementara pengendalian cara lain seperti pengaturan cairan dan elektrolit,
suplemen vitamin dan bantuan penurunan keluhan psikosomatik, lebih
direkomendasikan. Pertimbangan teratogenik sangat diperhatikan, dan faktor
penentu pilihan obat. Dimenhidrinat, diphenhidramin, doksilamin, hidroksizin,
dan meklizin adalah obat yang tidak teratogenik.
Antiemetik untuk anak-anak
Efektifitas
dan efikasi regimen SSRI untuk antiemetik anak telah ditegakan tapi dosis belum
ditegakan. Penanganan lebih ditekankan pada penggantian cairan tubuh dari
terapi farmakologi. (Tim penyusun.
2008: 383-384).
Tujuan Terapi
Mual
dimediasi oleh beberapa neurotransmiter. Empat neurotransmiter utama
yang berpengaruh yaitu serotonin (5HT3),
dopamin (D2), asetilkolin
(Ach m) dan
histamin (H1). Tujuan keseluruhan
dari terapi antiemetik adalah untuk mencegah atau menghilangkan mual dan
muntah; dan seharusnya tanpa efek samping atau efek yang tidak dikehendaki
secara klinis (Sukandar dkk., 2008: 381).
Saran
dan Strategi Terapi
Sasaran
terapi
: Pusat muntah
Strategi
terapi
: Menghilangkan
penyebabnya. Menekan rangsangan ke pusat muntah Menekan reseptor yang
berhubungan dengan pusat muntah
Pengobatan
mual muntah sebaiknya berfokus kepada identifikasi dan pengobatan kausa. Kasus
muntah akut merupakan kejadian yang jarang muncul dan tergantung pada tiap
individu, dapat sembuh secara spontan, dan hanya membutuhkan pengobatan
simtomatis. Akan tetapi muntah akut yang parah membutuhkan evaluasi yang lebih
lanjut dan perawatan rumah sakit.
Penyebab
dan keparahan mual muntah membutuhkan outcome terapi farmakologi atau non
farmakologi. Berdasarkan etiologi, pengurangan gejala tidak dapat terjadi
sebelum penyebab utama diidentifikasi dan dikontrol. Pada situasi lain,
swamedikasi dapat mengobati gejala dan keadaan pasien menjadi lebih sehat atau
membaik.(Berardi et al., 2002 : 394).
Pasien
dianjurkan untuk menghindari makan makanan yang dapat mengiritasi lambung,
seperti makanan asam, pedas, alkohol, minuman yang mengandung kafein (kopi),
rokok, dan aspirin. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang
lunak/lembut. Pasien diingatkan untuk makan secara teratur, jangan terlambat
dan jangan makan terlalu banyak. Pasien dianjurkan untuk mengistarahatkan perut
tetapi tetap mengkonsumsi cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Cairan
(air putih) yang dikonsumsi jangan terlalu banyak, diminum sedikit demi
sedikit. Pasien dianjurkan untuk menghindari produk susu karena menginduksi
sekresi asam lambung. Pasien dianjurkan untuk melakukan olahraga ringan,
terutama peregangan untuk daerah persendian. Hindari stress dan biasakan pola
hidup sehat. Jika mual muntah masih berlanjut sebaiknya dilakukan pemeriksaan.
Daftar
Pustaka
Berardi, R.R. et al. 2002.
Handbook of Nonprescription Drugs. 13th Edition. Washington DC: American Pharmaceutical
Association.
Charles
F.Lacy, et al. 2009. Drug Information
Handbook. Amerika : American Pharmacist Assosiation.
Joseph
T. DiPiro, et al. 2008. Pharmacotherapy A
Pathophysiologic Approach Seventh Edition . New York: The McGraw-Hill Companies
Sukandar,E.Y dkk. 2008. ISO Farmakoterapi . Jakarta: PT.ISFI.
Linn W. D., Wofford M.R
,O’KeefeM. E.,Posey L. M,. 2008. Pharmacotherapy
in Primary Care The.New
York Chicago: McGraw-Hill Companies.
Walsh,T.D. 1997.
Kapita Selekta Penyakit dan Terapi. Jakarta: EGC Buku Kedokteran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar