Rabu, 30 November 2016

Mengenal ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)

 
ODHA ialah kependekan dari Orang dengan HIV/AIDS. HIV atau Human Immuno–Devesiensi sendiri adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia, dan dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS atau Acguired Immuno–Deviensi Syndromer adalah kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.

Adapun tanda-tanda penderita AIDS secara klinis dapat dilihat dari: Berat badan yang menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis. Kemudian Dimensia/HIV ensefalopati. Sementara gejala minor yang sering timbul ialah: Batuk menetap lebih dari 1 bulan Dermatitis generalisata yang gatal. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita. HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja.

Orang-orang paling berisiko besar yang bisa tertular HIV penyebab AIDS, ialah: Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik. Kemudian bayi yang ibunya positif HIV

Perlu diketahui bahwa tanda dan Gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik, orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebelan tubuhnya menurun/lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menurunkan resiko penularan infeksi HIV antara lain: Memberikan pendidikan dan pengetahuan mengenai patofisiologi dan penyebaran infeksi HIV. Kontak seksual antara homoseksual sebaiknya memakai kondom. Kurangi jumlah pasangan seksual dan memakai kondom. Tidak memakai alat suntik secara bersama-sama. Memberikan alat suntik dengan pembersih atau mengganti alat suntik (sekali pakai). Menghindari aktivitas seksual yang beresiko (anal). Orang normal dengan pasangan yang beresiko sebaiknya menggunakan teknik seks yang aman. Wanita dengan HIV: memakai kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dan tidak memberikan ASI. Pakai kondom dari lateks.

Contoh beberapa kasus pasien dengan ODHA dari ruang VCT (Voluntary Counseling Testing). Pertama pasien seorang bapak-bapak yang setelah jajan di warung remang-remang, karena kesadarannya dan mengetahui bahayanya., ia dengan suka rela tes HIV, dan ia langsung sujud syukur setelah hasilnya negative. Pasien kedua seorang ibu hamil, ibu ini sampai tak kuasa menahan tangis setelah divonis positif HIV. Ibu ini tertular suaminya yang suka jajan di luar. Padahal, ibu dengan ODHA sangat berpotensi melahirkan anak yang sangat rentan ikut tertular darah ber-HIV milik ibunya. Pasien ketiga tenaga medis yang mengalami kecelakaan kerja. Tertusuk jarum suntik pasien ODHA, namun karena telat diprofilasis (lebih dari 24 jam setelah terpapar), petugas kesehatan yang menjadi pasien ini harus kontrak seumur hidup dengan obat-obat HIV/AIDS.

Virus HIV meski tidak membunuh, tapi  sangat mematikan, karena virus ini memakan sistem kekebalan atau antibodi dalam tubuh. Sehingga tubuh mudah terserang penyakit. Jadi kebanyakan pasien meninggal bukan karena HIV-nya. Tapi karena penyakitnya atau karena AIDS-nya. Dan virus HIV ini tidak bisa dimatikan, hanya bisa ditekan pertumbuhannya. Itu kenapa ada istilah HIV tidak bisa disembuhkan. Selamat hari AIDS sedunia. Ingat! Jauhi virusnya, bukan orangnya! Bagi petugas kesehatan. Patuhi selalu SPO dan K3 demi keselamatan diri dan pasien. Salam kesehatan. (Ali Ridwan, 01/12/16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar