Jumat, 02 Desember 2016

Penyakit Infeksi Influenza (Flu)

 
Influenza adalah suatu penyakit infeksi akut pernapasan terutama ditandai oleh demam, menggigil sakit otot, sakit kepala dan sering disertai pilek, sakit tenggorokan dan batuk nonproduktif. Walaupun sering tertukar dengan penyakit mirip influenza lainnya, terutama selesma, influenza merupakan penyakit yang lebih berat dibandingkan dengan selesma dan disebabkan oleh jenis virus yang berbeda. Influenza dapat menimbulkan mual, dan muntah, terutama pada anak-anak, namun gejala tersebut lebih sering terdapat pada penyakit gastroenteritis, yang sama sekali tidak berhubungan, yang juga kadangkala secara tidak tepat disebut sebagai "flu perut." Flu kadangkala dapat menimbulkan pneumonia viral secara langsung maupun menimbulkan pneumonia bakterial sekunder.

Biasanya, influenza ditularkan melalui udara lewat batuk atau bersin, yang akan menimbulkan aerosol yang mengandung virus. Influenza juga dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan tinja burung atau ingus, atau melalui kontak dengan permukaan yang telah terkontaminasi. Aerosol yang terbawa oleh udara (airborne aerosols) diduga menimbulkan sebagian besar infeksi, walaupun jalur penularan mana yang paling berperan dalam penyakin ini belum jelas betul. Virus influenza dapat diinaktivasi oleh sinar matahari, disinfektan, dan deterjen. Sering mencuci tangan akan mengurangi risiko infeksi karena virus dapat diinaktivasi dengan sabun.

Flu (influenza) sering disebut sebagai “self-limiting desease” karena sebenarnya penyakit ini merupakan penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Perbedaan selesma dan influenza terletak pada penyebab dan intensitas gejala. Influenza adalah penyakit saluran pernafasan akut, demam yang disebabkan semata-mata oleh virus influenza tipe A atau influenza tipe B. Walaupun kedua virus ini dapat menimbulkan infeksi saluran penafasan atas yang tidak termasuk jenis tertentu yang secara klinik menyerupai cold atau nyeri tenggorok biasa, influenza (“flu”) adalah sindrom spesifik dengan penyajian klinik dan gambaran epidemiologi tersendiri

Etiologi
Pada saat ini dikenal 3 tipe virus influenza yakni A, B dan C. Ketiga tipe ini dapat dibedakan dengan complement fixation test.

Tipe A merupakan virus penyebab influenza yang bersifat epidemik. Genus ini memiliki satu spesies, virus influenza A. Unggas akuatik liar merupakan inang alamiah untuk sejumlah besar varietas influenza A. Kadangkala, virus dapat ditularkan pada spesies lain dan dapat menimbulkan wabah yang berdampak besar pada peternakan unggas domestik atau menimbulkan suatu pandemi influenza manusia. Virus tipe A merupakan patogen manusia paling virulen di antara ketiga tipe influenza dan menimbulkan penyakit yang paling berat. Virus influenza A dapat dibagi lagi menjadi subdivisi berupa serotipe-serotipe yang berbeda berdasarkan tanggapan antibodi terhadap virus ini.

Serotipe yang telah dikonfirmasi pada manusia, diurutkan berdasarkan jumlah kematian pandemi pada manusia, adalah: H1N1, yang menimbulkan Flu Spanyol pada tahun 1918, dan Flu Babi pada tahun 2009. H2N2, yang menimbulkan Flu Asia pada tahun 1957. H3N2, yang menimbulkan Flu Hongkong pada tahun 1968. H5N1, yang menimbulkan Flu Burung pada tahun 2004. H7N7, yang  memiliki potensi zoonotik yang tidak biasa.

H1N2, endemik pada manusia, babi, dan unggas. Tipe B biasanya hanya menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada tipe A dan kadang-kadang saja sampai mengakibatkan epidemik. influenza B hampir secara eksklusif hanya menyerang manusia dan lebih jarang dibandingkan dengan influenza A. Hewan lain yang diketahui dapat terinfeksi oleh infeksi influenza B adalah anjing laut dan musang. Jenis influenza ini mengalami mutasi 2-3 kali lebih lambat dibandingkan tipe A dan oleh karenanya keragaman genetiknya lebih sedikit, hanya terdapat satu serotipe influenza B. Karena tidak terdapat keragaman antigenik, beberapa tingkat kekebalan terhadap influenza B biasanya diperoleh pada usia muda. Namun, mutasi yang terjadi pada virus influenza B cukup untuk membuat kekebalan permanen menjadi tidak mungkin. Perubahan antigen yang lambat, dikombinasikan dengan jumlah inang yang terbatas (tidak memungkinkan perpindahan antigen antarspesies), membuat pandemi influenza B tidak terjadi.

Tipe C adalah tipe yang diragukan patogenitasnya untuk manusia, mungkin hanya menyebabkan gangguan ringan saja dan tidak mengakibatkan epidemik yang luas. Virus penyebab influenza merupakan suatu orthomyxovirus golongan RNA dan berdasarkan namanya sudah jelas bahwa virus ini mempunyai afinitas untuk myxo atau musin

Epidemiologi
Influenza merupakan penyakit yang dapat menjalar dengan cepat di lingkungan masyarakat. Walaupun ringan penyakit ini tetap berbahaya untuk mereka yang berusia sangat muda dan orang dewasa dengan fungsi kardiopulmoner yang terbatas. Juga pasien yang berusia lanjut dengan penyakit ginjal kronik atau gangguan metabolik endokrin dapat meninggal akibat penyakit yang dikenal sebagai tidak berbahaya ini. Salah satu komplikasi yang serius adalah pneumonia bacterial. Serangan penyakit ini tercatat paling tinggi pada musim dingin di Negara beriklim dingin dan pada waktu musim hujan di Negara tropik. Pada saat ini sudah diketahui bahwa pada umumnya dunia dilanda pandemi oleh influenza 2 – 3 tahun sekali. Jumlah kematian pada pandemi ini dapat mencapai puluhan ribu orang dan jauh lebih tinggi daripada angka-angka pada keadaan non-epidemik

Reservoir penyakit influenza adalah manusia sendiri. Diduga bahwa reservoir hewan seperti babi, kuda dan burung memegang peran penting sebagai penyebab terjadinya strain virus influenza yang baru, karena terjadinya rekombinasi gen dengan strain-strain virus lain yang berasal dari manusia. Bebek pada saat ini sudah dipastikan dapat dihinggapi oleh semua serotipe utama virus influenza A yang total berjumlah 30 buah serotipe. Penyebaran penyakit ini adalah melalui media tetesan air (droplet) pada waktu batuk dan melalui partikel yang berasal dari sekret hidung atau tenggorok yang melayang di udara (airborne) terutama di ruangan-ruangan yang tertutup dan penuh sesak manusia.

Transmisi virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya di traktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) yang membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran napas. Pada dosis infeksius 10 virus/droplet, 50% orang-orang yang terserang dosis ini akan menderita influenza. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus. Setelah virus berhasil meenerobos masuk ke dalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini kemudian akan menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus influenza dapat mengakibatkan demam terapi tidak sehebat efek pirogen lipopolisakarida kuman Gram negative

Manifestasi Klinik
Pada umumnya pasien mengeluh demam, sakit kepala, sakit otot, batuk, pilek dan kadang-kadang sakit pada waktu menelan dan suara serak. Gejala-gejala ini dapat didahului oleh perasaan malas dan rasa dingin. Pada pemeriksaan fisis tidak dapat ditemukan tanda-tanda karakteristik kecuali hyperemia ringan sampai berat pada selaput lendir tenggorok.

Gejala-gejala akut ini dapat berlangsung untuk beberapa hari dan hilang dengan spontan. Setelah episode sakit ini, dapat dialami rasa capek dan rasa lelah untuk beberapa waktu. Badan dapat mengatasi infeksi virus influenza melalui mekanisme produksi zat anti dan penglepasan interferon. Setelah sembuh akan terdapat resistensi terhadap infeksi oleh virus yang homolog.

Pada pasien usia lanjut harus dipastikan apakah influenza juga menyerang paru-paru. Pada keadaan tersebut, pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan bunyi napas yang abnormal. Mortalitas yang tinggi pada pasien usia lanjut yang terserang pneumonia virus interstisial, disebabkan adanya saturasi oksigen yang berkurang, serta akibat asidosis dan anoksia. Komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien ini adalah infeksi sekunder, seperti pneumonia bacterial. Batuk-batuk kering berubah menjadi batuk yang produktif yang kadang-kadang dapat mengandung bercak-bercak warna coklat. Penyakit umumnya akan membaik dengan sendirinya tapi kemudian pasien acapkali mengeluh lagi mengenai demam dan sakit dada. Pemeriksaan sinar tembus dapat menunjukkan adanya infiltrate di paru-paru. Infeksi sekunder ini umumnya akibat Streptococcus pneumonia atau Haemophilus influenza.

Infeksi sekunder yang berat sekali, dikenal sebagai pneumonia stafilokok fulminans dapat terjadi beberapa hari setelah seseorang diserang influenza. Pada pasien terjadi sesak napas, diare, batuk dengan bercak merah, hipotensi dan gejala-gejala kegagalan sirkulasi. Dari darah, Staphylococcus aureus sering dapat dibiakkan. Komplikasi yang sangat jarang tetapi yang dapat juga dijumpai sesudah influenza adalah ensefalomielitis

Patofisiologi
Virus influenza masuk ke dalam saluran napas melalui droplet, kemudian menempel dan menembus sel epitel saluran napas di trakea dan bronkus. Infeksi dapat terjadi bila virus menembus lapisan mukosa non-spesifik saluran napas dan terhindar dari inhibitor non-spesifik serta antibodi lokal yang spesifik. Daerah yang diserang adalah sel epitel silindris bersilia. Selanjutnya terjadi edema lokal dan infiltrasi oleh sel limfosit, histiosit, sel plasma dan polimorfonuklear. Nekrosis sel epitel ini terjadi pada hari pertama setelah gejala timbul. Perbaikan epitel dimulai pada hari ke-3 dan ke-5 dengan terlihatnya mitosis sel pada lapisan basal. Respons pseudometaplastik dari epitelium yang undifferentiated timbul. Puncaknya dicapai pada hari ke–9 sampai ke-15 setelah awitan penyakit. Setelah 15 hari, tampak produksi mukus dan silia kembali seperti sediakala.

Adanya infeksi sekunder menyebabkan reaksi infiltrasi sel radang lebih luas dan kerusakan pada lapisan sel basal dan membrana basalis lebih hebat, yang akan mengakibatkan terhambatnya regenerasi sel epitel bersilia. Kemudian virus bereplikasi di dalam sel pejamu yang menyebabkan kerusakan sel pejamu. Viremia tidak terjadi. Virus terlindung di dalam sekret dari saluran napas selama 5-10 hari.

Pada perokok atau pengidap asma, saluran pernapasan yang sudah rapuh dapat dengan mudah terkena serangan virus. Bila virus menginvasi alveolus atau jaringan interstisial paru, flu biasa akan berubah menjadi  pneumonia viralis. Tanda kunci bagi pneumonia viralis ini adalah nyeri dada dan sesak napas. Perubahan susunan genetis pada virus flu juga dapat meningkatkan ragam organ yang terinfeksi. Pada pandemic tahun 1918, virus menyerang hati, ginjal, jantung dan otak.

Penularan influenza
Virus influenza menyebar di udara melalui titik air yang timbul dari bersin orang yang terinfeksi. Perkembangbiakan virus flu dalam rubuh sebenarnya dimulai 24 jam sebelum timbul gejala. Menyebarnya influenza tanpa menyadari sama sekali bahwa kita dalam keadaan sakit. Begitu gejala timbul biasanya setelah pajanan selama dua hari, penularannya sampai 5 hari berikutnya. Orang yang tampaknya tidak terkena flu selama epidemic seringkali mengalami kasus subklinis yaitu infeksi dengan gejala ringan atau tanpa gejala. Diperkirakan jumlah orang yang mengalami flu diam-diam ini empat kali lebih besar dari jumlah orang yang mengalami gejala lengkap. Meskipun demikian, orang yang terinfeksi flu tanpa gejala ini juga dapat menularkan infeksi dan inilah alasannya mengapa infeksi tampaknya menyebar secara sporadis, kemudia tiba-tiba meledak dalam jumlah besar dimasyarakat.

Secara normal, orang terinfeksi penyakit saluran pernapasan  merasa terlalu rasa sakit untuk dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari seperti biasa, namun para dokter percaya bahwa jumlah korban flu tanpa gejala yang banyak ini  turut menyebabkan penyebaran influenza yang cepat diseluruh dunia begitu si virus tiba. Virus flu juga dapat menetap selama beberapa jam di udara, menunggu seseorang melakukan kontak.

Diagnosa Laboratorium
Menetapkan diagnosis pada saat terjadi wabah tidak akan banyak mengalami kesulitan. Diluar kejadian wabah, diagnosa influenza kadang-kadang terhambat oleh diagnosis penyakit lain. Diagnosis pasti penyakit influenza dapat diperoleh melalui isolasi virus maupun melalui pemeriksaan serologis. Untuk mengisolasi virus diperlukan usap tenggorok atau usap hidung dan harus diperoleh sedini mungkin; biasanya pada ahri-hari pertama sakit. Diagnosa serologis dapat diperoleh melalui uji fiksasi komplemen atau inhibisi hemaglutinasi. Akan dapat ditunjukkan kenaikan titer sebanyak 4 kali antara serum pertama dengan serum konvalesen atau satu titer tunggal yang tinggi. pada saat ini antiinfluenza IgM juga digunakan di beberapa tempat. Diagnosis cepat lainnya dapat juga diperoleh dengan pemeriksaan antibodi fluoresen yang khusus tersedia untuk tipe virus influenza A, virus lainnya yang dapat pula menyerang saluran nafas antara lain adenovirus, parainfluenza virus, rinovirus, respiratory syncytial virus, cytomegalovirus dan enterovirus. Keterlibatan berbagai jenis  virus ini dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan serologi atau dengan isolasi langsung.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Beratnya penyakit dan adanya demam tinggi membedakan influenza dari common cold. Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pembiakan virus dari sekret penderita.

Pengobatan Influenza
Terapi non-obat. Flu umumnya dapat sembuh sendiri oleh daya tahan tubuh. Beberapa tindakan yang dianjurkan untuk meringankan gejala flu antara lain: Beristirahat 2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik berlebihan. Meningkatkan gizi makanan. Makanan dengan kalori dan protein yang tinggi akan menambah daya tahan tubuh. Makan buah-buahan segar yang banyak mengandung vitamin. Banyak minum air, teh, sari buah akan mengurangi rasa kering di tenggorokan, mengencerkan dahak dan membantu menurunkan demam. Sering-sering berkumur dengan air garam untuk mengurangi rasa nyeri di tenggorokan. Bila gejala / keluhan terlalu mengganggu, gunakan obat flu untuk meringankan gejala.

Terapi obat. Obat flu yang dapat diperoleh tanpa resep dokter merupakan kombinasi dari beberapa zat berkhasiat, sebagai berikut: Antipiretik/analgetik, untuk menghilangkan rasa sakit dan menurunkan demam: parasetamol, asetosal 300-600 mg. Antihistamin, untuk mengurangi rasa gatal di tenggorokan dan bersin-bersin atau reaksi alergi lain yang menyertai influenza, antara lain: klorfenon, difenhidramin, promethazin. Ekspektoran, untuk mengencerkan dahak: gliseril guaiakolat 50-100mg, amonium klorida, bromheksin. Antitusif, untuk menekan batuk: dekstrometorfan HBr 10mg. Dekongestan, untuk mengurangi keluhan hidung tersumbat atau berair : Fenilpropanolamin 12,5 mg, fenilefrin, pseudoefedrin.

Perhatian: Obat flu hanya meringankan keluhan dan gejala saja dan tidak dapat menyembuhkan. Bila gejala flu tidak berkurang atau semakin berat setelah makan obat flu selama 3 hari, segera dikonsultasikan dengan dokter atau unit pelayanan kesehatan. Wanita hamil dan menyusui, anak di bawah usia 2 tahun apabila minum obat flu yang mengandung fenilpropanolamin, efedrin, pseudoefedrin, fenilefrin, agar dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Umumnya obat flu dengan merk mengandung kombinasi yang sama, sehingga tidak dianjurkan untuk menggunakan obat flu dengan berbagai merk pada saat yang sama. Obat flu umumnya mengandung antihistamin yang dapat menimbulkan kantuk. Oleh karena itu dianjurkan tidak mengendarai kendaraan bermotor. Banyak obat flu mengandung antihistamin seperti CTM, triprolidin, deksbromfeniramin maleat, yang dapat menyebabkan mengantuk. Karena itu setelah menggunakan obat flu tersebut, jangan menjalankan mesin atau mengendarai kendaraan bermotor. Fenilpropanolamin mempunyai efek menaikkan tekanan darah. Karena itu penderita hipertensi atau penyakit lain dimana kenaikan tekanan darah dapat menjadi faktor penyulit (glaukoma, diabetes, kelainan kardiovaskuler lain), sebaiknya tidak menggunakan obat ini.

Beberapa Contoh Obat Bebas untuk pengobatan Influenza. Kombinasi beberapa bahan, nama dagang : Abdicold®, Afigesic®, Aflucaps®, Bestocol®, Bodrex Cold®, Coldrexin®, Combiflu®, Corsagrip®, Decolgen®, Erphaflu®, Farin Flu®, Flu-Tab®, Fludane®, Hastadon®, Hufagripp®, Inza®, Koldex®, Mixagrip®, Neladryl®, Nipe®, Procold®, Stopcold®, Temprafen®, Zaeroflu®. Bentuk sediaannya berupa captab, kapsul, serbuk, sirup, tablet, tetes oral.

Membasmi Batuk: Meminum obat penekan batuk yang mengandung dekstrometorfan atau kodein (dengan resep dokter) sesuai petunjuk kemasan. Memakan permen obat batuk yang mengandung benzokain, untuk melegakkan nyrti tenggorokan dan meredakan refleks batuk.

Antibiotik, tidak diperlukan kecuali penderita mengidap asma, penyakit paru-paru, jantung dan ginjal.

Pencegahan Influenza
Yang paling pokok dalam menghadiri influenza adalah pencegahan. Infeksi dengan virus influenza akan memberikan kekebalan terhadap reinfeksi dengan virus yang homolog. Karena sering terjadi perubahan akibat mutasi gen, antigen pada virus influenza akan berubag, sehingga seorang masih mungkin diserang berulang kali dengan galur (strain) virus influenza yang telah mengalami perubahan.

Pencegahan meliputi: Cara yang paling mudah dan murah untuk menghindari influenza adalah dengan membiasakan diri mencuci tangan. Cuci tangan terutama sebelum dan setelah berinteraksi dengan anak-anak (sebab mereka sangat mudah terjangkit dan menjadi penyebab virus flu) dan penderita flu. Sementara bagi penderita influenza selalu menggunakan tissu untuk menutup mulut dan hidung saat bersin serta untuk membuang ingus (tentu tissu iini harus segera  dibuang ketempat sampah yang tertutup). Hal ini mencegah penyebabnya virus menyebar ke orang lain. Memperbanyak minum air, air membantu proses metabolisme dalam tubuh dengan mengubah makanan menjadi energi. Air berperan sebagai bahan bakar untuk mendorong reaksi kimia metabolisme. Jika Anda tidak minum cukup air, Anda tidak akan dapat membakar kalori dengan baik. Anda tidak dapat mendapat manfaat dari olahraga. Metabolisme meningkat dengan olahraga dan airlah yang berperan memaksimalkan metabolisme tersebut karena itu minum banyak air sebelum, selama dan sesudah olahraga. Berusahalah minum air putih minimal 2 liter per hari, atau 8 gelas sehari dan rasakan manfaatnya.

Cara lain untuk mencegah terinfeksi oleh virus influenza adalah dengan vaksinasi, dimana vaksin mudah didapat, tidak mahal dan aman. Diberikan 3 sampai 4 minggu sebelum terserang influenza.  Vaksinasi flu dilakukan setiap tahun dan disesuaikan dengan jenis virus yang sedang popular sekarang.

Golongan yang memerlukan imunoprofilaksis ini antara lain: Pasien berusia di atas 65 tahun. Pasien dengan penyakit yang kronik seperti kardiovaskuler, pulmonal, renal, metabolic (termasuk diabetes mellitus), anemia berat dan pasien imunokompromais. Dianjurkan untuk diberikan vaksin setiap tahun menjelang musim dingin atau musim hujan. Pasien yang sedang menderita demam akut sebaiknya ditunda pemberian vaksin sampai keadaan membaik. Orang yang melaksanakan fungsi pelayanan masyarakat yang vital memerlukan vaksinasi, seperti pegawai yang bertugas di unit darurat medis di rumah sakit. Mungkin mereka dapat menularkan penyakit ke pasien yang dirawat.

Pencegahan dengan kemoprofilaksis untuk mereka yang yang tidak dapat diberikan vaksinasi karena menderita alergi tergadap protein dalam telur dapat di usahakan dengan pemberian amantadin HCl 100 mg dua kali sehari . bila juga tidaj tersedia vaksin, cara pencegahan ini dapat diterapkan. Pemberian amantadin harus hati-hati pada gangguan fungsi ginjal atau yang menderita penyakit konvulsi. Pada usia lanjut cukup diberikan amantadin 100 mg satu kali sehari mengingat penurunan fungsi ginjal. Meluasnya penyebaran penyakit ini dalam masyarakat dapat dicegah dengan meningkatkan tingkah laku higienik perorangan.

Daftar Pustaka
Yudhi N, 2009, Resep Obat Tradisional Indonesia, Available from:http // Influenza/selesma/flu._resep tardisional.

Angon C, 2009, Resep Kuno Pengobatan Influenza dan Selesma, Available from : Resep Obat Kuno _ Saluran Pernafasan.

Muftadi I, 2009, Selesma & Influenza, Available from : http //Research and Education Drug’s for Community,

Tjay, T.H., dkk, 2002, Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi kelima, Cetakan Pertama, PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta.

Wijayakusuma H., 2007, Mencegah dan Mengatasi Pilek secara Alami, Available from : http//Pocket CBN_Cyberhealth Hembing.

Flora, 2008, Obat Tradisional untuk Bayi,  Available from :http :WELCOME TO THE CLUB! => Baby Club => Topic started .

Muftadi I, 2009, Selesma & Influenza, Available from : http //Research and Education Drug’s for Community.

Schachter Niel, M,D, 2006, Panduan Bijak Mengatasi Flu dan Selesma, PT.Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.

Tjokronegoro Arjatmo, Ph. D dan dr.Hendra Utama, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit Fakultas Kedikteran Universitas Indonesia, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar