ODHA ialah kependekan dari Orang dengan HIV/AIDS. HIV
atau Human Immuno–Devesiensi sendiri adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh
manusia, dan dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS atau Acguired
Immuno–Deviensi Syndromer adalah kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan
tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.
Adapun
tanda-tanda penderita AIDS secara klinis dapat dilihat dari: Berat
badan yang
menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan. Diare kronis yang
berlangsung lebih dari 1 bulan. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan. Penurunan
kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis. Kemudian Dimensia/HIV
ensefalopati.
Sementara gejala
minor yang sering timbul ialah: Batuk
menetap lebih dari 1 bulan Dermatitis generalisata
yang gatal.
Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang. Infeksi
jamur berulang pada alat kelamin wanita. HIV dan
AIDS dapat menyerang siapa saja.
Orang-orang paling berisiko besar yang bisa tertular HIV penyebab AIDS, ialah: Orang
yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan
kondom. Pengguna
narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama. Pasangan
seksual pengguna narkoba suntik. Kemudian bayi yang ibunya positif
HIV
Perlu diketahui bahwa tanda dan Gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena
virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang
khas, penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya
tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. Setelah kondisi membaik,
orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan
kekebelan tubuhnya menurun/lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang
berulang. Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani Uji
Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang
berisiko terkena virus HIV.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menurunkan
resiko penularan infeksi HIV antara lain: Memberikan pendidikan dan pengetahuan mengenai
patofisiologi dan penyebaran infeksi HIV. Kontak
seksual antara homoseksual sebaiknya memakai kondom. Kurangi jumlah pasangan seksual dan memakai kondom.
Tidak memakai alat suntik secara bersama-sama.
Memberikan alat suntik dengan pembersih atau
mengganti alat suntik (sekali pakai). Menghindari
aktivitas seksual yang beresiko (anal). Orang
normal dengan pasangan yang beresiko sebaiknya menggunakan teknik seks yang
aman. Wanita dengan HIV: memakai
kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dan tidak memberikan ASI. Pakai kondom dari lateks.
Contoh beberapa kasus
pasien dengan ODHA dari ruang VCT (Voluntary Counseling Testing). Pertama pasien
seorang bapak-bapak yang setelah jajan di warung remang-remang, karena
kesadarannya dan mengetahui bahayanya., ia dengan suka rela tes HIV, dan ia
langsung sujud syukur setelah hasilnya negative. Pasien kedua seorang ibu
hamil, ibu ini sampai tak kuasa menahan tangis setelah divonis positif HIV. Ibu
ini tertular suaminya yang suka jajan di luar. Padahal, ibu dengan ODHA sangat
berpotensi melahirkan anak yang sangat rentan ikut tertular darah ber-HIV milik
ibunya. Pasien ketiga tenaga medis yang mengalami kecelakaan kerja. Tertusuk
jarum suntik pasien ODHA, namun karena telat diprofilasis (lebih dari 24 jam
setelah terpapar), petugas kesehatan yang menjadi pasien ini harus kontrak
seumur hidup dengan obat-obat HIV/AIDS.
Virus HIV meski tidak membunuh,
tapi sangat mematikan, karena virus ini
memakan sistem kekebalan atau antibodi dalam tubuh. Sehingga tubuh mudah
terserang penyakit. Jadi kebanyakan pasien meninggal bukan karena HIV-nya. Tapi
karena penyakitnya atau karena AIDS-nya. Dan virus HIV ini tidak bisa dimatikan,
hanya bisa ditekan pertumbuhannya. Itu kenapa ada istilah HIV tidak bisa
disembuhkan. Selamat hari AIDS sedunia. Ingat! Jauhi virusnya, bukan orangnya!
Bagi petugas kesehatan. Patuhi selalu SPO dan K3 demi keselamatan diri dan
pasien. Salam kesehatan. (Ali Ridwan, 01/12/16)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar