Influenza adalah suatu penyakit infeksi akut pernapasan terutama
ditandai oleh demam, menggigil sakit otot, sakit kepala dan sering disertai
pilek, sakit tenggorokan dan batuk nonproduktif. Walaupun
sering tertukar dengan penyakit mirip influenza lainnya, terutama selesma,
influenza merupakan penyakit yang lebih berat dibandingkan dengan selesma dan
disebabkan oleh jenis virus yang berbeda. Influenza dapat menimbulkan mual, dan
muntah, terutama pada anak-anak, namun gejala tersebut lebih sering terdapat
pada penyakit gastroenteritis,
yang sama sekali tidak berhubungan, yang juga kadangkala secara tidak tepat
disebut sebagai "flu perut." Flu kadangkala dapat menimbulkan
pneumonia viral secara langsung maupun menimbulkan pneumonia bakterial
sekunder.
Biasanya, influenza ditularkan
melalui udara lewat batuk atau bersin, yang akan menimbulkan aerosol
yang mengandung virus. Influenza juga dapat ditularkan melalui kontak langsung
dengan tinja burung atau ingus,
atau melalui kontak dengan permukaan yang telah terkontaminasi. Aerosol yang
terbawa oleh udara (airborne aerosols) diduga menimbulkan sebagian besar
infeksi, walaupun jalur penularan mana yang paling berperan dalam penyakin ini
belum jelas betul. Virus influenza dapat diinaktivasi oleh sinar matahari,
disinfektan,
dan deterjen.
Sering mencuci tangan akan mengurangi risiko infeksi karena virus dapat
diinaktivasi dengan sabun.
Flu (influenza) sering disebut sebagai “self-limiting
desease” karena sebenarnya penyakit ini merupakan penyakit yang dapat
sembuh dengan sendirinya. Perbedaan selesma dan influenza terletak pada penyebab dan intensitas
gejala. Influenza
adalah penyakit saluran pernafasan akut, demam yang disebabkan semata-mata oleh
virus influenza tipe A atau influenza tipe B. Walaupun kedua virus ini dapat
menimbulkan infeksi saluran penafasan atas yang tidak termasuk jenis tertentu
yang secara klinik menyerupai cold atau nyeri tenggorok biasa, influenza
(“flu”) adalah sindrom spesifik dengan penyajian klinik dan gambaran
epidemiologi tersendiri
Etiologi
Pada
saat ini dikenal 3 tipe virus influenza yakni A, B dan C. Ketiga tipe ini dapat
dibedakan dengan complement fixation test.
Tipe A merupakan virus penyebab influenza
yang bersifat epidemik. Genus ini memiliki
satu spesies, virus influenza A. Unggas akuatik liar merupakan inang alamiah
untuk sejumlah besar varietas influenza A. Kadangkala, virus dapat ditularkan
pada spesies lain dan dapat menimbulkan wabah yang berdampak besar pada
peternakan unggas domestik atau menimbulkan suatu pandemi
influenza manusia. Virus tipe A merupakan patogen manusia paling virulen di
antara ketiga tipe influenza dan menimbulkan penyakit yang paling berat. Virus
influenza A dapat dibagi lagi menjadi subdivisi berupa serotipe-serotipe
yang berbeda berdasarkan tanggapan antibodi
terhadap virus ini.
Serotipe yang telah dikonfirmasi
pada manusia, diurutkan berdasarkan jumlah kematian pandemi pada manusia,
adalah: H1N1,
yang menimbulkan Flu
Spanyol pada tahun 1918, dan Flu
Babi pada tahun 2009. H2N2,
yang menimbulkan Flu Asia
pada tahun 1957. H3N2,
yang menimbulkan Flu Hongkong
pada tahun 1968. H5N1,
yang menimbulkan Flu
Burung pada tahun 2004. H7N7,
yang memiliki potensi zoonotik
yang tidak biasa.
H1N2, endemik pada manusia,
babi, dan unggas. Tipe B biasanya hanya menyebabkan penyakit
yang lebih ringan daripada tipe A dan kadang-kadang saja sampai mengakibatkan
epidemik. influenza B
hampir secara eksklusif hanya menyerang manusia dan lebih jarang dibandingkan
dengan influenza A. Hewan lain yang diketahui dapat terinfeksi oleh infeksi
influenza B adalah anjing laut dan musang. Jenis influenza ini mengalami mutasi 2-3 kali lebih
lambat dibandingkan tipe A dan oleh karenanya keragaman genetiknya lebih
sedikit, hanya terdapat satu serotipe influenza B. Karena tidak terdapat
keragaman antigenik, beberapa tingkat kekebalan terhadap influenza B biasanya diperoleh pada usia
muda. Namun, mutasi yang terjadi pada virus
influenza B cukup untuk membuat kekebalan permanen menjadi tidak mungkin.
Perubahan antigen yang lambat, dikombinasikan dengan jumlah inang yang terbatas
(tidak memungkinkan perpindahan
antigen antarspesies), membuat pandemi
influenza B tidak terjadi.
Tipe C adalah tipe yang diragukan
patogenitasnya untuk manusia, mungkin hanya menyebabkan gangguan ringan saja dan tidak mengakibatkan
epidemik yang luas. Virus penyebab influenza merupakan suatu orthomyxovirus golongan RNA dan
berdasarkan namanya sudah jelas bahwa virus ini mempunyai afinitas untuk myxo atau musin
Epidemiologi
Influenza merupakan penyakit yang dapat
menjalar dengan cepat di lingkungan masyarakat. Walaupun ringan penyakit ini
tetap berbahaya untuk mereka yang berusia sangat muda dan orang dewasa dengan
fungsi kardiopulmoner yang terbatas. Juga pasien yang berusia lanjut dengan
penyakit ginjal kronik atau gangguan metabolik endokrin dapat meninggal akibat
penyakit yang dikenal sebagai tidak berbahaya ini. Salah satu komplikasi yang
serius adalah pneumonia bacterial. Serangan penyakit ini tercatat paling tinggi
pada musim dingin di Negara beriklim dingin dan pada waktu musim hujan di
Negara tropik. Pada saat ini sudah diketahui bahwa pada umumnya dunia dilanda
pandemi oleh influenza 2 – 3 tahun sekali. Jumlah kematian pada pandemi ini
dapat mencapai puluhan ribu orang dan jauh lebih tinggi daripada angka-angka
pada keadaan non-epidemik
Reservoir
penyakit influenza adalah manusia sendiri. Diduga bahwa reservoir hewan seperti babi, kuda dan burung memegang peran
penting sebagai penyebab terjadinya strain virus influenza yang baru, karena
terjadinya rekombinasi gen dengan strain-strain virus lain yang berasal dari
manusia. Bebek pada saat ini sudah dipastikan dapat dihinggapi oleh semua
serotipe utama virus influenza A yang total berjumlah 30 buah serotipe.
Penyebaran penyakit ini adalah melalui media tetesan air (droplet) pada waktu batuk dan melalui partikel yang berasal dari
sekret hidung atau tenggorok yang melayang di udara (airborne) terutama di ruangan-ruangan yang tertutup dan penuh sesak
manusia.
Transmisi virus influenza lewat partikel
udara dan lokalisasinya di traktus respiratorius. Penularan bergantung pada
ukuran partikel (droplet) yang
membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran napas. Pada dosis infeksius 10
virus/droplet, 50% orang-orang yang
terserang dosis ini akan menderita influenza. Virus akan melekat pada epitel
sel di hidung dan bronkus. Setelah virus berhasil meenerobos masuk ke dalam
sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru
ini kemudian akan menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat
meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus influenza dapat mengakibatkan
demam terapi tidak sehebat efek pirogen lipopolisakarida kuman Gram negative
Manifestasi Klinik
Pada
umumnya pasien mengeluh demam, sakit kepala, sakit otot, batuk, pilek dan
kadang-kadang sakit pada waktu menelan dan suara serak. Gejala-gejala ini dapat
didahului oleh perasaan malas dan rasa dingin. Pada pemeriksaan fisis tidak
dapat ditemukan tanda-tanda karakteristik kecuali hyperemia ringan sampai berat pada selaput lendir tenggorok.
Gejala-gejala
akut ini dapat berlangsung untuk beberapa hari dan hilang dengan spontan.
Setelah episode sakit ini, dapat dialami rasa capek dan rasa lelah untuk
beberapa waktu. Badan dapat mengatasi infeksi virus influenza melalui mekanisme
produksi zat anti dan penglepasan interferon. Setelah sembuh akan terdapat
resistensi terhadap infeksi oleh virus yang homolog.
Pada
pasien usia lanjut harus dipastikan apakah influenza juga menyerang paru-paru.
Pada keadaan tersebut, pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan bunyi napas yang
abnormal. Mortalitas yang tinggi pada pasien usia lanjut yang terserang
pneumonia virus interstisial, disebabkan adanya saturasi oksigen yang
berkurang, serta akibat asidosis dan anoksia. Komplikasi yang mungkin terjadi
pada pasien ini adalah infeksi sekunder, seperti pneumonia bacterial.
Batuk-batuk kering berubah menjadi batuk yang produktif yang kadang-kadang
dapat mengandung bercak-bercak warna coklat. Penyakit umumnya akan membaik
dengan sendirinya tapi kemudian pasien acapkali mengeluh lagi mengenai demam
dan sakit dada. Pemeriksaan sinar tembus dapat menunjukkan adanya infiltrate di
paru-paru. Infeksi sekunder ini umumnya akibat Streptococcus pneumonia atau Haemophilus
influenza.
Infeksi
sekunder yang berat sekali, dikenal sebagai pneumonia stafilokok fulminans
dapat terjadi beberapa hari setelah seseorang diserang influenza. Pada pasien
terjadi sesak napas, diare, batuk dengan bercak merah, hipotensi dan
gejala-gejala kegagalan sirkulasi. Dari darah, Staphylococcus aureus sering dapat dibiakkan. Komplikasi yang
sangat jarang tetapi yang dapat juga dijumpai sesudah influenza adalah
ensefalomielitis
Patofisiologi
Virus influenza masuk ke dalam
saluran napas melalui droplet, kemudian menempel dan menembus sel epitel
saluran napas di trakea dan bronkus. Infeksi dapat terjadi bila virus menembus
lapisan mukosa non-spesifik saluran napas dan terhindar dari inhibitor
non-spesifik serta antibodi lokal yang spesifik. Daerah yang diserang adalah
sel epitel silindris bersilia. Selanjutnya terjadi edema lokal dan infiltrasi
oleh sel limfosit, histiosit, sel plasma dan polimorfonuklear. Nekrosis sel epitel
ini terjadi pada hari pertama setelah gejala timbul. Perbaikan epitel dimulai
pada hari ke-3 dan ke-5 dengan terlihatnya mitosis sel pada lapisan basal.
Respons pseudometaplastik dari epitelium yang undifferentiated timbul.
Puncaknya dicapai pada hari ke–9 sampai ke-15 setelah awitan penyakit. Setelah
15 hari, tampak produksi mukus dan silia kembali seperti sediakala.
Adanya infeksi sekunder menyebabkan
reaksi infiltrasi sel radang lebih luas dan kerusakan pada lapisan sel basal
dan membrana basalis lebih hebat, yang akan mengakibatkan terhambatnya
regenerasi sel epitel bersilia. Kemudian virus bereplikasi di dalam sel pejamu
yang menyebabkan kerusakan sel pejamu. Viremia tidak terjadi. Virus terlindung
di dalam sekret dari saluran napas selama 5-10 hari.
Pada perokok atau pengidap asma,
saluran pernapasan yang sudah rapuh dapat dengan mudah terkena serangan virus.
Bila virus menginvasi alveolus atau jaringan interstisial paru, flu biasa akan
berubah menjadi pneumonia viralis. Tanda
kunci bagi pneumonia viralis ini adalah nyeri dada dan sesak napas. Perubahan
susunan genetis pada virus flu juga dapat meningkatkan ragam organ yang
terinfeksi. Pada pandemic tahun 1918, virus menyerang hati, ginjal, jantung dan
otak.
Penularan influenza
Virus
influenza menyebar di udara melalui titik air yang timbul dari bersin orang
yang terinfeksi. Perkembangbiakan virus flu dalam rubuh sebenarnya dimulai 24
jam sebelum timbul gejala. Menyebarnya influenza tanpa menyadari
sama sekali bahwa kita dalam keadaan sakit. Begitu gejala timbul biasanya
setelah pajanan selama dua hari, penularannya sampai 5 hari berikutnya. Orang
yang tampaknya tidak terkena flu selama epidemic seringkali mengalami kasus
subklinis yaitu infeksi dengan gejala ringan atau tanpa gejala. Diperkirakan
jumlah orang yang mengalami flu diam-diam ini empat kali lebih besar dari jumlah
orang yang mengalami gejala lengkap. Meskipun demikian, orang yang terinfeksi
flu tanpa gejala ini juga dapat menularkan infeksi dan inilah alasannya mengapa
infeksi tampaknya menyebar secara sporadis, kemudia tiba-tiba meledak dalam
jumlah besar dimasyarakat.
Secara normal, orang terinfeksi penyakit saluran
pernapasan merasa terlalu rasa sakit
untuk dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari seperti biasa, namun para dokter
percaya bahwa jumlah korban flu tanpa gejala yang banyak ini turut menyebabkan penyebaran influenza yang
cepat diseluruh dunia begitu si virus tiba. Virus flu juga
dapat menetap selama beberapa jam di udara, menunggu seseorang melakukan
kontak.
Diagnosa Laboratorium
Menetapkan diagnosis pada saat terjadi
wabah tidak akan banyak mengalami kesulitan. Diluar kejadian wabah, diagnosa
influenza kadang-kadang terhambat oleh diagnosis penyakit lain. Diagnosis pasti
penyakit influenza dapat diperoleh melalui isolasi virus maupun melalui
pemeriksaan serologis. Untuk mengisolasi virus diperlukan usap tenggorok atau
usap hidung dan harus diperoleh sedini mungkin; biasanya pada ahri-hari pertama
sakit. Diagnosa serologis dapat diperoleh melalui uji fiksasi komplemen atau
inhibisi hemaglutinasi. Akan dapat ditunjukkan kenaikan titer sebanyak 4 kali
antara serum pertama dengan serum konvalesen atau satu titer tunggal yang
tinggi. pada saat ini antiinfluenza IgM juga digunakan di beberapa tempat.
Diagnosis cepat lainnya dapat juga diperoleh dengan pemeriksaan antibodi
fluoresen yang khusus tersedia untuk tipe virus influenza A, virus lainnya yang
dapat pula menyerang saluran nafas antara lain adenovirus, parainfluenza virus,
rinovirus, respiratory syncytial virus, cytomegalovirus dan enterovirus.
Keterlibatan berbagai jenis virus ini
dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan serologi atau dengan isolasi langsung.
Diagnosis
ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Beratnya penyakit dan adanya demam
tinggi membedakan influenza dari common cold. Untuk memperkuat diagnosis
dilakukan pembiakan virus dari sekret penderita.
Pengobatan Influenza
Terapi non-obat. Flu umumnya dapat sembuh sendiri oleh daya tahan tubuh. Beberapa tindakan
yang dianjurkan untuk meringankan gejala flu antara lain: Beristirahat 2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik berlebihan. Meningkatkan gizi makanan. Makanan dengan kalori dan protein yang tinggi
akan menambah daya tahan tubuh. Makan buah-buahan segar yang banyak mengandung
vitamin. Banyak minum air, teh, sari buah akan
mengurangi rasa kering di tenggorokan, mengencerkan dahak dan membantu
menurunkan demam. Sering-sering berkumur dengan air garam untuk
mengurangi rasa nyeri di tenggorokan. Bila
gejala / keluhan terlalu mengganggu, gunakan obat flu untuk meringankan gejala.
Terapi obat. Obat flu yang dapat diperoleh tanpa resep dokter
merupakan kombinasi dari beberapa zat berkhasiat, sebagai berikut: Antipiretik/analgetik, untuk menghilangkan rasa sakit dan
menurunkan demam: parasetamol, asetosal 300-600 mg. Antihistamin, untuk
mengurangi rasa gatal di tenggorokan dan bersin-bersin atau reaksi alergi lain
yang menyertai influenza, antara lain: klorfenon, difenhidramin, promethazin. Ekspektoran, untuk mengencerkan dahak: gliseril
guaiakolat 50-100mg, amonium klorida, bromheksin. Antitusif, untuk menekan batuk: dekstrometorfan HBr
10mg. Dekongestan, untuk mengurangi keluhan hidung tersumbat
atau berair : Fenilpropanolamin 12,5 mg, fenilefrin, pseudoefedrin.
Perhatian: Obat
flu hanya meringankan keluhan dan gejala saja dan tidak dapat menyembuhkan. Bila
gejala flu tidak berkurang atau semakin berat setelah makan obat flu selama 3
hari, segera dikonsultasikan dengan dokter atau unit pelayanan kesehatan. Wanita
hamil dan menyusui, anak di bawah usia 2 tahun apabila minum obat flu yang mengandung
fenilpropanolamin, efedrin, pseudoefedrin, fenilefrin, agar dikonsultasikan
terlebih dahulu dengan dokter. Umumnya obat flu dengan merk mengandung kombinasi yang
sama, sehingga tidak dianjurkan untuk menggunakan obat flu dengan berbagai merk
pada saat yang sama. Obat flu umumnya mengandung antihistamin yang dapat
menimbulkan kantuk. Oleh karena itu dianjurkan tidak mengendarai kendaraan
bermotor. Banyak obat flu mengandung antihistamin seperti CTM,
triprolidin, deksbromfeniramin maleat, yang dapat menyebabkan mengantuk. Karena
itu setelah menggunakan obat flu tersebut, jangan menjalankan mesin atau
mengendarai kendaraan bermotor. Fenilpropanolamin mempunyai efek menaikkan tekanan darah.
Karena itu penderita hipertensi atau penyakit
lain dimana kenaikan tekanan darah dapat menjadi faktor penyulit (glaukoma,
diabetes, kelainan kardiovaskuler lain), sebaiknya tidak menggunakan obat ini.
Beberapa Contoh Obat Bebas untuk pengobatan Influenza. Kombinasi beberapa bahan, nama dagang :
Abdicold®, Afigesic®, Aflucaps®, Bestocol®,
Bodrex Cold®, Coldrexin®, Combiflu®, Corsagrip®,
Decolgen®, Erphaflu®, Farin Flu®, Flu-Tab®,
Fludane®, Hastadon®, Hufagripp®, Inza®,
Koldex®, Mixagrip®, Neladryl®, Nipe®,
Procold®, Stopcold®, Temprafen®, Zaeroflu®. Bentuk sediaannya berupa captab, kapsul, serbuk,
sirup, tablet, tetes oral.
Membasmi Batuk: Meminum obat penekan batuk yang mengandung dekstrometorfan
atau kodein (dengan resep dokter) sesuai petunjuk kemasan. Memakan permen obat batuk yang
mengandung benzokain, untuk melegakkan nyrti tenggorokan dan meredakan refleks
batuk.
Antibiotik, tidak
diperlukan kecuali penderita mengidap asma, penyakit paru-paru, jantung dan
ginjal.
Pencegahan Influenza
Yang paling pokok dalam menghadiri influenza adalah
pencegahan. Infeksi dengan virus influenza akan memberikan kekebalan terhadap
reinfeksi dengan virus yang homolog. Karena sering terjadi perubahan akibat
mutasi gen, antigen pada virus influenza akan berubag, sehingga seorang masih
mungkin diserang berulang kali dengan galur (strain) virus influenza yang telah
mengalami perubahan.
Pencegahan meliputi: Cara yang paling mudah dan murah
untuk menghindari influenza adalah dengan membiasakan diri mencuci tangan. Cuci
tangan terutama sebelum dan setelah berinteraksi dengan anak-anak (sebab mereka
sangat mudah terjangkit dan menjadi penyebab virus flu) dan penderita flu. Sementara bagi penderita influenza
selalu menggunakan tissu untuk menutup mulut dan hidung saat bersin serta untuk
membuang ingus (tentu tissu iini harus segera
dibuang ketempat sampah yang tertutup). Hal ini mencegah penyebabnya
virus menyebar ke orang lain. Memperbanyak minum air, air
membantu proses metabolisme dalam tubuh dengan mengubah makanan menjadi energi.
Air berperan sebagai bahan bakar untuk mendorong reaksi kimia metabolisme. Jika
Anda tidak minum cukup air, Anda tidak akan dapat membakar kalori dengan
baik. Anda tidak dapat mendapat manfaat dari olahraga. Metabolisme
meningkat dengan olahraga dan airlah yang berperan memaksimalkan metabolisme
tersebut karena itu minum banyak air sebelum, selama dan sesudah
olahraga. Berusahalah minum air putih minimal 2 liter per hari, atau 8
gelas sehari dan rasakan manfaatnya.
Cara
lain untuk mencegah terinfeksi oleh virus influenza adalah dengan vaksinasi,
dimana vaksin mudah didapat, tidak mahal dan aman. Diberikan 3 sampai 4 minggu
sebelum terserang influenza. Vaksinasi flu dilakukan setiap tahun dan disesuaikan dengan
jenis virus yang sedang popular sekarang.
Golongan
yang memerlukan imunoprofilaksis ini antara lain: Pasien berusia di atas 65 tahun. Pasien dengan penyakit yang kronik
seperti kardiovaskuler, pulmonal, renal, metabolic (termasuk diabetes
mellitus), anemia berat dan pasien imunokompromais. Dianjurkan untuk diberikan
vaksin setiap tahun menjelang musim dingin atau musim hujan. Pasien yang sedang
menderita demam akut sebaiknya ditunda pemberian vaksin sampai keadaan membaik. Orang yang melaksanakan fungsi
pelayanan masyarakat yang vital memerlukan vaksinasi, seperti pegawai yang
bertugas di unit darurat medis di rumah sakit. Mungkin mereka dapat menularkan
penyakit ke pasien yang dirawat.
Pencegahan dengan kemoprofilaksis
untuk mereka yang yang tidak dapat diberikan vaksinasi karena menderita alergi
tergadap protein dalam telur dapat di usahakan dengan pemberian amantadin HCl
100 mg dua kali sehari . bila juga tidaj tersedia vaksin, cara pencegahan ini
dapat diterapkan. Pemberian amantadin harus hati-hati pada gangguan fungsi
ginjal atau yang menderita penyakit konvulsi. Pada usia lanjut cukup diberikan
amantadin 100 mg satu kali sehari mengingat penurunan fungsi ginjal. Meluasnya penyebaran penyakit ini
dalam masyarakat dapat dicegah dengan meningkatkan tingkah laku higienik
perorangan.
Daftar Pustaka
Yudhi N, 2009, Resep Obat Tradisional Indonesia, Available from:http // Influenza/selesma/flu._resep tardisional.
Angon C, 2009, Resep Kuno Pengobatan Influenza dan Selesma, Available from : Resep Obat Kuno _ Saluran Pernafasan.
Muftadi I, 2009, Selesma & Influenza, Available from : http //Research and
Education Drug’s for Community,
Tjay, T.H., dkk, 2002, Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan, dan
Efek-Efek Sampingnya, Edisi kelima, Cetakan Pertama, PT Elex Media
Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.
Wijayakusuma H., 2007, Mencegah dan Mengatasi Pilek secara Alami,
Available from : http//Pocket
CBN_Cyberhealth Hembing.
Flora, 2008, Obat Tradisional untuk Bayi,
Available from :http :WELCOME
TO THE CLUB! => Baby Club => Topic started .
Muftadi I, 2009, Selesma & Influenza, Available from : http //Research and
Education Drug’s for Community.
Schachter
Niel, M,D, 2006, Panduan Bijak Mengatasi
Flu dan Selesma, PT.Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.
Tjokronegoro
Arjatmo, Ph. D dan dr.Hendra Utama, 1996, Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit Fakultas Kedikteran Universitas
Indonesia, Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar