Hepatitis merupakan peradangan yang
terjadi pada hati yang merupakan infeksi sistemik oleh virus atau oleh toksin
termasuk alkohol yang berhubungan dengan manifestasi klinik berspektrum
luas.Hepatitis yang disebabkan oleh virus dibagi menjadi tujuh yaitu hepatitis
A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), hepatitis D (HDV), hepatitis E
(HEV), hepatitis F (HFV), dan hepatitis G (HGV), yang sering terjadi dan
dijumpai adalah hepatitis jenis A, B dan C.Hepatitis tersebut menyerang sel
hati, maka jika terjadi kerusakan hati akan mengurangi pembuatan cairan empedu
sehingga menurunkan kemampuan hati untuk menyimpan dan menguraikan bahan
nutrisi yang dibutuhkan untuk hidup. Dampak lain dari hati yang rusak yaitu
hati tidak mempu untuk menyaring racun dari aliran darah, yang pada akhirnya
dapat menyebabkan hilangnya kesadaran.Hepatitis tidak hanya disebabkan oleh
virus melainkan dapat disebabkan oleh zat-zat kimia atau obat.
Virus hepatitis menggangu fungsi
hati sambil terus beranak pinak di sel-sel hati.Akibat gangguan ini, system
kekebalan tubuh bekerja untuk memerangi virus tersebut. Dalam proses itu, dapat
terjadi kerusakan yang berujung pada peradangan hati. Perubahan morfologik pada
hati seringkali serupa untuk berbagai virus yang berlainan.Pada kasus yang
klasik, ukuran dan warna hati tampak normal, tetapi kadang-kadang sedikit
edema, membesar dan berwarna seperti empedu.Secara histologik, terjadi asuhan
hepato seluler menjadi kacau, cidera dan nekrosis sel hati, serta peradangan
perifer.
Hepatitis yang disebabkan oleh
virus memiliki beberapa tahapan yaitu akut, fulminant, dan kronis tergantung
dari durasi dan tingkat keparahan infeksi. Hepatitis
akut merupakan infeksi virus sistemik yang
berlangsung selama kurang dari 6 bulan. Hepatitis
kronis merupakan gangguan-gangguan yang
berlangsung lebih dari 6 bulan dan merupakan kelanjutan hepatitis akut. Hepatitis
fulminant yaitu perkembangan mulai dari timbulnya
hepatitis hingga kegagalan hati dalam waktu kurang dari 4 minggu, oleh karena
itu hanya terjadi pada bentuk akut (Sukandar dkk, 2008: 354).
Patofisiologi
Perubahan
morfologi pada hati mirip dengan berbagai virus yang berlainan.Hati tampak
berukuran besar seperti edema dan berwarna normal.Pada palpasi terasa nyeri
ditepian.Secara histologi terjadi kekacauan susunan hepatoseluler, cedara dan
nekrosis sel hati dalam berbagai derajat, dan peradangan periportal.Perubahan
ini bersifat reversible sempurna, bila fase akut penyakit mereda.Namun pada
beberapa kasus nekrosis, nekrosis submasif atau massif dapat menyebabkan gagal
hati fulminan dan kematian (Price dan Daniel, 2005:485).
Manifestasi Klinik
Hepatitis A (HAV). Hepatitis A atau
hepatitis infeksiosa merupakan infeksi virus pada hati, virus ini ditularkan
melalui rute fekal-oral termasuk makanan, air tercemar, atau melalui kontak
langsung dengan orang yang terinfeksi.Infeksi HAV juga meningkatkan tingkat
enzim yang dibuat oleh hati menjadi diatas normal dalam darah.
Gejala
dari HAV seperti: Kulit dan mata menjadi
kuning (ikterus). Kelelahan. Sakit perut kanan atas. Beratbadan
menurun. Sakit sendi. Air seni seperti the
atau kotoran berwarna dempul (Green, 2005 : 6)
Tes laboratorium: Anti-HAV IgM serum
positif. Bilirubin serum, gama
globulin, ALT, dan AST meningkat sedikit, sampai 2x normal pada kondisi
anikterik akut. Peningkatan
alkalin phosphatase, gama glutamil transferase, dan bilirubin total; pada
kondisi kolestatik (Iso farmakoterapi, 2008:357)
Diagnosa: Diagnosis hepatitis A
ditegakkan dengan tes darah.Tes darah ini mencari dua jenis antibody terhadap
virus, yang disebut sebagai IgM dan IgG. Bila tes darah menunjukkan negatif untuk antibodi IgM dan IgG, kita
kemungkinan tidak pernah terinfeksi HAV, dan sebaiknya mempertimbangkan untuk
divaksinasi terhadap HAV. Bila tes menunjukkan positif untuk antibodi IgM dan
negatif untuk IgG, kita kemungkinan tertular HAV dalam enam bulan terakhir ini,
dan sistem kekebalan sedang mengeluarkan virus atau infeksi menjadi semakin
parah. Bila tes menunjukkan negatif untuk antibodi IgM dan positif untuk
antibodi IgG, kita mungkin terinfeksi HAV pada suatu waktu sebelumnya, atau
kita sudah divaksinasikan terhadap HAV. Kita sekarang kebal terhadap HAV
(Green, 2005:10).
Pencegahan: Menghindari pemaparan HAV dengan
teknik cuci tangan dan praktek higienis personal yang baik. Menggunakan strategi vaksinasi (ISO farmakoterapi, 2008:357).
Hepatitis B (HBV). HBV adalah virus nonsitopatik yang berarti virus
tersebut tidak menyebabkan kerusakan langsung pada sel hati.Sebaliknya, adalah
reaksi yang bersifat menyerang oleh sistem kekebalan tubuh yang biasanya
menyebabkan radang dan kerusakan hati (Green, 2005: 10).
Gejala: Gejala prodromal (fase praikterik): anoreksia, mual,
muntah, mialgia. Fase ikterik:
ditandai dengan timbulnya ikterus dan berkurangnya prodromal, pada saat hepar
teraba dan nyeri ketika ditekan. Fase penyembuhan: selama masa penyembuhan gejala-gejala konstitusional
menghilang tetapi hepatomegali masih ada. Penyembuhan sempurna terjadi 1-2
bulan (Soemoharjo, 2008).
Tes
laboratorium: Adanya antigen permukaan paling tidak 6 bulan. Peningkatan fluktuatif ALT
dan AST serta DNA virus hepatitis B lebih dari 105 kopi/ml. Biopsi hati untuk klasifikasi patologi
misalnya hepatitis persisten, hepatis kronis aktif atau sirosis (Sukandar
dkk, 2008: 354).
Pencegahan: Membiasakan diri untuk mencuci tangan dengan cara yang
benar. Feses, urin, cairan lainnya harus dianggap potensial
untuk infeksi dan harus ada cara tepat untuk pembuangannya. Membuang alat-alat disposabel secara benar. Alat-alat non disposibel harus disterilkan dengan steam underpressure atau autoclave. Vaksinasi.
Tanda-
Tanda Vital: Berikut ini adalah ringkasan
tanda-tanda vital untuk pasien dewasa menurut Emergency Nurses Association,(2007).
Komponen
|
Nilai normal
|
Keterangan
|
Suhu
|
36,5-37,5
|
Dapat di ukur melalui oral, aksila, dan rectal. Untuk
mengukur suhu inti menggunakan kateter arteri pulmonal, kateter urin,
esophageal probe, atau monitor tekanan intracranial dengan pengukur suhu.
Suhu dipengaruhi oleh aktivitas, pengaruh lingkungan, kondisi penyakit,
infeksi dan injury.
|
Nadi
|
60-100x/menit
|
Dalam pemeriksaan nadi perlu dievaluais irama jantung,
frekuensi, kualitas dan kesamaan.
|
Respirasi
|
12-20x/menit
|
Evaluasi dari repirasi meliputi frekuensi, auskultasi
suara nafas, dan inspeksi dari usaha bernafas. Tada dari peningkatan usah
abernafas adalah adanya pernafasan cuping hidung, retraksi interkostal, tidak
mampu mengucapkan 1 kalimat penuh.
|
Saturasi oksigen
|
>95%
|
Saturasi oksigen di monitor melalui oksimetri nadi, dan
hal ini penting bagi pasien dengan gangguan respirasi, penurunan kesadaran,
penyakit serius dan tanda vital yang abnormal. Pengukurna dapat dilakukan di
jari tangan atau kaki.
|
Tekanan darah
|
120/80mmHg
|
Tekana darah mewakili dari gambaran kontraktilitas
jantung, frekuensi jantung, volume sirkulasi, dan tahanan vaskuler perifer.
Tekanan sistolik menunjukkan cardiac output, seberapa besar dan seberapa kuat
darah itu dipompakan. Tekanan diastolic menunjukkan fungsi tahanan vaskuler
perifer.
|
Berat badan
|
Berat badan penting diketahui di UGD karena berhubungan
dengan keakuratan dosis atau ukuran. Misalnya dalam pemberian antikoagulan,
vasopressor, dan medikasi lain yang tergantung dengan berat badan.
|
Tujuan,
Sasaran, dan Strategi Terapi
Tujuan: untuk
mencegah morbiditas dan mortalitas akibat penyakit liver tahap akhir. Sasaran:
meminimalisasi infeksi lainnya, normalisasi aminotransferase dan menghentikan
replikasi DNA. Strategi
terapi meliputi terapi non farmakologi dan terapi farmakologi
Tatalaksana
Terapi
Terapi Non Farmakologi: Istirahat yang cukup. Diet tanpa lemak selama 4-8 minggu. Menghindari pemakaian alkohol
/obat-obatan. Pasien harus didorong untuk kesehatan, dengan cara berhenti
merokok, dan menghindari alkohol serta obat terlarang.
Terapi Farmakologi Hepatitis A. Imunoglobulin (Ig) digunakan
sebagai terapi profilaksis pra/pasca paparan terhadap HAV.Paling efektif bila
diberikan dalam masa inkubasi.Ig jarang menyebabkan efek samping serius dan
aman diberikan kepada wanita hamil dan menyusui. Dosis: 0,2
mL/kg IM untuk mereka yang telah terpapar HAV atau belum (profilaksis <3
bulan). 0,6
mL/kg IM (profilaksis ≥5 bulan) untuk mereka yang belum terpapar HAV(Dipiro,
2008:711)
Terapi Farmakologi Hepatitis B. Tujuan pengobatan pada hepatitis
kronik karena infeksi VHB adalah menekan replikasiVHB sebelum terjadi kerusakan
hati yang ireversibel. Saat ini, hanya interferon-alfa (IFN-α) dannukleosida
analog yang mempunyai bukti cukup banyak untuk keberhasilan terapi. Respon
pengobatan ditandai dengan menetapnya perubahan dari HBeAg positif menjadi
HBeAg negatif dengan atau tanpa adanya anti-HBe. Hal ini disertai dengan tidak
terdeteksinya DNA-VHB(dengan metode non-amplifikasi) dan perbaikan penyakit
hati (normalisasi nilai ALT dan perbaikan gambaran histopatologi apabila
dilakukan biopsi hati). Umumnya pengobatan hepatitis B dibedakan antara pasien dengan HBeAg positif dengan pasien dengan HBeAg
negatif karena berbeda dalam respon terhadap terapi dan manajemen pasien.
Pengobatan antivirus hanyadiindikasikan pada kasus-kasus dengan peningkatan ALT.
Tujuan pengobatan pada hepatitis kronik karena infeksi VHB adalah menekan
replikasiVHB sebelum terjadi kerusakan hati yang ireversibel. Saat ini, hanya
interferon-alfa (IFN-α) dan nukleosida analog yang mempunyai bukti cukup banyak
untuk keberhasilan terapi. Respon pengobatan ditandai dengan menetapnya
perubahan dari HBeAg positif menjadi HBeAg negatif dengan atau tanpa adanya
anti-HBe. Hal ini disertai dengan tidak terdeteksinya DNA-VHB (dengan metode
non-amplifikasi) dan perbaikan penyakit hati (normalisasi nilai ALT dan
perbaikan gambaran histopatologi apabila dilakukan biopsi hati). Umumnya
pengobatan hepatitis B dibedakan antara pasien dengan
HBeAg positif dengan pasien dengan HBeAg negatif karena berbeda dalam respon
terhadap terapi dan manajemen pasien. Pengobatan antivirus hanya diindikasikan
pada kasus-kasus dengan peningkatan ALT.
Interferon mempunyai efek antivirus, antiproliferasi dan immunomodulator. Pada
pasien dengan HbeAg positif, pemberian IFN-α 3 juta unit, 3 kali seminggu
selama 6-12 bulan dapat memberi keberhasilan terapi (hilangnya HBeAg yang
menetap) pada 30 – 40 % pasien. Pasien dengan HBeAg negatif, respon terapi
dengan melihat perubahan HBeAg tidak bisa digunakan. Untuk pasien dalam kelompok ini, respon terapi
ditandai dengan tidak terdeteksinya DNA-VHB(dengan metode non-amplifikasi) dan
normalisasi ALT yang menetap setelah terapi dihentikan.Respon menetap dapat
dicapai pada 15 – 25% pasien. Penggunaan interferon juga dapat menghilangkan HBsAg
pada 7.8% pada pasien dengan HBeAg positif dan 2 – 8% pada pasien dengan HBeAg
negatif. Hilangnya HBsAg tidak tercapai pada penggunaan lamivudin. Penggunaan
pegylated-interferon alfa 2a selama 48 minggu pada pasien hepatitis B kronik
dengan HBe-Ag negatif setelah 24 minggu follow-up 59 % pasien menunjukkan
transaminase normal dan 43 % dengan DNA VHB yang rendah (< 20.000 copy/mL)
dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan lamivudine saja (44 % dengan
transaminase normal dan 29 % denganDNA VHB rendah).
Daftar Pustaka
Chris W. Green, 2005. Hepatitis
Virus & HIV. ISBN: Spiritia.
Depatemen
Kesehatan. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hati. Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Ditjen Bina
Kefarmasian Dan Alat Kesehatan.
DiPiro, J.T. 2008.Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach,
7e. Joseph T. DiPiro, New York:
McGraw-Hill.
Elin
Yulinah Sukandar dkk, 2008, ISO
Farmakoterapi, Jakarta: PT ISFI.
Emergency Nurses Association,2007.
H.
Ali Sulaiman dkk, 1997, Gastroenterologi
Hepatologi, Jakarta: CV. SAGUNG SETO.
Hajiani
Eskandar. 2010. A review on epidemiology,
diagnosis and treatment of hepatitis D virus infection. Departmen of
International Medicine.
PPHI. 2003.
Konsensus PenatalaksanaanHepatitis C kronik. Jakarta: Balai
PenerbitFKUI.
Price
dan Wilson. 2005. Patofisiologi :Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
Sulaiman,HA.
Julitasari.2004. Selayang Pandang Hepatitis C. Jakarta.
Tim Horn
dan James Learned. 2005. Hepatitis Virus
dan HIV. Jakarta: Spiritia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar